BAB 1
Acara pernikahan benar-benar bukan keahlianku. Well, memanggang kue untuk mereka, itulah yang aku lakukan. Aku pemilik toko kue yang lumayan sukses di pusat kota Seattle dan cupcakes adalah apa yang paling aku nikmati.
Tapi ketika Do Kyungsoo, sekarang Park, memintaku untuk membuat kue untuk acara pernikahannya, aku tidak bisa menolaknya. Dia bergegas ke tokoku tepat sekitar dua minggu lalu dengan mata cerah yang memancarkan kebahagiaan dan bertanya apakah aku bisa membuat kue untuknya karena dia sangat menyukai cupcakesku.
Ya, itu adalah tembakan yang bagus untuk egoku.
Dan ketika dia meyakinkanku bahwa dia hanya membutuhkan kue dua tingkat yang sederhana untuk pernikahan kecilnya, aku menerimanya. Sangat menyenangkan saat dia datang bersama putri kembarnya yang berusia enam tahun dan sangat menggemaskan. Mereka membeli selusin cupcakes cokelat untuk mereka bawa pulang.
Tapi sekarang aku berada di tengah acara itu, mengatur kue, memastikan kue pengantin itu ditampilkan dengan sempurna, sementara sumpah terakhir diucapkan dan keluarga besar di belakangku bersorak kegirangan dan penuh sukacita. Aku kembali teringat mengapa aku tidak pernah berkelana ke bisnis kue pengantin: Ini terlalu membuat stres.
Kyungsoo telah menjadi mimpi yang terwujud. Dia tidak menjadi bridezilla, yang mana membuatku bersyukur, dan aku bahkan bersedia untuk mengatakan bahwa dia dan aku telah menjadi teman dalam beberapa minggu terakhir sementara kami merancang kue yang indah bersama-sama.
Namun penyiksaan yang sebenarnya adalah pada hari pernikahan.
Aku harus menempatkan setiap mawar kecil dengan tepat dan semua hiasan dengan sempurna. Karena jika aku adalah pengantin, aku ingin semuanya terlihat sebagaimana mestinya.
Aku mengeluarkan perlengkapan terakhir dari mobil dengan tergesa dan buru-buru kembali ke meja kue di belakang rumah di mana Kyungsoo dan suaminya menikah hari ini. Rumah itu tidak terlalu besar. Terletak di lingkungan biasa dan mungkin terdapat tiga atau empat kamar tidur. Tapi halaman belakangnya adalah sesuatu luar biasa.
Kyungsoo sudah mengatakan bahwa ayah mertua barunya adalah tukang kebun yang rajin, dan dia tidak bercanda. Pekarangannya dipenuhi dengan bunga-bunga musim panas yang bermekaran dan harum. Ada beberapa kolam dan jalan setapak yang tersebar di seluruh properti yang luas, membuat tamannya semakin indah.
Anak-anak balita sampai dengan yang berusia seperti si kembar berlari di sekitarnya, menikmati hari yang hangat. Musik lembut sudah terdengar yang dari sebuah tempat yang tidak aku ketahui asalnya.
"Kapan kita akan mendapatkan kue?" Seorang pria bertanya dari belakangku.
Aku berbalik dan harus menjulurkan leherku ke belakang untuk melihat wajah pria itu. Dia memiliki mata biru terang dan rambut pirang gelap. dia tersenyum ke arahku.
Dia salah satu orang dengan tubuh besar yang pernah aku lihat, dan untuk beberapa alasan, terlihat sangat familiar.
"Itu adalah kode dari kedua pengantin. Aku hanya akan memberikan sentuhan akhir di atas kue ini."
Aku menyeringai ke arahnya dan sibuk menempatkan sekuntum mawar merah muda di bagian atas kue putih yang cantik ini.
"Apa kau akan tahu jika aku mencuri sepotong?" Dia bertanya sambil tertawa kecil.
"Aku akan tahu," seorang wanita cantik berambut merah menjawab datar sambil memutar matanya. "Jangan pedulikan dia. Dia selalu lapar."
"Kau menangkapku," bisiknya dan mencium kening si rambut merah. "Aku Sehun. Saudara dari pengantin pria."
Dia mengulurkan tangannya yang besar padaku. "Dan ini adalah tunanganku yang cantik, Luhan."
"Senang bertemu dengan kalian berdua." Dan kemudian sesuatu menghantamku. "Oh sial. Kau Sehun Park, si bintang football?"
"Ya," ia menegaskan hampir malu-malu. "Tapi hari ini aku hanya seorang saudara."
"Keren." Aku menyeringai, bangga pada diriku sendiri yang mampu menjaga ketenanganku. Aku tidak tahu bahwa Kyungsoo menjadi bagian dari keluarga Park.
Sehun dan Luhan berlalu pergi dan aku menyelesaikan kuenya. Aku melihat sekeliling untuk mencari Kyungsoo untuk mengucapkan selamat kemudian meninggalkan pesta. Aku lega karena pekerjaanku akhirnya selesai.
Aku melihat ke halaman dan melihat Kyungsoo berdiri dengan sekelompok tamunya dan melambai padaku. Aku menyeringai sambil menyeka tanganku pada jaketku dan bergabung dengan Kyungsoo, berjinjit untuk memeluknya erat.
"Selamat, teman!" Bisikku. "Di mana priamu?"
"Di sini," Jongin menjawab dengan senyum lebar saat aku menarik diri dari istrinya. "Kue yang indah, terima kasih."
"Dengan senang hati," jawabku gembira, lega karena mereka senang dengan hasil akhir dari perencanaan yang memakan banyak waktu ini.
"Kau membuat kue terbaik di seluruh dunia," seorang wanita berambut pirang di sebelah Kyungsoo memberitahuku. Tapi saat aku menoleh ke arahnya, aku bersumpah, aku sedang berhalusinasi.
Seseorang yang mengikatku dan menderita karenanya.
Itulah satu-satunya penjelasan yang bisa aku kemukakan mengapa aku berdiri di sini, melihat pada satu orang yang tidak bisa aku keluarkan dari memoriku, tidak peduli seberapa keras aku mencoba.
Aku berkedip sekali, tapi dia masih di sini, dengan celana berwarna khaki dan atasan berwarna putih. Rambut cokelatnya disisir rapi bukannya berantakan seperti terakhir kali aku melihatnya.
Tapi mata itu... mata biru cerah itu, menyempit dan menatap ke wajahku, mengawasi setiap gerakanku, persis seperti yang aku ingat.
"Sialan," bisikku dan mencoba untuk mengambil langkah mundur. "Apakah kalian mengenal satu sama lain?" Jongin bertanya. Tetaplah profesional!
Aku menggeleng dan memberikan Kyungsoo senyum terbaik yang bisa aku tampilkan. "Aku sangat senang karena kau menyukai kuenya. Kuenya sudah siap untukmu. Selamat sekali lagi."
Dengan cepat aku berbalik untuk pergi tapi sebelum aku dapat mengambil satu langkah saja, aku mendengar, "Stop."
Sebenarnya itu membuatku kesal. Tubuhku berhenti dan aku berdiri diam, tanganku terlipat di depan dada dan mengawasinya dengan hati-hati. Hanya dengan mendengar satu kata dari bibir seksi itu, putingku langsung mengerut.
Aku bersyukur karena tidak ada yang mengetahuinya berkat jaket baker* ini.
Aku tidak ingin membuat keributan di sini, di depan semua orang ini, tapi apa yang benar-benar ingin aku lakukan adalah memberitahu dia untuk mencium pantatku dan menghentak pergi.
Dia memaku aku dengan tatapannya, mencengkeram lenganku dan membawaku menjauh dari yang lain.
"Aku senang bertemu denganmu, Baekhyun. Kau terlihat cantik. Model rambut baru ini cocok untukmu."
Hidungnya ditekan ke telingaku, aroma maskulinnya mengelilingiku, membuatku jungkir balik, dan terus terang, aku tidak bisa berurusan dengan itu.
Aku tidak bisa berurusan dengan dia.
Aku terengah dan pipiku memerah saat aku menarik lenganku dari genggamannya, melemparkan dia kilatan marah dan menghentak pergi.
Aku tidak yakin, tapi aku pikir aku mendengar dia bergumam, "Pukul pantatnya," di belakangku, membuatku bergerak lebih cepat, berdoa bahwa dia tidak mengikutiku.
Dan hanya seperti itu, memori yang berusaha aku lupakan kembali mendatangiku
"Apakah kau akan datang atau tidak, little one?"
Minseok mendorongku dengan bahunya, membuatku aku tersandung ke arahnya dan tidak bisa berpaling dari mata biru yang menakjubkan.
"Jadi, kau ingin mencobanya?" Ia bertanya, menangkap tatapanku. Aku menelan ludah dengan keras dan mengangguk pelan.
Kemana suaraku pergi?
"Aku membutuhkan jawaban verbal, please," jawabnya dengan senyum penuh arti.
"Ya, silakan."
"Jangan khawatir," bisiknya sambil menurunkan wajahnya tepat di depan wajahku. "Ini akan sedikit sakit."
Aku memberinya senyum kecil. Dia mengejutkanku dengan menjalankan jari-jarinya dengan lembut di pipiku kemudian menyapu ibu jarinya di bibir bawahku, membuat tubuhku berada diluar kendali.
Putingku sudah mengerut dan aku bersumpah aku perlu mengganti celana dalamku.
Dia bahkan belum melakukan apapun!
Dia menyeret tas wol hitam di lantai ke kakinya dan mencari-cari di dalamnya lalu menarik keluar tali putih yang panjang.
"Putih akan terlihat cantik di pakaianmu," gumamnya, tenggelam dalam pikirannya. Dia mengusap jari-jarinya di mulutnya saat ia berpikir, memperhatikan bolak-balik antara aku dan tas peraganya.
Aku tertawa pada pikiran itu lalu menutup mulutku dengan tangan saat ia menoleh dan mengangkat alis ke arahku.
"Ada yang lucu?"
Aku menggeleng tapi ia mencengkeram daguku di antara ibu jari dan telunjuknya, membuatku bertemu dengan tatapan panasnya.
"Katakan lagi."
"Aku pikir itu lucu saat kau mengobrak-abrik tas peragamu." Suaraku pelan. Mengapa aku merasa perlu untuk menyenangkan orang ini?
Bibirnya berkedut lalu melepaskanku dan terkejut pada perasaan kehilangan saat tangannya meninggalkan kulitku.
Astaga, dapatkan pegangan. Aku jelas perlu bercinta. Itu sudah ... terlalu lama dari yang dapat aku akui.
"Satukan tanganmu di punggung dan pegang lenganmu dengan tanganmu."
"Aku tidak ingin tanganku terikat," jawabku cepat.
Dia menatapku sejenak dan kemudian melangkah padaku, maju ke depan sehingga mulutnya dekat dengan telingaku. Astaga, dia beraroma luar biasa, seperti sabun yang segar dan panas, dia pria tulen.
"Aku dapat memotongnya dengan cepat, Little one. Ini tidak akan menyakitimu. Percayalah kepadaku."
Dia melangkah mundur, memperhatikanku. Aku mengangguk dengan ragu-ragu, menempatkan lenganku di punggung seperti yang dia minta. Aku tidak tahu mengapa aku percaya padanya, tapi aku tetap melakukannya. Dia tidak akan menyakitiku.
Aku dihadiahi dengan senyum cerahnya dan jika celana dalamku belum basah, maka sebentar lagi pasti akan basah. Sialan, pria ini menakjubkan. Saat ia berpaling dariku untuk mengumpulkan tali, aku membiarkan mataku mengembara ke tubuhnya. Dia sangat tinggi, lebih dari enam kaki. Bahunya luas dan ditutupi oleh kemeja hitam yang berkancing, mansetnya digulung di lengan bawahnya. Kemeja diselip ke celana panjang hitamnya dan dia memakai sepatu hitam dan juga ikat pinggang.
Warna hitam seharusnya memberinya penampilan yang menakutkan tapi itu malah membuatnya semakin panas. Cocok untuknya.
Tiba-tiba aku ingin menjilatinya.
Tenang, girl, kau di sini hanya untuk mencoba hal-hal yang berhubungan dengan bondage*.
Di samping kami, seorang pria lain sudah kembali mengikat tali di sekeliling gadis-gadis lainnya yang berada di barisan belakangku. Aku mencari-cari Minseok tapi dia tidak terlihat.
"Dia tidak jauh," bisik orang asing itu seakan bisa membaca pikiranku.
"Siapa namamu?" Tanyaku pelan saat ia menoleh padaku dan mengulurkan tangannya ke belakangku untuk mengikat pergelangan tanganku. Hidungku otomatis menempel ke dadanya dan mau tidak mau aku mencium aromanya.
Dia beraroma sangat baik.
"Chanyeol." Dia menarik tali di sekeliling lengan dan badanku dan tersenyum ke arahku.
"Kau?"
"Baekhyun," Aku menjawab. Aku memperhatikan saat ia mulai melilit dan mengikat simpul di atas dada dan perutku, membuat desain simetris di atas dadaku, mengelilingi payudaraku. Talinya terlihat menakjubkan di atas baju berbahan merah dan hitam. Tangannya yang panjang dan ramping dan jari-jarinya bekerja dengan cekatan, cepat dan tidak kesulitan dalam membuat simpul dan lilitan dengan tali.
"Kau ahli dalam hal ini," gumamku.
Dia menyeringai dan terus memperhatikan tangannya yang bergerak di atas tubuhku, punggung jari-jarinya menyapu sisi payudaraku dan di atas perutku.
Napasku menjadi lebih cepat dan jantungku berdetak cepat saat ia terus melakukan pekerjaannya. Tubuhku terikat dan ketika akumencoba untuk menarik tanganku, keduanya terikat dengan kuat di punggungku.
"Sakit?" Tanyanya lembut. "Tidak," jawabku jujur.
Dia mengangguk lalu menjangkau di antara kedua kakiku dan memasang tali, mengikatnya di sekitar punggungku dan kembali melewati kakiku lagi. Aku harus menggigit bibir untuk tidak mengerang keras.
Astaga, bagaimana mungkin aku bergairah hanya karena dia membungkusku dengan tali?
Akhirnya, ia mengikat simpul, memadukan dengan yang lainnya sehingga kau tidak bisa mengetahui dengan pasti di mana tali dimulai atau berakhir. Dia kembali berdiri, menyilangkan tangan di dada dan dengan perlahan menjalankan ujung jari telunjuknya di bibir bawahnya saat matanya menyapu ke atas dan ke bawah tubuhku. Mata biru terangnya yang panas dengan gairah dan kebutuhan menatapku. Napasnya menjadi lebih cepat sepertiku, dan aku bersumpah kepada para dewa perbudakan, aku merasakan ketegangan di perutku.
Jika dia tidak menyentuhku – benar-benar menyentuhku - segera, aku akan segera terbakar.
Kemudian, perlahan-lahan dia mendekatiku, menangkup wajahku dengan tangannya dan mencium keningku lalu berbisik, "Apakah kau bersama seseorang?"
Pertanyaan itu harusnya membuatku kesal tapi aku begitu terjebak dalam mantranya sehingga aku hanya bisa menggelengkan kepala.
"Baekhyun," bisiknya dan mencium sudut bibirku kemudian menyapu bibirnya turun ke rahangku menuju telingaku. "Aku tidak biasanya langsung keras seperti ini, tapi aku ingin bercinta denganmu sekarang juga."
Nafasku tercekat dan mataku melebar saat aku melangkah ke belakang untuk melihat tepat di matanya.
Katakan padanya tidak! Berlarilah! Astaga, orang sesat seperti apa yang mengatakan sesuatu seperti itu?
Tapi, sebaliknya, aku menemukan diriku menjilati bibir dan mencondongkan tubuh ke arahnya. "Aku tinggal tiga blok dari sini."
Dia menurunkan tatapannya ke mataku dan mengangguk pada rekannya, mencengkeram lengan atasku dengan tangannya yang kuat dan membawaku di sampingnya, bukan di belakangnya, menuju ke pintu.
"Tunggu! Temanku…"
"Apakah dia yang berada sana," katanya dengan tenang, sambil menunjuk ke arah kerumunan. Minseok mengawasi kami dengan senyum mengerti dan memberiku acungan jempol dan mengedipkan mata. "Lihat? Dia baik-baik saja."
"Tunggu." Aku menekan tumitku dan menghentikan langkah kami. "Kau bisa saja seorang pembunuh dengan kapak. Seorang pecandu. Seorang pemerkosa."
Bibirnya berkedut dan dia mendesah sambil menenggelamkan jari- jarinya di sela rambut panjangku, menyapunya dari bahuku. "Gadis baik."
"Jadi, sampai bertemu nanti..."
"Hentikan," ia memerintahkan dengan pelan dan aku langsung menuruti, kakiku mengkhianatiku dan terus berjalan.
Dia berjalan denganku, membungkus satu lengan di punggungku dan mencengkeram pergelangan tanganku yang terikat, memegangku dekat dengan tubuhnya. Hanya dengan satu sentuhan, tubuhku langsung menuju pusat gairah, dan aku tidak bisa untuk tidak menekan tubuhku lebih dekat ke tubuhnya.
Dia terkekeh dan menyapu hidungku dengan hidungnya. "Aku tidak pernah merasa keserasian fisik ini dengan siapa pun dalam waktu yang sangat lama. Aku bersumpah, aku bukan seorang kriminal." Dan dengan itu, ia mengambil bibirku dan menciumku dalam, menjelajahi bibirku, menggigit dan mencicipiku dan aku meleleh padanya, menyerah pada setiap keinginan.
Aku tidak bisa menggerakkan lenganku meski aku sangat ingin melingkarkan kedua tanganku di sekeliling lehernya, menarik rambutnya ke dalam kepalanku dan menahannya di tubuhku. Sebaliknya, aku menekan dadaku ke tubuhnya dan mengerang saat lidahnya merampas mulutku. Dia membungkus lengannya yang lain di sekelilingku dan menekan panggulnya ke perutku, membuatku merasakan ereksinya.
Sial, dia seksi.
"Katakan pilihanmu," bisiknya.
"Ayo pergi."
Dia tidak perlu diberitahu dua kali dan langsung membawaku ke BMW-nya dan mendudukkanku ke kursi penumpang, menekuk tubuhku dengan tangan terjepit di balik punggung. Rasanya tidak nyaman dan aku harusnya tidak bersandar ke kursi, tapi aku begitu sialan bergairah sekarang jadi aku tidak peduli.
Dia tersenyum licik sebelum mencium pipiku. "Aku suka melihat kau terikat seperti ini."
Sebelum aku bisa menjawab, ia menutup pintu, melompat ke kursi pengemudi dan mengemudi dengan cepat.
"Tiga blok ke sebelah kiri," aku memberinya petunjuk. "Di atas toko roti itu?" Dia bertanya dan menunjuk.
"Ya. Mobil yang bagus."
"Ini hadiah," ia menjawab sambil lalu sambil memarkir.
Siapa di dunia ini yang memberikan seseorang mobil sebagai hadiah? Kami keluar dan dia membawaku menaiki tangga yang berada di sisi gedung.
"Kau harus menarik kunci dari dalam tasku," gumamku sambil menyamping sehingga dia dapat mengambil dompetku.
"Menggeledah tas seorang wanita selalu membuatku gugup," ia mengaku sambil tersenyum.
"Ibuku akan memotong tangan kami jika kami berani membuka tasnya."
"Yah, aku sedikit sibuk di sini," aku menanggapi dengan senyum.
"Aku dapat melihatnya," ia menjawab saat ia menemukan kunciku dan membuka pintu. Dia meletakkan tas dan kunciku di meja dan membawaku lebih jauh ke dalam apartemenku menuju kamarku.
"Ada beberapa pedoman," bisiknya lembut. "Jika kau mengatakan 'tidak' atau 'berhenti,' semuanya akan segera berakhir. Aku tidak sadis, jadi aku tidak ingin kau kesakitan. Tapi kau akan melakukan apa yang akan aku katakan, tanpa pertanyaan." Dia membungkuk dan memakuku dengan mata biru esnya. "Apakah kau sudah mengerti?"
"Aku tidak harus mengatakan apapun?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Jika kau sakit atau tidak nyaman, kau harus mengatakannya. Tapi aku bisa meyakinkanmu kau tidak akan melakukannya." Dia menyeringai, mendorong jarinya ke tali yang mengelilingi payudaraku dan menarikku ke arahnya.
"Apakah aku membutuhkan kata aman?" aku bertanya. "'Tidak' adalah kata amanmu, Little one."
"Oke," bisikku sebelum mulutnya menyerang bibirku. Bibirnya menggila. Ini akan menjadi cepat dan keras, dan astaga, aku sudah tidak sabar.
Kami masuk ke kamar tidurku. Dia menekan sakelar lampu samping tempat tidur, mengirimkan cahaya lembut ke sekeliling ruangan.
"Aku tidak bisa melepas bajuku dengan tali yang terikat di sekelilingku."
Berdiri di depanku, dia menyandarkan dahinya ke dahiku dan mengusap tangannya ke lengan atasku turun ke sisi tubuhku, ke pahaku dan menarik ujung rokku di tangannya.
"Aku tidak perlu kau telanjang untuk menyetubuhimu. Ini akan lebih baik, tapi aku senang melihatmu dalam simpul yang aku buat."
Aku menyeringai dan memiringkan kepala ke samping. "Kenapa?" Dia menggeleng dan menutup mulutku dengan bibirnya. Dia membuka kancing kemejanya dan melemparkannya ke samping lalu mundur beberapa langkah dariku untuk membuka sabuk dan celananya satu demi satu. Aku terkejut melihatnya tidak mengenakan pakaian apapun.
Bagaimana itu bisa mengejutkanku setelah semua yang telah aku lihat malam ini, aku tidak tahu.
Matanya melayang turun ke wajahku lalu ke leherku dan menuju payudaraku di mana putingku menekan kemejaku. Dia menangkup payudaraku dengan tangannya dan membungkuk untuk menarik tonjolan keras ke dalam mulutnya bersama kemejaku.
Kepalaku terdorong ke belakang saat aku merasakan tarikan yang langsung terasa di antara kedua kakiku di mana tali itu menekan lipatan dalamku. Yang perlu dia lakukan hanyalah menarik tali dan celana dalamku ke samping dan ia dapat langsung memasukiku.
"Aku ingin menyentuhmu," bisikku. Aku sangat ingin menyentuh ereksinya yang keras di tanganku, membuat dia gila seperti yang dia lakukan padaku.
Dia meletakkan tangannya di bahuku. "Berlutut," gumamnya, membimbingku ke depan tubuhnya.
Aku membuka lebar mulutku, mengambil ereksinya yang keras ke dalam mulutku, mengisap dan menjilatinya seperti hidupku tergantung padanya.
Dan bohong jika aku tidak merasa tubuhku semakin basah ketika ia menggeram jauh di dalam tenggorokannya.
Aku melihat ke atas dan mendapati dia menatapku, rahangnya terkatup rapat dan mata birunya menyipit.
"Fuck, kau bagus dalam hal ini," ia merintih dan mengumpulkan rambut panjangku di tangannya, menarik dan menyentaknya tapi tidak cukup kuat untuk menyakitiku dan mulai membimbing kejantanannya keluar masuk dari mulutku. Dia tidak pernah mendorong hingga membuatku akan muntah. Dia dalam kendali penuh, menikmati mulutku di kejantanannya.
"Tidak ada yang lebih seksi daripada ini. Kau, berlutut, dalam balutan taliku, dengan mulut seksimu melilit kejantananku."
Astaga, aku suka mulut kotornya.
Aku mengerang setuju dan menyapu lidahku di sepanjang ereksinya. Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum pada diriku sendiri ketika aku merasakan jari-jarinya yang menggenggam rambutku bergetar.
Tiba-tiba, ia menarikku berdiri dan membungkukkan aku di tempat tidur. Dia menaikkan rokku di atas pantatku, menarik tali dan thong- ku ke satu sisi. Alih-alih mendorong ke dalam diriku seperti yang aku harapkan, ia berlutut dan mengubur wajahnya jauh ke dalam lipatanku, mengisap dan menjilati dan membuatku mabuk kepayang.
"Sialan!" Aku menjerit dan mencoba untuk berdiri, tapi ia meletakkan satu tangannya yang besar di antara tulang belikatku dan menarikku turun saat ia menyerangku dengan mulutnya. Ini adalah hal paling luar biasa yang pernah aku rasakan.
Dia menekan dua jari ke dalam diriku dan memijat klitorisku dengan ibu jarinya saat ia berdiri di belakangku, membuka kondom dengan giginya dan berhasil menggulungnya ke sepanjang ereksinya dengan satu tangan.
Dengan cepat dia menarik jarinya keluar dari lipatanku dan menggantinya dengan kejantanannya, mendorong semuanya ke dalam, membuat kami berdua mengerang. Dia mencengkeram tanganku yang terikat dan mulai menunggangiku dengan keras dan cepat.
"Astaga, kau terasa sangat nikmat." Suaranya keras dan bergetar. "Sangat ketat. Sudah berapa lama?"
Aku mengangkat bahu. Astaga, dia ingin aku berpikir sekarang?
"Jawab aku," perintahnya dan menampar pantatku dengan tangannya, membuatku menjerit.
Rasa sakitnya mengejutkanku tapi dengan cepat digantikan oleh rasa erotis yang membuatku ingin menggeliat di bawahnya.
"Aku tidak tahu. Setahun?"
"Sial," bisiknya dan terus menekan ke dalam lipatanku, seolah-olah dia sedang melakukan perlombaan dan garis finis sudah di depan mata. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat dan dengan tangan lainnya menarik rambutku sampai dadaku tidak lagi bersandar pada tempat tidur. Aku benar-benar ada dalam kekuasaannya.
"Apakah ini menyakitimu?" Ia bertanya, mulutnya menekan telingaku.
"Tidak," aku terkesiap. Astaga, posisi ini membuatnya terasa lebih besar. Aku ingin memutar pinggulku untuk mendorong ke belakang hingga menempel pada tubuhnya, tapi aku tak berdaya dengan tanganku yang terikat dan tubuhku yang ditahan.
"Apakah aku menarik rambutmu terlalu keras?"
Ya.
Tapi aku menyukainya.
"Tidak," jawabku dan terkesiap ketika ia mendorong lebih keras, menekan pinggulnya melawan pantatku. Aku merasa sesuatu mulai terbangun di punggungku.
"Jangan datang sampai aku menyuruhmu," perintahnya dengan gigi terkatup.
"Tapi ..." aku memulai, tapi ia mencengkeram pergelangan tanganku erat.
"Kau mendengarku."
Aku menelan ludah dan mencoba untuk berkonsentrasi pada sesuatu yang lain. Berbelanja. Pesanan yang harus aku penuhi besok. Apa yang harus aku kirimkan pada nenekku untuk ulang tahunnya bulan depan.
Tapi itu tidak ada gunanya. Tubuhku terbakar dan tidak ada yang bisa mengalihkannya.
Akhirnya, dengan geraman, ia mendorong ke dalam diriku dan berteriak, "Ayo, Baekhyun!"
Dan aku melakukannya, menyerah pada orgasme paling intens dalam hidupku. Pinggulku tersentak pada tubuhnya saat ia datang dalam diriku. Tubuh kami bergerak dalam irama yang selaras satu sama lain.
Akhirnya, ia memberikan ciuman lembut di antara tulang belikatku sambil melepaskan rambut dan pergelangan tanganku dan mulai membuka ikatanku.
"Kau bisa memotong talinya," bisikku, berbaring di selimut katunku yang lembut.
"Aku lebih suka begini," jawabnya pelan.
Saat ia mengendurkan simpul, dia memijat kulitku dengan lembut, dan tubuhku bergelung karena sensasi yang luar biasa dari seks yang intens dan caranya yang manis saat dia menyentuhku sekarang.
Ketika lenganku bebas, dia membantuku berdiri sehingga ia bisa melepas simpul rumitnya yang lain.
"Aku menyukainya," gumamku memperhatikan tangannya.
"Benarkah?" ia menjawab dengan setengah senyum.
Aku mengangguk malu-malu, merasa pipiku memanas. "Tidak perlu malu padaku sekarang."
Aku tertawa saat ia melepas tali terakhir. "Terima kasih."
Matanya memrangkap mataku. Alisnya mengerut. "Untuk apa?"
Aku memiringkan kepalaku ke samping, mencari kata yang tepat. "Untuk ini ... pengalaman baru."
Chanyeol nyengir dan mengangkat tanganku ke bibirnya dan menanam ciuman manis di buku-buku jariku, kemudian menyentakku ke tubuhnya. Dia masih telanjang seperti tadi dan aku berpakaian lengkap tapi akhirnya aku bisa menyentuhnya. Kulitnya hangat dan halus di bawah sentuhanku saat aku mengusap punggungnya, tangannya, sampai ke rambutnya yang tebal.
"Tanganmu berbahaya," bisiknya di bibirku. "Kau terasa luar biasa."
Dia tersenyum dan menangkap tanganku, mencium hidungku dan bergerak menjauh.
"Aku akan membutuhkan nomor telponmu."
Saat ia berbicara, ponsel di celananya berbunyi. Dia mengerutkan kening dan menarik diri dariku untuk mengambil ponsel dan menjawabnya.
"Ya."
Dia cemberut dan mulai bersumpah serapah saat ia menyentak pakaiannya dari lantai dan terburu-buru memakainya. "Aku dalam perjalanan. Apakah anak-anak baik-baik saja? Aku akan ada di sana dalam sepuluh menit."
Dia menutup teleponnya dan menatapku dengan wajah menyesal. "Kau harus pergi."
"Ya." Dia menciumku cepat. Pikirannya sudah berada di tempat lain. "Aku akan meneleponmu."
Dan dengan begitu ia berjalan keluar dari apartemenku. Dia pergi sebelum aku bisa mengingatkan dia bahwa dia belum sempat mengambil nomorku.
Mungkin ini yang terbaik. Dia menjadi omong kosong yang tidak bisa aku gambarkan. Ini hanya akan menjadi salah satu malam yang tidak akan pernah aku lupa.
Aku mandi dan memakai piyamaku, mengambil sekantong keripik dari dapur dan duduk di sofa. Aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang sedang ditayangkan di TV.
Aku ingin tahu siapa anak-anak yang dia sebutkan. Mungkinkah dia punya anak?
Oh. My. God.
Aku baru saja berhubungan seks dengan seorang pria yang sudah menikah dan punya anak! Aku sangat bodoh! Hanya karena pria itu panas dan mengatakan, "Percayalah padaku, baby," tidak berarti bahwa aku dapat, pada kenyataannya, percaya kepadanya.
Aku melempar bungkus keripik ke samping dan menangkup kepala di tanganku. Dan apa itu tadi?
Aku melakukannya, bermain dengan permainan Submisif yang suka dengan semua hal yang terikat? Itu bukan kebiasaanku.
Sekarang aku berharap tadi dia mengambil nomorku sehingga aku bisa menyuruhnya menjauh saat dia menelepon nanti.
"Baekhyun, berhenti."
Suaranya keras dan tidak jauh di belakangku. Sial.
Aku hampir sampai ke mobilku.
"Kenapa?" Aku bertanya dan memutar tubuhku ke belakang untuk menatapnya langsung.
"Apa yang harus kau katakan padaku?"
a/n
Bab II mungkin di upload rabu malam ya. Mungkin
Untuk kalian yang mungkin udah baca In Seattle With Me, trus ngikutin seriesnya dari awal, tapi baru baca buku yang ini. Nih aku kasih perubahan nama karakternya yaaa.
Characters:
Jules: Jihoon | Nate: Guanlin (Fight With Me)
Natalie: Jaemin | Luke: Mark (Come Away With Me)
Isaac: Kris | Stacy: Tao (Under the Mistletoe With Me)
Will: Sehun | Meg: Luhan (Play With Me)
Leo: Minho | Sam: Taemin (Rock With Me)
Caleb: Jongin | Brynna: Kyungsoo (Safe With Me)
Dominic: Eunwoo
Alecia will be Alecia.
Mark Williams: Jinyoung
Nama anaknya ta usah ya xD
