Modus

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, Crypton.

Warning : diksi tidak baku, alur agak kecepatan (atau memang kecepatan), cerita lebih ke curhat.

Hanya sekedar modus tidak penting yang berbuah manis—benarkah?

.

.

.

I just want to thank you for being my reason to look forward to the next day

.

.

.

Hai, kamu.

Enggak terasa udah lebih dari tujuh bulan aku menyukai kamu. Dua bulan untuk mengagumimu dari jauh dan lima bulan kuhabiskan untuk memperhatikan punggungmu yang muncul dari balik kelas secara dekat.

Kamu tahu tidak? Menyukai kamu itu seperti mengerjakan laporan ilmiah dengan metodologi penelitian sedetail-detailnya. Rumit dan butuh pertimbangan.

Pertama kali, aku menemukan kamu sebagai matahari dengan senyum yang berperan dalam penyumbangan cahaya kepadaku si bulan dalam hari perlombaan. Sejak itu aku menetapkanmu sebagai masalah dan harus diidentifikasi sesegera mungkin.

Kedua kali, ketika namaku terpanggil sebagai pemenang di kompetisi sekolah lain sementara kamu tidak. Kamu tersenyum maklum. Perumusan hipotesis di otak besarku langsung mengeluarkan hasil; dia sangat berwibawa.

Sejujurnya, aku ingin meminta maaf karena aku menunda-nunda penyelesaian 'laporan ilmiah' itu hingga butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikannya. Pertimbangan dimana-mana merupakan faktor utama yang bersarang di kepalaku.

Ambil satu faktor, kamu adalah mantan dari sahabatku.

Di pikiranku kala melihat wajah pucat bercampur cemas Kokone saat mengutarakan fakta tersebut adalah bersegera mungkin melupakanmu. Berhenti menjadikanmu objek revolusi dan berpura-pura tersenyum sekaligus meyakinkan Kokone. Bahwa, aku, kamu, sekedar partner tukar informasi. Bahwa aku masih tetap menyukai orang lain disana.

Ah, maaf, abaikan saja masa lalu. Itu bukan salah Kokone. Justru dia yang menjadi katalisator ku untuk berdamai dan menuntaskan 'laporan ilmiah' berdebu di dadaku ini.

Sekarang, aku sudah cukup senang dengan momen-momen kecil diantara kita. Walau hanya sekedar membahas tugas maupun kegiatan sekolah. Yah, melihatmu tersenyum kearahku meski hanya lima detik saja sudah cukup.

Juga momen modusku. Percayalah, kamu orang pertama yang membuatku tidak karuan dan memacuku menjadi seorang tukang modus.

Aku nggak tahu ini sampai kapan, entah terus berjalan hingga esok atau berhenti ketika sadar kamu tidak bisa lagi diperjuangkan. Umm, tapi, mengingat banyaknya waktu untuk 'penyelesaian laporan ilmiah' jelas menyerah adalah sesuatu yang belum akan terealisasikan dalam jangka waktu pendek, kan? (apalagi tidak ada yang tahu jika mungkin esok hari aku bisa terlepas dari hanya sekedar adik kelas di matamu, mungkin)

Hibiki Rin

.

.

.

Kertas bewarna biru dengan coretan tangan kurang rapi itu berhasil membuat Kagamine Len tersenyum. Ia tidak pernah menduga jika kertas surat lecet di atas tumpukan soal Rin yang hanya sekedar iseng dipungut olehnya berisi hal-hal mengejutkan.

"Umm, terkesan terlalu percaya diri tapi surat ini sepertinya untukku."


I never ever thought that I'd like you this much. And I never planned to have you on my mind this often


A/n : Sebenarnya gak terlalu berkaitan sama Modus, tapi mengingat peristiwanya sejalan dengan latar Modus anggaplah ini slight scene dari Modus ya haha. Surat diatas hanya sekedar penggalauan pribadi ;)

Berhubung sempat sekalian balas review ya :D

HanaLoveYourFic

Hihi, mari baper berjamaah akan senpai (/eh). Bedanya, aku dan senpai masih dipertemukan di SMA yang sama hehe.

ki-chaaan

Ayo jangan move on dulu. Kata siapa move on itu ada? (lho) cerita Rin nginvite itu diambil dari pengalaman pribadi astaga haha ternyata ada yang senasib juga.

eventidesan

Sesungguhnya reaksi menginvite gebetan adalah kebersamaan pada tiap orang, lel (eh)

Furika Himayuki

Ini termasuk lanjut kan, ya? XD

hitsuki syo

Lennya diambil dari sifat si 'senpai' di dunia nyata haha, malah ekspresi dan kecuekannya lebih parah lagi :")

Milda Malione

Karena fic ini nyata dalam delusi :") /lho