Thanks To:

junia angel

yehetnwl8

theoxgnforme

teleportbabies

ChaHkyeon

CHyeRaa

ada . tiada .73

Sorry for late posting, minggu kemaren nggak sempet ngepost soalnya lagi ulangan weh ==" jadi baru bias sekarang~

added Jongin, Kyungsoo, Tao, Kris

Typo(s), slash (boys love), FANTASY

Soundtrack:
C-CLOWN - So Pretty
Bumkey feat. Dynamic Duo - Attraction

PEACE, LOVE AND ENJOY !

.

.

.

.

.
Luhan memerhatikan setiap gerakan yang di lakukan oleh Sehun, matanya terus bergerak menangkap sosok yang ia kagumi. Luhan melihat Sehun yang berlari terbirit-birit, meninggalkannya sendirian di dalam rumah sebesar ini.

Sehun menundukan wajahnya setiap berpapasan dengan orang orang yang menatapnya dengan aneh, sambil menutupi mulut mereka yang dibaliknya terselip tawa, karena melihat seorang pemuda masih mengenakan piama keluar rumah bahkan bergambar tokoh kartun.

.

.

.
Sehun pergi ke rumah Kim Jongin.

Ia memencat bel rumah Jongin, sambil melihat ke kanan dan kekiri dengan sedikit menundukan kepalanya. Tiba- tiba ibu Jongin keluar dan menyuruh Sehun masuk ke dalam kamar Jongin untuk membangunkannya.

Sehun melemparkan tubuh kurus tingginya ke atas kasur Jongin, dimana disitu Jongin tengah tertidur lelap dengan hanya mengenakan celana pendek selutut putih, tanpa sehelai kaus sehingga menampilkan dada hitam dan perut berabs nya.

Jongin mendecit keras, perut dan dadanya terasa sesak seperti tertiban sebuah lemari berisi buku-buku besar. Ia mendorong Sehun hingga jatuh tersungkur dari kasur.

"AHA-HA-HA-HA"
Jongin tertawa dengan renyah melihat Sehun, bukan karena ia terjatuh melainkan karena piama yang ia kenakan saat itu.
Nyawanya masuk dengan cepat, tidak biasanya dapat secepat ini dia bangun.

"Apa yang kau kenakan itu Ken?"
Jongin mencoba menahan tawanya

"Sudah lah diam kau! Aku pinjam kamar mandi mu"

Sehun mengambil sehelai handuk kuning yang tergantung di balik pintu kamar Jongin dan berjalan memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar milik Jongin.

Sehun kembali mundur ketika hendak masuk kedalam kamar mandi dan memutar sedikit kepalanya, melihat jongin yang masih duduk dan mengucak matanya di atas kasur.

"Oh iya sekalian tolong pinjamkan dan siapkan pakaian mu untuk ku"

Ia masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya rapat-rapat, agar Jongin tidak dapat merekam adegan mandinya dengan tubuh kurus milky-skinned nya lalu mengunggahnya di youtube.

Jongin tidak bergeming, hanya meringis sambil melototkan mata bare innocent nya kearah bocah songong itu.

Sehun mengenakan jersey basket milik Jongin, berwarna putih dengan garis-garis hitam tebal di setiap sisi celananya dan terdapat angka 12 dicetak hitam yang tercantum di balik atasannya.

Hampir semua jersey basket Jongin berangka 12 dan hari itu ia mengenakan jersey dengan angka 12 di tambah susunan huruf bertuliskan "DO KY" *you know what I mean right?*

Mereka berjalan berdampingan menuju sekolah untuk latihan basket setiap hari minggunya.

"Ada apa dengan mu sepagi ini berkunjung ke rumah orang bahkan sampai menumpang mandi segala, apa air di rumah mu sudah berubah menjadi uang?" ucap Jongin kecut

"Kau terusik?" Ucap sehun datar sambil memandang lurus ke depan

"Bagus lah kalau kau sadar" jongin menatapnya sekilas lalu memutar bola basket di atas jari tengah kanannya.

Sehun terdiam selama beberapa menit, otaknya terus memikirkan suatu hal yang membuat kepalanya ingin pecah.

"APA KAU TAHU?! AKU NYARIS GILAAAAAAAA"
Tiba-tiba Sehun menghentikan langkah jongin dengan suara yang terdengar lebih berirama dari biasanya. Mata sipitnya membelalak sebesar biji mangga menatap mata jongin, sambil menguncangkan tubuh Jongin sekuat tenaga dengan kedua tangan putih kurusnya.

"YA ! YA ! YA ! YAAAAA! Berhenti membuat gempa lokal, aku pusing!"
Jongin mencoba menahan perlakuan Sehun terhadap tubuh sedikit kekarnya.

Jongin menenangkan Sehun sambil merangkul pundak yang sedikit lebih tinggi darinya dan menepuk-nepuknya beberapa kali. Sehun menghela nafas dengan panjang lalu menceritakan semua hal yang terjadi padanya ketika pertama kali ia membuka mata pagi itu.

Perjalanan dan percakapan mereka terhenti di sebuah pinggir lapangan basket sekolah, disana ada beberapa orang bertubuh tinggi dengan porsi tubuh yang profesional. Jongin tidak sempat memberi solusi dan tanggapannya pada Sehun, karena seseorang bertubuh tinggi, kurus, blasteran canadian, lebih dahulu memanggil mereka berdua agar bergegas masuk ke lapangan dan bermain.

.

.

.
Sehun melambaikan tangannya pada Jongin ketika keluar dari gerbang sekolahnya. Ia berjalan seorang diri kembali ke rumahnya, pandangannya lurus ke depan tapi sesekali melihat ke kiri dan kekanan mencari toko makanan. Perutnya terasa sangat lapar, setelah bermain basket seharian. Sarapan yang tadi pagi ibu jongin siapkan pun sudah terkuras habis untuk bermain basket.

"MOM DAD!"
Sehun selalu memanggil nama mereka setiap kali masuk ke dalam rumah, walaupun ia tahu kalau orangtuanya tidak ada di rumah.

Tempat pertama yang ia kunjungi adalah dapur, karena perutnya menyampaikan rangsangan ke otak lebih cepat dari pada tubuh lelahnya.

Sebelum dapur ada ruang makan keluarga, di atas meja makan lebar tersebut sudah tersedia berbagai macam makanan yang sering ia lihat sebelumnya, dan aromanya yang khas tercium hingga masuk ke dalam ruang kosong di otaknya.

Pikiran Sehun sesampainya di rumah ialah memotong bawang bombay, menaburkan blackpaper, dan lain sebagainya. Itu semua sirna ketika melihat makanan favorite nya tertata diatas meja dengan sempurna.

Sehun duduk di susunan bangku tengah di sayap kanan diantara dua bangku di kanan dan di kiri, ia melahap semua makanan tersebut dengan cepat dan rakus tanpa menyisakan sedikitpun noda di piring, kalau bisa piring itu dapat dimakannya juga jika akal sehatnya tidak berjalan karena makanan tersebut benar-benar lezat dan membuatnya hampir ingin mati karena terlalu banyak, walaupun begitu ia tetap melahapnya hingga habis.

Bibir tipisnya di penuhi kuah kental lezat dari jajangmyeon dan campuran pasta lainnya, ia membersihkannya dengan tissue yang sudah tersedia di samping kanan di atas meja makan tersebut.

Ia tidak sadar kalau sedari tadi ada orang yang memperhatikannya, dari ujung meja sebelah kanan Sehun, sambil memangkukan dagunya dengan kedua tangannya dan tersenyum lembut hingga menampilkan dua buah setengah bulan purnama.

Sehun melirik kearah kanannya, tapi tubuhnya tetap menghadap lurus dengan gugup, karena ia baru merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Kaki Sehun mendorong bangkunya agar ia dapat mengeluarkan kakinya dari kolong meja makan dan berlari, tapi tenaganya terlalu besar hingga membuat bangkunya terbalik kebelakang dan kepalanya terbentur lantai, ia terus mengusap-usap bagian kepala belakangnya sambil meringis kesakitan.

Luhan terkejut dan bergerak dengan cepat menghampiri Sehun yang sedang menahan rasa sakit.

"Are you okay? Is it hurt?"
Luhan melihatnya dengan muka khawatir

"Ahhh...ohh..kepala ku"
Sehun terus mengusap-usap kepalanya.

.

.

.

.

.

Luhan terus mengikuti langkah Sehun kemana pun ia pergi. Sehun menyadari itu namun ia tetap meneruskan langkahnya, sesekali ia berhenti untuk memastikan apakah Luhan telah pergi menjauh darinya atau tidak?

Ia masih mengikuti langkah Sehun hingga pintu gerbang sekolahnya, Sehun melewati gerbang yang hanya terbuka selebar dua kali badannya. Luhan berhenti sejenak menatapnya masuk ke dalam halaman sekolah lalu ikut masuk ke dalam.

Langkahnya terhenti di sebuah lorong yang gelap dan memperingatkan agar Luhan berhenti untuk mengikutinya dengan ketus. Sehun menolehkan wajahnya ke belakang dengan ekspresi marah ingin membunuh. Sehun membungkukan tubuhnya 90 derajat dan meminta maaf, ia tidak menyangka bahwa orang yang sejak tadi mengikutinya di dalam lorong itu adalah senior nya.

"Ada apa dengan mu? Sepertinya kau sedang
depresi berat"

"Ah..tidak apa-apa, maaf hyeong!" ucapnya gugup

Sehun meringis malu tangannya sibuk menggarukan kepalanya yang tidak gatal sambil menundukan wajahnya.

Sehun berjalan beriringan dengan seorang senior pria yang bertubuh sangat tinggi ibaratkan namsan tower, seniornya itu seperti seorang model dengan rambut oblique bang tebal dan berwarna coklat pirang, hidung mancung, bibirnya kecil sedikit tebal dan ketika tertawa gusinya dapat terlihat dengan jelas, terdapat tato bergambar scorpion di lengan kirinya yang membuatnya semakin terlihat manly. Sebut saja dia Kris.

Sehun bermain bola basket dengan sangat lincah, ia memasukan bola beberapa kali ke dalam ring lawannya yang tidak lain adalah senior nya, itu hanyalah battle antara senior dan junior sebagai pemanasan untuk pertandingan yang sesungguhnya minggu depan, battle tersebut itu dimenangkan oleh team junior.

Team senior membeli 3 loyang pizza secara delivery sebagai hukuman yang kalah. Sehun sudah menghabiskan dua potong pizza, ia mencoba meraih loyang pizza yang lain, itu terletak cukup jauh dari tepat duduknya sehingga membuatnya beranjak dari tempat duduknya.

Setelah ia mendapatkannya lalu kembali ke tempat duduknya semula, ia melihat seseorang berkulit putih dengan mengenakan kaos hitam, yang sedang duduk di salah satu kursi penonton di sayap kiri.
Sehun hanya melirikan matanya untuk mengetahui orang itu siapa? Lalu ia kembali duduk tanpa menghiraukan orang itu, karena ia tahu kalau orang itu pasti Luhan.

Latihan basket kali ini hingga larut malam, biasanya ia berjalan sendirian menuju ke rumah, namun kali ini ada seseorang yang secara diam diam mengikutinya dari belakang, ia tahu itu semua.

Sehun hanya meminta sopir pribadinya menjemputnya saat berangkat ke sekolah dan pulangnya saja, ia tidak ingin urusan di luar itu di ikut campuri oleh orang lain, bahkan orangtua nya sekalipun.

"Berhenti mengikuti ku! Aku tahu kau disana!" ia menghentikan langkahnya dan berucap dengan ketus tanpa menoleh ke belakang

Sehun memasang earplugs yang tergantung di antara lehernya ke kedua lubang telinganya, lalu mengencangkan volume i-pod nya hingga full.

Sehun terus berjalan lurus tanpa menatap ke kanan dan ke kiri. Ketika menyebrang di zebra cross, ia tengah sibuk mencari lagu favorite di list song dalam i-pod nya.

.

.

Suara klakson kencang dari sebuah mobil truk membuat gedang telinga Luhan sakit, ia melihat ke arah sebuah truk yang sedang melaju sangat kencang mendekati kumpulan mobil yang tengah menunggu waktu penyebrangan jalan itu habis.

Matanya membelalak lebar menangkap Sehun yang sedang menyebrang di zebra cross saat itu, ia berlari sekuat tenaga menuju Sehun sebelum truk tersebut menabrak beberapa mobil di depannya yang berpeluang 1, juga dapat mencelakakan Sehun.

Mata Luhan terpejam dengan kuat sambil memegang kedua lengan Sehun dari belakang, ia membuka sebelah mata kanan nya perlahan dan keduanya lalu menghela nafas dengan panjang.
Ia melongok ke wajah Sehun, matanya terpejam dengan lemas dan terdengar sedikit dengkuran dan suara nafasnya yang berhembus terniang-niang di telinga Luhan.

Sinar matahari pagi, menusuk ke atas permukaan milky-skinned milik Sehun. Ia terbangun dari tidurnya dan merasakan sakit pada bagian kepala belakangnya, akibat benturan lantai kemarin.

"Ahhh... Kepala ku sakit sekali"

Terlintas kejadian semalam di benaknya, lampu mobil dengan terang menyorot kearahnya dan terdengar samar-samar suara klakson mobil berkali-kali di bunyikan dibalik earplugs yang tersangkut di kedua telinga miliknya.

Ia memegang-megang seluruh bagian tubuhnya dengan terengah-engah

"Apa aku sudah mati?!"

"Belum"
suara Luhan terdengar, ia menunjukan dirinya di balik pintu kamar Sehun, dengan mengenakan celemek berwarna putih yang di penuhi bunga-bunga merah juga kuning

"Apa yang sebenarnya kau mau dari ku? Aku janji aku akan memenuhinya"
Sehun menampilkan wajah takut setengah matinya ketika melihat Luhan

"Aku ingin bersama mu selalu"

"OH GOD! WHO IS THIS GUY? HELP ME!" Batin Sehun berteriak keras tanpa menyampaikannya ke bibirnya

.
.

.
Sehun melirikkan sedikit matanya ke arah Luhan yang sedang berdiri di depan pintu utama rumahnya

"Sepertinya orangtua ku akan kembali dari Hongkong hari ini"
Sehun berhenti sejenak di hadapannya dan berkata dengan nada yang rendah lalu meneruskan tujuannya lagi yaitu pergi ke sekolah, diantar seorang sopir pribadinya dengan mobil limousine putih nya yang terparkir di depan rumah.

Luhan hanya melipat bibirnya ke dalam mulutnya dan sedikit menganggukkan kepala.

.

.

.

.

Sehun duduk di bangku pojok kanan paling belakang di kelasnya. Ia sedang memandang kosong kearah luar jendela sambil menyangkutkan satu earplug nya di telinga sebelah kannannya.

"Sehun-ah, kau baik-baik saja? Kelihatannya kau lelah sekali" Tanya seorang pria berambut pirang berdarah China, bertubuh kekar dan lebih tinggi darinya

"Hanya sedikit pusing saja belakang ini" jawabnya acuh, tanpa menatap sedikit pun mata lawan bicaranya yang memiliki lingkar mata hitam di sekitar bawah matanya

"Kau sudah minum obat atau belum? Aku yakin pasti belum, tunggu sebentar aku akan kembali membawa obat dari uks dalam waktu yang sangat singkat" ucapnya percaya diri sambil mengelus rambut halus blonde milik Sehun dan berlari dengan kilat menghilang dari ambang pintu kelasnya

Sehun meliriknya dengan malas dan berjalan keluar kelas, untuk mencari seorang berkulit tan dengan suara tertawa yang khas dan seringkali membuatnya malu karena tingkah anehnya.

Matanya menangkap dua sejoli sedang duduk di bawah pohon cherry blossom, seorang yang bertubuh lebih mungil duduk menyandarkan kepalanya ke pundak kiri seorang lagi yang lebih tinggi. Dari bentuknya dan warna kulit leher dari seorang yang lebih tinggi itu, ia sudah tahu kalau dia adalah Kim Jongin.

Sehun hanya menatap datar kearah mereka berdua dari atas gedung kelasnya.

"SOK SWEET!"
Sehun meringis kecut, ketika melihat kelakuan Jongin yang memasangkan sebuah bunga Azalea berwarna pink di telinga sebelah kiri milik Kyungsoo.

.

.

.

"DAD MOM"
tidak ada satu pun yang menyauti sapa nya

Kedua orangtuanya belum pulang dari Hongkong hari itu. Sehun menghela nafas panjang, ia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.

"Kamu akan latihan basket hari ini kan?" Tanya Luhan sambil memilih-milih jersey basket milik Sehun dari dalam lemari hitam besarnya

"Hari ini aku tidak ingin melakukan apa pun, tolong jangan ganggu aku! Satu hal tolong bilang pada ku terlebih dahulu jika kau ingin meminjam barang milik ku!"
Sehun membaringkan tubuh letihnya, di atas kasur hangat medium size miliknya, dengan seragam yang masih melekat di tubuh skinny nya.

Luhan melihat pakaian yang ia kenakan saat itu yang ia pinjam, tanpa bilang terlebih dahulu pada Sehun. Ia pikir Sehun akan baik-baik saja, jika ia mengenakan beberapa pakaian milik nya. Lagi pula Sehun memiliki banyak sekali pakaian yang sudah tidak terhitung jumlahnya, di dalam lemari super besarnya itu.

Luhan mengetahui semua kegiatan yang setiap hari Sehun rutin lakukan, ia pun tahu kalau besok Sehun ada turnamen basket.
.

.

.

.

.
Sehun melewati musuhnya dengan mudah sambil men-dribble bola basketnya, dengan cepat dan melemparkan bola nya masuk ke dalam ring lawan.

"PRITTTTTTT...!"
Suara peluit yang di tiup dengan panjang menandakan pertandingan telah berakhir dan teriakan sorak-sorai penonton yang membuat suasana stadium semakin bising.

Kedua pretty legs nya berusaha menahan tubuh lemasnya, dengan nafas yang tidak teratur, matanya mencoba memfokuskan pandangannya ke arah papan skor.

Seseorang mengusap-usap kepalanya yang membuat rambut lembut blonde nya berantakan, terasa banyak sekali tangan yang menepuk pundak Sehun dengan keras dan itu berkali-kali. Beberapa anggota team-nya mengangkat tubuh Sehun tinggi-tinggi dan melontarkannya ke atas beberapa kali bersama-sama.

Ia menapakan kakinya lagi di lapangan pertandingan basket itu dan mencoba melihat lagi ke arah papan skor "33-32" wajah Sehun tampak berseri dan membendung air mata yang jika ia berkedip sekali dapat menetes.

Ia terus menunduk dan mencoba menahan tangis kebahagiaannya, teman-temannya terus menepuk-nepuki punggung kurus Sehun.

Jongin terus mengejek dan menertawai Sehun ketika melihatnya menangis diam-diam dengan wajah tertunduk ke bawah, yang lain pun ikut tertawa meledek, mereka membendung air mata bahagia juga namun tidak sebahagia Sehun yang mencetak angka terakhir untuk menyelamatkan dan memenangkan pertandingan.

Mereka melontarkan Sehun sekali lagi keatas, Sehun tersenyum bahagia sambil mengangkat piala berukuran sedang yang berbentuk bola basket berwarna emas keatas dan berteriak kegirangan.

Luhan menonton aksi Sehun di seat supporter President Senior High School, itu adalah nama sekolah khusus pria yang Sehun tempati.

Ia pulang lebih dulu dari Sehun, untuk menyiapkan hidangan makanan atas kemenangan team-nya.

.

.

Jongin mengantarkan Sehun pulang dengan mobil sport asto martin merahnya, mereka tidak hanya berdua, ada Kyungsoo yang duduk di samping bangku kemudi yang Jongin kendarai. Sementara, Sehun duduk di bangku belakang.

"Kkam, nanti kau jadi menginap?" Tanya Sehun sambil memainkan ponselnya

"Eeemmm..."

Jongin bingung harus menjawab apa? Karena baru saja selesai pertandingan, Kyungsoo mengajak dinner di rumahnya bersama keluarganya

"Oh ya, aku mengerti! Have fun ya bersama Princess Kyungsoo"

"Oh kalian ada janji?" Tanya Kyungsoo penasaran, dengan mata bulat besarnya

"Ahh... Oh iya aku lupa malam ini orangtua ku pulang" sangkal Sehun sambil menepuk dahinya dengan telapak tangan kirinya

Kyungsoo masih terdiam dengan wajah penuh tanyanya yang innocent.

"Sampai" ucap Jongin

"Thanks and good night" ucap Sehun melambaikan tangannya ke arah mobil Jongin yang jendelanya di buka.

Kyungsoo dan Jongin tampak melambaikan tangannya juga sambil tersenyum ke arah Sehun. Jongin melaju mobil sportnya dengan kilat.

Baru saja ia membuka pintu utama rumahnya, aroma sedap sudah tercium dan membawa Sehun melayang ke ruang makan di atas meja makan tersebut, sudah terisi penuh oleh berbagai masakan Korea kesukaannya.

Ia melihat Luhan sedang berdiri melihat ke arahnya sambil tersenyum, dengan suit berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu merah di kerahnya.

"Jadi yang selama ini, membuat makanan itu kau?" Tanya Sehun menatap datar ke Luhan

"Yehet! Bagaimana rasanya?" Wajah tersenyum berseri

"Lumayan- .. Berhenti mengikuti bahasa ku!" balas Sehun kecut dan langsung duduk di salah satu bangku dan memakan soup yang masih hangat "Terima kasih" ucap Sehun di sela-sela makannya pada Luhan

Luhan semakin mengagumi Sehun, melihat tingkah dinginnya padanya. Ia duduk di bangku yang berhadapan dengan Sehun sambil memandangi wajah kelaparannya, yang selalu terlihat tampan baginya.


.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED