CHAPTER 2

AQUA'S ANSWER

Terra benar-benar melakukan sesuatu yg sangat tidak terduga, yaitu memeluk Aqua! Terra pun memeluk Aqua dengan sangat erat, membuat Aqua sangat kaget dengan reaksi sahabatnya kali ini. Namun, ada yg membuat Aqua lebih terkaget lagi, sebuah hal yg sangat tidak disangka-sangka olehnya, yg tak pernah ia bayangkan sebelumnya, dan itu adalah... pengakuan cinta. Pengakuan cinta dari Terra seolah membuat Aqua membatu, membuatnya tak bisa bergerak, tak bisa berpikir, dan juga tak bisa berkata apa-apa. Aqua kini hanya bisa diam sambil merasakan hangatnya dekapan pria tampan itu, serta mencium aroma tubuhnya yg khas, aroma maskulin dari Terra.

"Aqua... aku, sebenarnya aku sudah memendam perasaan ini sejak dulu, sejak... aku tak tahu persisnya, tetapi aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku merasa kalau aku sangat membutuhkanmu", kata Terra yg masih belum melepaskan dekapannya. Aqua masih terdiam, bisa dibilang dia seperti setengah sadar, "Aqua..., aku cinta padamu..."

Terra pun melepaskan dekapannya, dengan kedua tangannya yg masih menggenggam kedua bahu Aqua. Dia pun bersiap untuk melakukan hal yg lebih gila lagi, kali ini kedua matanya terus menatap kedua bola mata Aqua yg 'setengah sadar', dan perlahan-lahan ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah gadis cantik itu, Terra berniat untuk menciumnya, tepat di bibir. Terra pun terus mendekatkan wajahnya ke Aqua dengan mata yg juga menutup perlahan, kemudian jarak di antara bibir mereka pun semakin mendekat, hingga seolah hanya menyisakan 1 sentimeter saja ruang kosong di antara bibir mereka.

"...!", tiba-tiba saja Aqua seperti sepenuhnya sadar, dengan cepat dia mendorong tubuh Terra hingga Terra mundur beberapa langkah. Belum sempat Terra berkata apa-apa, Aqua langsung berlari keluar dengan muka yg memerah dan tangan kanan yg menutup mulutnya. Dan karena kejadian ini, Terra hanya bisa memurungkan wajahnya, tanda kecewa dan menyesal atas tindakan yg dilakukannya.

"... sial, aku memang bodoh, kenapa aku langsung melakukannya?", gumamnya.

Terra tak punya pilihan lain lagi selain menutup pintu kamarnya dan segera tidur di ranjangnya. Saat dia merebahkan tubuhnya, ia pun merogoh sesuatu dari kantong celananya, sebuah jimat berbentuk bintang yg berwarna orange. Terra ingat saat Aqua membuatkan ini untuk mereka bertiga, sebagai tanda persahabatan, dan juga sebagai tanda bahwa mereka akan selalu terhubung meskipun mereka sedang tidak bersama alias terpisah. Meski desainnya sederhana, namun jimat ini sangat berharga bagi Terra, mengapa? Karena di dalam jimat ini terdapat kekuatan magic dari Aqua, kekuatan magic itulah yg membuat mereka selalu terhubung, meskipun mereka sedang berada di tempat terpisah. Terra terus memandang jimat itu, sambil memikirkan Aqua juga, entah apa yg harus dibicarakan olehnya besok, rasanya Terra jadi tak berani untuk menemuinya gara-gara kejadian tadi. Tetapi Terra juga terus merasa, kalau dia harus minta maaf kepadanya, minta maaf karena sudah berbuat lancang dan... agak berani.

"... aku harus minta maaf padanya besok", gumam Terra. Setelah itu Terra pun memejamkan matanya, dan tak lama setelahnya ia berhasil tertidur lelap, sambil menyimpan harapan, semoga besok merupakan hari yg baik untuknya.

Meanwhile, at Aqua's room...

Aqua sedang berbaring di ranjangnya yg berlapiskan sprei berwarna biru tua, dan di sekeliling dinding kamarnya yg berwarna biru laut terdapat banyak hiasan-hiasan berupa foto dirinya yg terpajang dengan rapi. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 2.40 pagi, tetapi Aqua tidak bisa tidur. Wajah Aqua terlihat memerah, bahkan menjadi sangat merah, Aqua sama sekali tidak menyangka kalau kejadian ini akan terjadi. Di kepalanya selalu terbayang wajah Terra, terutama saat Terra bersiap untuk mencium bibirnya yg sekarang sedang ia raba itu, rasanya ia ingin berteriak sekencang kencangnya sekarang, tapi lebih baik dia batalkan niat itu, bisa-bisa ia membangunkan Ventus dan Master Eraqus yg sedang tertidur.

"... Terra", bisik Aqua sambil mendekam di balik selimutnya, yg juga berwarna biru. Sebenarnya, seperti yg sudah dituliskan sebelumnya, Aqua juga memendam perasaan yg sama dengan Terra. Aqua sangat mencintai Terra, sangat mencintainya dari lubuk hatinya yg terdalam.

"Terra, kenapa kau lakukan hal tadi?", gumam Aqua sambil memeluk gulingnya. Wajah Aqua masih memerah, dan panas juga, sepertinya ia benar-benar terpana oleh tindakan Terra tadi, lagipula perempuan mana sih yg tidak shock saat pria yg sangat disukai nya tiba-tiba mencoba menciumnya? Tepat di bibir pula, padahal ciuman di pipi saja sudah membuatnya cukup kaget.

Tetapi Aqua kepikiran juga mengenai dirinya yg tiba-tiba saja kabur meninggalkan ruangan Terra. Memang sih itu refleks, tetapi Aqua juga tak ingin Terra berprasangka buruk mengenai dirinya, Aqua pun berpikir, mungkin dia harus minta maaf pada lelaki tampan itu, supaya mereka juga tidak saling canggung satu sama lain, apalagi kalau Ven sampai curiga ada sesuatu yg terjadi di antara mereka, rasanya hal itu akan memperparah saja.

"Kurasa aku harus bicara padanya besok...", gumam Aqua. Dan setelah berkata begitu, Aqua akhirnya bisa memejamkan matanya, ia tinggal menunggu momen yg tepat untuk berbicara dengan Terra nanti.

...

...

...

Setelah melewati malam yg mendebarkan, akhirnya matahari pun muncul menyinari Land of Departure. Terra yg tadinya masih tertidur lelap di ranjangnya, langsung membuka matanya ketika ia merasakan sinar matahari yg menyinari tubuhnya. Melihat di luar sudah terang, Terra langsung bangkit dari tidurnya dan meregangkan tubuhnya, meski ia masih merasakan pegal-pegal di punggungnya yg lebar dan tegap itu.

"Huff... sepertinya aku memang berlatih terlalu keras", kata Terra sambil memijat pundak kanannya.

Terra kemudian berjalan keluar kamarnya untuk menemui master Eraqus, sekaligus untuk berkumpul bersama dengan Ventus dan... oh ya, Aqua. Entah kenapa, Terra merasa kalau kegiatan rutin setiap pagi kali ini menjadi terasa beda karena kejadian semalam, rasanya hatinya jadi deg-degan.

"Hei Terra!", sapa seseorang dari belakang, ternyata itu Ventus.

"Hai Ven...", jawab Terra dengan senyuman kecil.

"*sigh* tak kusangka kalau pagi sudah tiba lagi, rasanya malas juga untuk latihan", kata Ventus sambil menyilangkan kedua tangannya ke belakang kepalanya.

"...ya", jawab Terra, singkat.

"Dan lagi, nanti kita harus bertarung lagi Terra! Akan kubalas kekalahanku kemarin!", kata Ventus.

"...ya", jawab Terra, yg lagi-lagi singkat. Ventus yg tadinya berapi-api langsung heran dengan sikap temannya itu.

"Hei, kau kenapa Terra? Sepertinya kau agak aneh", tanya Ventus, sambil menengok ke arah Terra.

"Oh? Tidak... tak ada apa-apa", kata Terra.

"... kau bohong", kata Ventus.

"Tidak, aku tidak bohong Ven, aku sungguhan baik-baik saja", kata Terra.

"Tapi... biasanya kau selalu meresponnya dengan memukul kepalaku", kata Ventus, sambil memasang tatapan curiga.

"...hei, sudahlah! Kita harus pergi ke tempat master sekarang!", kata Terra sambil mempercepat langkahnya.

"Whoa, tunggu aku Terra!", kata Ventus sambil berlari, Ventus pun merasa sepertinya ada yg aneh dengan Terra.

Saat Terra mempercepat langkahnya, tiba-tiba saja Terra menabrak seseorang yg muncul dari arah samping sehingga membuatnya terjatuh, ternyata itu adalah Aqua, yg juga sedang menuju ke Audience Hall untuk menemui Master Eraqus, wajah Aqua terlihat seperti kesakitan, maklumlah, jika ditabrak oleh pria bertubuh kekar seperti Terra.

"A... Aqua! Maafkan aku! Kau tak apa-apa kan?", tanya Terra sambil menggenggam tangan Aqua, membantu Aqua bangun.

"A... aku tak apa-apa Terra... aduh", jawab Aqua sambil mencoba bangkit berdiri.

"Maafkan aku Aqua, aku...", saat Terra mau melanjutkan kalimatnya, mata mereka berdua tiba-tiba saja saling bertatapan, membuat mereka berdua seolah kehilangan kata-kata. Dari dulu sebenarnya Terra sangat menyukai warna bola mata Aqua, warna biru emerald yg sangat indah, yg merupakan salah satu daya tarik dari Aqua.

"Hei Terra, sampai kapan kau mau memegang tangan Aqua?", pertanyaan Ventus pun menyadarkan mereka berdua, Terra dan Aqua pun langsung malu-malu sambil melepaskan genggaman tangan mereka.

"Aha... jadi ini sebabnya", Ventus pun memasang senyum licik di wajahnya.

"Bu... bukan begitu!", teriak Terra dan Aqua berbarengan, membuat mereka jadi saling menatap satu sama lain(lagi).

"Tuh, benar kan? Khu khu khu, tak kusangka kalau kalian pacaran", kata Ventus sambil tertawa kecil. Aqua dan Terra tidak menjawab, sepertinya mereka sangat malu, "ya ya ya, aku takkan mengejek kalian lagi, aku akan ke tempat master sekarang."

Ventus pun berjalan meninggalkan Terra dan Aqua dengan senyum yg terpampang lebar di wajahnya, hingga sosoknya tak terlihat lagi saat ia berbelok ke lorong sebelah kiri. Kini hanya ada Terra dan Aqua di lorong besar ini, mereka berdua masih terdiam, mungkin lebih tepatnya tak tahu harus berbicara apa. Tetapi, rasanya tak mungkin untuk terus diam seperti ini, karena itulah Terra memutuskan untuk memulai pembicaraan.

"He... hei, Aqua", kata Terra dengan tergagap-gagap, sepertinya dia gugup.

"Y... ya?", balas Aqua.

"Aku... aku mau minta maaf karena kejadian semalam, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu terkejut, aku... aku hanya gelap mata", kata Terra sambil menghadap ke Aqua, "Aqua, aku melakukan itu karena... karena aku sangat menyukaimu."

"...", Aqua hanya terdiam.

"Semalam ketika melihatmu lari, aku langsung berpikir bahwa... aku sangat bodoh, kenapa aku harus melakukan itu padamu? Padahal, aku tahu aku bukan siapa-siapa bagimu", Terra terus melanjutkan kalimatnya, dengan wajah yg sedikit murung.

"...!", Aqua sedikit bereaksi mendengar ini, dia ingin sekali mengatakan bahwa apa yg dikira oleh Terra itu salah, tetapi entah kenapa suaranya tak bisa keluar.

"Kurasa... aku memang tak bisa memilikimu, karena aku hanyalah sahabatmu... ya, hanya sahabatmu", kali ini Terra memasang senyum, namun bukanlah senyum bahagia, melainkan senyum lambang kesedihan.

Aqua kali ini tak bisa diam saja mendengar perkataan dari Terra, dan langsung saja Aqua memeluk tubuh pria tinggi tegap itu dengan erat, kini giliran Aqua lah yg membuat Terra kaget.

"A... Aqua?"

"Terra, itu semua salah! Aku... sebenarnya aku juga sangat menyukaimu!", kata Aqua sambil memeluk Terra dengan erat, membuat Terra menjadi lebih kaget lagi karena pengakuan cinta dari perempuan cantik itu, "Terra, sebenarnya kemarin aku tidak marah padamu, aku hanya kaget, dan refleks berlari keluar dari ruanganmu, tetapi jujur, aku tidak marah padamu."

"Jadi, kamu..."

"Aku... jujur sebenarnya aku sangat senang, sangat senang karena ternyata kau juga menyukaiku. Kau tahu? Sudah lama sekali aku ingin mendengar kau berkata begitu", kata Aqua.

"... Aqua", Terra pun membalas pelukan Aqua, "aku sebenarnya sudah mengatakan ini sebelumnya, tapi..."

"Tak apa, katakanlah Terra, aku ingin mendengarnya lagi", kata Aqua.

"Aku... aku mencintaimu, Aqua", kata Terra.

"Aku juga, aku juga mencintaimu, Terra...", balas Aqua.

Akhirnya, saia update juga, RnR please, maaf kalo krg bagus