You are My Everything-2
Pair: Absolutely, AnMitsu
WARNING! Sho-ai. AU.
Ngaha. Yeah chap 2 up setelah sekian lama! Silakan dinikmati, aruji :3
ENJOY!
"Apa maksudmu tadi?" tanya Kiyomitsu langsung.
"Anoo.. tak apa," kata Yasusada santai.
"Kau mau mempermainkanku?"
"Tidak,"
"Lalu maksudmu apa!?" Kiyomitsu menjadi geram dengan Yasusada.
Yasusada terdiam dan menatap Kiyomitsu dalam. Lalu dengan tegas dia berkata,
"Aku menyukai—ah tidak. Aku mencintaimu, Kashuu Kiyomitsu,"
Mata Kiyomitsu membulat.
"Eh?"
Yasusada memandang Kiyomitsu dengan tenang. Dia duduk di sebelah Kiyomitsu yang masih mematung. Yasusada menggerakkan tangannya di depan wajah Kiyomitsu, namun Kiyomitsu masih mematung. Yasusada bingung. Dan akhirnya dia memencet luka Kiyomitsu.
"Aduh! Sakit!" Kiyomitsu kaget dan sadar.
Kiyomitsu langsung memandang Yasusada dengan pandangan mematikan nya. Namun di mata Yasusada, itu benar-benar imut.
"Jangan keseringan melamun," nasehat Yasusada.
"Kau pikir ini gara-gara siapa!? Dan apa maksudmu dengan mencintaiku?" kata Kiyomitsu meminta penjelasan.
"Kau tak tau artinya cinta? Aku mencintaimu, aku ingin selalu bersamamu. Kau segalanya untukku. Kurang jelas?" tanya Yasusada dengan tempo yang sangat pelan dan jelas.
"Bukan itu, bodoh! Apa maksudmu dengan mencintaiku?! Itu tidak mungkin! Ini—ini salah!" kata Kiyomitsu keras, "apa lagi waktu kau.."
Yasusada yang melihat Kiyomitsu memalingkan muka dengan wajah yang memerah langsung tersenyum. Dia tahu kalau akan ditolak. Jadi dia hanya lapang dada saja menerima kenyataan ini.
"Aku kenapa?" goda Yasusada.
Kiyomitsu tetap memalingkan muka dan memainkan tangannya. Dia terkesan salah tingkah.
"Ka—kau menci.."
"Apa?" Yasusada lebih mendekat ke Kiyomitsu.
"Moou! Sudahlah! Pergi saja kau!" bentak Kiyomitsu.
Yasusada pun hanya mengangkat bahunya. Lalu mengambil pisau yang tadi dipergunakan Kiyomitsu untuk melakukan hal bodoh.
"Jangan sampai kau melukai tubuh indahmu itu lagi. Oleh karena itu, kubawa ini," kata Yasusada sambil memasukkan pisau itu ke tasnya.
"I-indah?!" Kiyomitsu langsung bereaksi, wajahnya memerah antara malu, dan marah.
"Hn. Kenapa?" tanya Yasusada polos.
"Kau menjijikan" kata Kiyomitsu tajam, "Jangan harap aku menerimamu! Aku normal!"
Yasusada tersenyum saja menanggapi itu. Lalu dia mendekat lagi ke arah Kiyomitsu.
"Menjijikan, hm?" kata Yasusada pelan.
Kiyomitsu menunduk dan mengangguk. Wajahnya lebih memerah sekarang.
"Kau membenci perlakuanku tadi?" tanya Yasusada lebih mendesak.
"Te—tentu saja! Kau menjijikan! Aku benci!" kata Kiyomitsu keras sambil berusaha menjauhkan Yasusada.
"Hn, membencinya rupanya," Yasusada menjauh dan mengambil tasnya, "Jadi, siapa tadi yang membalas perlakuanku, hm? Membuka mulutnya untuk lidahku,"
Kiyomitsu membulatkan matanya mendengar itu. Wajahnya pun memerah dan memanas kembali mengingat itu semua.
"A—aku.. Ti—tidak...!"
"Dan menggumamkan namaku?" kata Yasusada dengan senyum liciknya.
Kiyomitsu semakin ingin menampar Yasusada. Tapi apadaya, dia tidak bisa berjalan. Dia hanya menggeram dalam hati.
Melihat itu, Yasusada tersenyum. Yang penting, Kiyomitsu lupa dengan niatnya untuk bunuh diri. Tak apalah dia dibenci.
"Yah, sudahlah. Tidurlah kau. Aku mau mengobati lukaku dulu. Syukurlah darahku sudah berhenti. Aku kira tidak bisa berhenti, haha," kata Yasusada sambil sedikit tertawa, "Aku akan datang kembali nanti malam.."
"Tak usah datang lagi. Dasar bodoh," potong Kiyomitsu.
"Sesukamulah," Yasusada mendekat dan mencium Kiyomitsu kilat, "Kiyomitsu,"
"Ap– !"
"Ya, ya. Sampai jumpa~" Yasusada menutup pintu kamar Kiyomitsu.
Setelah Yasusada agak jauh, Kiyomitsu mendecih pelan. Dan dia pun memegang bibirnya yang sudah ternoda. Wajahnya memerah kembali. Kebenciannya memuncak.
"Sialan!" teriak Kiyomitsu.
"Sudah makan?" tanya Tsurumaru saat makan malam.
Tsurumaru pun memandang nampan makan Kiyomitsu. Masih utuh. Sama sekali tidak tersentuh oleh Kiyomitsu. Tsurumaru memandang luka di tangan kanan Kiyomitsu. Rasa sedih dan takut masih menjalari hati Tsurumaru. Dalam hatinya, Tsurumaru bersyukur Yasusada datang. Jika tidak, mungkin dia sudah kehilangan adik kesayangannya.
"Aku tidak mau makan," kata Kiyomitsu pelan.
Tsurumaru perlahan mendatangi tempat tidur Kiyomitsu setelah mendengar pernyataan adiknya.
"Kenapa kau sebegitu inginnya mengakhiri hidupmu?" tanya Tsurumaru pelan.
Kiyomitsu tidak menjawab. Dia menutup matanya.
"Aku lelah," hanya itu jawaban Kiyomitsu.
Tsurumaru menghela napas panjang. Saat dilihatnya pintu kamar Kiyomitsu, ternyata disitu ada Yasusada yang sedang berdiri. Yasusada tersenyum dan membungkuk. Tsurumaru pun juga tersenyum dan membungkuk seraya memberi Yasusada isyarat; tolong-urus-anak-ini. Yasusada pun tersenyum. Tsurumaru berjalan mendekati pintu –juga mendekati Yasusada—kemudian Tsurumaru menarik Yasusada ke depan kamar, dan menutup pintu kamar Kiyomitsu.
"Kumohon jaga dia. Bujuk dia bagaimanapun agar tetap hidup. Aku tak bisa kehilangan dia," kata Tsurumaru, dengan nada memohon sambil memegang bahu Yasusada.
Yasusada memegang balik tangan Tsurumaru yang mencengkeram bahunya sambil berkata,
"Aku akan berusaha bagaimanapun caranya. Aku juga tidak ingin dia melakukan hal bodoh itu lagi. Percayalah padaku, Tsurumaru san," Yasusada tersenyum untuk menenangkan Tsurumaru, karena Yasusada yakin Tsurumaru masih terguncang dengan apa yang dilakukan Kiyomitsu tadi siang.
Tsurumaru tersenyum. Saat ini batinnya mulai sedikit tenang setelah Yasusada mengatakan hal itu dengan mantap.
"Baiklah. Aku percaya. Aku benar-benar memohon padamu, Yasusada," kata Tsurumaru sambil menepuk bahu Yasusada, "Tolong malam ini jaga dia ya. Aku harus menyelesaikan segala tugas kantorku. Aku harus lembur,"
"Tsurumaru san harus ke kantor?" Tanya Yasusada, dan dijawab anggukan oleh Tsurumaru sambil mulai berjalan pergi, "Hati-hati di jalan," tambah Kiyomitsu.
Segera setelah Tsurumaru menghilang dari pandangan, Yasusada masuk ke dalam kamar Kiyomitsu, berusaha tidak membuat suara sekecil apapun, kemudian duduk dan mengambil makanan Kiyomitsu.
"Kalau kau tidak mau makan dan minum obat, kau tidak akan bisa membunuhku, lho," kata Yasusada tiba-tiba, membuat Kiyomitsu kaget.
"Kau—Kau sejak kapan disini?!" Tanya Kiyomitsu, nadanya terdengar dia benar-benar kaget.
"Barusan?" tanggap Yasusada sambil memasang pose berpikir.
Kiyomitsu memiringkan kepalanya heran. Barusan? Apa Yasusada benar-benar tidak mempunyai hawa keberadaan? Kiyomitsu tidak merasa ada orang lain barusan!
"Kau seperti hantu," kata Kiyomitsu dingin.
"Terima kasih, Kiyomitsu~" kata Yasusada sambil mengambil nasi dan lauk Kiyomitsu, "Makan ya?"
Kiyomitsu memandang makanannya, kemudian memandang Yasusada.
"Aku tidak mau. Biarkan aku seperti ini. Lama-lama aku akan mati," Kiyomitsu mengalihkan pandangannya.
Yasusada menghela napas. Susah membujuk Kiyomitsu. Akhirnya Yasusada pun bertaruh pada keberuntungannya.
"Butuh ciumanku lagi, eh?" kata Yasusada dengan entengnya.
"Ap—!" Kiyomitsu langsung memandang Yasusada tajam dan wajahnya memerah.
"Kau tidak mau makan, sih. Jadi kukira kau ingin.."
"TIDAK, TERIMA KASIH!" tolak Kiyomitsu keras, dan langsung mengambil makanannya dan mulai memakannya.
Yasusada menghela napas seraya tersenyum kecil. Dia ingin sekali Kiyomitsu menjalani terapi, namun Kiyomitsu selalu saja menolak. Dia tidak tahan melihat Kiyomitsu tersiksa.
"Kiyomitsu.."
"Kalau ini tentang terapi, kau pasti tahu jawabannya," jawab Kiyomitsu cepat.
Yasusada menghela napas. Dia memang sudah tak bisa apa-apa. Dia kehabisan ide untuk membujuk Kiyomitsu. Mulai dari ancaman hingga hadiah, sudah dia tawarkan. Namun tak ada yang mempan untuk Kiyomitsu. Apa yang diinginkan Kiyomitsu? Apa yang sangat diharapkannya sehingga dapat membuat Kiyomitsu menjadi menjalani terapi?
Tunggu. Kiyomitsu pernah bilang, bahwa dia ingin Yasusada menjauh darinya. Jadi..
"Aku akan menjauh,"
Gerakan Kiyomitsu yang sedang menyendokkan makanan ke mulutnya langsung terhenti mendengar Yasusada tiba-tiba berbicara seperti itu.
"Eh?" Tanya Kiyomitsu bingung.
"Jika kau menjalani terapi ini, maka aku akan menjauh darimu," kata Yasusada mantap. Walau hatinya tidak demikian. Tapi demi kesembuhan Kiyomitsu, apalah segalanya.
Kiyomitsu memiringkan kepalanya. Benarkah itu? Jika dia melakukan terapi, maka Yasusada akan menjauh darinya?
"Benarkah?" pasti Kiyomitsu.
Yasusada mengangguk mantap sambil mengepalkan tangannya.
"Kau tak bohong?"
"Buat apa aku bohong?"
Hening sejenak. Dia menatap Yasusada kembali. Dia menghela napasnya, lalu mengangguk. Menyetujui tawaran yang diberikan Yasusada. Yasusada tersenyum. Dia menemukan secercah harapan bahwa Kiyomitsu masih akan melanjutkan hidupnya.
Keesokan harinya, Yasusada mengunjungi Kiyomitsu lagi. Saat dilihatnya, kamar Kiyomitsu telah kosong. Dia kaget, lalu bertanya pada perawat yang ada disana.
"Oh, pasien yang di kamar itu? Tadi dia pergi ke ruang terapi, untuk menjalani terapi kakinya.," jawab perawat itu.
Antara perasaan senang, tidak percaya, dan penasaran dia pergi ke ruang terapi. Untuk memastikannya. Saat dilihatnya dari luar, ternyata benar. Kiyomitsu sedang menjalani terapi. Wajah Kiyomitsu menyiratkan rasa sakitnya, namun Kiyomitsu tetap berusaha untuk bangkit. Yasusada lega. Sangat lega. Memang Yasusada masih ada rasa takut kalau Kiyomitsu akan melakukan hal bodoh lagi. Tapi dia ingin belajar mempercayai Kiyomitsu. Lambat laun, Kiyomitsu pasti akan melupakannya dan berusaha untuk bangkit lagi. Sekarang, tinggal menepati janjinya.
"Bersemangatlah, Kiyomitsu. Aku mencintaimu," kata Yasusada pelan sebelum dia pergi, menjauh selamanya dari hadapan Kiyomitsu.
Delapan hari kemudian, Kiyomitsu sudah mulai bisa berjalan pelan-pelan. Siapa sangka kalau Kiyomitsu akan menjalani terapinya dengan rajin? Tapi Kiyomitsu melakukan dengan landasan, menjauhi Yasusada. Bukankah kalau dia sibuk menjalani terapi, Yasusada tidak akan bisa menemuinya? Jadi secara otomatis, dia menemukan tempat pelariannya.
Namun, saat dia bertanya pada Tsurumaru, Yasusada ternyata sudah tidak pernah datang ke rumah sakit lagi semenjak hari pertama dia menjalani terapi. Kiyomitsu entah kenapa merasa ada yang hilang pada dirinya mendengar itu. Tapi dia tak mau ambil pusing untuk mencari alasannya.
"Tak kusangka dia serius," Kiyomitsu bergumam pada dirinya sendiri, sambil menaruh buku yang tadi dibacanya.
Kiyomitsu memandang keluar jendela. Matahari bersinar sangat terang. Cuaca secerah ini, namun Kiyomitsu hanya bisa berbaring di tempat tidur rumah sakit. Memikirkan hal itu, membuat dada Kiyomitsu semakin sesak.
"Haaahh.. aku lelah.." gumam Kiyomitsu lagi. Entah sudah keberapa ratus kalinya Kiyomitsu mengeluh dirinya lelah.
Tanpa sengaja, dia melihat tangannya. Tangan yang sempat dilukainya. Tangan yang penuh dengan sayatan. Sekarang ini, bekas dari luka sayatan itu terlihat sangat jelas. Mata Kiyomitsu berubah sendu. Tiba-tiba dia ingat seseorang.
"Yasusada.." gumam Kiyomitsu pelan.
Mukanya tiba-tiba memerah saat menyadari dirinya memanggil nama Yasusada. Dia menyentuh bekas luka tersebut, dan di pikirannya tergambar jelas bayangan raut muka Yasusada.
Kiyomitsu menggelengkan kepalanya. Dia tetap meyakinkan dirinya bahwa perasaan ini hanyalah kesepian karena Yasusada adalah sahabatnya sejak kecil. Tiba-tiba ditinggal pergi langsung begini pasti berefek pada mentalnya. Ya pasti itu.
Bukan karena Kiyomitsu mulai menyukai Yasusada, dan mulai merasa kehilangannya.
Bukan itu.
Dia normal kan?
Dia tidak menyukai Yasusada. Yasusada itu laki-laki.
Dia juga laki-laki.
Tidak mungkin dia menyukainya.
Tapi..
entah kenapa baginya, terakhir mereka bertemu, Yasusada itu menjadi lebih..
..tampan?
BRAK
Tiba-tiba Kiyomitsu melemparkan buku tebal yang ada dipangkuannya sejak tadi. Wajahnya memerah dan panas. Bagaimana bisa dia tiba-tiba berpikir seperti itu!?
"AAHH! Gara-gara si bodoh Yasusada berkata seperti itu! Aku ini normal! Kiyomitsu! Kau normaalll!" teriak Kiyomitsu frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.
Yah. Menolak fakta.
Satu setengah bulan kemudian, Kiyomitsu sudah mulai bisa berjalan walau masih belum bisa berjalan jauh. Setidaknya dia sudah bisa berdiri dalam waktu lama, dan berjalan beberapa meter. Kiyomitsu meminta ijin pada dokter untuk rawat jalan, dan kembali bersekolah. Tentu, sebagai pasien yang belum sembuh total, Kiyomitsu memiliki banyak pantangan. Namun tak masalah, asal dia bisa kembali bersekolah dan bertemu teman-temannya.
Dan bertemu Yasusada untuk meluruskan segalanya. Dia merasa bersalah sudah berkata ingin Yasusada menjauhinya. Kiyomitsu tidak mau sendirian. Yah Kiyomitsu masih tidak bisa menerima perasaan Yasusada, tapi dia masih ingin berteman dengan Yasusada.
Sungguh egois, Kashuu Kiyomitsu.
"Ohayou!" teriak Kiyomitsu saat dia masuk ke dalam kelas.
Semua orang disana menoleh ke arah pintu masuk, dan kemudian langsung memasang ekspresi tidak percaya, bahagia, bertanya-tanya, dan berbagai macam ekspresi lainnya.
"Kashuu!"
"Kiyomitsu! Kau masih hidupp!"
"Kiyomitsu, bagaimana kakimu? Sudah sembuh total?"
"Tak apakah kau langsung sekolah begini?"
Sambutan dari teman-temannya sangatlah meriah. Kiyomitsu hanya tersenyum saja menanggapi itu semua. Kemudian mengucapkan maaf karena sudah membuat khawatir dan tidak masuk selama sebulan lebih.
Setelah meladeni semua pertanyaan teman-temannya, Kiyomitsu duduk di tempatnya biasanya. Semua terasa sama. Yang berbeda adalah,
Yasusada tidak ada di kelas itu.
Bangku milik Yasusada kosong, bahkan hingga selesai pelajaran pertama. Kiyomitsu mengira Yasusada terlambat, namun jika sampai pelajaran pertama selesai, bukankah keterlambatan Yasusada sudah keterlaluan? Apakah Yasusada sakit?
"Ah, Horikawa kun," panggil Kiyomitsu pada orang yang duduk di depannya.
"Un? Ada apa?"
"Yasusada.. tidak masuk? Apa dia sakit?" Tanya Kiyomitsu langsung.
Horikawa tiba-tiba memasang ekspresi yang aneh. Seperti ekspresi kaget.. namun juga ada tanda Tanya dalam ekspresinya. Kiyomitsu yang melihat itu mulai sedikit kebingungan.
"Anoo, kena—"
"Kau tidak tahu, Kiyomitsu?" potong Horikawa.
"Eh?"
"Yasusada sudah pindah sekolah sejak satu bulan yang lalu,"
Disitu Kiyomitsu merasakan ada petir yang menyambarnya. Dia kaget. Sangat kaget. Dia sekarang lebih dari shock. Pindah sekolah? Segitu seriusnya Yasusada mengatakan akan menjauhinya?
"Pi—pindah? Kemana?" Tanya Kiyomitsu mencoba tenang, walau sebetulnya mentalnya terguncang.
Horikawa mengangkat bahunya, tanda dia juga tidak tahu.
"Aku tak tahu. Maaf ya Kiyomitsu. Tapi aku agak kaget kau tidak diberitahu Yasusada.. kau kan sahabatnya," kata Horikawa.
Horikawa melihat Kiyomitsu yang memasang tampang shock. Dia juga merasa kasihan pada Kiyomitsu. Mungkin Yasusada tidak ingin mengabari Kiyomitsu karena dia takut Kiyomitsu akan shock saat waktu-waktu penyembuhannya, pikir Horikawa.
"Bagaimana kalau kau datangi saja rumahnya? Bukankah kau tau rumahnya?" saran Horikawa.
Iya juga. Kenapa Kiyomitsu tidak berpikiran sejauh itu ya. Segera saat pulang sekolah, Kiyomitsu merapikan mejanya, memasukkan segala barang yang ada di atas mejanya, bahkan dia tidak peduli dengan teriakan Namazuo yang mengatakan bahwa dia salah memasukkan tempat pensil milik Namazuo ke dalam tasnya. Di kepalanya hanya dipenuhi Yasusada. Dia ingin bertemu Yasusada.
Saking pikirannya penuh dengan Yasusada, dia lupa bahwa kakinya belum sembuh benar. Dia belum bisa berjalan jauh. Sebetulnya dulu mereka adalah tetangga. Namun karena ada masalah dengan orang tuanya, saat SMP Yasusada meminta untuk tinggal sendiri di rumah milik mendiang neneknya. Dan rumah tempat Yasusada tinggal sekarang cukup jauh dari sekolah. Di tengah jalan menuju rumah Yasusada, Kiyomitsu terjatuh.
"AKH!" Kiyomitsu berteriak kecil.
Kakinya sakit. Sangat sakit. Tapi dikepalanya masih dipenuhi oleh Yasusada. Yasusada. Yasusada. Yamatonokami Yasusada. Dia sangat ingin bertemu dengannya. Dengan membayangkan senyum Yasusada, Kiyomitsu mencoba bangkit, dan mulai berjalan walau terseok-seok.
"Sedikit lagi, Kiyomitsu. Sebentar lagi sampai," pikir Kiyomitsu menyemangati dirinya sendiri.
Pertama kalinya dia tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan. Cat kuku merahnya yang mulai terkelupas karena dia berjalan dengan mencengkeram tembok sepanjang jalan, celananya yang robek karena terjatuh, rambutnya yang berantakan, keringat dan air mata yang terus mengalir karena menahan sakit dan lelah.. Kiyomitsu benar-benar berjuang untuk melihat senyuman Yasusada lagi.
Dan kau masih menyangkal bahwa kau juga mencintai Yasusada, Kiyomitsu?
DEG.
Pikiran itu tiba-tiba hinggap di kepalanya. Dia tiba-tiba terdiam. Dia berhenti berjalan. Dia mengalami kebingungan yang amat sangat. Apa-apaan pikiran itu? Kenapa tiba-tiba terlintas pemikiran gila seperti itu? Yasusada adalah teman sejak kecilnya. Sudah pasti dia khawatir kalau Yasusada bersikap seperti itu padanya! Bukan karena Kiyomitsu mencintai Yasusada! Bukan itu!
"Bukan itu.." ulang Kiyomitsu lirih, sambil mulai berjalan terseok-seok kembali.
Akhirnya. Dia sampai di depan rumah minimalis berwarna biru muda, dengan pagar kayu rendah. Seperti biasa, pagar kayunya tidak dikunci. Kiyomitsu berusaha bertahan hingga dia sekarang berada di depan pintu rumah Yasusada. Dengan gemetar dia menekan bel rumahnya.
PING PONG.
Satu kali. Tidak ada jawaban. Kiyomitsu mencoba lagi.
PING PONG.
"Ya.."
Betapa bahagianya Kiyomitsu mendengar suara seseorang yang menjawabnya. Dan rasanya jantungnya melonjak gembira saat terdengar suara kunci pintu yang dibuka. Senyum Kiyomitsu tak bisa disembunyikannya. Saat pintu terbuka, terlihatlah seseorang yang memakai kaos santai berwarna putih polos, dengan rambut panjang biru tua yang terurai, pandangan mata biru teduhnya, dengan tahi lalat di dekat mata kirinya.. ya, itu adalah Yamatonokami Yasusada. Orang yang paling ingin ditemui oleh Kashuu Kiyomitsu.
"Yasusada!" sambut Kiyomitsu bahagia, dengan air mata dan senyuman menghiasi wajahnya, "Kenapa kau tiba-tiba pindah tanpa memberitahuku? Kau kenapa tiba-tiba langsung pergi seperti itu? Y—ya aku tahu aku yang salah karena dulu aku yang memintamu pergi dariku, tapi ternyata aku tidak bisa kalau tidak bersamamu.. aku—aku ingin kita bersahabat lagi seperti dulu, ya, Yasusa—"
"Anoo.." potong Yasusada saat Kiyomitsu berbicara.
"..Ya?"
Hening sejenak. Sedetik kemudian, Yasusada membuka mulutnya,
"Maaf, tapi.. anda siapa?"
"E.. eh?"
TBC/END?
A/N
Yahoo~ Satou Ayumu disini! Ma—maafkan saya aruji, saya menghilang hampir dua minggu ini /cry
Saya beberapa hari kemarin masih UAS, dengan tugas take home yang banyak banget sebanyak cucian Kasen yang nyuciin satu citadel :") ditambah saya juga sibuk-sibuknya ngurusi acara kampus, jadi saya ga bisa menyelesaikan FF ini dengan cepat :") mohon maafkan saya /bow
Apakah masih ada yang menunggu FF ini up? Bagaimana menurut anda? :') Ah, saya tak bosan-bosannya berterima kasih kepada semua yang telah membaca, memfollow, memfavorite, ataupun mereview FF saya :") saya benar-benar bahagia dan terharu. Karena anda sekalian lah saya masih terus berkarya. Terima kasih /bow again
Lalu untuk Didi822: Yap, sudah up aruji ^^ selamat menikmati, semoga suka :)
Dan untuk Aline azurE : terima kasih sudah review FF saya yang ore dake xD wah maaf.. agak ga jelas kah awal-awal? jadi ada kosongnya? :" maafkan saya aruji.. niatnya saya memang cuma buat ficlet semacam omake gitu dari animenya jadi pengennya langsung nulis aja gitu x'D /diesh/ terima kasih saran dan semangatnya, saya akan terus berusaha ^^ semoga betah membaca FF saya :')
Ya! Pokoknya semoga anda semua terhibur dengan FF saya! Terima kasih semuanya!
Salam,
Satou Ayumu
