Chapter 2 - Mama Nana and Papa Giotto Household

"Tas sekolah?"

"Udah."

"Espresso Reborn?"

"Udah."

"Baju maid buat jaga-jaga?"

"Udah. Emang buat apa bajunya?"

"Siapa tau Reborn mau liat kamu pake baju itu lagi~"

Pagi yang cerah. Setelah mama Elena gagal membuatku jadi budak om Reborn untuk selamanya, mama Elena punya taktik pintar. Mama Elena bikin espresso yang enak. Tapi karena aku sama mama Elena gak tau takaran enaknya om Reborn, jadi mama Elena nanya tante Luche. Kata tante Luche, espresso enak itu harus pahit banget. Akhirnya mama Elena pake tumbal papa Daemon buat nyicipin espresso. Kalo udah enak (gak enak bagi papa Daemon), pasti om Reborn ngerasa mama Elena adalah pembuat espresso terbaik dan akhirnya aku dijadikan budak espresso. Ujung-ujungnya aku jadi budak lagi.

"Ayo, Fran! Kita udah telat tau!" kak Mukuro pasti pengen cepet-cepet ketemu kak Hibari. Kalau kalian gak tau sekarang jam berapa, sekarang masih jam setengah 8. Bel masuknya jam 9. Ketauan banget pasti mau curi-curi pandang ke kak Hibari pagi-pagi.

"Iya, kakak kepala nanas."

"Oya, oya. Aku mendengar namaku diubah. Maumu apa apel!?" kata kak Mukuro sambil narik kerah bajuku yang baru dirapihin mama Elena. Tentu saja mama Elena langsung menyerang kak Mukuro dengan deathglare. "Te-terserah kamu deh mau manggil aku apa!" lalu kak Mukuro langsung berlari ke mobil dan ngumpet di bawah jok mobil.

"Dadah mama Elena..." kataku sambil melambaikan tangan. Mama Elena juga membalas lambaianku.

Aku masuk mobil dan duduk di sebelah kak Chrome yang lagi dengerin musik dari hapenya. Oh, ternyata sambil SMSan. Aku gak sengaja ngeliat nama orang tujuannya.

'Hibari-nii'

Sepertinya mereka melakukan sebuah negosiasi. Jangan-jangan suap uang ke kak Hibari biar gak ketangkep bawa hape? Eh, tapi SMP boleh bawa hape. Bujuk kak Hibari buat nerima kak Mukuro? Harusnya dari kemaren si nanas udah bahagia gak gigit aku. Eh, aku gak tau apa yang ditolak sama kak Hibari.

"Kak Chrome, emang waktu itu kak Hibari nolak apa sih dari kak Mukuro?"

"Oh, itu. Nolak makan malem barengan sama band Skylark Pineapple. Katanya Hibari-nii, acara kayak gitu gak penting, jadi Mukuro-nii sering sedih dan akhirnya mimpiin makan malem bareng Hibari-nii."

Alasan terbodoh untuk terpuruk selama itu. Kupikir kak Hibari nolak buat lanjutin kontrak bandnya. Lagipula, kok bisa-bisanya masuk ke band gak jelas kayak gitu.

"Oh ya, kak Chrome SMSan sama kak Hibari buat apa?"

"Blackmail."

Kayaknya yang nurunin sifat diem-diem berbuat jahat itu mama Elena. Kak Chrome aja sampe mau ngeblackmail kak Hibari. Hmm... Sepertinya didikan mama Elena tetep punya kekurangan.

Seperti biasa, aku dan kakak-adikku yang lain bercipika cipikian ria dengan papa Daemon. Setelah papa Daemon pergi, rambut nanas kak Chrome ilang dan kak Mukuro diseret ke kelas gara-gara masih ngambek dideathglare mama Elena. Wow, kak Hibari hari ini jaga gerbang neraka, eh, sekolah. Atau jangan-jangan mau berunding blackmail tadi? Udah ah, ngapain sih mencampuri urusan nanas.

"Kak Fran! Mammon! Selamat pagi" Ah, ini pasti adeknya kak Hibari yang sekelas sama Mammon. Namanya Fon. Mukanya mirip banget sama kakaknya. Jangan-jangan dia anak kakaknya?

"Pagi, Fon. Bayar utangmu." kata Mammon sambil nadahin tangan. Masih pagi gini langsung ditagihin utang sama Mammon? Fon, kamu punya masalah sekarang.

"Utang apa?"

"Membuatku dateng pagi cuma buat ngebersihin kelas 'kita'. Kalo itu kelas kita, kamu," sambil nunjuk Fon, "dan teman sekelas harusnya juga ngerjain! Sekarang bayar!"

Fon, kalo kamu masih mau hidup dengan uang yang kamu dapatkan dari jerih payahmu, mending kamu hapus namanya dari jejeran piket. Kalo ini dilanjutin, kamu bisa melarat cuma gara-gara piket kelas. Atau kamu nikah aja sama Mammon, pasti sejahtera.

"Mammon, aku ke kelas duluan ya." sebaiknya aku gak perlu tau kelanjutan pembicaraan mereka atau aku akan mendengar bunyi koin-koin bergelimpahan yang berpindah tangan.

Aku ngelewatin detektor logam yang ada di deket loker sepatu. Sudah pasti aku lolos sensor logam. Ngapain juga bawa benda tajam, udah ada peraturan dilarang membawa senjata tajam. Cuma senpai kurang waras yang gak mau baca peraturan. Pake bikin surat izin lagi. Oh iya, sekarang mereka gak mungkin bawa lagi, kan udah dicabut. Ha! Rasain tuh senpai bodoh!

"Ushishishi, sepertinya pagi ini kita akan ngeliat apel bodoh itu pake baju pembantu sambil bawa espresso."

"Ushesheshe, kamu bener banget, Bel."

Kalo di dunia ini ada lomba ketawa tercreepy, sekarang mereka ikutan diduel sama papa Daemon dan kak Mukuro. Mungkin Ke*o*o juga bakal ikutan. Tapi dia gak creepy sih.

"Senpai-tachi, kalian udah gak boleh bawa pisau lagi."

"Shesheshe, jadi kamu percaya ya kemaren kita ngembaliin surat izin kopian?"

"Kita belom cabut surat izin membawa senjata tajamnya, jadi hari ini kita masih bisa makan apel potong. Ushishishi!"

"Hoo, sepertinya surat izin yang kuterima kemaren emang kopian ya?" tiba-tiba om Reborn dateng pake jas lengkap dengan topi fedoranya tercinta. Tangan yang sebelah nodong senjata ke Bel.

"Ka-kami baru mau ngebalikin yang asli kok." kata Bel-senpai setengah ketakutan.

"Fran, ganti bajumu. Abis itu, dateng ke ruang kepala sekolah."

"Baju? Baju yang mana?"

"Baju maidmu tadi pagilah! Kamu bawa kan? Cepetan ganti!" Wah, mama Elena kayaknya sehati banget sama om Reborn. Tau aja om Reborn pengen ngeliat tubuh mulus, putih, nan bersih ini pake baju maid. "Oh, gak pake lama ya. Aku juga punya urusan yang lebih penting."


"Fran-san! Kok tadi aku ngeliat kamu keluar dari ruangannya kepala sekolah!? Kamu kena masalah!? Kena hukuman!? Kena skors!? Kena tembak!? Kena mmph-!" sebelum si ikan tuna ini nanya yang aneh-aneh, aku tutup mulutnya.

"Kemaren gara-gara pangeran bodoh yang palsu itu ngelempar pisau bodohnya ke aku, om Reborn hampir kena pisaunya. Tadinya aku mau dihukum jadi budaknya 3 hari, tau-taunya om Reborn ngebatalin hukumannya. Selesai." setelah aku cerita singkat, aku ngelepas tanganku yang ngebungkam mulut si tuna.

"Eh!? Kok bisa!? Ajarin dong Fran-san!" kata Tuna sambil puppy eyes.

Oh, ini dia serangan mematikan si ikan tuna. The ultimate puppy eyes level 99. Aku bingung. Kenapa si tuna yang bodoh ini gak pake senjata mematikannya buat om Reborn yang sangat lemah dengan benda yang lucu? Oh iya. Dia bodoh.

"Tuna, kamu cuma perlu mengetahui apa kesamaan kita berdua."

"Kesamaan? Hmm... Ah! Punya kakak 2!" sebenernya IQ Tuna tuh berapa sih...

"Bukan, maksudku kepribadian kita."

"Hmm... Tinggi badan?" aku bersyukur punya sebuah muka yang namanya emotionless. Kalo nggak, sekarang aku udah mojok. Kalian tau itu kalimat yang menusuk hati. Tuna itu pendek. Jadi, aku juga pendek.

"Selain itu?"

"Ngngng... Nyerah deh."

"Muka."

"Hah? Muka kita kan beda. Muka kamu kayak tante Elena, mukaku kayak mama Nana."

"Nah, kesamaan mama Elena sama tante Nana apa?"

"Mukanya... Manis?" Akhirnya si bodoh ini ngerti, "maksudnya, aku bisa pake jurus manis di depan Reborn-kaichou?"

"Iya. Oh, sebaiknya kamu juga memakai baju yang sering dipakaikan paksa oleh tante Nana."

"Maksudnya?"

"seperti ini." aku membuka lipetan baju maid yang kubawa tadi. "Cantik kan?"

Tuna ngeliat baju yang sangat berenda-renda itu sambil ngeblush. Dia kayaknya baru nyadar yang kumaksud dengan dipakaikan paksa. Tuna, kalo kamu pake ini sambil pake jurus the ultimate puppy eyes level 99, kamu bisa dapet stok transfusi darah seember dari om Reborn.

"Gak deh, makasih."

"Ayolah, Tuna. Pake aja bajunya. Terus jalan ke ruang kepala sekolah deh."

"HIIEE!?"

"Kepala apel! Jangan paksain Juudaime pake baju itu!" ini dia, sang ksatria Tuna dateng. Ksatrianya narik Tuna supaya gak ada di hadapanku lagi.

"Maa, maa, Gokudera. Fran kan cuma bercanda," ksatria ke-2 Tuna dateng juga dengan senyuman khasnya. "Tsuna, hari ini giliran kita main ke rumah kamu kan?"

"Oh iya! Aku belom bilang mama Nana!"

"Kalo menurutku tante Nana gak lupa. Kan dia gak kayak kamu, Tuna." aku ngomong ke Tuna dengan nada datarku.

"Jangan mengejek Juudaime, apel!"

Setelah itu, bel berbunyi menandakan pelajaran pertama dimulai. Aku melipat baju maidku yang sangat berenda itu sebelum Dino-sensei masuk. Ya, Dino-sensei itu wali kelas terceroboh yang ada di sekolah ini. Terus kenapa? Hanya informasi yang numpang lewat kok. Tenang saja.


Pulang sekolah

"Ayo, Tuna. Kamu lama deh. Oh iya, kamu kan ikan, jadi gabisa renang di darat." kataku sambil berjalan keluar sekolah.

"Tunggu, Fran-san!"

"Tenang, Juudaime. Aku akan menunggumu, gak kayak si kepala apel."

"Cih, kepala gurita." aku bergumam.

Akhirnya dengan sangat keterpaksaan, aku menunggu si Tuna dan 2 ksatrianya. Aku berhenti tepat sebelum gerbang sekolah sambil membalikkan badan melihat 3 orang temanku yang lambat. Tiba-tiba, 2 kakak Tuna yang gak mirip Tuna dateng dari belakang dan salah satunya menepuk pundakku.

"Oi, sampah. Mana Tsuna?" Oh, kak Xanxus serem seperti biasa.

"Itu." kataku sambil nunjuk si Tuna yang semeter lagi nyampe.

"Kak Xanxus! Kak Byakuran!" kata Tuna yang baru nyampe. "kakak ngapain ke sini? Kan Tsuna udah bilang langsung pulang aja. Aku gak perlu dijemput."

"Kakak takut adek kakak satu-satunya ilang~" kata kak Marshmallow sambil ngebuka bungkus marshmallow yang baru. "pulang yuk, Tsuna. Temen-temen kamu mau main kan?" Wow, kak Marshmallow senyumnya kayak di iklan-iklan pasta gigi gitu. Kayak abis dicuci pake pemutih, trus dipoles sampe mulus.

Dengan kemunculan 2 kakak overprotective Tuna, mereka ngebawa kita ke rumah Tuna. Rumah Tuna itu gak kayak yang kalian kira. Mungkin kalian pernah liat rumah Tuna di suatu anime yang judulnya 'Reb***!', tapi rumah Tuna yang ini besar. Kayak rumah-rumah orang kaya. Eh, Tuna emang kaya.

Wah, ternyata penjelasan singkat tadi udah menghabiskan waktu buat nyampe di rumahnya Tuna.

"Aku pulang." kata si trio Sawada pas masuk rumah. Nada mereka beda-beda. Kak Xanxus dengan nada geram, kak Marshmallow dengan perfect pitch, dan Tuna dengan nada ceria.

"Selamat datang, Xanxus, Byakuran, Tsuna." kalian tau itu suara siapa? Itu suara si papa ganteng yang disuka- maksudku di'kagumi' sama mama Elena. Yak, tebakan anda benar. Itu adalah om Giotto. "Hari ini sepertinya kita kedatangan tamu."

"Papa Giotto!" Tuna lari ke om Giotto terus nyerang dia dengan pelukan. "temen-temen Tsuna hari ini mau main."

"Oh? Apa papa perlu beli snack untuk semua orang? Atau snack dari Vongola Company aja?"

"Vongola Company!" kata kita berempat sambil mengangkat tangan. Kemudian om Giotto mengangguk dan mengambil snack merek Vongola itu dari kamarnya.

Mungkin kalian berpikir bahwa vongola itu adalah grup mafia yang awalnya adalah grup untuk melindungi orang-orang. Ckckck, sekali lagi ini bukan anime 'Reb***!' yang kalian sudah tonton berkali-kali. Vongola itu perusahaan snack terbesar dan sangat disukai anak-anak. Gak cuma snack, mereka mulai bikin restoran Italia. Begitulah semenjak om Giotto yang mimpin perusahaan, semua menjadi sukses.

"Arara~ Tsu-kun, kok kamu gak ngomong kalo temen-temen kamu mau dateng?"

"Maaf, mama Nana. Aku lupa..."

"Gak apa-apa, mama Nana udah nandain jadwalnya Tsu-kun kok, jadi mama udah siapin mainannya~" kata tante Nana sambil angelic smile. Tuh kan. Tante Nana tuh gak lupa, "hukuman mama gak jahat kok~" tiba-tiba ada kamera di tangannya tante Nana. Aku tau perasaan ini. Nanti pas kita udah pulang, Tuna bakal kayak berubah jenis kelamin.

"Ini snacknya. Kalian bebas mau pilih yang mana aja. Gratis!" om Giotto itu sempurna banget buat jadi papa. Gak kayak papa Daemon. Pulang bawanya bukan snack, tapi jus kaleng rasa semangka sama nanas. Kayaknya lidahku udah kebal sama rasa semangka dan nanas. Harusnya papa Daemon tuh kerja sama om Giotto. Pasti kulkas rumah jadi surga.

Singkat cerita, kita berempat (+ 2 kakak overprotective Tuna) main PS5 yang sepertinya di dunia kalian belom keluar. Makanya temenan sama orang kayak Tuna. Bodoh tapi up to date same game console canggih. Selama nungguin giliran, aku merhatiin kak Xanxus sama kak Marshmallow. Mereka itu udah gak mirip adeknya, orang tuanya juga gak mirip lagi. Eh, jangan kasih tau aku ngomong kayak gini ya. Seingetku kak Xanxus punya pistol khusus. Aku masih ngerti kalo kak Marshmallow. Menurut pelajaran IPA, aku dijelasin soal persilangan gen. Kalo ayah sama ibunya punya gen albino, anaknya bisa albino. Katanya tante Nana sama om Giotto ngebawa gen albino jadinya ada anak albino kayak kak Marshmallow. Ah, pasti kalian bingung kenapa anak SD kayak aku udah belajar kayak gitu. Gitu deh kalo kepala sekolahnya om Reborn. Kalo kak Xanxus kayak anak buangan yang ditemuin mereka berdua. Jauuuh banget dari muka orang tuanya.

"Oi, sampah apel. Kamu mau main gak? Kalo gak, pulang sana." Brr... Takut ah sama kak Xanxus. Jangan pernah bikin panggilan khusus buat kak Xanxus atau kamu mati di tempat. Terlanjur bikin? Pergi dari dunia ini sesegera mungkin. "Aku gak tau apa yang kamu pikirkan, sampah. Tapi gak tau kenapa yang kamu pikirkan itu membuatku kesal." Hii... Hyper intuition keturunan om Giottonya nyala.


Selesai main

"Juudaime! Besok pagi aku akan datang menjemputmu!"

"Daah, Tuna."

"Bye, Tsuna!"

"Sampai ketemu besok!" kata Tuna sambil melambaikan tangan. Kemudian Tuna ditarik sama tante Nana ke dalem rumah dan terdengar bunyi-bunyi kamera beserta lampu-lampu blitz.

Aku, kepala gurita, sama tukang senyum pulang ke rumah masing-masing. Iyalah, rumah kita beda-beda gitu. Pas aku pulang, aku ketemu kakak nanas dan temen se-bandnya lagi di depan rumah. Kalian gak akan percaya kalo kak Hibari ternyata juga ada di sana. Gara-gara ada kak Hibari, kak Mukuro nangis bahagia. Akhirnya tanganku gak akan digigit lagi.

"Herbivore, sampe kamu ngajak yang aneh-aneh lagi, aku bakal keluar dari bandmu." kak Hibari bodoh. Kak Hibari harusnya keluar dari band sekarang aja sebelum terkontaminasi. "apel, jaga herbivore ini dari rencana aneh-anehnya. Kamu juga, herbivore." kata kak Hibari ngeliatin aku yang masih di kejauhan sama kak Chrome. Seperti biasa, aura kak Hibari itu menakutkan. Yang kebal sama auranya kak Hibari cuma Dino-sensei (keseringan diglare jadi kebal), Tuna (saking polosnya dia gak bisa ngerasain auranya), kak Kusakabe wakilnya kak Hibari, kak Mukuro, kak Chrome, Fon, om Alaude, sama om Reborn.

"Baiklah, Hibari-nii." kak Chrome ngejawab.

Setelah itu, kak Hibari pergi meninggalkan duo nanas, dilanjutkan oleh teman-teman band lainnya. Kalo kalian mau tau siapa anggota bandnya, mereka itu kak Ken, kak Chikusa, sama kak W.W. (baca: daburyu daburyu). Gak lama setelah mereka pergi, mama Elena ngeliat aku yang berdiri di depan gerbang pintu dan langsung menyerangku dengan pelukan.

"Fran~ gimana espressonya~?"

"Katanya kurang pahit, tapi udah lumayan enak."

"Reborn minta lagi gak?"

"Gak." aku tau sebenarnya mama Elena bakal murung kalo denger ini. Maaf mama Elena! Aku gak bermaksud menghancurkan hati mama Elena yang suci itu. Tapi om Reborn emang ngomong gitu.

Sesuai dugaanku, mama Elena terpuruk. Aku berusaha menghibur mama Elena dengan nada datarku yang sepertinya tidak begitu membantu. Kemudian papa Daemon, sang master ngejebe masalah orang, dateng sambil memeluk mama Elena dari belakang. Ih, gangguin anak sendiri berbakti sama orang tua.

"Oya, oya. Kenapa Elenaku menangis?"

"Papa, Reborn gak mau espressoku." dengan nada yang sangat dramatis.

"Daripada buatin espresso yang pahit, mending buatin papa teh manis aja buat ngobatin hati mama yang terluka." sumpah, papa Daemon ngegombalnya jago banget. Kemudian mama Elena mengangguk sambil terisak-isak. Mereka berdua masuk ke rumah dan menutup pintu depan.

Aku bertiga sama kak Mukuro dan kak Chrome ditelantarkan di depan rumah.

"Ah, maaf mama lupa nyuruh kalian masuk! Fran, kamu gak digigit sama Mukuro lagi kan?"

-To be continued-


A/N: Tadaa~~~ update sebelum UN~~ *anak cari mati* apa kalian puas? mungkin agak garing ya, abis mau UN gak bisa terlalu humor

oke, yang tadi itu boong, tapi yang UN beneran. ini garing karena aku lagi kurang random jadi gak bisa humor

Next chapter: Mama Lavina and Papa G Household

Sankyuu yang udah baca~~