DAZZLING SHADOW – CHAPTER 2
Author: Kusanagi Hikari
Pairing: Baekyeol
Main Cast: - Byun Baekhyun
- Park Chanyeol
- Xi Luhan (yang di FF ini nama marganya saya ganti jadi "Byun")
- Dll
Summary: Baekhyun dan Luhan, sepasang adik-kakak yang sangat bertolak belakang. Dimana tiap harinya Luhan selalu menerima pujian dan kasih sayang, Baekhyun selalu menerima cacian dan makian dari orang-orang, termasuk keluarganya sendiri. Sampai pada suatu saat Park Chanyeol, seorang murid pindahan datang ke sekolah mereka dan jatuh cinta kepada Baekhyun.
WARNING: Yaoi, OOC, typo dimana, bahasa ancur, dll
Sebelumnya Hika mau mengucapkan terima kasih buat readers yang udah nge-like dan comment karena hal itu sangat, SANGAT membuat Hika bahagia^^ berhubung ini FF indo pertama Hika, jadi Hika ngerasa yang Hika bikin itu bukan sekedar hal yang sia-sia, setidaknya ada orang yang suka sama FF yang Hika buat^^ GOMAWO!
~~CHAPTER 1~~
"Se-sepupu?!" seru Baekhyun yang masih memandangi Chanyeol dan Kris bergantian.
"Yep!" cengir Chanyeol seraya merangkul pundak Kris. "Karena itulah kami sama-sama tinggi. Ah, tapi tetap saja aku lebih tampan darinya."
Kris memutar bola matanya malas sambil menggelengkan kepalanya. "Dasar bodoh…" gumamnya. Dia kemudian menoleh pada Baekhyun, "Kau Byun Baekhyun kan? Adiknya Luhan?"
Baekhyun sedikit terkejut mendengar hal itu, karena tidak pernah sekalipun dia menyangka bahwa Kris mengetahui namanya. "Ah, ne…"
"Kau satu kelas dengan Chanyeol?"
"N-ne…"
"Kenapa tidak masuk ke kelas? Apa kau diajak Chanyeol membolos?" tanya pria tampan itu sambil melirik ke arah Chanyeol dengan tatapan tajam.
"Jangan sembarangan menuduh Kris." Protes Chanyeol sambil melipat kedua tangannya didepan dada, "Guru di mata pelajaran ini sedang berhalangan mengajar, jadi sekalian saja aku meminta Baekhyun untuk menemaniku melihat sekolah."
Kris mengangkat sebelah alisnya dengan pandangan yang jelas mengatakan bahwa ia tidak percaya dengan omongan Chanyeol. Namja tinggi nan tampan itu menoleh pada Baekhyun, "Benar begitu?"
"B-benar. Cha-Chanyeol tidak mengajakku membolos Kris-ssi…" jawab Baekhyun gugup. Karena jujur saja, bertatap muka dengan Kris, terlebih lagi berbicara dengannya, merupakan salah satu hal yang menurut Baekhyun hanyalah sebuah khayalan.
Tapi nyatanya, sosok yang berdiri di hadapannya dan kini tengah berbincang-bincang dengannya pun bukan halusinasi.
"Kau ini, baru hari pertama saja sudah mencari-cari kesempatan untuk mendekati seseorang. Kau ini murid baru… Jangan cari-cari masalah…" Kris mendesah pelan, "Dan hentikan kebiasaanmu menggoda orang lain, itu tidak sopan."
"Eeeeh tapi aku tidak menggoda kok, aku serius!" Chanyeol lagi-lagi memprotes omongan sepupunya seraya menarik tangan Baekhyun, membuat namja mungil itu terhempas ke dadanya dan tanpa ragu Chanyeol melingkarkan lengannya di pinggan ramping Baekhyun. "Lihatlah betapa manisnya dia! Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya?!"
Wajah Baekhyun merah padam seketika, dan Kris menatap sepupunya dengan wajah yang datar sebelum menggelengkan kepalanya pelan. "Kau ini benar-benar tidak tahu malu ya…"
"Hei! Laki-laki itu harus berani mengutarakan isi hatinya!"
"Dasar tiang listrik gombal."
"Enak saja gombal! Aku hanya berbicara jujur!"
Kris memutar matanya malas, "Terserah kau sajalah…"
"E-eng… Kris-ssi…?" sahutan gugup dari Baekhyun membuat kedua namja tampan itu menoleh padanya, "Ng… kau tidak masuk kelas?"
"Oh, iya! Kau menuduhku mengajak Baekhyun membolos, tapi kau sendiri membolos!"
"Aku tidak membolos." Jawab Kris, "Aku hanya ingin bermain basket."
"Yah! Apa bedanya?!"
"Oh ya, kau mau tanding?" tanya Kris dengan senyuman kecil, "Sudah lama kita tidak tanding satu lawan satu…"
Chanyeol memiringkan kepalanya dan terdiam sejenak. "Mau saja sih, tapiiii…." Kemudian ia melirik Baekhyun yang masih berada dalam pelukannya.
Melihat itu, Kris mengerti maksud Chanyeol. "Hei," Sahutnya, membuat Baekhyun mendongakkan kepalanya, "Mau ikut dengan kami?"
"Eh?" Baekhyun tersentak, kemudian menatap kedua namja tinggi itu secara bergantian. "T-tapi aku tidak bisa bermain basket…" jawabnya ragu.
"Kalau tidak mau bermain, menonton saja sudah cukup kok! Yang penting kau temani aku~ Ok Baekkie?" bujuk Chanyeol samobil menatap Baekhyun dengan senyuman lebar.
'Baekkie?' tanya Baekhyun heran dalam hati.
"Ok, kalau begitu kajja~" tanpa menunggu persetujuan dari Baekhyun, dengan senang hati Chanyeol langsung menarik namja pmungil itu pergi.
Kris hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya, "Aish… dasar tiang listrik mesum… selalu saja begitu kalau sudah suka dengan orang lain…" gumamnya sebelum berjalan mengikuti Chanyeol dan Baekhyun.
.
.
.
Suara decitan sepatu dan pantulan bola menggema di aula olahraga. Baekhyun terdiam, mulutnya terbuka seraya menatap kagum kedua namja tinggi yang tanpa lelah terus saja bermain bola basket, mencoba untuk memasukkan bola ke dalam keranjang basket untuk mendapatkan skor tertinggi. Tubuh kedua namja tampan itu kini telah dipenuhi peluh, membuat seragam mereka sedikit basah.
Baekhyun memerhatikan namja yang dia sukai dengan penuh kagum. Kris selalu terlihat sangat serius dan tidak pernah mau kalah saat bertanding. Alis matanya yang tegas itu selalu mengerenyit ketika dia sedang memikirkan strategi untuk merebut bola basket itu, dan sebuah seringai akan selalu muncul di wajahnya setiap kali dia berhasil merebut bola atau berhasil mencetak skor. Kris selalu terlihat sangat gagah bagaikan seorang kesatria dan sangat tampan bagaikan seorang pangeran.
"Aha!"
Baekhyun menoleh pada Chanyeol yang tiba-tiba berseru dan dia menatap namja yang tak kalah tinggi dari Kris itu dengan terkejut. Chanyeol, yang tadi masih berada di tengah arena pertandingan, tiba-tiba saja melesat cepat dan dengan kilat merebut bola basket yang terjatuh dari keranjang basket setelah Kris melemparnya ke sana. Kemudian tanpa ragu dia melempar bola basket itu dengan kuat dan kencang ke arah keranjang basket yang berada di seberang.
Dan ajaibnya, dari jarak sejauh itu, bola itu masuk.
"YES!" seru Chanyeol sambil melompat kegirangan. "Hahahaha! Tidak disangka bolanya benar-benar masuk!"
Melihat Chanyeol yang sangat bersemangat dan ceria seperti itu, tanpa sadar sebuah senyuman terukir di wajah manis Baekhyun. Kris memang sangat keren dan cool, tapi Chanyeol yang sangat ceria dan selalu tersenyum ini… menurutnya juga tampan. Sangat tampan bahkan.
Kedua matanya membelalak seketika saat pikiran itu terlintas di kepalanya. Tuhan, kenapa tiba-tiba aku berpikir seperti itu?!
"Baekkie~!"
Sahutan itu menyadarkan Baekhyun dari lamunannya dan dia menoleh pada Chanyeol yang memanggilnya. Namja itu tersenyum dengan lebar, "Bagaimana? Aku terlihat keren kan?!"
"E-eh? I-iya…"
"Yes! Baekkie bilang aku keren!"
Kris menggelengkan kepalanya, "Jelas sekali karena dia terpaksa."
"Diam saja kau Kris!"
"Kau yang seharusnya diam. Dari tadi kau tidak bisa diam sekali, kepalaku sakit mendengar suaramu." Balas Kris sambil merebahkan dirinya di lantai karena kelelahan. Nafasnya memburu.
"Cih, seenaknya bicara." Kata Chanyeol dengan kesal sebelum mengikuti apa yang dilakukan Kris dan berbaring di samping sepupunya. "Suaraku ini kan seksi…"
Kris memutar bola matanya malas, "Berdebat denganmu tidak akan ada habisnya…"
Baekhyun yang sedari tadi diam kini tengah memperhatikan kedua namja itu dengan khawatir. Dia melangkah mendekati Chanyeol dan Kris dan bertanya, "Ehmm… apa kalian mau kubelikan minum?"
Chanyeol dan Kris menoleh kepada Baekhyun, dan Chanyeol tersenyum manis kepada Baekhyun. "Wah~ terima kasih manis~ kau baik sekali~" Baekhyun merona malu mendengar Chanyeol lagi-lagi melontarkan kata-kata 'manis' padanya.
"Eng… bagaimana denganmu Kris-ssi?"
Kris tersenyum kecil pada Baekhyun. Memang bukan sebuah senyuman yang lebar seperti yang Chanyeol biasa berikan padanya, tapi meskipun begitu Kris terlihat sangat tampan. Baekhyun merasa meleleh melihatnya. "Tidak usah, terima kasih. Aku cukup minta punya Chanyeol saja."
"Baiklah… Kalau begitu aku beli dulu minumnya." Ucap Baekhyun sebelum berlari keluar meninggalkan Chanyeol dan Kris berdua.
Chanyeol tetap tersenyum, matanya terus mengikuti Baekhyun yang kini telah melangkah keluar dari aula basket. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tersenyum-senyum sendiri seperti itu, sampai Kris memukul kepalanya.
Bugh!
"AW! Kau ini kenapa sih?! Dari tadi memukul kepalaku terus!" Chanyeol menatap Kris dengan tajam seraya memposisikan dirinya untuk duduk.
"Salahmu, senyum-senyum sendiri seperti gila."
Chanyeol mencibirkan bibirnya, "Enak saja orang gila! Aku tersenyum karena Baekhyun tahu!"
"Tidak perlu kau bilangpun aku juga tahu. Matamu itu terlihat seperti seekor anak anjing yang sangat loyal kepada tuannya."
"Yah~ mau bagaimana lagi~ Dia itu cantik, manis, dan sangaaaaaat imut! Rasanya ingin kutelan hidup-hidup!" gemas Chanyeol sambil meremas-remas rambutnya sendiri, tidak menghiraukan tatapan yang Kris yang seolah berkata 'kau ini bodoh ya?'.
Kris menatap Chanyeol dengan pandangan datar, "Kau benar-benar suka padanya?"
"Sangat suka."
"Kau serius? Bukan hanya sekedar ingin menggodanya saja seperti biasanya?"
Mendengar hal itu, Chanyeol terdiam sesaat sebelum dia membuka mulutnya untuk menjawab. "Aku tidak begitu mengerti… Tapi aku serius menyukainya, dan perasaan ini berbeda dengan orang-orang yang sebelumnya kukencani hanya untuk sekedar bermain. Aku merasa bahwa aku benar-benar menyukai Baekhyun."
"Hmm…" gumam Kris pelan.
Chanyeol menggeserkan tubuhnya sedikit kepada Kris, "Menurutmu bagaimana Kris?"
"Apanya?" tanya namja yang lebih tinggi itu sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Bagaimana menurutmu tentang Baekhyun? Dia manis kan? Cantik kan?" seru Chanyeol, seolah-olah mulutnya tak akan pernah bisa berhenti melontarkan pujian pada Baekhyun. "Atau jangan-jangan menurutmu Luhan lebih cantik dan manis?"
Kris terdiam sejenak. "Aku… menurutku, Luhan bisa bersinar begitu terang sampai saat ini karena Baekhyun."
"Eh?" tanya Chanyeol bingung.
"Kau tahu kan, bagaikan dua buah lilin. Bayangkan kedua lilin yang pada awalnya memiliki cahaya sinar yang setara, kemudian salah satu dari lilin itu cahayanya meredup. Secara otomatis lilin yang cahanya terus bertahan akan terlihat begitu terang dan indah karena lilin yang satu cahanya meredup bukan? Bagiku, Baekhyun dan Luhan bagaikan kedua lilin itu. Baekhyun yang cahanya redup sedangkan Luhan yang cahanya terus menerang."
Sebuah kerutan muncul di kening Chanyeol, "Kenapa kau mengibaratkan Baekhyun seperti itu sih?"
Kris membalikkan badan sembari membetulkan posisinya untuk duduk, menghadap sepupunya yang tengah menatap dengan ekspresi bingung. "Kau tidak tahu cerita tentang mereka berdua ya?" dia mendapat gelengan sebagai jawaban dan Kris menghela nafas pelan.
"Baekhyun dan Luhan, mereka sangat bertolak belakang. Meskipun sama-sama satu darah, semua orang berpikir bahwa Luhan selalu lebih tinggi derajatnya dari Baekhyun. Lebih pintar, lebih cantik, lebih populer, lebih berbakat dan semacamnya. Setidaknya itu yang orang-orang lain pikirkan."
Chanyeol mengerjapkan matanya. Sulit mempercayai omongan Kris, karena… dia tidak mengerti menagap ada orang yang bisa tidak menyukai Baekhyun, sosok yang sangat manis dan polos bagaikan malaikat itu. "Jadi kau tidak berpikiran sama dengan orang-orang lain?"
Namja yang lebih tinggi dari Chanyeol itu menggelengkan kepalanya. "Meskipun cahaya Baekhyun redup, tapi sebetulnya dia memiliki cahaya yang tidak kalah terang dengan cahaya Luhan. Cahayanya redup karena semua orang hanya melirik cahaya Luhan, tidak ada yang memperdulikan cahayanya. Tapi aku bisa melihatnya, meskipun kecil… namun cahaya Baekhyun memancarkan kehangatan yang jauh lebih besar."
"Hee~" Chanyeol tersenyum, "Tidak biasanya kau memuji orang seserius itu~ Jangan-jangan… kau suka dengan Baekhyun juga ya?"
Kris memutar bola matanya malas. "Kau ini… terserah kau sajalah."
"Ah! Kau tidak menyangkalnya! Berarti kau memang suka pada Baekhyun ya?! Ah! Jangan! Dia milikku!"
"…kau mau aku melempar bola basket ke wajahmu ya?"
"TIDAK! JANGAN WAJAH TAMPANKU!" Chanyeol langsung membentuk tanda silang dengan kedua lengannya di depan wajah.
Kris memijat pelipisnya dan menghela nafas, "Kenapa aku memiliki sepupu gila sepertimu sih?"
"Hahaha, bilang saja kau sebenarnya sayang padaku~" canda Chanyeol kemudian dengan cepat menghindari bola basket yang dilempar oleh Kris ke arahnya.
"Berisik kau… sudah tutup mulutmu." Kata Kris kesal sebelum membaringkan tubuhnya kembali. Mereka berdua terdiam sesaat sebelum Chanyeol berbicara lagi.
"Kalau aku… mengibaratkan mereka seperti bintang dan bulan…"
Ucapan itu membuat Kris sedikit tertarik dan dia memiringkan kepalanya untuk menatap Chanyeol. "Kenapa?"
"Menurutku, Baekhyun itu bagaikan bintang dan Luhan itu bagaikan bulan. Meskipun cahaya bintang itu kecil, tidak seperti bulan yang cahanya sangat terang, tetap saja cahaya bintang itu lebih indah karena cahaya bintang itu bertaburan dan membuat langit hitam tidak hampa. Bayangkan kalau tidak ada bintang, langit hitam yang begitu besar dipenuhi dengan satu bulan saja kan tidak seru."
Kris mengedipkan matanya, sebelum dia terkekeh pelan. "Dasar… kau ini memang raja gombal."
"Hei!" Chanyeol mendengus kesal. "Aku ini serius!"
"Iya iya… aku tahu…"
"Cih…" Chanyeol mendecak pelan, menghela nafas pula sebelum dia membaringkan tubuhnya kembali. "Baekkie kok lama sekali ya?"
.
.
.
"Ng… lebih baik beli apa ya?" gumam Baekhyun sambil melihat-lihat berbagai jenis minuman yang ada di dalam mesin minuman. Setelah terdiam sejenak memikirkan minuman apa yang ingin dibeli, Baekhyun memasukkan uang koin ke dalam mesin itu dan memilih coca-cola.
Baekhyun kemudian berjalan menuju aula olahraga, namun langkahnya terhenti ketika menangkap dua sosok yeoja yang sangat ia kenal berjalan ke arahnya dan Baekhyun hanya dapat menghela nafas.
Lagi-lagi fansnya Luhan-hyung… kali ini mau apa mereka? Pikir Baekhyun.
"Apa ada yang bisa kubantu Krystal, Sulli?" tanya Baekhyun tetap bersikap sopan kepada dua yeoja yang kini telah berdiri di hadapannya.
Yeoja-yeoja itu menatap Baekhyun dengan pandangan sinis dan tidak suka meskipun Baekhyun sudah bersikap sopan kepada mereka, "Hari ini kau lancang sekali kepada kakakmu sendiri Baekhyun." Kata Krystal ketus.
"Eh?"
"Berani-beraninya kau mengganggu pembicaraan Luhan-ssi dengan Chanyeol-ssi tadi pagi, jelas-jelas Luhan-ssi sedang melakukan pendekatan dengan murid baru itu, tapi kau malah mengganggu mereka. Apa kau tidak tahu betapa malunya Luhan-ssi mendapat penolakan seperti itu?!" bentak Sulli.
Baekhyun tersentak mendengar hal itu? Mengapa mereka menyalahkan dirinya? Pasalnya saat Chanyeol dan Luhan sedang berbicara, dia hanya terdiam dan tidak berbicara sepatah kata pun.
"Ah… maaf, tapi aku yakin itu bukan kesalahanku." Jelas Baekhyun, "karena saat mereka berbicara pun aku hanya berdiam diri saja… dan lagipula, Chanyeol sendiri yang mengajakku untuk berkeliling sekolah, jadi—"
"Maksudmu Chayeol-ssi lebih memilihmu dibandingkan dengan Luhan-ssi?! Begitu?!" kali ini Krystal yang berbicara, "Kau benar-benar tidak tahu diri ya?!"
"Dengar Baekhyun…" Sulli melangkah mendekati Baekhyun, menatap adik Luhan ini dengan tatapan yang tajam, "Kau mungkin memang adik dari Luhan, tapi kau berdua jelas sangat berbeda. Kau tidak akan mungkin bisa berdiri di level yang sama dengan kakakmu."
DEG!
"Luhan itu lebih populer, lebih sempurna, lebih cantik, lebih berbakat, segalanya lebih darimu. Sedangkan kau? Kau bukan apa-apa."
Aku… aku bukan apa-apa?
"Dan tidak akan ada orang yang akan melirikmu. Kenapa? Karena sudah ada Luhan. Kau tidak dibutuhkan."
Aku… tidak dibutuhkan…?
"Bayangkan beban-beban yang ditanggung oleh Luhan-ssi karena memiliki adik sepertimu."
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, matanya terus menatap tanah. Dia ingin Sulli dan Krystal berhenti berbicara, dia ingin mereka berhenti membandingkannya dengan Luhan. Dia tidak mau mendengar mereka mencaci maki dan meremehkan dirinya.
Dia tidak ingin mendengar semua itu, karena jauh di lubuk hatinya Baekhyun takut untuk mengakui bahwa semua yang dikatakan Sulli dan Krystal itu benar.
"Karena itu, lebih baik kau menyingkir dari—"
"Ah! Baekkie! Kau disini rupanya!"
Ketiga murid itu membalikkan badan mereka karena teriakan itu, dan mereka terkejut ketika berhadapan dengan Chanyeol yang dengan riangnya berlari ke arah Baekhyun dan Kris yang berjalan dengan tenang dan cool.
"Baekkie sedang apa~? Kok lama sekali?" tanya Chanyeol sambil memeluk Baekhyun gemas. Dia kemudian menoleh pada kedua yeoja yang sedari tadi menatap kelakuan Chanyeol dengan kejut. "Eoh? Siapa kedua yeoja ini Baekkie?"
"Ah… Kau tidak sadar? Mereka berdua teman sekelas kita…" jawab Baekhyun yang masih berada di pelukan Chanyeol.
"Oh ya?" Chanyeol mengerenyitkan keningnya, mencoba mengingat-ngingat sebelum menoleh kepada kedua yeoja itu, "Hahaha, maaf ya aku tidak mengingat kalian. Habis yang pertama kali membuatku terpukau memang wajah Baekhyun yang manis ini sih dan yang paling kuingat hanya wajahnya." Jawab Chanyeol dengan santainya seolah baru saja mengatakan bahwa hari ini adalah hari yang sangat cerah.
Sedangkan Baekhyun? Dia hanya terdiam tanpa menyadari bahwa semburat merah muncul di kedua pipinya. Dan lagi-lagi Kris menggelengkan kepalanya mendengar kegombalan sepupunya itu.
Sulli dan krystal menatap satu sama lain dengan bingung sebelum tersenyum—sedikit terpaksa—kepada Chanyeol, "Ahh…ng… maaf, kami permisi dulu kalau begitu." Ucap Krystal sebelum menarik tangan Sulli dan pergi.
"Hei Baekkie, apa yang kalian bertiga bicarakan? Sepertinya serius sekali." Tanya Chanyeol penasaran. Karena tubuhnya yang tinggi mau tidak mau dia harus menundukkan kepalanya untuk menatap wajah Baekhyun.
Baekhyun tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya, "Bukan apa-apa… bukan hal yang penting. Ah iya, ini minumannya." Kata namja mungil itu sambil menyerahkan botol minum yang dari tadi dia pegang.
"Aish~ Baekkie kau ini manis sekali~" kata Chanyeol gemas, mengeratkan pelukannya pada Baekhyun.
"Akh! Chanyeooool…. Sesaaak…"
Sementara kedua orang ini sedang sibuk dengan dunia mereka, Kris hanya terdiam menatapi wajah Baekhyun yang menurutnya terlihat sedikit murung. Kris dapat merasakannya, dia tahu bahwa telah terjadi sesuatu pada Baekhyun dan dia tahu hal itu pasti ada hubungannya dengan kedua yeoja tadi.
"Baekhyun…" sahut Kris, membuat namja pendek yang dipanggilnya terpaku sebelum menoleh padanya. "Apa yang kedua yeoja itu katakan padamu?"
Baekhyun membelalakkan matanya, "E-eh? B-bukan apa-apa kok…"
Kris menaikkan sebelah alisnya sebelum kembali bertanya, "Apa yang kedua yeoja itu katakan padamu?"
"I-itu…"
"Baekhyun…" Kris menatap namja itu lekat-lekat, membuat hati Baekhyun berdegup kencang karena ditatap begitu intens oleh idolanya. "Aku hanya sekedar ingin tahu, jadi lebih baik kau jujur saja."
Mendengar hal itu, Baekhyun hanya terdiam, menatap Kris yang menatapnya balik dengan pandangan yang seakan mengatakan 'jujurlah padaku' dan dia menelan ludahnya, merasa ragu untuk berbicara masalah ini. Karena sebelumnya dia tidak pernah mengeluh tentang hal ini kepada siapapun, dia hanya mampu memendam semua perasaannya.
Chanyeol mengedipkan matanya, berulang kali dia memandangi Baekhyun kemudian pada Kris sebelum dia mengerenyitkan alisnya. Kenapa Baekhyun memasang muka seperti itu? Dan apa maksud dari pertanyaan Kris? Mengapa dia merasa seolah-olah dia satu-satunya di antara mereka yang tidak mengerti apa-apa?
"Baekhyun." Kata Kris lagi, bersikeras untuk membuat Baekhyun berbicara.
"…hanya hal biasa saja kok Kris-ssi," Baekhyun akhirnya membuka mulut, sebuah senyum simpul menghiasi wajahnya. Namun hanya orang bodoh yang tidak dapat melihat bahwa senyuman itu tidak lebih dari sebuah senyum paksaan, "Hanya hal-hal yang orang-orang sering katakan seperti aku ini tidak sebanding dengan Luhan-hyun, tidak penting, dan hanya menjadi beban malu bagi Luhan-hyung…"
Hening.
Baekhyun mendongakkan kepalanya, melihat Chanyeol dan Kris yang serempak mengerenyitkan alis mereka.
"Ah… tapi aku sudah terbiasa kok dengan omongan-omongan seperti itu! Ja-jadi tidak usah dipikirkan…"
Belum selesai dia berbicara, tiba-tiba Chanyeol melepaskan pelukannya. "Tidak boleh begitu!"
"Eh?"
Chanyeol mengerutkan alisnya, "Mendengar orang lain selau menghinamu, mana boleh kau terbiasa dengan hal-hal seperti itu! Itu sangat salah Baekkie!"
"Ta-tapi…"
Baekhyun terdiam ketika secara tiba-tiba Chanyeol menangkup wajahnya dengan kedua tangannya yang kekar, "Lagipula Baekkie itu manis kok. Bahkan menurutku lebih manis dan lebih cantik daripada Luhan. Jadi jangan dengarkan kata-kata mereka, ok?"
Baekhyun tercengang mendengar omongan Chanyeol yang terdengar begitu jujur. Dia yakin bahwa wajahnya pasti sangat merah karena kini dia merasa wajahnya terasa begitu panas. Sementara jauh di dalam dada, jantungnya berdegup begitu kencang, seolah sedang berusaha untuk mencoba melompat keluar dari tempatnya.
"Ja-jangan bercanda Chanyeol." Balas Baekhyun yang membuang muka seraya menyingkirkan tangan Chanyeol dari wajahnya.
"Aku serius! Apa perlu aku menciummu untuk menunjukkan kesungguhanku?"
Bugh.
Seketika sebuah pukulan melayang ke pundak Chanyeol.
"AW!" Chanyeol berteriak kesakitan, kemudian menoleh dan menatap geram sepupunya. "Tiang listrik brengsek! Kenapa kau memukulku hah?!" protes Chanyeol sambil memegangi pundaknya.
"Dilarang melakukan pelecehan." Jawab Kris dengan santai sebelum menoleh kepada Baekhyun, "Dan Baekhyun… aku setuju dengan Chanyeol. Kau tidak perlu menghiraukan omongan-omongan orang itu. Mereka hanyalah orang-orang bodoh yang berpandangan sempit karena hanya dapat melihat sisi luarmu saja. Tidak ada gunanya kau mencemaskan omongan orang-orang seperti itu."
Lagi-lagi wajah Baekhyun memerah, kali ini karena mendengar omongan Kris. Bagaimana dia bisa tidak seperti itu saat kedua namja tampan memujinya dan berusaha untuk membuat dia ceria kembali? Apalagi jika salah satu dari mereka adalah orang yang sangat dikaguminya.
Lalu Baekhyun tersenyum dengan manis, menatap Chanyeol dan Kris secara bergantian. "Terima kasih Chanyeol… Kris-ssi."
Chanyeol dan Kris tersenyum (meskipun Kris hanya tersenyum simpul), menatapinya dengan tatapan yang seolah mengatakan mereka akan bersedia untuk mengulurkan tangan mereka dan membantunya berdiri.
Untuk pertama kalinya, Baekhyun merasa bahwa dia tidak benar-benar sendiri.
.
.
.
Seusai pulang sekolah, Chanyeol dan Kris pulang bersama. Keduanya jalan berdampingan. Namun satu hal yang janggal, seorang Park Chanyeol yang hobinya berceloteh dari pagi hingga malam kini tiba-tiba terdiam. Dan Kris tahu ada sesuatu yang tidak beres ketika melihat Chanyeol berpikir begitu seriusnya. Entah apa yang dipikirkan sepupunya itu dia juga tidak tahu, tapi dia yakin apapun itu yang dipikirkan oleh seorang Park Chanyeol tidak akan pernah ada yang beres.
"Jangan berpikiran mesum." Namja yang paling tinggi itu memasukkan kedua tangannya di saku celananya, matanya melirik Chanyeol.
Chanyeol menggerutu kesal, "Sialan kau… otakku ini tidak hanya digunakan untuk berpikiran mesum tahu!"
"Ah, otakmu bisa digunakan untuk berpikir hal yang lain selain hal mesum?"
"Cih, kalau saja kau bukan sepupuku, aku pasti sudah membakarmu hidup-hidup." Chanyeol menyikut pinggang Kris.
"Memangnya kau memikirkan apa? Serius sekali…" tanya Kris dengan wajah datarnya.
Chanyeol menyengir lebar, membuat perasaan Kris tidak enak. Seharusnya dia mengabaikan sepupu yang tidak waras itu, seharusnya dia diam saja, tetapi—
Chanyeol merangkul pundak Kris, "Hei, mau membantuku?"
—melayang sudah kesempatannya untuk kabur.
Kris mengangkat sebelah alisnya, "Tergantung. Memang membantu apa?"
"Hehehe…"
.
.
.
Layaknya di setiap pagi yang Baekhyun lalui saat melangkah ke gerbang sekolah, yang dia harapkan hanyalah sebuah hal-hal yang normal.
Bukan yang seperti ini.
Bukan pemandangan seperti Chanyeol yang kini tengah mengibar-kibarkan sebuah bendera. Dan kalian tahu apa yang tertuliskan di bendera itu?
Byun Baekhyun's Fans Club
"Pengumuman! Mulai saat ini telah dibuka fans club khusus untuk Byun Baekhyun. Bagi yang ingin mendaftar, silahkan datang ke atap sekolah. Jam buka pendaftaran dimulai dari istirahat pertama dan tidak ada batas akhir pendaftaran. Tapi bagi 3 pendaftar pertama akan mendapatkan hadiah special! Karena itu, mendaftar lebih cepat jauh lebih baik!" teriak Chanyeol dengan antusiasnya sambil terus mengibar-kibarkan bendera putih yang dipegangnya.
Baekhyun hanya dapat terpaku dan melongo dengan bola matanya yang membesar, sementara pipi menghangat dan warna merah jambu menjalar ke seluruh wajah.
Tuhan, dia tidak tahu lagi harus menaruh mukanya di mana.
Dia harus dengan cepat menyembunyikan diri saat ini juga, menggali lubang kemudian mengubur dirinya sendiripun bukan ide yang buruk, asalkan dia bisa menjauh saat ini juga…
"Dasar manusia tidak punya malu."
Ucap seseorang tiba-tiba disebelahnya, membuat Baekhyun terkejut dan refleks menoleh kesebelahnya. "K-Kris-ssi!"
Namja tampan berambut pirang itu menghela nafas, kemudian memejamkan mata seraya memijat kepalanya, "Dari milyaran orang yang ada di bumi ini… kenapa harus dia sih yang menjadi sepupuku…"
Baekhyun hanya diam, karena dia tidak yakin mesti menjawab apa.
Kris memasukkan kedua tangannya ke kantong celana, mata menatap Chanyeol yang masih sibuk mempromosikan club baru yang dikelolanya. "Jujur saja… saat kemarin dia memintaku untuk membantunya, tidak kusangka dia memintaku untuk membuatkan bendera itu."
Mendengar hal itu Baekhyun membulatkan matanya lebar, "Eh?! Kris-ssi yang membuat benderanya?! K-kenapa?!"
"Memangnya kenapa?" tanya Kris datar sambil menoleh kepada Baekhyun.
"Ti-tidak apa-apa sih… hanya saja…" Baekhyun menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah tampan Kris, "Kenapa kalian sampai melakukan hal yang hanya akan sia-sia saja…?"
"Sia-sia?" Kris memicingkan mata.
"Ya… bukankah sudah jelas tidak akan ada yang mau bergabung ke klub ini?"
Wajah Kris mengerut, dia memerhatikan beberapa orang melemparkan pandangan aneh kea rah Chanyeol, sebelum kemudian menatap Baekhyun kembali.
"Mengenai hal itu, aku tidak bisa menjawabnya Baekhyun, karena aku tidak bisa memprediksikan sesuatu yang akan datang. Tapi aku bisa menjawab pertanyaanmu yang sebelumnya."
Baekhyun mendongakkan kepala.
"Chanyeol ingin kau menjadi bintangnya. Bersinar terang agar cahayamu dilihat banyak orang. Dan aku… aku hanya ingin melihat mu bersinar, itu saja."
Kontan, Baekhyun membelalakkan matanya. Tiba-tiba dia merasa waktu seolah telah berhenti, dan yang hanya terlintas di pikirannya adalah jawaban Kris yang dari tadi terus berputar di dalam kepalanya, bagaikan kaset yang sudah rusak. Dan sebelum Baekhyun sempat menyuarakan seluruh kebingungan yang terkumpul, Kris telah melangkah menjauh darinya dan menghampiri Chanyeol. Dia tidak berbicara apa-apa, hanya berdiri disamping Chanyeol yang masih sibuk mengibarkan bendera dan berusaha menarik anggota.
Kemudian, seolah menyadari bahwa Baekhyun sedang memperhatikannya, Chanyeol menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar. Hanya sebuah senyuman, tapi begitu hangat bagaikan sinar mentari.
Baekhyun tersenyum balik kepadanya.
Walaupun banyak murid-murid yang menatapnya tajam seolah-olah menyindirnya, Baekhyun tetap menyunggingkan senyum dan berpikir bahwa mungkin semuanya akan membaik.
Karena dia tidak sendirian.
.
.
.
Baekhyun terus saja melontarkan pandangannya kepada Chanyeol yang kini berdiri menghadap pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada, kemudian kepada Kris yang membaringkan tubuhnya di lantai dan memejamkan mata.
Namja pendek itu kemudian menoleh pada Chanyeol, "Chanyeol… duduklah… tidak ada gunanya juga kau terus berdiri seperti itu…"
Sebuah helaan nafas terhembus dari mulut Chanyeol, "Aku tidak bisa tenang…"
"Menunggu seperti itupun tidak akan membuat orang datang, kau tahu itu kan?" kata Kris.
"HABIS!" Chanyeol mendengus, kali ini menatap tajam Kris, "Setelah pengumuman tadi pagi dan dengan sogokan hadiah special, seharusnya sudah ada yang mendaftar! Dan lihat, sudah 26 menit lewat 32 detik semenjak istirahat pertama dan masih belum ada yang mendaftar!"
Kris merubah posisinya untuk duduk dan menatap Chanyeol, "Sabarlah, tidak ada gunanya juga kau melampiaskan emosimu padaku."
"Cih." Chanyeol mendecak kesal sebelum menghela nafas lagi. Dia menghampiri Baekhyun, berlutut didepannya dan menangkup wajah mungil itu dengan kedua tangannya, "Kalau aku sih, pasti tanpa ragu akan cepat-cepat mendaftar… Kenapa tidak ada yang bisa melihat pesonamu sepertiku sih?"
Wajah Baekhyun memerah ketika Chanyeol mengusap wajahnya lembut, "B-bagaimana kalau kita hentikan saja?" ucapan Baekhyun membuat Chanyeol membelalakkan matanya, sedangkan Kris hanya melirik Baekhyun.
"Eeeeeh?! Hentikan?! Lalu usahaku membuat pengumuman seperi tdai sia-sia saja dong?! Lalu bagaimana dengan usaha Kris yang sudah bersusah payah membuatkan bendera ini?!"
Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Aku sangat berterima kasih atas usaha kalian… sungguh. Tapi saat ini yang aku butuhkan bukanlah sebuah klub yang dapat memujaku Chanyeol… aku hanya ingin orang lain dapat melihatku sebagai diriku, bukan sebagai adik dari Byun Luhan. Aku hanya butuh orang yang mampu melihatku secara keseluruhan dan aku hanya butuh orang yang bersedia berjalan disisiku…"
"Kau dan Kris-ssi sudah melakukan hal yang menurutku lebih dari itu… karena itu… cukup mempunyai kalian sebagai temanku saja… itu sudah lebih dari cukup." Baekhyun tersenyum manis, membuat Chanyeol tercengang dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya.
Kemudian Chanyeol memelu Baekhyun erat, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Baekhyun. "Aaaaaah ya ampuuuun kau manis sekali Baekkie~~!"
"A—yah! Chanyeol, lepaskan! Aduh, sesaaak! K-Kris-ssi!"
Belum Kris berdiri dan menendang Chanyeol untuk melepas Baekhyun, tiba-tiba pintu terbuka, membuat ketiganya menoleh.
Dan berdiri di hadapan mereka, adalah dua orang namja. "Ng… kami ingin mendaftar sebagai anggota Byun Baekhyun fan's club…" ucap namja yang paling pendek di antara mereka berdua.
Ketiganya terdiam, mata mereka terus saja menatap dua namja yang kini masih berdiri di hadapan mereka.
Dan Chanyeol tersenyum lebar, "O-OH! Tentu saja! Silahkan! Siapa nama kalian?"
Dua namja itu saling melempar pandangan sebelum menoleh pada Chanyeol. Sebuah senyuman lebar menghiasi wajah mereka.
"Namaku Chen!"
"Dan aku Xiumin!"
Chanyeol bertepuk tangan, terlihat sangat jelas betapa senangnya dia dari raut wajahnya.
"Selamat datang di Byun Baekhyun Fans Club!"
Haaah… maaf ya panjang dan jelek -_-
Dan Hika gak punya masalah kok sama Sulli sama Krystal, Hika suka malah sama mereka.
