Pengkhianatan,

Dia yang begitu dicinta

Dan sebuah kesalahpahaman.

Membawa sebuah tragedi.

Di saat semua yang tidak mungkin dapat menjadi nyata

Anugrah berubah menjadi kutukan.

Seorang kakak kehilangan adiknya,

Sebuah negeri kehilangan pemimpinnya.

Seorang wanita kehilangan kekasihnya.

Hanya sesal yang menggema dalam dada

Membawa luka mendalam melampaui masa

Menyisakan kerinduan

Akan kematian.

Dan pencarian

Sebuah pengampunan.

Bersamamu

Menemukanmu Part 2/3

Disclaimer : ©Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya memakai karakternya untuk hiburan

Warning : SasuFemNaru, AU, OOC, Typo, cover diambil dari serial Halfworlds by HBO Asia

Read n review please

Suara tangisan lirih terdengar dari seorang wanita yang berjalan tergesa membelah Pine Street malam itu, suasana malam yang kelam dan mencekam tak dihiraukannya. Kawasan Pine street yang rimbun menampakan bayang-bayang gelap dari pepohonan di sekitarnya. Lampu penerangan yang redup menambah suasana malam menjadi mengerikan.

Sara masih menangis terisak. Kakinya yang mulai terasa pegal memaksanya untuk duduk sejenak disalah satu bangku taman.

Seseorang mengulurkan tisu pada Sara.

"Terima kasih."

"Maaf Nona, bukan bermaksud untuk kepo. Kenapa malam-malam begini menangis sesenggukan di jalan yang sepi? Tempat ini jelas bukan tempat yang nyaman untuk menangis."

Sara menghapus air matanya perlahan dan mengatur nafasnya." Aku hanya sedang sedih, pacarku tidak mau bertanggung jawab."

"Kau hamil?"

Sara mengangguk,"Aku bingung harus berbuat apa sekarang. Tidak mungkin bagiku membesarkan bayi ini seorang diri. Aku tahu bagaimana rasanya tumbuh tanpa seorang ayah."

Sosok itu tersenyum miris, " Dulu seseorang pernah mengatakan, jangan pernah melakukan hubungan seks tanpa cinta dan tanggungjawab*. Zaman sekarang terlalu banyak pasangan yang dibutakan oleh cinta."

"Dan aku baru menyesal sekarang."

"Penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Apa yang akan kau lakukan sekarang nona?"

Sara menatap lawan bicaranya," Aku akan menggugurkannya."

Sosok itu memandang Sara dengan tatapan menusuk." Kau akan membunuhnya begitu saja?"

"Lebih baik bayi ini mati daripada hidup tanpa ayah, setidaknya dia belum sempat melihat matahari sekarang."

"kau tidak akan menyesal ?"

"Aku akan lebih menyesal jika tidak melakukannya."

Sosok itu menghela nafas, "baiklah, aku akan membantumu."

"Caranya?"

Satu hal yang Sara lihat sebelum kegelapan memenuhi pandangannya,

sepasang mata biru yang haus darah.

.

.

.

Sasuke memandang pusara di depannya dengan tatapan kosong. Tiga hari yang lalu, sosok wanita misterius berambut pirang dan bermata biru yang menculik Hinata berlutut tepat di depan pusara ini. Pusara leluhurnya yang memiliki nama yang sama dengannya.

Sewaktu kecil, ia bertanya apa ibunya alasan kenapa ia bernama Sasuke.

"Agar nanti kau bisa seperti leluhur kita yang bisa mempersatukan klan Uchiha dan senju, meskipun nyawa menjadi taruhannya. Tapi ibu berharap kau bisa melampauinya, jadilah seorang kesatria yang bisa melindungi semuanya tanpa harus kehilangan nyawamu." Jawab Mikoto panjang lebar sembari mengelus rambut Sasuke kecil.

Sasuke, nama yang legendaris.

Sejak pertemuan itu, Sasuke berusaha mengingat sosok itu. Yang ia tahu hanya namanya, Naruto. Mungkinkah mereka pernah bertemu sebelumnya? Rasanya tidak mungkin, apalagi Naruto mengatakan ia membutuhkan waktu ratusan tahun untuk menemukannya.

Reinkarnasi? Mungkin saja.

Perlahan Sasuke mengusap batu nisan itu, dan sesuatu menyita perhatiannya.

Disini terbaring mereka yang membawa perdamaian dua klan pendiri konoha.

Mereka bersatu dalam cinta

Meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Uchiha Sasuke & Senju Naruto

Sasuke memotret nisan itu dan bergegas untuk kembali ke markas, melaporkan hasil temuannya.

.

.

.

Markas kepolisian Konoha.

Shikamaru memijit keningnya perlahan. Kasus ini benar-benar merepotkan. Setelah penculikan Hinata, timnya kini bekerja lebih keras untuk memecahkan misteri kasus ini. Shikamaru bersyukur, Hinata baik-baik saja. Kalau sesuatu terjadi pada Hinata atau bayinya, ia yakin Kiba akan mengirisnya tipis-tipis.

Satu hal yang Shikamaru yakini, wanita itu bukan manusia, atau manusia yang memiliki kemampuan khusus.

Pertama kali dalam karirnya sebagai detektif, ia harus membuka semua sumber yang berisi jenis-jenis makhluk mitologi. Dan hanya satu jenis yang cocok dengan wanita itu.

Palasik, Iblis pemangsa janin tidak berdosa. Merupakan manusia pemilik ilmu hitam atau manusia yang menjadi immortal karena kutukan.

Iblis, pemangsa janin, ilmu hitam, immortal dan kutukan.

Shikamaru ragu harus memasukan sederet kata-kata itu dalam laporan kasusnya. Dan ia yakin, sangat yakin, jika ia nekat menulisnya. Ia dan rekan satu timnya akan dikirim ke panti rehabilitasi kejiwaan.

Dibalik semua kegilaan yang tersaji dihadapannya, Shikamaru bersyukur Wanita itu tidak memangsa janin Hinata. Kalau benar ia Palasik, apa yang mencegahnya untuk memangsa janin Hinata? Apakah mungkin dia masih punya hati nurani? Iblis berhati nurani adalah sebuah lelucon paling tidak lucu yang pernah ia dengar.

Manusia yang dibutakan oleh kekuatan, termasuk ilmu hitam. Tidak akan memilih-milih korbannya dan dapat menjelma menjadi sesuatu yang lebih kejam dari iblis.

Kecuali, ia adalah manusia yang tidak benar-benar menginginkan ilmu hitam.

Selain itu tatapan matanya pada Sasuke terasa penuh dengan emosi.

Penyesalan, keraguan, dan

Rindu.

Ingin rasanya Shikamaru tertawa, ia yakin di bumi ini tidak akan ada wanita yang rindu pada Sasuke. Wanita mana pun akan menjauh begitu merasakan aura gloomy milik Sasuke. Mungkinkah mereka saling mengenal di masa yang sangat lampau ?

Rasanya Kepala Shikamaru nyaris pecah.

Sebuah notifikasi email berbunyi dari ponselnya. Sasuke mengirimkan sesuatu, sebuah foto nisan leluhurnya.

Uchiha Sasuke & Senju Naruto.

Well, pencarian informasi yang sebenarnya baru saja dimulai.

.

.

.

"Bisakah kalian secepatnya menghentikan kegilaan ini?"

Tim Sasuke _minus Suigetsu dan Juugo_ menatap sosok Itachi yang baru memasuki ruangan dengan tatapan heran.

Tanpa dipersilahkan Itachi duduk disalah satu kursi dan menyerahkan sebuah map pada Sasuke.

"Seorang wanita ditemukan pingsan di Pine Street tadi malam. Kondisinya sama seperti korban yang lain, kehilangan janinnya. Ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi ?"

Tim Sasuke saling pandang, Sasuke mengangguk pada Shikamaru. Shikamaru mendecih pelan, kemudian menjelaskan semuanya pada Itachi.

Semakin mendengar penjelasan Shikamaru, wajah Itachi semakin bertambah pucat. Tubuhnya berkeringat dingin dan gemetaran.

Untung dia tidak kencing dicelana atau lebih parah lagi, pingsan.

"Pa..palasik?!"

"Itu baru dugaan kami saja Itachi-san. Sejauh ini, kesimpulan itulah yang paling logis, maksudku paling mendekati ciri-cirinya. Adakah seseorang manusia yang mampu memangsa janin? Kurasa tidak. Kami sendiri belum menemukan cara bagaimana cara menangkapnya bahkan bagaimana kasus ini akan dilaporkan. Kami tidak mau dicap delusional, merepotkan."

Penjelasan Shikamaru membuat wajah Itachi semakin terlihat tak karuan. Kalau saja situasinya tidak sedang genting, Sasuke ingin tertawa terbahak-bahak hingga berguling dilantai. Dasar aniki penakut. Mungkin malam ini Itachi akan meminta Sasuke tidur bersamanya.

Karin berdehem pelan sembari membetulkan kacamatanya." Saya juga sudah mencari informasi tentang nama yang tertera pada nisan. Uchiha Sasuke dan Senju Naruto adalah pendiri konoha bersatu, pernikahan mereka mempersatukan klan Uchiha dan Klan Senju yang berseteru. Namun mereka meninggal tiga hari setelah pernikahan.."

"Oh kisah cinta yang tragis," Potong Kiba, dan langsung mendapat tatapan tajam dari yang lain, minus Itachi yang masih gemetaran.

"Dan ciri-ciri Senju Naruto sama seperti wanita atau palasik yang gagal kami tangkap. Kemungkinan Senju Naruto yang disebutkan dalam sejarah konoha adalah Palasik sejak awal dan kematiannya dipalsukan atau mereka hanya mirip." Jelas Karin.

Suasana mendadak hening, sebelum akhirnya terdengar suara tepuk tangan dari sudut ruangan.

Sosok yang tengah mereka bicarakan muncul dengan cengiran lebar.

"Kalian pintar juga ternyata. Bisa menyimpulkan sejauh itu dalam waktu singkat. Boleh aku memakan kalian?"

Udara di ruangan itu mendadak terasa berat dan sesak.

"Hahaha. Kalian lucu sekali. Coba lihat wajah konyol itu." Naruto tertawa

Tawa yang entah mengapa terdengar merdu di telinga Sasuke.

Shikamaru orang yang pertama sadar dari lelucon menakutkan Naruto, berusaha terlihat tenang." Jadi kesimpulan kami benar?"

"Tidak sepenuhnya, tapi memang benar aku palasik."

Sasuke menatap tamu tak diundang itu dengan mata terbelalak.

"Kenapa kau baru muncul sekarang?" Bentak Sasuke

Naruto menyeringai, "Aku baru menemukanmu Sasu-chan. Jadi apa kau sudah mengingatku sekarang?"

Hanya hening yang menjawab pertanyaan naruto.

"Sepertinya tidak." Gerutu Naruto, rasa kecewa tersirat jelas dari nada bicaranya.

"Ja..jadi kenapa anda bisa menjadi palasik?" Tanya Karin dengan menahan gemetar.

"Karena Sasuke masih belum ingat, aku akan berbaik hati menjelaskannya sedikit. Aku dikutuk oleh suamiku sendiri, leluhur Sasu-chan, menjadi iblis haus darah."

"kenapa anda dikutuk?"

Naruto mengibaskan tangannya, "Aku simpan detailnya untuk nanti. Lagipula hidup selama ratusan tahun membuatku melupakan banyak hal."

Suasana kembali hening, penghuni ruangan itu mencoba sedikit rileks. Palasik yang menjadi fokus mereka itu tidak terlihat berbahaya, atau mungkin belum.

Kiba terbatuk pelan, "Kalau boleh saya tahu ini wujud asli anda?"

Naruto yang sedang memperhatikan kuku jemari tangannya menatap Kiba sekilas.

"Memangnya kenapa?"

"Well, yang saya lihat di buku, wujud palasik itu berupa kepala yang melayang beserta organ dalamnya."

"Kau ingin aku melepas kepalaku?" Naruto meletakkan tangannya dilehernya sendiri, membuat gerakan seperti mencekik.

"JANGAN!" teriak mereka bersamaan.

Suasana ruangan itu sudah cukup tegang dan mencekam dengan wujud naruto yang biasa. Mereka tidak mau bermimpi lebih buruk dengan melihat kepala yang melayang-layang dengan organ dalam yang berkedut.

"sebenarnya aku datang kemari untuk bertemu Sasu-chan."

"Untuk apa?" Tanya Sasuke

"Aku akan tinggal bersamamu agar kau cepat mengingatku, bagaimana?" Tanya Naruto dengan sebuah senyuman.

Senyuman mengerikan yang menampakkan gigi dan binar menakutkan dimatanya.

Sasuke diam terpaku.

GUBRAK!

Tubuh Itachi terkapar di lantai dengan sukses.

.

.

.

Itachi melihat pemandangan di depannya dengan perasaan yang tercampur aduk.

Terkejut, marah, heran, sedih dan

Sakit.

Ia melihat tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa berada dipelukan Naruto, istri adiknya.

Sebuah kesalah pahaman telah merenggut nyawa adik yang paling ia sayangi.

Kalau saja ia tidak melihat betapa menderitanya Naruto, Itachi ingin merebut tubuh Sasuke dari Naruto dan membakar Naruto hidup-hidup dengan Amaterasu.

Bukan hanya sorot mata penuh penderitaan Naruto yang membuatnya iba, sebuah simbol tanda kutukan di leher Naruto lah yang mencegahnya untuk berbuat lebih jauh.

Simbol berbentuk topeng bertaring, menandakan Naruto sudah bukan manusia lagi.

Tapi sesosok palasik, sang iblis pemangsa janin.

Pernah mendengar ada takdir yang lebih menyakitkan dari kematian?

Takdir itu adalah hidup abadi sementara orang-orang yang kau cintai mati meninggalkanmu. Hingga perlahan-lahan dirimu akan berubah menjadi iblis yang sesungguhnya.

"Naruto…."

Naruto tetap diam dalam posisinya, duduk bersimpuh memeluk tubuh Sasuke yang telah dingin.

"Semua ini…. Salahku Kak," Ucap Naruto Lirih

Itachi hanya diam, tak tahu harus berkata apa.

"kalau saja aku mengatakan semuanya, semua kegilaan ini tidak perlu terjadi."

Naruto mengusap lembut wajah Sasuke, entah mengapa, setelah mati pun wajahnya tidak terlihat tenang.

Itachi perlahan mendekat, sekarang ia melihat Naruto begitu hancur, ekspresinya seolah ia telah dibakar hidup-hidup.

"Aku akan segera menyusulnya kak, aku ingin minta maaf."

Itachi perlahan mengusap wajah adiknya, "Sasuke pasti mengerti, suatu hari nanti. Sekarang, tidak ada gunanya kau menyakiti dirimu sendiri. Jalani hidupmu sekarang. Mungkin nanti kau akan bertemu lagi dengan Sasuke, dia akan terlahir kembali."

Naruto memandang Itachi sendu.

"Aku akan mengumumkan kematian kalian pada anggota klan yang lain dan para tetua. Sekarang saatnya bagi aku dan juga kau, untuk menyelesaikan semua. Jangan biarkan kematian Sasuke sia-sia."

Naruto menghapus air matanya.

"Satu hal yang harus kau tahu Naruto, kutukan kebencian Uchiha hanya bisa dikalahkan oleh tekad api yang membara. Jangan pernah kehilangan tekad itu."

Sebuah tekad baru kini menyala di mata Naruto yang awalnya sendu dan mati.

Naruto menunduk, mengecup lembut dahi Sasuke," Aku akan tetap hidup dan menyelesaikan semuanya. Hingga tiba saatnya aku menemukanmu, kita akan bersama lagi. Sampai waktu itu tiba, tunggulah aku."

.

.

.

Naruto menghela nafas keras, sebuah bayangan masa lalu kembali hinggap di pikirannya.

Sebenarnya, melihat sosok Itachi yang dahulu sangat menakjubkan terlahir kembali menjadi seorang dokter penakut membuatnya mendengus geli. Bahkan saat naruto memproklamirkan akan tinggal bersama Sasuke, Itachi langsung pingsan.

Terkadang reinkarnasi dapat menjadi sangat menggelikan.

Dan sekarang, di balkon apartemen Sasuke, Naruto duduk sendirian memandang langit malam. Sasuke masih berada di kantornya, sementara itachi melarikan diri kerumah sakit, mengubur dirinya dalam pekerjaan. Berharap ketakutannya pada Naruto sedikit berkurang.

Suara pintu yang terbuka tidak membuat Naruto terusik, ia tetap berada pada posisinya.

"Sudah malam dan kau belum tidur?" Tanya Sasuke

Naruto tersenyum geli," Kau lupa aku bukan manusia."

Sasuke duduk di samping Naruto." Bukan berarti kau tidak butuh tidur kan?"

"ya ya, kau benar juga Sasu-chan. Tapi aku tidak mau tidur malam ini, aku hanya akan bermimpi buruk."

Suasana berubah hening sejenak.

Naruto memandang Sasuke," Ratusan tahun aku hidup dan berkelana ke berbagai negara untuk mencarimu, tak kusangka aku akan menemukanmu disini, konoha, tempat yang sangat ingin aku jauhi."

"Agak aneh mendengar kalimat itu dari seseorang yang menurut sejarah adalah salah satu pendiri konoha."

" semuanya karena ramalan."

Dahi Sasuke mengernyit heran,"ramalan?"

"Ramalan yang mengatakan bahwa dua orang dari klan Uchiha dan senju akan membawa perdamaian untuk konoha. Ramalan itu membuat para tetua dan mereka yang tidak menginginkan konoha menjadi kuat kalang kabut. Mereka melakukan banyak cara untuk memisahkan kita, kau dan aku. Dua orang dalam ramalan itu."

"Tapi bukankah katamu kita menikah?"

"Memang, kita menikah. Tetapi hal itu tidak membuat mereka berhenti mencoba memisahkan kita. Saat itu, diam-diam aku menyelidiki kekuatan dan kelemahan doujutsu klan mu yang legendaris, untuk mencegah musuh menyabotasenya. Hal itu yang aku sesali hingga hari ini."

"Kenapa?"

"Mereka, tetua sialan itu, membuat penyelidikanku terlihat seperti aku mencoba merebut kekuasaanmu. Karena aku tidak terbuka padamu, kau jadi curiga. Dan akhirnya mengutukku."

"Tidakkah itu terdengar konyol? Hanya karena hal itu aku dimasa lalu mengutukmu?"

"kau tahu rasanya dikhianati?"

Sasuke menggeleng.

"Kau tidak akan menganggapnya konyol jika tahu bagaimana sakitnya dikhianati oleh orang yang paling kau cintai."

Sasuke mengangguk pelan, mengiyakan pendapat Naruto." Dan setelah mengutukmu apa yang terjadi padaku?"

"Kau mati. Sopan sekali meninggalkan aku begitu saja."

Sasuke berjengit mendengar nada sarkasme Naruto.

Naruto menyibakkan rambut panjangnya, menunjukan tanda kutukan bersimbol palasik dilehernya.

"Ini adalah tanda kutukan, selagi tanda ini masih ada di leherku,aku masih menjadi iblis haus darah. Kutukan itu dapat membuat pengutuk, dalam hal ini kau. Mati kehabisan chakra. Untuk menghilangkan tanda kutukan ini, aku harus menemukan reinkarnasi pengutuk dan meminta ampunan."

"kalau kutukan itu hilang, apa yang akan terjadi padamu?"

Naruto tersenyum."Yang pasti, aku tidak akan perlu memangsa janin lagi."

"Dan setelah itu Aku tidak perlu tidur bersama Itachi yang ketakutan lagi."

Naruto tertawa geli," Kak Itachi sekarang sangat menggelikan."

"Memang dulu dia seperti apa?"

Malam itu, ditemani bergelas-gelas kopi untuk Sasuke, Naruto menceritakan semua kisah masa lalu mereka. Kisah yang membuat sasuke tertawa, terharu atau meringis. Tanpa mereka sadari ikatan baru dari kisah masa lalu terbentuk lagi.

Dan Sasuke hanya bisa berharap semoga ikatan baru itu terus berlanjut hingga masa yang akan datang, masa depan mereka.

.

.

.

Sasuke dan timnya baru saja keluar dari kantor atasannya, melaporkan kasus yang dilaporkan Itachi. Karena sangat tidak mungkin mencantumkan bahwa para korban dimangsa palasik, akhirnya tim Sasuke sepakat menutup kasus itu, menyatakan bahwa para korban sebelumnya telah melakukan aborsi.

Untungnya, laporan mereka diperkuat dengan fakta bahwa para korban mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Dalam hati mereka berterima kasih pada Naruto, yang cenderung pilih-pilih korban. Hanya memangsa janin yang tidak diinginkan.

Naruto memangsa janin-janin itu sebelum mereka mati ditangan ibu mereka sendiri.

Shikamaru jadi ragu, siapa yang iblis sebenarnya. Apakah Naruto sang palasik atau para calon orangtua yang tidak bertanggung jawab itu.

Kiba menghela nafas lega, karena selera Naruto yang berbeda membuat Hinata dan kandungannya aman.

Karin hanya menatap Sasuke heran, sejak Sasuke dan Naruto tinggal bersama, Aura gloomy yang selalu menaunginya perlahan memudar. Sifat Sasuke tetap sedingin biasa, tapi tanpa aura suramnya yang madesu, ia terlihat sejuta kali lebih keren. Kalau saja Karin tidak ingat pada Naruto, ia pasti sudah menggaet Sasuke.

Sasuke tidak banyak bicara, ia hanya memegangi map berisi kasus baru di tangannya dengan tatapan bosan.

Tim Sasuke berjalan menuju ruangan mereka, beristirahat sejenak sebelum membahas kasus baru.

"Kau tahu, kalau saja aku tidak menyaksikan sendiri, aku pasti menganggap semua dongeng adalah omong kosong." Ucap Shikamaru membuka suara

Sasuke memandang Shikamaru dengan tatapan heran.

"Aku bertanya pada Naruto apakah ada makhluk astral lain di luar sana. Dan kau tahu dia menjawab apa?"

KIba, Karin dan Sasuke langsung memusatkan perhatian mereka pada Shikamaru.

"Biarkan yang tersembunyi tetap tersembunyi, kecuali jika mereka menampakkan dirinya sendiri. Wanita yang hebat, pantas saja dia menjadi salah satu pendiri konoha."

Sasuke tersenyum, "kau benar, dia hebat."

"Apa kau sudah mengingatnya ketua?" Tanya Kiba.

Sasuke menggeleng, "belum."

Karin memegang dagunya, "Kau harus berusaha ketua, sejujurnya aku tidak tega melihat wanita sebaik itu berubah jadi mengerikan saat lapar."

Sasuke memandang keluar jendela, hatinya juga merasakan hal yang sama, tidak tega. Melihat mata biru yang biasa bersinar ramah berubah haus darah, sangat menyakitkan. Mengingat kutukan dari dirinya di masa lalu lah penyebabnya. Kalau saja posisinya dan Naruto dibalik, Sasuke tidak yakin ia akan bisa setegar Naruto.

Benar kata pujangga, cinta itu buta. Karena dikuasai emosi, Sasuke di masa lalu tega mengutuk istrinya sendiri tanpa mendengarkan penjelasannya.

Dan sekarang ia terlahir kembali, semoga ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

.

.

.

Sasuke memasukan PIN apartemennya, ia masuk ke dalam dengan langkah gontai. Hari ini pekerjaannya cukup melelahkan.

"Aku pulang."

"Selamat datang." Sebuah suara feminim menyapanya.

Naruto berjalan dari arah dapur. Ia memakai celemek dan mengikat rambutnya.

Sasuke tersenyum melihat Naruto, rasanya semua penat yang ia dapat dari kantor perlahan memudar.

"Mandilah dulu, Aku sudah menyiapkan makan malam."

Tak perlu disuruh dua kali, Sasuke langsung melesat ke kamar mandi.

.

Selesai makan malam berdua, walau Naruto tidak ikut makan. Sasuke bersantai di balkon apartemennya, menyaksikan pemandangan kota di malam hari, semilir angin malam meniup pelan rambut hitamnya. Biasanya, ia akan bersantai sambil merokok. Namun, sejak Naruto tinggal bersamanya, Ia berhenti merokok.

Betapa jengkelnya Itachi saat ia tahu Narutolah yang membuat Sasuke berhenti merokok, sementara Itachi sudah mencobanya bertahun-tahun dan gagal total.

Sasuke tersenyum mengingat kejadian itu, ah dia jadi merindukan kakaknya itu. Sejak ada Naruto, Itachi jadi lebih banyak mengambil kerja lembur. Alasannya untuk memberi ruang untuk Sasuke dan Naruto.

Padahal, ia hanya tidak mau ditinggal berdua saja dengan Naruto, dasar penakut.

"Jangan terlalu sering tertawa sendiri Sasu-chan, nanti kau dikira sudah gila."

Sasuke menatap Naruto yang berdiri bersandar pada jendela.

"Semua ini karenamu juga, Naru."

Naruto mengerling jahil, "Oh ya, Aku baru tahu seorang polisi bisa jadi gila karena palasik."

Sasuke berjalan mendekati Naruto, mengusap wajahnya lembut, "Tentu saja, apalagi jika palasiknya secantik dirimu."

Naruto tersenyum, wajah Sasuke semakin mendekat. Dengan lembut ia mengecup bibir Naruto. Awalnya hanya sebuah ciuman singkat, akhirnya Sasuke mulai meluapkan hasratnya dan mencium Naruto dengan ganas,

Kemudian semuanya berubah gelap.

.

.

.

TBC

*dikutip dari film virgin (2008).

AN : halo semuanya. akhirnya saya bisa update juga. Ide cerita ini berawal saat saya nonton halfworlds, serial HBO Asia tentang demit, saat itu saya sedang patah hati parah dan sangat anti dengan sesuatu berbau cinta-cintaan, hingga saya nekat nonton halfworlds yang ratenya MA, sangat OOC sekali, biasanya lihat adegan panas didkit langsung saya skip.

Endingnya, saya tetap baper, di serial yang berdarah-darah itu masih ada cintanya juga, dodol.

Dan setelah nonton itu, saya mimpi Naruto jadi palasik. Iseng2 saya tulis, jadilah cerita ini. Gak nyangka loh sambutannya cukup meriah.

Di halfworlds palasik adalah iblis pemangsa janin tak berdosa.

Terima kasih untuk semua review, fav, dan folownya. Dan juga untuk semua silent reader yang sudah membaca cerita saya.

Oh iya, di chapter berikutnya cerita ini akan tamat, tolong berikan masukan, hal apa yang mungkin saya lewatkan atau sebaiknya saya masukan di chapter terakhir.

Terima kasih banyak.

Salam

primara