Previous chapter...
"Kami hanya berpacaran, yah. Bukan akan menikah besok. Ayah harus temui dulu orangnya, baru menyimpulkan suka atau tidak suka," kata Baekhyun.
"Sekali tidak, tetap tidak!"
Dengan kalimat terakhir itu, ayahnya berlalu. Dengan langkah besar dan cepat, pria paruh baya itu meninggalkan Baekhyun menuju mobilnya yang sudah terparkir di pelataran rumah. Tak berapa lama, mobil itu sudah meninggalkan kediaman keluarga Byun.
Saat Baekhyun berlari keluar hendak menyusul sang ayah, mobil itu sudah tidak nampak di penglihatannya. Dan yang membuatnya sangat terkejut, dia menemukan sosok Sehun tergeletak di depan gerbang rumahnya—dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Park Sehun!" teriak Baekhyun. Dia secepat kilat berlari ke arah pintu gerbang, menyongsong tubuh Sehun yang tergeletak lemah tak berdaya.
Segala pemikiran buruk berkecamuk di kepalanya. Apa mungkin ayahnya bertemu dengan Sehun dan mendamprat pria ini? Tapi tidak ada luka apapun di tubuh Sehun. Dia juga tidak mungkin tertabrak atau terserempat kendaraan.
"Sehun, sadarlah! Jebal... Apa yang terjadi padamu? Hiks..."
.
.
.
IF I COULD CHOOSE...
Chapter 2
Cast :
Baekhyun, Chanyeol, Sehun EXO (pairing CHANBAEK dan SEBAEK)
Genre :
Romance, Hurt, Sad
Rate :
T/ M / Gender Switch (GS)
FF ini terinspirasi dari sebuah cerita yang pernah aku tonton dari tivi (lupa judulnya *mian*)
Cerita dan alurnya serta dialognya milikku.
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
Sehun sengaja menolak tawaran Chanyeol untuk mengantarkannya hingga tepat di depan rumah Byun Baekhyun. Dia lebih memilih naik taksi. Terkadang Sehun merasa sangat sebal pada ibu dan kakaknya yang overprotektif. Demi Tuhan, Sehun sudah dua puluh lima tahun! Apakah ke mana-mana dia masih harus dibuntuti kakak dan ibunya?
Sehun adalah pria dewasa meski keadaan fisiknya lemah bila dibandingkan dengan pria-pria lain seumurannya. Tapi kelemahannya itu tidak bisa dijadikan alasan bagi ibu dan kakaknya untuk mengekang Sehun. Bahkan cenderung mengurungnya di rumah.
Sampai di depan rumah Baekhyun untuk pertama kalinya, Sehun tidak bisa memungkiri bahwa jantungnya berdegup sangat kencang. Seolah hendak melompat dari sangkarnya.
"Tenanglah, Park Sehun..." Ia menarik napas. "Kalau kau panik, sesak napasmu bisa kambuh."
Baru saja dia akan menekan bel di pintu gerbang rumah Baekhyun, pintu itu sudah secara otomatis terbuka. Sehun yang awalnya sedikit heran hanya mengedikkan bahu. Mungkin Baekhyun tahu kalau dirinya sudah datang, pikirnya. Namun dugaannya salah ketika sebuah mobil mercedes hitam melintas dan berhenti tepat di sampingnya yang tengah berdiri.
"Siapa kau?" tanya pria paruh baya yang mengemudikan mobil itu. Dari wajahnya yang sedikit mirip dengan Baekhyun, Sehun bisa menebak bahwa pria ini adalah ayah Baekhyun. Tapi...mau pergi ke mana ayah Baekhyun ini? Bukankah mereka akan bertemu hari ini?
"Perkenalkan, saya Park Sehun. Saya teman Baekhyun," Sehun memperkenalkan diri dengan sopan.
"Ah...kau," gumam tuan Byun, memandang Sehun dengan tatapan tidak suka. "Baekhyun tidak ada di rumah. Sebaiknya kau pulang."
"Baekhyun tidak ada di rumah? Tapi saya sudah membuat janji dengannya akan bertemu di sini."
"Sudah kubilang Baekhyun tidak ada di rumah! Baekhyun tidak bisa ditemui!" bentak tuan Byun yang membuat Sehun terkejut.
"M-maafkan saya, tuan. Tapi saya—"
"Sekarang, tinggalkan rumahku!"
Kaca jendela mobil tertutup dengan cepat dan mobil mercedes hitam itu berlalu meninggalkan kepulan asap yang membuat udara kotor. Sehun yang masih berdiri mematung di situ mau tak mau menghisap asap tersebut. Berbekal keterkejutan karena penyambutan 'kurang ramah' ayah Baekhyun dan asap knalpot yang mulai memenuhi paru-parunya, Sehun mulai terbatuk.
Dan betapa paniknya Sehun, ketika dia merasakan dadanya sesak. Dia kembali mengalami kesulitan bernapas. Lehernya seperti tercekik. Setiap helaan napas yang dia lakukan terasa begitu menyakitkan. Dia mulai mencari sesuatu untuk berpegangan dan menemukan besi pagar sebagai tumpuan. Namun sesaknya semakin parah. Seperti kematian sudah berada di pelupuk matanya.
Sehun mulai lemas dan menyerah dengan paru-paru sialannya. Dia mulai kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Penglihatannya mulai mengabur. Semakin mengabur dan mengabur. Hingga segalanya menjadi gelap.
.
.
.
Dengan panik Baekhyun berlari bersama perawat lainnya, ikut serta mendorong blangkar yang membawa tubuh Sehun yang tak sadarkan diri.
Ya Tuhan... selamatkan Sehun, batin Baekhyun. Ini salahku. Kalau mau menghukum, hukumlah aku...
Air mata sudah tak terbendung lagi. Wajah Sehun yang tak menunjukkan warna apapun selain pucat benar-benar membuat hati Baekhyun teriris. Dalam satu bulan ini Baekhyun sudah banyak melihat berbagai kondisi pasien. Dari mulai korban tabrakan, pembunuhan, korban perkosaan, dan lain-lain yang melibatkan banyak darah dan tubuh yang terluka di sana sini, tapi baru kali ini dia merasa dunianya akan kiamat ketika melihat Sehun tergeletak tak sadarkan diri.
Setelah mengantar Sehun hingga ke pintu ICU, perawat lain segera menutup pintu rapat-rapat. Ingin sekali Baekhyun berteriak 'kenapa aku tidak boleh masuk? Aku juga seorang perawat' tapi dia sudah lelah. Tenaganya terkuras habis oleh tangisan dan keterkejutan. Jadi Baekhyun hanya bisa bersandar di dinding luar pintu ICU sambil berdoa dan terus berdoa.
"Apa yang harus kulakukan? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Sehun?" isaknya.
Lama dia termenung dalam lumpur rasa bersalah, hingga dia teringat sesuatu. Dia belum menghubungi keluarga Sehun. Ah, untung saja dia sempat mengambil ponsel Sehun tadi. Baekhyun mulai membuka daftar kontak di ponsel-nya dan langsung menemukan nama 'Chanyeol hyung' di daftar paling atas.
Dan tanpa mengulur waktu lagi Baekhyun segera menghubungi Chanyeol.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Ini saya, Chanyeol-ssi. Saya Byun Baekhyun."
"..."
"Sehun pingsan dan sekarang dia berada di ruang ICU di rumah sakit Nasional Seou—"
KLIK. Sambungan terputus. Chanyeol memutuskan sambungan telepon bahkan sebelum Baekhyun sempat menyelesaikan kalimatnya. Chanyeol pasti sedang kalang kabut saat ini.
Ah, bagaimana Baekhyun menghadapi keluarga Sehun nanti?
.
.
.
Dua puluh menit terasa begitu menyiksa bagi seorang Park Chanyeol untuk bisa sampai di rumah sakit Nasional Seoul. Jalanan begitu macet sore ini. Dan sudah tak terhitung berapa kali Chanyeol bersumpah serapah di dalam mobilnya.
Setelah sampai di rumah sakit dan bertanya pada perawat yang bertugas di mana adiknya dirawat, Chanyeol segera berlari menuju ruangan tersebut. Di sana, di depan ruangan tempat Sehun dirawat, duduk seorang gadis yang tengah tertunduk sedih.
Tentu saja Chanyeol mengenali sosok itu. Dia langsung menghampiri Baekhyun dan menarik pergelangan tangan gadis itu hingga Baekhyun tersentak kaget dan berdiri. Kemudian Baekhyun dipertemukan dengan mata penuh amarah milik Chanyeol.
"Apa yang sudah kau lakukan pada adikku?" geramnya.
Mata basah dan merah milik Baekhyun menggelenyar ketakutan. Dia tidak tahu kalau kakak Sehun bisa seseram ini. Kesan ramah dan sopan yang diberikannya dulu saat menawarkan tumpangan pada Baekhyun hilang sudah, berganti menjadi monster yang setiap saat siap menerkamnya hidup-hidup. "A-aku..."
"Kau tahu betul kalau adikku lemah. Dan kau...gadis sepertimu...sudah memanfaatkan kelemahannya! Sudah puas kau bermain-main dengan adikku?"
"Apa maksudmu?" tanya Baekhyun dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Lantas kenapa adikku bisa jadi begini?!" bentak Chanyeol.
"M-maafkan aku, Chanyeol-ssi. Aku juga tidak tahu kenapa Sehun bisa jadi begini. Aku menemukannya pingsan di depan gerbang rumahku," kata Baekhyun jujur.
Chanyeol menatap mata Baekhyun, mencari setitik kebohongan di mata itu. Namun nihil. Sepertinya memang gadis Byun ini berkata jujur. Chanyeol segera melepaskan cengkramannya dari lengan Baekhyun. Membuat gadis itu meringis kesakitan memegangi tangannya.
Baekhyun menyusut airmatanya dengan punggung tangan ketika Chanyeol memalingkan wajahnya dan melihat dari jendela di daun pintu yang menampilkan sosok Sehun yang tengah berbaring lemah dengan alat bantu pernapasan di mulutnya.
Chanyeol teringat percakapannya tadi dengan ibunya di rumah. Sesaat setelah Sehun meninggalkan rumahnya menuju rumah Baekhyun.
"Bu, apa ibu tidak mencium sesuatu yang janggal dari Sehun?"
"Hmm? Sesuatu yang janggal? Tidak. Memangnya kenapa, nak?"
"Sehun bilang dia berkencan dengan gadis perawat itu."
"Maksudmu...Byun Baekhyun? Gadis yang menolong Sehun waktu itu?" tanya sang ibu terkejut. Tapi keterkejutan yang Chanyeol baca di wajah ibunya, adalah rasa terkejut bercampur dengan rasa senang.
"Iya bu. Gadis itu."
"Omo! Ya Tuhan! Sehun dan Byun Baekhyun berkencan? Ini berita bagus, Chanyeol-ah... Ibu senang sekali..." pekik ibunya bahagia sekaligus terharu.
Chanyeol menampakkan wajah murungnya. Kenapa ibunya malah bahagia? Bukankah ini sesuatu yang janggal? "Bu..."
"Kenapa? Tampaknya kau tidak senang, Chanyeol-ah."
"Apa ibu tidak merasa curiga, kenapa gadis itu bisa menyukai Sehun? Maksudku, dia gadis yang sangat cantik. Dia bisa mendapatkan pria yang lebih tampan dan memiliki fisik yang kuat. Kenapa dia memilih Sehun?"
Ibunya terdiam menatap Chanyeol. "Yeol... Sehun itu adikmu!"
Menyadari ucapannya sudah menyinggung sang ibu, Chanyeol segera meminta maaf. "Bukan itu maksudku, bu. Yang ingin kukatakan adalah...aku takut gadis itu hanya memanfaatkan kebaikan Sehun saja. Sehun terlalu polos dalam hal percintaan. Sedangkan gadis itu tampak sudah pernah mengencani ribuan laki-laki sebelumnya. Aku tidak mau Sehun patah hati dan sedih, bu."
"Tapi ibu pikir Baekhyun gadis yang baik. Dia juga sopan dan ramah."
"Bu... Jangan tertipu oleh penampilan luarnya. Kita belum tahu seperti apa gadis bernama Byun Baekhyun itu."
"Kenapa kau curiga sekali pada Baekhyun? "
Entahlah. Chanyeol sendiri tidak tahu jawabannya. Dia hanya merasa bahwa Baekhyun sama sekali tidak cocok dengan adiknya. Gadis itu sangat cantik. Kecantikannya begitu memperdaya dan dia takut kalau suatu hari Baekhyun mencampakkan Sehun demi pria lain yang lebih baik. Sebagai seorang kakak sudah sewajarnya dia merasa khawatir.
"Kecurigaanmu tidak beralasan, Chanyeol-ah. Nanti kapan-kapan ibu akan menyuruh Sehun mengajak Baekhyun makan malam di rumah kita. Nanti kita bisa lebih mengenalnya."
Satu jam kemudian Sehun siuman. Dan yang membuat Chanyeol kesal, kata pertama yang Sehun ucapkan ketika kesadarannya pulih adalah Baekhyun. Sehun mencari keberadaan Baekhyun. Chanyeol hanya bisa menghela napas. Pasalnya dia sudah mengusir gadis itu dan melarangnya untuk menemui Sehun lagi. Dan sekarang, malah adiknya yang merengek ingin dipertemukan dengan Baekhyun.
"Sudah, jangan mencari gadis itu. Dia tidak cocok untukmu, Sehun."
"Hyung! Pertemukan aku dengan Baekhyun! Aku ingin bertemu Baekhyun!"
"Tidak sebelum kau menjelaskan pada hyung-mu ini kenapa kau bisa tak sadarkan diri seperti tadi!" bentak Chanyeol. Astaga! Ini pertama kalinya Chanyeol membentak adiknya. "Gadis itukah yang membuatmu begini?"
"Demi Tuhan, hyung! Ini bukan kesalahan Baekhyun! Aku hanya menghirup asap knalpot dan sesak napasku langsung kambuh! Itu saja! Tidak ada hubungannya sama sekali dengan Baekhyun!" Sehun menjerit frustasi.
"Kalau begitu, beristirahatlah. Ibu bahkan tidak tahu kau di sini. Nanti malam setelah kau lebih baik, kita akan pulang."
"Tidak! Aku ingin bertemu Baekhyun dulu!"
"Baekhyun sudah pulang. Setelah mengirimmu ke sini, dia langsung pulang," Chanyeol berusaha meyakinkan adiknya. Bagian Baekhyun yang sudah pulang sih kemungkinan benar. Tapi Chanyeol lah yang mengusir Baekhyun. Padahal awalnya Baekhyun bersikeras untuk tetap tinggal hingga Sehun sadarkan diri.
Sehun ingin sekali menyangkal ucapan Chanyeol namun rasa sakit di dadanya mulai berulah lagi. Kalau dia tidak tenang, bisa jadi penyakit sialannya akan kumat lagi. Dan dia tidak mau hal itu terjadi. Sehun memutuskan untuk menuruti kata-kata Chanyeol. Dia mulai berbaring dan terlelap beberapa saat kemudian.
.
.
.
"Ini," Soohyun menyodorkan kopi yang dia beli di vending machine pada Baekhyun. "Kau kan sedang libur, kenapa masih berkeliaran di rumah sakit dengan mata sembab begitu?"
Baekhyun menyeruput kopinya pelan, kemudian menghela napas. "Sehun masuk rumah sakit. Sesak napasnya kambuh lagi."
"Dan kau menangisinya sampai matamu bengkak begini? Ckckck... Sudah kubilang kalau kau mencintai Sehun, Baekhyun-ah. Kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu."
"Entahlah. Aku tidak mau memikirkan tentang perasaanku saat ini. Yang paling penting sekarang adalah kesehatan Sehun."
"Eh ngomong-ngomong, pria tampan yang menunggui Sehun di kamar rawatnya itu siapa?" tanya Soohyun yang membuat Baekhyun menoleh padanya.
"Dia Park Chanyeol. Kakak Sehun."
"Astaga! Dunia ini benar-benar tidak adil ya. Mana boleh kakak beradik dua-duanya punya tampang rupawan begitu! Kau sudah lihat dua adik laki-lakiku yang keduanya seperti monyet?" gerutu Soohyun yang sukses membuat Baekhyun tergelak.
"Adikmu tidak mirip monyet. Mereka lucu seperti kelinci."
"Tetap saja binatang," gumam Soohyun. "Eh, tapi aku senang kau sudah tersenyum sekarang. Jangan bersedih, Baekhyun-ah. Aku yakin Sehun baik-baik saja."
"Terima kasih sudah menghiburku, Soohyun-ah. Kau memang satu-satunya teman baikku."
Obrolan Baekhyun dan Soohyun harus terhenti ketika mata Baekhyun sekelebat menangkap sosok Chanyeol yang berdiri di depan vending machine dan sedang memencet salah satu tombolnya dengan gusar berulang kali namun minuman yang dia inginkan tidak keluar juga.
Baekhyun menghampiri Chanyeol dan berdiri di sampingnya. Tentu saja Chanyeol terkejut dengan keberadaan gadis itu. Dia pikir gadis ini sudah pergi dari beberapa jam yang lalu sesaat setelah Chanyeol mengusirnya. "Mesin ini memang sedikit error. Kau harus menendang bagian sampingnya dua kali seperti ini."
DUK DUK
KLONTANG
"Ini," Baekhyun menyodorkan minuman yang ternyata orange juice itu pada Chanyeol.
"Thanks," gumam Chanyeol, sangat pelan namun masih bisa ditangkap oleh indra pendengar Baekhyun.
"Apa Sehun sudah siuman?"
"Baru saja. Dan kini dia sudah tidur lagi," sahut Chanyeol sambil menenggak minumannya. "Kenapa kau masih di sini? Aku sudah menyuruhmu pergi tadi."
"Aku? Aku...aku hanya ingin memastikan Sehun baik-baik saja," sahutnya.
"Sehun akan pulang malam ini juga. Jangan harap kau bisa menemuinya. Aku tidak akan segan-segan melemparmu ke luar jendela kalau kau berani melakukannya," ancam Chanyeol.
"Aku lega kalau Sehun sudah sadar. Setelah ini aku akan pulang."
Dan benar saja, Baekhyun segera meninggalkan Chanyeol yang sedang menatapnya dengan bingung. Gadis itu, tanpa menoleh lagi ke belakang, terus berjalan hingga sosoknya tak dapat tertangkap lagi oleh indra penglihatan milik Chanyeol.
.
.
.
"Dari mana saja kau?" sapaan marah ayahnya menyambut kedatangan Baekhyun di rumahnya.
Baekhyun berhenti tepat di depan ayahnya. Kalau biasanya Baekhyun akan bergelayut manja di lengan ayahnya, kali ini tidak. Ayahnya sudah keterlaluan dan tidak ada toleransi lagi baginya. "Apa yang ayah lakukan pada Sehun?"
Ayahnya mengerutkan dahi dengan bingung.
"Jawab aku, yah. Apa yang sudah ayah lakukan pada Sehun sampai-sampai dia pingsan di depan gerbang rumah kita?" kali ini Baekhyun meninggikan nada bicaranya.
"Cih! Bocah ingusan itu pingsan?" sang ayah tertawa mengejek. "Baru kugertak saja sudah begitu. Mentalnya benar-benar lemah, bukan hanya fisiknya saja."
"Ayah! Sehun bisa saja mati kalau aku tidak segera menemukannya dan cepat-cepat membawanya ke rumah sakit! Kenapa ayah kejam sekali? Ayah tidak punya hati!"
"Justru ayah melakukan ini demi kebaikanmu, Byun Baekhyun! Ayah tidak mau kau menjalin hubungan dengan pria yang salah."
"Pria yang salah? Lalu seperti apa pria yang menurut ayah benar itu? Seperti Kim Joonmyun? Seorang dokter muda yang tampan yang ternyata dibalik senyum malaikatnya itu dia adalah seorang penjahat kelamin?"
"Byun Baekhyun!" teriak ayahnya geram.
"Ayah dulu ingin menjodohkanku dengan Kim Joonmyun. Ayah bilang dia pria baik dan terpelajar. Dia seorang dokter yang hebat. Tapi kelakuan bejatnya itu...kenapa luput sama sekali dari penglihatan ayah? Waktu itu kalau saja ayah tidak segera datang, dia pasti sudah memperkosaku!"
"Yak, Byun Baekhyun!"
"Karena ayah selalu menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Hanya dari pakaian yang membungkusnya saja. Hanya dari kedudukan yang dimilikinya saja. Tapi ayah tidak pernah melihat seseorang jauh ke lubuk hatinya."
"Masuk ke kamarmu!"
"Aku benar kan, yah?"
"Masuk ke kamarmu sekarang juga!"
"Baik, aku akan masuk ke kamarku. Tapi ayah harus memikirkan baik-baik perkataanku. Biarkan aku memilih sendiri apa yang terbaik bagiku, bukan yang terbaik menurut pendapat ayah," ujar Baekhyun pedih. "Itupun kalau ayah masih sayang padaku..."
Kemudian dia meniti tangga dan meninggalkan ayahnya terdiam di sofa ruang tengah.
.
.
.
Dengan gusar Baekhyun menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamarnya yang gelap, sama persis seperti suasana hatinya yang murung. Airmata kembali meleleh di dua sudut matanya.
Seandainya aku tidak menyuruh Sehun datang ke rumah dan menemui ayah, batin Baekhyun menyesal. Mungkin saat ini Sehun akan baik-baik saja.
"...kau...gadis sepertimu...hanya memanfaatkan kelemahannya! Sudah puas kau bermain-main dengan adikku?"
Perkataan Park Chanyeol kini mulai terngiang lagi di kepalanya. Dan Baekhyun harus mempertanyakan pada diri sendiri kenapa Chanyeol menuduh dirinya seperti itu. Selama ini Baekhyun tulus berteman dengan Sehun. Dan tidak dapat Baekhyun pungkiri bahwa dia menyukai Sehun.
Siapa yang tidak jatuh pada pesona pria tampan itu?
Sehun adalah Sehun. Dan Baekhyun menyukai Sehun apa adanya. Kenapa Chanyeol—bahkan ayahnya sendiri menentang hubungan yang bahkan belum terjalin itu?
Mungkin dia dapat mengerti alasan ayahnya menolak hubungan mereka, tapi Park Chanyeol? Dia tidak habis pikir, ke mana pria ramah yang memberinya tumpangan dulu? Kenapa kini Chanyeol sangat membencinya?
Pasti ada satu alasan.
Baekhyun yakin itu.
Tapi apa?
Mengusap airmatanya, Baekhyun membuka salah satu laci nakas dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sketsa wajahnya yang dibuat Sehun tempo hari. Dan Baekhyun baru menyadari bahwa di balik sketsa itu, ada sebuah tulisan kecil, tulisan tangan Sehun.
'Untuk Byun Baekhyun yang sudah menciptakan seribu kupu-kupu dalam diriku'
.
.
.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Sehun benar-benar membenci kakaknya. Dan bahkan ibu mereka pun mempertanyakan sikap Chanyeol yang dinilai sangat berlebihan itu.
"Aku hanya ingin melindungi Sehun. Dia adikku dan dia adalah tanggungjawabku. Aku hanya ingin dia tidak tersakiti, bu," kilah Chanyeol ketika ibunya mendatangi ruang kerja Chanyeol malam itu.
"Tapi kau terlalu keras padanya. Ibu khawatir, sudah tiga hari Sehun mengurung diri di dalam kamarnya dan menolak untuk makan."
"Dia sudah dewasa, bu. Kalau dia lapar, dia pasti keluar dari guanya itu."
"Nah, kalau Sehun sudah dewasa, biarkan dia memilih apapun yang dia inginkan. Biarkan dia bersama gadis yang dia sukai," kata ibunya yang tak pernah lelah mendebat Chanyeol untuk membela Sehun.
Chanyeol menghela napas berat. Dokumen yang harus dia periksa masih menumpuk di atas meja. Itu saja sudah hampir membuat kepalanya pecah. Kenapa harus ditambah dengan masalah Sehun yang begitu manja? "Bu, sudah berapa kali kubilang kalau gadis itu tidak cocok untuk Sehun."
"Ibu tidak mengerti di mana letak kekurangan gadis itu. Kenapa kau begitu tidak menyukainya?"
"Aku punya alasan yang tidak bisa kubagi pada ibu. Pokoknya sebisa mungkin jauhkan Sehun dari gadis itu. Dia bukan gadis terbaik untuk Sehun."
"Tapi Sehun mencintainya!"
"Sekali kukatakan tidak, jawabanku tetap sama, bu!"
Ibunya terdiam cukup lama dan itu membuat Chanyeol menengadahkan wajahnya untuk menatap sang ibu yang kini sedang melemparkan tatapan sedih bercampur kecewa. Astaga! Apakah dia sudah bertindak berlebihan dengan membentak ibunya?
"Ibu kira kau yang paling tahu keadaan Sehun, Chanyeol-ah..."
"Justru karena aku tahu, aku tidak ingin dia tersakiti."
"Baru kali ini ibu melihat Sehun begitu gigih dan bersemangat. Sejak kecil dia sudah tidak memiliki teman karena kita selalu mengekangnya. Melarangnya melakukan ini dan itu. Selama ini yang dia lakukan hanya melukis dan melukis. Dan setelah bertemu Baekhyun, Sehun seperti menemukan lagi kebahagiaannya..." ibunya berkata sambil berurai airmata. "Ibu tidak ingin merenggut kebahagiaan Sehun."
Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi? Apalagi melihat ibunya menangis. Chanyeol menghela napas, mengalah.
Demi Sehun, gumamnya dalam hati. Apapun ibu lakukan demi Sehun. Tapi tidak satu kalipun ibu pernah berpikir melakukan sesuatu demi aku!
.
.
.
Meskipun Chanyeol sudah mengizinkan Sehun menemui Baekhyun, namun adiknya itu tetap saja murung. Pasalnya, sejak kejadian itu Baekhyun seperti hilang ditelan bumi. Gadis itu sudah tidak menampakkan batang hidungnya lagi tatkala Sehun datang ke rumah sakit untuk menemuinya.
"Baekhyun-ah, bukankah itu Park Sehun?" Soohyun menepuk pundak Baekhyun yang sedang sibuk mengecek data pasien di komputernya.
"Kalau dia bertanya padamu, tolong katakan kalau aku tidak masuk hari ini," pinta Baekhyun.
"Tapi alasan yang itu sudah kukatakan padanya kemarin."
Baekhyun menghela napas. "Kalau begitu, katakan kalau aku dipindahtugaskan ke rumah sakit di luar kota."
"Kau sudah gila?" pekik Soohyun. "Ada masalah apa sih antara kau dan Sehun? Kenapa kau menghindarinya akhir-akhir ini?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang tidak ingin diganggu saja."
"Tapi, kasihan sekali si tampan itu sudah menunggumu sejak tadi siang. Dan sekarang sudah hampir jam pulang, dia masih tetap duduk di sana menunggumu."
"Biarkan saja," gumam Baekhyun. Itu yang terbaik yang diinginkan kakaknya bukan?
Hari itu, Baekhyun pulang sedikit larut. Dia harus mengikuti operasi pertamanya dan mendampingi dokter dalam melakukan pembedahan. Padahal bukan dirinya yang melakukan operasi—dia hanya membantu dokter dan menyediakan alat, tapi lelahnya luar biasa. Belum lagi kepalanya yang sedikit pusing karena mencium bau darah. Ah, padahal dia kan sudah terbiasa dengan bau-bau seperti itu.
"Aku duluan ya, Soohyun-ah," ujar Baekhyun sambil melambaikan tangannya pada satu-satunya teman sekaligus rekan kerjanya itu. Soohyun balas melambaikan tangan padanya.
Melintasi lobi utama, Baekhyun dikejutkan dengan keberadaan Sehun. Dia masih setia duduk di sana menunggunya.
Astaga!
Baekhyun melirik jam di tangannya. Sudah pukul sepuluh malam! Sehun duduk di sana dari jam dua belas tadi siang!
"Baekhyun-ah!" sapa Sehun dengan senyum tampannya seperti biasa.
Baekhyun yang tidak tahan, segera melangkah ke arah Sehun dengan jengkel. "Kau ini dungu atau apa? Kenapa sampai malam begini masih di sini?"
"A-aku menunggumu, Baekhyun-ah. Tadinya aku ingin mengajakmu makan siang tapi kelihatannya kau sibuk sekali. Jadi kuputuskan untuk menunggumu sampai pulang. Aku ingin mengantarkanmu pulang sampai rumah."
"Kakakmu tidak menyukaiku. Dia memintaku untuk tidak dekat-dekat denganmu. Dia bilang aku hanya memanfaatkanmu saja. Jadi sebaiknya kau pulang, Sehun-ah. Tidak usah temui aku lagi," ujar Baekhyun, setengah mati menahan rasa nyeri di hatinya.
"Aku tidak peduli apapun yang dikatakan Chanyeol hyung. Aku mencintaimu!"
"Kenapa kau keras kepala sekali?"
"Sudah kubilang aku mencintaimu. Ayahmu juga tidak menyukaiku, tapi aku tidak akan berhenti sampai di sini. Aku akan terus mendatangimu dan memperjuangkan perasaanku."
Memperjuangkan cinta, Baekhyun tertawa miris di dalam hatinya. Dan aku sudah menyerah hanya karena Park Chanyeol tidak menyukai keberadaanku.
Memanas mata Baekhyun mendengar penuturan Sehun. Dia benar-benar kesal pada pria bodoh ini, sekaligus merindukannya. Oh sial, batin Baekhyun. Melihat Sehun yang tetap tersenyum meskipun wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, mau tak mau hati Baekhyun luluh juga. Bagaimana bisa dirinya menyakiti pria sebaik Sehun dan membiarkannya menunggu sepanjang hari?
"Kau belum makan sejak tadi siang? Pasti kau juga belum minum obat, iya kan?" tanya Baekhyun bertubi-tubi. Airmata sudah meleleh di pipinya, tapi dia tidak peduli. "Di mana mantelmu? Apa kau tidak kedinginan?"
.
.
.
Untuk pertama kalinya, Baekhyun berkunjung ke kediaman keluarga Park. Rumah itu tak kalah luas dari rumah miliknya. Halamannya pun dipenuhi bunga-bunga yang indah dan berwarna-warni. Baekhyun menebak, pasti ibu Sehun senang sekali berkebun. Buktinya, halaman rumahnya disulap menjadi taman bunga yang indah begini.
Kalau bukan karena undangan nyonya Park untuk makan malam bersama, Baekhyun tentu malas sekali berkunjung ke rumah Sehun. Bukan apa-apa, dia hanya ingin menghindari Chanyeol—kakak Sehun yang selalu menatapnya dengan tajam dan tidak suka. Dan sampai saat ini Baekhyun tidak pernah menemukan jawaban atas alasan Chanyeol begitu membenci dirinya.
"Selamat sore, nyonya Park. Apa kabar?" sapa Baekhyun ketika ibu paruh baya itu menyambutnya dengan senyum hangat. Baekhyun membalas senyum itu dan membungkuk sopan.
"Ah, Baekhyun-ah! Senang sekali bisa bertemu lagi denganmu. Kau cantik sekali," pujinya senang.
"Anda terlalu memuji, nyonya. Anda juga sangat cantik."
"Jangan panggil aku nyonya, panggil saja aku ibu seperti Chanyeol dan Sehun... Sekarang kau sudah menjadi kekasih Sehun dan itu berarti kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami," ucapan nyonya Park yang tak ayal membuat Baekhyun tersipu.
Ah ya, kini Baekhyun dan Sehun sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Dan sedang asyik-asyiknya dimabuk cinta. Lihat saja Sehun yang tak mau beranjak jauh dari sisi Baekhyun dan terus menyunggingkan senyum bahagia. Bahkan ibunya, tidak pernah menemukan Sehun sebahagia ini. Dia benar-benar berpikir bahwa Baekhyun adalah anugerah—yang mampu merubah Sehun yang selalu murung menjadi ceria seperti ini.
"Ah...baiklah, bu," ujar Baekhyun canggung sekaligus ada gelenyar-gelenyar bahagia di hatinya.
Ya Tuhan... dia tidak pernah mengucapkan kata itu. Lidahnya belum terbiasa. IBU. Betapa bahagianya bisa memanggil seseorang dengan sebutan ibu. Karena ibu Baekhyun meninggal satu tahun setelah melahirkannya, dia jadi tidak punya kesempatan untuk memanggil seseorang dengan sebutan itu. Terlebih sejak ibunya meninggal, ayahnya tidak menikah lagi.
"Sehun-ah, daripada kau hanya berdiam saja di situ, kenapa kau tidak bawa barang belanjaan kalian ke dapur," suruh ibunya.
Sehun mengerucutkan bibirnya. Sikap manjanya memang tidak luntur. Sehun tetaplah Sehun. Baekhyun hanya memandang kekasihnya itu dengan gemas. "Ya," sahut Sehun malas.
Setelah obrolan singkat di ruang tengah, nyonya Park mengajak Baekhyun ke dapur. Baekhyun dengan senang hati membantu ibu Sehun memasak. Dan rupanya ada banyak sekali menu yang akan mereka buat untuk makan malam ini. Baekhyun yang sebenarnya kurang begitu pandai memasak hanya bisa membantu memotongkan sayuran dan menyiapkan bumbu.
"Kalau kau menikah dengan Sehun, akan kuajarkan resep-resep rahasiaku padamu," kata nyonya Park yang membuat wajah Baekhyun memanas.
Menikah...
...dengan Sehun.
Memang belum terpikirkan untuk melangkah ke jenjang lebih jauh. Apalagi hubungan mereka baru berjalan beberapa hari saja dan belum tahu batu sandungan apa yang menanti mereka kedepannya. Namun memikirkan tentang menikah dan memiliki keluarga kecil bersama Sehun, hanya memikirkan saja, sudah membuat hati Baekhyun berdebar tak karuan.
Ketika Sehun masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Hampir seluruh makanan sudah selesai dimasak, mereka hanya tinggal memindahkannya ke atas piring dan menatanya di atas meja makan.
"Baekhyun-ah, boleh ibu minta tolong padamu?"
"Oh... apa itu, bu?" tanya Baekhyun.
"Tolong antarkan makanan ini pada Chanyeol. Dia sedang sakit, jadi tidak bisa bergabung untuk makan malam bersama kita."
Mendengar nama pria itu, raut wajah Baekhyun berubah. "Sakit?"
"Ah anak itu. Dia terlalu banyak bekerja dan selalu mengabaikan kesehatan dirinya. Maklum, di usianya yang baru tiga puluh, dia sudah diangkat menjadi presiden direktur di perusahaan keluarga kami. Suamiku meninggal dua tahun yang lalu dan satu-satunya penerus adalah dirinya."
Baekhyun terdiam sebentar. Oh, jadi Chanyeol adalah tulang punggung keluarga ini. Itu sebabnya dia sangat melindungi Sehun. Dia menggantikan peran ayahnya yang sudah meninggal di rumah ini. "Baiklah, bu. Di mana letak kamar Chanyeol-ssi?"
"Ada di lantai dua. Di ujung lorong sebelah kanan."
Dengan sigap Baekhyun membawa nampan yang berisi nasi beserta lauk pauknya. Tidak lupa didampingi dengan segelas jus, air putih, dan sebutir obat. Dia menaiki tangga dengan perlahan. Sebenarnya dia enggan. Siapa yang mau bertemu dengan orang yang jelas-jelas tidak menyukaimu? Tidak kan? Tapi apa boleh buat. Chanyeol sedang sakit sekarang. Dan biasanya, orang sakit tidak akan berbahaya. Bahkan singa pun jika sedang sakit, dia akan kehilangan buasnya bukan?
Ketika kakinya sampai di depan pintu kamar berwarna coklat tua itu, Baekhyun mengulurkan tangannya untuk mengetuk. Namun karena tidak mendapat jawaban, dia akhirnya memutuskan untuk masuk. Mungkin Chanyeol sedang tidur, pikirnya.
Kamar Chanyeol cukup gelap ketika Baekhyun melangkah masuk. Dan di keremangan itu, matanya cukup jeli untuk melihat bahwa Chanyeol tidak ada di tempat tidurnya. Ke mana perginya pria itu? Tetapi setelah mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, barulah Baekhyun yakin pria itu ada di dalam sana. Dan dia bisa bernapas lega.
Terima kasih Tuhan, pikir Baekhyun. Aku tidak perlu bertemu dengannya.
Buru-buru dia menaruh nampan berisi makanan itu di atas nakas di samping tempat tidur. Dan segera berbalik kembali menuju pintu. Namun sesuatu seperti menahan langkahnya. Di sana di atas meja tulis milik Chanyeol, terpajang sebuah foto manis. Dan benda itu berhasil menarik perhatian Baekhyun.
Di foto itu ada dua orang bocah laki-laki yang sedang tersenyum bahagia. Chanyeol yang sepertinya baru duduk di kelas satu sekolah menengah, sementara Sehun masih bocah sekali. Bahkan Baekhyun bisa melihat gigi ompong Sehun yang membuat pria itu terlihat sangat menggemaskan.
Saat sedang asyik menatap foto itu, tiba-tiba seseorang menarik kasar tangannya, membuat Baekhyun mau tak mau berbalik dengan terkejut. Kemudian dia menemukan mata Chanyeol yang sedang menatapnya marah. Sama marahnya seperti tatapannya dulu saat Baekhyun mengirim Sehun ke rumah sakit untuk kedua kalinya. "Apa yang kau lakukan di dalam kamarku?" geramnya.
Baekhyun hanya mampu meneguk ludahnya kasar.
.
.
.
TBC
Yeorobunnnnnn chapter 2 is up!
Aku putusin untuk ngelanjutin ff ini karena ide sedang mengucur deras (emang lu pikir keran air?) dan karena aku lihat respon kalian bagus.
*bow*
Gimana? Di tunggu review-nya yaa...
Banyak yang nebak kalau Sehun dengerin obrolan Baekhyun dan ayahnya... ternyata oh ternyata...penyebab dia pingsan sebenarnya sepele aja. Tapi yakin deh, orang yang sesak napas nya udah akut, ngisep asep knalpot aja bisa bikin penyakitnya kumat. -_- (berdasarkan pengalaman seorang teman)
Ada yang penasaran gak sama lanjutannya?
Kalau iya, tinggalkan jejak ya... *wink*
satu atau dua kata dari kalian sangat berharga buat aku loh...
Aku mau ngucapin terima kasih atas dukungan kalian buat ff ini. Trims buat yang udah nge-review, nge-fav, dan nge-follow...
Yang belum nge-review, ayo review sekarang juga... sebelum terlambat. Hehehe...
Sampai jumpa di chapter berikutnya! Annyeong!
