Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

RATE : T

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.

.

.

"Benar-benar tidak tahu malu! Wajahnya sungguh menyebalkan!"

"Benar, seperti pura-pura tidak ada yang terjadi!"

"Berani sekali dia melakukan itu pada idola kita!"

"Mungkin dia harus diberi pelajaran dulu!"

"Ya, bisa jadi dia sengaja melakukannya buat menarik perhatian. Dia kan memang perempuan kesepian!"

Sakura menghentikan langkah kakinya ketika pagi ini dirinya baru datang ke sekolah. Dimulai dari masuk ke pintu gerbang hingga ke loker sepatu lalu koridor kelas. Hampir semua gadis yang bertemu dengannya di jalanan sekolah ini melihat ke arahnya dengan tatapan tak suka dan sinis. Sesekali mereka juga memaki Sakura secara tidak langsung.

Ya, mau bagaimana lagi. Memang benar laki-laki menyebalkan itu sudah tiga hari tidak masuk ke sekolah. Dan mengenai insiden perpustakaan itu sudah menyebar ke seluruh sekolah dengan Sakura sebagai pelaku utamanya. Sekarang ini Sakura benar-benar dianggap sebagai buronan yang dicari-cari oleh kepolisian pusat!

Benar kata Ino. Kiamat untuk Sakura sebentar lagi akan datang. Dia akan merasakan apa namanya bullying yang sering terjadi di sekolah-sekolah dan diberitakan di televisi dan surat kabar.

Walaupun begitu, coba saja kalau mereka berani!

Hh, walaupun dikatakan begitu Sakura tetap saja merasa takut. Jelas saja, mereka begitu banyak. Dan perlahan-lahan nanti semua gadis di sekolah ini yang memuja laki-laki sialan itu akan jadi musuhnya. Sakura hanya tidak mengira ternyata dia benar-benar idola di sekolah ini dengan fans yang begitu bejibun.

Kenapa bisa seseorang seperti dia punya banyak fans sih?!

Ah, tunggu. Kalau seseorang itu seperti Uchiha Sasuke rasanya bukan aneh kalau dia banyak fans. Dilihat dari segi mana pun dia memang layak digandrungi, dipuja dan dicintai. Walau sikap dan sifatnya sangat minus! Setidaknya itu pendapat Sakura secara pribadi sih.

Akhirnya… safeeeee!

Dengan perjalanan yang rasanya amat panjang dari gerbang menuju sekolahnya sambil menulikan pendengarannya hingga membuat telinga Sakura memerah saking sialannya para gadis itu mengatainya dengan segala macam hal berlebihan yang amat buruk akhirnya Sakura tiba juga di kelasnya. Sesampainya di kelas, Sakura langsung duduk di kursinya dan meletakkan kepalanya di atas meja. Kalau begini caranya, Sakura bisa kehilangan masa muda karena bullying seperti ini kan? Padahal dia masih ada di sini sampai dua tahun kurang sedikit lagi. Masa iya dalam kurun waktu selama itu Sakura akan hidup seperti ini hanya karena satu orang laki-laki menyebalkan?

Bukannya Sakura tidak berterima kasih sih karena sudah ditolong, tapi kalau begini keadaannya seharusnya Sakura saja yang tertimpa tangga dan kardus itu. Dengan begitu tidak akan ada yang mem-bully-nya seperti ini kan?

"Ada apa denganmu pagi begini sudah lemas begitu?"

Sakura menoleh dengan enggan meski masih meletakkan kepalanya di atas mejanya.

"Oh Ino, selamat pagi…" sapa Sakura dengan suara lemahnya.

"Ada apa denganmu sih? Dasar aneh!"

Ino kemudian segera duduk di kursinya yang memang tepat bersebelahan dengan Sakura. Kursi Sakura sendiri ada di dekat jendela paling pinggir. Mereka juga duduk di barisan tengah yang tidak terlalu ke belakang.

"Sepertinya benar katamu…"

"Hah?" sahut Ino tak mengerti.

Sakura kemudian mengangkat kepalanya sambil menopang dagunya dengan satu tangannya dan memandang ke jendela luar.

"Sepertinya aku pindah sekolah saja…"

"Hei! Masa kau begitu mudah dikalahkan hanya karena masalah sepele begini sih? Memangnya kau mau pindah kemana hah?"

"Tapi aku juga tidak bisa hidup seperti ini terus tahu! Masa mudaku… ah!"

"Itu memang benar. Kurasa kau memang harus bertanggungjawab."

"Bertanggungjawab? Hei, sudah kulakukan kemarin, tapi dia itu… ugh! Mengingatnya saja bikin kesal tahu!"

"Mau bagaimana lagi, sifatnya kan memang menyebalkan. Kalau dipikir-pikir itu kan memang salahmu. Sudah seharusnya kau bertanggungjawab padanya. Setidaknya kalau kau bertanggungjawab kan… mungkin semuanya lebih mudah."

"Apa sih maksudmu? Lagipula, memang bagaimana aku bertanggungjawab padanya?"

"Itu yang harus kau pikirkan caranya, Jidat Lebar!"

"Kau malah tidak membantu sama sekali…" rengek Sakura.

Iya Sakura juga tahu sih kalau ini memang salahnya. Tapi mau mulainya darimana coba?

Setiap kali Sakura mengingat laki-laki itu rasanya… ugh!

.

.

*KIN*

.

.

Siang ini, begitu bel istirahat berbunyi, Sakura langsung keluar menuju perpustakaan. Rasanya Sakura sudah cukup lelah dengan semua tatapan membunuh dari semua orang yang melihatnya hari ini. Seakan-akan Sakura adalah buronan yang lepas dari pengawasan kepolisian saja.

Tapi begitu tiba di depan pintu perpustakaan, Sakura baru ingat jika setelah insiden naas itu, perpustakaan jadi ditutup untuk beberapa hari ke depan. Setidaknya sisa kardus dan beberapa tangga yang mengganggu itu bisa disingkirkan segera sih. Sekarang apa yang bisa Sakura lakukan?

Alhasil, Sakura hanya bisa memilih tempat yang sepi di sekolah ini selain perpustakaan. Tapi, kemungkinan tempat yang sepi itu bisa ada dimana? Rasanya mustahil menemukan tempat yang sepi di sekolah ini kecuali perpustakaan yang memang notabene-nya tempat yang cukup horror untuk anak-anak lainnya yang cenderung alergi dengan tumpukan buku-buku menyeramkan itu.

Saat sedang berjalan-jalan sembari memeluk buku-bukunya, Sakura kemudian berpikir lagi.

Apa yang dialami oleh Sasuke kali ini adalah murni kesalahannya. Sakura memang tidak minta diselamatkan sih sebenarnya, tapi Sasuke yang menyelamatkannya juga bukan kesalahan Sakura. Hanya saja, dasar sialnya memang Sakura yang jadi harus kambinghitam karena perbuatan bodoh Sasuke itu. Kalau dia menyadari sepenting apa tubuhnya karena dia adalah seorang atlit, mana mungkin dia dengan cerobohnya justru menyelamatkan Sakura begitu saja.

Tapi tetap saja…

Benar kata Ino. Sakura harusnya bertanggungjawab di sini. Jika Sakura memikirkan posisi Sasuke yang ditukarkan padanya, pasti Sakura akan merasa kesal bukan main karena pelaku yang membuatnya mengalami cedera seperti itu pergi begitu saja bahkan berpura-pura tidak tahu apapun dan menyalahkan Sasuke sendiri. Rasanya Sakura jadi manusia yang tidak tahu terima kasih karena sudah diselamatkan. Pasti menyebalkan rasanya jika Sakura ada di posisi itu. Tidak hanya Sakura, pasti semua orang pasti akan merasa kesal karena ditelantarkan begitu saja oleh orang yang tidak bertanggungjawab seperti itu. Bahkan… secara kasarnya, Sakura memang nyaris merenggut masa depan cemerlang yang sudah ada di depan mata Sasuke saat itu. Sudah jelas, bahwa atlit hebat seperti Sasuke pasti akan diterima oleh universitas bergengsi yang memiliki nama di dunia internasional. Apalagi bakatnya yang hebat itu tidak diragukan lagi masa depannya akan cerah bersinar seperti matahari. Apalagi Sasuke sudah sering ikut turnamen nasional yang mengharumkan namanya. Jika berakhir seperti ini saja karena Sakura…

Ah, mau dipikir ribuan kali juga sebenarnya… beban ini begitu berat.

Bukannya Sakura tidak memikirkannya. Setiap malam Sakura jadi sulit tidur memikirkan ini. Diserang rasa tidak tenang seperti ini membuatnya merasa hidup di neraka. Belum lagi mengenai cibiran anak-anak di sekolah yang terlanjur tahu mengenai insiden naas itu.

Sepertinya… Sakura memang harus melakukan sesuatu untuk membuatnya merasa damai.

Dia tidak mau merasa bersalah karena menjadi penyebab malapetaka yang menimpa idola sekolahnya itu. Sakura juga tidak mau dicap sebagai orang yang tidak mau bertanggungjawab dan melarikan diri begitu saja.

Walaupun bisa dibilang, Sakura sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan?

"Oi, Sasuke! Coba pikirkan dulu!"

Secepat mungkin Sakura menyembunyikan dirinya begitu mendengar suara yang memanggil nama orang yang beberapa hari ini mengacaukan pikirannya dan hidupnya. Sakura pun memeluk erat-erat buku yang dipegangnya sedari tadi.

"Sudah kupikirkan, Suigetsu."

"Tidak! Kau tidak memikirkannya sama sekali! Hei, cederamu kan masih bisa sembuh? Kenapa mendadak ingin keluar dari klub? Kau pikir semua orang akan setuju dengan pilihanmu? Apalagi Coach Kakashi yang sangat berharap besar pada kemampuanmu itu!"

"Aku juga akan bicara dengannya. Setelah menyerahkan surat pengunduran diriku pada Ketua Klub."

Apa?! Serius?

Tunggu, kenapa Sakura tidak tahu kalau orang ini tiba-tiba sudah masuk ke sekolah? Sejak kapan dia ada di sekolah? Apa sebelum Sakura datang ke sekolah dia sudah ada? Dia bahkan masih memakai penyangga bahunya dan tangan yang diperban itu. Bagaimana dia bisa keluar dari rumah sakit begitu saja?

Astaga! Bukan itu masalahnya!

Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia serius ingin berhenti?

Tiba-tiba saja kaki Sakura bergerak sendiri, bahkan dia nyaris berlari. Tentu saja ini diluar nalarnya sendiri. Entah mengapa Sakura bergidik ngeri membayangkan kalau sampai malapetaka akan mendatangi dirinya seperti ini. Sakura masih ingin menyelesaikan sekolahnya dengan tenang tanpa ada sedikit pun masalah dan jika ini bisa jadi masalah… apa yang akan terjadi pada Sakura?!

Karena Sakura yang berlari itu, sekarang dirinya sudah berhenti tepat di depan Sasuke yang kontan terkejut melihat kedatangan gadis malapetaka yang sudah mengacaukan segalanya itu.

"Kau—apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke terkejut.

"Bagaimana pun kau tidak boleh berhenti dari klub!"

Langsung saja Sakura merebut amplop putih yang dipegang Sasuke sedari tadi itu. Setelah dapat Sakura pun langsung berlari lagi menjauh dari Sasuke yang melongo melihat aksi nekat gadis berambut pink itu.

"Apa-apaan… Hei! Apa-apaan kau hah?!" pekik Sasuke akhirnya. Walaupun begitu sekarang gadis bermasalah itu sudah menghilang dari ujung koridor.

Suigetsu tersenyum lebar, nyaris tertawa melihat aksi nekat gadis berambut pink itu. Jadi dia mau membantu sekarang? Suigetsu rasa itu bukanlah ide buruk…

"Suigetsu! Bantu aku menangkap gadis itu!" perintah Sasuke.

"Kau harus berterima kasih padanya karena sudah membuang surat bodohmu itu tahu, ah~ atau aku saja yang berterima kasih padanya karena sudah menghalangi niat bodohmu itu?"

"Suigetsu!"

"Jaa naa Sasuke, kita ketemu di kelas nanti!"

Bahkan Suigetsu pun ikut-ikutan…

.

.

*KIN*

.

.

Sakura akhirnya kembali ke kelas dan segera duduk di kursinya dengan cepat. Jantungnya berdebar keras bahkan Sakura bisa mendengar debaran jantungnya sendiri. Astaga… apa yang dia lakukan barusan? Benarkah Sakura yang… tadi melakukannya?

"Hei."

Sakura langsung terlonjak kaget, hingga membuat dirinya terjungkal dari kursinya sendiri. Langsung saja Sakura merasakan sakit luar biasa karena terjatuh begitu mendadak dari tempat duduknya sendiri. Sekarang setelah jantungnya kini tubuhnya ikut menderita!

"Ada apa denganmu? Heboh sekali…"

"Ino! Astaga! Kau mau membunuhku hah?"

"Bagaimana bisa aku membunuhmu? Aku kan cuma menyapamu saja."

"Tapi kau mengagetkanku!"

"Memang apa yang kau lakukan? Sepertinya sibuk sekali…"

Sakura akhirnya kembali duduk di kursinya.

Setelah menstabilkan dirinya sendiri, akhirnya Sakura mengeluarkan sebuah amplop putih yang dipegangnya dengan erat sedari tadi. Bahkan amplop itu sudah kusut karena Sakura menggenggamnya begitu erat ketika berlari kemari. Sakura juga masih menatap amplop putih itu yang sekarang sudah berada di atas mejanya.

"Apa ini?" Ino mengambil amplop itu dan membukanya.

Tulisan di bagian depan amplop sih surat pengunduran diri. Tapi memangnya siapa yang—

"Hah?! Hei, kau dapat darimana ini?!" pekik Ino heboh setelah membaca dengan seksama apa isi amplop misterius itu.

"Aku merebutnya…"

"Hah? Apa katamu? Serius? Kau… kau mengambilnya dari Sasuke langsung?"

"Aku tidak tahu apa yang kulakukan tadi! Semuanya terjadi begitu saja… haaa… sekarang pun aku masih merasa takut tanpa sebab…" keluh Sakura.

"Jadi dia serius mau berhenti dari klub-nya. Wah, kau benar-benar dalam masalah Sakura," kata Ino dengan wajah pucat.

"Ino~ bantu aku! Aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku di sekolah ini dengan rasa ketakutan seperti ini. Astaga… memangnya dosa apa yang kuperbuat di masa lalu sampai harus berurusan dengan orang seperti Sasuke?!" rengek Sakura.

"Aku juga tidak tahu… pokoknya yang jelas surat ini jangan sampai jatuh ke tangan siapapun. Kau bisa mati kalau ada yang tahu, apalagi fans-nya!"

"Haaa? Yang benar saja! Masa aku yang harus menyimpan surat ini sih? Kau saja!"

"Kan kau yang ambil! Sudah sana, pokoknya jangan sampai diketahui oleh yang lain!"

"Ino!"

Sekarang Sakura malah menatap horror pada surat terkutuk itu. Kenapa pula dia yang harus mengambilnya tadi sih?

Jadi mau diapakan surat ini? Dibakar? Dibuang? Atau ditenggelamkan ke laut Jepang?

Sampai jam terakhir Sakura sama sekali tidak bisa berkonstrasi pada apa yang diterangkan oleh guru di depannya. Matanya terus menerus fokus pada amplop putih terkutuk ini. Ya, biar bagaimana pun jangan sampai laki-laki sialan itu keluar dari klub-nya. Kalau sampai dia keluar semua bencana akan terjadi di dalam hidup Sakura. Mau dia cedera atau bahkan cacat sekali pun dia tidak boleh keluar dari klub-nya!

"Jadi, siapa yang mau menceritakan apa impian kalian kelak?"

Walaupun sebenarnya Sakura sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Sasuke saat ini, dan alasan sebenarnya kenapa dia memilih keluar dari klub yang sudah membesarkan namanya dan nama sekolah ini, Sakura tidak akan membiarkan itu terjadi. Sebenarnya itu memang bukan urusan Sakura sih mau Sasuke keluar atau tidak, tapi yang jelas kan penyebab utamanya cedera Sasuke itu memang karena Sakura, jadi mau tidak mau ya memang ini tanggungjawab Sakura. Dan tentu saja sebenarnya Sakura merasa bersalah berbicara seperti itu pada Sasuke saat menjenguknya di rumah sakit dulu.

"Haruno-san?"

Ya, Sakura tidak boleh bersikap seperti itu harusnya. Bukannya Sakura berlebihan atau apa. Tapi dia memang harus bertanggungjawab. Paling tidak, Sakura harus mencegah Sasuke keluar dari klub-nya. Atau setidaknya membiarkan dia bertahan di sana sampai cederanya sembuh. Kan cedera-nya tidak akan membuatnya cacat bukan?

"Haruno Sakura-san?"

"Hai!"

Sakura reflek terkejut saat namanya dipanggil dengan suara yang begitu dekat. Astaga… Shizune Sensei sudah berdiri di depan mejanya sambil bersedekap dada. Kontan saja Sakura langsung duduk dengan posisi tegap dan gugup. Sekarang perhatian semua anak ada padanya. Bagus sekali!

"Haruno-san, bagaimana kalau kau yang pertama menceritakan impianmu pada kami semua? Kulihat tadi kau begitu serius memikirkannya?"

Hah?

Apa maksudnya itu? Impian?

"Impian?" ulang Sakura kikuk.

"Iya, impian. Semua orang punya impian kan? Tidak terkecuali siapapun di dunia ini pasti memiliki impian. Impian itulah yang membuat kita untuk berjuang terus mendapatkanya kan? Nah, apa impianmu?"

"Ano, aku belum… memikirkannya…" lirih Sakura.

"Apa? Kau belum memikirkan impianmu? Apakah di sini masih ada yang belum memikirkan impiannya?"

Shizune Sensei mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. Tidak ada yang menyahut dan yang artinya semua orang punya impian kecuali Sakura sendiri.

"Haruno-san, seharusnya kau tidak boleh menyia-nyia masa mudamu seperti ini. Sekarang adalah saat dimana kau harus memikirkan impianmu. Apa jadinya jika kau tidak punya impian bahkan melepaskan impianmu begitu saja? Apa kau masih memiliki gairah hidup jika tak punya satu pun impian? Karena impian itu bukan sekadar mimpi, tapi masa depanmu. Apa jadinya jika dirimu tanpa masa depan?"

Sakura tertegun mendengar kata-kata terakhir dari Shizune Sensei.

Apa jadinya… dirimu tanpa masa depan?

"Baiklah, kita biarkan Haruno-san mencari impiannya dulu. Siapa yang mau melanjutkannya?"

Shizune Sensei kembali berjalan-jalan ke sekitar kelasnya dan mulai mencari-cari korban selanjutnya yang akan menceritakan impian mereka kelak.

Impian itu… bukan sekadar mimpi. Tapi masa depan…

Sasuke… pasti punya impian juga kan?

Apakah… Sakura sudah menghancurkan impian Sasuke karena kecerobohannya?

.

.

*KIN*

.

.

Ino sudah pulang lebih dulu tadi, sepertinya dia ada janji kencan entah dengan siapa. Sekarang Sakura masih berada di dalam kelas seorang diri. Ya, Sakura akhirnya mendapatkan balasan karena melamun ketika pelajaran Shizune Sensei tadi. Makanya sekarang Sakura harus menyerahkan satu esai tentang apa yang mereka pelajari hari ini berikut dengan kesan dan pesan dari Sakura. Karena harus diserahkan hari ini, Sakura tak punya waktu lagi untuk pulang ke rumah selain mengerjakannya di sekolah saja.

Sedikit lagi Sakura akan menyelesaikannya esainya. Walaupun sebenarnya Sakura bisa saja menyelesaikannya di rumah dan meletakkannya di meja Shizune Sensei sebelum beliau datang, tapi Sakura tidak mau melakukannya hal curang seperti itu. Lagipula Sakura juga tidak punya tugas lain yang menumpuk. Semua sudah dikerjakannya dengan tepat waktu. Jadi sekarang Sakura akan menyelesaikannya—

"Jadi ini kelasmu?"

Begitu menoleh ke arah pintu masuk, Sakura terbelalak bukan main saat melihat siapa yang ada di sana dengan wajah angkuh dan dinginnya itu.

Astaga…

Sakura langsung memalingkan wajahnya, menghindar. Dan menulis esainya secepat yang dia bisa. Gawat! Bagaimana dia bisa tahu Sakura masih ada di sekolah sih?!

"Hei! Kau mengabaikanku?"

Sakura berusaha untuk tidak mendengar suara makhluk itu. Biar bagaimana pun Sakura sebenarnya belum siap untuk—

"Hei Rambut Pink!"

"Hei! Namaku Haruno Sakura tahu!" gertak Sakura akhirnya.

Dan sialnya si pemilik wajah tampan ini sekarang sudah berdiri di depan mejanya. Sialnya lagi sebenarnya esai Sakura baru saja selesai. Sekarang dia tidak bisa kabur lagi kalau Sasuke malah berdiri di depannya seperti ini.

"Oh, kau punya nama juga. Hei, kembalikan suratku!" perintah Sasuke pula.

Dengan tangan seperti itu, dia masih bisa bersikap sombong dan kelewatan. Sakura jadi ingin tahu kalau benar tangannya sampai cacat apa dia masih bisa bersikap sombong seperti itu?

"Sudah kubuang," jawab Sakura enteng sembari menyusun buku-bukunya ke dalam tasnya sekarang. Sakura juga berusaha untuk tidak melihat ke arah laki-laki berambut gelap itu.

"Hah?! Berani sekali kau membuang barang milik orang lain hah?!" bentak Sasuke.

Sakura kemudian berdiri dari tempat duduknya dan balas menyolot pada Sasuke.

"Memang kau mau apa? Mau memukulku? Boleh saja! Tapi dengan tangan seperti itu, aku yakin pasti kau duluan yang babak belur!" maki Sakura.

"Apa?! Hei, kau ini gadis terseram yang pernah kulihat. Bagaimana mungkin kau mau menghajar seseorang yang barangnya sudah kau rampas hah? Kau jadi tidak ada bedanya dengan perampok tahu!"

"Terserah kau mau mengatakan apa. Pokoknya kau—Uchiha Sasuke—aku melarang keras kau untuk keluar dari klub-mu!"

Sasuke mendengus geli mendengar kata-kata aneh dari gadis ini.

"Waktu kau datang ke rumah sakit itu, bukannya kau sendiri yang mengatakan kalau kau sama sekali tidak peduli aku mau keluar dari klub atau tidak. Kau juga tidak peduli tanganku patah atau cedera. Sekarang ada apa denganmu sebenarnya?"

"Sekarang aku menarik lagi semua kata-kataku. Kau, tidak boleh keluar dari klubmu. Meskipun tanganmu patah, aku yakin kau masih bisa berada di sana. Jadi, kau sama sekali tidak boleh keluar!"

"Kau pikir jika tanganku patah, bagaimana aku bisa ada di klub itu hah?"

"Pasti ada caranya! Pokoknya kau tidak boleh keluar dari sana!"

"Kau benar-benar sudah sakit jiwa ya?"

"Terserah kau mau mengatakan apa. Karena… karena… etto… aku tidak mau… dianggap sebagai seseorang yang menghancurkan masa depanmu…"

"Hah? Kenapa kau malah berpikir begitu?"

"Kau pasti punya impian kan? Kata Shizune Sensei hari ini, impian itu sama dengan masa depan. Jadi… jika kau punya impian… kau pasti punya masa depan. Aku tidak mau… karena cedera seperti itu kau sampai kehilangan masa depanmu…"

"Hei, siapa yang mengatakan kalau impian dan masa depanku ada di dalam klub ini hah?"

"Karena… karena kau ada di klub ini. Kalau kau masuk ke klub ini… setidaknya kau punya harapan untuk mencapai impian dan masa depanmu kan? Apalagi… dengan prestasimu… sangat mudah untuk masuk ke universitas mana pun dengan beasiswa. Makanya, kau… jangan berhenti dari klub itu…"

Sasuke terdiam mendengarnya kata-kata gadis itu.

Selama ini, tidak ada yang mengatakan hal seperti itu padanya. Sasuke pikir, apa yang diinginkannya tidak akan ada pengaruhnya dengan orang lain. Tapi gadis ini…

"Impian… atau masa depanku, itu jelas bukan urusanmu. Jadi kau tidak perlu ikut campur terlalu jauh dengan masalahku."

"Tidak! Itu sama sekali tidak benar! Justru sangat berhubungan. Cederamu itu kan karena aku. Setidaknya, setelah cederamu itu sembuh, kumohon jangan lakukan tindakan bodoh seperti keluar dari klub itu."

"Kalau cederaku sudah sembuh, kau mau apa?"

Sakura berhenti sejenak. Dirinya juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan… tapi…

"Itu… terserah padamu… karena cederamu sudah sembuh, jadi aku… tidak akan merasa bersalah apapun lagi padamu…" kata Sakura dengan suara yang mulai mengecil.

Sasuke tersenyum tipis, namun itu bukan seperti senyum biasanya. Seperti… senyum seorang Lucifer… heh?

Sakura bertambah gugup di saat seperti ini. Dia sudah mengatakannya walaupun sepertinya Sakura terdengar seperti tengah menyerahkan nyawanya pada Dewa Kematian. Tapi ini satu-satunya cara supaya si sialan ini berpikir dua kali untuk tidak keluar dari klub-nya.

"Hoo, begitu. Baiklah, aku tidak akan keluar dari klub itu. Asal—"

Sakura sudah mengutuk dirinya.

Benar, seharusnya dia keluarkan saja surat sialan itu dan memberikannya pada Sasuke supaya dia pergi jauh-jauh dari hidup Sakura. Tapi bagaimana ini… sudah tidak bisa mundur lagi…

"—kau menjadi tangan kananku."

"Hah?! Apa maksudmu jadi tangan kananmu hah? Bagaimana caranya aku bisa jadi tangan kananmu? Aku juga tidak bisa—"

"Banyak hal yang bisa kau lakukan jadi tangan kananku. Kalau kau setuju, aku bersumpah tidak akan keluar dari klub ini apapun yang terjadi sampai cedera-ku sembuh. Bagaimana?"

"Hei, kenapa kau jadi membuat semuanya jadi rumit begini? Tanpa aku pun, kau bisa mendapat bantuan lebih banyak jika kau memintanya pada fans-mu itu…"

"Hm, bukankah kau mau bertanggungjawab karena hampir menghancurkan impian dan masa depanku? Ah~ kau juga mau bertanggungjawab karena sudah menyebabkan cedera di tangan dan bahuku. Bagaimana? Kalau kau tidak mau… ya aku bisa membuat surat pengunduran itu lagi, dengan bantuan FANS-KU!"

Kontan saja Sakura terbelalak mendengarnya.

Apa?! Membuat surat pengunduran dengan bantuan fans-nya?! Dia mau membunuh Sakura ya?! Dasar Iblis sialan!

.

.

*KIN*

.

.

Sakura tidak tahu apa maksud si sialan itu menyuruh Sakura menunggu Sasuke di stasiun pagi ini sebelum jam setengah delapan pagi. Sakura bahkan harus bangun lebih pagi supaya bisa mengejar kereta jam 7 agar tidak terlambat. Karena kalau sudah lewat biasa kereta akan penuh dengan orang-orang yang berangkat ke kantor.

"Hei, Rambut Pink!"

Sakura langsung berbalik hendak mencekiki leher sialan yang memanggilnya seperti itu. Jelas saja, rambut pink jadi sangat mencolok terdengar. Memangnya Sakura tidak punya nama. Dan harusnya dia tahu siapa nama Sakura sebenarnya!

"Hei, sudah kukatakan namaku itu Haruno Sakura—"

Tiba-tiba sosok Sasuke sudah berdiri di hadapannya dan menyerahkan tas sekolahnya dengan tangan kirinya. Entah apa maksudnya menyerahkan tas itu dengan tangan terulur ke arah Sakura.

"Apa maksudmu?" tanya Sakura bingung.

"Tugas pertama jadi tangan kananku. Bawakan sampai ke kelas."

"Hah?! Kau gila! Kau masih punya tangan kiri dan bahu kiri yang masih sehat tahu! Bawa saja sendiri! Untuk apa menyuruh orang datang pagi begini hanya untuk membawakan tasmu!" amuk Sakura.

"Kau sudah setuju jadi tangan kananku kan? Oh, ingat juga kau yang menawarkan diri padaku untuk membantuku sampai cedera-ku sembuh kan? Jadi lakukan saja tugasmu dengan baik, Rambut Pink!"

Akhirnya Sasuke melemparkan tasnya dengan tangan kirinya ke arah Sakura. Untuk saja gerak reflek Sakura bagus sehingga mampu menangkapnya dengan cermat. Kalau tidak entah apa jadinya tas ini nanti.

Seharusnya Sakura sudah bisa menduganya ini yang akan terjadi…

Dasar kejam!

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Sakura terus berjalan dengan jarak di belakang Sasuke. Dia seperti sama sekali tidak peduli dengan Sakura yang berjalan sambil membawa dua tas seperti orang bodoh. Walaupun begitu apa yang bisa dikatakan? Memang ini kebodohan Sakura berasal dari kata tanggungjawabnya. Sakura jadi penasaran, bagaimana si sialan itu bisa mengganti pakaiannya kalau tangannya diperban dan dibebat begitu? Apa cederanya benar-benar parah? Rasanya tidak begitu. Kalau parah kan dia tidak bisa keluar dari rumah sakit secepat itu.

Akhirnya setelah perjalanan yang memalukan itu, Sakura tiba juga di kelas Sasuke. Langsung saja Sakura menghempaskan tas si atlit sekolah yang tengah cedera itu dengan mimik kesal bukan main karena diperlakukan dengan semena-mena.

"Ini, sudah kubawakan!" geram Sakura.

Sasuke hanya kembali duduk di kursinya sambil membuka isi tasnya dan mengeluarkan beberapa buku. Hei, apa-apaan sikapnya itu?

"Kau masih di sini?" tanya Sasuke dengan wajah tanpa dosa.

Apa?

Sakura melongo sejadi-jadinya. Dia tidak mengatakan apapun setelah Sakura berjuang keras membawa tasnya tadi?

"Sasuke, kau sudah datang? Eh…?"

Baru saja Sakura akan menyahuti kata-kata sialan itu, seorang gadis berkacamata dan berambut merah datang menghampiri meja Sasuke. Dia tampaknya terlihat sinis pada Sakura. Seperti tengah menyimpan dendam kesumat mungkin? Entahlah, memang sepertinya sejak masuk ke kelas ini Sakura sudah merasa diintimidasi oleh penduduk kelas ini. Terutama yang siswa perempuannya. Auranya sangat berbeda dan menakutkan.

"Kenapa… gadis ini ada di sini? Dia kan yang menyebabkan cederamu itu?" tembak gadis berambut merah itu.

Jleb!

Entahlah, rasanya seperti tertusuk anak panah yang melesat dengan kecepatan 180km/jam. Sakitnya tuh… oh sudahlah.

"Oh ya Karin, mulai hari ini, aku sudah ada asisten yang akan membantuku menjadi tangan kananku. Jadi kau tidak perlu membantuku lagi mulai hari ini," ujar Sasuke kemudian.

"Asisten?" ulang gadis bernama Karin itu dengan kening berkerut bingung.

"Iya, dia yang menawarkan diri untuk membantuku sampai cedera-ku sembuh."

Karin kembali menoleh kepada Sakura yang menunduk diam tanpa berkata apapun. Rasanya seperti tengah dipelototi sedemikian dalamnya sampai-sampai Sakura yakin gadis itu tengah menelanjanginya dengan tatapan matanya. Menakutkan… sepertinya semua gadis-gadis yang berada di sekeliling Sasuke adalah orang-orang yang mengerikan.

"Kau yakin dia mau membantumu tanpa maksud terselubung? Pertama dia yang membuatmu cedera karena tingkah bodohnya. Sekarang dia ingin membantuku setelah sempat memakimu di rumah sakit waktu itu?" jelas Karin.

"Karena itulah dia di sini untuk bertanggungjawab."

"Itu benar, Karin!"

Sakura terkejut luar biasa saat seseorang tiba-tiba merangkulkan sebelah tangannya ke sekitar bahu Sakura. Kontan saja Sakura menghindar dengan cepat sampai-sampai pinggulnya menabrak meja di sebelahnya dengan kuat. Bunyi berderit meja yang tergeser karena Sakura itu begitu keras sampai-sampai semua penghuni kelas ini memandanginya dengan tatapan sinis bukan main. Menakutkan sekali berada di kelas ini lebih lama.

"Nah, aku sudah selesai di sini, aku pergi dulu!" ujar Sakura dengan tergesa.

"Hei!"

Belum sempat Sakura menghindar dari Suigetsu yang sudah tiba-tiba muncul di sebelahnya tadi, suara arogan itu terdengar lagi.

"Apalagi kali ini?"

"Kau harus ke perpustakaan jam istirahat ini. Jangan lupa, tangan kanan!"

Hah?! Tadi rambut pink, sekarang tangan kanan! Dia benar-benar mau mati!

Sakura segera pergi begitu saja. Astaga, pinggulnya sakit sekali tadi. Sakit dan malu. Cocok.

Suigetsu terkekeh melihat tingkah polos gadis berambut pink itu.

"Suigetsu, apa maksudmu tadi?" tanya Karin.

"Karena dialah yang mengambil surat bodoh Sasuke kemarin. Dia adalah penyelamat klub kita," ujar Suigetsu kemudian.

"Penyelamat? Aku tidak percaya dengan gadis itu. Mungkin dia hanya ingin mengambil perhatianmu saja, Sasuke. Sebaiknya kau tidak usah terlalu dekat dengannya."

Sasuke hanya tersenyum tipis. Tidak menanggapi sama sekali kata-kata Karin yang terlontar tadi.

.

.

*KIN*

.

.

Jam istirahat sudah berbunyi.

Rasanya malas sekali Sakura mau pergi ke perpustakaan. Tadi saja dia hampir terlambat kembali ke kelas karena pas bel dia baru tiba di kelasnya. Entah apalagi yang akan dilakukan Sasuke jika Sakura terus menerus menuruti semua omong kosong bodoh laki-laki tampan itu.

"Wah, akhirnya kau benar-benar menempel pada Sasuke-kun ya?" bisik Ino.

"Ck, kenapa kau malah ikut-ikutan sih?"

"Bagaimana caranya kau bisa menempel begitu pada Sasuke-kun?" goda Ino lagi.

"Sudahlah, aku sedang tidak mood untuk meladenimu. Ah, semoga saja ini tidak lebih buruk…" keluh Sakura.

"Hei, di saat semua anak perempuan berlomba-lomba jadi tangan kanan Sasuke, kau malah mengeluh seperti itu. Padahal yang menyebabkan cederanya itu kan dirimu! Seharusnya kau senang Sasuke tidak melaporkan ke polisi karena sudah mencelakai dirinya."

"Hah?! Yang benar saja! Masa polisi?! Kan itu bukan sengaja! Aku juga tidak tahu kalau… kalau…"

"HARUNO SAKURA!"

Sakura langsung berdiri dari kursinya karena kaget luar biasa namanya disebut sedemikian lengkap. Begitu pula dengan seisi kelas yang belum sempat keluar dari kelasnya. Apalagi sekarang ini…

Ternyata di depan pintu kelasnya, Sasuke sudah berdiri di sana dengan gaya angkuhnya seperti biasa. Dan ya, seperti biasanya dia lewat, gadis-gadis penggemarnya yang melihatnya datang tiba-tiba seperti ini setengah berteriak heboh di sana. Mau tidak mau, Sakura pergi dari kursinya. Ino bahkan tersenyum geli melihat sahabatnya itu keluar dengan enggan menemui bintang sekolah itu.

Sekarang Sakura sudah berdiri di depan Sasuke dengan wajah menunduk.

"Kau sengaja mangkir dari tugasmu hah? Bukannya kau yang mau tanggungjawab?" seru Sasuke.

"Aku tidak mangkir! Aku… aku belum selesai menyalin catatan tadi…" alasan Sakura.

"Ikut aku sekarang."

"Kemana?"

"Ikut saja!"

"Jangan marah-marah padaku!"

Lagi-lagi Sakura berjalan di belakang Sasuke dengan jarak. Laki-laki itu tampak biasa saja melewati koridor sekolah yang penuh dengan gadis-gadis yang mengidolakannya. Rasanya ketika Sasuke lewat, seakan ada begitu banyak bunga-bunga bertebaran untuk mengiringi langkah si bintang sekolah meskipun dia sama sekali tidak peduli. Tapi begitu Sakura yang lewat, seperti ada begitu banyak api-api menyala seakan ingin membakar Sakura hidup-hidup yang tentu saja membuatnya merinding hebat. Apalagi tatapan membunuh dari mereka yang melihat Sakura berjalan di belakang Sasuke. Ini benar-benar mengerikan.

Rupanya setelah mereka berjalan, Sasuke tidak menuju perpustakaan.

Tapi ruang guru.

Ruang guru?

"Kakashi Sensei."

Sasuke berhenti di meja Hatake Kakashi Sensei yang mengajar mata pelajaran Sastra Jepang dan sekaligus sebagai pelatih dari klub renang. Ya, itu klub yang diikuti oleh Sasuke. Tidak percaya kan bagaimana sosok Lucifer seperti ini justru sangat lincah di dalam air.

Mungkin dia salah satu hiu laut pembunuh.

"Oh, kau sudah datang. Astaga, cedera-mu jauh dari bayanganku."

Kakashi Sensei memutar kursinya untuk berhadapan dengan Sasuke yang berdiri di depannya. Kakashi Sensei termasuk guru muda di sekolah ini dan tampan. Dia juga memiliki banyak penggemar, bahkan ada fan club sendiri di sekolah ini. Tidak seperti Sasuke, Kakashi Sensei sangat ramah dengan semua orang karena cara bicaranya yang menyenangkan. Tapi tetap saja kalau mengawas ujian jadi sangat mengerikan.

"Ada Sensei memanggilku?" tanya Sasuke.

"Bagaimana dengan cederamu? Apakah… cederanya parah?"

"Dokter mengatakan bisa sembuh dalam beberapa bulan."

"Sebelum turnamen musim panas, bagaimana?"

Sasuke diam sejenak. Ragu untuk menjawab. Sakura sendiri tidak tahu sejauh mana cedera yang dialami Sasuke. Dan yang membuat Sakura bingung, kenapa dia malah ikut kemari?!

"Sasuke, beasiswa yang kau inginkan itu bisa kau dapatkan jika kau ikut dan memenangkan turnamen musim panas ini. Selain itu, tidak ada kesempatan lain. Karena tahun depan, sudah ada Olimpiade dunia. Jadi mereka ingin kau mempersiapkan itu setelah turnamen musim panas ini. Apakah kau bisa?"

Sasuke menoleh sejenak ke arah Sakura yang masih tertunduk itu. Memandang remeh padanya karena perkataan Kakashi Sensei tadi. Seolah-olah menunjuk Sakura tepat ke jantungnya karena Sakura semua itu terancam bahaya sekarang. Rasa bersalah bertambah lagi.

"Sensei, ada hal yang belum sempat kusampaikan padamu. Jadi akan kukatakan sekarang saja. Beasiswa itu… aku membatalkannya."

Apa?!

"Apa? Kenapa tiba-tiba? Bukannya sampai tahun kemarin kau begitu giat berlatih karena ingin beasiswa itu. Kalau tidak… Sasuke, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Tapi beasiswa ini tidak datang setiap saat dan bukan dengan orang yang sembarangan. Kau sudah dipilih artinya kau yang terbaik di Jepang ini. Masa mau kau batalkan begitu saja."

"Untuk turnamen musim panas, aku tidak berjanji bisa ikut. Dan soal beasiswa itu, aku benar-benar minta maaf," Sasuke menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Kakashi Sensei akhirnya tak bisa berkata apa-apa lagi. Sasuke adalah anak didiknya yang keras kepalanya. Sekali dia memiliki keinginan apapun akan dilakukannya. Susah memaksa seseorang seperti Sasuke ini. Kalaupun memaksanya, yang ada dia bisa berbuat nekat karena tidak mau dipaksa.

"Kalau Sensei tidak ingin mengatakan apapun lagi, aku mohon pamit."

"Sasuke, aku tahu dengan kondisimu sekarang kau tidak bisa melakukan apapun. Tapi sebagai pelatih, aku mohon padamu untuk datang ke klub usai pulang sekolah ini. Klub kita mengadakan latih tanding dengan RTN Academy. Kau hanya perlu menonton saja."

Sasuke kembali menunduk dan kemudian pergi meninggalkan meja Kakashi Sensei. Sepertinya sejak tadi kehadiran Sakura sama sekali tidak diperhatikan ya?

Sekarang setelah mereka keluar dari ruang guru itu, rasa penasaran Sakura tak bisa terbendung lagi. Walaupun tahu sifat Sasuke seperti apa, tapi orang ini…

"Hei, apa itu benar?" kali ini Sakura tidak lagi berjalan di belakang Sasuke. Sakura mempercepat langkahnya untuk berdiri sejajar dengan laki-laki berambut gelap ini.

"Bukan urusanmu," jawab Sasuke cuek.

"Kenapa kau membatalkan beasiswa itu? Kau sanggup untuk ikut turnamen musim panas, tapi kenapa kau tidak mau ikut beasiswa itu? Bukankah itu terdengar bodoh? Kakashi Sensei juga mengatakan kau sudah berlatih keras belakangan ini demi beasiswa itu. Jadi sekarang—"

Sasuke berhenti berjalan dan menoleh dengan tatapan tajam ke arah Sakura yang kontan langsung terdiam pula. Sekali lagi Sakura menghindari tatapannya dari Sasuke dan menundukkan kepalanya.

"Dengar, itu sama sekali bukan urusanmu tahu! Kau tidak perlu menceramahiku untuk urusan yang tidak penting. Sekarang satu-satunya urusanmu adalah jadi tangan kananku! Tidak lebih!"

Nah kan, itu dia. Sakura sudah tahu dia pasti akan marah seperti ini. Orang ini mudah sekali marah sih. Sensitif. Apa dia PMS? Seperti perempuan saja.

"Baiklah, aku minta maaf," kata Sakura akhirnya tak enak. Tentu saja, Sakura sebenarnya tidak mau ikut campur masalah orang ini terlalu jauh kok.

"Tadinya aku mau menyuruhmu melakukannya di perpustakaan saja. Tapi sepertinya tidak sempat. Sekarang kau kembali saja ke kelas, biar Suigetsu nanti."

"Hah? Kau mau apa memangnya dengan laki-laki bergigi menyeramkan itu?"

Sasuke diam mengabaikan kata-kata Sakura dan lekas pergi lebih dulu. Si sialan itu?! Apa sih maksudnya!

.

.

*KIN*

.

.

Sakura sempat membeli sekotak jus untuk menenangkan diri sebelum kembali ke kelas. Dan betapa kagetnya ketika dirinya melihat Suigetsu sudah berdiri di dalam kelasnya sembari membawa beberapa buku.

Hah?

"Hai."

Sakura langsung memasang jarak aman dari laki-laki menakutkan ini. Dia sama sekali tidak terlihat menyenangkan sedikit pun!

"Mau apa kau?!" bentak Sakura.

"Hei, kenapa kau malah begitu? Aku kemari mengantarkan ini."

Suigetsu memberikan beberapa buku tulis pada Sakura. Entah apa maksudnya.

"Apa itu?"

"Kiriman dari Sasuke. Dia mengatakan kau harus menyalin semuanya sebelum pulang sekolah nanti. Oh, kau harus mengantarkannya ke kelas setelah pulang sekolah nanti. Kalau kau kabur, aku akan menangkapmu!"

"Apa?!"

"Bukannya ini tugasmu sebagai tangan kanannya? Sasuke kan belum bisa menulis karena tangan kanannya cedera. Jadi… selamat bertugas!"

Suigetsu memberikan buku itu pada Sakura dan segera melenggang pergi meninggalkan kelas Sakura.

Dasar sialan. Dia benar-benar memanfaatkan Sakura sebagai tangan kanannya sekarang. Sepertinya dia benar-benar menikmati hal ini!

Awas saja dia!

Setengah kesal menahan hati, akhirnya Sakura membuka buku itu satu per satu.

Di sampul depan tertulis nama Uzumaki Karin. Karin? Nama gadis berambut merah dan berkacamata itu ya? Wah dia punya tulisan yang sangat rapi. Sepertinya hasil ketikan di komputer saja.

Berikutnya, Sakura membuka buku lainnya yang bertuliskan nama Uchiha Sasuke.

Sakura melongo lebih lagi.

Sasuke bukannya laki-laki? Tapi kenapa tulisannya jadi begitu… rapi?

Ini seperti tulisan perempuan.

Sakura mengakui kalau tulisannya tidak begitu rapi sih, tapi paling tidak masih bisa dibaca. Apa jadinya jika tulisan Sakura justru nangkring di buku milik Uchiha Sasuke.

"Uchiha… Sasuke? Hei, kenapa buku Sasuke ada di sini?" tanya Ino yang sudah duduk di depan meja Sakura.

"Tugas tangan kanan. Dia benar-benar menggunakanku dengan sangat efisien!" gerutu Sakura.

"Wah, tulisannya sangat rapi ya?"

Walaupun begitu, kau tidak bisa menebak orang dari tulisan tangannya kan? Siapa yang mengira orang seperti Sasuke memiliki tulisan tangan sebagus ini?

Sakura jadi penasaran… seperti apa sih sebenarnya sosok Uchiha Sasuke yang sesungguhnya itu?

.

.

*KIN*

.

.

"RTN Academy? Wah, kenapa aku baru dengar?" ujar Suigetsu ketika usai melaksanakan tugasnya mengantarkan buku catatan itu pada gadis bernama Haruno Sakura. Suigetsu suka sekali melihat ekspresi kesal gadis itu.

"Karena kau memang tidak pernah mendengar setiap kali Ketua Klub memberikan penjelasan di akhir latihan. Tapi Sasuke, bukankah kau sudah tahu ini?" tanya Karin kemudian.

"Maaf, aku tidak mendengarmu waktu itu," jawab Sasuke.

Karin kemudian diam kembali. Memang benar ada yang terjadi pada Sasuke ketika dirinya pergi selama satu minggu itu. Dia juga tidak menghubungi siapapun di sini selama kepergiannya itu. Dan setelah dia pulang, dirinya tampak kehilangan semangat untuk hidup. Kebanyakan dirinya hanya melamun dan mengabaikan semua kata-kata orang.

Sasuke berubah jadi sangat pendiam bahkan tak pernah bicara sedikit pun semenjak itu.

Entah Karin harus merasa senang atau tidak, tapi semenjak gadis berambut pink itu mengacaukan hidup Sasuke, setidaknya sekarang Sasuke sudah mau bicara lagi pada mereka.

"Oh! Berarti rival-mu pasti muncul di sana! Dia sangat kesal karena kalah ketika turnamen terakhir waktu itu kan? Selisih waktunya denganmu saat itu 0.03! Hebat sekali!" kata Suigetsu lagi.

"Kalau kau ikut turnamen musim panas ini, dia pasti akan balas dendam," Karin menimpali.

Sasuke hanya diam kembali. Rasanya dia jadi tidak terlalu banyak bicara lagi setelah bicara dengan Kakashi Sensei.

"Sasuke… bagaimana turnamen musim panas ini? Kau… sungguh tidak ingin ikut?" tanya Suigetsu dengan nada serius.

Entahlah, apa yang sebaiknya Sasuke lakukan?

Cederanya adalah memang alasannya untuk tidak lagi ikut semua turnamen. Bahkan keinginan berhenti pun masih membara jelas di dalam dirinya. Sasuke sudah tidak punya alasan untuk ada di klub ini lagi.

Tidak, dia memang tidak usah ikut lagi di klub ini.

Tidak perlu.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Hola minna, maaf lama update, mendadak jadi hilang ide di fic ini. Susah juga ngebangun mood untuk nulis fic tentang olahraga ya kalo gak begitu mendalaminya.

Makasih yang udah nebak, baik bener maupun salah hehehe seneng deh ada yang nanggapin.

Oh ya, ada yang penasaran dengan rival Sasuke? Boleh deh kita tebak-tebakan lagi hehe, tapi tenang, saya kasih clue deh sekarang. Yang pasti rivalnya bukan Naruto. Jadi, kalian boleh pilih chara mana aja hehehe…"

Oke balas review…

Jamurlumutan462 : makasih udah review senpai… ahaha sayang banget Sasuke bukan atlit tenis, makasih udah nebak hehe ini udah update lagi kok.

Mantika mochi : makasih udah review senpai… wah makasih banyak heheh saya memang ada niatan mau ke sini lagi. Oh ya, saya juga udah ada planning bikin yang rate m, tunggu realisasinya ya heheh iya ini udah lanjut.

Undhott : makasih udah review senpai… maaf gak kilat, ini udah update lagi…

Miyasato : makasih udah review senpai… maaf tebakannya salah hehehe iya ini udah lanjut lagi…

Sami haruchi 2 : makasih udah review senpai… iya makasih udah nunggu heheh ini update lagi…

Adaza : makasih udah review senpai… makasih banyak, ini udah lanjut lagi kok hehehe

Sasara Keiko : makasih udah review senpai… makasih banyak udah baca fic saya dengan pair lain hehehe oh kecepatan ya? soalnya kalo agak bertele saya takut ini fic bakalan panjang. Saya memang gak berencana bikinnya panjang sih heheh

Yoriko Yakochidan : makasih udah review senpai… Selamat! Senpai yang nebak dengan alasan paling bagus hehehe. Wah saya seneng banget ada yang ngejabarin begini lengkap loh! Mm, saya gak berencana bikin Sasuke mesum sih karena aslinya kan memang gak walaupun di sini juga karakternya OOC heheh.

Yoshimura Arai : makasih udah review senpai… ahaha tebakan renangnya bener kok hehehe

Suket alang alang : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe

Dianarndraha : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe

mc-kyan : makasih udah review senpai… wah maaf tebakannya belum beruntung ya hehehe iya ini udah lanjut lagi kok…

Misa safitri3 : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut…

Michiko : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe

Dewazz : makasih udah review senpai… iya udah lanjut..

Kiyoi-chan : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut kok…

Azmaria Eve : makasih udah review senpai… sayang sekali tebakannya belum tepat hehehe

Hanna Hoshiko : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe

Tiwie okaza : makasih udah review senpai… wah saya gak berencana bikin banyak sih chapnya, jadi mungkin gak sampai belasan, yaa mungkin aja sih hehehe tergantung suasana hati juga…

Anyme-Mous : Mm, sebelumnya mohon maaf ya. ini kan fic yang rate T? kok tiba-tiba Anda kepengennya minta lemon ini lah sasusakunya inilah, saya bingung loh. Kalau lebih suka SS yang rate M dan canon mungkin Anda bisa nyarinya di archive yang rate M bukan ke T loh. Saya juga nulis gak bisa sembarangan. Karena jujur saya paling lemah sama canon. Jadi sekiranya tulisan saya kurang menyenangkan untuk Anda, mungkin bisa cari tulisan author lain yang menyenangkan untuk Anda ya. Untuk Anda ingatkan saja, saya menulis dengan suasana hati saya, jadi Anda gak bisa tiba-tiba minta ini itu sama saya. Sekali lagi mohon maaf ya… ini juga bukan flame untuk Anda tapi mohon pengertiannya aja.

kHaLerie Hikari : makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi.

makasih yang udah ngeluangin waktu buat fic saya.

Jaa Nee!