A….aaaaaaaaaaaakhirnya chapter 2 updateeeeeeeeeeeeeeee….

Disclaimer : Memang Kingdom Hearts milik Square Enix tapi Cerita ini milikku tapi kalau Kingdom Hearts jadi milikku akan nyuruh Roxas mijit-mijit pinggangku yang pegel …

Read and Enjoy

Chapter 2

Despair and Hope

Wanita penyihir begitulah panggilan orang-orang pada Larxene. Malam itu juga diapergi ke sebuah tempat didaerah Station Height. Seperti biasa dia menuju tempat rahasia yaitu "Tempat Penjualan obat-obatan", yang ternyata di sana bukan tempat penjualan obat biasa.

"Kau datang juga, Larxene.." sapa laki-laki berambut pink.

Larxene memalingkan muka pucatnya itu pada orang yang menyapanya itu. Dia menuju duduk dimana banyak orang sedang berkumpul. Disana tampak ada lima orang, ada yang sedang tertidur nyenyak, bermain kartu dengan seriusnya dan juga ada yang sedang mengisap rokok.

Larxene sering bergaul dan berkumpul orang orang-orang itu. 23.00 hujan mulai reda, Larxene segera meninggalkan tempat itu.

"Woi, Larxene mau kemana lagi?" Tanya laki-laki berambut hitam dengan bekas luka dimukanya.

"Tentu saja pulang !" kesal Larxene

"Ayolah tinggal disini sebentar lagi" Goda laki-laki itu.

"Huh…" Larxene menghiraukan permintaan laki-laki itu.

Setelah meninggalkan tempat itu, dia terlihat sangat riang. Dia berjalan cepat-cepat dan ingin segera memakai barang yang dia bawa. Sesampainya di rumah dia segera bersandar dikursi dan mengisap obat terlarang itu, ternyata membeli obat itu dari hasil jernih payang Roxas.

Pagi-pagi sekali Larxene terbangun, karena suara deringan jam.

"Arrggghhh….jam sialan !" dilemparnya jam itu.

Kepalanya benar-benar masing pusing, dia pun berusaha duduk dekat jendela untuk menenangkan hati. Akantetapi dia merasakan darah naik keatas kepalanya. Kadang-kadang dia membantingkan tangannya ke meja berlaku seperti orang gila.

Roxas POV

Pagi itu, aku terbangun mendengar suara benda yang terlempar keras.

DUK..DUK..DUUK

"Ng..suara apa itu?" kataku sayup-sayup mendengar suara lain yang berbunyi.

Mataku benar-benar berat rasanya untuk di buka lalu aku menutup mataku kembali. Tiba-tiba aku merasakan seseorang yang menarikku dari tempat tidur.

"Dasar anak sial, kau masih tidur? Ayo bangun !"

Aku pun berdiri. Kepalaku masih berasa pusing dan pikiranku belum tenang benar.

*PLAKKK*

Aku merasakan tangan dingin yang mendarat dipipi kiriku.

"Ganti bajumu, cepat !" seru Larxene yang setengah berteriak padaku.

"Kau masih ingin tidur,hah ! Ayo pergi! Jangan berani pulang jika kau tidak membawa uang 500 munny! Kau dengar, DAMN IT!" dia membuka pintu dan mendorongku keluar.

(_)

Suara Larxene terdengar amat keras sehingga membangunkan Ventus. Tetapi dia tidak berani membuka matanya. Dia begitu gemetar ketakutan dan bersembunyi di selimut yang kusam itu. Ventus sudah terbiasa dengan kejadian itu, dia masih terlalu kecil belum bisa membantu kakaknya yang tersiksa itu.

Roxas berjalan huyung-huyung, kesadarannya belum 100% pulih. Dia melihat Larxene menutup pintu kembali. Roxas diam-diam kembali, takut jika ibu tirinya memukuli adiknya juga. Dia mendekatkan telinganya kepintu, Roxas bersyukur dia tidak mendengar Ventus menangis.

Hari belum terang benar, tetapi matahari mulai keluar dari peraduannya. Cahaya bintang-bintang sudah mulai pudar. Roxas menyusuri jalan-jalan kecil, tak ada seorangpun disana.

"Kemana sekarang aku pergi?" pikir Roxas dalam hati

"Sial, dimana aku bisa mendapat uang sebanyak itu?"

"500 munny !" katanya perlahan-lahan, "Kemana aku bisa mencarinya? Kalau tidak dapat, aku tidak boleh pulang. Kalau pulang, perempuan itu akan memukuliku. Tapi kalau aku tidak cepat pulang, apa jadinya dengan Ven….."

Roxas menepuk pipinya dengan kedua tangannya.

"Tenanglah, Roxas! Hari ini kau harus dapat 500 munny! " Roxas menenenagkan dirinya.

TENG TENG TENG TENG TENG TENG…

Enam kali terdengar suara lonceng berbunyi dari Twillight Tower. Roxas amat terkejut, ternyata siang berlalu amat cepat. Roxas mengeluarkan isi sakunya dan di dapatinya hanya 200 munny. Dia bingung dimana dia mendapatkan setengah munny-nya lagi.

Roxas terus berjalan sampai dia ke daerah Tram Common. Dia melihat kereta yang berjalan melaluinya. Tram Common memang surganya para pedagang, disana banyak orang-orang yang berjual maupun berbelanja. Roxas terus memandang sebuah restoran, disana dia melihat keluarga yang sedang menikmati makan siangnya. Seandainya ibunya masih ada mungkin kami sedang makan disana seperti mereka, pikirnya. Rasa lapar mulai menghantuinya. Roxas hanya bisa tersenyum kecut dan terus melanjutkan perjalananya.

Dengan sedih Roxas duduk di tepi sungai, dia terus memandang langit.

" Senangnya jadi orang bebas dan berpergian bisa kemana-mana…" kata Roxas datar.

" Sungguh kamu mau?" Tanya seorang laki-laki berambut merah dengan tiba-tiba.

Roxas POV

"Anda siapa….?" tanyaku bingung.

"The name Axel. Got it memories?"

Laki-laki bernama Axel itu langsung duduk di sebelahku.

"Memang kenapa kamu ingin berpergian?" Tanya Axel dengan wajah tersenyum.

"B-benar tuan..aku mengelilingi negeri ini dan pergi jauh dari sini. Disini tidak ada yang merawatku dan memberiku makan."

"Panggil aku Axel, got it memories?"

"Y-ya…" jawabku canggung.

"Tapi, kenapa tidak ada orang yang memberimu makan? Orang tuamu tidak ada?" Tanya Axel sambil memperhatikan aku.

"Ibuku sudah meninggal. Sekarang aku hidup seperti ini…." Jawabku yang agak sedikit malu jika ada orang yang menanyakan tentang diriku.

"Ayahmu dimana?" Tanya Axel dengan suara yang lembut.

"A…a…" aku tidak bisa mengatakan sepatahpun.

"Ayolah jangan malu-malu, ceritakanlah dengan terus terang."

Mendengar perkataannya yang ramah, rasa malu-ku pun hilang. Aku menceritakan semua tentang diriku Ventus, ayah sampai tentang ibu tiriku yang sering memukuliku. Akhirnya aku tahu bahwa Axel juga berasal dari kota ini juga. Dia sering berkelana tidak satu pun negeri yang dia lewatkan, jarang dia pulang kesini. Pulangpun dia hanya mengunjungi kakaknya.

"Aku senang berteman denganmu. Kalau keinginanmu disetujui ayahmu, datanglah mengujungiku, kamu akan diajak mengelilingi negeri ini." Axel menjulurkan tangannya padaku.

Aku membalasnya, tangannya begitu hangat dan nyaman.

"Thanks, Axel…"

Axel berjalan meninggalkan tepi sungai yang kami duduki itu. Sedikit demi sedikit dia menghilang dari pandanganku. Aku benar-benar senang karena Axel memberiku 100 munny dan sekarang uang yang ada di sakuku ada 300 munny. Dengan hati riang aku pun mulai meninggalkan tempat itu.

Thanks you to everyone who has read and reviewed….

Saya sendiri ga bisa ngebandingin antara prolog n chapter 1 tapi yaaaaah….. dah tanggung jadi lanjutt…hehe…awalnya sih pingin Sora yang jadi adik Roxas tapi karena kebanyakan Sora n Roxas bersaudara jadi author ganti deh…

Emang dasarnya fic ini sedih banget, saya juga ga tega bikinnya TT_TT *nangis darah :mode on (lebay)*

Karena fic ini masih awal ceritanya jadi character lainnya masih pada belum muncul ^_^

Akhir kata dari saya REVIEWWWWWWWWWWWWWWW !