.
"Apakah melihat mimpi begitu menyenangkan?"
"Ya, mimpi adalah sebuah hal yang bagus." Ucapnya, memandang langit malam dengan bulan sebagai satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan kamarnya. "Kau harus melihatnya, sekali dua kali."
Tentu saja orang itu tidak menjawab—orang itu tidak diciptakan untuk menjawab maupun menanggapi sebuah hal yang bodoh; mimpi, harapan, impian, semuanya tidak memiliki arti apapun baginya—dia yang telah kehilangan semua itu di tangan manusia-manusia kotor yang tidak tahu terima kasih.
Seharusnya ia mengerti—ia seharusnya mengerti orang itu daripada siapapun. Tetapi—
"Kau harus berhenti."
"Aku tahu."
Ia hanya tidak mampu melakukannya.
Ia... ia bukan lagi orang itu. Ia tidak bisa kembali menjadi orang itu.
Ia—seorang rumput di pinggir jalan, yang memiliki takdir akan dilupakan oleh orang-orang—yang berani melihat mimpi layaknya manusia.
Ia sudah tidak bisa kembali lagi—tidak setelah ia mengerti perasaan bahagia dari melihat sebuah mimpi yang menyenangkan.
Meskipun ia tahu—
Suatu ketika, di waktu yang mungkin saja esok hari—
Mimpi ini akan berakhir juga—
.
.
.
Dream-Seeing Flower
Chapter 2 – Angel's Beats
Pairing: Ainchase Ishmael/Elsword Sieghart (Base!Ain/Lord Knight)
Other characters: Elesis Sieghart (Grand Master), Edward Grenore (Mastermind), Ara Haan (Yama Raja)
Warning: OOC, plot cepat, diksi kacau, banyak referensi/inside joke fandom lain
Elsword fanfiction
Elsword online © KOG Games, Nexon
Your Name. © Makoto Shinkai (mentioned only)
Angel Beats! © KEY (mentioned only)
nanashimai gains nothing from this
.
.
.
.
Aneh, memang, bagaimana cara waktu berjalan begitu saja dengan lambat ketika seseorang menantikan sesuatu. Namun saat mereka berkedip, waktu telah berlalu begitu cepat dan waktu yang mereka tunggu telah tiba begitu saja. Orang itu seharusnya merasa lebih bersemangat, terutama di hari yang telah lama mereka nantikan.
Ya, itulah yang seharusnya Elsword Sieghart rasakan ketika hari Minggu telah tiba, dan waktu untuk menonton film yang sudah lama ia tunggu bersama Ain telah datang di hadapannya.
Elsword justru melempar alarm-nya ke seberang ruangan.
Baiklah, mungkin ia harus menyalahkan Chung yang mengajaknya untuk membantunya dalam menaikkan level karakter barunya dalam sebuah permainan online. Namun Elsword sendiri bahkan tidak menyadari ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga ketika ia memutuskan bahwa matanya tidak lagi sanggup untuk terus membuka. Kandas sudah rencana Elsword untuk tidur lebih awal dan bangun pukul tiga pagi demi memilih pakaian.
Sementara itu, tepat ketika jam menunjukkan pukul delapan, ketika Elsword masih berkutat dengan tempat tidurnya sendiri, Elesis harus menghadapi tukang koran yang sedikit keras kepala pagi itu. Memang kebiasaannya untuk bangun pagi selalu mengharuskannya untuk berhadapan dengan tukan koran dan businessman yang menyebalkan. Mungkin karena itu kediaman Sieghart lebih dijauhi oleh pedagang rumahan ketimbang tempat lain—tidak ada yang ingin berurusan dengan Elesis Sieghart ketika ia belum menikmati kopi paginya.
Terpikir oleh Elesis; orang ini pasti orang baru. Karena bel rumahnya tidak berhenti berbunyi sejak lima belas menit lalu. Bahkan ia tidak mampu menikmati kopi paginya karena itu—dan Elesis tanpa kopi pagi bukanlah Elesis baik hati yang murah senyum.
Gadis berambut merah panjang itu meletakkan gelas putih berisi kopi paginya dengan sedikit lebih keras dari biasanya di atas meja makan. Langkahnya yang keras, serta suara shinai yang diseret seharusnya mampu membuat siapapun yang mendengarnya berlari ketakutan—kecuali adiknya, mungkin. Namun itu tidak jadi masalah sekarang—biarlah adik tersayangnya itu tidur sekarang.
Ah, ya. Elesis juga tidak bisa membiarkan adiknya bangun sekarang. Sebaiknya ia membereskan masalah ini dengan tenang. Mungkin ia bisa membungkam mulut tukang koran menyebalkan itu dan berharap Elsword tidak akan mendengar sedikitpun dari orang-orang.
Elesis tidak menghabiskan banyak waktu setelah membuka pintu depan, diayunkan shinai miliknya sekuat tenaga dengan tujuan kepala siapapun yang ada di depan pintu rumahnya. Satu tebas darinya seharusnya sudah berakibat fatal, terutama apabila Elesis sudah serius seperti sekarang. Bisa jadi Elesis harus membayar kausalitas dari apa yang ia kerjakan sekarang, namun itu bukanlah prioritas utama dalam kepalanya pagi ini.
Mungkin Elesis memang sedang tidak berpikir—karena saat hal itu terjadi, Elesis tidak merasa kalau hal yang terjadi padanya bukanlah sesuatu yang nyata dan wajar.
Hanya beberapa detik saja. Dalam beberapa detik yang berlau seperti kedipan mata, shinai di tangannya telah menghilang, dan suara shinai kesayangannya terbanting ke tanah langsung menyadarkannya seperti bagaimana kopi paginya membangunkannya sepenuhnya. Elesis mengedipkan mata merahnya, memandangi sekaligus berusaha memikirkan bagaimana shinai yang beberapa detik lalu terayun di tangannya, kini tergeletak tanpa daya di tanah.
Lalu ia mendongak, menghadap pada tamu yang ada di depan rumahnya; laki-laki berambut perak yang tak lagi asing bagi Elesis, lengkap dengan senyum dua puluh empat jamnya. "Bukannya tidak sopan memukul tamu yang kau buat menunggu di depan selama dua puluh menit lamanya, kakak Elsword?"
Ya, ya. Elesis ingat sekarang. Elesis ingat bagaimana laki-laki itu merebut shinai yang ada di tangannya, menariknya dari tangan Elesis, lalu membuangnya ke tanah seolah benda itu adalah sampah. Elesis kini mengingat jelas bagaimana rasa sakit dari kayu yang menggesek kulitnya secara paksa ketika Ainchase Ishmael menarik shinai kesayangannya dari tangannya. Ya, ya—
"Boleh aku masuk sekarang? Atau kau akan membiarkanku membeku sementara aku memiliki janji dengan adikmu, kakak Elsword?"
Elesis memicingkan matanya ke arah laki-laki yang lebih tinggi darinya. Di antara seluruh teman Elsword, Elesis paling tidak menyukai laki-laki ini. Dan hal itu bukan hanya karena rumor kedekatannya dengan adik kesayangannya. Jujur saja, Elesis tidak terlalu menyetujui hubungan adiknya dengan laki-laki yang sangat tidak sopan ini. Tidak peduli bagaimana Rena atau Aisha berbicara dengan semangat yang menggebu-gebu tentang hubungan homoseksual adiknya, bagaimana bisa ia menyukai seseorang yang bahkan tidak membuat sedikitpun usaha untuk mengingat namanya?
(Dan, tidak, Elesis tidak peduli kalaupun adiknya tertarik pada perempuan, laki-laki, atau bahkan pedang dan kapal sekalipun.)
Pada akhirnya, Ainchase Ishmael membiarkan dirinya masuk sementara Elesis mengambil shinai malangnya yang sudah mencium tanah. Ia berbalik, menatap tajam punggung laki-laki berambut perak yang, dengan keinginannya sendiri, memasuki dan berjalan lebih dalam ke dalam rumahnya. "Kau sebaiknya tidak mengganggu Elsword! Dia sedang tidur!"
"Ah, terima kasih informasinya."
Hanya dengan kalimat itu, darah Elesis kembali mendidih. Pastinya orang itu berniat mengganggu Elsword! Tentu saja Elesis ingin menghentikan laki-laki itu, sayangnya Ainchase barusan mengatakan kalau ia ada janji dengan Elsword, bukan? Lagipula dengan shinai kesayangannya baru saja mencium tanah, tentu saja Elesis harus langsung membersihkannya, bukan? Bukan?
Sementara Elesis sibuk dengan pedang kayunya, Ain merasa bahwa ia baru saja melakukan hal yang tidak perlu.
Ia tidak merasa bersalah akan hal yang terjadi dengan kakak Elsword—siapa namanya? Ain bahkan tidak peduli lagi—hanya saja hal itu membuat sedikit perasaan menyenangkan yang tersisa dalam dirinya menghilang begitu saja. Ain masih merasa sabar dalam sepuluh menit pertamanya menunggu di depan kediaman Sieghart yang sudah sering ia kunjungi, hingga lima menit selanjutnya, barulah pintu dibukakan dan hampir saja ia menerima sebuah pedang kayu di kepalanya—Ain masih berusaha meyakinkan dirinya untuk berpikir ini akan menjadi hari yang menyenangkan.
Ain sudah menghapal kediaman Sieghart, bahkan cukup hingga orang yang sudah lama tinggal di tempat ini terkagum-kagum dengan pengetahuannya. Ia mengetahui sesuatu yang bahkan tidak diperhatikan oleh Elsword sendiri, dan itu termasuk beberapa tempat yang tidak mampu ia sebutkan karena tidak ingin Elsword berpikiran buruk tentangnya. Intinya, menemukan tempat tidur Elsword di tempat yang sudah menyerupai labirin kecil bukanlah hal yang sulit baginya.
Terpikir oleh Ain untuk mengetuk, namun ketika teringat kalimat dari kakak Elsword sebelumnya, pastilah Elsword tidak akan merespon jika ia mengetuk pintu. Ain mencoba memutar knop pintu sekali, mendesah lega ketika tidak merasakan pertahanan dari kunci pintu. Perlahan agar tidak membuat suara yang keras, Ain memutar knop besi di tangannya dan mendorong pintu hingga terbuka sedikit.
Ain sedikit terkejut ketika melihat lampu bahkan belum dimatikan. Ketika membuka pintu lebih lebar, ia kembali dikejutkan dengan keberadaan sesuatu yang tidak wajar di lantai. Setelah memperhatikan benda itu lebih saksama, kini ia berusaha menahan tawanya ketika menyadari benda apa itu.
"Kenapa kau melempar wekermu sendiri, Elsword?" Laki-laki berambut perak itu memungut jam yang ada di kakinya, lalu berjalan mendekati tempat adik kelasnya tengah tertidur sekarang. Ia meletakkan jam weker di tempat seharusnya—di atas meja kecil di sebelah tempat tidur Elsword—lalu mendudukkan dirinya sendiri di atas tempat tidur. "Els, bangunlah. Lihat sudah jam berapa sekarang."
Erangan dari laki-laki berambut merah yang tengah tertidur menjadi jawaban. Ain mencoba sekali lagi, kali ini tangannya mengacak-acak rambut merah Elsword yang berantakan—entah oleh tidur atau memang seperti itu model rambutnya, "Els, kau tidak ingin menonton Your Name denganku?"
"Your Name." Elsword mengulang, nada suaranya terdengar begitu mengantuk. "Ain?"
"Ya, ini aku, Ain. Ayo bangun."
"Bangun." Mengangguk pelan, perlahan Elsword bangkit dari posisi tidurnya. Matanya masih tertutup, namun ia terlihat mencoba untuk bangkit dari tempat tidur. "Ain. Your Name."
Tentu saja Ain harus mengikuti Elsword ke kamar mandi—apa yang akan terjadi kalau ia membiarkan Elsword berjalan entah kemana dengan mata masih tertutup? Barulah ketika Elsword sudah sampai di kamar mandi, Ain kembali ke kamar Elsword, membuka lemari tempat laki-laki itu menyimpan pakaiannya. Ain mengeluarkan beberapa baju, menggumamkan sesuatu tentang kecocokannya pada Elsword dan mungkin mereka bisa menggunakan sesuatu yang mirip hari ini. Puas dengan pilihannya, Ain langsung melangkah keluar dari kamar Elsword dan berjalan kembali menuju ruang tamu.
Kakak Elsword sudah tidak berada di tempat awalnya, dan secangkir teh serta sepiring kue telah menanti di atas meja—sesuatu yang mungkin saja untuknya? Sayangnya Ain tidak menikmati teh di pagi hari, dan ia sudah cukup mengisi perutnya tadi pagi. Ia cukup menunggu Elsword, sambil sesekali mengecek jam yang tersemat di pergelangan tangan kirinya—
"Astaga! Aku terlambat!"
Ya, teriakan Elsword itu cukup membuat sebuah senyum muncul di wajah Ain.
Air yang dingin dari kamar mandi pasti membangunkan Elsword. Ain bisa membayangkan Elsword berlarian di dalam rumah, terburu-buru mengenakan pakaian yang sudah Ain siapkan. Mungkin Elsword akan siap lima menit lagi, dan dari suara yang sudah mendekat itu, justru kemungkinan besar Elsword sudah siap—
"Ain! Maaf membuatmu menunggu!"
Tersenyum pelan, Ain berdiri dari tempat duduknya. "Aku sama sekali tidak menunggu." Dan itu kenyataannya. Dalam kamusnya, definisi menunggu adalah ketika ia harus berdiam diri lebih dari sepuluh menit hanya untuk orang lain. Mungkin bagian terakhir itulah yang membuat Ain benci menunggu. Elsword sama sekali tidak membuatnya menunggu—ah, tidak, lagipula, kalaupun harus menunggu Elsword, sepertinya waktu yang ia habiskan akan terasa menyenangkan pula.
"Sudah siap?"
Dilihatnya Elsword benar-benar menggunakan pakaian yang ia siapkan; kaus hitam yang tertutup oleh jaket merah dan putih berlengan hitam dengan lambang Velder di bagian bahunya (Ain dengar itu jaket favorit Elsword, karena itu ia meletakkannya di sana), kemudian celana panjang hitam. Pakaian yang sederhana, namun kemiripannya dengan Ain—yang menggunakan pakaian hampir sama, selain aksen merah milik Elsword yang diganti dengan warna biru khas Ain—cukup menjadi sebuah kebahagiaan meski hanyalah sebuah hal remeh.
Ainchase Ishmael menikmati hidupnya; meski semua terlihat begitu hitam dan putih, meskipun dunia ini berisi dengan manusia-manusia yang membosankan—
"Ayo, Ain!"
Ketika ia melihat senyum laki-laki di hadapannya, ketika ia menggenggam tangannya, dunia terasa jauh lebih berwarna dari sebelumnya.
.
.
.
.
.
Beruntung kereta yang akan mereka tumpangi menuju Elder langsung datang ketika mereka sampai di stasiun. Lebih beruntung lagi mereka mendapat peron kereta yang kosong—sepertinya Your Name di pagi hari di akhir pekan tidak cukup untuk membuat orang-orang pergi ke luar rumah. Atau, menurut Ain, "Kita yang berangkat terlambat."
Ain mengatakan pada Elsword bahwa film mereka dimulai masih satu jam lagi. "Tempat itu tidak terlalu jauh dari stasiun, dan ada restoran yang cukup murah dan enak di sana. Kita bisa sarapan terlebih dahulu." Elsword sendiri hanya mengangguk—Your Name sudah memenuhi kepalanya bahkan ketika ia membuat pilihan yang salah dengan bermain bersama Chung hingga larut. Jujur saja, ia bahkan berniat untuk tidak tidur hingga pagi, daripada harus bangun terlambat pagi nantinya. Sayangnya matanya sepertinya tidak bisa lagi di ajak untuk bekerja sama saat itu, bahkan Elsword langsung tertidur ketika kepalanya menyentuh bantal.
Bayangkan betapa terkejutnya ia ketika tahu bahwa Ain yang membangunkannya. Mungkin itu juga alasan kenapa kakaknya terlihat tidak senang—untuk suatu alasan, Elsa sangat senang apabila mendapat tugas membangunkan Elsword. Mungkin ia hanya senang memukuli Elsword dengan shinai apabila Elsword masih menolak bangun.
Baiklah, mungkin salahnya lupa mengatakan pada Elsa kalau ia ada janji dengan Ain pagi ini. Kakaknya terlihat begitu kesal saat Elsword berkata kalau ia akan segera pergi dengan Ain—Elsword menduga alasan utamanya adalah karena Elsword mengganggu sesi mandi shinai kesayangan Elsa. Kemudian terpikir oleh Elsword—memangnya minggu ini giliran Elsa untuk membersihkan shinai? Bukankah kakaknya sudah membersihkan shinai miliknya minggu kemarin?
Elsword memutuskan untuk tidak memikirkan lebih jauh. Terkadang ia tidak mengerti rasa cinta kakaknya yang berlebihan terhadap pedang kayunya itu.
Memandang ke luar, Elsword menyaksikan bagaimana pemandangan berlalu begitu cepat. Ia mampu menangkap merahnya tanah Bethma, menandakan bahwa, ya, mereka semakin dekat dengan Elder. Tanpa sadar ia mulai mendengungkan sebuah lagu, yang samar-samar ia ingat sebagai salah satu musik latar dari animasi yang pernah ia tonton sebelumnya. Ah, kalau tidak salah, itu acara yang sangat sedih, bukan? Bahkan ia merasa lagu yang ia dengungkan terdengar cukup sedih.
"Lagu yang bagus." Ketika ia mendengar suara Ain di sebelahnya, langsung saja Elsword menoleh. Laki-laki berambut perak itu tidak menatapnya, sibuk dengan buku yang ada di tangannya. "Apakah itu lagu dari film yang akan kita tonton?"
Elsword menggeleng, kemudian mengembalikan pandangannya pada pemandangan di luar jendela kereta yang masih berlalu. "Itu dari film lain. Film yang sangat menarik."
Ain bergumam pelan. "Film seperti apa?"
Elsword memiringkan kepalanya, mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan film itu. Setelah beberapa saat, akhirnya ia berkata, "Tentang malaikat yang bertarung."
Elsword merasakan tubuh Ain menegang di sebelahnya. Menoleh, dilihatnya Ain telah menutup buku di tangannya, lalu menghadapnya dengan tatapan serius. "Bisa kau ceritakan padaku?"
Meski agak terkejut dengan keseriusan Ain, Elsword akhirnya menceritakan tentang film itu sesuai kemampuan ingatannya. Ia mengingat tentang seorang laki-laki yang kehilangan ingatannya, lalu bergabung dengan kumpulan anak-anak lain yang menginginkan keadilan dari Tuhan, dan mereka bertarung dengan malaikat yang mereka duga sebagai utusan Tuhan.
"Kenapa mereka melawan malaikat itu?" Ia mendengar Ain menggumam, "Kenapa mereka melawan perintah Dewi?"
Elsword yakin ia tidak menyebut kata Dewi, dan ia tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan itu dengan Ain yang berwajah sangat serius seperti sekarang. Ini pertama kalinya Elsword mampu mendeskripsikan wajah tanpa ekspresi Ain dengan satu kata yang ia duga tidak akan pernah ia pakai untuk Ain,
Seram.
Wajah Ain yang biasa penuh senyum kini begitu datar—tanpa ekspresi. Bahkan mata hijaunya dipenuhi sesuatu yang mirip dengan kemarahan. Hal pertama yang ingin Elsword lakukan ketika melihat ekspresi itu adalah melarikan diri.
Namun ia tidak melakukannya.
Karena yang ada di sebelahnya bukanlah orang yang mengerikan.
Hanya Ain.
Elsword meletakkan tangannya di atas tangan laki-laki berambut perak itu, "Kau baik-baik saja?"
Ekspresi mengerikan itu menghilang dalam sekejap mata. Menoleh, Ain memberikan Elsword senyumnya yang agak dipaksakan. "Maafkan aku, kurasa aku kehilangan kendali barusan." Laki-laki itu buru-buru menggeleng, "Bisa kau lanjutkan ceritamu?"
Elsword dengan senang hati melakukannya; ia mengingat akhir dari cerita itu dengan jelas—bagaimana malaikat yang selama ini mereka lawan bukanlah malaikat atau utusan Tuhan. Bahwa ia hanyalah seorang gadis yang mencari seseorang—si tokoh utama—dan ingin berterima kasih karena telah memberikannya jantung agar tetap hidup, meski hanya sebentar.
Kemudian Elsword mengingat nama dari film tersebut, "Angel Beats—detak jantung sang malaikat."
"Angel..." Ain mengulang perlahan, menutup matanya dan mendesah pelan. Lama sekali Elsword menunggu, namun Ain tidak juga melanjutkan kalimatnya. Mungkinkah Ain tidak menyukai cerita itu? Ia terlihat begitu tertarik sebelumnya—
"Menurutmu, malaikat itu seperti apa?"
Menoleh, Elsword mendapati Ain tidak lagi menatapnya. Buku yang kini dipandangi laki-laki berambut perak itu dirasa tidak juga menarik perhatian sang pemilik. Pertanyaan Ain juga tidak terasa seperti terarah padanya, seolah ia hanya bertanya pada dirinya sendiri dan Elsword tidak sengaja mendengarnya.
Namun Elsword merasa pertanyaan itu memang ditunjukkan untuknya. Dan untuk suatu alasan, Elsword tahu jawaban yang Ain harapkan bukanlah jawaban makhluk putih dengan sayap seperti biasanya.
"Kurasa, Ain akan cocok disebut malaikat."
"Maksudmu?"
Baru saja Elsword hendak membuka mulutnya, kereta tiba-tiba berhenti. Pengumuman dari kereta yang mengumumkan bahwa mereka sudah sampai di tujuan terakhir mereka, Elder, membuat keduanya berdiri. Pembicaraan terlupakan beberapa waktu dengan sorakan bahagia Elsword yang langsung berlari ke luar kereta, diikuti Ain yang berusaha menenangkan adik kelasnya sambil tertawa.
Kota Elder berbeda jauh dengan Velder, yang memiliki keramaian sebagai ibukota daerah Lurensia. Kota Elder memiliki keramaian mereka sendiri sebagai salah satu kota dagang terbesar di Elrios. Bahkan kota ini terkenal memiliki pusat perbelanjaan terbesar, yang hampir menyaingi Velder sendiri dan Hamel di Fluone. Elsword sering mendengar bioskop di pusat perbelanjaan itu sangat bagus, bahkan menjadi satu-satunya tempat yang sering menayangkan animasi-animasi yang jarang ditayangkan di tempat lain. Sayangnya, sulit sekali untuk mendapatkan tiket menonton di tempat ini, dan hal ini memunculkan pertanyaan dalam diri Elsword—berapa lama waktu yang dibutuhkan kenalan Ain untuk memesan tempat duduk di sini? Film Your Name, pula.
Elsword memutuskan untuk menunggu di dalam ruangan, mengingat mereka hanya memiliki lima belas menit sebelum acara dimulai. Setelah menukar tiket dan membeli makanan dan minuman untuk masing-masing, Ain melirik Elsword dengan sedikit khawatir, "Kau yakin tidak akan menghabiskannya sebelum film dimulai?"
"Tidak, tentu saja tidak." Setelah beberapa saat, Elsword menambahkan dengan ragu, "Mungkin."
Benar saja perkataan Ain—meskipun kereta yang mereka tumpangi kosong, studio tempat mereka bahkan sudah hampir penuh. Dengan satu tangan menggenggam tangan Elsword, Ain membimbingnya menuju kursi yang sudah dipesankan. Tempat duduk mereka bahkan tidak terlalu buruk—tidak jauh, dan di saat yang sama tidak terlalu dekat dengan layar. Bahkan dari tempat duduk mereka, Elsword mampu melihat banyak sekali kepala yang sudah tidak sabar menanti film dimulai.
Di sebelahnya, Ain berkomentar, "Tidak kusangka film ini sangat dinanti seperti ini."
"Mereka membicarakannya di internet." Jawab yang lebih muda, tangannya mulai memasukkan popcorn yang ada di pegangan tangannya ke dalam mulutnya sendiri. "Katanya film ini benar-benar bagus. Bahkan kritikus-kritikus yang biasanya mengkritik dengan pedas memberikan pujiannya untuk film ini."
"Hmm," kening laki-laki berambut perak itu mengerut, "bukankah kau tidak akan memakan popcorn-mu sebelum filmnya dimulai?"
Elsword mengangkat bahu. "Aku lapar."
"Seharusnya kita makan dulu sebelum ini." Ain mendesah, "Kursinya tidak akan diambil oleh siapapun."
"Kita bisa terlambat." Tepat saat Elsword mengatakan itu, suara pengumuman bahwa film akan segera dimulai terdegar, dan studio mulai berubah gelap selain layar bioskop yang menjadi sumber cahaya. "Nah, baru saja kubilang apa."
Kini pandangan Elsword telah terfokus sepenuhnya pada layar lebar di depannya. Senyumnya melebar tiap detik film berlalu, dan tawa terlepas setiap kali adegan lucu muncul di atas layar. Hingga tawa perlahan mulai menghilang dengan beratnya adegan yang muncul di layar lebar, berganti air mata yang menggantung dan isak tangis yang bermunculan dari berbagai sudut studio. Elsword bahkan tidak lagi menyentuh makanan maupun minumannya, sibuk menggigit bibir bawahnya yang bergetar untuk menahan diri dari menangis—menangis bukan ciri seorang pria, begitu ia membayangkan dirinya sendiri. Ia mencengkram benda yang terdekat dengannya, yang kebetulan adalah tangan Ain, meski ia sendiri menolak untuk menatap wajah laki-laki itu. Entah wajah seperti apa yang ia sedang pasang sekarang, ia tidak ingin Ain melihatnya.
Tepat satu jam empat puluh menit berlalu, dan alunan lagu penutup mengiringi cahaya yang mulai mengisi kembali studio. Elsword masih enggan bergerak dari tempatnya, mencengkram tangan Ain sementara penonton lain mulai berjalan keluar dari studio sambil terisak. Buru-buru ia mengelap wajahnya dengan satu lengannya yang kosong sambil berdiri, kemudian ditariknya tangan Ain hingga mereka sudah berada di luar.
"Elsword."
Tanpa sadar ia mendongak ketika Ain memanggilnya, dan langsung ia menyesali perbuatannya ketika pandangannya bertemu dengan kakak kelasnya. Laki-laki berambut perak itu mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya, sebuah saputangan berwarna putih, dan mulai menyeka sudut mata Elsword dengan kain tersebut.
"A-Aku bisa melakukannya sendiri!" Laki-laki berambut merah itu merebut kain tersebut dari tangan Ain, kemudian membukanya lebar-lebar sebelum mengubur wajahnya sendiri dalam saputangan milik kakak kelasnya itu.
Tentu saja Elsword berusaha untuk tidak bernapas sebanyak mungkin—tidak ketika saputangan itu memiliki bau yang khas milik Ain. Tidak, tidak. Elsword tidak ingin menyamakan dirinya dengan penguntit atau orang mesum yang suka membaui pakaian milik wanita. Tidak, tidak—
(Tapi harus Elsword akui kalau Ain memiliki aroma yang menyenangkan, seperti aroma kasur yang dibiarkan di bawah terik matahari di musim panas, aroma memabukkan yang bisa membuatnya tidur karena nyaman saat itu juga—)
"Kau baik-baik saja?"
Sambil mengucapkan syukur pada Ain di dalam hatinya, Elsword mengangguk dan memaksakan dirinya sendiri untuk melepaskan wajahnya dari saputangan Ain. "Ya. Aku harus tetap bergerak."
Ain melemparkan senyum yang jelas menunjukkan kalau ia menahan tawanya. "Bagaimana kalau kita pergi ke restoran yang ada di sekitar sini? Kudengar es krim di sana sangat enak."
"Es krim." Ulang laki-laki berambut merah itu sambil mengangguk. "Kurasa aku membutuhkannya."
"Kau akan membutuhkannya, Els. Semua orang membutuhkan es krim setelah menonton film yang sedih."
Elsword yang tidak menemukan kesalahan dalam kalimat Ain hanya mengangguk, membiarkan Ain membimbingnya sekali lagi melewati kumpulan orang-orang yang masih terisak karena film sebelumnya. Setidaknya Elsword tidak sendirian—film itu memang terlalu bagus!
Kemudian ia menoleh pada Ain yang berjalan di sebelahnya, sibuk memperhatikan jalan sambil menggumamkan sesuatu yang tidak mampu ia tangkap sesekali. Ain terlihat biasa-biasa saja, bahkan tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda ia baru saja menangis. Mungkinkah Ain tipe orang yang tidak bisa menangis karena film seperti itu? Atau mungkinkah Ain tidak menyukai film itu sama sekali?
Ia membiarkan kakak kelasnya membimbingnya masuk ke dalam sebuah kafe. Meski tidak sempat melihat bagian luarnya, Elsword langsung mengerti mengapa di dalam kafe tersebut begitu ramai; selain warnanya dinding dan interiornya yang menyegarkan mata, pelayan-pelayan di tempat itu juga diberikan kostum yang cukup untuk menyegarkan mata. Pelayan-pelayan, baik perempuan dan laki-laki, diberikan kostum pelayan bergaya Perancis. Bahkan begitu memasuki kafe tersebut, Ain dan Elsword langsung disambut oleh suara perempuan yang ceria, "Selamat datang, tuan muda!"
Ya. Elsword sering mendengar tentang tempat ini—kafe legendaris yang bahkan memasukinya saja membutuhkan keberanian, mengingat hanya orang-orang maniak yang bisa memasuki tempat ini dengan wajah biasa-biasa saja—
"Maid Cafe? Kau serius, Ain?"
Itulah yang pertama kali Elsword tanyakan pada kakak kelasnya dengan satu alis terangkat setelah mereka mendapatkan sebuah tempat duduk yang menempel dengan jendela besar yang menghadap ke luar. Di depannya, Ain hanya memiringkan kepalanya, lalu balas bertanya dengan nada tanpa dosa, "Karena kudengar es krim di tempat ini cukup enak."
Saat-saat seperti ini adalah salah satu contoh ketika Elsword mengagumi ketidaktahuan Ain dalam suatu hal. Elsword tahu terkadang Ain memang terlihat tidak peduli dengan sesuatu, namun terkadang sama seperti sekarang—ini sudah melewati batas kelewatan, bukan?
Seorang pelayan wanita mendatangi meja mereka, memberikan dua gelas air dingin dan sebuah buku menu. Pelayan tersebut bersikeras untuk menunggu mereka memesan, dan Elsword menangkap gadis itu akan menatap Ain dari sudut pandangnya. Bahkan ketika ia menyarankan menu utama mereka hari ini, gadis itu jelas melakukannya hanya untuk Ain—Elsword merasa seperti pajangan saja di tempat itu.
"Bagaimana denganmu, Els?"
"Aku cukup es krim saja." Ujarnya cepat, tangannya menopang dagu sementara matanya terfokus ke luar. Satu tangan mengetuk tidak sabar di atas meja. Sudah, ia sudah selesai memesan, bukan? Bisakah kalian kembali mengobrol dan mengabaikan Elsword di sini?
"Kau yakin? Kau bilang tadi kau lapar."
"Ya, ya, Ain. Itu saja. Terima kasih."
Ia mendengar suara pelayan pergi terburu-buru. Kenapa kalian tidak mengobrol lebih jauh? Perempuan tadi lumayan cantik, kalau dari sudut pandang Elsword. Bahkan harus ia akui Ain dan gadis itu terlihat cocok ketika mereka berdiri berdampingan. Gadis yang tinggi, bahkan mungkin mencapai tinggi Elsword, dengan rambut hitam panjang dan mata yang lembut dan cukup memikat.
Ketukannya di atas meja semakin cepat. Kapan makanannya akan sampai? Bisakah mereka keluar dari sini secepat mungkin?
"Kau tidak menyukai tempat ini?"
"Biasa saja." Elsword bahkan merasakan sendiri suaranya terdengar pahit. "Bagaimana denganmu? Kau pasti menyukai tempat ini."
"Kalau kau tidak menyukai tempat ini, kita bisa pindah tempat."
Lihat, kan? Kenapa orang ini baik sekali? Mendesah pelan, Elsword akhirnya menoleh pada kakak kelasnya. Dilihatnya wajah Ain begitu terkejut ketika pandangan mereka bertemu, dan Elsword memanfaatkan keheningan Ain untuk bicara, "Begini, Ain, kita tidak perlu melakukan apapun yang kuinginkan. Terkadang tidak apa-apa kalau kau ingin bersikap egois—dan kalau kau ingin makan di sini, aku akan mengikutimu."
Manik hijau Ain berkedip cepat, masih memandanginya. Dilihatnya Ain membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, sebelum—
"Tunggu, bukannya itu Add?"
Kalimat itu membuat Ain menoleh ke arah yang Elsword tuju. Ya, Elsword jelas melihat seseorang dengan rambut putih panjang memasuki kafe barusan. Bisa saja Elsword mengira kalau orang itu adalah perempuan—andai saja postur tegap dan tinggi orang tersebut yang tidak mampu ditutupi dengan jaket ungu tidak menangkap perhatiannya. Ya, semakin laki-laki itu mendekatinya, bahkan meskipun dengan kacamata hitam yang menutupi matanya, Elsword langsung tahu kalau itu adalah teman satu angkatannya, Edward Grenore, yang lebih sering ia panggil Add karena nama panjangnya yang aneh.
Laki-laki itu terlihat kaku dan melangkah lebih cepat ketika berjalan melewati mereka, dan Elsword langsung menangkap tangan dari jaket ungu milik laki-laki itu ketika ia tepat di sebelahnya. Ia mendengar suara mengeluh yang sudah familiar dan, ya, laki-laki yang berpakaian mencurigakan ini memang benar-benar temannya.
"Kenapa kau menggunakan pakaian mencurigakan itu, Grenore?" Elsword menyeringai ke arah laki-laki yang menarik paksa tangannya dari cengkraman Elsword, mendengus. "Tidak ingin seseorang dari sekolah melihatmu masuk ke dalam maid cafe?"
"Hah! Bagaimana denganmu sendiri?" Elsword melihat manik ungu laki-laki berambut putih itu melirik Ain dari sudut pandangannya. "Kau berkencan dengan laki-laki di maid cafe. Apa-apaan itu?"
Wajahnya sontak meledak dalam merah. Meski begitu, buru-buru ia berdeham agar dirinya tidak berteriak dan menarik perhatian orang-orang di tempat itu. "Kami tidak berkencan! Iya kan, Ain?"
Ketika ia mendongak pada kakak kelasnya, dilihatnya Ain hanya mengangkat bahu. Bibirnya membentuk sebuah garis lurus—benar-benar lurus, seperti sebuah penggaris. Dilihatnya Ain mengambil gelas berisi air dingin yang disediakan pelayan sebelumnya, lalu menempelkan ujung gelas itu di bibirnya sambil melirik Add sesekali.
"Kau terlihat seperti cemburu ketika dia berbicara dengan pelayan barusan." Kata-kata Add kembali menarik perhatian Elsword. "Kau yakin ini bukan kencan?"
Ia menyikut teman berambut putihnya itu. "Bisakah kau tidak ikut campur dengan urusan orang lain?"
"Itu keinginanku." Namun ketika Add hendak berjalan pergi, Elsword kembali menangkap pergelangan tangan laki-laki itu. "Apa lagi?"
Apa kami benar-benar terlihat seperti itu di mata orang lain? Adalah pertanyaan yang hampir saja terlepas dari bibirnya. Ia harus cepat mencari alasan, cepat cepat cepat cepat—
"Kudengar ada arcade yang cukup menarik di tempat ini." (Bagus, Elsword! Kecanggungan dengan Ain akan menghilang kalau Add bersama mereka!) "Bagaimana kalau kita pergi ke sana? Bertiga?"
Itu adalah pertama kalinya Add memasang wajah 'apa kau serius?' yang benar-benar menjeritkan pertanyaan itu. Matanya terpicing dan bibirnya tertarik ke bawah, seolah ia menatap Elsword seperti sesuatu yang menjijikkan. Meski terhalang kacamata hitam, Elsword mampu melihat mata ungunya berpindah-pindah dengan cepat. Kemudian—
"Parfait dan kopi untuk meja dua belas!"
Pelayan yang tadi kembali dengan pesanan milik Elsword dan Ain, meletakkan pesanannya di atas meja mereka. Add tiba-tiba melepaskan pegangan Elsword dari tangannya, lalu menggenggam tangan pelayan tersebut.
"Haan, aku sudah menunggumu sejak tadi. Kau akan menemaniku ke tempat itu, bukan?"
Elsword menyaksikan Add menarik pelayan wanita tersebut menjauh, bahkan ketika pelayan wanita itu terlihat tidak ingin mengikutinya. Nama belakang yang Add sebut, Haan, akhirnya teringat oleh Elsword. Pantas saja rasanya ia pernah melihat perempuan itu di suatu tempat.
"Itu Ara? Kenapa aku tidak menyadarinya?" Buru-buru Elsword menggeleng. "Lalu kenapa Add terburu-buru begitu?"
"Entahlah? Mungkin dia sedang sibuk."
Elsword menoleh pada Ain, yang kini menyesap kopi yang ia pesan. Wajah kakak kelasnya itu terlihat begitu lega saat menjauhkan bibir cangkir dari bibirnya sendiri—apakah ia begitu haus hingga bisa memasang wajah seperti itu?
Laki-laki berambut merah itu mulai menyendoki parfait yang ia pesan. Matanya melebar saat sendok pertama memasuki mulutnya. Lalu sendok kedua, ketiga, dan tanpa sadar Elsword sudah memegangi gelas tersebut sementara satu tangan lagi sibuk menyendok.
"Kau menyukainya?"
Ia mengangguk, tersenyum balik pada Ain yang tersenyum padanya. "Kau harus mencobanya juga, Ain!" Ketika Elsword menyerahkan gelasnya, Ain tidak bergerak sama sekali untuk mengambilnya. Ia hanya diam di tempat, lalu membuka mulutnya.
"Hei, kau serius?" Sambil tertawa, Elsword mengambil satu sendok parfait dan memasukkannya ke dalam mulut kakak kelasnya itu. "Bagaimana?"
"Rasanya memang mengagumkan," Ucapnya, lalu menopang dagunya sambil tersenyum memandangi Elsword, yang sudah kembali sibuk dengan parfait miliknya. "namun yang membuatku terkejut adalah, kau benar-benar menyuapiku."
"Karena kau tidak mau mengambilnya sendiri." Gerutu laki-laki berambut merah itu, mempercepat gerakannya memasukkan parfait ke dalam mulutnya sendiri.
Ia tidak tahu apakah Ain tahu ia sedang menyembunyikan perasaan malunya saja atau tidak. Dan, jujur saja, Elsword tidak ingin tahu. Terutama ketika Ain tertawa pelan seperti itu—pasti menertawakannya.
Elsword meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah menghabiskan parfait di depannya. Ain juga terlihat baru menyelesaikan kopi yang ia pesan. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Duduk saja, aku sedang tidak ingin bergerak." Laki-laki berambut merah itu menempelkan wajahnya di atas meja kaca, menikmati dinginnya benda tersebut di wajahnya sambil mendesah pelan. "Bagaimana pendapatmu tentang film tadi?"
"Your Name, maksudmu?" Elsword menggerakkan kepalanya sedikit, mengatur sedemikian rupa posisinya agar mampu melihat wajah Ain. "Aku tidak menyukainya, tapi tidak membencinya juga. Kurasa biasa-biasa saja. Bagaimana denganmu, Els?"
Langsung saja Elsword menegakkan tubuhnya dan mulai menghitung kembali setiap bagian dari film tersebut—setiap bagian yang memberikan kesan mendalam baginya, yang membuatnya mampu menumpahkan emosinya tepat saat itu juga. Dilihatnya senyum Ain kian melembut saat ia berbicara, membuatnya semakin bersemangat ketika menceritakan film yang baru selesai mereka tonton beberapa menit yang lalu itu.
"Ain," Tiba-tiba saja Elsword berhenti, lalu menatap kakak kelas yang kini duduk di hadapannya. "bagian mana yang membuatmu tidak menyukainya?"
Elsword tahu kalau setiap orang memiliki pendapat yang berbeda, dan Elsword menghargai jika Ain tidak menyukai film yang sepertinya akan menjadi film favoritnya sepanjang masa itu. Ia hanya ingin tahu mengapa Ain tidak menyukainya bahkan setelah Elsword berbicara panjang lebar seperti sekarang.
Dilihatnya wajah Ain berubah kebingungan saat ia memiringkan kepalanya, dan setelah beberapa saat, barulah ia menjawab, "Kurasa aku hanya tidak... bisa menerimanya? Aku tidak tahu. Mungkin karena—" tiba-tiba ia berhenti, menatap Elsword beberapa detik dalam keheningan, lalu tersenyum dan menggeleng. "—tidak, lupakan saja." Mungkin Ain menangkap Elsword yang akan menanyakan sesuatu, karena ia menambahkan dengan cepat, "Aku menemukan sesuatu yang menarik perhatianku, dan mungkin itu yang membuatku tidak bisa fokus dengan filmnya."
"Hah? Apa-apaan itu?" Laki-laki berambut merah mulai tertawa, "Kau melihat perempuan cantik hingga tidak bisa melihat filmnya?"
Ain meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri dan mengedipkan satu matanya. Tidak mau bicara, rupanya.
"Yang tidak kumengerti adalah," Ain memiringkan kepalanya lagi, menatap Elsword dengan satu alis terangkat. "kenapa kau menyimpulkan yang kulihat adalah seorang perempuan?"
Setelah mengedipkan manik merahnya beberapa kali, Elsword mengerutkan keningnya, "Eh? Entahlah? Bukankah selalu seperti itu—kalau ada yang menarik perhatian laki-laki, pastinya perempuan?"
Ain mulai tertawa, "Perempuan, ya?" Setelah beberapa saat, barulah laki-laki berambut perak itu menghentikan tawanya dan tersenyum pelan. "Akan kubiarkan kau berpikir seperti itu."
Yah, apapun itu, mungkin Elsword sedikit iri pada apapun yang bisa menarik perhatian Ain seperti itu.
Menyingkirkan perasaan anehnya, Elsword langsung berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Bagaimana kalau kita kembali sekarang? Atau ada tempat lain yang ingin kau kunjungi, Ain?"
"Aku baik-baik saja, kurasa." Kakak kelasnya ikut bangkit dari tempatnya. "Tunggulah di luar, aku akan membayarnya."
"Kalau begitu aku—"
Ain menghentikannya. "Aku yang mengajakmu ke sini, dan tadi kau terlihat tidak senang." Senyumnya mengembang—sekali lagi mampu membuat degup jantungnya tidak karuan. "Lagipula, kalau kau menyukai parfaitnya, Els, setidaknya uang yang ku keluarkan tidak akan pergi dengan percuma."
"Seharusnya kau katakan itu untuk pasangan kencanmu." Gerutu Elsword, yang kini menundukkan wajahnya dan berharap Ain tidak melihatnya dengan wajah memerah. Kalimatnya hanya disambut dengan tawa dari Ain. "Aku akan mengganti uangmu nanti."
"Tidak perlu, Els. Tunggu aku di luar, oke?"
Setelah jawaban setengah hati dari Elsword dan tawa dari Ain, Elsword melangkah keluar dari kafe sementara Ain pergi ke tempat pembayaran. Ia mengabaikan salam dari pelayan yang menyertai kepergiannya, mengingat ia tidak akan kembali ke tempat ini lagi. Di luarpun ia tidak melakukan apapun—hanya menyandarkan punggungnya di dinding bercat jingga (astaga, warna mengerikan macam apa itu?) sementara memandangi orang-orang yang berjalan melewatinya. Tentu saja ia menerima pandangan aneh dari beberapa orang, yang membuatnya harus menaikkan tudung dari jaket yang ia kenakan. Baru saja ia ingin mengecek waktu, ia teringat bahwa ia tidak mengenakan jam tangan hari ini—bahkan ponsel-pun tidak ia bawa. Pasti karena terburu-buru, ia hanya mampu mengambil dompet di atas mejanya. Bahkan dirinya yang ingat untuk menyimpan kartu keretanya di dompet saja sudah merupakan keberuntungan yang besar.
Mendesah pelan, Elsword memasukkan tangannya ke dalam kantung jaketnya dan mendongak menatap langit-langit. Pembicaraan sebelumnya kembali memasuki kepalanya; apa yang bisa menarik perhatian Ain hingga ia tidak terfokus pada film barusan?
Setelah dipikir kembali, Elsword bahkan tidak tahu apa—atau siapa—yang disukai oleh Ain. Ain selalu mengikutinya jika Elsword mengajaknya pergi ke suatu tempat, dan selalu bersikap netral akan apapun. Elsword tidak tahu apa yang disukai dan tidak disukai Ain. Elsword bahkan tidak tahu kapan ulang tahun Ain—
Minimnya pengetahuan Elsword tentang kakak kelasnya itu membuatnya frustrasi.
Kalaupun Elsword bertanya, apa yang akan Ain katakan nanti? Akankah ia mengatakan kalau Elsword terlalu mencampuri urusannya? Terlalu ingin tahu? Dan kalaupun—sekali lagi, kalaupun—Ain mau menjawab pertanyaannya, jawaban apa yang harus Elsword berikan ketika Ain bertanya kenapa Elsword ingin tahu?
"Kau terlihat seperti cemburu ketika dia berbicara dengan pelayan barusan. Kau yakin ini bukan kencan?"
...Dan kenapa ia teringat dengan kata-kata Add disaat seperti ini? Lagipula, kapan Add melihatnya hingga bisa berkata seperti itu?
"Cemburu, ya?"
Baiklah, mungkin memang ada perasaan seperti itu dalam dirinya. Ain orang yang baik—sangat baik, malah, kakak kelasnya yang satu itu. Elsword hanya menginginkan yang terbaik untuk Ain; bisa saja orang lain memanfaatkan kebaikan Ain andai Elsword tidak memperhatikan. Hal terakhir yang ingin Elsword lihat adalah wajah terluka Ain ketika seseorang mengkhianatinya. Tidak, Elsword tidak akan membiarkan itu terjadi—
Hingga tiba-tiba pandangannya menggelap, dan ia merasakan tubuhnya digerakkan hingga ia tidak lagi bersandar pada dinding, melainkan pada tubuh seseorang. Meski Elsword berusaha untuk melepaskan tangan orang itu dari matanya, orang yang menutup matanya seolah enggan untuk bergerak.
"Tebak siapa?"
Bahkan dari suaranya, Elsword tidak perlu bersusah payah untuk menebak—"Apa yang kau lakukan, Ain?!"
Ketika pandangannya kembali, buru-buru Elsword berbalik dan menatap tajam pada kakak kelasnya, yang masih tertawa. "Wajahmu terlihat serius sekali barusan." Senyumnya masih tersisa saat ia berhenti tertawa, "Apa yang kau pikirkan?"
Elsword mengalihkan pandangannya, tangannya terlipat di depan dada. "Bukan apa-apa."
"Apa kau marah? Maafkan aku, Els—"
"Tentu saja aku tidak marah." Laki-laki berambut merah itu menoleh pada kakak kelasnya dan tersenyum, sejenak merasa bersalah begitu melihat wajahnya yang memelas. "Bagaimana kalau kita pergi ke arcade itu? Kurasa karena Add tidak ingin pergi bersama kita, kita hanya bisa pergi berdua."
Ain mendesah pelan, kemudian kembali tersenyum. "Apa kau ingin pergi dengannya? Temanmu itu."
"Add, maksudmu?" Ia mengangkat bahu. "Kalau dia ingin ikut, tentu saja. Sayangnya dia langsung pergi dengan Ara barusan." Senyum Elsword mengembang lagi. "Kuharap kau tidak keberatan menempel denganku lebih lama, Ain."
"Tentu saja aku tidak keberatan."
Elsword mengatakan itu hanya untuk bercanda, tentu saja. Namun dari cara Ain mengatakannya dengan cepat dan tegas, harus ia akui, cukup untuk membuat jantungnya berhenti sejenak.
(Kenapa ia harus tersenyum seperti itu ketika mengatakannya?)
"Elsword?"
Cepat-cepat Elsword menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa. Kau tahu tempatnya?"
Kakak kelasnya itu tertawa. "Tentu saja. Aku sempat melihat denah tempat ini sebelum kita ke bioskop." Ia menoleh ke sekitar, seolah tengah mencari sesuatu, dan tiba-tiba saja mengulurkan tangannya ke arah Elsword. "Tempat ini sudah mulai ramai. Bagaimana kalau kita berpegangan tangan? Agar tidak terpisah, maksudku. Kau tahu, akan sulit kalau kita—"
"Tentu saja, Ain. Tentu saja." Ucapnya sambil tertawa, lalu menggenggam tangan yang terjulur padanya.
Tangan yang sedikit lebih besar dari miliknya, tangan yang jauh lebih hangat.
Tangan yang mungkin, suatu saat nanti, tidak akan bisa ia genggam dengan bebas seperti ini.
Ia tidak mampu melepaskan pandangannya dari punggung Ain di depannya. Tangan yang menggenggam tangan miliknya sendiri terasa semakin mengencang, namun tidak sampai di titik yang menyakitkan untuknya. Sebuah perasaan yang aneh, memang, yang mampu membuatnya tidak ingin melepaskan tangan itu.
Lalu terpikir olehnya; mungkinkah Ain hanya melihatnya sebagai seorang adik?
Elsword memang tidak tahu apapun tentang keluarga Ain, namun ia bisa melihat kakak kelasnya itu sebagai seorang anak tunggal. Mungkin ia menginginkan seorang adik, dan Elsword—yang memang benar-benar memiliki seorang kakak—adalah sosok yang tepat bagi Ain; tidak bisa ditinggal begitu saja.
Ya, genggaman seperti ini pastilah genggaman seorang kakak yang tidak ingin melepaskan adiknya.
"Tidak apa-apa, kurasa."
"Ya?"
Ketika Ain menoleh ke arahnya, Elsword hanya mendongak dan tersenyum. "Bukan apa-apa."
Ya.
Menjadi sosok seorang adik untuk Ain tidak terdengar buruk juga.
Tidak terdengar...
...
.
.
.
.
"Elsword?"
Ketika mendongak lagi, Elsword melihat Ain telah menghadapnya sepenuhnya. Tangannya juga telah dilepas dari tangannya, dan kini beristirahat di atas dua bahu Elsword. "Kau benar-benar baik-baik saja?"
Ah, ia pasti melamun lagi. Elsword benar-benar harus menghentikan kebiasaan tidak menyenangkan itu—Ain terlihat benar-benar khawatir sekarang.
"Ya, tentu saja." Ia mencoba tersenyum. Sebelum Ain mampu mengatakan apapun lagi, ia mengintip ke belakang punggung kakak kelasnya itu. "Kita sudah sampai?"
"Ya, tapi kalau kau merasa tidak enak badan—"
"Aku baik-baik saja, Ain." Meski merasa tidak enak menyela perkataan Ain, Elsword harus meyakinkannya bahwa ia benar-benar baik-baik saja. "Bagaimana kalau kita bertanding?"
Ain masih terlihat tidak yakin, namun akhirnya ia hanya menggeleng. "Kalau kau berkata begitu." Ketika mengangkat kembali kepalanya, laki-laki berambut perak itu telah kembali tersenyum. "Koin—"
"Aku yang akan membelinya." Elsword berkacak pinggang. "Kau sudah membelikanku parfait, kini giliranku untuk membeli koin untuk kita berdua. Setuju?"
"Apa kau memberikanku pilihan lain?"
"Tentu saja tidak!"
"Sudah kuduga." Sambil mendesah pelan, Ain mengangkat bahunya. "Aku akan menunggu di sini, kalau begitu."
"Aku akan segera kembali!" Buru-buru ia berlari ke arah tempat yang—menurutnya—adalah tempat pembelian koin. Beruntung bagi Elsword tempat itu cukup ramai, sehingga ia tidak perlu terburu-buru kembali ke tempat Ain.
Dan tidak, Elsword tidak melarikan diri.
Mungkin pikiran anehnya sebelumnya benar-benar mengganggunya hingga ia tidak mampu melihat Ain sekarang. Lagipula, pikiran macam apa itu? Kenapa tiba-tiba bisa muncul dalam kepalanya seperti itu?
Memang ada yang salah dengannya.
Mendesah pelan, Elsword mengamati bagaimana orang-orang yang berada di depannya hampir semuanya tidak seorang diri; ada yang bersama pasangan mereka, adapula orangtua yang bersama anak-anak mereka, dan, bersyukurlah Elsword, ada yang seorang diri seperti mereka. Setelah dilihat kembali, tempat ini ternyata cukup ramai juga—bahkan ada permainan yang belum pernah Elsword lihat di arcade di Velder. Tempat ini lumayan juga, rupanya. Mungkin ia harus mengajak Ain—atau siapapun, tidak harus Ain, sial!—datang ke tempat ini lagi lain kali.
Ketika tiba gilirannya, ia disambut oleh seorang wanita yang terlihat cukup ramah; mungkin usianya sekitar dua sampai tiga puluh tahunan? Rambut pirangnya dikuncir cukup tinggi, dan cara bicaranya juga penuh semangat ketika ia menanyakan jumlah koin yang hendak Elsword beli.
"Apakah anda bersama kekasih anda?"
Mungkin pertanyaan itu hanya untuk berbasa-basi, namun cukup untuk membuat Elsword kehilangan komposurnya sekali lagi. "B-Bukan urusanmu!"
"Tidak apa-apa, saya mengerti!" Wanita itu—yang baru Elsword ketahui sebagai Ariel dari plat nama yang ia gunakan—berkata sambil tertawa. "Wajah anda terlihat seperti seseorang yang baru masuk ke dalam family-zone. Saya mengerti, tentu saja—adik saya sering sekali pulang ke rumah dengan wajah seperti itu!"
Wajahnya semakin memerah. "I-Itu—"
"Terima kasih sudah memesan koin! Kami harap anda bersenang-senang di sini!" Wanita itu meletakkan dua kantung koin yang cukup banyak di depan Elsword. Kemudian ia menambahkan lagi, kini dengan suara yang lebih kecil. "Dan semoga beruntung!"
Elsword tidak menghabiskan waktu lama untuk mengambil koin tersebut dan berjalan pergi, tentu saja. Ia masih mendengar tawa perempuan menyebalkan itu di belakang—ingatkan Elsword untuk mengisi surat keluhan terhadap perempuan itu nantinya!
"Elsword, kau—apa yang terjadi?"
"Bukan apa-apa. Hanya berbicara dengan penjual koin yang menyebalkan." Ia menyerahkan salah satu kantung koin kepada Ain, yang masih menatapnya kebingungan. "Sebaiknya kita lupakan saja orang itu dan langsung bertanding. Bagaimana?"
Ain memandanginya sebentar, dengan tatapan yang tidak mampu Elsword ketahui artinya. Setelah beberapa saat, laki-laki berambut perak itu mendesah dan bergumam, cukup keras hingga Elsword mampu mendengarnya—bahkan di tengah keramaian tempat itu. "Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, kau bisa mengatakannya padaku."
"Tentu saja, Ain. Terima kasih sudah mengatakan itu." Elsword tersenyum balik pada kakak kelasnya. Tangannya terjulur, hendak meraih tangan Ain, sebelum terhenti di tengah jalan dan kembali ke sisi tubuhnya. "Sebaiknya kita mulai darimana?"
Ia melihat manik hijau Ain berkedip beberapa kali, sebelum, "Ah, bagaimana dengan yang itu?"
Elsword tahu kalau Ain hanya asal menunjuk—dan Elsword memutuskan untuk mengikuti saja. Mereka mencoba setiap permainan yang mereka lihat, menghitung siapa yang paling banyak mendapatkan poin dalam setiap permainan.
Elsword tidak bisa menyanggah terdapat atmosfir berat di antara mereka, meski mereka tetap tersenyum dan tertawa—seperti terdapat sebuah dinding yang tidak bisa ditembus di antara mereka.
"Oh, mereka memiliki itu, ternyata." Mengikuti pandangan Elsword, Ain mampu melihat tatapannya telah terpaku pada mesin capit yang menempel di dinding yang berada hampir di sudut ruangan.
"Kalau tidak salah, kau pernah bilang kau cukup hebat dalam mesin capit, bukan?" Ain tertawa pelan. "Karena kakakmu sering memaksamu mengambil mainan dari sana."
"K-Kau tidak perlu mengingat hal memalukan seperti itu!" Elsword memang pernah tidak sengaja menceritakan hal itu pada Ain, entah apa yang saat itu mereka bicarakan. Menahan rasa malunya, Elsword mengeluarkan dua buah koin dari kantungnya sendiri dan berjalan ke arah mesin tersebut. Ia merasakan Ain mengikutinya, berjalan agak jauh di belakangnya. Mengabaikan perasaan tidak enak di dalam dirinya, Elsword memasukkan dua koin yang sudah ia siapkan dan memasukkannya ke dalam mesin.
Setidaknya mesih itu berhasil memberikan Elsword sedikit ketenangan dan membuatnya mampu melupakan masalahnya sejenak, dengan pikirannya yang terfokus pada mesin di hadapannya. Matanya memperhatikan tiap hadiah yang ada di balik kaca—yang, baru Elsword sadari bukanlah hal yang cukup penting; hanya beberapa perhiasan kecil yang mungkin disukai perempuan, namun apa daya mesin sudah menelan dua koin miliknya—sementara satu tangan sibuk menggerakkan tuas dan satu lagi bersiap untuk menekan tombol merah. Beberapa detik penuh ketegangan berlalu, barulah laki-laki berambut merah itu menekan tombol yang sewarna dengan rambutnya, memperhatikan cakar besi di dalam mesin membuka dan jatuh, memungut dua buah gelang berwarna hitam dan menyeret diri kembali ke udara, membawa serta hadiah yang Elsword dapatkan.
Denting mesin dan sesuatu yang berhantaman mengisi telinga Elsword, dan dengan bangga laki-laki berambut merah itu berjongkok di depan slot hadiah. Tangannya mengeluarkan dua buah gelang yang barusan ia dapatkan, lalu ia berbalik dan menunjukkannya pada sang kakak kelas yang sejak tadi memperhatikan. "Lihat? Aku bahkan dapat dua!"
Ain memperhatikan hadiah di tangan Elsword dengan mata yang berbinar, lalu ia menepuk tangannya dengan cepat. "Kau memang hebat. Harus kuakui itu."
"Kurasa memang tidak ada yang lebih hebat dalam permainan ini daripada aku. Kau bisa pastikan itu, Ain!" Elsword mengambil salah satu gelang bertali hitam dengan sebuah hiasan berwarna biru dengan bentuk aneh di tengahnya, kemudian ia menjulurkannya pada Ain. "Sebagai kenang-kenangan hari ini dariku, kau bisa menerima ini."
Sekali lagi diperhatikannya gelang yang kini terjulur ke arahnya, lalu ia mendongak pada Elsword. "Kau yakin?" Dan ketika yang ditanya mengangguk, Ain terlihat begitu bahagia saat ia menerima gelang tersebut. Seperti seorang anak kecil, ia mengangkat benda itu dan memperhatikannya dengan saksama. Hei, bahkan Elsword sendiri bisa ikut merasa bahagia ketika Ain terlihat seperti itu, bukan?
"Boleh aku menggunakannya sekarang?"
Elsword berkedip beberapa kali. "Eh, tentu saja. Itu milikmu sekarang."
Kakak kelasnya menggumamkan terima kasih, masih dengan suara bahagia yang agak tertahan. Ia menarik lengan kanan jaket hitamnya yang panjang, menampilkan kulit pergelangan tangannya yang pucat, dan mulai berusaha memasangkan gelang tersebut di tangannya. Ketika melihatnya agak kesulitan, Elsword berjalan mendekatinya dan mengambil gelang tersebut dari tangan Ain. Dengan mudah, ia memasangkan gelang tersebut di pergelangan tangan kakak kelasnya.
Elsword mendongak, memberikan gelang miliknya sendiri pada Ain, "Maukah kau membantuku memasangkannya juga?"
Dan Ain menerimanya dengan senang hati. Elsword menjulurkan lengan kirinya, dan Ain memasangkan gelang yang sama persis dengan miliknya sendiri. Elsword memperhatikan bagaimana Ain bergerak dengan sangat hati-hati, seolah gelang yang ada di tangannya adalah benda yang sangat rapuh.
Butuh beberapa detik bagi Elsword untuk menyadari bahwa Ain sudah melangkah mundur. Buru-buru ia berusaha menarik napas, merasakan kepalanya mulai terasa ringan setelah menahan napas terlalu lama. Manik merahnya mulai beredar lagi, mencari sesuatu untuk mencairkan suasana yang aneh di antara mereka—"Oh! Bagaimana kalau kita bermain menembak di sana?"
Ain mengangguk pelan. "Kurasa itu bukan ide yang buruk."
Ketika Elsword berbalik, hendak berjalan ke arah yang ia tunjuk sebelumnya, tiba-tiba saja Ain memanggilnya kembali. Menoleh, ia melihat kakak kelasnya tengah memandangnya dengan serius. "Ada apa, Ain?"
"Tanganmu." Ia menjulurkan tangannya sendiri. "Boleh aku menggenggamnya?"
Ia merasakan napasnya tertahan di tenggorokannya sendiri, terutama melihat wajah Ain yang begitu serius. Tanpa sadar ia menjulurkan tangannya sendiri, membiarkan Ain menggenggamnya dengan begitu erat. Sebuah senyum lega muncul di wajah kakak kelasnya, dan sebuah bisikan terdengar dalam telinga Elsword, "Syukurlah, aku masih boleh menggenggam tanganmu. Kukira kau membenciku."
(Berpikir—berpikirlah, Elsword! Mana mungkin ada kakak yang ingin adiknya menghilang di tengah keramaian seperti ini—ya—ya! Begitu! Tidak mungkin lebih!)
"Ayo, Elsword?"
Yang ditanya hanya bisa mengangguk, tentu saja, dengan wajahnya yang kini merah gelap sementara laki-laki yang lebih tua darinya mulai menariknya ke tempat tujuan mereka. Elsword benar-benar bersyukur tempat ini diisi dengan lampu-lampu berwarna merah—apa jadinya nanti kalau Ain melihat wajahnya sekarang?
Bahkan ketika mereka mulai mengisi mesin dengan koin, Elsword hanya mampu mengintip Ain dari sudut pandangannya. Satu hal yang ia syukuri adalah Ain tidak lagi terlihat muram seperti sebelumnya, dan setidaknya itu membuatnya merasa agak lebih baik. Elsword memegang pistol yang terhubung dengan mesin miliknya sendiri, masih memperhatikan layar ketika ia berkata, "Yang berhasil menembak lebih banyak tanpa mati terbunuh dia yang menang."
Elsword mendengar Ain tertawa—dan nyaris, sekali lagi, nyaris saja rasa percaya dirinya untuk menang luluh oleh ketenangan dalam suara Ain. "Aku tidak akan kalah, kalau begitu."
Permainan-pun dimulai. Satu demi satu monster mulai melompat dari segala arah, dan Elsword harus menyingkirkan perasaannya demi berkonsentrasi penuh dalam permainan. Senyum mengembang ketika melihat poinnya dan poin Ain terus berusaha saling membalap. Seruan penuh semangat mengalir ketika stage terus berpindah dari satu ke selanjutnya.
Ia tidak tahu berapa lama mereka terus bermain. Ia bahkan tidak menyadari bahwa mereka berdua telah mengumpulkan beberapa penonton di belakang mereka, ikut terhanyut dalam permainan mereka. Hanya suara peluru yang tertembak dan pistol yang kembali terisi oleh amunisi mengisi telinga keduanya, serta keinginan untuk menang mengisi kepala kedua pria yang menggenggam pistol.
Elsword terus mengarahkan pistolnya pada layar dan menembak, mengintip dari sudut matanya hanya untuk melihat poin dan amunisi yang tersisa. Mungkinkah ia kehilangan fokusnya karena rasa bangga melihat poinnya yang berada jauh di depan Ain? Hal itu mungkin menjadi salah satu alasannya—
Ketika ia kembali melihat ke layar, sebuah monster sudah menerjang ke arahnya.
Elsword tahu waktu yang ia butuhkan untuk mengarahkan pistolnya dan menembak tidak akan cukup. Meski poinnya jauh di depan Ain, ia akan kalah di sini—
"Bukankah selalu kukatakan untuk lebih memperhatikan dirimu sendiri, Els?"
Manik merah melebar ketika monster di hadapannya meledak berkeping-keping—Ain telah mengarahkan pistolnya sendiri kepada monster yang hendak memusnahkan nyawa karakter Elsword. Meskipun tembakannya belum berhenti, Ain melanjutkan kalimatnya, "Terkadang aku berpikir kalau kau memang tidak bisa melakukan apapun tanpaku."
Kalimat itu.
Elsword tidak mengerti mengapa Ain memilih kalimat itu.
Elsword tidak mengerti mengapa—
Mungkin Ain melihat gerakan Elsword yang berhenti sepenuhnya, hingga ia menoleh pada Elsword. "Ada ap—Elsword?"
Elsword tidak mengerti mengapa air matanya enggan berhenti mengalir.
"Elsword? Kau baik-baik saja? Ada apa?"
Ain membawanya menjauh dari mesin permainan, bahkan menaikkan tudung dari jaket Elsword hingga menutupi wajahnya ketika orang-orang mulai memperhatikan mereka. Mereka sampai di sebuah tempat yang sepi, dan Ain membimbing Elsword untuk duduk di salah satu bangku yang kosong. Mereka tidak memperhatikan orang-orang yang awalnya memperhatikan mereka tak lagi melihat, bahkan beberapa orang yang duduk di tempat itu perlahan meninggalkan tempat duduk mereka.
Di satu sisi, Elsword tidak mengerti—mengapa kalimat itu membuatnya merasa seperti ini? Ini seharusnya pertama kalinya Elsword mendengar kalimat itu dari Ain, tapi ia merasa—
Ia merasa pernah mendengar Ain mengucapkan kalimat itu sebelumnya.
Dan setelah mengucapkan itu, ia merasa kosong.
Kosong, seperti sesuatu yang sangat besar menghilang dalam dirinya. Seolah seseorang mengambil sebagian dari tubuhnya dan meninggalkannya begitu saja dengan lubang yang menganga.
Perasaan yang menyedihkan—perasaan yang tidak ia sukai.
Ia menggenggam tangan Ain yang berada di sebelahnya—Ain ada di sebelahnya sekarang. Ain tidak pergi kemanapun. Kenapa—kenapa setelah Ain mengucapkan kalimat itu—
"Apa—apa kau akan pergi ke suatu tempat?"
"Elsword?"
Ia merasa Ain akan menghilang andai ia melepaskan tangannya.
Ia merasa akan melupakan Ain. Ia merasa Ain akan menghilang dari hidupnya andai ia melepaskan tangannya sekarang.
"Jangan pergi."
Ia tidak tahu mengapa perasaan itu muncul—rasa takut akan kehilangan Ain.
Rasa sakit, rasa kesepian, semua bercampur menjadi sebuah adonan yang tidak menyenangkan, mengancam akan menghancurkan dirinya dari dalam.
"Kumohon, jangan pergi kemana-mana."
Ain tidak pergi kemanapun.
Hanya diam di sisinya, menggenggam tangannya seerat Elsword menggenggam tangannya sekarang.
Dan meskipun Elsword tidak melihat wajahnya, terhalang oleh air matanya yang masih tidak ingin berhenti, ia merasakan Ain mengangguk.
"Aku tidak akan pergi."
Untuk suatu alasan, Elsword tahu—
"Aku... tidak akan pergi."
Bahwa Ain berbohong padanya—
.
.
.
.
Langit telah berubah gelap ketika mereka sampai di Velder.
Elsword masih enggan mendongak untuk menatap Ain, dan Ain tidak mengatakan apapun sepanjang perjalan dari Elder hingga Velder. Hanya tangan mereka yang masih saling menggenggam menjadi satu-satunya hubungan mereka, serta atmosfir menyedihkan yang membuat orang-orang memalingkan wajah dari kedua orang tersebut.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Ketika mendengar Ain bertanya, Elsword hanya mengangguk singkat. Benaknya masih terasa berkabut oleh perasaan tidak menyenangkan yang masih tersisa dalam dirinya.
"Kenapa... kau menyebutku seorang malaikat?"
Kini Elsword tidak mampu menahan dirinya untuk menatap Ain—Ain bahkan tidak menatap ke arahnya sama sekali. Barulah teringat olehnya percakapan aneh mereka di kereta, tentang malaikat dan Elsword yang menyebut Ain sebagai seorang malaikat—
Jawaban pertama Elsword saat itu mungkinlah seperti ini; karena Ain terlihat tampan. Seolah ia tidak berasal dari bumi, melainkan dari suatu tempat yang jauh di atas sana.
Namun kini jawabannya telah berubah—tentu ia masih berpikir bahwa Ain memiliki wajah yang atraktif, namun bukan hanya itu—
"Aku memiliki perasaan bahwa Ain selalu memperhatikanku dari jauh."
Perasaan yang aneh—seolah Ain berada di sisinya, namun di saat yang sama, seolah Ain hanya memperhatikan dari jauh.
Seperti seorang malaikat penjaga.
Langkah mereka berdua terhenti, dan Elsword menyadari bahwa inilah tempat mereka biasa berpisah. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berusaha untuk melepaskan genggaman tangan mereka—seolah pada saat itu, pikiran mereka menjadi satu,
Aku tidak ingin semua ini berakhir.
Elsword hanya mampu berharap bahwa Ain berpikiran sama sepertinya.
"Kalau aku adalah seorang malaikat, bukankah itu menyedihkan?"
Menoleh, Elsword kembali melihat ekspresi itu di wajah Ain—wajah seseorang yang putus asa oleh rasa sepi, wajah yang tidak pernah ingin Elsword lihat untuk kedua kalinya.
"Bukankah itu berarti aku berbeda darimu, Elsword?"
Barulah kakak kelasnya menoleh padanya, senyum dipaksakan mengembang di wajahnya—begitu menyedihkan hingga yang ingin Elsword lakukan adalah memalingkan wajahnya.
Namun ia tidak melakukannya—tidak, meskipun wajah itu membuat perasaannya kembali tidak karuan oleh rasa sakit.
Tiba-tiba saja Ain mengencangkan genggamannya, bahkan dengan kekuatan yang membuat Elsword terkejut. "Sekali lagi, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Elsword tidak mampu menjawab, bahkan ketika Ain melanjutkan kalimatnya, "Andai saja aku pergi dan kau melupakanku seperti dalam film barusan, akankah kau mencariku?"
(...Apa?)
"Akankah kau berusaha mengingatku?"
"Kenapa—"
Ia bahkan tidak mampu lagi melihat wajah Ain—perasaan sedih yang sebelumnya muncul secara tiba-tiba kembali mengamuk dalam dirinya. Kali ini ia lepaskan tangannya dari tangan Ain, dan dengan tangan itu ia mulai berusaha menghapus air matanya dengan pergelangan tangannya.
Tidak adil.
Tidak adil kalau Ain bersikap seperti itu.
"—apa—apa kau benar-benar akan pergi ke suatu tempat?! Kau akan meninggalkanku di sini?!"
"Tolong, Elsword. Tolong jawab pertanyaanku."
"Tidak mungkin aku bisa menjawabnya!"
Jangan—jangan meminta hal yang bodoh. Membayangkan Ain pergi? Hal seperti itu—
"Aku tidak mungkin melupakanmu!" Ia bahkan tidak mampu menahan suaranya agar tidak berteriak. Perasaannya benar-benar tidak mampu ia kendalikan sekarang—"Kalau—kalau kau benar-benar pergi, aku akan berusaha mengikutimu! Kalau aku melupakanmu, aku akan terus berusaha mengingatmu! Bahkan kalau perlu, aku akan menulis namamu di seluruh tubuhku agar aku tidak melupakanmu lagi! Karena aku—"
Elsword tidak mampu melanjutkan kalimatnya—bahkan kalaupun ia mau.
Karena ketika ia menyadarinya, Ain telah kembali menggenggam kedua tangan yang sebelumnya menutupi wajahnya.
Sepasang bibir yang lembut telah menempel dengan bibirnya sendiri—perlahan, dengan ragu-ragu, seolah menyentuh sesuatu yang sangat lemah dan mudah hancur.
"Terima kasih,"
Bibir itu bergerak sekilas saat bibir mereka bertemu, namun kalimat itu butuh waktu yang sangat lama hingga mampu sampai ke dalam kepala Elsword.
Bahkan hingga jarak kembali di antara mereka, ketika Ain telah melepaskan genggamannya, Elsword masih terpaku di tempatnya, memandang kakak kelasnya yang kini enggan menatapnya.
"Aku—aku melakukan hal yang kupikir tepat." Suara Ain terdengar gugup—ataukah begitu? Jujur saja, Elsword sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi sekarang. "Aku—sampai jumpa besok, Elsword."
Hal yang pertama Elsword lakukan setelah Ain menghilang di ujung jalan adalah menyentuh bibirnya sendiri. Lalu ia menyentuh pipinya dengan pelan, dan menampar dirinya sendiri dengan sepenuh tenaga.
Sakit.
Sentuhan asing di bibirnya juga masih ada. Hangat. Manis.
Bukan mimpi.
Bukan mimpi.
Bukan—
(Hal yang Elsword lakukan selanjutnya adalah hal yang paling wajar yang pernah ia lakukan sebelumya—ia berlari. Berlari ke rumahnya dengan sepenuh tenaga dengan wajah yang kini sewarna rambutnya.)
.
.
.
.
.
to be continued
Udah di klimaks Act-1, yey! Chapter 3 selanjutnya adalah bagian terakhir dari Act-1 aka opening, dan saya harap chapter ini bisa memberikan sedikit insight kedalaman hubungan *ohok* Elsword dan Ain, juga apa yang akan terjadi di chapter 3 nanti uwu
(tbh saya syok nulis ini 23 halaman full, dan isinya homo semua. Damn, inikah yang mereka sebut dekadensi?)
Di chapter ini juga banyak menyenggol fandom-fandom sebelah; Your Name. (aka film yang lagi kekinian), Angel Beats (keliatan dari judul chapter ini juga), dan sampai kancolle dan touken ranbu (yah, kalau ada yang sadar sih wwww). Kalau boleh jujur, judul fanfic ini juga muncul dari adik saya yang suka nyanyi lagu Tsukiuta. yang judulnya Yumemigusa, yang artinya kurang lebih judul fanfic ini, dan saya dapet ide setelah mendengar adik saya sering menyebut bagian itu. Folder yang isinya draft fanfic ini juga saya kasih nama yumemigusa, tbh hhhaahahhaha
Chapter ini sedikit panjang—oke, sebenarnya panjang banget—dan atmosfir juga agak acak-acakan menurut saya. Namun saya berharap reader bisa menikmati chapter ini seperti saya menikmati menulis chapter ini wwwwww
Untuk anonim 'owo'; terima kasih review-nya yaa, dan terima kasih udah ngikutin bahkan fanfic baru saya ini wwwww. Dan kapan update; ini dia update chapter 2 :"") terima kasih juga buat 'ganbatte'-nya, that helped me a lot!
Terakhir,
Terima kasih juga untuk semua pembaca yang mau membaca fanfic ini; yang mem-follow, me-review, juga silent reader, i really appreciate all of you guys! You guys are the reason I could keep writing this long-ass piece. Serius, saya harap anda semua bisa tahan karena fanfic ini akan sangat, sangat, sangat panjang.
Mungkin.
Sekian dari saya, and see you again in the next chapter! As I have stated before; nanashimai owns and gains nothing from this! uwu
/guling
