Tittle : Shinstar

Length : Some Shoots(?)

Pairing : ChangminxJunsu, YunhoxJaejoong slight YoochunxJaejoong

Warning : Genderswitch for Junsu and Jaejoong, miss-typo

Disclaimer : Seluruh fanfiksi ini dibuat dan disesuaikan dengan Japanese movie produksi Warner Bros Picture Japan berjudul Paradise Kiss yang diangkat dari manga berjudul sama karya Ai Yazawa.

a/n : its been a year since i release the foreword u,u Maaf. Tahun 2013 ini shiny tidak produktif(?). memasuki semester 5 shiny sedang memperbaiki IPK. Anyway, selamat tahun baru. Semoga tahun 2014 akan menjadi lebih baik bagi kita semua. Amin.

Saat melewati toko roti dari situ selalu tercium bau yang begitu enak. Setelah toko roti kalian akan menemukan sebuah toko aksesoris yang menarik. Dan di ujung deretan toko tersebut terdapat lorong dengan tangga yang menurun ke bawah. Turun. Turun. Itu adalah sebuah lorong yang terlihat sangat berbahaya. Lorong dengan desain bangunan batu bata tanpa diplester dan pintu bergaya klasik tersebut merupakan tempat tersembunyi yang mungkin dulunya adalah sebuah bar. Setelah menuruni tangga terdapat pintu di sebelah kiri dengan sebuah plat dari kayu bertuliskan Shinstar.

Junsu mendongakkan kepalanya ke atas dan memandangi matahari yang mulai bergeser ke barat dengan langit yang sudah berwarna biru keoranye-oranyean. "Sudah sore", gumamnya pelan sambil meletakkan pembatas buku di buku catatan kecil miliknya yang sejak tadi ia baca. yeoja imut itu memandangi beberapa catatan pola grammar didalamnya lalu menghela napas sejenak. Baru 2 hari lalu wali kelasnya mengatakan dengan sadis bahwa ia takkan bisa masuk ke Tokyo University dengan nilainya yang sekarang. Dan dengan mudahnya perempuan tua yang juga wali kelasnya itu membandingkannya dengan Junho.

"Dasar perempuan tua. Seenaknya saja ia bilang aku tidak bisa masuk Toudai", gumam Junsu kesal sambil menggelembungkan bibirnya. Sedetik kemudian yeoja imut itu pun membereskan tasnya lalu berjalan meninggalkan atap sekolahnya. Tanpa menyadari bahwa sedari tadi ada sosok yang memperhatikannya dari atas pohon di dekat gedung sekolahnya.

"Dia sudah pulang. Aku akan mengikutinya lagi", ujar sosok bermata tajam itu pelan melalui telepon genggamnya. Matanya sesekali melirik gedung sekolah megah bertuliskan Shinki National Highschool.

oOo

Junsu berjalan menyusuri blok pertokoan di pinggir distrik Shibuya. Ia menggosok hidungnya yang terasa aneh saat mencium aroma roti yang baru di panggang dari toko roti yang ia lewati. Johnny Bakery. Begitulah bunyi papan nama toko tersebut. Nama yang cukup keren dan pantas untuk rasa dan aroma kue yang begitu enak setiap saat. Setiap melewati toko tersebut pasti Junsu akan menelan salivanya sendiri.

Dari Johnny Bakery, mata Junsu kembali terpaku pada toko aksesoris. "Keren... Cantik.", bisik dengan pandangan kagum saat melihat deretan aksesoris yang ada di dalam toko tersebut. Namun sorot kekagumannya tak bertahan lama karena sedetik kemudian ada seseorang yang menyentuh tangannya seraya memanggil namanya, "Etto.. Junsu-san..", panggil orang asing yang berpakaian dan berdandanan ala rocker lengkap dengan piercing dan smoky eyes itu sambil tersenyum, berusaha ramah menurut Junsu justru aneh dan menyeramkan.

Junsu melebarkan matanya, terlalu terkejut saat ada orang asing berpakaian compang-camping menyapa dan memanggil namanya.

"Junsu-san?", panggil laki-laki itu lagi.

"Ye? Hai'?", jawab Junsu sambil melangkah mundur ketakutan.

"Bolehkah aku meminta waktumu sebentar saja?", tanya pria bertatapan tajam itu pada Junsu yang makin cepat melangkahkan kakinya ke belakang. Junsu dengan reflek pun menggelengkan kepalanya.

"5 menit saja?", tanya laki-laki tadi sambil terus mendekati junsu.

"4 menit?", Junsu menggelengkan kepalanya cepat. 'Oh tidak, aku akan diperkosa dan dibunuh', batin Junsu. "kalau begitu 3 ah tidak! 2 menit saja-ya! Yah!", ucap laki-laki tadi namun terpotong karena Junsu keburu berlari menjauhinya. Sontak laki-laki rocker tadi langsung ikut mengejar Junsu.

Laki-laki bermata tajam tadi berlari sekuat tenaganya untuk mengejar Junsu yang sudah berlari jauh didepannya. Namun setelah belokan di ujung deretan toko tersebut ia menemukan Junsu sudah jatuh terkulai di tangan seorang yeoja cantik bermata bulat. Hidung Junsu sendiri masih ditutupi dengan sapu tangan oleh yeoja bermata bulat itu. Yunho tertawa kecil, "kloroform? Kau ternyata sadis juga Boo.", ujarnya sambil menggaruk tengkuknya. Tingkah kekasihnya itu terkadang sangat ajaib.

"Hihi, setidaknya aku tidak menggunakan kekerasan atau menakutinya Bear.", celetuk gadis cantik bermata bulat itu sambil tertawa kecil dan sedikit membenarkan posisi Junsu.

"Bear, bantu aku. Dia berat", keluh yeoja itu seraya mengerucutkan bibir cherrynya. Laki-laki rocker yang dipanggilnya Bear itu tadi pun segera membopong tubuh Junsu.

Dalam sekejap tubuh Junsu yang tidak terlalu berat itu pun digendong oleh laki-laki rocker tersebut. Memasuki lorong dengan tangga yang menurun ke bawah tepat setelah belokan di ujung deretan toko kue dan aksesoris tadi.

Turun. Turun.

'Lorong berbahaya. Akhirnya aku dibawa ke lorong berbahaya itu.', batin Junsu diantara setitik kesadarannya yang tersisa.

oOo

'Lampu.. matikan lampunya', gumam Junsu sambil mengerjapkan matanya kala berkas sinar yang cukup menyilaukan masuk ke retina matanya.

"Kau sudah sadar?" sapa sesosok wanita cantik dengan mata bulat dan kulit pucat tiba-tiba saja muncul di penglihatan Junsu.

"Sadako-sama!", jerit Junsu. Refleks, Junsu pun langsung bangkit dan duduk dari posisinya yang tadi berbaring. Namun nyeri yang lumayan hebat tiba-tiba saja menyerang kepalanya dan membuat pandangan matanya berkunang-kunang.

"Xiah? Kau sudah sadar! Perkenalkan, aku Hero.", sapa perempuan cantik yang tadi sempat ia panggil Sadako itu ramah sambil tersenyum ramah pada Junsu. 'Cantik', batin Junsu saat ia memperhatikan wanita tersebut.

"Tadi kami sudah memanggil dokter. Dia memarahiku karena telah membiusmu. Dan tadi kau mengigau.. tentang lorong berbahaya?", ujarnya sambil memiringkan kepalanya.

Junsu mengernyitkan dahinya sambil memproses kata-kata yeoja cantik itu barusan. 'Kepalaku sakit sekali', batinnya dalam hati sambil memijat pelan pelipisnya.

"Kau? Membiusku?", tanya Junsu akhirnya sambil menatap yeoja yang kalau ia tidak salah dengar bernama.. Hero?

"Maafkan kelakuan kekasihku. Tadinya kami tak mau memakai kekerasan. Tapi kau sendiri yang membuat kami begitu.", celetuk laki-laki rocker yang tadi mengejarnya.

"k-kau! Pria menyeramkan yang tadi!", jerit Junsu begitu melihat laki-laki rocker tersebut.

"Hihi, namanya Yunho Jung tapi kau bisa memanggilnya Uknow.", ujar Hero sambil terkekeh lalu berlari pelan ke samping Uknow dan melingkarkan tangannya di leher Yunho sementara laki-laki rocker menyeramkan bernama Yunho itu memeluk pinggang Hero erat-erat. Mereka tidak terlihat seperti penculik.

"Untuk apa kalian membawaku?", tanya Junsu sambil menatap tajam Uknow dan Hero.

"Sekolah kami akan mengadakan festival fashion akhir tahun. Dan kami ingin meminta bantuanmu menjadi model kami.", terang Hero dengan nada ceria.

Junsu mengernyitkan dahinya dan bergumam pelan, "model?". Sakit di kepalanya sudah berangsur-angsur membaik.

Junsu pun ia menatap sekelilingnya, sebuah tempat yang menurutnya terlalu 'berwarna' dan penuh dengan benda-benda dan aksesoris manis yang jarang ia temui. "Aku dimana?", tanyanya pada kedua 'penculiknya' itu.

Dengan bangga dan senyum manis di bibir cherrynya, Hero berjalan mendekati Junsu lagi dan menjawab, "Kamu berada di studio kami". Junsu memiringkan kepalanya, "Studio?", tanyanya lagi memastikan.

"Hm! Kami membuat pakaian disini. Kami dari Sekolah Seni Toho High School.", ujarnya sambil tersenyum, menambah kadar kecantikannya beberapa kali.

"Ahh.. sekolah Toho", gumam Junsu lalu mengelus pelipisnya yang masih terasa sakit. "Jadi begini kelakuan murid seni disana. Menculik orang untuk dijadikan model? Ternyata benar kalau orang-orang yang diterima disana hanyalah sekumpulan orang-orang bodoh dan senang mengeroyok orang lain", ujar Junsu ketus lalu membereskan seragamnya yang sedikit berantakan.

Hero tercengang dengan kata-kata Junsu. Sedangkan raut wajah Uknow mengeras. Uknow menatap tajam Junsu dan berkata, "Kami membawamu dan bukan mengeroyokmu.".

Junsu yang merasakan tatapan tajam Uknow pun balas menatap Uknow, menantang pria tersebut meski tangannya sendiri bergetar ketakutan. Tak lama kemudian pandangan Uknow melunak, "Bulan depan kami akan melaksanakan Fashion Show kelulusan kami. Itu adalah perayaan terakhir bagi kami siswa tahun ketiga. Kami sedang mencari model untuk memakai pakaian yang kami buat.", ujar Yunho pada Junsu.

Hero tersenyum cerah sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sedangkan Junsu tercengang. "Jadi kalian serius menjadikanku model? Jangan bercanda! Aku ada ujian masuk yang harus kuikuti. Aku tidak ada waktu untuk mengikti permainan aneh dengan orang-orang seperti kalian", ujar Junsu kesal lalu bangkit sambil membawa tasnya. Sudut matanya melirik satu tempat di studio aneh itu yang berbentuk seperti meja bar. Terdapat seseorang dengan gaya rocker yang persis dengan Uknow namun dengan sorot mata yang lembut. "Tunggu? Dia wanita?", batin Junsu kaget. Namun orang tersebut tersenyum simpul pada Junsu.

Junsu menghela nafasnya, "orang aneh lagi.", batinnya pasrah. Lalu memasang tasnya dan berjalan pergi, "Bye".

"Tunggu Xiah!", teriak Hero mencegah Junsu pergi. Junsu yang terkejut pun alhasil tersandung jatuh karena menabrak permukaan lantai yang agak tinggi. Junsu menatap kesal Hero, "yang kau panggil Xiah itu aku?".

Hero memamerkan senyumnya lalu berkata, "Etto.. kau belum memberitahu namamu pada kami..". Junsu tercengang dengan kalimat Hero. Dia meringis pelan sambil membenarkan rambut sebahunya yang sedikit berantakan karena terjatuh tadi lalu berkata, "Aku memang tidak ingin memberi tahu namaku.", sambil memanyunkan bibirnya sinis dan berbalik ke arah pintu keluar.

"Hee?!", Hero kaget dengan perkataan sinis Junsu barusan. Dia tak menyangka Junsu yang berparas manis dan imut bisa mengatakan hal seperti itu.

"Yah. Tarik kembali ucapanmu itu.", ujar Uknow pada Junsu. Junsu kembali menatap Yunho, sedikit menelan ludahnya karena nyalinya menciut. "Apa?", tanya Junsu dengan nada yang dibuat senormal mungkin.

"Kau menyebut kami sedang bermain-main kan? Tarik kembali ucapanmu itu. Apa di Shinki kalian diajarkan untuk berbuat semau kalian?", tantang Uknow sambil menatap tajam Junsu dan berjalan ke arah gadis itu.

"Lalu apa? Menculik orang dan memaksanya menjadi model itu kalian sebut apa?", balas Junsu sengit, entah darimana ia dapatkan keberanian untuk membalas ucapan pria menakutkan itu. Suasana di studio itu pun memanas, Junsu dan Uknow saling menatap tajam, satu sama lain tak mau kalah hingga akhirnya suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatian mereka. Pandangan Junsu melembut saat matanya menangkap sosok pria tinggi dengan wajah yang sedikit kekanakan. Pakaiannya menunjukkan selera fashionnya yang tinggi sama seperti Hero dan Uknow.

"Max!", panggil gadis berpakaian rocker yang sedari tadi berada di meja bar tadi dan menonton perdebatan Uknow dan Junsu. Max, laki-laki yang baru masuk tadi menatap intens Junsu sejenak seraya menaikkan sebelah alisnya dan bertanya, "Uknow hyung? Amber? Dan siapa dia?".

Amber, perempuan yang gaya pakaian dan dandanannya persis Uknow dengan segala piercingnya itu dengan ringan menjawab, "Uknow dan Hero membiusnya dan membawanya kemari. Dia yang akan jadi model kita".

Max mengangguk-anggukkan kepalanya lalu melemparkan senyum manis pada Junsu dan menyapa gadis imut itu, "Hai, aku Max".

Junsu ternganga dengan spontan begitu Max menyapanya. 'Orang aneh lagi! Oh Tuhan sebaiknya aku kabur!", batin Junsu ketakutan lalu langsung berlari keluar dari studio tersebut dengan cepat. Dan aksi tersebut jelas membuat Max kaget. Pria tinggi berwajah kekanakan itu mengejar hingga pintu studio lalu kembali masuk saat ia sadar Junsu sudah berlari terlalu jauh. Dengan wajah yang masih menunjukkan ekspresi terkejut Max menatap Uknow yang kini sudah berada di sofa dengan Hero di pangkuannya serta Amber yang kini menuangkan sirup madu ke pancake buatannya. "Sebenarnya ada apa dengan dia?", tanyanya pada 3 orang temannya itu sambil duduk di kursi yang terletak didepan meja bar dan menyendokkan pancake Amber ke mulutnya.

"Yah! Itu bukan untukmu Max!", teriak Amber saat melihat pancakenya diserbu Max.

oOo

"Akhirnya sampai juga.", ujar Max pelan seraya memarkirkan mobil sportnya di halaman parkir Shinki National Highschool. Di kepalanya masih terngiang-ngiang percakapannya dengan Hero, Uknow dan Amber yang mengatakan bahwa xiah-nya tidak mau menjadi model mereka. Dan kini dia berada di SNH untuk menculik Xiah-nya lagi.

"Aku akan membuatmu mau menjadi model kami, Xiah.", batin Changmin sambil menyeringai menatap salah satu jendela yang berada di lantai 3.

Di saat yang sama, Junsu yang tengah mengobrol dengan saudara kembar laki-lakinya tiba-tiba saja merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri. Junho, saudara kembar laki-laki Junsu menatap heran junsu yang mengelus tengkuknya dengan ekspresi aneh.

"Ada apa Su?", tanya Junho dengan raut cemas. Junsu dengan bingung menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ah, tidak. Perasaanku hanya saja mendadak aneh. Lupakan saja".

TBC