.
Come Away With Me
.
Karya: Kristen Proby
.
.
.
Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun
GS for Uke
.
.
Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.
Luhan POV
.
HUNHAN
.
RATE M
.
.
Hope u will enjoy this remake^^
Happy reading
.
.
.
Rumah Sehun sangat dekat dengan pantai, dan itu menyadarkanku bahwa tempat ini kurang dari seperempat mil dari tempatku. Dia menuntunku, menarik ke trotoar yang berpagar. Aku hanya bisa melihat jalur tunggal di depanku, tidak ada pemandangan rumah.
"Kodenya 112774," dia menuntunku.
"Wow, kau mempercayaiku dengan kode untuk pintu gerbangmu?" aku mencoba untuk mempertahankan kelakar di antara kami untuk menutupi kegugupanku datang ke rumah ini. Akankah dia mengundangku ke dalam?
"Kau akan kagum pada apa yang aku percayakan padamu, Luhan." Aku meliriknya dan menangkap kerutannya. "Pada kenyataannya, demikianlah aku."
Aku mengabaikan komentarnya dan menarik pintu gerbang berkelok ke kiri dan terkesiap pada rumah modern yang indah.
Tidak besar, ini sederhana, tapi pemandangan dari Sound sangat menakjubkan, dan rumah putih itu sendiri baru, dengan garis yang bersih, jendela-jendela besar, hydrangea indah berwarna ungu dan biru memagari bagian depan rumah, dan semak-semak yang dipangkas memagari jalan mobil.
"Wow, Sehun, ini indah."
"Terima kasih." Kebanggaan kembali pada suaranya, dan jelas, dia mencintai rumahnya. Aku tersenyum padanya, sepenuhnya mengerti perasaan itu.
Aku memarkir mobil jadi sisi penumpang menghadap pintu depan dan tidak membuatku bergerak untuk melepas sabuk pengamanku. Sehun telah melompat keluar, dan mengejutkanku dengan berjalan di depan mobilku dan membuka pintu mobilku.
"Masuklah." Dia mengulurkan tangan padaku, tapi aku tidak menyambutnya.
"Aku harus pergi…"
"Aku akan sangat senang jika kau mau masuk ke dalam." Dia memberikanku seringaian yang menawan, dan aku merasakan diriku melembut. "Aku akan menunjukkan padamu pemandangannya. Mungkin mengajakmu makan malam. Hanya itu, aku janji." Matanya bersinar nakal dan aku tak bisa menolaknya.
Aku tak mau menolaknya.
"Aku tidak menahanmu dari apapun?"
"Tidak, aku laki-laki bebas, Luhan. Ayo."
Aku keluar dari mobil dan menyambut tangannya.
Wow. Sengatan listrik dari sentuhannya masih terasa, dan mataku melebar ketika mereka menemukan matanya. Senyumnya menghilang, dan dia menatap intens ke dalam mataku. Dia menarik tanganku ke bibirnya, lalu menutup pintu mobil di belakangku dan menuntunku ke pintu rumahnya tanpa melepaskanku, seolah-olah aku akan melarikan diri.
Aku menyukai bagaimana celana jeansnya menggantung di pinggulnya, membentuk pantatnya yang bagus. Kaus putihnya tidak dimasukkan, dan memeluk otot bahu dan lengannya dengan sempurna. Aku ingin memeluknya dari belakang dan menenggelamkan hidungku di punggungnya, menghirup aromanya, dan menciumnya di sana di antara tulang belikatnya.
Sangat tidak sah untuk menjadi begitu indah. Dia jelas sangat menjaga dirinya. Tiba-tiba aku merasa keluar jalur. Dia sepuluh, dan aku beruntung jika aku mendapatkan tujuh setelah aku dikilapkan dan dipoles di salon favoritku. Belum lagi, aku punya pinggul dan pantat dan sedikit tonjolan perut yang sebanyak apapun sit-up dan yoga yang aku lakukan tidak akan menghilangkannya. Aku tau aku tidak gemuk, tapi aku juga bukan super model kurus seperti Baekhyun.
Dan sampai hari ini, itu tidak pernah menggangguku.
Sehun membuka pintu dan berbalik ke arahku, dan pandangan matanya mengatakan bahwa dia tidak melihat kekuranganku. Dia terlihat baik-baik saja dengan apa yang dia lihat, dan berharap untuk mulai dekat denganku.
"Selamat datang, Luhan. Anggap saja rumah sendiri." Aku mengikutinya masuk ke dalam dan tidak bisa menghentikan senyum wajah terbelah yang datang ketika melihat rumahnya yang Taoah. Ruangannya besar, dengan langit-langit tinggi ganda dan dinding warna khaki pucat.
Dinding belakang semua kaca dan pemandangannya adalah Puget Sound. Barang-barangnya besar, dengan warna biru dan putih dan sedikit sentuhan hijau. Aku bisa meringkuk di kursinya dan menatap ke luar sepanjang hari.
Aku berjalan-jalan melalui ruangan, sandalku menggema di lantai kayu yang gelap, dan memandang ke luar jendela sebentar. Matahari hampir tenggelam, di atas gunung, memantul di air biru berombak, dan perahu putih yang indah meluncur dengan anggun. Aku berbalik untuk melihat Sehun yang masih berada di sisi lain ruangan memperhatikanku, lengannya menyilang di depan. Aku berharap bisa membaca pikirannya.
"Apa?" aku bertanya dan mencerminkan sikapnya, menyilangkan lenganku di depan, mendorong belahan dadaku naik sedikut, memperlihatkannya melalui kerah V dari kaus merahku.
"Kau sangat cantik, Luhan."
Oh.
Aku menjatuhkan lenganku dan membuka mulut untuk berbicara, tapi tak ada satupun yang keluar, jadi aku hanya menggelengkan kepalaku dan melihat ke arah kananku pada dapur sangat indahnya.
"Kau mempunyai dapur yang hebat."
"Ya." Itu kesepakatan yang simple, dan Sehun bergerak, perlahan berjalan menuju ke arahku. Tidak ada rasa humor di matanya sekarang, itu kelaparan. Kelaparan akan diriku.
Aku tidak dapat bergerak walaupun aku ingin.
"Apakah kau suka memasak?" suaraku menjadi lebih tinggi dari normal dan kegugupan itu kembali, tapi kegugupan ini tidak menakutkan.
Aku sudah pasti tidak takut padanya. Aku hanya sedikit terintimidasi olehnya.
"Ya." Dia berkata lagi, dan ketika dia mendekatiku dia mengarahkan jari panjangnya menyusuri pipiku. Aku kesulitan menelan dan menahan tatapan hitam kecoklatannya.
"Kau tidak ingin membicarakan tentang dapurmu?" bisikku.
"Tidak." Dia balik berbisik.
"Oh." Aku melihat ke bawah mulutnya, dan kembali melihat mata hitam kecoklatannya. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Aku tidak ingin bicara, Luhan." Sejak kapan bisikan menjadi sangat seksi? Pangkal pahaku mengencang, dan aku tiba-tiba basah dan panas dan terengah-engah.
Sehun menggenggam wajahku di antara kedua tangannya, masih menatap mataku intens, seolah-olah dia sedang berusaha untuk menyampaikan pesan yang mendalam, atau mungkin dia meminta ijinku? Aku sedikit memiringkan kepalaku ke belakang, dan dia oh dengan perlahan menurunkan bibirnya ke bibirku. Dia meninggalkan mereka di sana terasa seperti bermenit-menit, hanya ciuman yang menempel, memimpin bibir lembutnya padaku.
Aku mengangkat tanganku dan menggenggam lengan bawahnya dan dia menggeram ketika dia memperdalam ciumannya, merayu bibirku agar terbuka dan menggelitik lidahku dengan lidahnya.
Ya Tuhan, baunya sangat enak, dan lidah berpengalamannya adalah candu yang tak dapatku tolak. Dia menyambut sisi mulutku, menggigit bibir bawahku kemudian menyerang mulutku lagi. Dia menarik ikat rambutku, membebaskan rambut chesnut panjangku di sekitar bahuku dan menenggelamkan tanggannya di dalam rambutku.
"Kau. Sangat. Cantik." Dia menggumam di dalam mulutku, tiap kata di antara ciuman-ciuman manisnya dan aku sepenuhnya mabuk. Aku melarikan tanganku di atas bahunya dan memilin rambutnya dengan jariku dan memegangnya erat.
Oh, laki-laki ini pandai mencium!
Dia memperlambat ciumannya lagi, menangkup wajahku lembut, dan meninggalkan ciuman-ciuman manis di rahang, pipi, hidung, lalu menanamkan bibirnya di dahiku dan mengambil nafas yang sangat dalam. Aku menjalankan tanganku ke bawah bahunya – sialan, dia kencang! – melewati lengan seksinya dan memegang lengan bawahnya, dan aku lebih dari sekedar pusing.
Aku tak ingin dia berhenti.
Ketika pandangan buramku menjadi jelas, Sehun bersandar ke belakang, masih menangkup wajahku dan tersenyum lembut kepadaku. "Aku ingin melakukannya sepanjang hari."
Darimana musik itu datang? Aku kemudian menyadari ponselku berdering dari dalam tas, masih tergantung di badanku dan aku memutuskan kontak intim kami untuk mencari dan menemukan ponsel itu. Maroon5 berburu di telepon umum (nada dering Payphone – Maroon5), senyuman Sehun berubah menjadi seringaian ketika aku menjawab telepon.
"Hi, Baekhyun." Aku melisankan teman sekamar padanya ketika dia menaikkan alisnya.
"Luhanie! Kau tidak menjawab pesanku. Kau baik-baik saja?" dia terdengar kesal dan aku memutar mataku.
"Aku baik-baik saja. Maaf, aku tak melihat pesanmu. Ponselku ada di dalam tas, mungkin aku tak mendengarnya." Aku melangkah mundur dari Sehun mencoba untuk menjernihkan kepalaku dan dia meletakkan tangannya di pinggul.
"Apa kau punya rencana makan malam?"
"Makan malam?"
Sehun bersandar dan menggumam di telingaku yang bebas, "Aku membuatkanmu makan malam." Dia mengedipkan mata padaku – mengedipkan mata! – dan kemudian berjalan menuju dapur meninggalkan ku untuk menelepon.
"Um, yeah, aku punya rencana makan malam." Aku mengernyit, mengetahui bahwa aku akan mendapatkan Gelar Ketiga Baekhyun.
"Oh?" aku tahu dia menaikkan alis dengan ahli. Aku juga tak ingin mempunyai percakapan ini dengan Sehun yang mendengarkannya. Aku mendengar Adele mulai menyanyi dan memutar melihat Sehun telah dihentikan oleh sound system, mengutak-atik iPod nya.
"Yeah, sesuatu baru saja datang. Kenapa? Apa yang terjadi?" Sehun berada di dapur sekarang, mengobrak-abrik lemari es, dan aku punya pemandangan yang bagus pada pantat yang tertutup jeansnya. Astaga.
"Aku tadi mengundang mu untuk pergi makan malam dengan beberapa teman kerjaku, tapi jika kau sudah punya rencana aku akan melihatmu nanti malam." Ada jeda. "Apakah ini si perampok?"
Aku terkejut. Tinggalkan Baekhyun! "Mungkin."
"Keren! Bersenang-senanglah, hati-hati, ambil gambar jika kau bisa. Sampai jumpa!" dia memutus teleponnya dan aku tertawa padanya. Oh, untuk sikap riang temanku.
"Jadi, itu tadi teman sekamarmu?" Sehun bertanya ketika dia menuangkan wine putih ke dalam dua gelas. Aku menyesapnya dan terkejut oleh rasa manis buahnya.
"Yeah, dia memeriksa keadaanku." Aku duduk di bar sarapan berwarna ringan dan membuka pesanku. Aku punya tiga, semuanya dari Baekhyun.
Hey Luhanie, ingin pergi makan malam, malam ini?
Luhanie? Hidupkan ponselmu!
Luhan, aku melakukan reservasi...
Makan malam?
Oops. Aku meletakkan iPhone ku di atas konter dan menenggak wine.
Sehun memperhatikanku.
"Maaf, itu tadi kasar." Aku tersenyum meminta maaf. "Dia mengkhawatirkanku ketika aku tidak merespon pesannya."
Sehun menggelengkan kepalanya. "Kau sama sekali tidak kasar, Luhan. Jadi, bagaimana pendapatmu dengan saus alfredo?"
Aku menyeringai pada nada menggodanya. "Aku punya affair cinta yang lama dengan saus alfredo."
"Benarkah?" dia terkekeh dan melipat untaian rambut berantakanku ke belakang telinga. "Saus alfredo yang beruntung."
Dia berbalik lagi dan mulai mengambil teko, penggorengan dan bahan-bahan dari lemari penyimpanan dan lemari es. Dia sangat….Ahli di dapur.
Ketika dia berbalik memulai urutan kekacauannya, dia melihatku sedang memperhatikan dirinya dan memberikanku senyum separuh.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Kau sangat ahli di dapur."
"Terima kasih." Dia membungkuk dengan anggun dan membuat ku tertawa.
"Siapa yang mengajarimu memasak?"
"Ibuku." Dia menuangkan air ke dalam teko untuk merebusnya dan mulai mengiris keju.
"Apa yang bisa ku bantu?"
"Duduklah di sana dan menjadi cantik."
Aku merona. "Sungguh, aku ingin membantu."
"Okay, kau iris keju ini dan aku akan mengurus ayamnya."
Aku dengan senang hati mengelilingi pulau dan mengambil alih mengiris keju, mengamati Sehun mengelilingi dapur dengan mudah.
Segera ruangan ini beraroma ayam panggang, membuat mulutku berair. Sehun pindah di belakangku dan meletakkan lengannya di sekelilingku, memeriksa kejunya, tanpa benar-benar menyentuhku.
Kulitku terasa terbakar. Sentuh aku! Pegang aku! Tapi dia tidak, sebelum aku mengetahuinya dia telah beranjak dan tubuhku hampir bergetar karena kebutuhan.
Aku tidak ingat pernah merasakan ketertarikan secara fisik dengan seorang laki-laki sebelumnya. Ini sedikit mengerikan, tapi ini juga menyenangkan.
"Okay, aku pikir kita sudah hampir siap untuk menyajikan. Bisakah kau menyaring pasta ini?" aku dengan senang hati membantunya ketika dia menyelesaikan sausnya, dan perut ku keroncongan.
Mmmm….Seorang laki-laki yang bisa memasak!
Sehun menarik piring, alat makan berwarna perak dan serbet. "Mari makan di luar, sambil menikmati pemandangan."
"Ide yang bagus." Aku tersenyum ketika kami menyajikan makanan-makanan itu, memegang wine dan menuju ke beranda ruangan besar ini. Ruangan makan di luar sangat mengagumkan. Warnanya hangat dengan merah dan coklat, meja dengan enam kursi, dan ada pemanggang stainless yang besar dengan konter dapur di luar ruangan, lemari es dan wastafel.
Kami duduk dan kegugupanku dari ciuman lezat kami sebelumnya sudah hilang, aku hanya merasakan lapar.
"Lapar?" tanyanya, membaca pikiranku.
"Kelaparan!"
"Aku tahu."
Aku mengambil satu gigitan dan memejamkan mataku.
"Mmmmm…ini sangat enak."
Aku menutupi mulutku dengan serbet dan tertawa. Mata Sehun menari dan dia menyeringai, meminum winenya.
"Aku senang kau menyukainya."
"Jadi," aku menyendok lagi. "Ibumu mengajarimu memasak?"
"Yeah, dia selalu mengatakan bahwa semua anaknya harus bisa memberi makan diri mereka sendiri setelah kami meninggalkan sarang." Aku memperhatikannya menusuk daging ayam dengan garpu.
"Berapa jumlah saudaramu?"
"Aku punya satu saudara laki-laki dan satu saudara perempuan."
"Kakak, adik?" tanyaku. Ya Tuhan, laki-laki ini pandai memasak.
"Kakak perempuan, adik laki-laki."
"Dan, apa pekerjaan mereka?"
"Kyungsoo, kakakku, adalah seorang editor untuk Seattle Magazine." Mata Sehun terlihat bangga. "Taeyong menyingkirkan kuliahnya untuk menjadi penangkap ikan di Alaska."
"Ku asumsikan kau tidak menyetujuinya?" ku naikkan alisku padanya ketika aku menyesap wine.
"Dia masih muda. Aku kira itu bagus ketika dia menaburkan gandum liarnya sekarang –melakukan banyak hal menarik ketika masih muda-." Sehun mengangkat bahu.
"Orang tuamu?" aku suka mendengarkan dia membicarakan keluarganya. Sangat jelas dia sangat mencintai mereka.
"Mereka tinggal di Redmond. Ayah bekerja untuk Microsoft dan Ibu adalah seorang ibu rumah tangga." Dia melirik ke piring kosongku.
"Itu tadi sangat enak, terima kasih." Aku bersandar di kursi dan meregangkan kakiku.
"Sama-sama." Dia terlihat sangat muda dengan senyum malu-malunya. "Kau ingin lagi?"
"Oh tidak, aku sudah kenyang." Kutepuk perutku dan memandang keluar ke arah air. "Ini adalah pemandangan yang sangat indah."
"Ya." Aku melihatnya, dan dia memandangku. Pipiku memanas.
"Kau sangat pandai memuji."
"Kau mudah untuk dipuji."
Aku menyeringai.
Dia memiringkan kepalanya ke samping dan mengangkat tanganku ke atas, membawanya ke mulut. Ini adalah pertama kalinya dia menyentuhku sejak ciuman – mengencangkan paha – itu dan aku mendesah akan sentuhan panasnya.
"Kau sangat cantik, Luhan. Kenapa kau tidak mempercayainya?"
Aku tertegun. Tidak ada seorangpun yang pernah memanggilku keluar dari rasa ketidakamananku karena aku tidak pernah menunjukkannya kepada orang lain. Aku mengangkat bahu.
"Kau pikir aku bahagia."
Dia mengernyit atas jawabanku tapi tidak menekanku. "Ya."
"Aku berharap aku punya kamera." Aku tidak sadar bahwa aku mengatakannya dengan keras dan aku merasa dia menegang di sampingku.
"Mengapa?" suaranya dingin, dan melihat ke matanya ada arktik –sangat dingin-.
"Karena pemandangan ini." Aku menunjuk air. "Ini bisa membuat gambar yang sangat indah."
Dia bersantai di sampingku. "Mungkin suatu hari nanti kamu akan bisa mengambil gambarnya."
"Akan ada 'suatu hari' lagi." Aku tersenyum padanya dan dia tersenyum padaku juga.
"Suatu hari." Dia mengatakannya lagi dan aku merasa pusing di dalam. Aku sedikit menggigil ketika angin berhembus melalui terasnya. Senja telah datang, langit berwarna ungu dan oranye, dan menjadi dingin.
"Kau kedinginan?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak apa-apa."
"Benarkah?"
"Aku sedikit kedinginan, tapi aku tidak mau masuk ke dalam."
"Aku akan segera kembali." Bersamaan dengan itu dia berdiri dan mengumpulkan piring-piring kotor.
"Hey, aku akan membersihkannya. Kau sudah memasak."
"Tidak akan. Kau tamuku, Luhan. Selain itu, aku punya pengurus rumah tangga yang akan melakukan itu semua besok pagi. Duduklah. Tinggal di sini." Dia mengunciku dengan tatapan yang serius, lalu masuk ke dalam rumah.
Dia sangat bossy. Ku pikir aku menyukainya. Tidak ada seorangpun yang pernah mempunyai keberanian untuk bertingkah seperti bos denganku sebelumnya. Ini sangat menyenangkan.
Aku mendengar suara iPod berubah dari Adele menjadi sesuatu yang lebih lembut dan melankolis dan beberapa waktu sesudahnya dia kembali dengan sebuah selimut hijau yang mewah dan iPhone ku.
"Lampu ponselmu tadi berkedip, aku pikir kau mungkin ingin mengeceknya." Dia memberikan ponselku, tapi sebelum aku bisa melihatnya dia memegang tanganku.
"Ikut denganku."
"Kita mau kemana?"
"Hanya di sana." Dia menunjuk kursi empuk mewah dekat dengan tepian teras.
Aku meraih tangannya dan dia memimpin kemudian mendudukkanku, tenggelam ke dalam bantal. Dia duduk di sampingku dan membungkus kami berdua dengan selimut. Lengannya melingkar di sekitarku.
"Ini cepat." Aku melihat ke dalam mata hitam kecoklatannya, tidak yakin berada di lengannya seperti ini, kecepatan ini seluruhnya aman, secepatnya aku ingin berada di sini.
"Kita hanya mengagumi pemandangan, Luhan." Dia mendorongku lebih dekat dengannya, menjalankan tangannya di sisi tubuhku dan aku bersandar di bahunya. Aku teringat ponsel di tanganku dan aku mengeluarkannya dari selimut untuk membacanya, tidak perlu menyembunyikannya dari Sehun.
Hey cantik, ada rencana malam ini?
Itu temanku Grant, dan sementara kami tidak melakukan hubungan seks beberapa waktu ini, kadang-kadang, jika kami sedang mabuk atau kesepian, kami menikmatinya. Aku tidak mendengar kabarnya selama beberapa minggu, dan tentunya sekarang, ketika aku meringkuk di lengan laki-laki seksi ini dia mengirimiku pesan.
Sial, sial, sial. Sehun menegang di sampingku, dan aku menunduk tapi menekan balas, masih tidak menyembunyikan ini dari matanya. Aku tidak punya sesuatu untuk disembunyikan.
Yeah, aku ada acara. Maaf.
Sehun terlihat tidak santai di sampingku dan aku tahu dia marah. Sial.
Grant membalas sangat cepat.
Besok?
Maaf Grant, aku tidak tertarik.
Okay, bye Luhanie.
Aku menaruh ponsel di saku ku dan menyandarkan kepalaku kembali di lengan Sehun, tidak mengatakan apapun. Apa yang bisa aku katakan? Dia mendengus dan mengeratkan pelukannya padaku, tidak mengatakan apapun cukup lama.
Akhirnya aku menatapnya.
"Apakah kau baik-baik saja?"
"Kenapa tidak?"
"Um, aku tak tahu. Hanya memastikan."
Dua kata terakhir adalah bisikan. Dia terlihat marah padaku, tapi aku tidak melakukan kesalahan. Aku mengatakan pada seseorang untuk menjauh!
Tiba-tiba dia bergerak dan mengambil iPhone nya dari saku. "Berapa nomor ponselmu?"
Aku memandang lebar padanya dan dia menaikkan sebelah alisnya. Aku mengguncangnya dan dia memukulkan pada ponselnya. "Apa nama belakangmu?"
"Xi." Dia telah selesai memprogram nama dan nomorku ke dalam ponselnya dan aku menutup mataku, menghirup aromanya sementara dia melanjutkan menggesek gadgetnya.
Ponselku berdengung di sakuku.
Aku mengambil ponselku dari dalam saku dan mengeluarkannya dari selimut.
"Ya ampun, lihat ini, aku mendapatkan pesan! Kira-kira siapa ya?" aku mengedipkan bulu mataku dan tersenyum manis padanya.
Sehun tertawa. "Mungkin kau harus mengeceknya."
"Oh! Ide yang bagus." Aku tertawa kecil dan menggeser panah di bawah layar, menghidupkan ponsel dan membuka pesan dari nomor yang tidak aku ketahui.
Aku ingin menjerit seperti anak sekolah, tapi yang kulakukan hanya tersenyum simpel dan membuka pesan.
Hey Luhan, simpan nomor ini. Kau akan sering melihatnya.
-Oh Sehun-
Aku meringis, dan menyimpan nomor dan namanya di ponselku.
"Jadi," senyuman menghilang dari wajahnya dan dia menjadi serius lagi. Aku mendorong ke belakang, keluar dari jangkauannya, dan memutar tubuhku menghadap padanya, kakiku diselipkan di bawah lututku satunya, mempersiapkan diriku sendiri untuk percakapan yang serius.
"Jadi?"
"Jadi," dia menatapku hati-hati dan aku merasakan sebuah peringatan. "Siapa Grant?"
"Hanya teman." Aku menggelengkan kepala.
Dia menaikkan sebelah alis matanya. "Itu bukan hanya sekedar pesan seorang teman, Luhan. Aku laki-laki, aku tahu perbedaannya."
Aku merunduk dan melihat ke belakang air yang gelap.
"Lihat aku." Suaranya tajam dan aku melemparkan mataku kembali padanya.
"Dia hanya teman, Sehun. Ya, memang ada hubungan fisik dengannya di masa lalu, tapi itu sudah lama."
"Berapa lama?"
"Berbulan-bulan."
"Berapa bulan?"
"Sejak musim gugur terakhir."
"Apakah ada orang lain?"
"Mengapa ini menjadi urusanmu?"
"Karena kau adalah perempuan pertama yang aku bawa ke rumahku dan semua yang dapat aku pikirkan adalah mendapatkan tubuh indahmu telanjang dan bercinta denganmu sampai tidak sadar. Aku harus tahu apakah ada persaingan. Aku tidak berbagi, Luhan." Matanya terbakar, bibir indahnya terbuka ketika dia bernafas dengan berat, dan kedua tangannya mengepal.
Aku membuka mulutku untuk berbicara, dan menutupnya kembali. Ya Tuhan, dia ingin bercinta denganku.
Well, kembali padamu, laki-laki bossy.
"Mengatakan bahwa kau tidak berbagi menyiratkan aku telah menjadi milikmu, Sehun."
"Tidakkah begitu?" bisiknya.
Ini keterlaluan. Aku mengenal seorang laki-laki kurang dari 24 jam dan dia ingin mengklaim kepemilikan! Sebagian dari diriku meneriakkan Ya!Tapi dari sisi wajar kepala jeleknya dan menggelengkan kepalanya dengan tegas Tidak!
Aku berdiri dengan tiba-tiba, menyibakkan selimut dari tubuhku.
"Lihat, Sehun…." Tiba-tiba saja dia sudah berada di sisiku, tangan kuatnya berada di dagu ku mengunci tatapan mataku padanya.
"Jawab pertanyaanku, please." Sentuhannya sangat lembut, tapi tatapannya tajam, dan mendorongku ke arah yang aku tidak pernah tahu.
"Tidak ada yang lain." Aku berbisik.
"Terima kasih Tuhan." Dan bibirnya berada di bibirku, tapi bukannya gairah yang aku idamkan, bibirnya sangat lembut dan empuk, seperti dia sedang menghafalkan setiap sudut mulutku dengan bibirnya. Dia melepaskan daguku, membungkus rambutku dengan tangannya sementara helai-helai lain berada di sekitar punggungku dan dia menarikku, tubuhku membentur tubuhnya. Aku mengerang rendah di tenggorokanku.
Dada dan perutnya sangat kencang.
Ku arahkan lenganku di sekelilingnya, dan menariknya ke arahku, tanganku memegang punggungnya.
Dengan berani, aku mengatupkan gigiku di bibir bawahnya dan mengisapnya perlahan ke dalam mulutku. Matanya terbuka perlahan, bertemu dengan mataku, dan dia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, memainkannya dengan irama yang indah. Kami terengah-engah, tanganku tidak bisa berhenti bergerak ke atas ke bawah mengusap punggungnya, merasakan kerasnya otot ketika dia bergerak denganku.
Kedua tangannya bergerak ke bawah punggungku dan dia menggenggamnya erat sambil menggigit sisi mulutku turun ke leherku.
"Ya ampun," aku menyandarkan dahiku dan aku merasakan dia tersenyum di leherku.
"Kau punya pantat yang bagus, Luhanie." dia memelukku lebih erat dan aku merasakan ereksinya di perutku. Aku menjalankan jari-jari ku ke pantatnya.
"Begitu juga denganmu, Sehun." Suaraku terdengar berat, dan dia menarik dirinya, matanya sedikit berkaca-kaca dengan keinginan dan aku tahu itu juga mencerminkan keinginanku.
Sial, aku menginginkan laki-laki ini.
Lengan kami masih bertautan satu sama lain, saling menyentuh tubuh bagian bawah kami. Aku meremasnya lagi dan menjalankan jari-jariku pelan di bawah kaus nya hingga di kulit nya dan aku tersenyum ketika dia melenguh.
Mata hitam kecoklatan indahnya melihatku dan aku mendorong jari-jariku di antara karet boxer dan kulitnya, menjalankanya hingga di bagian depan celana jeans nya.
Dengan tiba-tiba tangannya menggenggamku, tidak mengalihkan matanya dariku. Dia membawa kedua tanganku ke atas, ke bibirnya dan mencium setiap jariku, kemudian mundur dan melepaskanku. Udara dingin seakan menamparku, dan aku mengernyit dalam kebingungan dan frustasi merasa ditolak.
Apa-apaan ini?
"Mengapa kau berhenti?" aku mendengar kesakitan di suaraku, dan aku menjernihkan tenggorokanku.
"Luhanie, aku sama sekali tidak ingin berhenti…." Aku berjalan ke arahnya, tetapi dia mundur kebelakang dan mengangkat tangannya ke depan seperti menyerah.
"Sehun…."
"Luhan, pelan-pelan."
Bukankah ini yang laki-laki inginkan?
"Jika kau telah mengubah pemikiranmu tentangku…." Dia kembali berada di depanku sebelum aku menyelesaikan kalimatku, tangannya meraih wajahku dan membuatku melihat ke dalam matanya, dan emosi yang asing masih ada di sana.
"Dengarkan aku Luhan. Aku tidak mengubah pemikiranku. Aku menginginkanmu. Kau cantik, pintar dan seksi, tapi aku tidak ingin melakukan ini terlalu cepat."
"Aku bingung," aku menutup mata dan menggelengkan kepalaku.
"Hey," aku menatapnya lagi, dan dia tersenyum padaku, menjalankan ujung jarinya di pipiku. "Pelan-pelan."
"Aku tidak tahu apa itu pelan, Sehun."
Dia mengernyit dan berbisik. "Aku juga tidak, jadi kita akan belajar bersama."
Aku sangat frustasi, tubuhku menginginkannya, tapi kata-katanya memabukkanku.
"Jadi, tidak ada seks? Sama sekali?" aku terdengar seperti anak kecil yang permennya diambil.
"Tidak malam ini," dia berkata dengan sebuah senyuman.
Dia mengambil nafas dalam, mencium dahiku dan mengambil tanganku. Aku meraih selimut dan kami kembali ke dalam. Musiknya masih terdengar.
Dia mengambil selimut dari tanganku dan melemparnya ke sofa biru di samping kananku. "Maukah kau berkeliling?"
Aku masih mengerutkan dahi dengan komentar tidak ada seks, tapi ide melihat-lihat rumahnya menaikkan mood ku dan aku mengangguk.
Dia mengaitkan jarinya dengan jariku.
"Terima kasih telah bergabung dengan tur kami hari ini, Nona Xi, kami senang anda bersama dengan kami."
Aku tertawa pada suara pemandu wisatanya dan merasa sedikit santai. Dia mempunyai cara untuk membuatku tertawa.
"Kau telah melihat dapur."
"Aku suka dapurnya."
Dia tersenyum dan menarikku turun ke lorong dan menuju ruang rias dan kamar tidur cadangan. Di ujung lorong ada pintu lain yang tertutup, tapi dia melambaikan tangan dan berkata, "Hanya gudang untuk saat ini."
Dia memimpinku kembali ke ruangan besar dan naik melalui tangga menuju loteng yang luas yang dia gunakan sebagai ruang TV, dengan furniture yang mewah. TV layar datar yang menempel di dinding sangat besar. Dan aku hanya bisa tertawa.
"Apa yang lucu?" dia melihat ke arah TV dan aku terkekeh.
"Anak laki-laki dan TV besarnya."
Dia tertawa kecil dan membimbingku menuju kamar tidur lain dan kamar mandi.
Di seberang loteng, dengan lebih banyak lantai untuk langit-langit jendela menampilkan pemandangan, adalah master suite. Itu sangat besar, dengan furniture berwarna putih dengan ukuran yang besar, dan aksen hijau, biru dan khaki. Ini sangat mendamaikan.
Kamar mandinya sangat cantik, dengan tub berbentuk telurnya yang luas terpisah dari shower yang bisa jadi menjadi ruangan ini sendiri.
Aku terkesiap senang ketika dia menunjukkan padaku lemari besarnya.
"Perempuan dan lemarinya," dia tertawa padaku, dan aku mengikutinya.
"Ini, temanku, adalah lemari yang luar biasa."
"Ya." Dia menyetujuinya dan meremas tanganku, kemudian membimbingku kembali ke kamar tidur dan turun ke ruang besar.
Aku tiba-tiba merasa tidak nyaman, dan sebelum aku bisa mengubah pikiranku, aku menarik tangannya dengan lembut dan membungkus lenganku di sekeliling pinggangnya, menautkan jari-jari kecil ku di punggungnya, dan kemudian memeluknya. Lengannya berada di pundakku dan dia menciumi rambutku, menghirup aromanya.
"Terima kasih untuk makan malamnya." Aku menggumam di dadanya.
"Kapanpun."
"Terima kasih untuk turnya."
Aku merasakan senyumannya di kepalaku.
"Kapanpun."
"Terima kasih untuk nomor ponselmu."
Dia terkekeh dan menarik tubuhnya ke belakang. "Aku merekomendasikanmu untuk menghubunginya."
"Akan kulakukan." Aku menarik lepas lengannya dan mengambil tasku. Sudah waktunya untuk pulang ke rumah dan memikirkan tentang laki-laki manis seksi ini. Sudah pasti aku tidak bisa berpikir jika bersamanya.
Dia berjalan di belakangku menuju mobilku, menarik keluar foto-fotonya dan membawanya ke dalam, kemudian kembali dan membukakan pintu untukku.
"Beritahu aku bahwa kau sampai rumah dengan selamat." Bayangan lampu rumahnya bermain di wajahnya, lampu itu berefleksi di mata indahnya.
"Okay, Tuan Suka Memerintah." Aku terkekeh padanya.
"Suka memerintah?" dia mengerutkan bibirnya seperti sedan berpikir, kemudian menyeringai.
"Mungkin sedikit suka memerintah."
Dia membungkuk dan menyentuhku, hanya bibirnya, menyapukannya dengan lembut. "Selamat malam, cantik."
"Selamat malam." Ya ampun! Ya Tuhan, dia terlihat sangat menggairahkan. Aku bersyukur masih mempunyai kekuatan untuk menaiki mobil dan memasang sabuk pengaman. Dia berjalan ke ambang pintu dan melambai ke arahku ketika aku melalui trotoarnya.
Sial.
.
oOo
.
Aku menyampirkan tasku di meja samping pintu depanku, melempar kunci di kotak kunci dan mencari ponselku. Aku mendengar ponselku berbunyi ketika aku menyetir, dan aku tau pasti dari siapa.
"Luhanie, apakah itu kau?" aku mendengar stiletto Baekhyun mengetuk dengan pintar lantai kayu di antara ruang keluarga dan serambi.
"Yeah, aku pulang."
Terima kasih untuk hari ini. Ku mohon kabari aku ketika kau sampai rumah. – Sehun
Aku tersenyum dan ingin melompat karena bahagia.
"Well, aku kira itu berjalan dengan baik?" Baekhyun berkacak pinggang, dan kepala pirangnya miring dengan sebuah senyum di wajah indahnya. Dia masih mengenakan gaun warna cranberry nya dan hak tinggi dari bekerja, rambut panjangnya diikat ke belakang.
"Oh yeah, itu berjalan dengan baik."
"Jadi, bukan sepenuhnya perampok, huh?"
"Bukan," aku terkikik. "Dia sangat baik. Dan, Ya Tuhan, Baekhyun, dia hot." Aku khawatir dengan kata-kataku, tapi dia membaca pikiranku.
"Dia cocok denganmu, Luhanie." aku mengernyit ke arahnya.
"Aku tidak bermaksud berkata seperti itu."
Dia memutar matanya. "Kau memikirkannya. Kau juga hot, Luhanie. Nikmati saja. Dia beruntung karena kau tertarik padanya. Kita berdua tahu itu hal yang jarang terjadi."
"Ya, itu yang membuat ku khawatir juga."
Aku menceritakan padanya tentang happy hour, dan bagaimana dia seperti tidak nyaman bersama ku, tapi ketika kami berada di rumahnya dia bisa sangat rileks. Aku menceritakan padanya tentang ciuman terbaik sepanjang masa, dan matahari terbenam. Baekhyun mendengarkan dengan sabar, tidak menyela, atau terkikik geli atau melompat seperti yang biasanya dia lakukan. Dia tersenyum padaku, dan sebelum aku mengetahuinya dia menarikku dalam sebuah pelukan yang dalam.
"Kau pantas mendapatkan pria yang baik, Luhan. Jangan menyangkal hal itu. Nikmati saja, sungguh." Aku bersandar padanya dan tiba-tiba ingin menangis, memalukan.
"Aku bahkan tidak tahu kapan aku bisa melihatnya lagi."
Dia melepas pelukannya dan menyeringai. "Oh, aku mempunyai firasat itu tidak akan lama. Sepertinya dia sedang jatuh cinta." Inilah Baekhyun yang aku kenal!
Aku terkekeh dan melepas sepatuku. "Aku ingin tidur. Ini hari yang sangat sibuk."
"Okay, selamat malam, manis." Dia memelukku lagi, dan pergi ke ruang keluarga melanjutkan pekerjaan yang dia lakukan sebelum aku datang.
Aku berlari ke atas menuju kamar mandiku. Aku membersihkan make up ku, menggosok gigi dan melihat diriku di kaca. Aku menyentuh bibirku.
Masih sangat sensitif karena ciuman Sehun. Pipiku bercahaya, begitu juga mata rusaku. Rambut gelapku, yang aku sanggul ke atas semuanya acak-acakan dan terlihat seksi.
Teringat komentarnya tentang pantatku, aku berbalik dan memandangnya, mempelajarinya dengan baik. Aku selalu menganggap bahwa pantatku ini terlalu besar, terlalu bulat dan menonjol. Yeah, aku memang mempunyai pantat yang bulat. Ku kira Sehun menyukai pantat yang bulat. Aku tersenyum pada diriku sendiri, telanjang, mematikan lampu dan melompat ke ranjang untuk membalas pesannya.
Tidak, terima kasih untuk hari ini. Aku mempunyai hari yang baik, meskipun hampir dirampok. Aku sudah sampai di rumah dan dengan selamat berada di ranjang. – Luhanie
Aku tersenyum, senang dengan respon menggodaku dan merebahkan kepalaku di bantal. Beberapa detik kemudian ada notifikasi masuk.
Senang mendengar kau baik-baik saja. Apa rencanamu untuk besok?
Oh my! Aku dengan cepat menekan tombol balas.
Tidak ada sesi untuk besok, sedang berpikir untuk pergi mengambil beberapa foto di Air Terjun Snoqualmie. Apa rencanamu?
Aku melirik ponselku sampai aku mendengar suara notifikasi.
Jam berapa aku harus menjemputmu? :)
Sangat percaya diri, bukankah begitu? Aku tertawa dan berbalik ke samping ketika memikirkan balasan apa yang harus aku ketik.
Apakah itu akan aman? Aku akan membawa kamera, dan aku tahu bagaimana emosinya dirimu.
Aku terkikik geli, berpikir kalau aku sedikit cerdas dan lucu ketika tiba-tiba ponselku berdering. Dan itu dirinya.
"Hai."
"Aku pikir kau telah memaafkanku atas kejadian pagi tadi." Dia terdengar frustasi.
Apa ini…..
"Aku hanya mencoba untuk bercanda, Sehun. Maafkan aku, ku kira pesan bukan cara yang bagus untuk menggoda." Aku menutup mataku.
Dia mengambil nafas dalam. "Tidak, aku yang minta maaf. Bolehkah aku ikut denganmu besok?" Sial, suaranya seksi dan terdengar penuh harapan. Siapa diriku untuk mengatakan tidak?
"Aku akan sangat senang dengan rencana itu. Bisakah jika jam 10:00 am?
"Aku bisa." Dia terdengar lega dan aku merasakan mabuk dan debaran di dadaku lagi.
"Aku akan mengirimu pesan alamatku."
"Okay." Dia menghela nafas. "Jadi kau ada di ranjang?"
Oh, sekarang ini menjadi baik! Aku tersenyum dan merebahkan badanku. "Ya. Kau?"
"Aku juga."
"Kita melewati hari yang panjang." Aku membayangkan dirinya berada di ranjangnya yang luas dan luar biasa, telanjang, berbaring di bawah selimut dan mulutku tiba-tiba mengering.
"Ya." Aku mendengar suara berisik ketika dia bergerak di ranjangnya.
"Aku harap kau tidur nyenyak malam ini."
"Aku juga." Aku mendengar senyuman di suaranya.
"Mengapa kau tidak bisa tidur nyenyak kemarin malam?"
Ada jeda panjang dan sangat sunyi. Aku ragu jika panggilannya telah berakhir.
"Sehun?"
"Aku di sini." Dia menghela nafas lagi lalu berkata, "Aku hanya tidak membutuhkan banyak tidur. Bagaimana denganmu? Mengapa kau bangun terlalu pagi hari ini?"
Aku tidak sepenuhnya puas dengan jawabannya, tapi biarkan saja.
"Aku menderita insomnia beberapa tahun ini. Aku biasanya hanya tidur beberapa jam di sini dan di sana."
"Itu sangat menyebalkan." Dia bernafas.
"Ya, tapi aku dapat mengambil keuntungan dari sinar matahari pagi."
"Kau itu seorang work-a-holic, bukan begitu, Luhan?" aku pikir dia tertawa padaku!
"Tidak, aku hanya menikmati apa yang aku lakukan."
"Dan apa yang kau kenakan untuk tidur malam ini?" Astaga! Pergantian topik!
"Selamat malam, Sehun." Senyum di suaraku.
"Mimpi indah, Luhan. Sampai jumpa besok pagi."
Dia memutus panggilannya dan kurang dari sepuluh detik kemudian ada pesan yang masuk.
Tidak sabar menunggu untuk melihatmu besok pagi, dan suatu hari melihat apa yang kau kenakan untuk tidur.
Oh, aku menjentikkan kukuku di kepala ketika aku mengatakan dia sangat manis.
Ada kata-kata "suatu hari" lagi! Aku juga tidak sabar untuk besok. Tidur nyenyak malam ini, Tampan, kau membutuhkan itu. :) xoxo
Untuk pertama kalinya selama lebih dari dua tahun aku tidur dengan cepat, mendapatkan mimpi indah, dan bangun ketika matahari telah tinggi.
.
.
ooOoo
TBC
ooOoo
.
.
Thanks for:
yehethun - luhanzone - Agassi 20 (ini dah ensi xD) - Dfandra (ditunggu setelah ff ini selesai ya^^) - Seravin509 - Luharnshi - Dazzlingcloud - chinchanchun (anggap aja bahenol hahaha) - parkizlin69 - rara - Nam NamTae - nisaramaidah28
.
a/n:
Maaf jika ada typo yang menggagu
Dari penggambaran tokok pria yang berpantat seksi, dipikiranku langsung tergambar pantat semok Sehun hahaha makanya aku me-remake ini menjadi HunHan xD
Sebenarnya aku ingin mengganti setting cerita ini menjadi di Korea, tapi aku tidak ingin merusak cerita penulis asli yang pandai menceritakan keindahan Seattle dan judul asli cerita ini (With Me In Seattle #1)^^
Kelima seri yang aku kasih judul dan peran Chapter lalu, aku akan post berurutan setelah ff demi ff tamat. Maaf kalo lama :'D aku akan update empat hari sekali sesuai janji di chapter pertama.
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya~
Semoga Exo' dan dua hari kedepan berjalan dengan lancar.
Get Well Soon Kai :')
Semoga momen-momen Chanbaek Kaisoo bertebaran~ kalau ada momen –kode- Hunhan aku update ff ini 10k+ di chapter 3~ :') #baper
Untuk EXO-L yang tak bisa nonton, siap-siap stalker TL dan download fancam supaya bisa merasakan sensasinya hahaha
.
Jangan lupa tinggalkan jejak~
Saranghae~
