Sebelumnya, halo~ kita berjumpa lagi!

Penulis hanya mau kasih tau, karena minggu depan saya hendak study tour (well, saya masih kelas 11~) jadi agak ditunda ya posting di sininya~ Saya sih jadwalinnya update seminggu sekali, tapi ya karena minggu depan saya study tour, jadi kira-kira minggu depannya lagi baru saya post! Oh, ya, daku mau balas review yang masuk~

SanadaJoZhao : Huwaah~ terima kasih sudah membaca~ iya, kuambil dari dw7 school outfit, tapi kutambahkan dengan hadirnya karakter dari DW8 juga (walaupun cuma beberapa, nggak bisa kumasukkan semua, gara-gara bingung nanti jadi apa aja lol)

Yak, terima kasih bagi yang sudah membaca fanfic ini, saatnya lanjut ke cerita~ selamat menikmati!


"Z-Zhao Yun…?"

"Yep! Lama tidak berjumpa, Lu Xun…"

Pelayan itu ternyata adalah sahabat amanya, Lu Xun. Seseorang yang muncul dalam mimpi Zhao Yun, seseorang dengan wajah tenang itu. Lu Xun masih agak syok.

"Ke… Kenapa ada di sini…?"

Senyum Zhao Yun memudar. Ia menatap Lu Xun dengan serius. Ia melipat tangannya.

"Kenapa? Sepertinya aku harus berterima kasih pada cowok berjenggot itu?"

"C-cowok berjenggot?"

"Ya, kamu seharusnya kenal, dia pemilik café ini, lho?"

"Ah… Maksudmu… Sun Ce?"

"Aku nggak tahu pasti namanya siapa…"

Lu Xun terdiam sambil membereskan barang-barangnya yang jatuh tadi. Wajahnya masih menunjukkan bahwa ia syok, ia syok bisa bertemu dengan Zhao Yun lagi.

"Oh, ya! Bagaimana kamu bisa bekerja di sini?"

Lu Xun masih diam. Ia duduk di sebuah kursi yang dekat dengannya. Sambil menghela nafas, ia menceritakannya kepada Zhao Yun.

"Sebenarnya, sih… Ini untuk biaya sekolah.. Uh, gimana ya….?"

Lu Xun terlihat bingung. Ia berbicara dengan tidak menatap Zhao Yun sama sekali. Wajahnya kebingungan.

"Nggak usah malu gitu kenapa, sih? Kita teman lama, bro!"

"Iya aku tahu… Tapi, rasanya aneh bisa bertemu denganmu lagi…"

Suasana hening sejenak.

"Ah! Z-Zhao Yun mau pesan apa?"

"Eh? Aah- Aku Cuma ingin menemuimu, sih…"

"Errr… Jadi, nggak berniat pesan?"

Zhao Yun tersadar, dia masih membawa uangnya Guan Ping di kantongnya!

"Baiklah aku pesan ini, ini, dan ini! Ge-pe-el, nanti kita ngobrol lagi, oke?"

"Umm.. Yah, oke… Tunggu sebentar…"

Lu Xun berlalu. Rasanya jadi canggung bertemu dengannya kembali. Agak susah untuk seperti dulu lagi.

Menunggu pesanan datang, handphone Zhao Yun bergetar.

"Hei, lagi di mana?"

"G-Guan Ping?! Darimana kamu dapat nomorku?!"

"Oh, tadi buka-buka kumpulan data siswa di ruang guru, mumpung kosong…"

"Kamu mau alih profesi jadi stalker, ya?"

"Pertanyaanku belum dijawab lho~"

Zhao Yun terdiam sesaat. Kesal dengan apa yang dilakukan Guan Ping yang mendadak alih profesi menjadi stalker. Atau nanti akan berubah jadi fans setia Zhao Yun? Umm.. Penulis nggak bisa bayangin, jadi… Back to cerita, oke?

"Tenang saja, aku sedang membelanjakan uangmu dengan baik dan benar."

"Kususul boleh, ya~"

"NGGAK USAH NGGAK APA-APA, LHO?!"

PIP!

Kekesalannya dengan si amazing tiada akhir semakin menjadi-jadi, maka dari itu, Zhao Yun langsung menutup telponnya. Tanpa disadar, Lu Xun sedang berdiri membawa pesanan Zhao Yun di depannya. Matanya serasa menjadi titik dan mulutnya menghilang. Zhao Yun syok melihatnya tiba-tiba berada di depannya.

"J-jangan bikin kaget!"

"A-ah… Maaf…"

Pesanan sudah siap sedia di meja Zhao Yun.

"Anu… Zhao Yun, kamu… Punya stalker ya-"

"DIA SUDAH BUKAN STALKER LAGI, DIA… DIA… ME-NYE-BAL-KAN!"

Dengan aura hitam berkeliaran di belakang Zhao Yun, ia menyantap makanan yang ia pesan.

"Anu, Zhao Y-"

"NGGAK TAHAN LAGI DEH SAMA DIA! MAKANYA, WAKTU TIDUR, AKU SELALU MEMBUATNYA MENGOCEH SENDIRI. RASAIN, TUH!"

"Zhao Yun sudahla-"

"KENAPA AKU PUNYA TEMAN SEPERTI ITU, SIH… BIKIN STRESS A-"

"ZHAO YUN UDAH DONG- AKU MAU NGOMONG NGGAK BISA BISAAAAA!"

Zhao Yun terdiam, menatap Lu Xun yang habis teriak-teriak sampai seluruh café tertuju padanya. Perlahan Lu Xun menarik nafas dan menghembuskan nafasnya, bukan untuk yang terakhir kalinya.

"Eh? Ah? Aku…"

Wajahnya memerah ketika melihat seluruh café tertuju padanya. Wajahnya yang memang udah cantik dari sananya ditambah lagi wajahnya yang memerah itu membuat Zhao Yun tertawa terbahak-bahak, sampai keselek juga bisa, kalau mau…

"Z-Zhao Yun?! Jangan ketawa!"

"Habisnya… Lama nggak lihat cowok cantik nge-blush! HAHAHA~"

Lu Xun terdiam sejenak, menatap Zhao Yun yang sedang tertawa. Tanpa sadar, Lu Xun ikut tertawa . Mereka berdua tertawa bersama, sampai-sampai seluruh café menatap mereka berdua dan menggelengkan kepala mereka. Mungkin saja, mereka berpendapat bahwa dua anak SMA itu tengah dilanda kegilaan…?

Pintu café terbuka.

"Selamat da- Oh! Sun Ce?"

"Yo! Sedang menggila bersama teman lama, ya?"

"Ah, cowok berjenggot…"

"H-hei, aku punya nama-"

Sun Ce, pemilik café tempat Lu Xun bekerja, seorang anak kepala sekolah yang hobi boxing, walaupun berjenggot, dia punya pacar yang wajahnya bisa dibilang anak-anak...

"Oh, ya, selamat datang di café milikku! Karena kamu adalah teman pegawaiku, kuberi kamu diskon 20%!"

"Ah, gimana kalau 30%?"

"Tidak! Tidak! 20%!"

"Mmm… 25%?"

"Ya! Ya! Bisa jadi! Bisa jadi!"

Kenapa jadi tawar menawar begini…?

OKE! KEMBALI KE CERITA!

Sun Ce yang baru tiba itu duduk di sebelah Zhao Yun, dengan pose like a boss.

"Oh, ya… Lu Xun, bisakah kau tinggalkan kami berdua dulu?"

"Ah, baik…"

Lu Xun berlalu. Kini Zhao Yun sedang berada dengan Sun Ce, si pemilik café. Mereka bercakap-cakap, saling mengenal satu sama lain juga.

"Oh, ya! Kamu mau tahu kehidupan Lu Xun di SMA seperti apa?"

"H-hei… Kamu stalker, ya…?

"BWAHAHAH! Tahu aja!"

Zhao Yun bergeser 5 cm dari tempatnya duduk.

"Bercanda, bro! Dia punya sahabat baru juga di SMA, seseorang yang selalu membuatnya tertawa, mereka satu klub di SMA, klub memanah. Anak itu kupanggil si tukang salto! Hahaha! Kau harus tahu siapa orangnya!"

Si tukang salto? Zhao Yun mengangguk perlahan sambil berpikir, si tukang salto? Maksudnya, tukang salto yang bagaimana? Apakah kalau jalan harus salto? Oh, atau seperti pesepakbola tersohor yang kalau menggiring bola ke dekat gawang sampai 1 episode lebih? Itu, lho! Siapa namanya itu…? Captain Tsubaka?

"Mungkin lain waktu kalian akan bertemu! Oh, aku harus pulang! Bye bye, Zhao Yun!"

Sun Ce berlalu meninggalkan café. Kini, Zhao Yun duduk sendiri dengan jus yang sudah habis separuh. Untungnya, Lu Xun mau menemani Zhao Yun saat itu. Ia sudah berganti baju, tidak memakai baju pelayan lagi.

"Emm… Zhao Yun, maaf ya kalau aku nggak kasih kabar aku bekerja di sini!"

"Hm? Nggak apa-apa, kok! Santai saja!"

"Oh, ya! Sun Ce bilang apa?"

"Sahabat… Sahabatmu di SMA seperti apa?"

Lu Xun terdiam, menatap Zhao Yun dengan wajah kebingungan. Ia bingung karena wajah Zhao Yun yang tidak biasa, tatapannya menjadi tajam dan serius.

"Umm… Dia baik dan hebat. Kebetulan kami satu klub. Jadi, kami bisa akrab…"

"Tukang salto, ya?"

Lu Xun syok. Ia tertawa kecil.

"Dasar Sun Ce! Maksudnya anak salto itu, karena kalau sedang ada di klub memanah, dia selalu mengeluarkan gaya salto sambil memanah. Dia hebat, bahkan aku tidak bisa seperti itu…"

Zhao Yun mengangguk. Kini, ia mengerti maksudnya si tukang salto.

"Oh, ya! Aku udah mau pulang nih, udah agak sore juga!"

"Hmm? Oke! Aku juga kalau begitu!"

Mereka berdua keluar dari café sambil berbincang-bincang sedikit. Tiba-tiba saja…

"Lu Xun!"

Lu Xun menoleh. Seseorang berambut hitam berantakan menghampirinya. Untung saja sinar matahari sedang tidak menyilaukan jidatnya yang terbuka lebar itu, hanya ada beberapa helai poni yang menyatu di sebelah kanan. Rambutnya pendek lurus dan agak berantakan. Tingginya kira-kira sama dengan Lu Xun. Ia menghampiri Lu Xun dengan girang.

"Sudah selesai bekerja? Pulang, yuk!"

"Ah, sudah kok… Oh, ya! Zhao Yun, kenalin, orang ini yang dimaksud Sun Ce tadi, namanya Zhu Ran. Zhu Ran, ini sahabat lamaku, Zhao Yun!"

Mereka berdua melakukan salam.

"Lu Xun banyak bercerita tentangmu!"

"Aku baru saja mendengar tentangmu tadi…"

Zhao Yun jahat banget, sih…

"Ah, Zhao Yun, kami permisi ya? Sampai besok!"

Lu Xun dan temannya, Zhu Ran, berlalu meninggalkan Zhao Yun yang tengah menatap mereka berdua dengan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya. Zhao Yun mengehal nafas, segera berjalan pulang.

"Hmmm…."

Terlihat Zhao Yun sedang memilih barang yang berada di ind*maret mini market. Ia terlihat sibuk dihadapan banyak makanan ringan dan minuman dingin. Sebelum pulang ke rumah, ia sempat saja mampir ke mini market, gara-gara kepikiran kulkas di rumahnya kosong. Pintu mini market terbuka, seorang pelanggan masuk, langsung mendekati Zhao Yun yang tengah memilih makanan ringan, menepuk pundaknya sampai Zhao Yun berbalik.

"Huh?"

Seorang laki-laki sebaya dengan rambut hitam lurus dengan poni yang mengikuti alur rambutnya ke belakang hingga beberapa helai poni tersisa di sebelah kanan. Matanya agak tajam, menatap Zhao Yun.

"Kamu teman Lu Xun yang tadi, 'kan?"

Ya, dia Zhu Ran, yang ditemui Zhao Yun di depan café tempat Lu Xun bekerja.

"He? Iya… Bukannya kamu tadi-"

"Aku hanya mengantarnya sampai perempatan saja, kok! Lagipula, habis ini aku mau latihan di sekitar sini!"

Zhao Yun agak canggung. Dia belum begitu mengenal Zhu Ran secara dekat.

"Oh, ya! Mau menemaniku sebentar?"

"He..?"

Mereka berdua keluar dengan plastik berisi beberapa makanan dan minuman. Zhu Ran mengajak Zhao Yun menuju ke sebuah tempat yang belum pernah Zhao Yun jamah. Sebuah tempat latihan memanah. Hanya ada mereka berdua saat itu. Zhu Ran mengambil sebuah busur dengan beberapa panah dari sebuah ruangan, mungkin itu ruangan penyimpanan alat latihan. Zhao Yun duduk di sebuah kursi dengan meatbun di tangannya.

Zhao Yun masih kepikiran soal istilah 'anak salto'. Apakah dia benar-benar sehebat itu?

"Hei! Hei! Lihat ini baik-baik!"

Ia berjalan mundur sampai mendekati sebuah tembok di belakangnya. Ia sangat jauh dari target memanah dan tempat seharusnya pemanah berdiri. Ia tersenyum lebar dan berlari seperti mendekati target. Zhao Yun syok, tidak seharusnya pemanah mendekati target itu! Tetapi, Zhao Yun salah. Terlihat Zhu Ran melompat dan mengarahkan panahnya ke arah target dan melesatkannya.

CTAK!

Tepat sasaran! Zhao Yun secara refleks berdiri, memelototi panah yang tertancap di target dengan tepat. Tapi, Zhao Yun belum puas, dia belum bisa melihat aksi salto, hanya sekedar melompat.

"Bagaimana menurutmu, hei Zhao Yun?"

"… Salto dong!"

"E-eh-"

"Kamu kan si anak salto yang dibilang sama siapa itu namanya…"

"J-jangan bahas nama bodoh itu! Baik, baik! Aku akan melakukannya!"

Ia kembali berjalan mundur, melakukan lari dan lompat sekali lagi. Tapi, lompatannya berbeda dari yang tadi, ia salto dan membidik di udara!

CTAK!

Lagi-lagi, Zhao Yun yang duduk harus berdiri lagi. Memperhatikan panah yang tertancap. Tepat sasaran! Anak ini benar-benar mengerikan. Mungkin, kalau Guan Ping melihat ini, dia akan bilang amazing beribu kali, melebihi apa yang ia katakana pada Zhao Yun.

"Gimana?"

"Kau benar-benar anak salto…"

"O-oy…"

"Pasti Lu Xun senang punya teman sepertimu, hebat begitu."

Zhu Ran menatap Zhao Yun kebingungan. Lalu, ia tersenyum dan mendekati Zhao Yun.

"Dia akan jauh lebih senang karena bisa bertemu teman kecilnya!"

Zhao Yun terkejut. Zhu Ran langsung berlalu sambil membereskan peralatannya.

"Um, hei! Zhao Yun!"

Zhao Yun menoleh.

"Karena kau teman Lu Xun, mulai saat ini, kita juga akan berteman! Teman Lu Xun temanku juga, lho!"

Zhao Yun menghela nafas lalu tertawa kecil.

"Walaupun kita berteman, aku tidak akan kalah darimu! Kita bersaing secara sehat, siapa yang lebih baik!"

"Baik, baik-"

"Kau ini, kemarin seenak jidat tinggalin ruangan OSIS!"

Guan Ping lagi-lagi mengomel macam-macam ke arah Zhao Yun yang tengah duduk like a boss. Ia sedang diomeli di ruang OSIS. Bukan cuma mereka berdua yang ada di ruangan itu, ada Xing Cai dan Guan Yinping yang tengah ngobrol seru tidak jauh dari kursi Zhao Yun.

"Jadi nggak enak sama Sun Ce, tahu!"

"Mau gimana lagi, itu refleks!"

"Umm, hei, Kak Ping? Ada seseorang di luar sana… Bukan, dua orang menggunakan seragam Wu?"

Guan Ping menoleh dan melihat ke arah luar jendela. Dua orang yang dia tidak kenal.

"Zhao Yun, kau kenal mereka?"

Giliran Zhao Yun menatap ke luar jendela. Itu Lu Xun dan Zhu Ran?!

"Guan Ping, tunda dulu omelanmu, aku ada urusan penting!"

"W-woy! Tunggu! ZHAO YUUUUNN-"

Dengan kekuatan bulan- oh, salah. Dengan kecepatan cahaya, ia berlari menuju gerbang.

"Ah, Zhao Yun!"

"Kenapa kalian di sini-"

Zhao Yun tergopoh-gopoh.

"Mengunjungi teman, iya 'kan, Lu Xun?"

"Eh? Ah, i-iya… Hari ini aku nggak kerja, jadi ada waktu bebas. Mau jalan-jalan?"

Mata Zhao Yun berbinar.

"YA! TENTU SAJA!"

Zhao Yun, Lu Xun, dan Zhu Ran pergi ke banyak tempat. Mereka sempat pergi ke game center segala, bermain permainan bersama. Sempat juga Zhu Ran menantang Zhao Yun untuk berlomba dalam permainan, menunjukkan siapa yang paling hebat menurut Lu Xun. Mereka bersaing begitu hebat, sampai membuat Lu Xun beberapa kali tertawa melihat tingkah bodoh yang mereka lakukan. Mereka juga pergi makan, siapa yang paling banyak makan, dialah yang menang. Pemenangnya saat itu adalah Zhao Yun, dia berhasil mengalahkan Zhu Ran yang menangis gara-gara tidak kuat untuk makan lagi.

Tak terasa hari mulai sore, mereka bertiga berhenti di sebuah taman kota.

"Haah- apaan coba, aku kalah sama Zhao Yun pas makan!"

"Apa? Aku juga kalah pas main game bidik! Kita impas, tahu!"

"Hey, Lu Xun, bagaimana menurutmu? Siapa yang paling hebat?"

Lu Xun tertawa kecil, menatap kedua sahabatnya itu.

"Kalian berdua hebat, aku saja tidak pasti bisa bermain sehebat kalian, makan sebanyak kalian, dan hal-hal yang kalian lakukan tadi! Aku senang, punya dua sahabat seperti kalian!"

Zhu Ran dan Zhao Yun saling berpandangan, kemudian saling berbisik.

"Hei, hei, Zhao Yun! Bagaimana menurutmu? Dia cewek banget, ya?"

"Iya, dari dulu dia selalu terlihat seperti cewek, dulu dia sering dikerjain teman-temannya, lho?"

"Oh? Apa itu? Apa itu?"

"Dia pernah dipakaikan baju cewek sama salah satu temanku, gaun berenda gitu, hasilnya, ia dikira cewek sungguhan!"

"Zhao Yun, firasatku buruk, nih?"

Sepertinya Lu Xun mengetahui apa yang Zhao Yun bicarakan.

"Oh, iya…? Hei, Zhu Ran! Mau lihat foto bagus?"

"Oh, tentu saja! Memangnya apa?"

"H-hei kalian-"

Sebuah foto dikeluarkan dari dompet Zhao Yun, foto yang begitu mengerikan bagi Lu Xun, yaitu foto saat Lu Xun kecil menggunakan gaun berenda dengan bando pita di atas kepala.

Lu Xun syok setengah mati. Zhao Yun masih menyimpan foto yang baginya adalah mimpi buruk. Terlebih lagi, Zhu Ran melihatnya…

"HUWAAAAA- J-JANGAN YANG ITU!"

"WOW! Lu Xun, kamu imut banget! Coba sekarag pakai beginian lagi!"

"NGGAK MAU! HEI, ZHAO YUN-"

"Lho? Apa? Aku tidak sengaja, kok!"

"SENGAJA! ITU SENGAJA! AAAH-"

Zhao Yun tersenyum licik ke arah Lu Xun yang daritadi tidak berhasil mengambil foto yang dipegang Zhao Yun itu. Zhu Ran tertawa keras gara-gara melihat Lu Xun kecil sambil membayangkan dia yang sekarang dengan gaun yang sama. Bahkan pengarangnya sendiri membayangkannya…

Hari mulai gelap. Mereka berpisah karena rute pulang yang berbeda. Zhao Yun segera berlalu karena dia pulang sendirian, Zhu Ran dan Lu Xun pulang bersama. Mereka berdua berjalan menelusuri jalan yang agak ramai itu.

"Zhao Yun asyik juga, ya? Pantas kamu betah sama dia!"

"Ya, dia itu lain dari teman-temanku yang lain saat kecil dulu. Dia benar-benar seperti pahlawan, punya keberanian tinggi, aku tidak pernah melihatnya menangis sama sekali!"

"Hoo-"

"Tapi, kamu juga lain dari yang lain, kok! Aku belum pernah menemui orang segila kamu!"

"Hahaha tentu sa- wait! Gila katamu?"

Lu Xun menganggukkan kepalanya.

"Aku masih waras, tahu!"

Mereka berdua tertawa. Tiba-tiba, sesuatu menghentikan langkah Lu Xun. Ia menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit. Ia tersenyum.

"Aku berharap, kita bertiga tidak berpisah, ya?"

Zhu Ran menatap Lu Xun yang tengah tersenyum ke arah bintang yang bertaburan. Zhu Ran ikut tersenyum dan menepuk pundak Lu Xun.

"Ya!"

Di tengah perjalanan, Zhao Yun berjalan sendirian menelusuri jalan. Ia berhenti di sebuah tempat, menengok pada seorang gadis yang ia kenal. Wajahnya terlihat sedih, menatap etalase toko dengan sebuah poster.

"Lho, kakakmu mana, Yinping?"

Guan Yinping, adik Guan Ping, menoleh ke arah Zhao Yun. Wajahnya melas, matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba saja, Guan Yinping memeluk Zhao Yun. Zhao Yun yang tengah terkejut tidak bisa bergerak. Wajahnya memerah. Dilihatnya Guan Yinping, ia menangis.

"Tolong bantu aku! Hiks…"

"A-apa yang terjadi…?"

"Kak Ping jahat! Aku benci Kak Ping!"

Zhao Yun menoleh ke etalase kaca itu, sebuah poster yang menempel ia perhatikan. Sebuah audisi idol? Zhao Yun kembali menatap Guan Yinping yang sudah tidak memeluknya lagi. Ia tengah mengusap air matanya.

"Kak Ping tidak memperbolehkanku untuk ikut audisi idol. Padahal semuanya mendukung, hanya dia yang tidak. Dia mengomel padaku dengan kejam. Aku dibilang tidak pantas dengan menjadi idol… Padahal, itu adalah impianku sejak kecil!"

Zhao Yun menganggukkan kepala. Guan Yinping memegang tangan kanan Zhao Yun. Zhao Yun terkejut.

"Jadi, kumohon bantu aku, Kak Zhao Yun!"

Bintang saat itu bersinar terang, seterang impian Guan Yinping untuk menjadi idol nomor satu. Walaupun beberapa bintang bersinar terang, ada sebuah bintang yang ragu untuk memancarkan terangnya, seperti hambatan yang sedang dialami Guan Yinping, adik Guan Ping. Kini, Zhao Yun harus membantunya untuk menjadikan bintang yang redup itu kembali terang!


Baiklah, untuk chap selanjutnya kira-kira 2 minggu lagi ya~ Doakan saya selamat sampai tujuan study tour . ditunggu lho review kalian~

*Note: Maaf kalau ada typo atau semacam salah tulis (?)