"To Help You"

Disclaimers : Naruto punya Masashi Kishimoto-sensei

Rated : T

Pairing : SasuIno

Warning : Gander Bander,Gaje,Aneh,Typo bertebaran,dll

By : Runa BlueGreeYama

Tok.. Tok.. Tok..

Perlahan iris Aquamarine itu terlihat. Suara ketukan pintu itu mengusik tidurnya dan juga mengucek pelan kedua matanya dan merutuki orang yang mengetuk pintu 'kamarnya' dengan tidak sabaran.

"Ternyata sudah pagi." Gumamnya lalu menggaruk kasar kepalanya.

"Sebentar." Teriak Ino.

Namun orang itu tetap saja mengetuk pintunya dengan keras. Ino segera merapihkan penampilannya dan kekamar mandi. Beberapa saat kemudian ia langsung berjalan kearah pintu dan membukanya.

Cklek..

"Ino!"

Grep..

"Shion?"

Shion memeluk Ino dengan erat. "Bagaimana kabarmu? Gaara sudah menceritakan semuanya kepadaku. Ah—aku rindu sekali denganmu."

"Kau berlebihan, Shion." Tukas Ino.

Shion melepaskan pelukannya. Ia memegang pundak Ino dengan erat. "Aku ikut dengan Tim untuk menolong Sasuke. Aku akan membantumu."

"Hah? Benarkah?" Shion mengangguk. Tapi Ino terfikirkan suatu hal yang ingin ia tanyakan pada saudaranya ini. "Um, Shion. Boleh aku bertanya sesuatu?"

Shion mengangguk, ia sedikit khawatir akan pertanyaan yang diberikan oleh saudaranya itu.

"Kenapa semua Yamanaka hilang? Dimana tou-san dan kaa-san? Dan kenapa hanya kau yang bisa ku temui?"

Deg..

Inilah yang Shion takutkan. Ia tidak mungkin mengatakan kalau mereka semua telah dibantai. Tidak mungkin juga ia langsung mengatakan kalau sebenarnya dirinya dan Ino sedang dalam bahaya.

"Yang kutahu mereka semua berpencar. Keluarga Uchiha itu bukan hanya ada di Konoha, Ino."

Ino mengangguk lemah. "Kau tau, Shion? Aku merindukan tou-san dan kaa-san."

Shion menepuk pelan puncak kepala Ino. Shion tersenyum. "Suatu saat pasti kau akan bertemu mereka."

"Ah iya, Shion. Yang lain pada kemana? Kok sepi?"

"Mereka ada diruang makan. Kesana yuk?"

Ino mengangguk mantap. Sesekali ia dan Shion bercengkrama lagi saat berjalan menuju ruang makan. Sebetulnya Ino sangat menanti hal seperti ini. Bertemu keluarganya dan saling bertukar cerita.

Sesampainya diruang makan, ternyata Temari, Kankuro, Gaara dan Sakura telah menunggu mereka.

"Jangan salahkan aku kalau kami lama." Ucap Shion enteng seraya mengangkat kedua tangannya.

4 kedutan terpampang di dahi Ino. Ia menjitak Shion yang hendak duduk disamping Gaara. Dengan muka tidak bersalahnya pula ia langsung duduk disamping Sakura tanpa menggubris umpatan Shion untuknya.

'Dari dulu anak itu memang tidak berubah. Tetap ingin merasa dia tidak pernah salah.' Ucap Ino dalam hati. 'Tapi aku cukup bersyukur bisa bertemu dengannya. Dan... Sepertinya ia menutupi sesuatu dariku'

"Ekhem.. ada yang harus kau jelaskan lagi padaku, Shion." Mata Aquamarine Ino menatap tajam wajah Shion yang semakin memucat. Terdengar dari suaranya, Ino benar-benar serius kali ini.

"A.. Sudah kuduga." Shion memejamkan matanya dan menghela nafas. "Apa yang ingin kau tanyakan?"

Orang yang berada diruangan itu benar-benar bingung, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka seakan tidak dianggap keberadaannya oleh kedua bersaudara itu?

"Kau sudah jadian dengan Gaara?"

Deg..

"Hiee?"

"Naannniii?"

Shion benar-benar terlihat pucat sekarang, sesekali ia melirik Gaara yang masih saja barwajah datar. Shion menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia pun hanya tersenyum masam saat orang-orang yang ada diruangan itu mengintimidasi nya.

"B—bisakah kita bicara empat mata sekarang, Ino?" Perintah Shion gugup.

Ino pun mengangguk dengan polosnya. Shion menarik tangan Ino dan membawanya ke taman belakang.

"Bisakah kau mengontrol kelebihanmu, Ino? Kau harus merahasiakan ini dari siapapun." Tukas Shion dingin.

"Go—gomen'nasai.. Semuanya muncul begitu saja didalam otakku. Dan semua informasi itu membuatku penasaran, Shion."

"Kau tidak bisa terus menerus mempermainkan kekuatanmu, Ino. Itu berbahaya. Dan harus kau tau. Kita sedang Diincar, Ino! Semua Yamanaka telah dibantai! Dan hanya kita yang tersisa."

Mata Ino membulat. Ia tidak tahu hal ini. Bahkan ia tidak pernah membaca hal ini difikiran Shion. Ok, Ino harus mengaku. Ia memiliki kelebihan membaca fikiran seseorang. Mungkin bukan cuma Ino, Tapi semua Yamanaka. Itulah alasan mengapa klan Yamanaka dibantai. Mereka selalu bisa menyimpan hal yang bisa dibaca oleh Yamanaka lain dan yang tidak. Meskipun kelebihan yang mereka punya itu hebat, tapi karena alasan tertentu beberapa orang memilih memusnahkan Yamanaka.

"Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?! Dan jangan bilang kalau tou-san dan kaa-san sudah tewas!" Pekik Ino.

"Aku fikir, kau belum mengetahui kelebihanmu. Dengan seperti itu, kau aman. Tapi barusan..." Shion menatap lurus Ino. "Hanya kau keluargaku yang tersisa, Ino. Aku mohon, gunakan kelebihanmu disaat tertentu saja. Usahakan jangan ada orang lain yang mengetahui kalau kau Yamanaka."

Ino mengangguk. Suatu kenyataan besar yang telah diketahui olehnya. Selain menyelamatkan Sasuke, ia pun harus menyelamatkan dirinya sendiri dan Shion. Secara tidak langsung, pembicaraan ini membuat beban yang difikirkan Ino semakin berat.

"Sepertinya aku harus kekamar. Aku akan makan nanti siang saja." Ucap Ino seraya berlalu meninggalkan Shion yang tengah mematung.

.

Disinilah Ino. Gadis pirang itu duduk di jendela kamar yang ditempatinya. Kebetulan jendela itu lumayan besar, sehingga ia bisa duduk disana dan merasakan angin khas gurun yang menerpanya. Sebuah buku bersampul biru tua tengah digenggamnya. Berulang kali ia membolak-balikkan kertas itu hingga dibagian terakhir penulisannya—ditanggal 17 april 2013.

"Apa yang sebenarnya tim Taka kejar?" Gumamnya.

Otaknya berfikir keras. Meski pemikiran awalnya Ino berfikir bahwa semua ini akibat persaingan pekerjaan, tapi tetap saja terasa mengganjal. Keluarga Uchiha pun pasti tidak akan memerlukan bodyguard special yang memiliki kemampuan seperti Ino hanya karena persaingan bisnis. Apalagi dengan bodyguard yang turun menurun dari nenek moyang Ino sampai sekarang.

"Ah!" Ino terpekik.

"Sasuke-kun pasti mempunyai hal yang istimewa!" Ucapnya lagi.

Dan tanpa sengaja Ino membuka halaman buku itu dipaling terakhir. ada secarik kertas yang menyembul dibalik kertas yang tertempel. Dengan perlahan Ino menarik kertas itu dan membukanya. Sebuah kertas kecil yang sudah lusuh.

Note:

Sebuah permata hitam. Membawa kehidupan. Hanya sekali ia memberikan kehidupan. Dan setelahnya, permata itu lenyap.

"Permata?"

Ino menggigit bibir mencoba mengingat apakah Sasuke pernah memakai permata hitam? Ia terdiam sesaat lalu menggeleng. 'Tidak pernah' Ucapnya dalam hati.

Membawa kehidupan..

Nyawa..

'Batu permata yang memberikan nyawa?'

Ino terdiam. Ia segera menyambar telepon genggamnya dan mencari kontak disana. Lalu mendekatkan telepon itu ketelinga kanannya.

"Halo?"

Ino tersenyum seketika. "Halo Itachi-nii. Aku mau tanya sesuatu."

"Kau sedang ada dimana, Ino? Kaa-san kemarin mencarimu. Mau bertanya apa?"

"Ah—Souka? Aku sedang berada di Suna. Um,Apakah Itachi-nii tau soal Permata pemberi nyawa?"

"Hah? Suna? Dan—Apa?" Ino tau, Itachi sedang shock berat disana. "Apa yang baru saja kau bilang? Da—Okey Ino. Dari mana kau tahu soal permata pemberi nyawa?"

Ino terdiam beberapa saat, lalu ia menjawab. "Terserah jika setelah aku mengatakan hal ini Itachi-nii berfikir aku pembual atau apapun. Tapi aku diminta Sasuke-kun untuk menolongnya. Dan aku tahu soal permata pemberi nyawa itu dari sebuah catatan teka-teki kecil yang berada dibuku harian Sasuke-kun."

".."

Ino mulai khawatir sekarang. Itachi tidak memberi respon apapun. Ia tidak menjawab ucapan Ino. Dan tindakan Itachi itu membuat Ino serba salah. "Itachi-nii? Kau masih disana? Kumohon, jawab aku. Aku hanya ingin menolong 'Tuan'ku." Lirih Ino.

"Stop, Ino." Terdengar Itachi sedang menghela nafas disana. "Tidak ada 'Tuan-tuan'an disini. Kau tetap kuanggap sebagai adikku. Katakan, dimana alamat tinggalmu sekarang?."

"Eh? Untuk apa?"

"Masalah ini semakin rumit, Ino. Terlebih lagi kau sudah tahu semuanya. Sudah kuputuskan aku dan kaa-san akan menyusulmu."

"A—Aku ada dikediaman Gaara. Suna." Ino hendak merutuki kegugupannya saat ini.

"Kediaman Gaara? Baguslah, tunggu kami ya, Ino."

"Hah? Um, ya."

PIP..

Ino memutuskan kontaknya. Ia menatap layar handphone nya. Terlihat wallpaper dirinya dan Sasuke yang berada dibelakangnya. Ia tersenyum, walaupun difoto itu sebenarnya Sasuke tidak sengaja terfoto. Tapi, tetap saja Ino senang melihatnya meskipun wajah yang ditunjukan Sasuke tengah masam.

"Aku berjanji, aku akan membawamu ke Konoha dengan selamat, Sasuke-kun." Gumamnya.

Ino mengambil buku catatan Sasuke yang tadi sempat jatuh. Lalu ia mengambil bulpoint dan menuliskan sesuatu dihalaman terakhir buku itu.

Semuanya telah kembali..

Entah apa maksudnya. Namun tangan Ino memaksanya untuk menuliskan kalimat itu.

Tok.. Tok.. Tok..

Ino segera menyimpan buku Sasuke dan membuka pintu. "Sakura? Ada apa?"

Sakura tersenyum. "Kau dipanggil Gaara. Sepertinya orang-orang yang akan membantumu sudah datang."

Ino mengangguk lalu menutup pintu kamarnya. Ia dan Sakura langsung menuju bawah—keruang keluarga untuk menemui mereka semua.

Diruang keluarga sudah ada beberapa orang—yang menurut Ino unik. Ia duduk disebelah Sakura. Semua mata tertuju padanya. Ino sempat salah tingkah, tapi dengan cepat ia menutupinya.

"Ino. Mereka ini adalah kelompok yang kubuat untuk menyelamatkan Sasuke." Ucap Gaara serius. "Sebagian mereka ada yang berasal dari kepolisian Konoha."

Ino mengangguk. 'Kepolisian Konoha ternyata masih ingin ikut mencari Sasuke juga. Syukurlah.'

"Hai minna, Aku Ino. Mohon bantuannya." Ucap Ino seraya berdiri dan ber ojigi.

"Yeaaahhh.. Ino-chan! Aku Lee! Ayo kita semangat Ino-chan!" Teriak pemuda berambut batok(?) bernama Lee itu.

"Aku Uzumaki Naruto, salam kenal Ino-chan!" Pemuda berambut pirang ternyata tidak kalah semangatnya dengan Lee.

"Aku Hinata! Salam kenal, Ino-chan." Ucap gadis bersurai indigo yang menurut Ino sangat cantik.

"Aku Kiba! Dan ini Akamaru. Salam kenal Ino-chan." Ucap pemuda bertato segitiga dengan anjing putih besar yang berada disampingnya.

Ino tersenyum kearah 4 orang Konoha itu. 'Mungkin nanti aku bisa berteman baik dengan mereka.' Ucap Ino dalam hati.

"Dan dari Suna. Aku, Shion, Kankuro, dan beberapa anak buahku yang akan ikut tim ini." Gaara menautkan kedua tangannya didepan dagu. "Kita mulai menyusun rencana besok. Dan kau Ino, ikutlah dengan Temari dan Sakura belajar medis."

.

.

Beberapa hari kemudian, Ino mulai terbiasa dengan keadaan Suna yang cukup panas.

Ino menyeka keringat dipelipisnya. Ia terduduk dibangku tempat latihan menembak. Tangan kirinya memegang sebuah botol air mineral yang isinya tinggal setengah. 'Setelah ini, aku akan latihan medis.' Ia memejamkan matanya sesaat. 'Lelah sekali.'

"Inooo!"

Ino tersentak dan langsung menoleh kearah belakang. Ternyata Shion yang tengah berlari kearahnya.

"A—ada.. Uchiha. Datang kesini!" Ucapnya.

Ino mengerutkan keningnya. "Uchiha?"

Mata Ino membola. Ia ingat! Uchiha itu pasti Itachi dan bibi Mikoto.

"Mereka Itachi dan bibi Mikoto, Ino!" Ucap Shion.

"Hah! Kau itu, bisa tidak sih jangan membaca pikiranku!?" Pekik Ino. Sementara Shion hanya tertawa dan mengikuti Ino yang sudah mendahuluinya.

.

Diruang tamu, hanya ada Ino, Itachi dan Mikoto.

"Soal batu pemberi nyawa.. Batu itu hanya ada dijantung setiap keturunan Uchiha yang terpilih." Itachi mulai menceritakan. "Sejak lahir, orang yang mempunyai batu itu pasti akan terlihat berbeda. Setiap uchiha yang mempunyai batu itu memiliki kekuatan tersembunyi didalam tubuhnya."

"Kekuatan tersembunyi?" Ino mengerutkan keningnya.

"Ya, contohnya Sasuke. Ia juga mempunyai kekuatan."

"Jadi, itu yang membuat para Uchiha membutuhkan bodyguard sepertiku? Kalau yang mempunyai batu itu hanya orang terpilih saja, kenapa harus semua Uchiha yang dijaga?"

Itachi mengehela nafas lelah saat mendengar pertanyaan Ino. Sesaat ia melihat sang ibu—Mikoto tengah tersenyum kearahnya. "Semua itu kami lakukan agar yang mempunyai batu itu tidak terlalu mencolok. Tapi, semenjak Yamanaka diburu Uchiha pun ikut terancam."

Ino mengangguk. Ia mengerti sekarang. Semua Uchiha mempunyai bodyguard agar orang yang mengincar batu itu sulit menemukan tubuh yang memiliki batu itu. Secara semua Uchiha mempunyai bodyguard dan tidak ada satupun yang mengeluarkan kekuatannya. Dari sekian banyak Uchiha, pasti akan sulit menemukannya. Dan sekarang, mereka sudah berhasil menemukan sang inang batu itu-Sasuke.

"Apa Itachi-nii tau soal tim Taka?"

Itachi mengangguk. "Sejak dulu tim Taka memang sudah ada. Mereka mengincar batu itu secara turun menurun. Yang ku dengar mereka mengincar batu itu untuk membangkitkan Yukuichi Yugo."

Mata Ino membulat. "Yu—yugo si penghancur dari klan Yukuichi?"

Setau Ino, Yukuichi Yugo itu hanya ada dalam dongeng. Bukan hanya dongeng, tapi di pelajaran sejarah jepang pun ada. Yukuichi Yugo adalah satu-satunya orang yang mempunyai kekuatan penghancur dari klan Yukuichi yang sudah punah. Yugo bisa menghancurkan seluruh jepang dan memperbudak seluruh penduduk jepang dengan mudah. Semudah menjentikan jari.

Dari buku yang pernah Shion berikan pada Ino dulu, disana dituliskan bahwa kekuatan langka dari seorang Yukuichi adalah 'Kekuatan Dewa'. Mereka bisa berbuat semau mereka dengan mudah. Mungkin karena itu klan Yukuichi punah. Sama seperti Yamanaka dan Uchiha. Semua klan yang memiliki keistimewaan dimusnahkan.

Dan kekuatan langka itu ada pada Yugo Yukuichi. Yugo sudah meninggal beratus-ratus tahun yang lalu. ia bukan meninggal karena dibunuh, tapi karena usianya yang memang sudah pantas untuk wafat. Kekuatan Yugo diketahui saat Yugo sudah berkepala 5, saat itu ia tidak sengaja mengeluarkan kekuatannya untuk melindungi keluarganya. Sejak saat itu Yugo selalu diburu. Ia sering balas dendam ke desa yang memburunya. Banyak desa yang hancur tak bersisa akibat ulahnya, bahkan ia mempunyai banyak budak dan merampas harta warga desa.

Hingga akhirnya keluarganya perlahan mulai meninggal karena wabah penyakit. Tinggallah Yugo sendiri hingga akhir hayatnya. Setelah Yugo wafat, para budak-budak yang tersisa pun sadar. Mereka memakamkan Yugo ditempat tersembunyi.

Ino mengerutkan keningnya saat mengingat kisah Yugo yang pernah ia baca dari buku yang diberikan Shion.

"Apa yang mereka rencanakan? Untuk apa Yugo dibangkitkan?"

Mikoto tersenyum maklum kearah Ino. "Tim Taka menginginkan dunia, Ino." Ucap Mikoto lembut.

"Tapi.. belum tentu juga kan kalau Yugo dibangkitkan, Yugo akan berpihak pada mereka!"

"kami tidak tahu, kemungkinan besar orang yang dibangkitkan dengan batu itu akan menurut kepada orang yang mengambil batunya. Tapi itu belum pasti." Ucap Itachi pelan.

Ino mengangguk. Pasti dugaan Itachi itu benar. Tidak mungkin tim Taka akan mengejar batu pemberi nyawa itu sampai seperti ini. Lagipula apa kehebatan tim Taka itu sampai para polisipun tidak bisa menangkap seorangpun sampai sekarang?

Semuanya terngiang dalam otak Ino. Belum lagi kenyataan Yukuichi Yugo akan dibangkitkan. 'Semua ini begitu rumit.' Ucap Ino dalam hati. 'Aku harus menyelamatkan Sasuke, kalau tidak dunia akan hancur.' Ucapnya lagi.

Beberapa jam kemudian, Ino, Itachi, dan Mikoto keluar dari ruang tamu. Iatchi dan Mikoto kembali keruang makan untuk bercengkrama dengan Shion dan Sakura. Sementara Ino kembali keruang khusus pengobatan untuk kembali belajar medis dengan Temari.

.

Sore pun datang. Ino mengehela nafas lelahnya seraya berjalan lunglai. Ia berniat kembali menuju kamarnya. Ia teringat saat Mikoto sangat mencemaskannya. Ino senang, karena hanya Mikoto yang mau menganggapnya sebagai anak. Dengan begitu, Ino bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama Ino rindukan.

Ia membuka pintu kamarnya dan segera menghempaskan tubuhnya dikasur queen size itu dan terlelap. Bahkan ia lupa untuk makan malam.

.

2 minggu kemudian..

Gaara dkk sudah siap dengan strategi dan peralatan khas intelegen. Sekarang mereka tengah berada diperjalanan menuju daerah Sabaku dengan mobil sejenis jip. (Gomen, Runa gatau apa nama mobinya) -_-"

Beberapa kali Ino selalu mengigit bibir bawahnya. Ia gugup.

"Anak buahku memberi kabar." Ucap Gaara. "Mereka sampai didaerah Sabaku."

"Lalu?" Shion membuka suara.

"Mereka sedang mencari kesudut desa dan tempat kesehatan."

Gaara mempercepat laju mobinya. Sepertinya badai gurun akan terjadi. Ia harus cepat-cepat mencari gua atau tempat untuk menghindari badai yang berbahaya itu.

Mereka memakai dua mobil. Mobil pertama, Gaara, Shion, Ino, Kiba, Akamaru, dan Hinata. Dimobil kedua, Naruto, Sakura, Temari, Lee, dan Kankuro.

Gaara mengerenyit saat ia mendengar suara mendengung dari telinga kanannya. "Rugo?" Panggil Gaara.

"Ketua, kami menemukannya! Di Sabaku National Hospital."

Gaara tersenyum. "Baik, perketat penjagaan. Terus laporkan apapun yang terjadi sampai aku tiba disana."

"Baik."

Gaara melirik kebelakang, wajah-wajah orang dibelakangnya kini seakan menuntut sesuatu dari Gaara. Gaara mendengus geli.

"Mereka menemukan dia." Ucap Gaara.

Ino hampir terlonjak senang. Sekali lagi ia menggigit bibir bawahnya. Ia ingin menangis, tapi ia harus kuat. Ia tidak boleh menangis sekarang.

Badai gurun semakin menggila. Mobil jip yang digunakanpun semakin sulit untuk dikendarai. Hawa panas yang menyengat membuat pasokan oksigen semakin menipis. Sesekali kedua mobil jip itu berhenti didekat bebatuan besar. Sekedar untuk berlindung.

Beberapa kali terdengar suara Gaara menanyakan kabar orang-orang dimobil kedua.

Setelah mereka menjalani perjalanan yang cukup menegangkan, gerbang desa Sabaku telah didepan mata. Desa yang tidak terlalu besar. Bahkan jumlah keluarga didesa ini bisa dihitung dengan jari. Mugkin karena desa ini sedikit terisolir sehingga penduduknya sedikit.

Mobil mereka melaju menuju Sabaku National Hospital. Beberapa rumah penduduk desa yang mereka datangi cukup unik.

Sesampainya dirumah sakit, Ino segera turun dan mengikuti langkah Gaara. Rumah Sakit ini cukup besar dan lengkap. Para perawat dan dokternya pun banyak. Ino cukup bersyukur kalau Sasuke dirawat disini. Sepertinya rumah sakit ini sangat profesional.

Ruang intensif no 117.

Sesampainya disana, Ino terdiam. Ia menatap Sasuke yang tengah berbaring tanpa berkedip. Meskipun tidak ada luka yang terlihat tapi Ino yakin, Sasuke tengah tersiksa.

Tes..

Mata Ino menutup saat setetes air mata itu jatuh. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. 'Aku gagal, aku bukan bodyguard yang baik! Aku gagal!'

Ino terduduk dan masih menutup wajahnya. Ia terisak sehingga kedua bahunya bergetar. Shion hanya mengigit bibir bawahnya dan membawa Ino keluar.

"Sasuke baik-baik saja, Ino."

Ino menggeleng. "Tidak, ini semua karena aku! Aku bukan bodyguard yang baik! Aku gagal, Shion." Suara Ino semakin lirih.

Shion mencengkram kedua pundak Ino, "Sasuke baik-baik saja! Dia akan sadar! Dia tidak akan mau melihatmu menangis seperti ini, baka!" tidak perduli akan sekelilingnya, Shion berteriak seperti itu.

Ino diam. Ia sudah berhenti terisak. Kini ia menghapus jejak air mata yang masih tersisa dipipinya. Shion benar, ia yakin Sasuke akan sadar.

"Ino! Sasuke sadar!" Teriak Sakura.

Ino sedikit tersentak, jantungnya seakan berhenti. Ia tersenyum namun air matanya masih menetes. Menangis bahagia mungkin.

Ino menabrak pelan Sakura yang berdiri menghalangi pintu. Tanpa minta maaf, Ino langsung berlari masuk keruangan Sasuke.

Sementara Sakura meringis, "Hih, anak itu.." Gumam Sakura.

"Maafkan Ino ya, Ino memang seperti itu kalau khawatir." Ucap Shion pelan. Sakura mengangguk, mereka berduapun mengikuti Ino masuk keruangan.

Tangis Ino semakin pecah ketika melihat iris onyx itu. Kakinya terlalu kelu untuk berjalan kearahnya dan memeluknya.

"Se—senang melihat anda telah sadar. Gomen'nasai.." Lirih Ino. Kepala Ino menunduk. Wajahnya tertutup pony nya.

Cara bicara Ino sama seperti saat tou-san Sasuke masih ada. Sebagai Bodyguard, inilah yang bisa Ino katakan. Mungkin sangat berbeda ketika Ino bertemu Sasuke ketika mereka berdua. Padahal Ino ingin sekali memeluk Sasuke dan berkata 'Jangan pernah pergi lagi, Sasuke-kun.' Tapi itu tidak akan mungkin.

"I—ino?" Suara serak itu membuat wajah Ino terangkat. Ino menatap onyx itu lagi. "Kau Ino?"

Ino mengangguk pelan. Ada sedikit rasa bahagia saat Sasuke masih mengingatnya. Kening Sasuke mengerenyit.

"Kau bukan Ino."

Satu kata yang membuat semua orang diruangan itu tercengang. Termasuk Ino. Namun 4 siku-siku muncul didahi nya.

"Kau bukan Ino. Ino yang kukenal bukan sepertimu." Sekali lagi Sasuke menyeringai meski hanya seringai tipis.

Ino kembali menunduk, ia mengepalkan kedua tangannya. Berkali-kali ia menghela nafasnya. Berusaha untuk tidak terbawa emosi.

"A—Sasuke.. Kau tidak sedang lupa ingatan kan?" Suara Naruto terdengar.

"Tentu tidak, kau Naruto. Teman SMA ku. Dan tidak kusangka, kau berhasil masuk kepolisian." Jawab Sasuke enteng.

Ino semakin mengeratkan kepalannya. 'Sialan, dia pasti pura-pura.' Batin Ino.

"Ya sudah, kalau tidak ingat juga tidak apa-apa." Ucap Ino datar. "Yang pasti, berhenti bersikap bodoh, Tuan."

Sasuke hanya menaikkan sebelah alisnya. Ia mendengus geli. "Sepertinya kau terkena demam gurun. Sikapmu yang terlihat bodoh."

Ino tidak menjawab. Ia hanya merengut dan menatap Sasuke tajam. Seolah-olah dari tatapan itu Ino berkata 'Awas-Kau-Nanti'.

"Ekhem, Ino. Ayo kita keluar." Sakura menarik tangan Ino saat dokter datang untuk memeriksa Sasuke. Yang lain ternyata sudah keluar ruangan sejak tadi. Kini tinggal Ino, Sakura, Sasuke, dokter dan asistennya.

Namun Ino tidak beranjak. Matanya terlihat kosong menatap sang dokter perempuan bersama asistennya itu.

"Ino?" Sakura kembali memanggil Ino. Namun Ino masih saja diam.

Sasuke melihat suatu yang ganjil pada Ino. Semenjak dokter itu datang, Ino seakan mengetahui sesuatu. Ino terbatuk, ia menutup mulutnya dengan tangan kanan.

Ino mengangkat sedikit rok pendeknya dan mengambil pistol dipahanya.

Dor..

Tanpa memberikan jeda sedikitpun, Ino segera menembak sang dokter perempuan itu dengan tangan kiri. Sasuke dan Sakura hanya terbelalak melihat dokter itu terduduk memegang lengan kirinya.

"Apa yang kau lakukan?!" Bentak asisten dokter itu.

Mendengar suara tembakan, Shion, Naruto, Lee, Gaara, Hinata, dan Temari segera masuk lagi kedalam ruangan. Mereka terpekik saat melihat sang dokter yang sudah berdarah dilengan kanannya.

"Ino?!" Pekik Shion.

Ino menarik tangannya yang sebelumnya membekap mulutnya. Kini terlihat darah segar mengalir disela bibir Ino.

"Kau, Fuu. Salah satu anggota tim Taka. Berniat menyuntikan sesuatu pada Sasuke-kun agar dia bisa mati seketika." Ino mengambil nafas dalam. "Dan kau, Yuu. Kalian berdua gadungan."

Ino menatap kedua orang itu dengan datar. seakan tidak pernah ada masalah apapun yang terjadi.

"Seorang Yamanaka yang tersisa, eh?" Ucap sang dokter perempuan itu seraya berdiri.

Fuu menatap Ino dan Shion secara bergantian. Sementara Yuu mulai mengambil senjata api yang berada dikantong seragam perawatnya. Ino segera menghampiri Sasuke. Ia masih menodongkan senjata apinya kearah Fuu dan Yuu.

"Kalian tidak akan pernah bisa membunuh Sasuke-kun. Camkan itu!" Ucap Ino.

Dor.. Dor

"Argghh.." Dokter dan asistennya itu tersungkur. Dua tembakan langsung dilepaskan Shion. Sama seperti Ino ia menatap kosong kedua anggota tim Taka itu. Darah pun mengucur dari dada kedua orang itu. Sepertinya Shion menembak tepat pada dada kiri mereka—jantung.

'Ini terlalu mudah.' Ino membatin. Ia menghapus jejak darah yang hampir menetes dari dagunya.

"Ino? Kau tidak apa-apa?"

Ino melirik kearah Sasuke. Pemuda itu tengah menatapnya cemas. "Katamu aku bukan Ino."

Sekali lagi Sasuke mendengus geli. "Baiklah, aku percaya. Ino yang kukenal selalu mencoba melindungiku, bukan? Sama seperti yang kau lakukan tadi."

"Eh?"

Ino merasakan pipinya terasa panas. Ia segera menunduk. Dan kembali menghapus darah dibibirnya dengan kasar.

Hinata menghampiri Ino. "Kau tidak apa-apa, Ino?" Tanyanya.

Ino mengangguk. "Ini hanya hal sepele, Hinata."

Ino segera duduk dikursi yang berada disebelah tempat tidur Sasuke. Ia menyandarkan kepalanya kebelakang.

Temari menghampiri Fuu yang tengah tidak tidak bernyawa. Ia menggeledah jas dokter yang dipakainya. Kening Temari sempat mengerut saat ia melihat sebuah alat penyadap suara yang aktif.

"Ino.. Shion.." Temari menggumam namun tatapannya masih menuju alat itu. Temari berfikir keras. 'Jangan-jangan mereka berdua hanya umpan. Shion dan Ino adalah Yamanaka terakhir. Tidak banyak yang tahu soal itu. Dan alat ini..' Wajah Temari mandadak pucat seketika. Ia melirik Ino dan Shion yang tengah menatapnya penuh tanya.

Dengan cepat, Temari berdiri dan menginjak alat itu hingga hancur. "Kita harus cepat kembali ke Suna." Ucapnya. "Kalau bisa hari ini juga kita berangkat."

"Ada apa?" Gaara menghampiri Temari.

"Kita harus pulang sekarang, setidaknya di Suna banyak yang memberikan perlindungan." Temari benar-benar terlihat pucat sekarang.

"Memangnya kenapa? Sasuke baru saja sadar." Shion membuka suara.

"Kau dan Ino dalam bahaya! Jumlah kita tidak akan cukup untuk melawan tim Taka yang memburu kalian bertiga!"

Mata Ino terbelalak. Jadi mereka hanya umpan? Tujuan utama mereka bukan hanya mengambil batu permata pemberi nyawa, tapi Yamanaka terakhir juga. Ino tidak habis fikir, hidupnya begitu mengenaskan sehingga terjebak diantara kejadian-kejadian yang merepotkan.

Ino meraih tangan Sasuke. Sasuke menoleh dan tersenyum lembut kearah Ino. "Aku sudah sadar dari 2 hari yang lalu."

Ino menautkan kedua alisnya. Sekali lagi ia dikerjai oleh Sasuke. "Ck."

Mereka semua bergegas untuk kembali ke Suna. Setiap detik yang terlewati begitu berharga. Ino, Shion, dan Sasuke. 3 orang yang berpengaruh untuk keselamatan dunia tengah mencoba bertahan hidup. Siapapun tim Taka, apapun yang akan mereka lakukan, Ino akan senang hati membunuh mereka.

TBC

Yosh, dichapter ini memang masih banyak yang belum terungkap. Dan bahkan masih membuat para readers kebingungan. :D Dichapter depan Runa akan berusaha untuk memperbaiki semua.

Terimakasih juga untuk :

Himeka Karine, VeeA, Charlotte Rui, Hanako Chan, Evefox Uchiha, SasuIno forever, danRNGaluh

Jangan lupa review lagii yaaa...