Title : Someone Like Me (Your Eyes)
Genre : Brothership, Family, Drama
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum
Rated : Fiction T
Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?
Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.
.
Princesskyunie
.
Proudly
.
Present
.
.
2
"Tunggu disini"
Wali kelas barunya, Guru Jung, menepuk pundak Kyuhyun sebelum masuk kedalam ruangan kelas dan meninggalkan Kyuhyun seorang diri diluar kelas. Sedikit berdecak, anak lelaki berkulit pucat itu menyandarkan tubuhnya, mencoba mencari kalimat-kalimat yang akan ia gunakan untuk sesi perkenalan sebentar lagi. Sejujurnya ia bukan tipe anak yang peduli pandangan orang lain padanya, tapi ini berbeda, sekolah ini berbeda dan Kyuhyun tak mau orang melihatnya berbeda dan berakhir dengan pembullian. Meski tak yakin, karena dia dari golongan orang tak punya dan mengambil beasiswa, tapi Kyuhyun mau berusaha membuat orang lain tak berniat membully-nya, memberi kesan baik misalnya. Ia ingin lulus dengan damai disekolah ini sehingga bisa melanjutkan masuk universitas terbaik. Mungkin dengan begitu, ia bisa membuat Eomma-nya berhenti bekerja di klub malam.
"Ukh"
Menoleh, Kyuhyun mendapati seorang siswa tengah merintih sambil membungkuk dan meremas dadanya. Berjalan lebih cepat, anak itu sampai didepan siswa tadi, menyentuh lengannya mencoba membantu kalau-kalau siswa tadi tak bisa menahan berat tubuhnya dan butuh sandaran.
Deg
Deg
Deg
Kyuhyun tak tahu kenapa, tapi jantungnya berdebar menggila begitu ia menyentuh lengan siswa itu.
"Permisi. Kau tak apa?"
Mata mereka bertatapan lama, membuat jantung keduanya semakin menggila. Kyuhyun terkejut ketika siswa yang ditolongnya itu mendorongnya menjauh dengan sekali sentakan.
"Jangan menyentuhku!" begitu dingin, dan tanpa mengatakan apapun lagi, siswa itu berlalu dari sana, meninggalkan Kyuhyun yang masih dalam mode terkejutnya.
"Aish, aku hanya mencoba menolongnya, tapi dia malah menjawab dengan menyebalkan begitu?"
Kyuhyun mengumpat begitu sosok pemuda berkulit putih yang lebih pendek beberapa senti darinya masuk kedalam kelas.
.
.
"Kau boleh duduk di kursi yang kosong, haksaeng" Guru Jung memberi perintah. "Jangan membuat masalah" katanya setengah berbisik pada Kyuhyun.
Kyuhyun melirik sekelas sebelum membungkuk pada wali kelasnya itu. Anak itu sedikit menyunggingkan senyum sinis. Kyuhyun kira wali kelasnya sedikit berbeda dengan guru-guru yang ditemuinya tadi, namun nyatanya wali kelasnya tak jauh berbeda dari mereka.
Ada dua kursi yang kosong, dan entah mengapa Kyuhyun memilik mendudukan dirinya disamping siswa yang dia cap menyebalkan dibanding duduk disamping siswa berkacamata yang sejak dia masuk tadi sudah menundukan kepalanya. Kyuhyun bukan tak sadar bahwa siswa berkacamata itu ketakutan, apalagi beberapa seringai terlihat jelas diwajah teman-teman sekelasnya.
Bruk
Kyuhyun mendudukan dirinya, disambut tatapan terkejut teman-teman sekelasnya –termasuk siswa yang dia cap menyebalkan. Sedikit melirik pada siswa berkacamata yang menghela nafas lega, Kyuhyun yakin pilihannya yang terbaik.
"Aku tak mau ada keributan" Guru Jung berlalu setelah mengatakan kalimat singkat penuh makna. Dan Kyuhyun bersyukur karenanya.
"Hey! Kau tidak bisa duduk disana"
Kyuhyun mengernyitkan dahinya, "Kenapa? Guru Jung bilang aku boleh duduk dikursi yang kosong. Ini kan kosong. Atau ada yang punya?"
"Kibum tidak suka berbagi bangku dengan orang lain" seorang siswi menyahut dengan wajah tak suka.
Jadi namanya Kibum.
"Kibum-sshi, aku boleh duduk disini kan? Kebetulan aku—"
Sret
Kibum –siswa yang Kyuhyun cap menyebalkan, mendorong kursinya, kemudian tanpa mengatakan apapun segera berlalu keluar kelas, meninggalkan Kyuhyun yang mendengus keras melihat kelakuannya. Sudah dipastikan teman sebangkunya tak akan menolongnya sekedar mengucapkan 'Ya'.
"Lihat kan? Sebaiknya kau duduk dengan Lee Jonghyun. Palli!" seorang siswa menepuk pundak siswa berkacamata. "Jonghyun-ah, panggil dia agar mau duduk denganmu" kalimat itu penuh penekanan, bukan meminta tapi memerintah, dan Kyuhyun mendengus kecil karenanya.
"Kyu—kyuhyun-sshi, k—kau boleh..."
"Aku suka terkena sinar matahari. Itu membantuku tumbuh tinggi" Kyuhyun memotong dengan alasan konyol. "Lagipula sepertinya Kibum tidak keberatan aku jadi teman sebangkunya" katanya sambil meringis, berharap menjadi sebuah senyum dimata teman-temannya.
.
.
Kibum mendudukan dirinya dengan kasar dibangku yang berada diatap sekolah. Diremasnya dadanya yang masih berdebar tak karuan. Ada perasaan sesak yang menyertai debaran aneh pada jantungnya. Sesuatu yang terjadi setiap kali anak berkulit pucat itu berada disampingnya, menyentuhnya atau bahkan hanya dengan mendengar suara rendahnya.
Pikiran anak itu melayang, mencoba mengingat sesuatu yang seperti terlupakan olehnya. Tapi seberapa banyak dia memikirkan itu, mencoba mengingat apapun, ia tak mengingat apapun tentang anak berkulit pucat yang menjadi teman sekelasnya kecuali mereka bertemu diluar kelas sebelumnya.
"Siapa sebenarnya dia?"
Brak
Kibum mendengus keras begitu suara pintu terbuka dengan keras mengganggu ketenangannya. Mencoba mengatur nafas, ia mendengar langkah kaki semakin banyak. Hingga suara rendah dengan nada dingin itu memaksanya membalikan badan untuk memastikan pemiliknya.
"Kembalikan" dan Kibum melihatnya. Siswa baru yang memperkenalkan dirinya dengan canggung itu menatap si pembuat onar –Kim Junho, dengan tatapan dingin.
"Apa yang menarik dari gantungan ponsel ini? Bukankah ini terlihat murahan" Junho memainkan gantungan ponsel ditangannya. "Mau lihat pertunjukan hebat, Bum?" siswa bermata sipit itu melirik pada Kibum yang menatapnya datar. "Kita lihat saja, seberapa berharganya barang murahan ini" katanya sambil menatap jenaka pada Kyuhyun yang sudah mengerang kesal karena pergerakannya ditahan teman-teman Junho.
"Kembalikan atau—"
"Atau apa?"
"—aku tak ingin membuat masalah dihari pertamaku. Tapi kau memancingku" Kyuhyun mengepalkan tangannya, kemudian mulai menyerang dua teman Junho membuat Junho menggeram.
"Hentikan Cho Kyuhyun!" geram Junho. Anak bermata sipit itu menatap nyalang pada Kyuhyun yang tengah mengatur nafasnya. "Aku tak suka orang lain menyentuh teman-temanku" katanya sebelum melempar gantungan ponsel milik Kyuhyun kemudian menginjaknya.
Kyuhyun mengumpat sebelum menerjang Junho dengan sekuat tenaga. Keduanya saling pukul sampai suara seorang guru menghentikan keduanya.
"Kalian berempat ikut aku" katanya. "Kau juga Kibum" katanya ketika sadar Kibum juga berada disana.
.
.
"Siapa yang memulai?"
"Tentu saja anak baru ini" Junho menatap sengit pada Kyuhyun. "Dia memukul Jaemin dan Yoosung, kemudian menyerangku" katanya, kemudian sedikit menyunggingkan senyum kemenangan ketika guru kedisiplinan beralih menatap Kyuhyun.
"Benar begitu?" Kyuhyun mendongkrak, pertanyaan sang guru cukup membuatnya terkejut.
"Kalau anda tak percaya, kita tanya saja pada ketua kelas kami" Kibum mendengus cukup keras begitu kalimat itu keluar dari mulut Junho. Namun pemuda itu tak melakukan apapun, tak bicara apapun, hanya menatap keluar jendela sampai sosok ketua kelas mereka, Ahn Jaehyun muncul.
"Siapa yang memulai?" pertanyaan yang sama dan Kibum sudah tahu jawabannya.
Kyuhyun menatap ketua kelasnya, berharap pemuda kalem itu mau sedikit saja membantunya. Meski ia lebih yakin, si ketua kelas lebih takut dengan Junho dkk. Dengan sedikit senyum, Kyuhyun mengangguk, memberi kode pada Jaehyun untuk mengatakan sesuatu. Apapun.
"Kyuhyun yang memulai" begitu tegas, tanpa ragu-ragu. Dan Kyuhyun terluka karenanya. Anak itu menggelengkan kepalanya, tersenyum sinis saat Kibum meliriknya.
"Baiklah. Kau boleh pergi" Guru Bong –Guru kedisiplinan, menatap Kyuhyun kemudian Junho dan kedua temannya. "Kalian bertiga boleh keluar. Pergi ke ruang kesehatan sebelum kembali ke kelas" katanya disambut senyum kemenangan oleh ketiganya.
Brak
"Kibum?" meski tahu sifat Kibum yang tak peduli dengan orang lain, namun entah mengapa Guru Bong tetap saja berharap kali ini Kibum memberikan penilainnya tentang siapa yang salah dan benar.
"Aku tak ikut campur, ssaem" cepat dan tanpa berpikir.
"Kau juga masuk kelas" putus Guru Bong.
Kibum membungkuk kemudian berlalu dari ruang konsultasi, meninggalkan Kyuhyun dan Guru Bong disana. Pria berusia 30 tahunan itu lalu kembali memfokuskan pandangannya pada murid didepannya. Murid yang baru beberapa jam lalu diperkenalkan kepala sekolah sebagai siswa penerima beasiswa.
"Kenapa tak bicara apapun?"
"Huh?"
"Kau harusnya membela diri. Jika bukan kau yang melindungi dirimu, tak ada yang akan melindungi dirimu, bahkan berada disisimu"
"Anda juga?" Kyuhyun tersenyum kecil sebelum meringis karena luka dibibirnya tertarik, membuatnya merasakan perih. "Terimakasih. Tolong beritahu hukuman apa yang harus kulakukan agar saya bisa menyelesaikannya secepatnya"
Guru Bong sedikit menaikan sebelah alisnya mendengar nada yang digunakan oleh siswa didepannya. Bukan nada datar seperti Kibum, bukan juga nada dingin dan mengintimidasi, namun nada mencemooh yang membuatnya tak bisa menebak bagaimana pemikiran siswa didepannya. "Pergilah ke halaman sekolah. Lee ahjusshi perlu bantuanmu" putusnya.
.
.
Kyuhyun menghela nafas panjang kemudian membuangnya dengan kasar. Begitu seterusnya sampai pria berusia diakhir 30-an itu merasa terganggu juga. Meski sejak sejam yang lalu saat anak pucat yang dia yakini adalah murid baru itu mengatakan akan membantunya –atau dengan kata lain mendapat hukuman, anak itu tak mengatakan apapun lagi, membuatnya merasa sendirian meski pekerjaannya terbantu.
"Kau tahu?" Lee ahjusshi membuka suara, mendudukan dirinya dikursi taman. "Menghela nafas berarti membuang keberuntungan" lanjutnya. "Sejak setengah jam lalu, kau sudah menghela ratusan kali dan itu artinya kau membuang ratusan keberuntunganmu" katanya lagi.
Kyuhyun tak menyahut, namun melangkah mendekati Lee ahjusshi, mendudukan dirinya disamping pria itu.
"Mengapa kau tak coba kabur?" Kyuhyun kali ini menoleh, menatap Lee ahjusshi dengan alis bertaut bingung. "Para siswa selalu melakukannya dan memberiku uang"
Kyuhyun tersenyum kecil, "Itulah. Aku tak punya uang untuk membuat ahjusshi tutup mulut"
"Mulutmu lebih cepat bereaksi dibanding otakmu, kurasa"
"Temanku selalu berkata begitu" katanya mengacu pada Ryeowook yang sering mengatai bahwa kerja mulutnya lebih cepat dibanding otaknya. Karena memang hanya anak pendek itu yang menjadi temannya selama ini. "Kurasa anda tidak tersinggung"
"Aku sering mendengar yang lebih dari itu"
Hening.
"Ini hari pertamamu sekolah?"
"Huh?"
"Kau murid baru kan?"
Kyuhyun mengangguk, "Dan aku langsung dikerjai" katanya sambil tertawa garing.
"Bersabarlah" bukan kalimat yang ingin didengar Kyuhyun, namun pemuda itu tetap saja tersenyum. Bahkan sampai Lee ahjusshi berpamitan untuk membersihkan sisi halaman yang lainnya, ia masih saja memasang senyum.
"Bersabar" lirihnya.
Tap
"Kyuhyun-sshi"
Kyuhyun mendongkrak, menemukan Lee Jonghyun –si siswa berkacamata, berdiri didepannya sambil menyodorkan secangkir hot chocolate padanya. "Ambilah" katanya. "Udara semakin dingin" lanjutnya sambil melirik pada Kyuhyun yang hanya mengenakan mantel tipis bahkan tanpa menggunakan sarung tangan.
"Terimakasih"
"Tidak. Aku yang seharusnya berterimakasih"
"Huh?"
"Untuk tidak duduk dibangku yang sama denganku" katanya membuat alis Kyuhyun naik satu. "Mereka akan membully teman sebangku murid baru"
Kyuhyun manggut-manggut mendengar jawaban Lee Jonghyun. Jadi itulah alasan mengapa Lee Jonghyun sangat ketakutan saat melihat dia. Dan bagaimana bersemangatnya teman-teman sekelasnya ketika memaksa Jonghyun untuk memintanya duduk bersama anak itu. Bersyukurlah bahwa Kyuhyun punya naluri yang baik, jadi dia tetap mendudukan dirinya disamping Kibum meski sesungguhnya ia merasa tak nyaman dengan pemuda dingin itu karena jantungnya selalu berdebar cepat. Tapi kenapa mereka tidak mengusik Kibum?
"Kibum" ucapan Jonghyun membuat Kyuhyun kembali menatap teman sekelasnya itu. "Mereka tak akan berani mengusiknya"
"Terimakasih minumannya"
Kyuhyun kembali pada kegiatannya menyapu halaman SM High School. Sebelah tangannya yang memegang gagang sapu mencengkram erat dadanya yang nyeri entah karena apa. Tapi bahkan hanya dengan mendengar nama Kibum membuatnya merasa terluka. Apa kejadian diluar kelas itu benar-benar melukai hatinya? Tapi Kyuhyun bukanlah orang yang mudah merasa sakit hati apalagi hanya karena hal seperti itu. Atau—ada sesuatu yang dia lupakan menyangkut Kibum? Entahlah, bagaimanapun Kyuhyun mencoba mengingatnya, namun ia tak pernah ingat ia pernah bertemu Kibum sebelum hari ini.
.
.
"Bagus. Kau melakukannya dengan baik"
Kibum melirik sekilas pada Junho yang tengah berbicara dengan Jaehyun. Anak itu melangkah lebar menuju kursinya. Sepasang mata hitamnya melirik sekilas pada ransel cokelat tua milik Kyuhyun yang terjatuh dilantai. Tanpa sadar, anak itu menyimpan kembali ransel cokelat milik Kyuhyun dikursinya.
"Karena sudah membuatmu terluka, kau tak akan membiarkannya kan, Junho-ya?"
"Tentu saja. Ini baru permulaan"
Kibum tak tahu mengapa tapi ia merasa kesal mendengar ucapan Junho. Anak itu buru-buru memakai headphone, menyetel musik dengan suara keras. Diedarkannya pandangannya keluar jendela. Ucapan Manager Han dan Ayahnya tiba-tiba saja menggema ditelinganya.
.
"Persiapkan dirimu. Hari ini kau akan diperkenalkan sebagai pewaris Kim's Corp"
.
"Tuan besar hanya ingin melindungi tempat anda, Tuan Muda"
.
"Tugasmu hanya melakukannya dengan baik, Kibum. Jangan pikirkan apapun, hanya melakukan yang terbaik. Bagian lainnya, Ayah akan melakukannya untukmu"
.
"Kalau anda tidak mau melakukannya untuk Tuan Besar. Lakukanlah itu untuk ribuan karyawan Kim's Corp"
.
"Aku benar-benar membencinya" entah karena alasan apa.
Deg
Deg
Deg
Kibum kembali terpaku, tangan kanannya meremas dada kirinya begitu rasa nyeri itu kembali datang. Namun entah mengapa, dibandingkan mengalihkan pandangannya kearah lain, ia tetap saja menatap sepasang manik cokelat dibawah sana. Sepasang manik yang juga tengah menatapnya dengan pandangan yang Kibum tak tahu artinya.
—TBC—
Chapter 2-nya dataaang ^^ makasih banget sama yang bersedia review di chapter 1. Aku jadi semangat juga nulis fanfic ini.
Seperti fanfic yang lainnya, disinipun aku ngga bisa bales satu-satu review kalian. Tapi aku baca semuanya kok ^^ jadi harap ngerti yaa
Karena ini akhir tahun, aku lagi sibuk banget dikantor, jadi mungkin bakal lama lagi bisa update. Aku harap kalian semua mau menunggu yaa
Last—silahkan review biar aku semangat ngelanjutinnya
Bye bye *bow*
