Mystic Messenger (c) Cheritz
Choi Saeran x MC
Romance/Drama
Please don't read if you don't like it! :D
Rangkaian verbal sarat ilmu meluncur luwes dari mulut profesor yang kini sedang berbicara di depan kelas. Aku membeokan tiap kalimatnya dengan suara terlampau pelan–sedikit banyak berharap dapat mengusir rasa kantuk yang terasa menjadi-jadi.
Kualihkan pandanganku sejenak pada buku catatan yang sedari tadi kucoret secara konstan, lantas tidak sadar mengernyitkan dahi. Ah, aku tidak bisa membaca tulisanku sendiri.
Aku menguap untuk yang kesekian kalinya dalam kurun waktu satu jam ini, tiba-tiba teringat kemarin malam–dan sepertinya akan berlanjut untuk malam-malam setelahnya–tidak cukup tidur. Kelas ini sungguh-sungguh pengantar tidur paling ampuh.
Tring!
Ponselku tiba-tiba saja berbunyi nyaring–profesor mengalihkan atensinya padaku dengan tatapan bengis, aku cepat-cepat memberikan gestur permintaan maaf dan membisukan ponsel.
Kulirik sekilas layar ponselku yang masih menyala. Pesan diterima dari Choi Saeran.
Choi Saeran...?
Bulu kudukku kontan meroma. Sepasang manik serupa permen mint sedang menatapku tajam ketika bola mataku berputar ke arah kanan. Pemuda itu duduk di bangku yang sama denganku, hanya terpisah beberapa meter jauhnya. Dan entah kenapa aku merasa harus meningkatkan kewaspadaan ketika seorang Choi Saeran sedang menatapku seperti ini.
Surai putih bergradasi bak gulali kapas melambai seiring dengan anggukan kepala pemuda itu ke arahku. Aku langsung mengerti maksudnya: cepat baca pesanku sebelum ketahuan profesor.
Dengan tanpa suara, hati-hati kubuka pesan yang pemuda itu kirimkan padaku. Kau sudah menyelesaikan jurnalmu? –begitu isi pesannya.
Aku tersenyum (pahit). Jemariku bergerak lincah di atas layar sentuh ponselku–entah kenapa tiba-tiba begitu antusias membalasnya. Belum, tentu saja, jurnal itu membunuhku perlahan.
Asal kau tahu, aku bahkan tidak punya waktu untuk tidur lebih dari dua jam tersebab deadline pengerjaan jurnal yang dosen kami berikan beberapa hari yang lalu. Bahkan Choi Saeran, pemuda jenius yang loncat ke semester lima di tahun pertamanya kuliah, kuyakin pasti akan terbentur kesulitan yang sama ...atau tidak–aku tidak berani berkonklusi untuk saat ini.
Segera setelah kusentuh panel 'send', dari sudut mataku kulihat Choi Saeran menunduk–layar ponsel silvernya menyala samar. Ia bergeming menatap ponselnya cukup lama hingga kulihat ia mulai mengetikkan sesuatu.
Tring!
Ponselku kali ini bergetar tanpa suara. Aku segera mengecek pesan yang masuk. 'Sudah seberapa banyak yang kaukerjakan?' –seperti sebelumnya, pesan yang tanpa emosi darinya.
Aku tersenyum (pahit) lagi. Aku sungguh tidak mengerti kenapa ia menanyakan hal ini padaku. Aku bahkan jarang melihatnya berbicara dengan orang lain terkecuali tiap gilirannya presentasi di depan kelas, lantas kali ini ia mengirimiku pesan? Dia berusaha berbasa-basi denganku? Malaikat mana yang sedang merasukinya...?
Aku kembali mengetik balasan. Bahkan belum sampai setengahnya, hehe.
Kemudian, send.
Sedetik kemudian, Choi Saeran menatap ponselnya lagi dalam diam. Kalau aku tidak salah lihat, sudut bibirnya sedikit tertarik. Dia tertawa...? Dia tertawa karena membaca pesanku ataukah...?
Beberapa menit berlalu, tidak ada lagi balasan darinya. Aku gelisah bergantian memandangi slide materi profesor di depan kelas dengan ponselku. Jemariku entah sejak kapan mulai mengetuk-ngetuk meja. Aku memicingkan mata tatkala menyadari Choi Saeran tengah khusyuk mengerjakan sesuatu di laptop yang entah sejak kapan ia keluarkan dari tasnya.
...
..Choi Saeran. Dia benar-benar sukses membuat otakku memikirkan hal-hal rumit tentang dirinya.
Tring!
Ponselku bergetar lagi–profesor sekilas mendelik padaku bersamaan dengan pesan masuk dari Choi Saeran, lantas kembali berfokus pada materi kuliah di slide presentasi. Benih-benih curiga sudah mulai tertanam padaku, kurasa. Kali ini aku harus lebih berhati-hati membuka ponsel.
'Sisa tugas jurnalmu sudah kukerjakan, sudah kukirim ke email-mu. Aku bersumpah tidak menjerumuskanmu. Terserah mau kaupakai atau tidak.'
..Adalah isi pesan paling absurd yang sukses menciptakan kerutan sempurna di dahiku. Kedua tanganku mulai bergetar seiring dengan keringat dingin yang jatuh setetes. Aku melirik Choi Saeran–ia sedang menatap mataku balik seraya tersenyum tipis. Tidak ada kebohongan di dalam sepasang manik sayu yang berkilat ganjil–aku sangat yakin dengan instingku.
Tring! Tring! Tring!
Kontan aku terkejut, gelagapan menangkap ponsel yang hampir jatuh dari genggaman. Ponselku menjerit-jerit, mengalihkan atensi seluruh pasang mata di dalam kelas padaku–hei, apa-apaan, aku yakin seharusnya ponselku sudah kuatur dalam mode bisu!
Aku melirik panik pada ponselku–ada panggilan masuk dari Choi Saeran. Tanpa sadar aku langsung menoleh geram pada pemuda aneh tersebut–sungguh, dia benar-benar mempermalukanku saat ini juga. Namun, apa yang kutemukan sungguh di luar dugaan. Sukses terbelalak–ketika menemukan seorang Choi Saeran (dengan ekspresi wajahnya yang sulit ditebak) tengah mengacungkan selembar kertas tipis, memamerkan sebaris kalimat berukuran besar yang ia tulis padaku:
'Kuharap aku bisa membantumu beristirahat :)' –lengkap dengan emoji tersenyum di belakang kalimat.
...
Aku membatu, wajahku memanas karena perasaan kaget bercampur bingung yang begitu tiba-tiba menyesap di dalam dada–menganga dengan tidak elitnya.
...
..Oh, sungguh, Choi Saeran, kau ini sedang berusaha membuatku jatuh cinta padamu atau apa?
–Dan pada menit selanjutnya, profesor mengusirku dengan Choi Saeran dari kelas.
.
Fin!
.
[A/N]
Saeran mabaeee :**** Hahaha maafin kalo abal, saya sedang berusaha kembali aktif menulis, tolong dikritik dan disaran ya kakak :D
