Wish and Dream
Chapter 2
Declaimer : om Masashi Kishimoto
Pair : Tenten x Shikamaru
Tenten x Gaara
Rate : T+
Genre : romance, family, hurt/comfort, friendship, crime may be ?
WARNING : hujan typo, banjir OOC, abal, gaje, ancur..etc
OHAYOU MINNAAAAA….
Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku berani ngupdate chapter 2 padahal gak ada yang mau baca ? ~(-_-")~
Maaf deeeeh ane gak bermaksud merusak pemandangan kok, Cuma sekedar nyalurin imajinasi yang ane pendem. Plus latihan nulis. Liat aja tuh cara nulis saya masih kocar-kacir, gak jelas.
Saya berharap ada yang ngasih saran dan masukan*ngarep banget malah. \(*_*)/
Bagi yang mendengar keluh kesah saya (',')?Jangan lupa kasih koreksi ya apabila ada hal-hal yang dirasa kurang.
Owch iya, untuk
Shikadaii-san : arigatoo udah sudi ngasih review-nya. Hehe, saya emang hobi ngacak-ngacak pair sesuka hati. Tapi cuma buat Tenten aj, hehe dia mah digandengin ma siapa aja cocok wae….hehehe. Pasti saya lanjutin kok. Pantang menyerah !*tetesan darah muda might Gai :v 6(^_^)9
kurohippopotamus-san : Arrigatogozaimatsu udah ngasih tau di PM perihal 'technic error' ? itu hehehe. Dan saya sangat menghargainya. J
And thanks to zielavienaz96 udah nge-fav ff gaje ini :v *cipika-cipiki*
~happy reading~
Rambut hitam diikat nanas ?
"shi-Shikamaru ?"
Tenten Pov
Aku melongo tak percaya. Bagaimana bisa si pangeran tidur ?ini, ada disini .bagimana pula si tuan pemalas yang tak punya semangat hidup ? ini jadi pahlawan kesiangan ?*catat. hari memang sudah siang sih ! . Bukankah tadi dia masih tertidur pulas dalam kelas ?.
"enyahlah !" dengan sekali hentakan tangan cat kaleng sialan itu sudah take off entah kemana. Suasana berubah tak tau pasti mengapa tiba-tiba atmosfernya berubah dingin. Apakah karna ucapan Shikamaru yang sedingin es itu ?atau karena sorotan mata kelamnya yang tak kalah dingin. Membekukan ?.
Kulihat Mitsuki mendengus, namun sepertinya juga tak mau mungkin tak bisa melawan. .?. takutkah ?!
"dan jangan mengganggunya lagi !" tambahnya.
Setelah memberi aba-aba pada teman-temannya, akhirnya Mitsuki melenggang pergi dengan wajah kesalnya yang kentara. Tapi Sebelum berbelok di ujung koridor , dia menolehkan kepalanya. Menatap tajam kearah kami, yah..aku dan Si Pemalas yang masih membelakangiku.
"kheh !jangan selalu berlindung di belakang ayahmu. Shikamaru !andai tousan bukan bawahan ayahmu. Sudah pasti aku tak akan mengalah padamu.." katanya dengan senyum meremehkan. Dan merekapun hilang dibelokan hanya mendecih.
Untuk beberapa saat kami terdiam. Aku masih bingung mau memulai percakapan dari mana ?, karena sejujurnya aku jarang bicara dengannya -ralat- bahkan sangat-sangat jarang. Seingatku hanya sekali aku bertegur sapa jika gerakan mata dan anggukan singkat di anggap sebagai hanya sekali saat dia diperintah Darui sensei mengumpulkan PR dari anak-anak itu tak ada suara, tak ada yang mengeluarkan suara. Hanya mata yang mengarah ke sebuah kertas di atas mejaku. Dan kemudian pandangannya yang seolah berkata "boleh aku ambil ?", aku hanya mengangguk pelan. Hanya itu ?, yah.. seingatku hanya itu.
Mungkin ini yang membuat suasana agak sedikit err…. masih terdiam di posisinya Sebelum akhirnya dia bergerak menjauh , Tanpa tangannya dalam saku dan melangkah menjauh. Tapi aku kan…
"ah.. shi-Shikamaru !" ucapku sedikit berteriak. Greeaatttttttt !suara pertamaku untuknya. Diapun menghentikan berputar hanya untuk menoleh tanpa membalikkan , aku hanya bisa melihat sebelah onyx yang masih saja tanpak malas.
"hn ?"dan inikah suara pertamanya untukku ?,
"aa-arigatoo !errr.. kau baik-baik saja ?" kataku sambil mulai melangkah pasti menghampirinya yang tak jauh didepanku.
"hn" huft ! orang ini..
Aku sedikit melirik kearahnya yang kini posisinya sejajar kini lurus kedepan.
"kau kotor !"
"hah ?"
Sreettttt'
"heiiii ! apa yang_"
"diamlah Shika !"
Aku tak peduli dia akan menganggap aku sok kenal, ataupun sok tadi sudah menolongku kan ?, jadi apa yang harus aku lakukan pada seorang pahlawan sangat kesiangan yang mukanya kena cipratan cat ?, aku seret lengannya menuju ke sebuah bangku di taman belakang sekolah. Dan nampaknya dia pasrah saja dengan perlakuanku,, apa mungkin karena dia terkejut ?
"duduklah disini dan tunggu sebentar ! jangan kemana-mana okeyy ?!" perintahku. Aku berlari kecil menjauh dari tempat tadi.
NORMAL POV
Hosh….hosh..hosh !
Tak lama Tenten kembali dengan nafas bernafas lega karena ternyata Shikamaru menuruti permintaanya. Dia masih di bangku ? . Tenten menggelengkan kepalanya sembari berjalan pelan kearah si tukang tidur itu.
'masak iya dia tidur secepat itu ?, benar-benar tukang tidur !' gumamnya. Kini ia sudah berada disamping bangku panjang tempat Shikamaru tidur dengan tubuh yang menghadap langit, membiarkan sinar mentari yang menerobos kecil disela-sela rimbunnya pohon manga di dekatnya, menghangatkannya. Salah satu kakinya ditengkuk siku-siku, sedangkan yang satunya lagi ia biarkan menjulur. Sementara tangannya ia lipat dibelakang kepala sebagai bantal. Tanpa berkata apapun ,Tenten duduk di bawah, disisi samping bangku. Ia keluarkan tisu basah yang baru di belinya tadi.
Meski agak ragu, Tenten menjulurkan tangannya yang memegang tisu . Dengan hati-hati ia usap wajah Shikamaru pelan, takut si empunya terbangun, takut si empunya terkejut. Ia berhenti sejenak, memandang wajah tidur di depannya. Tak ada reaksi !.akhirnya, Pelan tapi pasti ia usap lagi setiap titik yang terkena noda tadi. Tak banyak memang, hanya di bagian pipi kanan dan kening, juga titik berwarna merah sebesar biji jagung di seperti ?
"pmftt..hmphf" mati-matian Tenten menahan tawanya, menyadari wajah lucu Shikamaru yang hampir seperti badut itu,? Yah tompel itu.
'ah !bersihkan bagian lain dulu deh. Yang ini biarkan dulu, xixixi' gumamnya dengan sedikit terkikik.
"kenapa tertawa?" Tenten tersentak, hampir saja berteriak, namun tangannya sendiri reflek membekap mulutnya.
"ka-kau… sejak kapan kau bangun ?" tanyanya masih dengan ekspresi terkejut.
"sejak seorang gadis aneh mengusap wajahku diam-diam tanpa permisi" jawab Shikamaru ketus sembari beranjak duduk. wow… catat Tenten ! itu kalimat terpanjang yang kau dengar dari Shikamaru hari ini.
Tenten hanya mendengus, 'gadis aneh katanya ?'
"kau belum menjawab pertanyaanku"
"hah ?yang mana ?"
"kenapa kau tertawa?" mendengar pertanyaan itu, mata Tenten langsung fokus kearah hidung Shikamaru yang masih merah.
"Pmhft hmft…. Hahahahaha….!"Akhirnya Tenten tak bisa lagi lepas tanpa bahkan masih duduk di bawah, di atas rumput. lupa untuk beranjak duduk di bangku.
"ck !dasar merepotkan !" tukasnya. Namun Tenten tak masih melanjutkan acara tertawanya.
"ku bilang berhenti, panda !" ucap Shikamaru dengan nada esnya lagi. Tak lupa deathglare tajam ia layangkan. Oke !, Shikamaru-pun juga tak bisa tahan jika ada orang tertawa didepannya, apalagi kemungkinan terbesarnya adalah , orang itu sedang menertawai dirinya. Mendapat tatapan seperti itu, Tenten-pun berhenti, menahan dirinya untuk tak lagi masih mengelus-elus perutnya yang geli.
Syutttt' !
"eh?" Shikamaru tak bisa untuk tak aba-aba Tenten langsung mengusap puncak hidungnya dengan tisu.
"kau tak sadar ya ? wajahmu tadi sudah seperti badut tau !" ucap Tenten, dengan kekehan tertahan.
Shikamaru cengo. Langsung saja ia palingkan wajahnya yang memerah karena malu. Seumur-umur ia tak pernah semalu ini.
.
.
.
Sejak hari itu, mereka mulai akrab, dan heii..bahkan mereka duduk Shikamaru adalah tipe pendiam dan pemalas, nyatanya Nara Shikamaru ini adalah sosok yang pintar dan boleh jadi juara kelas, tapi andai nilai Shikamaru tak dipotong akibat aksi tidur dijam-jam pelajaran, mungkin anak tunggal Shikaku inilah Tenten juga tau-baru tau- Shikamaru boleh tertidur, tapi telinganya selalu boleh dingin dan ketus, tapi tak banyak yang tau kalau di balik itu dia punya sisi lembut.
Sejak saat itu pula, keduanya bersahabat. Katakanlah begitu ?!lihatlahShikamaru yang hanya bisa bicara lepas pada Tenten, dan lihatlah senyum ceria Tenten yang telah kembali setelah sekian tahun menghilang. Lihat pula bagaimana mereka saling menunggu dipintu gerbang hanya untuk masuk kelas ataupun pulang bersama. Bahkan satu sekolahpun tau, coba saja tanya "apa kau tau dimana Shikamaru?" tentu mereka akan menjawab "bersama sahabatnya, Tenten", atau ketika kau bertanya, "apa kau kenal Tenten ?" tentu mereka akan menjawab "Tenten ? sahabatShikamaru itukan ?".
Dan sejak saat itu pula. Tak ada lagi kata-kata "hei kau anak pembunuh !" dan sebagainya. Yah !mereka takut pada Shikamaru yang tak segan bagi siapapun yang mengganggu sahabatnya itu. Tidak hanya karena auranya yang err-menyeramkan, ataupun deathglarenya yang mematikan. Tapi juga karena ayahnya adalah pemilik sekolah Konoha Elementary school, Konoha Junior dan Konoha High school ini, selain itu dia juga pewaris Nara Corp. perusahaan yang masuk kategori tonggak utama perekonomian Jepang.
Kedatangan Shikamaru sedikit banyak telah berhasil membuat Tenten lupa sejenak tentang .Sampai sekarang Ibunya masih tak menceritakan apapun yang hampir tiap hari menanyakan ayahnya, hanya dijawab bahwa tugas ayahnya belum selesai, mungkin akan pulang bulan depan. Selalu seperti Tenten tak peduli mengenai hal itu. Dia tak peduli apakah ayahnya akan pulang atau tidak, atau mungkin dia berharap ayahnya tak akan pulang ?.kalau boleh berharap. Tenten ingin semua yang menimpa keluarganya ini hanya mimpi, yang ketika sudah bangun akan kembali seperti semula. Ia berharap ayah yang selalu dikaguminya itu kembali padanya, tanpa lebel pembunuh atau semacamnya. Ia berharap ayahnya ada didekatnya ketika dia menjadi juara kelas, atau saat dia menang lomba lari yang sudah banyak menyumbangkan piala. Atau ayahnya akan pulang sebagai pahlawan yang berhasil menangkap para penjahat. Tenten menginginkan itu. Tapi kenyataannya, sang ayah tak ada di dekatnya ketika dia menjadi juara kelas, ataupun ketika dia menang lomba lari. Ayahnya tak pernah datang untuk jadi pahlawan penumpas penjahat, tapi justru dialah yang menjadi penjahatnya. Bagi Tenten, pembunuh adalah mereka yang berhati dingin, berdarah dingin, monster, vampire, dan zombie yang tak punya hati. Monster yang tak tau kasih-mengasihi, cinta-mencintai. Bahkan sekarang dia ragu, apakah sang ayah pernah menyayanginya ?, mengasihinya ? ataukah semua perhatian ayahnya selama ini palsu ? untuk menutupi kekejiannyakah ?. Dia seperti .Dia membencinya.
Xxxxx
TENTEN POV
Daun-daun musim gugur berterbangan, membawaku melewati tiga musim gugur terasa waktu begitu cepat telah tumbuh menjadi remaja 15 tahun, kelas IX Konoha Junior High School. Yah, aku kembali bersekolah di tempat yang sama, dengan jenjang yang berbeda. Ngomong-ngomong soal sekolah, aku sedang menunggu seseorang didepan pintu gerbang dari tadi. Apakah dia tidak masuk hari ini ?, ah tidak mungkin. Kalau memang iya dia pasti menghubungiku dari tadi.
"Atau masih tidur ya ?bisa jadi ! diakan si pangeran tidur ! huft.. dasar pemalas ! "
Plokk !
"pangeran tidur ? lalu kau adalah kurcaci yang melayaniku, hmm ?"
Aku -tiba saja Shikamaru menepuk kepalaku dari belakang.
"bisakah kau muncul tanpa mengagetkanku ?! dan kurcaci katamu ? yang benar saja" kataku setelah membalikkan badan. Tanganku terlipat rapi di depan dada. Kamipun mulai berjalan seperti ini, kami terbiasa seperti ?!entahlah !
"kau sendiri yang mengatakan aku ini pangeran"
"apakah julukan pangeran tidur itu terdengar seperti pujian untukmu?" dia hanya mengedikkan bahu. 'dasar !' gumamku.
"Shikamaru-senpai !" terdengar seseorang berteriak. Kami menoleh bersamaan.
"hn ?"tanggapnya seperti biasa, dingin dan cuek.
terkadang aku merasa beruntung karena Shikamaru hanya menampilkan sisi lainnya padaku, sisi lembut dan hangat, bahkan tak jarang dia seperti out of character jika bersamaku, seperti tertawa terbahak-bahak, terenyum tulus, berguyon, kekanakan, dan bertingkah konyol hanya padaku dan aku ?apa itu tadi ?
"anoo… a-ku i-ngin bi-bicara sebentar. Bi-bisakah ? shi-kamaru sen-pai ?" tanya seorang gadis yang kutau adik kelas kami, anak kelas VIII A.
"tap-"
"tak apa ! aku duluan ya Shikamaru, shiho… jaa nee !" tanpa mendengarkan gerutuan Shikamaru yang kalimatnya kupotong , aku langsung melenggang pergi. Meninggalkan mereka berdua di lorong tak jauh dari kelas. Sebenarnya aku tau apa yang akan di katakan gadis itu. Gelagat macam itu seakan sudah aku bersahabat dengan Shikamaru yang notabene termasuk anak terkeren. Wajar jika banyak yang menyukainya. dan sebenarnya aku tak benar-benar pergi dari tempat itu. masih menunggu Shikamaru dengan bersembunyi di balik dinding. Disisi lain tempat itu. Jadi aku bisa mendengar dengan jelas percakapan aku stalker. Atau tukang nguping ?.yang jelas aku selalu penasaran dengan jawaban yang akan di lontarkan Shikamaru setiap ditembak cewek. 'kalimat penolakan macam apa lagi shika ?' gumamku dalam hati, sedikit terkikik.
"jadi ?"
"ah a-anoo.. ituu. Senpai a-aku seb-seben-narnya a-aku. Men-nyukaimu senpai !"
Sudah kuduga. Pasti pernyataan cinta !.kudengar si pemalas itu menghela nafas. Khufufufufu….. andai aku ada disana pasti aku bisa melihat ekspresi bingung Shikamaru yang sangat lucu.
"maafkan aku, shiho. Kau berhak dapatkan yang lebih dari_"
"tapi aku ingin senpai !" ini akan panjang rupanya. Kudengar Shikamaru menghela nafas lagi.
"aku tak bisa. Maaf" oke..tak sepanjang yang kukira.
tap tap tap tap…
kudengar langkah kaki dengan kecepatan berbeda menjauhi tempat itu. Yang satu langkah kakinya terdengar cepat. Sudah pasti itu shiho yang berlari menjauh. Sedangkan yang satu lagi, tak perlu di tanya. Akupun berniat untuk keluar dari tempat Shikamaru ke dalam berbalik cepat dan ..
BRUKKKK' !
"awww..! iitttai" aku terjungkal jatuh kebelakang, apa aku menabrak sesuatu ?. sontak aku mendongak. Dan tampaklah sebuah tangan terulur wajah pemilik tangan itu. Seorang pemuda bersurai merah bata, bermanik hijau, bertato kanji ai di dahi, serta blazer Konoha Junior high school ?. ku sambut tangan yang mau berbaik hati itu.
"gomen….. daijobu ke?"
"hmm….aku tak apa. aa-arigatoo" masih belum lepas darinya. Dia….. tampan ?!. Seketika jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Siapa dia ?perasaan aku barumelihatnya.
"Gaara Sabaku. Kau ?" aku tersentak. Aku baru sadar kalau tangan kami masih belum terlepas.
"a-aku-.. Tenten." Aku berhenti sejenak, untuk menyebut satu nama di belakangku. Nama yang sebenarnya tak lagi kusukai.
"Maito Tenten" lanjutku mengangguk paham
"apa kau baru disini ? emm… maksudku aku belum pernah melhatmu sebelumnya…" kataku.
"hn.."
Aku tidak sadar sejak kapan kami mulai berjalan jelas, kakiku seolah mengikuti irama langkah kaki pemuda merah yang baru beberapa menit kukenal ada yang salah denganku.
"kau anak kelas IX A kan ?" aku hanya mengangguk.
"sepertinya kita sekelas." Katanya dengan ekpresi yang sama, datar, dingin, dan errr…cool.
Entah sihir macam apa, yang jelas sedari tadi mataku tak lepas darinya. Kuperhatikan dia tipisnya, tatapan tajamnya, kata-katanya ….ah … aku pernah melihat model yang seperti ini pemalas itu juga seperti ini. Meski mungkin Shikamaru lebih judes.
Bugh !
"kau melamun ?"
oh no ! aku menabraknya lagi, tepat di punggungnya ? sebenarnya apa yang terjadi padaku ? dan kenapa bisa aku melamun sih ?
"ah haha… ti-tidak, hanya saja ! ah lupakan , ayo masuk !" kataku cepat, memalingkan wajahku yang memerah. Kutarik tangannya masuk ke dalam kelas. Sial, dia masih memandangiku . Aku jadi kikuk sendiri kan?.Buru-buru kulangkahkan kaki menuju sebuah bangku didekat jendela.
"ohayou….! Tukang tidur !"
aku berteriak tepat di telinganya. Siapa lagi kalau bukan Shikamaru yang seperti biasa, membenamkan wajahnya di .Reflek dia terlonjak sambil menutup tertawa puas.
"baka !apa yang ka_" kata-katanya berhenti. Tatapan tajam Shikamaru yang sudah lama tak kulihat kini terpatri jelas di matanya. Apa aku seketerlaluan itu ya ?.eh tunggu ! bukan kearahku ? aku langsung menoleh pada pemuda yang masih berdiri disampingku. Tatapannya tak kalah tajam. Aku menoleh lagi pada Shikamaru, dan kembali lagi ke Gaara, dan ke Shikamaru lagi, kemudian keGaara lagi…. Deathglare super dingin itu masih belum cair. Okeeee…. Ini bukan pertanda baik.
"hei hei… Shikamaru !jangan pasang wajah seperti itu. Kenalkan ini Gaara baru bertemanlah Gaara ini sahabatku Nara Shikamaru."
"teman ?tidak akan !"
heii apa-apaan ini ? bahkan mereka menjawabnya bersamaan ? aku hanya bisa sweatdrop.
Gyutttt'!
Langsung kuraih dua tangan dengan pemilik yang berbeda itu untuk erat, berusaha agar mereka tak giliranku yang mengayunkan … akhirnya mereka diam juga.
"sepertinya kalian akan cocok" kataku dengan cengiran yang khas.
SHIKAMARU POV
"kau duduk disini saja Gaara-kun, bersamaku dan Shikamaru ?" memang bangku dan meja di kelas ini didesain cukup panjang sehingga cukup untuk diisi tiga entah kenapa aku tak suka melihat pemuda kenapa dia bisa dekat dengan Tenten ya?Mereka terlihat akrab.
"kenapa harus disini?Merepotkan !" kataku.
aku,Entah kenapa aku tak suka Tenten dekat dengan laki-laki lain selain diriku. Mungkin karena dia sudah seperti adikku sendiri, mungkin karena dia sahabatku satu-satunya, satu-satunya wanita yang dekat denganku sejak SD, dan apakah bisa ditambah dengan kehadiran orang ini.?. hei apa itu. Tenten, kenapa matanya tak lepas dari sosok jelek itu ?.tunggu, kenapa aku semarah ini ya ?. ah tentu saja. Tenten sudah seperti adikku kan ?.
"karena kita adalah teman pertamanya disini Shika !" aku berdecih kesal. Namun sepertinya Tenten tak jadi semakin jengkel hanya mengendikkan -pura -pura tak peduli.
"nee, Gaara-kun ? sudah menghadap kepala sekolah?"
Apa ?Gaara-kun katanya ?.kenapaGaara di panggil dengan suffiks –kun-, sedangkan padaku dia …. Ukh !
"sudah kemarin. Arigatoo !" jawabnya. Matanya kini menoleh ke arah lawan bicaranya.
"untuk apa Gaara-kun? Aku merasa tak melakukan apapun untukmu"
"untuk jadi temanku. Tenten-chan !" jawabnya dengan nada datar.
hoeekk !Tenten- CHAN ? –CHAN ?yang benar saja. Dan heii… kenapa Tenten jadi tersipu begitu ?.pipinya memerah ?.
Entah kenapa aku merasa gerah di tempat dudukku yang sekarang ini .padahal ini di dekat jendela yang cukup adem dengan tabuhan angin. Akupun beranjak, mengambil tas dan barang-barangku di meja. Kemudian melangkah menuju salah satu teman sekelasku dibangku belakang. Aku sedikit berbisik pada shion untuk tukar bangku, dia mengangguk setuju .akhirnya aku bisa Jauh dari dua orang yang menatapku aneh. Aku tak mempedulikannya, yang aku butuhkan sekarang adalah, menghilangkan perasaan marah, yang entah dari mana samping kananku, mencari tau siapa teman sebangkuku. Dan oh shitt !
"shi-shik-kamaru-kun ?kyaaaaaaaa….!"
"diam atau aku pindah" wanita yang kini duduk sebangku denganku itu langsung membekap mulutnya sendiri.
"merepotkan !" tapi ini lebih baik dari pada….
Sreetttt !
"baka ! apa-apaan kau ?" kutarik paksa tanganku dari genggaman Tenten yang berusaha menyeretku. Huh !dia memang hobi menyeret-nyeret.
"kau yang kenapa tukang tidur? Main pindah seenaknya."
"itu urusanku, urus saja orang baru itu" tukasku. Aku tak peduli si merah jelek itu menatapku tajam, akupun tak peduli semua mata tertuju padaku dan Tenten di garis memang sering tak pernah sampai berteriak-teriak seperti Anko Sensei telat hari ini.
"kau ini kenapa sih ?" tanyanya. 'aku kenapa ? kau yang kenapa?Kenapa kau ramah sekali padanya' gumamku dalam sudah enggan menanggapi ucapan Tenten butuh pengalihan.
"lagi pula, aku sedang ingin bersama sakura. Apa itu salah ?" jackpot Shikamaru !. kulirik sakura yang duduk disebelahku menganga, dan merona. Okee..setelah ini kau akan mendapat masalah Shikamaru. Tapi..aku tak peduli ! aku tak tau kenapa aku jadi sekesal ini. Kulihat Tenten masih menatapku tak percaya. Entah apa yang dia pikirkan.
TENTEN POV
Aku melongo tak percaya. Bagaimana bisa Shikamaru mau duduk dengan sakura ?apa dia menyukai sakura ? kurasa tidak. Apa mungkin dia marah karena aku mengajak Gaara duduk sebangku bersama kami ?.tapi kenapa harus duduk dengan sakura sih ? hei.. sudah jadi rahasia umum kalau sakura itu menyukai Shikamaru. Dan bukankah Shikamaru cuek-cuek saja dengan itu ?tapi kenapa sekarang dia ? apa jangan-jangan dia sudah mulai menyukainya ?. ukh !kenapa aku jadi merasa kesal sih ? kenapa aku merasa seperti….. seperti tak rela ? eh ?!
"ayo kembali ke bangkumu shika !" suaraku sudah naik satu oktaf. Kuraih lagi lengannya, berusaha menyeretnya kembali.
"bangkuku disini Tenten !" apa aku tak salah dengar tadi ?Shikamaru. apa dia tak mau bersamaku lagi ? Apa dia bermaksud meninggalkanku ?apa dia mau meninggalkanku seperti tousan.?
Dan kenapa pula mataku mulai berkaca-kaca. Ini Cuma masalah kecil kan ?tapi kenapa aku merasa kesal, marah, dan sakit ? kini kutatap Shikamaru lekat. Dia rupanya juga menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca.
"apa kau mau meninggalkanku shika ?" ucapku dengan suara rendah, hampir terdengar seperti berbisik. Tapi aku tau Shikamaru mendengarnya.
"ten_"
Aku tak mau mendengar ucapan Shikamaru takut mendengar nada 'meninggalkan'terucap dari Shikamaru berlari dengan cepat keluar kelas. Sebelum air mataku tumpah di depan teman-temanku.
NORMAL POV
Tenten terus berlari tanpa peduli suara Shikamaru yang terus memanggilnya. Diapun berhenti di taman belakang sekolah. Tempat biasa dia makan bekalnya bersama Shikamaru. 'gara-gara dia aku jadi harus bolos jam pertama'gumamnya .diapun mendudukkan dirinya di bangku bunga-bunga melati yang tak terawat.
Hiks….hiks…
"kenapa aku jadi cengeng begini sih ? semua gara-gara dia. Semua salahnya. Hiks… apa dia bermaksud meninggalkanku, sama seperti tousan ?, apa dia marah ?"
dia biarkan air matanya mengalir untuk saat ini. Berusaha mengelurkan apa yang selama ini tak tersampaikan. Yah..Sebenarnya airmata ini tak hanya untuk Shikamaru. Tapi juga berisi kerinduan yang selama ini ia tepis jauh-jauh, bahwa dia rindu ayahnya. Yah,,, dia sangat merindukannya, tapi meski dia tahu persis dimana ayahnya ditahan, tak pernah sekalipun ada keberanian untuk menjenguknya. Dia terlalu takut tak dapat menahan terlalu takut membayangkan ekspresi ayahnya yang berubah kejam dan menyeramkan, ekspresi pembunuh berdarah dingin berputar-putar dikepalanya. Dia takut akan semakin membencinya. Dan sekarang masalah Shikamaru membuatnya merasa semakin takut kehilangan. Oh..betapa dia sangat menyayangi sahabatnya itu. Ia tak akan sanggup jika tak menemukan Shikamaru di depan gerbang untuk berangkat atau pulang bersama, ia takut tak dapat makan bekal bersamanya lagi, ia takut Shikamaru tak lagi sama.
"hiks Shikamaru… jangan tinggalkan aku " lirihnya, meski kata-kata itu juga berisi pengakuan rindu tersamarkan pada sang ayah.
Tiba-tiba saja Tenten terlonjak kaget. Merasakan ada seseorang memeluknya dari belakang…. Matanya kini membulat sempurna. A-apa yang ?
To be continued
Hehe, itu dia kelanjutannya, semoga kalian suka (*_*)
….. makin ancuuuuurkah ?! ('.')?
Maafkan saya… tolong beri saya kesempatan hidup ?! :v :-0
Pliiizzzz Ripiuwww yaa,,, kasih saya masukan, saran, or kritik yang membangun…
:) :) sekian and aarigatoooooooo dah mau baca…..
