Shota Yankee

Chapter 2

Konnichiwa minna-san! w Yui si author amatir meng-update fic nya! Oho, chapter ini pun sepertinya bakal gaje ==" oh, ya, hanya memberitahu, walau terlihat Len x Gumi atau mungkin Oliver x Rin (di chapter depan mungkin?) main pair fic ini tetap Rin x Len kok =w= soalnya sejak awal saya udah netapin gitu

Yosh!

Disclaimer: vocaloid bukan punyaku!

Normal POV

"Baiklah-"

Just be friends~ all we gotta do just be friends~

Len cepat-cepat mengambil HP nya begitu mendengar suara HP nya.

"Hhh… ngapain juga si Oliver nge-sms orang…"gumam Len begitu melihat sms dari Oliver, mata Len pun berkilat.

From: Oliver

Kamu lama banget sih? Luka-sensei mulai ngomel tuh. Kamu tau 'kan hukuman Luka-sensei itu super-duper-amat-sangat-banget- atau apalah itu berat?

"Woi, lanjut yo'"Rin ngajak.

"Maaf deh, lain kali aja! Kata Oliver si Luka-sensei sudah ngomel gara-gara kita lama. Berabe nanti kena hukumannya Luka-sensei! Luka-sensei tuh dikit-dikit hukuman! Aku ketahuan makan pisang aja disuruh bersihin kolam renang!"Len curhat.

"Trus?"Rin nyolot.

"Terserah lah! Kalau mau selamat ke kelas, kalau nggak ya diem aja di situ! Bye bye!"Len pun berlari meninggalkan Rin yang masih terdiam.

"Wut? T-tunggu! Len!"

.

"Tuh, 'kan. Apa kubilang… kita dihukum…"kata Len yang sedang mencabut rumput di belakang sekolah bersama Rin karena mereka memang dihukum seperti itu.

"Apa boleh buat! Ini 'kan gara-gara kamu!"

"Loh, kok aku?"

"Iya… kamu pake ngomong hal yang memancingku sih!"

"Hah? Tapi 'kan kamu yang nantang-nantang aku!"

"Terus, kenapa kamu terima, hah?"

"Peduli amat ah! Yang penting ni kerja cepat selesai!"

"Dengan tenaga cowok SHOTA sepertimu? Mana mungkin!"

"H-hei! Aku nggak shota!"

Dua rambut kuning bergender cewek-cowok itu berdebat dengan seru sampai tidak menyadari di depan mereka ada orang yang sedang memperhatikan mereka.

"… hei,"sudah beberapa kali orang itu, Oliver, memanggil Rin Len, tapi orang yang dipanggil nggak sadar juga.

"Hei,"

"Ah! Kamu sendiri pendek…"

"Aku 'kan cewek, jadi wajar! Daripada kamu cowok!"

"Hei,"

"Tapi ada 'kan cowok lain yang lebih pendek dariku!"

"Siapa, hah?"

"WOIII KALIAN DENGAR GAK SIIHH?!"teriak Oliver emosi.

"Ah, Oliver?"Len melihat Oliver begitu juga dengan Rin.

"Maaf, aku nggak mendengarmu tadi."kata Len. Oliver sweatdrop.

"Oh, ya, ada perlu apa ke sini?"tanya Len.

"Oh, itu, kata Luka-sensei kalian boleh berhenti. Katanya dia kasihan, anak baru di hari pertama kepindahannya sudah dikasih hukuman."kata Oliver."Ng, Rin-chan? Kamu menyibak ponimu ya?"kata Oliver melihat Rin. Len sudah membayangkan Rin akan mengatakan 'bodoh! Sudah tau masih nanya!' tapi ternyata…

"E-eh… ah… ya…"kata Rin sambil menutupi matanya dengan tangannya dan pipinya berubah menjadi warna merah.

'WHAT THE HELL?'

"Ah~ kenapa ditutupi? Rin-chan tampak lebih manis kalau seperti itu~"kata Oliver tersenyum.

"Ah… s-sou ka…"

"APA-APAAN KALIAN!"tiba-tiba Len marah nggak jelas.

"Hah?"Oliver menatap Len dengan heran."Apa masudmu Len?"

"Eh?"Len membalakkan matanya kaget."A-apa yang kulakukan barusan? Kenapa aku marah-marah nggak jelas?"gumam Len sambil memegang kepalanya.

Oliver terdiam sebentar kemudian berkata,"Oh~ aku tau~ Len, kamu itu sebenarnya ce-"

"BUKAN! AKU TIDAK CEMBURU!"teriak Len dengan muka memerah.

"Maksud perkataan tadi, 'Ya, aku sangat cemburu!' begitu?"

"O-Oliver! Sejak kapan kamu jadi menyebalkan begini!"

"Sejak tadi."

Rin yang dari tadi diam terus berkata,"Woi, Len, ke kelas yuk."

"Eh? O-oh! Ayo, tentu saja!"seru Len sambil menarik tangan Rin.

"J-jangan menyentuhku, BAKA!"Rin menepis tangan Len.

"M-maaf…"

'Huahahaha! Akhirnya aku bisa berduaan dengan Rin!'batin Len bahagia.

'Eh?! apa yang kupikirkan tadi? KENAPA AKU HARUS SENANG BERDUAAN SAMA SI KUU YANKEE GAK JELAS INI?!'

"Aku ikut ya~ jangan meninggalkanku sendirian dong~"Oliver muncul tiba-tiba di tengah-tengah Len dan Rin.

'Ah, pengganggu.'batin Len.

'Eh, APATADI?!'

Dan begitulah, sepanjang perjalanan ke kelas Len sibuk bertarung dengan pikirannya sendiri.

"Loh? Oliver, Luka-sensei mana?"tanya Len yang sudah sampai di kelas.

"Tadi sih di ruang guru. 'Kan sudah jam istirahat."

"Hah? Kalau sudah jam istirahat seharusnya kau membawaku ke kantin! Bukan ke kelas!"

"Yang mengajakmu 'kan bukan aku… tapi Rin-chan…"kata Oliver sambil menunjuk Rin.

"Hah! Jadi kamu! Ini semua sa-"perkataan Len terputus saat Rin menatapnya dengan tatapan, 'lanjutkan dan aku akan membunuhmu, urusai.'

Len merinding kemudian berkata, "E-eh… Oliver! Kita ke kantin yuk! Nanti banana shortcake ku keburu habis!"sambil mendorong punggung Oliver (Yui: apa banana shortcake benar-benar ada?)

"Ng, Rin-chan, kau nggak ke kantin?"tanya Oliver.

"Ah, tidak…"

'Apa dia ada masalah?'batin Len.

"K-kenapa? Apa kau ada masalah-"

"Diam, shota. Aku benar-benar akan membunuhmu sepulang sekolah nanti."ancam Rin.

"A-aku akan diam… tolong jangan b-bunuh aku…"ucap Len ketakutan.

"… kau yankee… harusnya kau mengucapkan hal yang terbalik dari kata-katamu tadi… payah…"Rin meremahkan Len.

"Ap-BAIKLAH! AKU NGGAK AKAN DIAM! BAGAIMANA? TERBALIK 'KAN?"teriak Len emosi.

"KAU NGAJAK YA?!"

"YA! AKU NGA-UGH!"

Perkataan Len terputus saat tiba-tiba Rin meninju perutnya.

Prok prok prok.

"Wah,"Oliver tepuk tangan,"Len, biasanya kau bisa menghindar…"

"A-a-aku nggak tahu… m-mungkin… ka-rena aku nyabut r-rumput sama dia t-tadi…"kata Len yang sudah sekarat (author ditendang Len) dengan terputus-putus.

DUK!

Rin menendang kepala Len kebawah.

"Diam. Jangan bicara lagi. Aku benci suaramu."

Len tak berkutik.

Rin kembali ke tempat duduknya kemudian menenggelamkan kepalanya di kedua tangannya dan terdengar suara 'Zzz'.

Oliver rada merinding kemudian menyeret Len dengan susah payah karena Len lebih berat daripada Oliver.

.

.

BRAK!

"APA-APAAN RIN NAKAJIMA ITU!"Len memukul meja kantinnya dengan garpunya. "BERANI SEKALI DIA MENINJU PERUTKU!"teriak Len.

Oliver sweatdrop.

"Tenang, Len, nanti dimarahin sama penjaga kantin loh."kata Oliver measih sweatdrop.

"PEDULI AMAT! PALING PENJAGA KANTIN LEMAH, PAYAH DAN BAKA KAYAK SI RIN!"

"Ada yang memanggilku lemah, payah, dan baka?"

*Gulp*

Len menoleh ke sebelahnya dan mendapati Rin sedang men-death glare nya. Len pun merinding.

"E-eh, b-bukan kok! Maksudku tadi Oliver… bukan kamu…"kata Len gemetar sambil menunjuk Oliver.

"Huks…"

"Eh?"

"Len jahat… jadi temanmu yang sudah bersamamu dari SD ini kau anggap lemah, payah,dan baka…"kata Oliver sambil menahan tangisnya.

"Eh… b-b-bukan begitu… maksudnya…"Len panik.

"Hu-huweee… hiks, jahat, hiks, hueee…"Oliver menangis dengan kawaii.

"B-bukan begitu… dengarkan dulu penjelasanku…"Len tambah panik.

"Kata-katamu seperti seorang cowok yang sedang selingkuh, Len."

"APA KATAMU!"teriak Len.

"Hiks…"

Len menoleh ke Oliver saat mendengar isakkan Oliver lagi.

"Oliver…"Len memeluk Oliver."Aku bukannya mengataimu lemah, payah, dan baka…"

"T-tapi Len, huks, tadi-"

"Itu hanya bercanda, kau menanggapinya dengan serius? Heh,"

"… benar-benar seperti-"

"DIAM KAU RIN!"

"Kau… dari tadi membentakku terus ya?"

"LALU? ADA MASALAH DENGAN ITU?!"

"Hei, NGOMONGNYA NYANTAI DIKIT NAPA!"

Rin dan Len kembali berdebat.

Sedangkan Oliver yang sudah berhenti menangis bengong, kemudian menghadap ke bawah.

"Jadi tadi hanya bercanda…

Syukurlah…"

Oliver tersenyum sambil menghapus air matanya.

"M-maaf..."

"Eh?"

Rin, Len, dan Oliver melihat ke orang yang mengatakan 'maaf' tadi. Cewek berambut hijau pendek yang memakai goggle di atas kepalanya.

"Boleh aku makan di sini? Soalnya sudah tidak ada tempat lagi…"

"Ah, Gumi nee-chan, silakan saja! Aku juga mau duduk kok!"kata Rin sambil duduk di sebelah Oliver kemudian menaruh makanan yang sebenarnya sudah dibawanya sedari tadi di meja.

"Eh? Rin? Sejak kapan kau di sini?"kata Gumi kaget.

"Sejak tadi pagi… Nee-chan tidak menyadarinya?"Rin sweatdrop.

"HEI! TIDAK ADA YANG MENYURUHMU DUDUK DI SITU!"Len teriak nggak jelas tiba-tiba.

"HAH? MAU DUDUK DI MANA JUGA TERSERAH AKU!"

"Rin, sudahlah…"Gumi menjadi penengah di antara Rin dan Len.

"Tapi Nee-chan…"

"Rin,"

"Hmph, baiklah."

"Ehh… kalian kakak-adik?"tanya Oliver.

"Ya… begitulah…"jawab Rin santai.

"Aku Gumi Nakajima, siapa namamu?"kata Gumi.

"Oliver! Salam kenal! Dan yang di depanku ini, Len! Len Kagamine!"kata Oliver ceria.

"Um, halo, Len."sapa Gumi.

"Eh? Ah, halo."

"Boleh… aku duduk di sampingmu?"izin Gumi.

"Oh, boleh, silakan, Gumi."kata Len sambil tersenyum dan menggeser dirinya ke samping.

Deg.

Apa kalian mengira 'deg' tadi bunyi dada Gumi? Tidak, itu… Rin.

'Baru kali ini aku melihat dia tersenyum…'batin Rin.'Tapi sayang itu bukan ditujukan padaku…

eh?'wajah Rin memerah menyadari apa yang telah diucapkannya dalam hati tadi.

'Apa yang kuucapkan tadi…'

"Terima kasih, Len."Gumi langsung duduk di sebelah Len.

"Sama-sama."

"Ah, ngomong-ngomong Len, sepertinya wajahmu mirip dengan Rin ya?"kata Gumi.

"Eh, apa iya?"Len segera melihat Rin untuk melihat reaksinya. Dan sedikit kecewa karena Rin menampakkan wajah yang biasa-biasa saja.

"Iya! Curang banget, aku kakaknya aja nggak mirip!"kata Gumi sambil menggembungkan pipinya. Len hanya tertawa kecil.

.

.

.

"Pelajaran hari ini selesai. Kalian boleh pulang."kata Kiyoteru menutup pelajaran.

"Huaahh! Selesai juga!"Rin meregangkan tangannya.

"Kau… kayaknya lega banget ya?"kata Len yang sedang merapikan bukunya.

"Ya, gitu deh! Semoga saja hari ini nggak ada yang ngajak kelahi, soalnya hari ini aku lelah banget, gara-gara kamu."Rin juga segera merapikan bukunya dengan cepat.

"Hei, ada seseorang disini yang namanya 'kamu'?"kata Len tidak jelas.

"Bodoh."gumam Rin sambil berjalan keluar kelas.

Rin melangkahkan kakinya ke kelas Gumi untuk ngajak pulang bareng.

"Eh? Nee-chan? Maksudmu Gumi?"kata cewek berambut tosca diikat dua yang merupakan teman sekelas Gumi saat mendengar pertanyaan Rin.

Rin menggangguk.

"Gumi, sih, tadi sudah keluar, kayaknya sih dia mau rapat osis."

"Oh, begitu, baiklah, terimakasih."

"Ah, ya, sama-sama."

Karena Gumi sedang sibuk, Rin pun terpaksa pulang sendiri. Rin berjalan dengan tenang keluar sekolahnya menuju rumahnya. Sampai beberapa yankee mencegatnya.

"Hehh… jadi ini ya Rin Nakajima itu…"kata salah seorang dari mereka sambil mendekati Rin.

'Gawat, aku lupa menutup mataku dengan poniku, mereka jadi mengenaliku deh.'batin Rin.

"Manis juga…"kata orang tadi sambil memegang dagu Rin, Rin terkejut kemudian menepis tangan orang itu.

"Jangan sentuh! Kalau mau berkelahi bilang saja!"teriak Rin.

"Oh, baiklah, tapi kalau kalah kau akan menjadi milik kami."kata yankee itu.

"Huh, coba saja…"

.

.

"Hahh… habis jalan ini nanti harus naik kereta… kenapa rumahku jauh amat sih…"keluh Len sambil menghela nafas.

"Ng?"Len mendengar sesuatu."Suara ribut-ribut apa ini? Seperti orang yang sedang berkelahi…"

Tiba-tiba sekelompok yankee berlari dari sebuah belokan. Len merasakan firasat buruk dengan hal ini. Ia berjalan menuju belokan dimana para yankee tadi keluar.

"Rin?!"Len menghampiri Rin yang sedang terduduk dengan keadaan yang berantakan.

"Kau habis kelahi sama yankee-yankee tadi?"tanya Len dengan wajah khawatir.

"Bukan urusanmu."Rin berdiri dengan susah payah. Dan tiba-tiba ia terjatuh begitu saja dengan mata tertutup di tangan Len.

"Rin?"Len memanggil Rin sambil menatap wajah Rin."Pingsan? Ternyata bisa juga cewek kuat seperti dia pingsan…"

"Ah, ketemu! Rin!"seru seseorang yang berada di belakang Len tapi agak jauh dikit.

"Gumi? Kau mencari Rin? Dia lagi pingsan tuh."kata Len sambil menunjuk wajah Rin yang sedang ditidurkan oleh Len sendiri tadi di pangkuannya.

'Eh, PANGKUAN?'tiba-tiba muka Len memerah saat membaca deskripsi author.

"Sudah kuduga ini akan terjadi… untung aku bawa ini…"Gumi mengeluarkan sebuah kaus kaki dari kantungnya yang luar biasa bau. Len menutup hidungnya.

"Sejak kejadian itu kau jadi lemah ya, Rin… padahal dulu kau begitu kuat…"gumam Gumi sambil menaruh kaus kaki itu ke atas hidung Rin.

'kejadian itu? Apa maksudnya?'kata Len dalam hati.

"Huekk…"Rin membuka matanya dan terkejut melihat sebuah kaus kaki berada tepat di depan wajahnya.

"GYAAA! PASTI GUMI NEE-CHAN! NEE-CHAN TOLONG JAUHKAN BENDA ITU!"

Gumi sweatdrop dan menjauhkan kaus kaki itu.

"Nee-chan… aku pingsan lagi ya?"tanya Rin.

"Iya… aku kan sudah bilang jangan berkelahi dulu sampai kondisimu membaik."kata Gumi.

"Kalau aku nggak berkelahi bagaimana aku melindungi diri kalau diserang tiba-tiba seperti tadi?"

"Kau 'kan bisa lari, Rin."

"Tapi itu tidak keren."

"Rin…"Gumi sweatdrop lagi.

"Oh, iya, ngomong-ngomong Nee-chan…"

"Ng?"

"Bantal ini... agak keras ya…"

"Eh?"Gumi bingung.

'Bantal? Bantal apanya? Disini 'kan nggak ada bantal…'batin Gumi masih bingung.

"Berikan aku bantal yang lebih empuk dong…"Rin menghadapkan tubuhnya ke samping. Dan merasa aneh.

"Ini apa?"Rin meraba-raba perut sampai dada Len.

"W-woi! Jangan raba-raba!"

"Hah?"Rin merasakan firasat buruk.

Rin medongakkan kepalanya ke atas. Terlihat wajah Len yang memerah sampai ada keringat sedikit.

"Ukh… h-HENTAAAAAAIII!"teriak Rin sambil segera berdiri dan menjauhi Len dengan wajah memerah.

"H-hei! Teriakanmu bisa mengundang salah paham orang tau!"kata Len sedikit panik.

"APA SIH! KAU PASTI MELAKUKAN SESUATU YANG TIDAK-TIDAK KEPADAKU SAAT AKU PINGSAN TADI 'KAN!"tuduh Rin sambil menunjuk Len.

"TIDAK!"bantah Len tegas."Bahkan kau tidak mempunyai bukti…"

"Nee-chan! Apa dia benar-benar tidak melakukan sesuatu padaku?"tanya Rin kepada Gumi.

"Eh? Ah, nggak tau ya… soalnya aku juga baru sampai tadi…"

"TERNYATA BENAR KAU MELAKUKAN SESUATU PADAKU!"

"JANGAN ASAL MENUDUH!"

"AKU TIDAK MENUDUH! KENYATAANNYA EMANG GITU 'KAN!"

"SUDAH KUBILANG TIDAK! DAN KAU TIDAK PUNYA BUKTI!"

"BUKTINYA TADI KAU MENIDURKANKU DI PANGKUANMU! LALU WAJAHMU MERAH NGGAK JELAS!"

"ITU BUKAN BUKTI! DAN WAJAHMU JUGA MERAH TAU!"

Dan, ya begitulah, Rin dan Len berdebat lagi.

.

.

Rin, Len dan Gumi berjalan bersebelahan setelah perdebatan Rin Len yang panjang tadi. Mereka pulang bareng.

"Kau… beneran nggak melakukan sesuatu padaku 'kan?"tanya Rin lagi dengan wajah serius sambil menatap Len.

"Nggak!"

"Benar?"Rin mendekatkan wajahnya ke wajah Len. Len dengan wajah memerah mundur beberapa langkah dari Rin.

"B-benar kok!"

"Tapi wajahmu merah… mencurigakan…"Rin semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Len.

"Ukh…"Len mulai tidak tahan."B-bodoh! Wajahku 'kan memerah gara-gara kamu deketin wajahmu ke wajahku terus tadi!"

"Eh?"

Wajah Rin ikutan merah karena menyadari apa yang dia lakukan dan segera menjauhkan wajahnya dari Len.

"M-maaf…"

"Ng-nggak apa-apa…"

Gumi menatap mereka berdua kemudian bicara,

"Ng, sepertinya keberadaanku di sini mengganggu kalian ya?"

Wajah Rin Len tambah merah.

"N-Nee-chan ngomong apa sih! Nee-chan sama sekali nggak mengganggu kok!"kata Rin masih merah.

"Um, dan, ngomong-ngomong Len,"panggil Rin kepada Len.

'WHAT THE? Tumben dia ngomong sama aku pakai 'um' segala!'batin Len senang (Len: apaan sih thor! Aku nggak senang! *tsundere face*).

"Cowok berperban temanmu itu…"

"Oh, Oliver?"kata Len dengan nada, ehem, cemburu.

"Oh, jadi itu namanya? Terimakasih! Aku hanya ingin menanyakan itu!"kata Rin. Len menghela nafas lega karena, yah, kalian pasti tau 'kan?

"Di sekolah tadi sudah meneyebutkan namanya berkali-kali loh, masa' kau baru tau sekarang."kata Len.

"B-berisiiik!"

"Hei, Rin. Maaf mengganggu, tapi kita sudah sampai di rumah kita."kata Gumi.

"Ah, benarkah? Akhirnya!"Rin segera mengambil kunci rumahnya dan Gumi di kantung roknya dan langsung masuk.

Tiba-tiba Len mengingat kata-kata Gumi tadi. Apa yang dimaksud dengan kejadian itu? Len ingin menanyakannya tapi Gumi sudah sampai di rumahnya. Tidak baik bukan, menghalangi orang beristirahat? Jadilah Len memakai cara itu.

"G-Gumi! Aku boleh minta nomor HP mu nggak?"tanya Len sebelum Gumi memasuki rumahnya.

"Oh, boleh. Pinjam HPmu sebentar."Len menyerahkan HP nya ke Gumi. Gumi mengetik sesuatu di situ yang merupakan nomornya dan nomor Rin.

"Nih! Aku sekalian ngasih nomornya Rin."kata Gumi.

"Eh?"dalam hati Len merasa senang."Nomornya Rin?"

"Iya, sudah ya! Sampai di sekolah besok!"

"B-baik!"

Blam.

Gumi menutup pintunya. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu dengan wajah memerah.

"Aku ini… kenapa? Rasanya jantungku berdetak dengan keras sekali…"

"Nee-chan! Sedang apa di situ?"tanya Rin yang berada di depan Gumi tapi agak jauh.

"E-eh? Ah, tidak…"

To Be Continued.