Disclaimer: TRC milik CLAMP


Aku akan melakukan apapun untuknya, asalkan aku dapat kembali melihat senyumnya yang tulus.

---

Putih. Semuanya serba putih. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah putih. Ah, tapi ada satu sosok manusia di tengah segala kekosongan itu. Ketika sosok itu membuka matanya, warna putih di sekitarnya mulai memudar dan berubah menjadi pemandangan yang familiar.

Halaman istana Negeri Clow.

"Putri Sakura! Selamat siang!" ucap seorang pria tua yang menggenggam gunting rumput dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengangkat topi jerami dari kepalanya. Ia tersenyum senang, seakan semua keringat yang bercucuran sebagai bukti kerja kerasnya tak berarti apa-apa.

"Putri Sakura! Semoga menjadi hari yang indah untuk anda!" ucap seorang wanita setengah baya yang membawa sekeranjang sayur. Senyum juga terpasang di wajahnya.

"Tuan putri Sakura! Bagaimana dengan sebuah apel? Gratis khusus untuk anda!" kata seorang gadis yang membawa sekeranjang apel dengan kedua tangannya. Ia menyerahkan sebuah apel pada Sakura, lalu pergi setelah Sakura mengucapkan terima kasih. Di wajahnya juga terpasang senyum lebar.

Sakura menatap ke sekelilingnya dengan rasa ingin tahu. Ia tahu tempat ini, kepingan ingatannya yang telah kembali yang menuntunnya. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia memutuskan untuk terus berjalan saja ke arah istana. Siapa tahu, ia akan menemukan suatu petunjuk tentang di mana ia berada saat ini.

"Tuan putri! Awas kaki anda!"

Sakura menoleh ke arah siapapun yang baru saja berteriak. Sayangnya, walau menoleh, ia tetap berjalan sehingga ia…

"Kyaa!"

Jatuh. Bukan hanya jatuh, ia bahkan menimpa seseorang. Segera ia menyingkir ke samping orang itu dengan wajah merah.

"Tuan putri?" tanya pemuda 'korban' kecerobohan Sakura.

"Syaoran!"

Seketika itu juga déjà vu menyerang Sakura.

Syaoran berdiri lalu mengulurkan tangannya kepada Sakura. Sakura menerima uluran tangan itu, tetapi ia masih diam tak berkata-kata. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Anda tak apa-apa?" tanya Syaoran cemas. Sakura mengangguk kecil. "Tempat apa ini?" tanya Syaoran bukan pada siapa-siapa.

"Ini mimpi!" Mokona muncul dengan Pooong! dari udara kosong, mengejutkan Syaoran dan Sakura. "Ufufufufu. Salah satu dari 108 keahlian khusus Mokona, menyambung mimpi! Mokona menyambung mimpi Syaoran dan Sakura!"

Syaoran dan Sakura berpandangan sesaat, lalu kembali menatap bakpau putih hidup yang masih melayang-layang di hadapan mereka.

"Jadi Syaoran dan Sakura bisa bersenang-senang!!" lanjut Mokona senang. Masih mengambang, ia melaju bagai roket ke arah istana. "Syaoran dan Sakura juga ikut, ya!!!"

Syaoran dan Sakura kembali saling berpandangan. Sedetik kemudian, mereka tertawa dan mulai berjalan ke arah istana.

---

"Rindunya," ucap Sakura. "Rasanya tempat ini benar-benar familiar. Bila berjalan lurus terus, akan tembus ke rumah kaca istana. Bila berbelok ke kanan di koridor ini, akan sampai ke perpustakaan. Lalu pintu ini…"

Syaoran hanya tersenyum mendengar setiap penjelasan Sakura. Tempat ini juga, tempat yang dirindukannya. Walau hanya mimpi, tak mengapa. Asalkan ia masih bersama Tuan Putri Sakura…

"Lalu ini," Sakura berhenti sesaat. Dipandangnya lekat-lekat salah satu pintu. Syaoran turut memandang pintu itu. Ruang tari?, pikir Syaoran.

Sakura membuka pintu itu. Ruangan itu kosong dan hampir seluruh bagiannya terbuat dari kaca, kecuali lantainya yang terbuat dari kayu beralas karpet berwarna hijau rumput. Sebuah rak berisi dua pasang sepatu tari–masing-masing untuk laki-laki dan perempuan–terletak di dekat pintu. Dengan riang Sakura menarik Syaoran untuk mencoba sepatu-sepatu itu.

Selesai memakai sepatu tarinya, Sakura berdiri dan berjalan ke tengah ruangan. Ditutup matanya dan ia menarik napas dalam-dalam. Beberapa detik kemudian, ia mulai menari.

Tariannya riang, namun setiap gerakannya begitu anggun. Setiap kali ia mengangkat tangannya tinggi, dan setiap kali kakinya menghentak karpet, angin bertiup mengelilinginya. Lalu entah sejak kapan kaca-kaca di dinding berubah menampilkan sebuah padang bunga. Dan musik mengalun entah dari mana, seiring dengan tarian Sakura.

Syaoran yang terpana terus memperhatikan Sakura lekat-lekat. Teringat olehnya masa kecil mereka ketika Sakura dengan susah payah berusaha menari dengan benar, hanya agar bisa mengajaknya menari.

Dengan satu lompatan tinggi, Sakura berhenti menari dan membungkuk dalam-dalam. Ia lalu menatap lekat Syaoran yang terpana melihatnya.

Terpana….

Sedang terpana…….

Masih terpana……….

Terus terpana………….

Lima menit kemudian, Syaoran sadar kembali dan bertepuk tangan. Sakura lalu tersenyum dan mulai menari lagi. Tapi kali ini, ia mengajak 'ksatria'-nya untuk turut menari bersamanya. Tanpa kata-kata, hanya ekspresi dan gerakan. Dan mereka mulai menari. Dalam setiap langkah, oleh setiap gerakan, tiba-tiba mereka berada di padang bunga, di mana langit biru cerah, angin bermain, dan kelopak bunga menari.

Jauh di atas mereka, sesosok putih mungil tertawa kecil dan ikut menari di udara.

---

"Mereka tertidur?"

Kurogane mengangguk. Ia pergi ke salah satu rak dan mengambil sebotol anggur. Tak repot-repot mengambil gelas, ia langsung membuka botol itu dan menegak cairan di dalamnya. Ia menoleh sebentar pada laki-laki yang tadi bertanya padanya, lalu kembali menatap rak. Diambilnya satu botol lagi, lalu dilemparkanya ke arah Fye.

"Uuups, bahaya," ucap Fye tapi berhasil menangkap botol anggur itu dengan baik. Ia membuka botol itu dan berdiri untuk mengambil gelas. "Berbicara soal anggur manis, kemarin kita juga mengirimkan beberapa botol ke penyihir dimensi, kan? Kira-kira bagaimana reaksinya, ya?"

"Mana kutahu," jawab Kurogane singkat.

Fye masih terus tersenyum dan mulai menuang anggur ke gelas yang baru saja diambilnya dari rak peralatan makan."Syukurlah kalau mereka berdua sudah tidur. Semalam Syaoran sangat panik, siih."

"Um," kata Kurogane melanjutkan acara minumnya. "Bocah itu terlalu khawatir."

"Sama seperti Kuro-chan, kan?"

"Berhentilah memanggilku seperti itu."

"Baiiik, Kuro-kuro."

---

"Yuuko sedang senang, ya?"

Yuuko tersenyum ke arah makhluk hitam imut dihadapannya.

"Siapa tahu?" Ia kembali menatap gelasnya, yang berisi cairan berwarna merah menyala. Ditegaknya hingga habis anggur itu. "Anggaplah mimpi itu sebagai ucapan terima kasih atas anggur manis ini, Tuan putri dan ksatrianya."

-End-


Maaf, sungguh aku tak tahu harus menulis apa untuk kelanjutannya, jadi kutamatkan di sini... Lalu karena mimpi itu aneh dan apa saja mungkin terjadi di dalam mimpi, tolong jangan terlalu dipusingkan mengenai pemindahan setting (yang aneh itu) pada bagian Syaoran dan Sakura. Ngomong-ngomong, kenapa mereka menari, ya? (aah, aku author aneh...) Anggap saja bernostalgia bagi Syaoran, dan usaha menjernihkan ingatan yang samar-samar bagi Sakura.

Dan terima kasih telah membaca! Maaf, atas semua bagian yang salah. Please Review!