Keran air.
Bunyi gemericiknya memenuhi segala penjuru toilet luas yang mendadak sepi. Seseorang tengah bersusah payah melakukan semuanya dengan benar tanpa kegugupan. Namun seseorang di depannya benar-benar membuat tubuhnya gemetar.
"Bisa tidak?!"
Waw,
Gema yang di timbulkan membuat ia tersentak dalam ketakutan yang luar biasa besar.
"G...go...gomennasai." Cicitan. Berbanding terbalik dengan suara baritone yang teramat sangat dalam, apalagi dalam suasana seperti ini benar-benar sangat menakutkan.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Semua bermula ketika bel istirahat berbunyi, si pendatang baru masih tetap dalam posisi, menunduk bahkan poni tebalnya sampai menutupi sepasang amnesty yang bergerak kesana kemari. Gelisah? Sudah pasti.
Bagaimana tidak? bangkunya benar-benar dikerumuni, oleh laki-laki tampan dari berbagai kelas yang berbeda. Tidak, bukan padanya. Tetapi pada seseorang yang duduk di sampingnya. Terang saja mereka tidak duduk satu meja berdua, karena di sini sebuah meja hanya cukup untuk satu orang tentunya.
Rupanya orang di sampingnya adalah orang yang terlampau populer dengan segudang teman-temannya yang teramat keren. Sejak bel berbunyi, mereka sudah melangkahkan kaki ke kelas eksekutif ini. Tujuannya sih, hanya dua pemuda berkepribadian bertolak belakang dan sekedar salam pertemuan atas teman mereka yang baru kembali ke kelasnya. Tapi kenapa mereka dengan seenak jidatnya duduk di meja Hinata?
Terang saja ia lapar, ingin makan siang. Membuka bento di atas meja lalu melahapnya dengan tenang. Bukan duduk diam dengan perasaan yang campur aduk antara gugup, kesal, dan lapar.
Pergi?
Semula opsi itu ia buang jauh-jauh. Kenapa? Karena ia orang baru yang sialnya tidak mendapat tour keliling sekolah karena hingga saat ini belum ada yang bersedia mengosongkan waktu luang untuk mengajaknya berkeliling.
Dengan tekad yang sudah ia bulatkan dan rasa lapar yang sangat sulit untuk ditahan, ia berdiri dengan dua tangan membawa makanan. Satu bento dengan kain biru dan satu lagi jus kombinasi dari beberapa buah bervitamin berwarna terang.
Sialnya..
Duak!
"Awh!"
Lalu hening.
"Waw kuning."
Suara bariton penuh ejekan itu membuat Hinata secepat kilat menengadahkan kepalanya. Matanya membulat sempurna saat itu juga. Bibirnya bergetar, terbuka menutup hendak mengucapkan sesuatu namun suaranya tak berhasil keluar.
Ia benar-benar gugup sampai kaki jenjangnya tidak sengaja terbelit dengan kaki meja besi dan membuat ia hampir jatuh kedepan andai saja tubuh gekar tak tergoyahkan itu tidak menahan badannya yang terbilang ringan.
Lihat akibatnya.
Seragam pemuda itu berwarna kuning di bagian perutnya.
Kegugupan membuat ia gelagapan. Entah apa yang ia pikirkan sampai tangan kurusnya menarik tangan kekar dengan penuh paksaan. Yang ada di pikirannya hanya satu. Toilet.
Mereka pergi diiringi sorak kawan-kawan pemuda yang kini bersungut-sungut terpaksa mengikuti langkah kakinya.
Sialnya, pemuda itu adalah si Uchiha yang sangat menyebalkan di mata Hinata.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Hyuuga Hinata & Uchiha Sasuke
Viola Del Pensiero
OOC, Typos
.
.
.
.
.
Chapter 2 : Hinata dan Hari Buruknya
"Kau tidak bisa!"
Tangannya di tepis kasar, menggantung di udara dan berusaha kembali menyentuh seragam cemerlang yang kini terlihat kumal.
"Kau bodoh!"
Hinata tidak peduli. Ia kembali membasuh sapu tangannya dengan air, bersiap mengelap seragam Uchiha yang kini sudah basah.
"Air tidak akan bisa menghapus noda seperti ini!"
Hinata diam. Berkedip innocent.
Lalu kembali pada kegiatannya.
"Kau tuli ya?!"
"Haa..."
Hinata menghembuskan napasnya pelan. Ia lapar, dan Uchiha di depannya ini menyebalkan.
"Diamlah, agar aku bisa menyelesaikan tugas ini lebih cepat."
Ia mengusap-usap noda yang sepertinya telah menempel itu.
"Benar-benar bodoh! Sudah kubilang-"
"Diam!"
Ia lapar, dan keberanian mengalahkan rasa gugup yang semula tak mampu ia tahan.
Pemuda itu terkekeh, Hinata mengangkat wajahnya, menatap pemuda yang lebih tinggi darinya dengan senyuman aneh.
"Kau benar-benar memanfaatkan kesempatan."
Hinata mengabaikannya.
"Menyeretku ke tempat seperti ini, heh?"
Hinata masih mengabaikannya.
"Oh ayolah, kau gadis yang terlalu sakit hati karena penolakanku yang tidak ingin berkenalan denganmu."
Wajahnya memerah, gadis itu membelalakkan pupilnya, bibirnya terbuka sedikit. Sisi setaniah Sasuke berdecak kegirangan, 'Kena kau gadis dungu.'
Hinata lantas melangkah mundur, menjauhkan tangannya hingga membuat sapu tangan basah itu menyentuh lantai licin. Ia membuang kontak dalam bentuk apapun dengan pemuda di hadapannya yang akan membuat ia semakin merasakan udara panas terus merambat di pipinya.
Ia merasa bodoh atas semua tindak-tanduk tanpa pikir panjangnya.
"J...jangan me...mendekat!"
"Ho?"
Suara baritone itu mengalun, membuat Hinata merinding dan bersyukur di saat yang bersamaan ketika suaranya mampu menahan laju langkah lebar pemuda bergaya rambut emo yang sangat norak di mata Hinata.
"Mana dirimu yang berani membentakku?"
Dengan wajah heran yang terkesan jelas bahwa itu sangat dibuat-buat, membuat Hinata merasa sangat muak.
Sasuke kembali melangkah maju.
"Diamlah Usagi-chan, jangan munafik begitu."
Hinata sungguh-sungguh merasa menyesal.
Oh Kami-sama, setelah perlakuan tidak menyenangkan yang ia terima di pagi hari yang ia tata sedemikian rupa, agar ia tidak terus terkungkung dalam pemikiran negatif yang selalu menunggunya. Kini ia harus kembali menata sisa-sisa semangat yang hampir serupa abu ketika Tuan Superior Uchiha Sasuke kembali menjeratnya dengan makian tanpa alasan sebelum Naruto kembali dengan sebuah kursi yang dibawa oleh seorang pesuruh berusia tua.
Lalu kini, ia harus terjebak berdua karena kebodohannya yang seolah menggali lubang kematian sebelum tiba waktunya.
"Jadi..." Pemuda itu menyeringai, "Aku harus melakuka apa?"
"J...jangan mende...dekat!"
"Begitu? Padahal kau yang menyeretku sampai di sini."
Pemuda itu memelankan langkahnya, mendramatisir semuanya.
"T...tidak, a...aku mohon."
Andai bukan tembok berkeramik putih yang menyentuh punggung berlapis seragam musim semi yang membuat ia terlihat seksi, mungkin ia tidak akan sepanik ini.
"Hm?"
Pemuda itu menaikkan alisnya. Jaraknya membuat Hinata membulatkan matanya. Sungguh rasa laparnya entah menguap kemana sehingga keberaniannya nyaris tidak ada.
"Tidak usah memohon."
Suara rendah yang begitu berat, telunjuk itu mengusap rahang Hinata yang gemetar.
Ia sangat ketakutan.
Ia pikir inilah saat yang tepat.
"Jadi sayang..."
Oh kesan bad boy yang bisa membuat gadis lain menjerit, meluluhkan akal sehatnya, membuat strategi mendadak yang ia bangun tiba-tiba lenyap. Tidak ia ingat.
"Apakah aku harus..."
Tangan itu menuruni leher Hinata yang mulus, ia merinding karena dua hal, malu dan takut.
"Membuka ba..."
Inilah saat yang tepat sebelum kata-kata kotor yang tidak sesuai norma didengarnya di hari kedua.
"KYAAAA..."
Ia tidak peduli jika harus berteriak di depan wajah orang lain. Sopan santun yang ia junjung tinggi kini sudah tak dipikirkannya lagi. Yang terpenting sekarang jiwa dan kewarasannya harus segera diselamatkan sebelum acara pelecehan ini berlanjut ke tahap yang lebih menjijikan.
Ia mampu mendengar tetesan air.
Saat ia berteriak ia menunduk sambil menutup mata. Saat ia selesai ia membuka mata dan menatap uwabaki milik pemuda yang nyaris bersentuhan dengan uwabaki miliknya.
Semuanya benar-benar sia-sia.
Terlebih kini pandangannya tidak mampu menatap hal lain selain sepasang batu sewarna jelaga yang menatapnya tidak suka.
Sebelum suara dan kesadarannya kembali pasca teriakkan yang sama sekali tidak berguna apa-apa membuat ia semakin putus asa.
Terlebih tangan kekar itu mencengkram pergelangan tangannya. Oh tidak,
Semua terasa terjadi begitu saja ketika langkahnya terseret paksa keluar dari kamar mandi dan berjalan mengimbangi langkah lebar di lorong yang sunyi. Kini ia bertanya, kapan bel tanda masuk berbunyi?
Berbagai opsi terlahir alami dalam pikirannya yang kini semrawut. Pikirannya terus melangkah pada berbagai kemungkinan yang akan segera terjadi.
Hal yang pasti dan ia tahu pasti saat ini adalah kehadiran Uchiha yang tengah dipenuhi aura kemarahan yang benar-benar mengerikan.
Salah satu opsi membuat ia menerka, apakah setelah ini ia tidak akan baik-baik saja? Apakah tadi terakhir kali baginya untuk mampu berdiri di bawah sinar matahari yang seolah abadi?
Ia tidak mengenal secara jeli, namun keyakinannya memaksa ia untuk tahu dengan pasti bahwa Uchiha Sasuke yang tengah dalam kemarahan memunculkan segala kemungkinan buruk akan segera terjadi.
Kami-sama pasti akan melindungi.
Lalu langkahnya terhenti.
Di depan sebuah pintu yang menjadi satu-satunya pintu yang sangat ia kenali.
Oh persepsi buruknya sama sekali tidak terbukti.
"BRAKK."
Pintu yang terbuka tanpa perasaan, membuat kesadarannya kembali setelah bermain-main dalam khayalan yang memperburuk citra Uchiha di matanya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Pertanyaan bernada kebencian yang ia dengar, juga tatapan dengan berbagai ekspresi yang dilayangkan teman-temannya membuat Hinata berada dalam keadaan tertekan.
Ia ingin melayangkan jawaban, tetapi kehadiran Uchiha yang terus memegang pergelangan tangannya membuat ia kehilangan keberanian.
"Jawab aku!"
Setelah Hinata mengangkat wajahnya, ia bergidik. Ternyata wajah orang yang melayangkan pertanyaan tadi lebih mengerikan dari pada pertanyaan bernada kebencian yang ia dengar.
"K...kami..."
Oh ayolah suara, berkompromilah dalam hal ini.
"Toilet."
Seseorang yang berdiri di sampinnya bersuara ketika semua perhatian masih di layangkan pada mereka berdua.
"Apa?"
Ibiki-sensei tampak tidak puas dengan jawaban Sasuke yang terkesan asal.
"Kami terkunci di toilet..." Jawabnya malas, "...Berdua." Imbuhnya.
Hinata melotot. Dengan gamblangnya Sasuke memaparkan kejadian yang Hinata anggap sebagai aib?
Saat itulah ia merasa dikuliti. Jangan lupakan eksistensi makhluk hobby dandan bernama perempuan di kelas ini yang begitu banyak, dan Hinata memastikan hampir semuanya mendambakan dan mengagungkan sang Idola. Sebut mereka fans girls, dan laki-laki yang berdiri di sampingnya, berada di dekatnya, memegang pergelangan tangannya, adalah objek dari semua keributan yang sering kali ditimbulkanoleh para fans yang mungkin Hinata menganggap mereka sudah hampir kehilangan kewarasan jika itu menyangkut Sasuke Uchiha.
Sasuke yang melepaskan genggamannya membuat Hinata mengangkat kepala dengan cepat. Ia bahkan lupa tengah berdiri di depan kelas. Ekspresi dan bahasa tubuhnya seolah mengatakan ketidakrelaan yang Hinata layangkan ketika Uchiha perlahan menjauhi dirinya yang kini melangkah menuju kursi di samping Tuan Berisik Naruto Namikaze. Itulah yang para fansnya yakini, sehingga Hinata kembali menatap uwabaki.
"Uchiha..."
Geraman penuh penekanan,
"Hyuuga,"
Juga ekspresi gurunya yang mengeras ditambah aura gelap yang mengguar semakin pekat membuat ia seakan tidak kuasa untuk hanya mengangkat kepalanya.
Oh Tuhan, sepertinya hari-harinya akan semakin sulit saja.
.
.
.
.
.
.
.
Ia merasakan keringat yang membasahi pelipisnya. Jam di pergelangan tangan kirinya menjadi hal yang semakin menarik diantara langkah menggema di lorong yang sudah sepi.
Pukul Lima.
Lima menit yang lalu ia baru saja terlepas dari jeratan kedisiplinan atau orang-orang lebih sering menyebutnya sebagai 'hukuman' yang di berikan Ibiki-sensei.
Ia mengeluh, mengerjakan hal yang bukan menjadi tugasnya adalah hal yang sulit. Terlebih tugas yang diembankan berdua hanya ia saja yang bekerja.
Terlepas dari jeratan Ibiki yang super disiplin memang sulit. Setelah bel pulang ia di tahan dengan ceramah panjang, dilanjut dengan tugas tak masuk akal yang harus mereka 'berdua' kerjakan. Namun sayang, si biang pembuat keonaran tidak ikut ambil bagian.
Di sinilah Hinata mulai mengerti, betapa Sasuke Uchiha bukan orang yang baik untuk didekati.
Tidak ada pilihan baginya selain lebih tekun dan cepat bekerja dalam menata arsip yang super banyak dan berantakan. Ia ingin segera pulang, lalu makan malam. Ia bahkan lupa tidak sempat memakan bekal yang ia bawa.
Lalu semua berakhir, Hinata merasa lega.
Di lorong yang sepi. Yang dindingnya dipenuhi kaca besar dengan sekat kayu tipis, ia melangkah dengan mata menyipit kala kilauan senja menyeruak masuk tanpa ampun menerpanya.
Ia terhenti di sebuah jalan menuju pintu keluar yang besar, di setiap sisinya di penuhi oleh loker-loker yang menjulang. Ia hendak mengganti uwabakinya dengan sepatu yang ia kenakan dari rumah. Memutar kunci sebelum membukanya, pada saat yang bersamaan ia menyaksikan puluhan sampah pelastik keluar secara cepat. Jangan lupakan juga beberapa kertas yang kemudian ia pungut salah satu.
Surat berisi umpatan dengan huruf kapital.
Ia menghembuskan napas pelan. Perkiraannya terbukti akurat. Dalam waktu dekat.
'Selamat datang hari-hari merepotkan.'
Ia membereskan beberapa sampah plastik juga kertas yang berserakan di lantai. Ia merasa bahwa ini tidak akan mudah.
Di hari kedua banyak hal terjadi yang tidak bisa ia antisipasi. memikirkan itu semua membuat ia merasa frustasi.
"Jadi..."
Ada langkah kaki yang perlahan mendekati.
"Dia orangnya?"
Dua orang.
"Apa kau bercanda?" Suara lain yang berbeda menimpali dengan nada tidak suka.
Sebentar lagi.
"Haha..."
Mereka tertawa. Itu terdengar seperti kekehan.
Hinata beranjak, dengan sepasang tangan sibuk dengan sampah-sampah kering yang membuat ia kehilangan waktu pulang cepat.
Hinata tidak ingat.
Rasanya seperti kecepatan kilat ketika dengan sekali dorongan, ia yang tanpa pertahanan menubruk loker yang baru saja ia buka.
"Siapa kau?"
Disusul dengan sampah yang susah payah ia bereskan kini kembali berserakan.
Hinata tidak mengerti. Harusnya pertanyaan seperti itu ia yang berikan. Bukan segerombol orang yang tidak ia kenal tiba-tiba menghampirinya.
"Bisa bicara tidak?"
Ada yang memainkan rambutnya.
"S...siapa kalian?" Ia membuka suara setelah bisu cukup lama.
Lalu orang yang lain menghampiri, "Kami adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan hati Uchiha Sasuke."
Apa?
"Jadi Hyuuga..,"
Namanya akan segera terkenal sebentar lagi.
"Kau pikir siapa dirimu?!" Yang berambut pirang menusuk dadanya dengan telunjuk.
Fans gilrs, eh?
"Beraninya kau!" Yang berkulit putih halus menarik baju bagian depannya. Lalu menghempaskannya. Menubruk loker diakhiri bunyi keras dan erangan tertahan. Rasanya pasti menyakitkan.
"Kau dengan beraninya menyeret Uchiha-sama ke toilet?!"
Nadanya meninggi, ia berbicara dengan penuh kebencian di depan muka Hinata, merasa paling benar. "Memangnya kau pikir siapa dirimu?!" Bentaknya.
Hinata ingin menyangkalnya, namun sesuatu dalam dirinya memaksa ia untuk diam. Bagaimanapun adu mulut tidak akan menyelesaikan apapun. Terlebih salah satu pihak telah diliputi amarah sampai ke ubun-ubun.
"Jalang!"
Satu-satunya dari mereka yang memakai kacamata tengah melipat tangan di depan dada. Berjalan dengan gaya anggun. Dari tadi ia lebih banyak diam. Namun, rasa-rasanya wanita inilah yang paling menakutkan.
"Hyuuga..."
Satu jambakan membuat ia yang semula menunduk, menatap lurus pada manik matanya yang berwarna segar. Merah.
"Siapapun yang mendekati Uchiha-sama, akan menghadapi kami. Tidak ada yang berhak. Tidak." Ia mendesis. Jambakannya semakin mengerat.
Hinata tidak berani menatap mata mereka. Terlebih posisinya yang sangat tidak menguntungkan sekarang ini.
"Kecuali satu, "
Tangan kurus itu berpindah pada dagu.
"Ya hanya satu." Memaksa manik mutiara yang terus saja melarikan pandangan darinya, menatap kedalam matanya. Mengorek setiap hal yang ia pampang di sana. Terutama kebencian.
"Hanya Haruno Sakura."
Siapapun dia pasti punya tempat tersendiri di hati mereka. Terang saja. Hinata tidak perlu tau akan eksistensinya.
Setelah itu Hinata lebih banyak diam. Merasakan rasa sakit pada tubuhnya yang mereka berikan sebagai 'tanda perpisahan'. Sekujur tubuhnya ngilu. Terlebih, ia tidak memiliki kawan untuk mengeluh.
Dengan sisa tenaga dan tubuh yang dibanjiri peluh, ia bangkit. Memunguti kembali sampah itu sebelum menyeret langkahnya pada tempat sampah di sudut loker yang jauhnya tidak seberapa.
Sejenak ia berdiri mematung, ini akan jauh lebih sulit dari perkiraannya. Apapun itu, ia berani bertaruh bahwa setiap rintangan tak akan mampu merobohkan tekad kuat yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun.
Ia refleks mengalihkan pandangan ketika dirasakan ada eksistensi lain di sana selain dirinya. Takut-takut kalau langkah terburu-buru yang perlahan mendekat itu adalah segerombol orang yang akan menganiayanya lagi.
Hinata melangkah agak terburu-buru.
Ia menajamkan pendengarannya. Hanya satu, ya satu. Tidak salah lagi, tapi tak ada salahnya mengantisipasi dengan segera pergi, bukan begitu?
Di barisan ketiga rentetan loker dari tempat sampah tadi langkahnya resmi terhenti. Bukan apa-apa, hanya saja tubuhnya nyaris bertubrukan dengan penghuni lain disana.
Deg.
Ia lekas menunduk. Tubuhnya bergetar, ia merasa tidak perlu jika kejadian sama seperti beberapa waktu lalu terulang.
"Gomen,"
Suara lembut khas perempuan, disertai bungkukan badan.
Hinata mengangkat kepalanya perlahan. Gadis ini...
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya dengan nada khawatir.
Siapa dia?
"A...ah! ti...tidak."
Keduanya saling melemparkan senyuman. Di balik semua itu Hinata mengagumi, betapa cantiknya gadis di hadapannya ini. Tubuh ramping dengan balutan cardigan berwarna hijau sewarna matanya yang memancarkan kebaikan. Juga rambut sebahu berwarna merah muda. Kesan pertama yang Hinata tangkap saat itu adalah, gadis ini mengingatkannga pada musim yang tengah ia lewati.
Hinata yang memulai, membungkuk hormat sebagai tanda perpisahan yang mendapat balasan hangat dari gadis itu.
Baru beberapa langkah, Hinata dapat mendengar gadis itu berseru.
"Gomen!"
Lokernya ada di barisan ke empat, jadi tidak perlu waktu banyak baginya untuk segera sampai.
"Kau lama sekali..."
Ia membuka lokernya lagi, belum sempat mengganti uwabaki karena kegiatan tadi. Setelah suara itu, kegiatannya terhenti.
Lokernya menjadi sekat, anatara ia dan gadis yang hampir menubruknya tadi, juga gadis sama yang sedang berbicara dengan orang yang mungkin ia kenali.
"Kau tidak marah 'kan, Sasuke-kun?"
Hinata memutar kuncinya dengan gerakan pelan. Sangat pelan. Bukan ingin menguping pembicaraannya lebih detail, hanya saja ia merasakan lemas yang tak mampu ia lawan.
"Hn."
Setelah selesai, Hinata berjalan gontai mendekati pintu keluar saat sepasang sejoli itu melakukan hal yang sama, terbukti dengan langkah berisik mereka yang beraturan. Hinata melakukan itu hanya untuk memastikan.
Setelah tidak ada lagi loker di sampingnya yang bisa diraba dengan telunjuknya. Saat itulah gadis sama yang ia temui berjalan beriringan dengan pemuda yang ia kenali.
"Apa kau sudah lama?"
Berjalan menjauh seolah Hinata tidak berada di situ.
"Satu jam."
Jadi lokernya dengan pemuda pembuat onar itu ada di rak yang yang sama? Hanya posisinya saja yang berbeda? Hinata di bagian keempat dan laki-laki itu di bagian ketiga? Saling membelakangi?
Kalau begitu, pasti sangat jelas terdengar saat tubuhnya dibenturkan berkali-kali menubruk loker, bukan?
Pertanyaan-pertanyaan yang mereka berikan, terlebih dilayangkan dengan setengah teriakkan, pasti mampu terdengar oleh pria itu jikalau memang benar ia berada di sana dari satu jam yang lalu? Lalu kenapa? Kenapa Sasuke Uchiha tidak membantu?
Memangnya akibat ulah siapa Hinata menjadi korban bully seperti itu?
Selama Hinata berkutat menjalankan hukuman dengan porsi dua orang dengan penuh perjuangan sedangkan orang yang menjadi biang atas segalanya hanya berdiri santai, di lokernya menunggu kehadiran gadis energik berambut terang?
Bibirnya terbuka sedikit, tangan kirinya menutup wajahnya dengan mata terpejam. Ia bukan gadis yang kuat. Ia tidak akan pernah membiarkan emosinya mengambil alih, namun tubuhnya terlalu lemah untuk menahan segalanya.
Bayangannya semakin memanjang, sekolah terlihat suram kala senja seperti ini. Mungkin hanya ia dan segelintir orang saja yang masih sudi menapakan kaki di sana. Dari pintu keluar berdaun dua, terbuat dari kaca yang sangat besar hingga membuat akses warna jingga seolah menerpa wajahnya penuh cahaya.
Sementara fenomena indah yang terlupakan matanya, ia hanya bisa menyalurkan segala bebannya di hari ini lewat tangisan.
.
.
.
.
.
.
.
to be continued
.
.
.
nana chan : terimakasih banyak, ini sudah dilanjut. Enjoy
lovely sasuhina : Semoga tanya kamu terjawab di chapter-chapter yang akan datang. Thanks.
Guest : Familiar? Jika yang dimaksud familiar di sini kamu pernah temukan cerita nyaris serupa, percayalah ini benar-benar ide original abal dari saya. Thanks.
.
A/N : Bukan cerita yang akan selesai dalam waktu sebentar. Mungkin. Dunia baru saya sangat menyibukkan. Semoga kalian mengerti. Saya sangat menyayangi para reader, terimakasih untuk yang sudah membaca, follow, dan fav.
.
.
aZhuraaaa, 22 Juni 2016.
