Title: FOLLOW YOUR DREAM

Cast: Jin, Namjoon, #NamJin

Genre: Love, Friendship

Lenght: One Shoot [Part]

Rating: 15+

Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]

Part 2

Sore itu Jin sedang duduk di ayunan taman dekat rumahnya, hanya duduk, berayun-ayun, merasakan angin yang semilir bertiup, menatap ke atas, memandangi langit yang tengah mendung. Sesekali ia melihat sekelompok anak SMA tengah menari di taman seberang sana. "Mereka menari dengan senyuman yang lebar di wajahnya. Apakah ada hal yang kulakukan selama ini yang bisa membuatku tertawa selepas itu?" tanyanya dalam hati.

TUK!

Sebuah kaleng soda mengenai kepala Jin. "Ouch..." Jin berteriak kecil, lalu membalikkan badannya. Pria berambut pink itu berdiri disana, dengan senyuman aneh yang menampilkan kedua lesung pipinya. "Mian... Hehehe..." sahut pria itu sambil tersenyum.

"Tidak lucu," sahut Jin dalam hati. Jin masih menatap pria itu dengan wajah sedikit merengut.

"Aku memperhatikanmu daritadi, kau sudah termenung disitu hampir 2 jam, ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya pria berambut pink itu.

"Mengapa kau menimpukku?" tanya Jin, masih kesal dengan timpukan di kepalanya.

"Apa itu sakit? Aku hanya mencoba membangunkanmu, kau seperti sedang kesurupan"

"Siapa yang kesurupan? Aku rasa kau yang kesurupan, mengecat rambutmu dengan warna pink, kau bahkan bukan boneka berbi."

"Aku Kim Namjoon, siapa namamu?" Pria berambut pink itu tidak menjawab sindiran Jin, justru menanyakan namanya.

"Kim Seokjin" jawab Jin dengan agak ketus.

"Wah marga kita sama-sama Kim, ini pertanda jodoh, hehehe..." Lagi-lagi Namjoon tersenyum dengan senyuman anehnya itu. Matanya menjadi sangat kecil, membentuk sebuah garis, ketika ia tersenyum sepeti itu.

"Apa ia idiot?" tanya Jin dalam hati. "Jodoh kepalamu... Dasar pria aneh" sahut Jin.

Kini Namjoon duduk di ayunan sebelah Jin. Mengikuti apa yang Jin lakukan tadi, berayun-ayun sambil menatap langit yang mendung itu. "Apa enaknya melakukan ini selama 2 jam?" tanya Namjoon.

"Itu jauh lebih baik daripada menimpuk orang yang tak kau kenal dengan kaleng soda.. Cih..."sahut Jin.

"Kau marah?"

"Menurutmu?"

"Pasti kau menyukaiku, makanya kau pura-pura marah untuk mencari perhatianku"

"MWOYAAAAA?" Kedua bola mata Jin membulat dengan sempurna. Jin benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria berambut pink itu. "Kau sungguh aneh... Huftttt..." sahut Jin.

"Aku hanya bercanda, hehehe"

"Tidak lucu!"

"Aku bukan badut"

Jin kehabisan kata-kata. Ia memilih kembali terdiam, dan menatap langit mendung itu. Tiba- tiba hujan langsung turun dengan deras. Jin dan Namjoon refleks berlari mencari tempat untuk berteduh di sekitar taman itu. Kini mereka berdua tengah terduduk di halte bus dekat taman, hanya berdua.

"Whoaaaah, chuwooo... Jinjja chuwo..." Jin menggosok-gosok kedua bahunya untuk mengurangi rasa dingin yang menjalar di tubuhnya.

Namjoon membuka jaket yang dikenakannya dan memakaikannya di tubuh Jin. "Pakai saja jaketku, aku tahan dingin."

Kali ini Jin malas berdebat, jadi ia biarkan jaket Namjoon menempel di tubuhnya. Namjoon mengeluarkan sebuah buku dari tasnya, dan mulai bersenandung pelan sembari menulis beberapa kata di buku itu.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Jin.

"Membuat lagu." sahut Namjoon singkat, masih sambil menulis.

"Lagu?"

"Ya, aku suka membuat lagu."

Suka? Kata-kata itu masuk ke benak Jin. Suka membuat lagu.

"Kau suka membuat lagu?"

"Ya, sangaaat sukaaaaa" Namjoon tersenyum sangat lebar ketika mengatakan hal itu.

Dan Jin hanya bisa terdiam. Lagi-lagi kata-kata itu melintas di benaknya. Follow your dream like breaker. Namjoon menatap Jin yang sedang terdiam dengan tatapan kosong di matanya.

"Beritahu aku, aku rasa kau memang sedang dalam masalah besar, kawan" Namjoon menjentikkan jari di depan Jin. Jin terkejut dan menatap Namjoon.

Kali ini dengan anehnya, Jin tiba-tiba merasa bahwa Namjoon bisa menjadi temannya berbicara. Ia mulai memberanikan diri bertanya kepada Namjoon, "Membuat lagu, apakah itu mimpimu?"

"Ya, tentu saja! Aku menyukainya sejak kecil. Awalnya aku suka mendengar lagu-lagu yang diputar di radio, aku suka bernyanyi." Namjoon mulai bercerita bagaimana impiannya itu dimulai. "Sampai ketika aku duduk di bangku SMP, aku mulai suka membuat puisi, dan aku mulai bersenandung dengan kata-kata yang ada di puisiku. Dan itu berakhir dengan kecintaanku dalam membuat lagu."

"Bagaimana perasaanmu ketika kau sedang membuat lagu?"

"Tidak dapat kujelaskan, hanya aku yang bisa merasakan betapa bahagianya aku setiap aku membuat lagu. Bagaimana denganmu? Apa yang kau sukai?"

Jin terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalaku. "Molla..."

Namjoon terkejut dengan jawaban Jin. "Kau tidak tahu? Apa saja yang kau lakukan sepanjang hidupmu selama ini?"

"Belajar, belajar, dan belajar, hanya itu."

"HANYA ITU?"

"Ya... Ah! Bukan hanya itu, sesekali aku merenung seperti ini..."

"Merenung dan belajar? Betapa sedihnya kehidupanmu, Jin" Namjoon menepuk-nepuk bahu Jin.

"Itulah mengapa aku termenung selama 2 jam tadi. Kau tahu lagu Bangtansonyeondan yang berjudul Tomorrow? Aku mulai sering termenung sejak mendengarkan lagu itu. Follow your dream like breaker. Dream. Impian. Aku bahkan tak tahu apa impianku..."

Jin mulai menceritakan tentang kehidupannya selama ini, bagaimana awalnya hingga ia berakhr dengan julukan mahasiswa cerdas dan teladan. Bagaimana perasaannya yang selalu hampa selama ini. Bagaimana bosannya ia dengan rutinitas yang dijalaninya setiap hari, namun ia bahkan tidak menemukan cara untuk lepas dari kebosanan itu. Tanpa sadar Jin mulai bernyanyi.

"I have a long way to go but why am I running in place?
I scream out of frustration but the empty air echoes
I hope tomorrow will be different from today
I'm just wishing"

Jin berhenti bernyanyi lalu menghela nafas dalam-dalam. "Lagu itu terus terputar di benakku. Rutinitas, lingkungan, keadaan, impian, masa depan, semua terasa buram di hadapanku." sahutnya pelan, kemudian ia melanjutkan nyanyiannya.

"Follow your dream like breaker
Even if it breaks down, oh better
Follow your dream like breaker
Even if it breaks down,
don't ever run backwards, never
"

PROK PROK PROK!

Suara tepuk tangan Namjoon menghentikan nyanyian yang keluar dari mulut Jin. Jin terkejut menatap Namjoon.

"Suaramu bagus!" sahut Namjoon.

"Kau mengada-ada" Jin merasa pria berambut pink ini benar-benar aneh.

"Aku serius, suaramu bagus." Raut wajah Namjoon menunjukkan keseriusan. Wajah Jin terasa agak panas, pipinya memerah. Namjoon terkejut melihatnya. "Kau demam?" sahut Namjoon sambil memegang kening Jin. "Badanmu panas!"

Jin menampis tangan Namjoon. "Aku baik-baik saja..." Kali ini Jin yang bingung. Pipinya memerah karena terkena hujan? Atau karena pujian Namjoon tentang suaranya?

"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Namjoon.

"Ya... Uhm... Aku rasa iya..."

Hujan yang deras itu berhenti seketika. Tiba-tiba handphone di tangan Jin berdering. Ibunya yang menelpon. Jin mengangkat telepon itu. "Ibuku menyuruhku pulang," sahut Jin. Namjoon hanya mengangguk. "Aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi, entah kapan" sahut Jin.

Namjoon menarik tangan Jin, menuliskan nomor handphonenya di telapak tangan Jin. "Hubungi aku, aku yakin kau butuh teman berbicara."

Jin tercengang. "Ahh.. Uhhhh.. Oke..." sahut Jin dengan terbata-bata.

"Langsung mandi saat kau sampai rumah, minum obat flu jangan lupa."

"Oke..."

"Jangan sampai jatuh sakit, aku ingin mendengarkan nyanyianmu lagi"

Muka Jin kembali memerah. Ia langsung membalikkan badannya membelakangi Namjoon dan berlari menuju rumahnya.

-lanjut ke part 3 go goooooo-