Somewhere I Belong

.

.

Pairings are still secret~ :3

.

.

Disclaimer pt. 1: The original story belongs to my friend, Sky_Vanillasky on Wattpad, under the title 'Somewhere I Belong'. It's a straight story. I have her permission to remake her story, make slight changes here and there (turn it to yaoi at that *inserts smug face here lol*), but the story will be quite different since I add my own preferences in the plot too~

So it's not a plagiarism or so.

Disclaimer pt. 2: All the casts in the story belong to God, themselves, their parents and me *gets slapped* But I called dibs on Taetae! *gets slapped pt.2* XD

.

.

Happy reading~

.

.

Apa kau pernah mendengar kisah tentang putri duyung?

Putri duyung yang sangat cantik dan hidup bahagia di bawah lautan. Hingga suatu hari dia menyelamatkan seorang pangeran dan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Tetapi, dunia mereka berbeda. Dan untuk dapat hidup di dunia yang sama dengan pangeran itu, putri duyung yang begitu polos menyerahkan suaranya pada penyihir lautan untuk mendapatkan sepasang kaki.

Sepasang kaki untuk menemui sang pangeran.

Sepasang kaki untuk membuatnya terlihat normal, menyesuaikan diri dengan dunia si pangeran, dengan suara sebagai korbannya.

Tapi putri duyung yang malang telah tertipu. Cinta yang dia harapkan tidak menjadi kenyataan. Hanya dia yang merasakan... sakitnya. Hingga pada akhirnya, dia menghilang dan menjadi buih-buih di lautan.

.

.

"Aku ingin putus."

Yoongi mengangkat wajahnya untuk menatap namja di hadapannya. Jimin, kekasih pertamanya sekaligus satu-satunya orang yang dia biarkan masuk menerobos pertahanannya.

Setelah sekian lama.

Namja itu hanya menatapnya datar. Tidak ada humor di wajah itu, dia serius. Tapi yang menyakitkan dari tatapan kosong tak bermakna itu adalah saat ia tahu namja itu tak merasakan apa-apa ketika mengucapkan kata itu. Sangat berbeda dengan apa yang dia rasakan saat ini.

Sakit.

"Sudah ya." Jimin berbalik pergi; meninggalkannya berdiri mematung disana.

Yoongi tidak pernah menangis sejak dia beranjak dewasa. Menurutnya tangisan itu adalah lambang kerapuhan dan kelemahan seseorang. Dan dia adalah namja yang kuat, tangguh, penuh percaya diri –atau setidaknya itu yang dia pikirkan tentang dirinya.

Tapi malam itu entah kenapa dia tidak bisa berkonsentrasi melakukan apa pun. Dadanya berdenyut sakit sekali. Seolah ada sebuah jarum tak kasat mata yang menikamnya terus menerus. Kecil memang, namun perih menusuk dan berulang konstan. Seolah jarum itu bergerak sepuluh kali per detak jantungnya. Dia kesulitan bernapas, karna sesuatu menyumbat tenggorokannya. Tangisnya.

Satu-satunya cara agar dia merasa sedikit lega adalah dengan menangis. Ya, dia menangis dalam diam. Dengan suara tertahan. Dan dia merasa bodoh karna tak bisa menghentikan dirinya sendiri.

Rasa sakitnya sangat terasa. Sangat menyesakkan hingga jika dia diberi pilihan, mungkin dia lebih memilih menghilang saja dari pada merasakan rasa sakit seperti ini. Atau, pingsan untuk selmanya saja?

Tidak ingin terdengar cengeng, tetapi stereotype bahwa namja tak boleh menangis itu bullshit. Kenapa Tuhan menciptakan sepasang kantung air mata jika lelaki tidak boleh menangis?

Apa hanya wanita yang merasakan sakit?

Apa hanya wanita yang boleh merasakan sedih dan terluka?

Sekali lagi, bullshit.

Buku catatannya memang dipenuhi bercak air mata. Yoongi terus menulis tanpa peduli dengan napasnya yang sesegukan. Ia berpura-pura tegar, tapi kenyataannya tidak seperti itu.

.

.

"Jimin sudah putus dengan Yoongi."

"Hah? Iya? Kok bisa?"

"Aku juga tidak tahu. Aku mendengarnya dari siswa lain."

"Sayang sekali. Mereka kelihatan cocok."

"Yah, mau bagaimana. Jimin itu pembosan. Mana tahan dia pacaran lama-lama."

"Tapi ini Yoongi. Namja paling cantik dan tenar seantero sekolah. Dulu Jimin gigih sekali mendekatinya. Aku pikir dia serius."

"Yah, aku rasa sih dia hanya tertantang menakhlukkan Yoongi. Kalau sudah dapat ya... sudah, bosan."

"Hihi. Iya ya. Kasihan ya Yoongi."

"Eh, tapi Yoongi kelihatannya biasa aja. Tidak ada wajah sedih begitu."

Yoongi mengayunkan langkah melewati siswi-siswi yang sedang bergosip tersebut dengan wajah datar. Dia bersikap seolah tidak mendengar percakapan mereka. Wajahnya bagai di tutupi topeng. Ia bersembunyi dibalik sikap tidak acuhnya.

Dia adalah seorang Min Yoongi, namja yang sempurna dan tak ada cela. Dia takkan tumbang dengan mudah hanya karena seorang namja bernama Park Jimin, walaupun hanya satu nama itu yang benar-benar sanggup menghancurkannya saat ini.

Namun kali ini dia merasa topeng itu begitu berat. Bersikap seolah perkataan mereka tidak berefek apa-apa padanya sangatlah sulit. Bersikap dia baik-baik saja di depan Jimin yang tertawa-tawa bersama teman-temannya, sedangkan hatinya tersayat-sayat, lebih sulit lagi. Bersikap sempurna seperti biasanya sementara dia hancur lebur di dalam, benar-benar menguras tenaga dan emosinya; hingga membuatnya lelah.

Tapi dia harus kuat. Atau seluruh sekolah akan menertawakannya.

Dan harga diri seorang Min Yoongi terlalu tinggi untuk bisa ditertawakan dan diinjak.

"Eh, tau tidak. Baru saja putus dari Yoongi, Jimin sudah punya pacar baru."

"Ah, masa? Secepat itu?"

"Iya. Namanya juga Jimin. Playboy gitu."

"Ah aku kapan ya diajak jalan sama Jimin?"

Yoongi mencengkram tali tas ranselnya dengan erat dan menggigit bibir bawahnya dengan kuat, menahan tangis.

Cukup sudah. Dia harus melampiaskan rasa sakit ini.

.

.

Ada yang aneh dengan cinta di dunia nyata. Itu tak seperti cinta di dalam negeri dongeng. Cinta di dunia nyata begitu gelap dan penuh muslihat. Entah bagaimana ia bisa menjadi senjata untuk menghancurkan. Cara menggunakannya adalah kau harus membuatnya tumbuh di dalam hati seseorang. Pupuk dan biarkan dia berakar sangat kuat, hingga sulit dicabut. Cinta itu kelak akan menjadi racun bagi pemiliknya.

Siapa yang menumbuhkan cinta artinya dia telah menanamkan racun di dalam dirinya sendiri.

Yoongi ingin menggunakan cara yang sama untuk menumbangkan Jimin. Dia ingin Jimin merasakan apa yang dia rasakan. Dia ingin Jimin meminum racunnya sendiri. Dia ingin Jimin merasakan sakit.

Yoongi mengepalkan tangannya. Tekadnya sudah bulat. Dia akan mewujudkannya.

Yoongi mengetuk pintu kamar Taehyung –saudara tirinya. Namja berkaca mata dengan rambut hitam berantakan itu tampak terkejut mendapati kehadirannya. Ia melangkah masuk tanpa permisi lalu berbalik untuk menatap Taehyung. "Aku butuh bantuanmu," cetusnya.

Sejenak wajah namja itu tampak kosong terpana, lalu dengan tergagap dia bertanya, "A-apa yang bisa aku lakukan untukmu?"

Yoongi tersenyum licik. Dia tahu dia bisa mengharapkan saudara tirinya ini. Saudara tirinya yang sangat dibencinya ini akan melakukan apa pun untuknya. Termasuk ini.

"Buat seseorang jatuh cinta padamu. Lalu" –sorot matanya menajam penuh kebencian –"hancurkan dia."

.

.

Yoongi tahu idenya terdengar gila. Membuat seorang Jimin jatuh cinta pada Taehyung yang sangat cupu dan polos itu seperti mencoba berjalan melawan gravitasi.

Sangat tidak mungkin.

Jimin adalah salah satu namja paling populer di sekolah. Dia selalu di kerubungi namja dan yeoja yang mengantri untuk jadi pacarnya. Dan mereka yang mendekati Jimin juga bukan orang biasa. Mereka adalah namja dan yeoja tercantik dan populer di sekolah.

Tetapi, ini adalah Yoongi. Dia orang yang optimis dalam hal apa pun yang diinginkannya. Dia akan membuat sesuatu yang tidak mungkin itu menjadi mungkin.

Lihat saja.

"Aku ingin Taehyung pindah ke sekolahku," cetus Yoongi saat mereka telah selesai makan malam.

Orang tuanya menatapnya seolah ada tanduk tumbuh di kepala anak mereka.

"Kau serius sayang?" tanya Mrs. Min dengan tatapan heran.

Bukan rahasia lagi di rumah itu bahwa Yoongi sangat membenci Taehyung. Sekarang kenapa tiba-tiba?

"Ya." Yoongi mengangguk mantap.

"Kenapa?" pertanyaan itu datang dari Namjoon, kakak laki-lakinya, yang menatapnya penuh arti.

"Bukankah sudah waktunya aku membuka diri? Dia saudaraku apa pun yang terjadi."

Ibunya tersenyum bangga padanya. Mungkin dia tidak menyangka akhirnya Yoongi bisa punya pemikiran mulia seperti itu. Dia sudah mulai dewasa.

Tapi tidak dengan Namjoon. Kakak laki-lakinya itu sepertinya tidak terima.

"Kenapa harus pindah sekolah segala?" Namjoon terdengar curiga. "Jika mau mendekatkan diri, kau bisa melakukannya di rumah. Lagi pula, bukankah kau dulu tidak ingin satu sekolah dengannya?"

Yoongi mendelik sengit. "Kalau hyung tidak suka, terserah. Tapi yang jelas aku sudah membuat keputusan."

"Kau bertingkah aneh." Adalah ucapan terakhir Namjoon yang menusuknya dengan pandangan mencemooh, sebelum kakak laki-lakinya itu lalu berjalan naik ke lantai atas, lebih tepatnya –kamarnya.

"Jadi?" Yoongi kembali menatap ibu dan ayahnya, tidak peduli dengan penolakan Namjoon.

Keduanya terlihat sedang berpikir.

"Bukannya bagus kalau aku satu sekolah dengannya? Umma jadi tidak perlu repot lagi mengantarnya ke sekolah tiap pagi. Aku bisa berangkat dengannya," ucap Yoongi meyakinkan.

Sang ayah menangangguk-angguk tanda setuju. "Bagaimana dengan Taehyung sendiri? Apa Taehyung mau?"

Yoongi melayangkan pandangannya pada Taehyung yang awalnya menunduk. Diam-diam dia mengancam melalui sorot matanya. Awas saja jika dia menolak. Yoongi akan membuatnya menderita. Ia akan memastikannya.

Taehyung tersenyum kecil lalu mengangguk, membuat Yoongi mengeluarkan sedikit napas lega.

"Baiklah kalau begitu. Ayah akan mengurus kepindahannya."

"Hm." Yoongi mengangguk dengan senyum tersembunyi di balik wajahnya.

.

.

Hari ini hari libur. Dan Yoongi tengah melakukan make over pada penampilan saudara tirinya tersebut.

Sedari pagi dia telah menyeret Taehyung kesana kemari untuk merubah penampilan cupu itu menjadi sesuatu yang bisa menarik perhatian seorang Jimin.

Pertama, dimulai dari kacamata tebal itu. Ugh, Yoongi sangat ingin mematahkan kacamata itu menjadi dua saking jeleknya. Dia menyeret Taehyung ke sebuah toko kacamata, mengecek matanya dan memesan sepasang soft lens berwarna bening untuk Taehyung.

Taehyung mengerjap-ngerjapkan matanya yang berair, berusaha menyesuaikan sesuatu yang asing yang mengganjal di matanya. Tangannya bergerak untuk mengusap matanya namun ditahan oleh Yoongi.

"Jangan diusap"

Taehyung menyipitkan matanya yang berair dan sedikit mengerucutkan bibirnya, "perih" lirihnya tipis.

Yoongi menatapnya sejenak, memutar kedua bola matanya lalu berkata ketus, "nanti juga terbiasa. Tidak usah cengeng."

Taehyung terdiam sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Tangannya mengusap sudut matanya yang masih perih saat sesuatu disodorkan tepat di hadapannya. Sebuah botol.

Taehyung menoleh menatap Yoongi yang balik menatapnya malas.

"Teteskan itu dimatamu setiap 2 jam sekali, atau ketika matamu terasa perih"

Taehyung masih menatap Yoongi hingga namja itu menggoyangkan botol di tangannya sambil berdecak malas. "Apa kau akan tetap membiarkanku memegang botol ini untukmu?"

Taehyung meraih botol itu dengan cepat sambil menundukkan kepalanya, "terima kasih"

Yoongi melenggang keluar dari toko kacamata itu dengan cuek, dan Taehyung hanya bisa mengikuti dari belakang.

Destinasi selanjutnya, toko pakaian.

Sebagai putra dari seorang designer terkenal seperti Mrs. Min, seharusnya Taehyung memiliki baju yang bagus dan ber-merk seperti yang dikenakan oleh Yoongi, Namjoon, maupun Jihoon. Namun, entah kenapa itu bukan Taehyung sama sekali untuk berpenampilan bagus dan menarik perhatian orang. Tidak dikenal orang dan menjadi seorang introvert adalah satu hal yang membuatnya nyaman.

Namun demi keinginan Yoongi, kini Taehyung harus rela bolak-balik kamar ganti untuk mencoba setiap pakaian yang disodorkan oleh Yoongi.

"Coba semuanya."

Taehyung terhuyung dengan tumpukan baju di dalam dekapannya. "Semuanya?" serunya ngeri. Taehyung tidak pernah membayangkan dirinya mencoba baju sebanyak ini.

Yoongi menunjuk fitting room dengan sorotan tajam ke arahnya. Taehyung meneguk ludah. Lagi-lagi dia tidak bisa menolak keinginan Yoongi karna tatapannya itu.

Sudah banyak pakaian yang dicobanya dan Yoongi hanya menggumam pelan sebagai suara persetujuannya. Karena pada dasarnya, Taehyung itu memiliki badan yang pas. Kadar lemak yang pas (masih ada lemak bayi di pipinya yang seumur hidup tidak akan diakuinya), juga postur tubuh yang pas. Sedikit lebih tinggi dari Yoongi yang mungil namun memiliki kulit yang sedikit lebih gelap dari Yoongi yang sangat pucat itu. Intinya, badannya proporsional walaupun tidak terlalu tinggi.

Lalu dia juga dipaksa mencoba berbagai macam sepatu. Tetapi kali ini Taehyung memilih sepatunya sendiri. Hanya sepasang converse berwarna hitam yang terlihat simpel dan sederhana. Yoongi hanya mengernyitkan dahinya lalu mengangkat bahu, berjalan menuju salah satu deretan sepatu dan mengambil sepasang lagi converse berwarna merah dan menyerahkannya pada Taehyung.

"Tidak mungkin hanya memakai sepasang saja, kan?"

Taehyung mengangguk sambil tersenyum lebar.

Yoongi memberi isyarat pada Taehyung untuk mengikutinya dan membawa semua barang belanjaan mereka. Taehyung hanya bisa menurut dengan tangan penuh berisi tas-tas belanjaan dan kotak sepatu yang sedikit menutupi pandangannya. Membuatnya sedikit kesusahan berjalan.

Yoongi tiba-tiba berhenti berjalan, dan jika Taehyung tidak melihatnya, hampir saja dia menabrak tubuh mungil itu. Yoongi berbalik menatap Taehyung dari atas hingga bawah, membuat yang ditatap hanya bisa meneguk ludah kasar.

Apa lagi?

"Sepertinya masih ada yang kurang"

Yoongi masih menatap Taehyung dan tatapannya berhenti pada surai hitam berantakan milik Taehyung.

"Kita harus mencari gaya rambut baru yang sesuai untukmu."

"Huh?"

"Apa kau mendengarku?"

Taehyung mengangguk cepat.

Yoongi berbalik lagi dan mulai berjalan, "ikuti aku"

Taehyung hanya bisa menggerutu dalam hatinya. Bukankah dia sudah mengikuti Yoongi dari tadi?

"Cepat!" Yoongi menolehkan kepalanya dan memberi tatapan dingin yang mampu membuat Taehyung menguncup takut.

"N-ne!"

.

Yoongi membawanya ke sebuah salon. Namja itu memaksanya untuk melakukan serangkaian perawatan dan memberinya potongan rambut baru. Juga sepertinya mengecat rambut Taehyung dengan warna lain.

Oh entahlah.

Taehyung tak sanggup membayangkan jika rambutnya berubah warna lain selain hitam. Taehyung melirik Yoongi yang duduk dengan anggun sambil memainkan ponselnya. Namja itu terlihat sangat bosan dan Taehyung meringis pelan karena jika bukan karena keinginan Yoongi, Taehyung juga tidak mau berlama-lama duduk di kursi salon ini sambil menunggu warna itu meresap ke rambutnya.

Kenapa harus ganti warna rambut segala, sih?

Gerutu Taehyung pelan. Dia kembali memperhatikan Yoongi dan juga rambutnya.

Minty green.

Warna rambut Yoongi saat ini berwarna hijau mint yang terlihat segar. Jika diingat-ingat lagi, Yoongi itu memang selalu berganti warna rambut. Sebelumnya merah muda, sebelumnya lagi berwarna kuning terang.

Taehyung menggeleng pelan. Jika itu Yoongi, maka warna apapun akan terlihat bagus. Namja itu memiliki kulit putih dan itu membuat semua warna terlihat terang dan indah di kepalanya. Lain halnya dengan Taehyung, kan?

Taehyung semakin meringis. Bagaimana jika rambutnya malah membuatnya terlihat jelek?

Entah berapa lama dia melamun hingga tak sadar bahwa saat ini rambutnya sedang di keringkan.

Kapan dicucinya? Dan kapan dia berjalan ke kursi ini?

Kepalanya terasa berat karena kebanyakan berpikir. Dia hanya bisa pasrah. Ya, pasrah.

Ketika semuanya telah selesai, dia menatap Yoongi yang sedang berjalan ke arahnya sambil menatap rambutnya.

Oh tidak.

Pasti dia terlihat jelek kan?

"Apa aku terlihat aneh?" tanyanya pelan.

Yoongi mengedikkan bahunya dan menggunakan dagunya untuk menunjuk ke arah cermin. "Kenapa tidak kau lihat sendiri"

Taehyung baru sadar jika dia, karena saking gugupnya memikirkan nasib rambutnya, sama sekali belum melihat cermin. Tidak memperhatikan sedikitpun penampilannya sedari keluar dari toko kacamata tadi.

Kali ini dia berbalik ke arah cermin seperempat badan itu dengan mata membelalak lebar.

Sungguh.

Sosok yang balik menatapnya dari cermin itu tidak dikenalnya sama sekali.

Tidak ada sosok yang biasa menatapnya balik melalui kacamata tebal itu lagi. Hanya ada sesosok bermata teduh dan memiliki bulu mata yang panjang balik menatapnya.

Tidak ada sosok yang hanya mengenakan kemeja dan jeans belel yang biasanya balik menatapnya dari cermin itu. Sekarang sesosok namja dengan skinny jeans hitam dan sweater berwarna putih gading balik menatapnya. Sederhana namun terlihat trendy.

Juga tidak ada rambut hitam berantakan yang menyembul dari sosok di balik cermin itu. Sekarang hanya ada sosok dengan surai berwarna lilac yang terlihat lembut, seperti permen kapas.

Taehyung masih terperangah tak percaya. Sedangkan Yoongi berjalan mendekat dan menatap refleksi Taehyung dari cermin itu dengan senyum puas.

"Bagaimana?" tanya Yoongi.

"Ini…aku?"

Yoongi memutar kedua bola matanya malas. "Kalau bukan kau, siapa lagi?"

"Aku terlihat…berbeda"

"Tentu saja. Tidak mungkin kau bisa melakukan apa yang kuminta jika masih mempertahankan penampilan cupu itu"

Ucapan Yoongi menusuk dan Taehyung sedikit merengut. Untung saja Yoongi tidak melihat itu.

"Ayo pulang"

Taehyung terlihat kepayahan membawa semua kantong-kantong belanjaan di tangannya, juga kotak-kotak sepatu itu, dan mengekori Yoongi seperti anak ayam. Taehyung menggembungkan pipinya dan meniup poni rambutnya yang sekarang berwarna lilac dengan kesal. Sementara dirinya kerepotan membawa belanjaan sebanyak ini, Yoongi dengan santainya berjalan tanpa beban di depannya.

Begitu sampai di parkiran, Yoongi membuka bagasi mobilnya dan menyuruh Taehyung—hanya dengan tatapan mata saja—untuk menaruh seluruh barang-barang belanjaan mereka disana. Ya, entah kenapa Yoongi suka sekali bicara hanya dengan tatapan. Padahal apa susahnya mengeluarkan suara?

Taehyung sekali lagi menggerutu diam-diam.

Beberapa saat kemudian keduanya telah duduk di dalam mobil. Taehyung memijat-mijat tangan dan kakinya yang pegal-pegal setelah kegiatan belanja mereka yang menguras energi. Dia benar-benar salut pada Yoongi yang tidak menunjukkan tanda lelah sama sekali. Apa dia seperti ini karna sudah terbiasa melakukan shopping gila-gilaan seperti tadi?

"Ah ya" Yoongi bergumam pada dirinya sendiri begitu ingat sesuatu. "Kita belum melihat koleksi di toko umma yang satu itu."

Rahang Taehyung terbuka lebar. Membayangkan dirinya harus mencoba koleksi satu toko seperti sebelumnya membuatnya meneguk ludah dengan ngeri.

Oh tidak lagi.

.

.

To be continued.

.

.

Hey hey~ :D

Semoga suka sama part dua ini ya~ (baru aja di remake sekitar sejam-an, jadi typo harap dimaklumi)

Pairnya juga masih secret *puts on a smug face*

Juga member-member lainnya bakal nyusul :'D

Gak sabar mau masukin Kookie, Chim, Jin sama Hobi :3

.

.

Mind to leave some review~?