Author : Miss Galaxy
.
.
.
Title : BORGOL
Cast :
Kim Jong In a.k.a Jongin
Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo
And other cast
Rate : T
Genre : Romance, Criminal
Pair : KaiSoo wtf EXO OFFICIAL COUPLE
.
.
.
DON'T READ IF YOU NOT LIKE !
WARNING THYPO
AND
HAPPY READING ^^
.
.
.
.
.
Paginya Kai terbangun, dia lalu mendudukan diri diatas ranjang dengan mata setengah terbuka, sepertinya nyawanya belum 100% terkumpul. Kai menguap sebentar, lalu menoleh kesamping dan dia tak mendapati Kyungsoo disebelahnya.
"Tanganku? Borgolnya?"
Kai menatap tangan kanannya dengan cengo, lalu hingga detik berikutnya dia berteriak frustasi. Argh! Kyungsoo mengerjainya ya? Kenapa tidak dari kemarin malam saja Borgol sialan itu terlepas? Kai merasa muak, dia kemudian menatap penampilannya sendiri dan mendapati bahwa dia hanya menggunakan celana boxer hitam tanpa atasan alias topless, lenganya yang terluka juga sudah diperban rapi. Tunggu.. Jangan bilang ini perbuatan Kyungsoo? Tapi siapa lagi jika bukan lelaki manja itu? Hah! Kai tidak yakin jika Kyungsoo menggerayangi tubuhnya semalam. Menghela nafas pelan, Kai berniat bangkit jika saja pintu kamarnya tidak dibuka duluan dari luar.
CEKLEK!
Kai menoleh kesumber suara, matanya langsung membelalak mendapati sosok Kyungsoo yang masuk hanya dengan berbalut handuk kecil sebatas pinggang –dia habis dari kamar mandi, wajahnya terlihat sangat segar dan tetesan air jatuh dari rambut hitamnya, sepertinya Kyungsoo baru keramas.
"Pagi Jongiinnn.." Kyungsoo menyapa riang, berniat menghampiri kekasihnya, namun Kai berteriak duluan. Mengangkat tangan kanannya kedepan menyuruh Kyungsoo agar berhenti ditempat dan tidak melanjutkan aksinya. Ayolah! Ini terlalu pagi untuk berfikir kotor. Bagaimana jika handuk Kyungsoo terlepas? Nah lho.
"Kenapa?" Kyungsoo merengut karna Kai menolak pelukannya.
"Tanganku. Borgolnya bagaimana bisa lepas?" Kai menunjuk tangan kanannya, memasang wajah memincing meminta jawaban.
"Oh, itu. Aku tadi pagi menghubungi Jong Dae dan menyuruhnya untuk membawakan kunci. Hehe." Kyungsoo memasang wajah lima jarinya sambil melangkah kearah lemari, dan Kai? Lelaki tan itu hanya menghela nafas pasrah. Ingin rasanya dia mengubur diri hidup–hidup! Kim Jong In berhasil dikerjai.
"Jongin, aku pinjam kemejamu ya?"
"Apa?"
Kai langsung terbelalak, menatap handuk putih tak bersalah yang jatuh begitu saja dari pinggang Kyungsoo. Dan..dan, Kai menelan salivanya kasar. Pemandangan pagi ini lebih indah dari biasanya. Sesuatu yang putih dan mulus itu menggoda benda dibalik celananya. SIAL!
"A-Apa yang kau lakukan Soo?" Tanya Kai gugup, ekor matanya memandang sekeliling dengan gusar.
"Eh?" Kyungsoo menoleh dengan muka polosnya. Tak menyadari situasi.
"Mencari baju."
"Bu-bukan..maksudku, handuknya..ARRGH!" Kai mengacak rambutnya frustasi dan itu membuat Kyungsoo menatapnya bingung. Entahlah, Kai harus bersyukur atau mengumpat memiliki kekasih yang kelewat polos macam Kyungsoo. Tak tahan, lelaki tan itu setengah berlari dan keluar menuju kamar mandi.
"Oh! Shit!" Kai menggelang, berusaha menampik fikiran mesumnya. Buru-buru dia membawa diri ke bathup dan berendam sebentar. Ini terlalu pagi, dan ia tak mau terlambat bekerja untuk menghabiskan morning sex.
.
.
.
Kai keluar dari kamarnya dengan pakaian dinas lengkap dan rapi.
"Jongin! Aku membuat Ayam Pedas kesukaanmu," Kai menghela nafas –entah ini sudah yang berapa kali— lelaki tan itu kemudian melangkah kearah meja makan, menarik salah satu kursi dan duduk disana, menatap Kyungsoo yang sedang sibuk menata makanan. Kai menelan salivanya gusar, jakunnya naik-turun menatap pergerakan Kyungsoo yang bergerak kesana kemari. Lelaki mungil itu hanya mengenakan kemeja putih tipis kotak-kotak miliknya yang terlihat kebesaran ditubuh kecilnya, tanpa celana.
CATAT! TANPA CELANA.
Dan Kai berusaha mati-matian untuk tidak menyerang Kyungsoo saat ini juga.
Drrrt!
Sebuah benda semacam ponsel kecil yang ada di ikat pinggangnya bergetar, itu semacam alat penerima suara atau radio yang terhubung dengan computer disuatu tempat, dan itu langsung terhubung ketelinganya dengan sebuah earphone yang terpasang ditelinga kiri Kai.
"Ya? Pagi Komandan,"
"Ini aku," Kai menautkan alisnya, ini bukan suara Yifan –Komandannya- lalu?
"Aku Suho!"
"Oh!" Kai bersikap biasa, mulai menyantap ayam pedas yang sudah Kyungsoo sediakan didepannya. Lelaki mungil itupun ikut duduk didepan Kai, menikmati sarapan mereka.
"Seorang mata-mata mencium keberadaan mereka,"
"Maksudmu Bandar narkoba dari jepang itu?"
"Yap! Menurut informasi, mereka akan melakukan transaksi di Gangwon-do Yonggu,"
"Aissh, itu jauh sekali."
"Aku juga tahu. Tapi ini perintah, kau pergi kesana dan selidiki mereka. Oh ya, ajak juga Detektif Kyungsoo untuk membantumu," Kai menoleh kearah Kyungsoo yang sedang makan dengan lahap. Tidak! Ia tak mau tangannya terbogol konyol lagi.
"Bisakah dengan Detektif lain?"
"Tak bisa. Detektif dari Agen kepolisian sudah pergi menyelidiki kasus lain, kau tahu kan akhir-akhir ini banyak sekali masalah," Keluh Suho diseberang, Kai memutar bola matanya malas. Meski Suho terjungkalpun Kai tak akan peduli padanya.
"Tidak. Aku sendiri saja,"
"Hei.. dia kekasihmu, bukannya kau harusnya senang?"
"Tapi Hyung~ dia itu-.."
Tut Tut Tut!
Kai mendengus, berani sekali Suho memutuskan sambungan secara sepihak. Andai saja lelaki itu bukan atasannya, awas saja! Kai lalu menatap Kyungsoo yang kini juga tengah menatapnya dengan mata yang membulat polos.
"Aku akan ke Yonggu untuk penyelidikan, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak mau." Kyungsoo menggelang sebagai penolakan, lelaki mungil itu menatap Kai dengan muka melas –Semelas-melasnya, merajuk.
"Aku ikut,"
"Tapi ini berbahaya, aku tak mau terborgol konyol lagi," Ucap Kai setengah menyindir.
"Aku janji tak akan berbuat konyol dan mengerjaimu. Janji.. Aku ikut ya? Jongiinn.." Kyungsoo membuat tanda 'V' dengan tangan kanannya. Memasang pose merajuk lagi.
"Tidak!"
"Please.." Kyungsoo mengedip-ngedip lucu, mengeluarkan puppy eyes andalannya. Kai berdehem, mencoba fokus pada ayam gorengnya berusaha mengabaikan Kyungsoo. namun gagal! Dia tidak bisa menolak lagi jika kekasihnya sudah merengek seperti ini. Lelaki tan itu menghela nafas.
"Baiklah.." Ucapnya lemas dan Kyungsoo langsung bersorak senang.
.
.
.
"Sebuah gudang?" Alis Kai terangkat sebelah, tangan kanannya memencet tobol hitam disamping radio tape mobilnya, sementara tangan kirinya masih focus menyetir. Lalu sebuah layar kecil muncul menunjukkan rute jalan, semacam GPS. Well, mobilnya sangat khusus dan disetting sedemikian canggih, dipesan langsung dari Jepang. Sementara disampingnya, Kyungsoo hanya menatap kearah luar jendela. Pakaiannya sudah layak pakai, tentu saja karna Kai tadi sempat berhenti dibutik untuk membelikannya baju dan celana baru.
"Baik. Aku akan lewat memutar tepat dibelakang gudang itu,"
Piip!
Kai menambah gigi, menginjak pedal gas kuat-kuat. Ban mobil depan berdecit keras saat melewati tikungan, Sepertinya Kai harus sampai cepat. Kyungsoo paham, dia tak ingin mengganggu lagi, makadari itu dia hanya diam sambil mencengkram kuat sabuk pengaman. Uuh! Rasanya seperti sedang mengikuti balapan mobil saja.
.
.
.
"Kau tunggu disini saja,"
Kai bergegas keluar dari mobil tepat saat kendaraan canggihnya itu sudah terparkir manis disebuah gang sempit dibelakang sebuah gudang yang nampaknya tak terpakai, Kyungsoo heran. Disinikah tempat Mafia itu bertransaksi?
"Jongin..Ikut," Kyungsoo sepertinya berniat mengikuti Kai, karna dia buru-buru keluar mobil. Namun dengan cepat pula Kai menahannya.
"Tidak, kali ini kau tidak boleh mengacau." Ucap Kai serius. Kyungsoo menggelang kuat.
"Aku ikut Jongin.."
"Dengar, ini semua bukan mainan ataupun hal konyol yang dijadikan main-main Kyungsoo."
"Aku tak akan jahil lagi, aku tak akan melakukan hal konyol lagi, Janjii.."
"Tapi aku ragu tentang itu," Sindir Kai dengan mata menyipit, Kyungsoo diam. Hati kecilnya meringis, apa Kai masih marah atas perbuatan konyolnya kemarin?
"Aku janji Jonginn.." Ucap Kyungsoo serius.
"Aku tak percaya. Aku sedang bertugas Kyungsoo, diam dan tunggu disini. Okay?" Kyungsoo menggelang, masih kuekueh ingin ikut. Sementara Kai memutar bola matanya jengah.
"Aku ikutt, apapun yang terjadi aku ingin bersama Jongin,"
"Kyungsoo.."
"Kau bilang kau akan selalu bersamaku dan melindungiku?"
"Termasuk kembali memborgol tangan kita berdua?"
"Aku tak peduli, yang penting aku bisa bersamamu,"
"Kyungsoo.."
"Tolong! Kali ini saja~"
"Kyungsoo,"
"Jongin."
"KYUNGSOO!"
Kyungsoo sontak diam tertegun, gejolak di dadanya semakin bergemuruh hebat. Apa barusan Kai membentaknya? Kelopak matanya mengerjap. Kai benar–benar membentaknya dan itu sakit sekali.
"Jonginn.." Ucap Kyungsoo kemudian dengan suara lemah. Kai merasa bersalah, dia menghela nafas, memegang bahu Kyungsoo dengan kedua tangannya. Tatapannya jatuh sangat dalam ke mata bulat Kyungsoo. Merasa bersalah memang, tak seharusnya dia membentak kekasih mungilnya itu. Kyungsoo pasti akan sedih karna ini pertama kalinya dia mendapat bentakan darinya.
"Maaf. Tapi ini bukan saat yang tepat Kyungsoo, maafkan aku. Itu karna aku mencintaimu," Ucap Kai lembut, ibu jari kanannya mengusap lembut pipi Kyungsoo.
"Maafkan aku,"
Kyungsoo mati-matian berusaha menahan cairan yang ingin mendesak keluar dari matanya. Mungkin Kai benar, dia yang terlalu kekanankan. Seharusnya dia mengerti, Kai seperti ini karna ingin melindunginya, Kai mencintainya. Benar! Tapi kenapa rasanya sakit saat orang yang kita cintai membentak kita?
"Tak apa. Aku akan menunggu dimobil saja,"
"Kyungsoo.." Ujar Kai lembut, mengecup heartlips itu sekilas. Tangan besarnya menangkup pipi Kyungsoo.
"Tetap diam dimobil sampai aku kembali, oke?" Kyungsoo mengangguk lemah dan Kai melepas tangkupannya pada pipi Kyungsoo. Membiarkan lelaki mungil itu berjalan lemah kembali memasuki mobil dan menunduk, tak menoleh lagi. itu membuat Kai merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak boleh menggunakan perasaan saat sedang bekerja. Hh, dia berjanji akan menuruti semua kemauan Kyungsoo jika tugasnya selesai.
"Aku pergi,"
.
.
.
Kyungsoo hanya diam termenung didalam mobil, tak tahu apa yang harus dilakukan selama hampir dua jam ini, Kaipun belum kembali. Hah! Dia mulai bosan.
TOK! TOK!
Lalu ada yang mengetuk pintu mobil, membuat lelaki mungil itu mengerutkan dahinya. Siapa ya yang mengetuk pintu mobil? Tak mungkin Jongin, jikapun memang Jongin, pasti dia akan langsung masuk tanpa mengetuk kaca mobil. Kyungsoo sebenarnya takut untuk membukakan kaca mobil, namun orang itu kembali mengetuk membuat Kyungsoo mau tak mau membukanya.
"Haii~"
Orang itu melambai ceria, senyum dan bentuk wajahnya sangat cantik. Sepertinya dia orang baik, fikir Kyungsoo.
"Haii.. Aku Tao. Aku juga detektif yang ditugaskan kepolisian untuk penyelidikan disini. Mau bekerja bersama?" Kyungsoo mengedip-ngedip lucu, ia sedikit sangsi dan menatap lelaki bernama Tao itu dari atas kebawah.
"Aku diutus oleh Komandan Yifan," Ucap Tao menyakinkan lagi dengan sebuah senyuman yang dia berikan pada Kyungsoo. Oh! Dia ternyata juga detektif. Dia suruhan Yifan yang juga komandan Kai. Mungkin Kai tak akan marah karna dia pergi bersama anggota kepolisian. Benarkan?
"Benarkah? Aku detektif Do Kyungsoo," Kyungsoo membuka pintu mobilnya hingga kini dia berdiri didepan Tao. Uuh! Tao sangat tinggi ternyata.
"Sarang Mafia itu ada digudang itu, ayo ikut aku."
"Ya,"
Kyungsoo mengikuti langkah Tao tanpa curiga, berjalan melewati daerah semak belukar yang cukup lebat. Sebenarnya Kyungsoo cukup takut, tempat ini sangat sepi. Belum lagi Kyungsoo tiba–tiba merasakan bahwa ada langkah lain yang mengikutinya dari arah belakang, namun saat dia menoleh, hanya ada hembusan angin. Kyungsoo takut, Tao sedari tadi tak menoleh juga.
"Heii! Tao, kita kan kemana?"
"Tentu saja ke sarang Mafia itu,"
"Iya, tapi k–ppfftt.."
Ucapannya terhenti saat Kyungsoo merasakan sebuah telapak tangan kekar membekap mulut dan hidungnya kuat. Lalu sebuah bau aneh merasuki indranya. Baunya kuat dan menyengat, membuat Kyungsoo merasa ngantuk seketika. Kyungsoo mencoba berontak sekuat tenaga, namun semakin berontak, bau aneh itu semakin membuat kepalanya pusing. Hal terakhir yang dia lihat adalah Tao yang tengah tertawa dan..Gelap!
"Jonginn.." Gumannya sebelum akhirnya terlelap.
.
.
.
Srek!
Kai melangkah mendekat, menyeret paksa kakinya agar berjalan mengendap-ngendap mendekati sisi gudang, mata tajamnya memang lurus mengawasi gudang didepannya. Namun siapa sangka jika hati dan fikiran lelaki itu ada di tempat lain?
"Yo!"
Kai menoleh, mendapati sosok lelaki dengan kulit pucat pasi tengah berjongkok disampingnya, mengisi amunisi. Heh! Sejak kapan manusia ini ada disampingnya? Sehun –Sahabat sekaligus rekan kerjanya– itu tampak terlihat tenang-tenang saja. Membuat Kai mendengus, menatap Sehun sebal. Entahlah, keadaan hatinya sedang kacau, jangan salahkan jika emosionalnya naik turun tak jelas. Oh, salahkan saja Kyungsoo yang selalu memenuhi seluruh kerja otak dan tubuhnya.
Kai akui, kekasihnya itu memang tak bisa dianggap remeh. Kyungsoo itu pintar, dia mampu memecahkan persoalan apapun dengan otak jeniusnya. Namun kadang pula Kai tak yakin akan kemampuan Kyungsoo, dia itu terlalu polos, lembut dan mudah percaya. Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu padanya di sana? Bagaimana jika seseorang mengajaknya pergi lalu terjadi sesuatu yang tak diinginkan? Pemikiran buruk itu terus memenuhi seluruh kerja otak Kai, membuatnya mengerang mengacak rambutnya frustasi. Tak seharusnya dia membentak Kyungsoo dan meninggalkannya sendiri. Jika hati sedang sedih dan kalut, apapun bisa terjadi kan?
"Arrgghh! Bodoh! Bodoh!"
Sehun yang berjongkok disampingnya mengerutkan alis, menatap Kai yang tengah memukul-mukul kepalanya degan gumanan 'Bodoh' .
"Yea! Kau memang bodoh Kai, dan sekarang kau terlihat semakin bodoh. Haha," Batin Sehun jahil, tentu saja. Dia tak ingin dicincang nantinya jika menyuarakan kata hatinya itu.
"Whassup man? Kau gugup? Heii.. ini sudah yang kesepuluh kita menangani ini, lagipula k-"
"Diam Albino!" Potong Kai cepat, dia mendelik menatap tak suka pada Sehun. Tapi nampaknya sifat jenaka tak pernah pergi dari hidup Sehun, dia kembali mengoceh.
"Ah.. akuuu tahu. Kau pasti tak mendapat jatah dari Kyungsoo ya?" Sehun sialan!
"Kauu.." Kai mengeluarkan deathglarenya, menguliti Sehun dengan tatapan tajam siap menerkam. Sehun yang melihat tanda peringatan hanya nyengir, kemudian merayap kesisi lain arah gudang. Lelaki tan itu menghela nafas, mengeluarkan amunisi bersiap mengisi pistolnya.
Sret!
"Ahk," Kai memekik tertahan, buru-buru mengisap ibu jarinya yang mengeluarkan darah segar. Entah dia yang melamun atau apa, ibu jarinya terluka saat akan mengisi amunisi ke dalam Hammer Pistol. Sial! Ini pekerjaan mudah, dan dia sudah melakukannya hampir lima tahun. Ck! Dan tanpa sebab, jantungnya tiba-tiba berdenyut nyeri. Pertanda apa ini?
"Kyungsoo.."
.
.
.
Si lelaki jangkung dibalik penerangan lampu temaram itu mendekat, menjulurkan telunjuk panjangnya menyentuh serbuk putih bersih dari dalam koper hitam diatas meja sebelum menjilatnya dan terdiam sejenak.
"Senang bertransaksi dengan anda Tuan Byun.."
Lelaki berjas hitam pekat itu menyeringai, mengusap telunjuknya dengan tissue dan menjabat tangan lelaki bersurai kemerahan yang menjadi lawan transaksinya saat ini. Masing-masing sudah saling menukar koper hitam yang mereka bawa. Transaksi sukses. Dibawah temaran lampu yang sangat minim, kedua mafia itu melakukan transaksi. Ah, tidak. Sebenarnya hanya lelaki berjas hitam itu saja yang seorang mafia, sedangkan lelaki bersurai kemerahan itu hanya utusan. Utusan dari kelompok mafia yang dipimpinan ayahnya. Asal kalian tahu saja.
"Tapi sepertinya ini belum bisa dianggap sukses. Polisi sedang menunggu kita diluar," Lelaki berjas hitam itu berdiri, menampakkan tubuh jangkungnya yang tinggi menjulang.
"Mereka selalu mengganggu tugasku," Ucap lelaki bersurai kemerahan itu emosi. Suaranya terdengar mengeram, namun tak menghilangkannya dari kesan lembut. Lelaki satunya menyeringai.
"Tapi kau tak usah khawatir tuan Byun. Semuanya sudah kuatur sesuai perkiraan, aku menjamin keselamatanmu."
"Huh?"
"Kau hanya perlu mengirimnya kerekeningku saat kau keluar dari sini. Yeah.. anggap sebagai bayaran karna aku telah menolongmu." Lelaki bersurai kemerahan itu merengut, membuat wajahnya berubah drastic seratus persen dan jauh dari kesan 'Mafia'. Bibir tipisnya mengerucut lucu, membuat lelaki berjas hitam itu terdiam untuk beberapa detik. Terpesona.
"Kau memanfaatkanku tuan yang tampan,"
Kekehan kecil keluar dari bibir lelaki tinggi itu, dia berjalan memutar mendekati sosok yang ternyata jauh lebih pendek darinya itu. Posisinya kini sangat dekat, mungkin hanya beberapa senti saja. Sedangkan si pendek harus mendongak, hidung mancungnya nyaris membentur hidung lelaki itu. Bias sinar mentari yang terpancar dari ventilasi minim ruangan menyinari wajahnya, memamerkan pahatan wajah yang putih bersih dengan bibir tipis yang merah merekah, matanya yang sipit terlihat lembut dan sayu bagai rembulan. Wajah itu… Sempurna. Refleks tangan lelaki tinggi itu terangkat, menyentuh lembut pipi halus dihadapannya.
Lelaki berjas hitam itu berguman dalam hatinya, kenapa ada lelaki secantik dia? Kenapa dia sangat mirip dengan … seseorang? Dan Memori masa lalu kembali menari-nari di ingatannya. Sudut bibirnya terangkat sebelah. Mereka sama-sama cantik, Yah~ meski dia akui jika lelaki dihadapannya ini jauh lebih cantik. Anggap saja 99-100 sebagai perbandingan. Wow, jadi dia mengklaim lelaki dihadapannya ini lebih sempurna? Ck, lalu bagaimana dengan 'dia' ?
"Dan aku mejamin wajahmu tak akan terluka secuilpun…Cantik.."
.
.
.
"Sehun..Sehun, kau dengar aku?"
Sehun menekan wireless hitam ditelinga kirinya, sinyal disini sangat buruk, jadi hubungan dengan pihak pusat di kantor kepolisian sedikit terganggu.
"Ya Baby Lu..Aku dengar. Ada apa?"
"YAKK! JANGAN MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN ITU OH SEHOON," Sehun terkekeh, meski Luhan terdengar memekik dan membuat telinganya berdengung, namun dia berani menjamin jka wajah kekasihnya itu saat ini sudah merah padam disana. Jika tak percaya, pergi saja ke Markas Pusat. Disana kau akan menemukan sosok lelaki mungil dengan mata mirip rusa yang setia dibalik komputernya. Yea~ di kekasih Sehun.
"Haha, oke..oke Sayang! Ada apa hhm? Kau merindukanku ya?"
"Tidak!" Sahut Luhan ketus disebrang.
"Lalu kenapa kau menghubungiku huh? Aku sedang bekerja Lulu.."
"Kau ini Ge-er sekali ya Sehun. Aku menelfonmu hanya untuk kepentingan tugas. Menurut sinyal pelacakan, salah seorang Mafia membawa sebuah benda. Entahlah, benda itu masih sulit dilacak oleh radar."
"Benda?" Alis Sehun bertautan.
"He'eh. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Bekerjalah yang benar, oke? Aku mencintaimu,"
"…."
Tutt! Tutt! Tutt!
Sehun tertawa kecil, dia yakin Luhan pasti sedang merona sekarang.
"Aku juga mencintaimu," Balas Sehun meskipun sambungan sudah diputus.
.
.
.
Hanya selang semenit, pintu gudang terbuka lebar. Dan muncullah beberapa orang sekitar dua puluhan dengan pakaian dan kacamata serba hitam. Sepertinya dia seorang maid, lihat saja barisan mereka yang membentuk lingkaran, melindungi satu sosok berpakaian putih mencolok di tengah-tengah kerumunan, mungkin itu boss mereka.
"BERHENTI DAN ANGKAT TANGAN!"
DOOR!
Kai melotot tajam, pasukan polisi yang mengepung gudang dari semua penjuru arah mulai keluar dari tempat persembunyian, mengepung kawanan mafia itu dengan mengacungkan pistol.
"Suho bodoh! Kenapa membiarkan pertahanan sebelah barat kosong?"
"Aku tak tahu, mungkin mereka terlalu bersemangat." Sahut Sehun cepat, Kai menoleh. Sejak kapan anak albino itu disini?
Kai dan Sehun mendekati kawanan Mafia yang sudah terkepung, Kai mengamati muka mereka satu persatu. Sedikit aneh, wajah mereka tak memancarkan rasa takut sedikitpun, bahkan lelaki dengan setelan jas putih itu hanya menyeringai. Tak beres!
Sementara itu Suho dan yang lain masih sibuk memeriksa seluruh tubuh lelaki berpakaian hitam –Bodyguard– itu dengan serius. Semua tak membawa senjata ataupun benda-benda mencurigakan. Kecuali satu, lelaki berjas putih itu. Lelaki yang diklaim sebagai pemimpin itu membawa sebuah koper hitam ditangannya. Mencurigakan!
"Berikan koper itu," Ucap Suho garang. Lelaki berjas putih itu tersenyum manis, hingga kedua dimple diwajahnya terlihat cekung. Manis! Jika saja dia bukan seorang Mafia, entahlah apa jadinya.
"Kau yakin hm?" Oh! Bahkan suara lembutnya membuat Suho ingin menjatuhkan rahangnya keras.
"Apa maksudmu heh? Berikan CEPAT!" Suho membentak, tapi jika kalian tahu, itu semua hanya untuk menutupi rasa gugupnya, lelaki berdimple itu membuatnya gelisah seketika. Ingat Suho! Kau sedang bertugas.
"Baiklah, kau tak usah berteriak seperti itu tuan yang tampan," Wow! Apa dia sedang merayu? Lihatlah, dia sekarang mengedip genit kearah Suho, membuat jakun polisi itu naik turun. Dengan gerakan gemulai, lelaki itu mendekat menyerahkan koper ditangannya. Suho langsung merampasnya dengan cepat. Membuat kulitnya tanpa sengaja bersentuhan dengan kulit tangan lelaki itu. Oh! God! Tangannya sangat-sangat halus. Suho mengeram dalam hati, dia ingin lelaki ini..Tapi kenapa dia harus terlahir sebagai seorang Mafia?
"Kau jangan menyesal telah memintanya tuan,"
CHUP!
Lelaki manis itu lalu berjinjit dan mengecup bibir Suho sekilas. Membuat polisi itu mematung ditempat mencerna apa yang sedang terjadi. Tubuhnya membeku. Apa dia mimpi? Dia..Dia menciumnya? Dan saat semua –termasuk Kai dan Sehun– melengos kaget akan kejadian itu, salah seorang bodyguard melempar sebuah bola kecil berwarna ungu. Suara ledakan terdengar keras disusul oleh kepulan asap yang cukup tebal disekeliling. Orang yang pertama sadar adalah Kai, dia berteriak menyuruh rekan polisi agar tak terkecoh. Namun terlambat, asap itu seolah membawa kawanan mafia itu lenyap, mereka hilang.
"DASAR BODOH! BAGAIMANA KALIAN BISA KEHILANGAN MEREKA?" Teriak Kai frustasi, dia berlari menuju gudang, namun Sehun dengan cepat menahannya kuat.
"Ada apa?" Sehun hanya diam, dahinya mengernyit fokus pada seesuatu ditelinganya.
"Lepaskan bodoh! Mungkin salah satu dari mereka masih ada didalam," Sehun menggelang lagi, tangan kirinya menekan wireless ditelinganya, dan seketika wajahnya memucat. Kai jadi menautkan alisnya bingung.
"Ada apa?"
"Koper..Koper itu.."
.
.
.
"Koper! Buka! KUBILANG BUKA KOPERNYA HYUNG! APA KAU MASIH TERPESONA OLEH MAFIA ITU?"
Suho terkesiap dari lamunannya tentang lelaki manis itu, buru-buru dia berjongkok dan berusaha membuka koper yang ada ditangannya. Sial si Sehun, berani sekali membentaknya yang jelas-jelas adalah atasan, Yea~ meski Yifan masih jauh diatasnya. Awas Kau! Batin Suho.
"Tunggu," Ucap Sehun tiba–tiba. Suho mendengus, tadi menyuruhnya membuka, sekarang dicegah? Sial! Dia dipermainkan anak buah? Sehun masih fokus pada wireless ditelinganya sementara Suho dan yang lain hanya menunggu.
"Sehun bahaya.." Ucap diseberang dengan suara putus-putus.
"Ada apa Lulu?"
"Koper itu..koper itu berisi bahan..asfsgfdsghsdg.." SIAL! Sinyal buruk.
"Lu? Bahan apa Lu? Jawab aku Lu?" Sehun berteriak panik, matanya menatap sekeliling gusar. Lelaki itu mengangkat tangannya menyuruh Kai agar membuka koper itu. Kai menurut, menarik kuat kunci depan koper.
"Lu, kau bisa dengar? Katakan Lu,"
"Jangan dibuka.."
"Apanya Lu?"
"Agagsfag..Koper itu..Disana..bahan peledak...sshdgg.."
"APA?"
"Asgash..bahan peledak dengan radius 100 meter. Agaagf..CEPAT PERGI!"
"BERHENTI!"
Sehun membulatkan bola matanya. Dia kemudian berlari mencegah tangan Kai agar tak meneruskan aksinya, tapi terlambat. Koper itu sudah terbuka mengejek.
'Waktu ledakan dimulai dalam hitungan mundur satu menit. 60'
Semua mata terbelalak. Benda hitam itu mulai berkedip-kedip dengan berwarna merah serta stopwacth penghitung mundur yang menyala.
"CEPAT PERGIIII.." Sehun berteriak keras menyadarkan, buru-buru kawanan Polisi itu lari tunggang langgang sejauh-jauhnya, nyawa mereka hanya dalam hitungan detik.
'59'
'58'
Kai kalut, lelaki tan itu menggigit bibir bawahnya gusar. Bom dalam radius 100 meter? Letak mobilnya hanya berjarak sekitar 20 meter dari sini. Itu artinya..Kyungsoo akan terkena?
"Tidak!"
Tak ada waktu untuk berfikir, dia harus segera menyelamatkan Kyungsoo. Kai berlari dengan langkah selebar yang dia bisa menuju kearah barat menerobos semak belukar yang cukup lebat, mobil dan Kyungsoo-nya ada disana. Sehun yang melihat itu heran, semuanya berlari kearah timur yang jelas-jelas adalah jalan keluar dari daerah sini, bantuan dari pusat juga menunggu disana. Lalu kenapa sahabatnya itu kesana? Ini tak beres.
"Kai tunggu! Yo.. cepat pergi dari sini. Kau mau kemana?" Teriak Sehun mengejar, Kai memutar kepalanya menoleh. Dia fikir Sehun sudah pergi, tapi ternyata lelaki itu mengikutinya.
"Cepat pergi dari sini bodoh!"
"Kau juga harus cepat pergi dari sini. Kau ingin mati hah?"
"Aku rela mati asal menemukan kekasihku. Aku meninggalkan Kyungsoo dimobil,"
"Apa? Kau bodoh?"
"Yea, aku bodoh. Makadari itu cepat lari.." Kai menggertak, namun bukan Sehun namanya jika tak keras kepala. Panggilan khawatir dari Luhanpun dia abaikan, dia berlari mengikuti sahabatnya. Tak ada yang indah dari rasa persahabatan.
'Shinobi yang melanggar peraturan dianggap sampah. Tapi, orang yang meninggalkan teman dianggap lebih rendah dari sampah.' Sehun jadi teringat ucapan Naruto, tokoh kartun favoritnya sedari kecil itu.
Benarkan? Sahabat itu tak akan pernah mati. Dan jika matipun dia rela asal untuk sahabatnya. Sehun mempercepat langkah mensejajari Kai.
"Aku akan menemanimu,"
"Bodoh!" Ejek Kai, keduanya berlari cepat. Lalu sudut bibir Kai terangkat, Sehun memang sahabatnya.
'20'
'19'
Mereka sampai. Mobil Kai masih terparkir utuh, namun matanya terbelalak saat tak mendapati kekasihnya disana. Kyungsoonya kemana? Lelaki tan itu mulai panik, berteriak kesetanan memanggil-manggil nama Kyungsoo.
"KYUNGSOO! KYUNGSOO! KAU DIMANA?"
'12'
'11'
Sehun gusar, dia mengecek arlojinya. Tinggal 10 detik lagi dan Kai masih sibuk mencari Kyungsoo yang entah dimana. Tak ada hasil apapun.
"Kai cepat! Ledakannya sebentar lagi."
"AKU MENCARI KYUNGSOO!"
"Aku tahu. Tapi ingat keselamatanmu. Jika kau mati disini, kau tak akan bisa mencarinya lagi nanti. Siapa tahu Kyungsoo pergi dan masih hidup? Kau ingin mati konyol disini hah? Hidupmu hanya terbuang sia-sia." Kai terdiam mencerna ucapan Sehun. Dia benar juga. Lelaki pucat itu lalu masuk kedalam mobilnya.
"Ayo!"
Kai bergerak cepat memasuki mobil. Dan tanpa sadar setetes air mata sudah membahasahi pipinya. Kai menangis, perasaan menyesal itu kini merasukinya, membuat seluruh persendiannya melemah. Hanya ada satu nama diotaknya, dan itu 'Kyungsoo'Andai dia tidak mengajak Kyungsoo..
Ban mobil berdecit keras saat berbelok, sepertinya Sehun mengendarai mobilnya dengan kesetanan. Jangan khawatir, saat SMA dulu dia adalah anak berandal yang sangat jago sekali balapan, ditambah lagi dengan mobil Kai yang memang sudah canggih? Soo, Don't Worry!
'6'
'5'
"Kau siap heh? Pertunjukkan akan dimulai sebentar lagi,"
"Yea~ kita lihat bagaimana kemampuanmu," Ucap Kai menyeringai, dia membuka penutup hitam disamping stir, mengeluarkan semacan keyboard kecil berwarna putih. Dia memencet-mencet tombol dengan serius. Kap mobil bertambah dua kali lipat lebih tebal, dan seketika mereka seperti melayang.
Satu roda muncul dibelakang bagasi, mendorong kuat agar laju mobilnya semakin cepat. Sehun berteriak heboh.
"Wow~ fantastic, Kau siap?"
"Yea." Sehun memutar pegas, menambah satu lagi gigi. Kakinya menginjak pedal gas kuat-kuat.
'4'
'3'
.
.
.
"Sehun..Kau dengar? Kau sudah pergi?" Tanya Luhan panik.
"….."
"Sehun?"
"Aghaghg..Ya Baby.."
"Sehun, kau sudah pergi belum?"
"Aku mencintaimu baby.."
"Sehun..SEHUNN.."
BLARRR!
Luhan menganga, layar monitor dihadapannya menuliskan kata 'Lost' dan Radar tak terlacak, Luhan menyentuh keyboard computer mengetik Sesutu disana, namun layar computer hanya menampilkan gambar buram. Luhan lemas, mic kecil didagunya jatuh merosot. Ledakan..Hilangnya kontak..
"SEHUUNNNNN…"
.
.
.
Sementara itu. Disebuah ruangan luas yang terlihat seperti ruangan kerja yang sunyi, seorang lelaki mungil tengah terduduk disebuah kursi dengan kedua tangan terikat. Sepertinya dia masih pingsan. Lalu dibalik meja dihadapannya, seseorang sedang membelakanginya dengan ebuah ponsel menempel ditelinganya. Sebuah percakapan kecil tercipta.
"Ugh,"
Kyungsoo melenguh, mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya dengan perlahan agar retina matanya sesuai dengan keadaan sekeliling.
Kyungsoo kembali mengingat hal terakhir yang terjadi padanya. Kai yang membentaknya –Ugh. Lalu dia kembali dan diam di mobil hingga Tao datang mengaku sebagai detektif dan mengajaknya pergi. Lalu.. lalu seseorang membiusnya dan..dia berakhir disini. Tangannya terikat. Ini dimana? Ini bukan rumahnya ataupun rumah Kai. Persis seperti korban penculikan, dan dia merasa bahwa itu benar. Dia diculik. Dan..
"Siapa Kau?" Pekik Kyungsoo histeris, dia mulai menggerakkan tubuhnya tak nyaman, dia ingin dilepas dari ikatan ini. Lalu, siapa lelaki yang membelakanginya itu? Apakah dia yang menculiknya? Mungkin..
"Lepaskan aku! Jika kekasihku tahu, dia pasti akan membunuhmu," Lelaki dibalik meja itu mematikan sambungan telfonnya, sudut bibirnya terangkat.
"Kekasihmu tak akan bisa menyelamatkanmu Kyungsoo.."
DEG!
Suara itu.
"K–kau.."
Kyungsoo menahan nafasnya, udara seolah menghilang bersamaan dengan tubuh yang kini berbalik menghadapnya. Oksigen! Kyungsoo tak bisa bernafas sekarang. Mata bulatnya melebar.
"K–kau.."
"Haii..lama tak jumpa ya? Do Kyungsoo..."
.
.
.
.
Tbc!
.
.
.
.
Big Love and Thank's to;
Kaisooexo, kamsab, jngyra, BUBBLENIIOWL, CuteSoo93, helenaaaaafela, masayrey, evaasusaanti, ahyumaharani58, OneKim, BabyCoffee99, ryaauliao, kyung1225, JonginDO, 6 1 4 ChanBaekYeol, meyriza, Lily's KimJ, dksbby.
SEE YOU NEXT CHAPTER
AND
SARANGHAE ^^
