The School of Blood © Saiya Mika-chan

Genre: Humor, Mystery, Romance, Tragedy, and Horror.

Warning(!): OOC, Typo(s), Abal-abal, dan Garing. :p

Fairy Tail © Hiro Mashima

Pair: NaLu, GrUvia, and JeRza.

.

Chapter 2: Perasaan apa ini?

Keesokan harinya…

"Ohayou, minna!" sapaku dengan wajah ceria seperti biasa. Aku melirik kebawah, dan tidak mendapati seutas tali coklat di dekat pintu. Aku menghela nafas lega. Aku berjalan dengan tenang ke tempat dudukku yang lumayan jauh dengan meja guru. Dan duduk tenang di tempat dudukku yang damai(?) itu.
"Halo, Lucy!"

Aku menoleh kearah sumber suara yang memanggilku. Seorang gadis berambut putih pendek tersenyum padaku. Mau tak mau aku ikut tersenyum kearahnya.

"Oh, Hai, Lisanna!" sahutku. Lisanna mendekatkan kursinya kearahku, lalu menatapku lekat-lekat.

"Lucy, kamu darimana?"

Aku memiringkan kepalaku. Tidak mengerti. "maksudmu apa, Lisanna?"

"Oh, enggak. Hehehe… Oh ya, Lucy! Kamu mau denger cerita horor ku enggak?" tanya Lisanna sambil menyunggingkan senyum sok manisnya kearahku.

"Mau!" jawabku dengan wajah berbinar-binar. Sebenarnya, aku lagi malas mendengar suara orang, namun aku mempunyai perasaan tidak enak hati. Nanti, kalo kutolak dibilang sombong gimana?

"Begini, Lucy! Di setiap masa, di setiap sekolah, selalu ada pelajaran favorit siswa yang dikenal secara umum dengan nama pelajaran kosong. Pada suatu hari yang tidak ditentukan tanggal tepatnya, di saat pelajaran favorit tersebut berlangsung, sekelompok siswi berkumpul di ruang rapat OSIS dan memainkan papan ouija kuno yang mereka temukan dalam lemari ruangan tersebut. Awalnya cewek-cewek itu cuma iseng, memainkan papan itu untuk mengetahui siapa kekasih mereka sebenarnya di masa yang akan datang. Namun, satu persatu peserta permainan itu tewas dengan mengerikan. Salah satunya dirampok, dua di antara mereka mati tertabrak, dan sisanya, karena tidak tahan, akhirnya bunuh diri. Setiap malam, seperti saat ini, roh mereka berkumpul lagi di sini, menunggu yang akan bergabung dengan mereka…."

Kurasakan bulu kudukku terangkat naik mendengar cerita horor yang dimaksud Lisanna. Cerita horornya memang terasa sekali, apalagi bagian akhirnya itu.

Bagaimana kalau itu menjadi kenyataan?

Glek!

Aku meneguk ludah begitu mendengar kata-kata yang terbesit di pikiranku. Aku berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh.

"Bagaimana, Lucy?" tanya Lisanna. Aku hanya nyengir-nyengir mendengar pertanyaannya.

"Horor nya kerasa Lisanna! Dan juga, bagus banget. Dimana kamu mendapatkan cerita itu?" jawabku dengan jujur sekaligus bertanya.

"Hehehe… Makasih. Oh, aku mendapat cerita itu secara turun menurun dari klub ku." Jawab Lisanna garuk-garuk kepala.

"Klub apa?" tanyaku mulai kepo.

"Klub Cinta Lingkungan dan Hewan atau bisa disingkat KCLH." Jawab Lisanna memasang wajah polos.

Deg!

Aduh, perasaan apa ini?

~Istirahat~

Rasanya aku ingin menjedotkan kepalaku ke tembok.

Atau mungkin lebih enak lagi, aku mau loncat dari gedung atas. Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa sifatku tiba-tiba jadi aneh seperti itu.

Sifatku yang tiba-tiba jadi aneh ini, karena aku selalu dikejutkan oleh sosok gadis berambut biru yang sangat misterius itu. Uh, rasanya aku pengen mati saja.

"Hai."

Tuh kan, tiba-tiba dia nongol di sebelahku. Dan membuatnya lebih seram lagi, saat dia memiringkan kepalanya sehingga menampakkan wajah mengerikan yang menempel di wajahnya itu. Ugh.

"Err,, Ha-Hai." Jawabku dengan nada gugup sekaligus sekaligus ketakutan.

"A-apa aku mengejutkanmu?" tanya gadis itu.

Aku tersenyum miris, "ha… ha… sedikit."

Gadis itu hanya tersenyum. Senyumnya manis tapi mengerikan juga. Aduhh…

"Lucy, kita makan bareng yuk." Tawarnya.

"Baiklah, ittadakimasu!"

"ittadakimasu."

Aku mulai memakan bekal yang dibawakan Virgo, pelayan pribadiku. Ya, bekalku tidak berat kok. Aku hanya dibawakan bekal roti berisi telur dadar dan saus. Aku lirik Juvia yang sedang makan dengan lahap. Aku hanya tersenyum geli.

Tap… Tap… Tap…

Seorang gadis berambut putih berlari kearah kami dengan wajah gelisah. Tunggu… Apa yang kubilang tadi? Gelisah?

"A-ano, Lucy, Juvia… Maaf menganggu makan siang kalian... Err, apa kalian melihat Lisanna? Aku mencarinya tidak ada dimana-mana." tanya gadis berambut putih yang aku kenal si bidadari Mira. Hampir saja aku tersedak dibuatnya.

"Lisanna? Bukankah dia di ruang rapat OSIS?" gumam Juvia dengan nada nyaris tak terdengar.

"Kenapa dia di ruang rapat OSIS, Juvia? Dia kan bukan OSIS?" tanya Mira dengan nada heran. Juvia hanya mengendikkan bahunya. Aku yang selesai makan roti itu langsung menggebrak meja di depanku.

Deg!

Sial! Perasaan ini lagi!

"Mira...! Kita cari Lisanna di ruang rapat OSIS yuk. Takut terjadi apa-apa dengannya." Kataku dengan nada khawatir dan sedikit panik.

Ahh! Aku takut Lisanna akan celaka seperti apa yang ia dikatakan. Aaaa! Bagaimana ini!?

Tiba-tiba, ada orang yang menepuk pundakku dengan pelan. Hampir membuatku menjerit keras.

"Jangan terlalu panik. Kita cari sama-sama, oke?" kata Juvia yang ternyata menepuk pundakku. Aku mengangguk.

~OoO~

Pintu ruang rapat OSIS tertutup rapat. Hawa dingin yang kurasakan terasa di kulit mulusku.

Aduh, perasaan ini...

Kulirik Juvia menekan hendel, pintu itu tetap tak bergeming. Duh, jadi panik setengah mati.

"Lisanna, kamu ada di dalam?" tanya Juvia seraya mengetuk pintu.

"Buka pintunya, dong!"

Tidak ada sahutan dari dalam.

"Lisa-nee!" panggil Mira sambil setengah berteriak. "Buka pintunya, Lisa-nee!"

Tidak ada sahutan lagi.

Aku dan Mira mulai membentur-benturkan bahu kami pintu itu, namun tidak ada hasilnya.

"Aduh, bagaimana ini? Perasaanku jadi tidak enak." Kataku jujur.

"Hmm... Aku masih punya dua cara." Gumam Juvia dengan nada pelan.

"Bagaimana?" tanyaku dan Mira serempak.

"Bawa jepit rambut? Pinjem." tanya Juvia.

Mira mengangguk, lalu melepaskan jepit hitamnya lalu memberikan jepit itu kepada Juvia.

Juvia mengambil jepit itu lalu memasukkan jepit itu ke lobang kunci. Oh, aku mengerti sekarang. Jadi dia akan membuka pintu itu dengan jepit Mira.

"Cara satu selesai." Gumam Juvia sambil memberikan jepit itu kepada Mira.

"Lalu?" tanya Mira heran.

"Mau lihat cara kedua?" tanya Juvia sambil menyunggingkan senyumnya. Senyum mengerikan yang sering kulihat.

"Mau!" jawabku dan Mira. Juvia mengangguk, lalu mengangkat kakinya kanannya, dan...

Brak!

Pintu itu terbuka lebar. Aku dan Mira melongo sebentar. Juvia hanya nyengir-nyengir melihat tingkah kami. Lalu dia memasuki ruangan rapat OSIS itu.

Kami bisa melihat Lisanna yang sedang terkapar di lantai. Tubuhnya kejang-kejang dengan mulut berbusa matanya penuh air mata, membuat kami tak bergerak sekalipun dan membisu.

Jadi, benar feeling ku itu? Jadi, feeling itu tertuju pada Lisanna? Tapi, sebenarnya, siapa pelaku semua ini? Siapa yang tega melakukan hal ini pada adik Mira?

"Lisanna!"

Mendengar jeritan Mira, lamunanku membuyar. Kulihat Mira menghampiri adiknya yang sedang kejang-kejang itu. Sementara Juvia menghilang di samping.

Apa Juvia hilang? Kemana?

"Eh? Ini kan...?"

Aku menoleh kearah Juvia(Huff, kukira dia hilang beneran) yang ia tunjuk. Entah kenapa perasaan itu mencekikku dan nyaris meledak, sampai-sampai aku nyaris pingsan karenanya, tatkala aku melihat benda itu tergeletak di samping Lisanna.

Papan Ouija.

~Bersambung~

Saiya Mika-chan: "Halo. Masih ingat aku, Mika-chan! Hehehe…. Gimana chapter duanya? Kerasa genre horornya? Mungkin, chapter kedua belum ada hubungannya sama judulnya. Bales review dulu."

Zuryuteki: "Thank's ya, udah review, Zuryuteki-san. Doakan ya, untuk membuat chapter berikutnya lebih seru dan menyenangkan!"

Eliza Michelle: "Hohoho… Trims, Neesan. Aku baru tau, ternyata itu kamu setelah kita chat! We are! Ya udah, cekian dali Saiya Mika-chan*ikut-ikutin Eliza-neesan*. Buuubbyyaa! 2x Trims!"

LRCN: "Trims review."

Rukami Aiko: "Yang bilang permainan itu masih rahasia. Kalau saya sebutin kan enggak seru jadinya. (^_^) Alasanku membuat cerita ini misterinya, karena pada chapter terakhir bakalan nemuin suatu misteri baru lagi. Baru rencana mau buat sequelnya dengan pairing yang sama. Tunggu saja ya, Aiko-san! :) Gomen, kalau tidak mengerti dengan penjelasan karena aku tidak pandai berbicara. Trims reviewnya."

Saiya Mika-chan: Sekian balasan review saya yang terkesan blak-blak kan. Oya btw, blak-blakkan itu apa sih?

Gray: Hey, bodoh. Kamu mengatai dirimu blak-blakkan, tapi kamu enggak tau blak-blakkan itu apa. Hah…!

Saiya Mika-chan: Biarin. Apa urusanmu? Aku kan disini cuma mau bercanda. Kenapa? Masbuloh?

Gray: Iyalah.

Erza: JANGAN BERTENGKAR ATAU KURUSAK FANFICTION MIKA!

Saiya Mika-chan: Ja-jangan… *nangis-nangis*

Gray: rusakin aja. Sapa peduli? toh, kalo dirusak sama kamu yang ganti juga, Erza. -_-

Saiya Mika-chan: *srot* be-betul *srot* *nangis-nangis*

Erza: Iya juga ya. Hehehe. Udah yuk. Aku dan Gray mau kencan, nih.

Saiya Mika-chan: Woy, GrayZa tidak diizinkan olehku! Aku hanya mengizinkan GrUvia!

*Disuatu tempat*

Juvia: Aku akan membunuhmu Erza.

*Kembali lagi*

Erza: Iye, iye, aku bercanda. Aku mau kencan sama Jellal dulu. Farewell, Gray, Mika.

Mika: Huh, dasar Erza modus. Okelah, sampai disini dulu ya. Inget review. Kalo lupa, entar digebukin Natsu dan Gray. Sekian dan terimakasih.

Natsu&Gray: Woy! Emang gue kacung lo apa!?

Lucy: maafkan author gila yang membuat acara ini menjadi garing crispi. -_-"