All characters here belong to JK. Rowling

Again, this is the sequel of the previous chapter and previous stories.

I wrote it in hurry. Hence once you read it, you will find so many mistakes here. I'm sorry *take a deep bow*

I warn you once again that this is a SLASH a.k.a YAOI fanfiction. If you don't like it, mind to out?

Happy reading guys.

Chapter 2

-It's Nice to Meet You-

-London, August 2001-

Pagi ini kantor Departemen Auror tidak terlalu ramai dengan para pegawainya seperti biasa. Hal ini disebabkan para pegawai yang mendapat informasi jika tugas mereka sedang sedikit masuk terlambat. Namun tidak dengan pria bermata empat itu. Dia tetap mencoba untuk displin dengan masuk sesuai jadwalnya.

Dia berjalan ke arah meja kerjanya. Meja itu terlihat sedikit rapi dari biasanya –yang penuh tumpukan perkamen, bungkus coklat kodok dan bungkus permen Bertie Bott. Hanya ada setumpuk kecil perkamen dan juga sebuah kalender kecil di atasnya. Pria itu langsung mengambil tempat duduknya, sedikit menyamankan letak bokongnya.

Harry Potter, The Boy Who Live Twice, memandang kalender yang terpajang di atas mejanya. Dia menghela napasnya lelah saat memandang tanggal yang sengaja ia tandai. Dengan perlahan ia ambil kalender itu. Di bawah tanda dari tanggal itu tertulis 'The third year' yang ditulis menggunakan tinta warna merah.

"Sudah tiga tahun ternyata..." gumamnya. Sesekali ia usap tanggal yang diberi tanda itu. Dalam hatinya, Harry merasa waktu berjalan begitu cepat dan tak terasa sudah tiga tahun dia tinggal bersama dengan pria aristokrat berambut pirang itu.

Hari ini tepat tiga tahun semenjak kedatangan tiba-tiba seorang Draco Malfoy ke Grimmauld Place yang memaksanya untuk mengizinkan Draco agar tinggal di sana bersamanya. Harry, yang masih memegang kalender tersebut di tangannya, terbayang akan 'paksaan' Draco padanya tiga tahun yang lalu.

Saat itu, Harry sedang menikmati teh hangatnya di ruang tengah rumah kediaman Black – Grimmauld Place No. 12. Tiba-tiba, perapian di rumah itu mengeluarkan api berwarna hijau dan keluarlah sesosok pria bertubuh cukup tinggi dengan rambut pirangnya yang khas.

Harry yang menyadari bahwa pria itu adalah sang pewaris tunggal keluarga Malfoy, Draco Malfoy, langsung tersedak akibat kehadirannya. Pria berwajah aristrokrat itu dengan santainya berjalan ke arah Harry dan langsung mengambil cangkir teh yang ada di tangan pria berkacamata itu.

"Hey! That's mine!" teriak Harry menanggapi Draco yang dengan seenak jidatnya mengambil dan meminum teh yang sedang ia nikmati –sebelum Draco datang.

"Apa susahnya untuk mengambilkan yang lain untukmu sendiri, Potter? Aku adalah tamu disini." Ucap Draco masih dengan gaya santai aristrokratnya. Dia menyesap teh miliknya – ia mengklaim itu miliknya.

Harry yang saat itu terlalu malas untuk bertengkar dengan Draco pun langsung membuat kembali teh yang sama dengan yang ia minum sebelumnya. Kreacher yang saat itu sedang membersihkan piring kotor pun menawarkan diri untuk membuatkan teh untuk sang majikan. Namun, Harry menolaknya dengan halus.

Harry masih sangat ingat bagaimana wajah menyebalkan Draco pada saat itu. Wajah itu terlihat lebih menyebalkan dari biasanya. Harry ingin sekali menonjok wajah itu atau sekedar memubuhkan mantra bisul pada pria berambut pirang itu. Namun di sisi lain, ia senang sekali melihat wajah itu. Ia merasa sangat merindukan wajah yang sudah beberapa bulan pasca perang tidak ia lihat secara langsung. Rasa rindu itu entah mengapa bisa terlalu menggebu-gebu di hatinya.

Pasca perang usai, Harry menjadi lebih terkenal dari biasanya. Kemana pun ia pergi selalu saja ada wartawan maupun fans yang berdatangan kepadanya. Ia tak pernah bisa sendiri, bahkan untuk ke kamar mandi pun ia harus meminta bantuan kepada Myrtle untuk mengawasi jika ada salah satu fans fanatiknya kembali mengutilinya. Semua orang mengikutinya bahkan para Slytherin pun ada yang mengikutinya – tapi tidak untuk Draco Malfoy.

Draco terlihat selalu menghindar darinya. Bahkan Draco sudah tidak merapalkan ejekan maupun mantra kutukan padanya. Benar adanya jika Harry Potter dan Keluarga Malfoy sudah menyatakan damai, tetapi tetap saja Harry merasa rindu akan kehadiran Draco yang selalu mengejeknya. Ini memang gila, tapi inilah yang ia rasakan.

Harry yang baru berumur 18 tahun itu pun kembali ke ruang tengah dengan teh yang baru ia buat. Harry pun duduk di sofa yang bersebelahan dengan sang pewaris Malfoy itu. Ia bisa melihat jelas Draco yang sedang menyesap tehnya dengan santai dari sofa yang ia duduki. Rambut Draco yang pirang membiaskan cahaya yang dibuat oleh lampu di ruangan itu dan itu sangat lah menawan – Harry pun masih tidak bisa melupakan tampang itu sampai sekarang.

Harry muda itu tiba-tiba merasakan pipinya merona. Dalam hati ia merutuki wajah Draco yang saat itu mungkin terlalu panas hingga pipinya merasakan hawa panas yang menguar dari wajah itu. Sampai sekarang ia masih bisa merasakannya – ia merasakan hal yang sama seperti tiga tahun yang lalu ketika ia berdekatan dengan Draco.

"Oh, Potter. Aku akan tinggal disini." Ucap sang Malfoy muda santai tanpa melihat wajah Harry.

Harry yang mendengar hal itu hanya bisa berkata, "What?" dengan wajah bodohnya.

"dan aku juga telah menyuruh Kreacher untuk membereskan barang-barangku. Jadi kau tak perlu khawatir." Ucap Draco lagi sama santainya dengan sebelumnya.

Harry yang hari itu mendapat kejutan berlebihan langsung menyimpan cangkir tehnya dan menghadap ke depan pewaris tunggal Malfoy. Dengan sedikit rasa kesal, marah dan juga penasaran yang bercampur menjadi satu Harry langsung bertanya,

"Apa yang kau katakan tadi?"

"Apa kau sudah tuli, Potter?" Draco malah menjawab pertanyaan Harry dengan pertanyaan lagi dan itu cukup membuat kilatan amarah tampak dari kacamatanya saat itu.

"Kau tadi bilang ingin tinggal disini?" tanya Harry kali ini dengan amarah yang tertahan.

"Ya. Perlu aku ulang? Oh iya, kau kan Potter." Jawaban dari Draco itu semakin membuat emosi Harry tak tertahankan.

Dengan segenap tenaga, Harry menyambar cangkir yang ada di tangan Draco dan langsung menyeret pria pirang itu ke arah pintu rumah. Kreacher yang baru sampai dengan beberapa koper Draco pun langsung mencegah apa yang dilakukan majikan mudanya terhadap pewaris Malfoy yang juga keturunan Black itu. Ia memantrai majikannya itu hingga sang majikan terpental bersama dengan korban yang ia seret.

"Maafkan Kreacher Mr. Harry Potter. Tapi Mr. Harry Potter tidak boleh menyeret Mr. Draco Malfoy seperti itu. Mr. Draco Malfoy tidak melakukan kesalahan." Ujar Kreacher sambil menolong Harry dan Draco untuk berdiri.

"Itu benar, Potter. Lagi pula, aku juga keturunan Black. Jadi kau tidak punya hak untuk melarangku tinggal di sini." Ucap Draco sambil menahan sakit akibat benturan yang ia terima tadi.

"Tidak! Aku tidak ingin tinggal bersamamu, Malfoy." Ucap Harry histeris karena tidak terima. Dia tidak terima Draco tinggal bersamanya. Bukan karena ia membenci Draco – bahkan ia sudah memaafkan pria itu. Ia hanya tidak terima seseorang yang telah membuat hatinya sedikit kacau tinggal bersamanya. Setidaknya ia membutuhkan waktu sampai hatinya kembali normal.

"Sudah aku katakan tadi, Potter. Kau tidak berhak melarangku. Aku keturunan Black dan ini adalah rumah keluarga Black. Jadi aku pun berhak tinggal disini." Ucap Draco kali iu dengan nada sinisnya. Draco membalas tatapan nyalang Harry yang dilemparkan padanya.

"Apa tidak ada tempat lain selain rumah ini, Malfoy? Kau seorang ningrat. Kau bahkan bisa membeli rumah yang lebih besar dari ini." Ujar Harry sambil bertanya. Ia tahu jika Malfoy yang satu itu tidak akan menyerah untuk tetap tinggal di Grimmauld Place.

"Aku hanya ingin mandiri. Aku tidak ingin menghamburkan uang hanya untuk membeli rumah." Jawab Draco singkat.

"Mandiri? Kau bilang kau ingin mandiri? kau tinggal di rumah ini dan kau bilang ini mandiri? Ini sama saja kau tinggal di rumahmu dan ini tidak bisa dibilang mandiri." Ujar Harry sambil memperlihatkan muka lelahnya. Ia lelah menghadapi seorang Malfoy, apalagi Malfoy yang satu ini.

"Mulai tinggal jauh dari orang tua bisa dibilang mandiri, bukan?lagi pula, aku tidak pernah tinggal disini." Ujar Draco yang kembali duduk di sofa yang tadi ia tempati.

Draco kembali menyesap tehnya yang mulai dingin dengan santai. Harry yang melihat itu hanya bisa mengacak rambut berantakannya dan berkata, "Terserah!" sambil berlalu ke kamarnya.

"Oh ya, Potter. Apa kita bisa tinggal sekamar?" tanya Draco sambil berteriak cukup kencang karena posisi Harry terlalu jauh darinya.

"Dalam mimpimu, Malfoy!" jawab Harry yang langsung menutup pintunya dengan keras.

Jika mengingat saat-saat itu, Harry tak bisa memungkiri bahwa ia senang Draco mau tinggal bersamanya. Rasa rindu yang ia landa seakan hilang ditelan waktu. Ia senang melihat wajah Draco dan mendengar suaranya setiap hari. Bahkan ia pun senang dengan sentuhan-sentuhan kecil yang tak sengaja dan juga ejekan-ejekan kecil yang ia terima dari Draco.

Ia terlampau senang saat Draco di sisinya sampai ia pun bingung terhadap rasa senang yang ia rasakan. Namun, ada satu hal yang pasti. Ia tak akan meninggalkan dunia sihir karena di situlah kebahagiaannya ada – Draco Malfoy.

"It's nice to meet you, Draco"

-To Be Continue-

Ho ho ho. Would you mind to review? ^_^