Ah, chapter 2 akhirnya selesai. Mengusahakan ni fic agar beda dari yang lain. Saya gak mentingkan, fav, foll atau apa...namun, kesenangan saya menulis. Tidak banyak yang mau dikatakan sih...
Jika kamu mencari Naruto yang super-Godlike, Perfect, super-Harem dan sebagainya...yang berbentuk Fan-service, maka Fic ini tidak cocok untuk kamu baca dan saya rekomendasikan cari Fic lain yng memiliki keterangan tersebut. Dan saya tidak akan mengganti apa yang saya tulis, masih banyak cerita seperti yang saya katakan diluar sana, maka itu yang kamu baca. Namun, jika kamu menyukai cara saya menulis dan plot yang saya buat, maka silahkan membaca...dan rasakan apa namanya...Devolepment.
Kepada salah satu pembaca:
Kalau mau menghina saya, pakai Akun sendiri dong, jangan cuma pake Guest segala. Pengecut amat sih...
Genre sengaja tidak saya cantumkan, karena Cerita ini akan campur aduk macam rujak. Jadi beberapa rasa...
Disclaimer : Never Own anything...
Sebuah Truk yang tak terkendali...
kedua badan yang melindunginya dengan penuh kasih sayang...
Ambulan...
Dan semua berubah...
Hyoudou Issei terbangun dari tidurnya. Pupil matanya melebar, keringat bercucuran dari keningnya dan membasahi seluruh tubuhnya. Perasaan dingin serasa membasuh dirinya. Nafasnya serasa tidak terkendali oleh tubuhnya. Perasaan itu. Mimpi itu.. dan semua yang telah berubah.
Dirinya tidak menyangka ia akan menyaksikan kejadian itu. Mimpi itu lagi. Semua serasa terulang kembali meskipun ia mencoba melupakan kenangan pahit itu. Sekarang bukan saatnya untuk mengenang masa lalu. Ia sudah mengingatkan kepada dirinya sendiri, Ia akan mengambil hidup yang baru, dan mencoba menerima keadaan...
Sudah 12 tahun berlalu sejak saat itu...
Pemuda itu mencoba menekan ingatan yang mulai kembali ke permukaan. Saat dirinya merasa mulai aman, ia kemudian tersenyum. Dan langsung membereskan tempat tidurnya. Hal yang sudah sering diajarkan oleh orang yang telah merawatnya sejak kejadian itu.
"Issei, bangun! Jika kau tak bangun, aku akan menyirammu dengan air selokkan!" sebuah suara terdengar dari lantai bawah. Andai-berharap suara tersebut keluar dari Figure-animenya. Namun Pria itu sudah melemparnya entah kemana.
"Aku bangun! Aku bangun!"Issei berteriak dengan panik.
Rasa takut dengan sekejap membasuh Pemuda itu. Dengan lekas ia langsung keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Ia tidak ingin mengetes kesabaran Pria tersebut. Apalagi dengan ancaman seperti itu. Yang sayangnya pernah ia...alami.
"aku sudah bangun!"
Mata Issei langsung menatap Sosok yang sedang memasak di Dapur dengan menggunakan Apron.
Sosok Pria yang terlihat dalam usia 20-an. Namun terkadang perumpaan; penampilan menutupi kebenaran, harus berlaku. Karena meskipun terlihat seperti Pria di umur 20 tahunan, namun sebenarnya sosok tersebut sudah berusia lebih dari 40-an.
Setidaknya begitu saat ia menghitung sejak dirinya masih kecil.
Sosok tersebut bisa dikatakan tampan di Usianya. Dengan rambut pirang berkilau yang bergelombang, namun dipotong hanya sampai pada telinga. Mata dengan iris berwarna biru bagaikan warna lautan dan juga pupil putih yang terkadang memancarkan cahaya. Terkadang ia berpikir hal itu mustahi, namun kenyataan didepan matanya. Dengan kemeja putih polos yang membuat Pria tersebut serasa jauh diatasanya...
Ia terkadang berpikir bahwa Pria yang memasak tersebut merupakan Orang-asing yang memutuskan tinggal di Jepang. Yap itulah teori yang dibuatnya selama ini.
Issei mengunyah makanannya dengan lahap. Serasa tiada hari esok untuk dinanti..
Ia tidak bisa mendeskripsikan rasa yang berada didalam mulutnya. Rasa empuk bercampur manis membuatnya memejamkan matanya.
"seperti biasa, Masakanmu yang terbaik Tou-san!"
Panggilan itu serasa sudah natural di lidah Issei. Meskipun pada awalnya ia merasa tidak nyaman memanggil orang lain dengan nama itu, namun setelah beberapa tahun, akhirnya ia berani untuk memanggil Pria tersebut bagaikan ayahnya sendiri.
"ha,ha,ha... terimakasih." Pria itu menerima pujian itu dengan senyum tipis.
"ngomong-ngomong...bagaimana sekolahmu Issei?"
Ah pertanyaan itu lagi. Issei serasa ingin mengeluh ketika mendengar pertanyaan yang sering diutarakan Orang tua kepada anaknya.
Dengan tertawa gugup Issei kemudian menjawab..
"seperti biasa.."
"ah, seperti biasa gagal dalam pelajaran, mendapat nilai jelek dan sebagainya..." Pria tersebut menganggukan kepalanya dengan percaya diri. Sedangkan Issei hanya menahan air mata keluar dari matanya.
"sudah berapa kali kubilang! Pelajaran bukanlah subjek yang ku kuasai!"
"ha, jika kau tidak belajar, nanti kau mau jadi apa? Tidak akan ada orang yang mau menerima pekerja tanpa otak sepertimu"
Issei kemudian mengeratkan kepalan tangannya dan berdiri tegak..
"aku akan menjadi Raja-Harem!"
Pria tersebut langsung melebarkan matanya dan menyemprot air yang tadinya ia teguk.
"aw basah tau!"
"buahahahaha! Raja-Harem? Tidak akan mungkin. Siapa gadis yang mau menerima orang sepertimu? Lagipula, kau mau kasih makan apa, jika Harem yang kau sebut itu ada? Kukatakan Issei...pendidikan dulu baru mencari wanita. Jaman sekarang, wanita tidak akan melihat tampang jika melihat Pria yang mapan. Beda ceritanya jika kamu masih SMP atau SMA, tampang mungkin masih berlaku daripada kepintaran...namun jika kau sudah diusiaku? Bagaimana? Ditambah tampangmu pas-pasan. Kau akan jadi perawan seumur hidup."
Issei tidak bisa menahan lagi. Air mata bagaikan air terjun mengalir melewati pipinya.
Kejam..
"hiks..hiks... Ayahku sendiri menghina diriku. Aku tahu aku tak tampan, tapi hatiku besar seperti lautan"
Issei kemudian serasa menyadari sesuatu, dan dengan arogannya menunjuk Pria tersebut dengan jari telunjuk
"ha! Omong sendiri! Kau saja masih tidak menikah sampai saat ini! Padahal banyak wanita yang melirikmu bahkan istri para tetangga! Jangan-jangan kau-" Issei berbicara dengan nada menuduh. Berbicara menurut pengalaman...
"ah...aku belum tertarik. Dan aku masih Normal. Terimakasih."
"belum tertarik dengkulmu! Usiamu sudah berapa? 40 tahunan lebih bukan?!"
"tapi wajahku awet muda. Jadi jangan khawatir akan hal sepele seperti itu. Jika aku mau, aku bisa saja menikah besok. Berbeda denganmu..."
"gaakhh!"
Interaksi menghangatkan seperti itulah yang membuat Issei menyadari sesuatu. Betapa hangatnya ia ketika memiliki seseorang untuk berpangku tangan. Betapa menyenangkannya ketika masih ada yang peduli akan dirinya, menasehati dirinya dan menunjukkan dirinya mana yang benar dan mana yang salah. Layaknya orangtua yang sudah meninggalkannya terlebih dahulu...
"kalau begitu, aku pergi..." Issei dengan tersenyum pamit. Dengan beranjak ke bagasi, ia kemudian mengambil sepeda miliknya. Saat ia hendak menginjak pedalnya, suara memanggilnya...
"Issei, hati-hati. Dan ingat...jadilah dirimu sendiri. Jangan pernah meniru orang lain, melainkan menjadi apa yang menurut dirimu sendiri nyaman.."
Issei hanya tersenyum lebar. Tidak membalas. Dengan percaya diri mengayuh sepedanya menuju Sekolahnya. Ia tidak perlu diingatkan orang lain. Meskipun orang lain terkadang menganggapnya aneh. Namun ia hanya melakukan apa yang dikatakan Ayahnya
...jadilah dirimu sendiri.
Perkataan itu mungkin akan menjadi perbedaan. Masalah akan selalu mengikuti Pria berambut pirang tersebut, dan juga...orang yang didekatnya.
Sementara dengan pria berwajah muda tersebut...
Sudah belasan tahun, atau tepatnya ratusan tahun sejak ia memijak kembali permukaan tanah. Banyak yang ia lakukan sejak saat itu. Berpetualang ke Negara lain. Berjumpa dengan banyak jenis orang dan kejadian yang menyenangkan maupun menyedihkan. Layaknya perjalanan Hidup yang selama ini ia alami. Namun...disatu sisi. Ia kini hanyalah sebagai orang normal. Mengikuti bagaimana Manusia berperilaku disetiap harinya...
Namun disisi lain...ia tidak pernah menggunakan kembali kekuatannya. Ia tidak pernah menunjukkan kembali berkah yang telah diberikan kepada dirinya. Layaknya Manusia biasa...ya, itulah yang dirinya jalani. Biasa, normal...tanpa ada hubungan dengan Dunia Supernatural.
Seperti pecundang yang melarikan diri. Itu benar, ia mengakui hal itu. Namun meskipun begitu ia tidak pernah merasakan itu Mengapa? Mengapa sayapnya tidak pernah menghitam layaknya Malaikat jatuh? Mengapa tetap putih meskipun ia tidak melakukan apa-apa, dan hanya kabur dari tanggung jawab yang ia tanggung...
Sejak pertama kali dirubah menjadi Malaikat, ia dapat mengetahui ketika seseorang memiliki Potensial, atau pun kekuatan yang tersimpan. Dan ia jujur, ia merasakannya terhadap anak yang telah ia besarkan. Kekuatan yang sangat besar, tertidur dan menunggu untuk dibangunkan. Namun...ia jujur kepada dirinya sendiri...
Ia tidak merawat anak itu karena Kekuatan yang dia miliki. Bukan karena apa yang bisa dilakukan anak itu jika dibesarkan dengan benar. Namun karena tatapan yang diberikan anak itu ketika orangtuanya meninggal didepan matanya sendiri. Kehilangan... kesedihan...kekosongan. Tidak ada keiinginan untuk hidup. Dan dirinya bukanlah tipe orang yang kuat untuk meninggalkan hal itu...
Ia mengaku, memiliki anak ataupun keluarga tidak pernah menjadi pikirannya. Karena mengingat masa lalunya dan statusnya pada saat itu, maka semua hanya akan menjadi penderitaan. Namun, meskipun tidak layaknya seperti darah dagingnya sendiri, namun Ise telah mendapat tempat di hatinya sebagai orang terdekatnya.
Kematian orangtuanya juga merupakan kesalahan dirinya. Kesalahan yang tidak bisa ia tebus. Ia tahu, merawat Issei tidak akan mengembalikan orangtuanya. Namun, ia juga tidak bisa diam. Seperti itulah sifatnya... hidup demi kebaikan orang lain. Dan karena itu ia ingin melindungi anak itu dari segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia Gaib. Ia tidak akan pernah membuat anak itu merasakan bagaimana kejamnya dunia penuh akan kebohongan tersebut. Menjadi Normal merupakan sesuatu yang indah...
Mungkin menyembunyikan hal itu bisa menjadi kesalahan. Kesalahan yang besar yang akan menggigitnya kembali. Namun, ia akan mengatasinya jika waktunya tiba...
Pria tersebut kemudian menghela nafasnya kembali. Bersiap-siap untuk pergi. Ia harus mencari nafkah, itulah yang dipikirannya. Bekerja sebagai karyawan di salah satu Perusahaan ternama dengan jabatan yang cukup tinggi, yang ia raih dari hasil kerja keras. Dengan kekuatannya...dirinya bisa saja mendapat uang dengan mudah. Namun dalam proses akan merubah dirinya menjadi Malaikat jatuh.
Dan hal itu tidak ingin ia rasakan. Terimakasih.
Lagipula, mencari uang dari hasil keringat sendiri membawa kebanggan tersendiri yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Pria tersebut kemudian mengambil identitas kantornya dan memasangnya kembali ke saku dadanya. Jika bisa dilihat dengan jelas, maka orang akan melihat namanya...
"Namikaze Minato." Nama yang ia gunakan selama belasan tahun ini. Dirinya harus cepat, jika tidak ia akan ketinggalan jadwal Kereta pagi ini... dan jika ia terlambat...maka mendengar Omelan dari Boss merupakan pilihan yang tidak ingin ia ambil.
Ia senang akan kehidupan singkat biasa seperti ini. Tanpa harus menjaga wibawanya sebagai Malaikat, tanpa harus memikirkan Fraksi lain yang akan menyerang, tanpa harus menghancurkan sesuatu. Jika dirinya bisa berdoa, maka keinginan yang dibuatnya adalah...semoga hari-hari seperti ini tetap berjalan selamanya..
Namun...takdir berkata lain. Doa tidak didengar.. dan pada akhirnya takdir bermain-main dengan kehidupanmu. Bermain-main hingga kau menangisi...
.
.
Betapa menyedihkannya hidupmu.
XXXXX
"oh~ Tou-san, Tou-san!"
Naruto atau yang lebih suka dipanggil Minato melirik dari koran yang ia baca..
"ada apa Issei? Apa kau dapat Nilai 100?"
"e...tidak. Tapi hal itu tidak penting." Dengan menepuk dadanya, Issei memproklamasikan dengan bangganya..."Sekarang aku sudah punya Pacar!"
Naruto tidak merespon. Hanya memberikan tatapan datar kepada Issei..
"jangan katakan...kau menyewa gadis dari distrik Merah?"
Issei hanya menahan kekesalannya. Ia tidak ingin kesenangannya hancur gara-gara betapa rendahnya ayahnya memandang kehidupan SMA-nya.
"tidak...coba lihat" Issei kemudian mengambil telepon genggamnya dari sakunya, dan kemudian membuka sebuah Foto dan menunjukkan kemesraannya dengan seorang Gadis berambut hitam yang sedang tersenyum dengan bahagianya...
"bagaimana? Kualitas atas kan?"
Naruto tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat foto tersebut. Namun, ia hanya mengeluarkan senyum tipis.."eh...selamat. Aku tidak mengira ada gadis yang mau sama kamu. Mungkin dia buta atau memiliki kebiasaan aneh..tapi..."
Naruto kemudian berdiri dan menepuk pundak Issei. Dan memberikannya tatapan serius..
"pakai pelindung. Aku tidak ingin ada Issei kecil yang berlarian beberapa tahun nanti. Aku terlalu muda untuk menjadi Jii-san"
Issei kemudian menepuk dadanya..
"Misi diterima, Jendral!"
Beberapa hari Naruto melihat Issei dengan gembiranya pergi kencan pada sore hari. Ia hanya membiarkan hal itu. Masa muda merupakan sesuatu yang harus diberikan. Tidak seperti dirinya, yang harus menjalani masa muda dengan membunuh dan berperang.
Ia tidak menaruh curiga. Karena hubungan Issei dan gadis itu bukanlah urusannya. Dirinya bukan jenis orang-tua yang Over-Protective...
Namun...
Kali ini sudah berbeda..waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Namun Issei belum juga pulang. Biasanya, paling lama anak itu kembali pada pukul 9 atau pukul 10.
Naruto kemudian membuka Hp-nya dan melewati belasan pesan yang belum ia baca dari teman Sekantornya. Dan mulai mencari nomor. Setelah menemukan siapa yang ia cari, Naruto kemudian meneleponnnya.
"ah..Moshi-moshi..."
"Minato-jii-san?" Sebuah suara menjawab dari balik saluran.
"Motohama-kun, maaf mengganggu larut malam seperti ini. Tapi, apakah kau tahu dimana Issei pada saat ini? Ia belum pulang juga.."
Terdengar suara tangisan dari ujung telepon yang membuat Naruto menduga-menduga..
"tidak salah lagi Jii-san, ia bersama pacarnya.. melakukan..." *TUUTTT*
Sebelum Pemuda itu bisa melanjutkan perkataanya, Naruto sudah menutup telepon tersebut. Ia tidak perlu lagi menduga apa yang akan dikatakan Motohama.
Naruto menghela nafasnya kembali, jarinya mengetuk-ngetuk meja dibawahnya. Ia seharusnya tidak sekhawatir ini. Namun entah mengapa, perasaanya tidak enak pada saat ini. Ia telah belajar dari sekian hidupnya untuk mempercayai Perasaannya sendiri. Jika berbahaya, maka berbahya...
Keheningan malam menghiasi Rumah besar tersebut. Rumah yang hanya ditinggali dua orang dari belasan tahun yang lalu. Rumah ini bukanlah rumah Ise. Ini merupakan Rumah yang ia beli menggunakan dari tabungan hasil pekerjaannya. Sedangkan kediaman Ise yang sebenarnya masih berada ditempatnya. Kosong. Tak berhuni. Rumah itu adalah hak Ise.
Mata pria paruh baya itu menyipit. Ia tidak suka perasaan yang mulai memasuki area sekitarnya. Dan energi yang mulai ia rasakan itu dengan perlahan menuju Ruangan Ise.
Aura para Iblis.
Ia tidak mengerti mengapa ada Iblis yang memasuki rumahnya. Ia sudah menjaga identitasnya dengan sangat rahasia. Tidak mungkin bisa begitu saja terjadi tanpa sepengetahuannya. Mereka memiliki pertanyaan yang harus dijawab. ..
Ia menunggu beberapa menit. Namun ketika aura itu tidak menghilang, ia kemudian menyiapkan dirinya. Naruto beranjak dari Sofanya, dan berjalan dengan perlahan menuju lantai atas. Telapak tangannya terbuka lebar, cahaya kecil perlahan mulai membuat bentuk dan akhirnya memadat. Tombak kecil bercahaya kini digenggamannya...
Naruto terdiam sebentar, dan membuka pintu tersebut dengan perlahan. Lampu yang mati tidak mengganggu penglihatannya sama sekali. Dengan ingatan yang ia miliki, Naruto kemudian menuju tempat tidur Ise...
Udara disekitar sarat akan bau yang ia kenali selama ia hidup menjadi Manusia. Bau...darah.
Ia tidak tahu harus berpikir apa setelah melihat hal didepannya. Seorang wanita tidur. Telanjang bagaikan baru lahir. Dan juga Issei.
Dan akhirnya ia melakukan apa yang bisa ia pikirkan...
"katakan...apa yang dilakukan Iblis di ...Rumahku?" Naruto mendesis dengan menekan Tombak cahaya tersebut pada leher Iblis yang berada di samping Anaknya. Meskipun minimnya kain yang menutupi kedua sosok tersebut, namun godaan nafsu tersebut kini tidak berpengaruh lagi pada Jenis seperti dirinya.
Luka lebar yang mulai menutup di Dada Ise pun tidak lepas dari pandangan Pria tersebut.
Rias dengan perlahan membawa Issei dari permukaan tanah. Setelah merubah pemuda tersebut menjadi Iblis, namun luka yang diterima pemuda berambut cokelat itu masih cukup lebar. Butuh kekuatan darinya untuk luka seperti ini bisa sembuh. Dengan menghela nafasnya, Rias kemudian membuat lingkaran teleportasi miliknya, dengan tujuan ruangan Ise.
Ia kemudian membaringkan Issei pada tempat tidurnya, dan dengan perlahan membuka bajunya. Sekalian saja tidur. Itulah pikirannya.. ia akan mulai menyembuhkan tubuh Ise dengan energi miliknya.
Melakukan kebiasaannya sejak kecil. Dari dahulu, ia kemudian membuka satu persatu kancing bajunya...dan akhirnya hingga pada saat ia telanjang.
Menyegarkan, itulah perasaan Rias saat melepas pakaiannya, dengan senyum tipis ia kemudian mengambil posisi di samping pemuda tersebut. Beberapa menit berlalu dan Rias masih berkonsentrasi mengirimkan tenaganya untuk membantu pemulihan diri Ise.
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Rias tidak tahu berpikir apa. Mungkin itu orangtuanya Ise? Mungkin saja. Sepertinya ia harus menyiapkan sebuah alasan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang lebih dari seharusnya.
Ia menunggu sosok tersebut mendekat. Namun...
Bukannya suara panik atau terkejut yang seperti ia harapkan. Namun, benda tajam bercahaya dan suara dingin yang bagaikan membekukkan hati
"katakan...apa yang dilakukan Iblis di ...Rumahku?"
Rias menahan rasa terkejut dan tekanan udara yang mulai menguat disekitarnya. Menelan ludah dan juga rasa takut yang mulai merangkak ke Hatinya yang terdalam. Ia mencoba untuk tetap tenang dan mencoba memperbaiki situasi agar tidak terjadi kekerasan yang tidak diinginkan.
Iritasi kulit mulai ia rasakan, meskipun benda bercahaya itu belum mengenai kulitnya. Ia tidak perlu menebak benda terbuat dari apa yang berada dilehernya.
"Bisakah kita membicarakan ini dengan tenang..?"
Rias mencoba melirikkan matanya menuju sosok tersebut. Mencoba melihat sepintas bagaimana perawakan Pria yang berbicara dengan dirinya.
"Seperti kau tahu...aku sedang menyembuhkan Hyoudou Issei. Ia masih terluka..." Rias mencoba meyakinkan Pria itu untuk tidak terlalu gegabah..."dan energi dari tubuhku yang saat ini masih menyembuhkannya. Sebagai seorang Ayah, seharusnya anda tahu keselamatan anak anda, bukan?"
Rias langsung memberikan asumsi mengenai Pria tersebut...
Gadis keturunan Gremory itu kemudian mulai merasakan tekanan yang berada diruangan itu menghilang dengan perlahan. Dan begitu juga benda tajam yang terbuat dari cahaya tersebut. Perasaan berat yang berada ditubuhnya kini mulai hilang juga.
"Kau benar. Terlihat dari corak seragam sekolahmu, aku bisa mengatakan engkau ini dari sekolah yang sama dengan Issei..Bukan begitu?"
"benar..." Rias menatap pupil berwarna putih tersebut. Dan kemudian mulai mendeskripsikan wajah tersebut. Jika ia berkata jujur, ia mengatakan Pria ini tidak kurang dari usia 30 tahun. Namun dari tatapan yang diberikannya, ia merasa bahwa Pria didepannya lebih tua daripada yang ia tunjukkan. Terlebih lagi, mengingat Pria didepannya merupakan Ayah dari Pemuda yang dirinya rubah menjadi Iblis.
"jadi apa yang terjadi...katakan padaku, mengapa Issei mendapat luka tersebut, dan mengapa aku tidak bisa merasakan Aura Manusianya kembali?"
Rias kemudian menatap wajah serius Pria didepannya.
"seorang Malaikat jatuh menyerangnya..." ia langsung memberikan informasi. Karena mendengar bagaimana Pria ini langsung mengetahui dirinya sebagai Iblis, tidak ada lagi poin untuk menyembunyikannya. Jika pria didepannya tahu sesuatu, tentu akan lebih mudah untuk menjelaskannya.
"jangan katakan, gadis berambut hitam. Pacar Issei?" Naruto tidak bisa menahan rasa sakit yang muncul di kepalanya. Tanpa sadar jemarinya telah memijat kepala bagian kirinya.
Rias tidak perlu menjawab, ia hanya terdiam. Karena tidak ada yang perlu dikatakan.
"Dan, Issei?"
"untuk menyelamatkannya, aku harus mengambil tindakan drastis. Yaitu merubahnya menjadi Iblis, karena pada saat itu nyawanya sudah diambang kematian."
Tubuhnya serasa lemah seraya mendengar ucapan gadis muda tersebut, ia pun memutar balik Kursi belajar Issei dan menggunakannya untuk duduk. Menyandarkan punggungnya, Pria itu kemudian menghela nafas, dan memegang batang hidungnya dan berpikir.
"aku tidak tahu harus berkata pada saat ini. Disatu sisi, aku tidak suka Issei berhubungan dengan segala sesuatu yang gaib. Itu sudah menjadi Janji ku dari dahulu. Dan sekarang ia telah menjadi bagian salah satu dari dunia gaib ini. Sedangkan disisi lain, kau telah menyelamatkannya hidupnya, yang tentunya aku sungguh berterimakasih. Aku tahu sesuatu seperti ini akan datang pada waktunya, namun aku tidak menyangka akan secepat ini. .."
"maaf jika tidak sopan. Namaku, Namikaze Minato. Ayah dari pemuda bermasalah yang kau selamatkan" Naruto mencoba memberikan senyum, namun terlihat terpaksa. Mungkin masih terbebani akan kenyataan yang baru saja diberikan kepada dirinya.
"Senang berkenalan dengan anda. Meskipun terkenal akan sejarah Ras kita, namun anda berbeda dari yang lainnya.." Rias mencoba untuk sopan. Ia sudah mengetahui apa orang didepannya. Perasaan was-was yang selalu didapatnya ketika mendekati sesuatu yang suci saat ini masih ia rasakan. Entah ia mungkin seorang Malaikat, atau keturunan Malaikat. Memancarkan kesucian tanpa noda hitam. Namun dirinya lebih mempercayai yang terakhir, karena melihat sifat yang dibawa Pria tersebut berbeda dari Malaikat yang pernah ia temui.
"tolong gunakan pakaianmu, nak. Demi kebaikanmu... Aku tidak ingin Isse besar kepala pada akhirnya. " Naruto kemudian beranjak dari kursinya "Kau dari Gremory, bukan?"
Rias mengangguk dan menatap dengan bertanya...
"Meskipun tidak terlalu suka akan kejadian ini. Bisakah kau merahasiakan pembicaraan ini? Aku tidak ingin Issei mengetahui hubunganku dengan salah satu bagian Kitab. Ini terlalu dini baginya... lagipula aku tidak bermaksud ikut campur akan apa yang akan ia jalani nantinya. Namun, bisakah kau menjaganya? Ia terlalu bodoh untuk ditinggalkan sendiri."
Rias terdiam sebentar. Memikirkan apa yang dikatakan Pria tersebut. Haruskah ia mempercayai ucapan dari fraksi lain? Meskipun ada kegundahan, namun ia mengetahui satu hal dari para Malaikat. Mereka tidak pernah berbohong. Meskipun dirinya baru mengetahui bahwa pion barunya memiliki keluarga yang berhubungan dengan Malaikat.
Kenyataan itu memang cukup mengejutkan...bagi dirinya.
"mengapa kau berkata seperti ini?"
Pria itu menghela nafasnya.. dan menatap dengan senyum sedih terhadap Rias "kau seharusnya tahu sejarah tentang jenis seperti kita, bukan? Cepat atau lambat hal seperti ini akan membawa perhatian dari fraks-fraksi lainnya. Mengingat siapa aku, melindungi Issei akan susah. Dan akan dianggap aksi pengkhianatan bagi fraksi Surga. Tanganku terikat dalam masalah ini, dan aku tidak bisa berbuat banyak..."
Naruto kemudian keluar dari kamar itu, dan menutupnya kembali. Meninggalkan Rias yang sedang dalam pikirannya. Ia kemudian berbaring dan melihat ke atap. Banyak yang harus ia pikirkan. Namun satu hal yang harus ia selesaikan hari ini...
Rias kemudian meregap Issei dan memeluknya. Memulai kembali proses penyembuhan.
Sementara disuatu tempat, di Jepang.
Disebuah Biara para biarawati. Suara teriakkan, suara minta tolong, tidak berdaya. Meskipun berteriak, namun tidak ada yang mendengar.
Terlihat beberapa sosok Biarawati yang terlentang di lantai. Ruangan yang sarat akan bau tidak sedap. Suara tawa dan teriak kepuasaan seorang Pria bersama suara rintihan dari orang yang ia setubuhi. Pemandangan yang membuat hati serasa disayat...
Pakaian yang robek, menunjukkan kulit dan bagian tubuh mereka. Mata para biarawati yang serasa tidak berisi, kosong, memudar dan mulai kehilangan keinginan untuk hidup. Dari selangkangan mereka, cairan putih meleleh bercampur warna merah darah kesucian mereka. Air mata penyesalan terakhir keluar dari sudut mata mereka, karena ketidakberdayaan yang mereka alami. Wajah muda mereka kini ternodai dengan ketidakmampuan mereka untuk melawan.
"ah, lebih keras!" Seorang Iblis dengan rambut pirang kembali memperkuat gerakkannya. Mendengar lantunan musik yang berupa tangisan dari biarawati yangg ia lecehkan.
Merasa biarawati yang ia pegang mulai tidak melawan, Iblis itu kemudian mencampakkanna dengan kasar. Ia tidak puas dengan begini saja. Ia harus mencari Biarawati itu.
"cepatlah... dan kau akan menjadi milikku"
Pemuda itu berhenti sesaat ketika merasakan kehadiran seseorang. Ia melirikkan wajahnya kesamping menuju pintu yang ia tutup. Seorang pria dengan kemeja putih menatap sekeliling dengan tatapan penuh penyesalan. "oi, siapa kau seenaknya masuk begitu saja!? Tidak tahukah kau, aku lagi sibuk disini?"
"Sungguh malang nasib mereka...dan semua ini karena kau. Dosamu memang cocok dengan rasmu, Nak. Seorang Iblis seperti kau...seharusnya hancur menjadi partikel kecil di Udara."
Iblis muda itu membeku sesaat. Matanya dengan cepat melihat sekelilingnya. Dan kemudian menatap mata Orang yang berani mengganggu kesenangannya.
Udara yang kosong, kini penuh akan tombak bercahaya yang melayang. Memenuhi langit malam dengan cahaya yang bermandian di kegelapan malam.
Dan menuju dirinya...
"musnahlah...karena dosa yang kau buat, tidak akan bisa dibalas di api Neraka."
...
..
.
.
Selesai. Tidak banyak yang mau dikatakan...
Review? Silahkan.
Kristoper21 out~
