—Chapter 2 part 1—
Harry Potter © JK Rowling
Gara-gara Pesta Dansa © SachiMalff
.
.
DMHP
.
.
Harry mendesah lelah ketika dia memandangi kartu-kartu yang kini terpampang di depannya. Sekarang dia sedang duduk manis di perpustakaan, tempat paling aman dari jangkauan Ron yang sedang uring-uringan. Alisnya mengernyit heran. Kebanyakan kartu berwarna biru. Total ada duapuluh tiga kartu biru, sementara sisanya—enam kartu berwarna merah muda. Tak ia sangka, sex appeal-nya lumayan juga.
Dia tersenyum kecil ketika mulut mungilnya mulai membaca nama-nama yang tertulis. Ada McLaggen, si playboy yang dulu sering sekali tersenyum mesum kearahnya. Lalu ada Jeremiah Austen, lelaki nerd yang selalu mencuri pandang kearahnya ketika dia dan teman-temannya pergi ke perpustakaan. Dan ada Ian Nelson, Alice Terrance, Hannah Abbot, Cody Bosston, Sandra Black, Oliver Wood, Justin Taylor, Tom Riddle, Lin—tunggu dulu.
Apa?! Tom Riddle? Tom Marvolo Riddle kakak kelasnya?! Oh! Manik emerald Harry terbelalak lebar ketika membacanya.
"Sedang memilah-milah kartu, ya, Harry?"
"..."
"Harry?"
Harry terkesiap. Di sebelahnya kini sudah ada Hermione yang entah datang sejak kapan. Pemuda bersurai hitam itu tersenyum kecil kearah sang sahabat, kemudian mengangguk pelan sebagai jawaban.
Hermione melirik kearah deretan kartu yang dipajang di depannya di atas meja. Sedetik setelah manik almond-nya menjelajahi sejumlah nama yang tertera, ia kemudian membelalakkan matanya lebar. Kemudian pandangannya beralih ke Harry di sebelah kirinya. "Harry, apakah ini..."
Seakan mengerti apa yang aka di tanyakan oleh Hermione, Harry mengangguk cepat. Dia sebenarnya sama terkejutnya dengan Hermione. Bagaimana bisa, Tom Riddle mengajaknya pergi ke pesta dansa?
Tom Riddle adalah yang paling baik di antara yang terbaik.
Siapa tak kenal sang pangeran sekolah? Tidak ada mungkin. Tom Riddle adalah sosok pemuda idaman semua orang, lelaki maupun perempuan. Paras rupawan dan senyum teduhnya mampu menghipnotis semua orang. Pembawaannya yang hangat dan ramah membuatnya disukai banyak orang. Tampan, populer, pintar—karena dia duduk di kelas akselerasi— dan baik, kaya, supel... apalagi? Masih banyak sifat plus-plusnya.
Selama mereka sekolah disana, bahkan Harry tak pernah mendengar berita asmara tentang Tom. Tapi—kali ini...
Kenapa Tom mengajak Harry?
Apakah ini hanya perbuatan orang-orang usil yang sengaja mengerjainya saja? Ah—sepertinya itu tak mungkin. Lalu, kenapa bisa? Tom Riddle mengajaknya? Oh Tuhan—
Tapi yang ia sesalkan hanya satu. Kenapa belum ada balasan dari Draco Malfoy? Apa dia tak mau pergi dengannya? Oh, itu mungkin saja. Harry sebenarnya merasa dirinya tak terlalu menarik untuk membuat Draco mau pergi dengannya.
Harry tersenyum miris. Mungkin khayalannya untuk bisa pergi dengan Draco terlalu besar, ya?
Yah—mau bagaimana lagi? Harry, dari tahun pertama dia bersekolah disini, sudah terlanjur menaruh perhatian khusus pada anak itu. Terlepas dari sikapnya yang super menyebalkan dan jelek, Harry tetap menyukainya.
"Jangan putus asa dulu." Hermione menepuk pundak Harry lembut, seakan mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Harry memaksakan tersenyum, namun itu sama sekali tak berhasil. Hermione mendesah kecil.
"Kau tahu? Kau ini lucu."
Harry mengernyit ketika menatap Hermione yang berbicara seperti itu. "Maksudnya?"
Hermione mengangguk pelan dan terkekeh kecil. "Kau memberikan kartumu pada Draco, sementara kau diberi kartu oleh musuhnya."
Musuh Draco? Kening Harry mengernyit semakin tajam. Siap—oh!
Benar juga. Harry mendadak tertawa kecil. Tom Riddle memang musuh bebuyutan Draco. Tom sih terlihat tak ambil pusing soal Draco yang selalu melayangkan pandangan mematikan kearahnya, namun Draco terlalu keras kepala.
Draco merasa tersaingi. Oleh Tom Riddle.
Draco merasa Tom tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya. Draco punya segalanya. Dia tampan dengan wajah tegas bak pangeran, kehidupan yang sempurna dengan banyak penggemar dan populer, seorang petinju hebat dengan tinju andalannya; tinju kiri, kaya, anak seorang pengusaha yang saham dan perusahaannya dimana-mana. Mana ada orang yang tak takluk di depannya? Harry saja menyerah akan pesonanya.
"Kau benar." Harry tersenyum kecil.
"Jadi, kau masih akan menunggu kartu kiriman Draco kembali?"
Hening. Yang terdengar hanyalah suara para siswa yang sedang membolak-balik halaman dari buku yang mereka baca.
Harry mendesah. "Sepertinya iya..."
"Kau tahu batas akhir mencari pasangan dansa, kan, Harry?"
Harry kembali mengangguk. "Aku hanya berniat pergi bersama Draco. Ini kesempatan terakhir bagiku. Ini—tahun terakhirku di Hogwarts, kan?"
Hermione tersenyum miris. "...yah. Kau benar."
"Jadi—kau akan pergi dengan siapa?" Harry balik bertanya pada Hermione.
Sang gadis di sampingnya hanya tersenyum malu-malu. "Viktor Krum."
Mata Harry terbelalak lebar. "Viktor Krum? Ketua tim taekwondo?!"
Hermione memutar matanya bosan melihat reaksi berlebihan sahabatnya. "Begitulah..."
"Kau mengajaknya? Dia menerimamu? Benarkah it—"
"Tidak, tidak. Aku tak mengajaknya. Dia yang memberiku kartu. Kemarin setelah aku pulang sekolah, dia mencegatku dan memberikan kartunya padaku." Hermione mengenang kejadian kemarin sore sambil tertawa kecil.
Harry mengernyit mendengarnya. "Lalu? Kau berikan pada siapa kartumu?"
"Oh—soal itu. Sebenarnya, ingin kuberikan pada Maurer. Tapi, setelah kupikir-pikir, suatu kesalahan jika aku akan mengajaknya. Yah, akhirnya, setelah aku dapat kartu dari Krum, kubuang kartuku sendiri."
"Mario Maurer? Anak kelas sebelah yang mirip orang Thailand itu?"
Hermione memandang Harry heran. "Dia memang orang Thailand."
Harry hanya ber-Oh ria. Namun, sejurus kemudian, dia teringat sesuatu. "Lalu? Ron? Dia pergi dengan siapa?"
"Kudengar dia menulis nama Padma Patil. Tapi—entahlah."
Harry mengangguk paham. Semuanya sudah siap dengan pasangannya, ya? Bahkan—beberapa siswa terlihat sudah mulai membicarakan pakaian juga.
Ahaha. Tentu saja, pestanya kan sudah akan dimulai besok malam...
"Jadi, kalau Draco ternyata tak memilihmu?" Hermione berbicara memecah keheningan di antara mereka berdua.
Harry mengangkat bahunya. "Mungkin aku akan pergi seorang diri."
Dan Hermione memandang wajah sahabatnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
.
"Aku akan memakai ini."
"Corak yang bagus. Apa namanya?"
"Batik."
"Cocokkah untuk pergi berdansa? Bisakah dibuat gaun?"
"Oh, ayolah, Pans. Pasti akan menarik kalau bisa memakainya. Kupastikan hanya akan ada aku yang memakainya besok."
Pansy mendengus melecehkan ketika Daphne, dengan percaya dirinya yang begitu tinggi, bilang bahwa dia akan mengenakan gaun yang terbuat dari batik. Daphne bilang kain itu berasal dari Indonesia.
Mereka berdua sedang berada di dalam kelas, bersama dengan beberapa murid yang lain. Semuanya sudah heboh sendiri dengan acara besok malam.
Berbeda dengan ketiga orang yang baru saja memasuki kelas itu. Siapa lagi kalau bukan Draco dan kedua pengawalnya; Blaise dan Theo.
"Darimana kau?" tanya Pansy sinis ketika Draco baru saja mendudukkan pantatnya pada sebuah kursi di samping Pansy.
"Toilet."
"Kalian bertiga buang air kecil bersama-sama? Oh, mesra sekali," cibir Pansy.
Draco memutar matanya bosan. "Aku muak dengan kalian semua. Yang selalu membicarakan pesta dansa. Cih, seperti tak pernah menghadiri pesta saja."
Pansy mengibaskan tangannya acuh. Sementara Daphne beralih menuju ke samping tempat duduk Draco.
"Psst..."
"Apa?"
"Kau jadi pergi dengan siapa?"
"Entahlah, Daph. Aku tak tahu. Kenapa?"
"Kenapa tak mencoba pergi dengan si Potter saja?"
Draco tersentak ketika mendengar kalimat Daphne. "Daph, plis. Berhenti membicarakan Potter."
Daphne terkekeh pelan. "Habis kau tak segera memilih pasanganmu, sih! Aku jadi geram sendiri. Lagian, Potter cukup imut untuk jadi bottom."
"DAPHNE!"
Dan Daphne langsung melenggang keluar kelas sambil terkekeh, menghindari semprotan Draco untuknya.
Pansy tertawa. "Jadi, apa kau punya balasan kartu dari Fleur Delacour?"
Draco mendengus mencela, kemudian mengeluarkan salah satu kartu berwarna merah muda dari kantong kemeja sekolahnya. Dia menyerahkan kartu tersebut pada Pansy.
Mata hitam milik Pansy terbelalak lebar ketika melihat siapa nama yang tertera.
"Jadi—dia... menerimamu?"
"Yep."
"Kau—pergi dengannya?"
"Begitulah."
Pansy masih tak percaya. Matanya menatap Draco heran. Bagaimana bisa Fleur Delacour mau pergi dengan bocah menyebalkan seperti Draco? Oh, iya. Orang lain yang tak mengenal Draco lebih dekat kan tak tahu sifat aslinya...
"Kau sendiri? Kukira si Weasley tak mau pergi denganmu, kan?" Draco balik bertanya seraya menyeringai pada Pansy.
Sang gadis berkulit gelap itu tersenyum masam. "Dia pergi dengan wanita bernama Angelina Johnson. Tapi aku akan pergi dengan Marcus Flint."
"Oh—si idiot yang selalu lupa memakai celana dalam itu ya?"
Dan sebuah buku tebal mendarat mulus kearah Draco. Untung saja si pirang itu berhasil menghindar. Untung saja.
"Kudengar Daphne akan pergi dengan Roger Davies, benarkah itu, Pans?" tanya Blaise menimpali. Di sampingnya, Theo sedang sibuk dengan iPad kesayangannya.
Pansy mengangguk pelan. "Sepertinya. Kudengar dia akan memilih antara Davies atau Marcus Belby..."
"Bodoh jika dia lebih memilih si tukang makan seperti Belby."
"Aku setuju denganmu, Theo."
Pansy tertawa pelan. Kemudian, tiba-tiba dia ingat sesuatu. "Dia bilang dia berjanji akan mengajak Potter berdansa besok malam."
Draco mendengus. "Memangnya tak ada yang perempuan itu pikirkan kecuali Potter, Potter dan Potter apa?"
"Hey—omong-omong, Potter pergi dengan siapa, ya? Pangeran kita ini kan tak membalas suratnya?' goda Blaise pada Draco.
"Bermimpilah si Potter itu jika ingin dapat balasan dariku."
Theo berdecak kesal. "Kau terlalu berlebihan, Drake."
"Nyatanya aku tak mau pergi dengannya, kok."
Dan ketiga temannya hanya mendesah malas. Mereka sudah hapal dengan sifat Draco yang paling buruk ini; suka merendahkan orang lain.
Tidakkah Draco menyimak apa yang dikatakan Daphne kemarin saat mereka ada di kantin? Ah—jika saja dia menyimaknya, mungkin dia akan mau pergi dengan si Potter itu...
.
.
.
Harry melangkahkan kakinya keluar dari kelas terakhirnya dengan lesu sore itu. Dia seperti sudah sangat lelah. Disamping itu, dia juga agak kecewa. Ini sudah batas akhir tenggang waktu yang diberikan untuk membalas surat Pesta Dansa, tapi—tak ada tanda-tanda Draco mau membalasnya.
Ia berjalan lesu, sesekali netra hijaunya meredup dengan wajah yang menunduk dalam diam. Koridor itu telah sepi, murid-murid sudah pulang sejak sejam yang lalu. Mungkin Harry yang terakhir disini.
Ia mendesah. Mungkin memang seharusnya ia pergi seorang diri besok.
Dia mencoba berbesar hati. Kepalanya yang sedari tadi tertunduk lesu, coba ia angkat. Namun, sesaat kemudian, manik emerald itu terbelalak lebar ketika mendapati seseorang di depan sana, sedang duduk manis di sebuah bangku di ujung koridor, dengan buku tipis di tangannya yang sedang ia baca.
Tom Riddle.
Sosok itu begitu terlihat dewasa, dengan alis tebal yang mempertegas raut tampannya. Bibir merah muda yang tipis itu selalu menampilkan senyum menawan, bukan kekeh bengis seperti milik Draco. Rambut hitam yang selalu tersibak angin itu, atau mata yang memandang teduh semua orang itu—begitu berbeda dari seorang Draco Malfoy.
Sejenak, Harry terdiam di tempatnya, mengamati sosok itu lekat-lekat.
Sedetik kemudian, dia mendesah pasrah. Bagaimanapun juga, ia tak bisa—jika bukan Draco Malfoy. Entah walau betapa jeleknya sifat Malfoy muda yang satu itu.
Ia memantapkan langkahnya, berjalan kembali sambil menegapkan kepalanya.
Pria itu mendongak dari buku yang ia baca. Dan ketika yang ia dapati di depannya adalah seorang Harry Potter, matanya mengerjap seketika.
Sebuah senyum tersungging manis di bibirnya. "Harry?"
Harry membatu, namun mencoba bersikap biasa. Dia balas tersenyum, kemudian berjalan kearahnya. "Hai, Tom..."
Awkward. Selama ini, mereka hanya saling berbagi senyum ketika bertemu. Tak pernah bertegur sapa dan berbicara walau singkat seperti ini.
Harry mendudukkan dirinya di samping Tom yang sedang menutup buku bersampul warna biruitu. Tom tersenyum.
Harry heran sendiri. Ada, ya? Orang yang sering tersenyum seperti dia?
Hening.
Jarum dari jam yang bertengger di dinding tak jauh dari mereka sepertinya sedang menertawakan keheningan ini...
"Kau mau pulang?" Pertanyaan retoris dari Tom hanya dijawab anggukan singkat dari Harry.
"Kau—kenapa belum pulang?" tanya Harry seraya menggerak-gerakkan kakinya gugup. Dia bahkan tak berani mengangkat wajahnya. Semoga saja, si Tom ini tidak—
"Aku menunggumu."
—menanyakan jawaban dari kartu Pesta Dansa-nya.
Harry, yang mungkin sudah tahu akan seperti ini, mencoba untuk bersikap biasa saja—walau sulit. Ia mendongak menatap Tom. Dua netra hijau dan onyx itu bersirobok dalam diam.
"Untuk apa menungguku?"
Tom tersenyum cerah, kemudian terkekeh. "Untuk menanyakan jawaban darimu."
"Emm—itu, ya?"
"Iya."
Hening lagi. Bukannya Harry malu atau apa, tapi, dia tak bia melakukan penolakan secara langsung seperti ini.
"Jadi?" Pertanyaan Tom kembali terulang, memaksa Harry untuk memberikan atensinya pada sang pangeran sekolah.
Harry mneghembuskan napas panjang. "Kenapa kau mengajakku?"
"Karena aku ingin?"
Harry tertawa kecil. Dia kembali menoleh ke samping kanan. Tom masih mengamatinya dalam diam. Dan—jujur saja, dia agak risih dipandangi seperti itu.
"Masih banyak yang lebih baik dariku."
"Kau benar. Tapi, aku ingin mengajakmu."
Mata Harry terbelalak lebar. Bagaimana bisa, ada orang yang selalu bersikap tenang seperti ini?
"Ermm—begitu ya?"
Tom mengangguk riang. "Kau—mau pergi denganku?"
Harry menatap koridor di depannya yang memang sudah sepi dari awal. Dia sangat gugup! Tolong, siapa saja, tolong!
Keheningan itu merayap kembali. Harry masih mencoba merangkai kata –kata. Tidak mungkin, kan, dia menjawab, 'maaf, Tom, aku tak bisa pergi jika tidak bersama dengan Malfoy berengsek itu.'
Terdengar begitu bengis.
Dia menghirup napas panjang-panjang, kemudian membuangnya. "Tom?"
"Ya?"
"Aku—sebenarnya, aku tidak bisa."
Hening. Harry bahkan belum mampu mengalihkan pandangannya.
Karena tak ada jawaban maupun pergerakan dari si pangeran-paling-sempurna-di-sekolah-ini itu, Harry berusaha untuk bersikap tenang dan menoleh ke samping.
Tom masih memandangnya. Kali ini berbeda. Onyx itu—tak bisa diartikan. Memandangnya dengan tatapan—aneh.
"A—ada apa, Tom?"
Tom terkesiap. Sedetik kemudian, senyum angelic itu kembali hadir. "Tak apa kok."
Harry merasa tak enak sudah menolaknya. Ah—betapa ia merasa sungguh nista sekarang, sudah lancang menolak ajakan pria tersempurna di sekolah ini—
"Well—ini sudah sore. Apa kau mau kutemani pulang?"
Harry semakin tak enak. Sudah menolak, sekarang ditawari pulang bersama. "T—tidak usah. Rumahku tak jauh dari sini."
"Kita bisa jalan bersama. Bagaimana?"
"Eh? Kau tak bawa mobil?"
Tom tertawa pelan. "Aku tak pernah bawa alat transportasi sendiri. Aku selalu naik bus."
Harry melongo mendengarnya. "Bukankah kau kaya?"
"Aku tidak kaya, orang tuaku yang kaya."
Harry tertawa geli. "Itu yang selalu dikatakan orang kaya."
Kemudian Tom ikut tertawa. Harry heran, kenapa dia baru sadar akan perkataan semua murid disini kalau Tom itu sosok yang hangat dan asyik?
"Well—baiklah kalau kau memaksa. Ayo, kita pulang."
Tom mengangguk, kemudian meraih tas yang tergeletak di samping kanannya. Mereka berjalan beriringan, Harry merasa sangat minder jika mereka berjalan bersama seperti ini.
"Kau kenapa?" tanya Tom ketika menyadari perubahan raut wajah Harry.
Harry mencebik lucu. "Aku merasa sangat pendek ketika berjalan bersamamu."
Tom tak membalas, namun, sedetik kemudian, ia tertawa keras. Tangannya terjulur untuk mengacak surai hitam berantakan pemuda di sampingnya itu.
Harry makin mencebikkan bibirnya.
Mereka melangkah pulang dengan obrolan ringan dan candaan yang terlontar dari bibir keduanya.
.
.
.
Hari berikutnya, Harry makin nampak kacau. Dia bahkan sama sekali belum memilih potongan jas untuk ia pakai di malam nanti. Ibunya, Lily Potter, selalu berteriak mengingatkannya untuk memilih salah satu jas yang akan dikenakannya.
Ayahnya, James Potter, menggodanya dengan bermacam-macam pertanyaan seputar siapa teman pestanya nanti, atau dia akan menowel pipi Harry dan memberikan nasihat tentang apa yang harus ia lakukan ketika berdansa.
"Dad..." Harry mendesah lelah. "Aku bahkan tak bisa berdansa."
James mengibaskan tangannya acuh. "Kau hanya perlu mengikuti irama musiknya, Harry, dan biarkan tubuhmu bergoyang."
"Aku hanya akan terlihat seperti pohon yang akan roboh."
James tertawa, kemudian mengacak surai yang sama seperti miliknya itu. "Kau pasti bisa. Seorang Potter tak pernah minus dalam hal apapun."
"Kecuali dansa."
James nampak mendengus. "Oh, ayolah, Harry! Aku bahkan sudah ribuan kali mengikuti pesta dansa saat aku seusiamu!"
"Kau berlebihan, Dad. Ak—"
"Harry! Pilih jasmu sekarang atau aku takkan merapikannya untukmu!" Lily Potter berteriak begitu kencang dari arah dapur. James dan Harry mendesah.
"Kau dengar? Nenek sihir sudah memberikan titah, anakku..."
Harry mengangguk lesu. Setelah James berlalu dari kamarnya, buru-buru ia beranjak dari kasurnya, kemudian melangkah menuju ke almari pakaian di pojok kamar bernuansa biru itu.
Tangan kurusnya memilah satu demi satu jas yang ada disana. Tidak banyak, memang. Hanya tiga setel jas yang entah sudah berapa lama ia anggurkan.
Harry hanya memandangi jas-jas itu sampai beberapa lama.
Saat itu sudah hampir sore, dan Harry bahkan belum mempersiapkan diri. Lily Potter masuk kesana membawakan cokelat panas.
Sang wanita bersurai cokelat itu menggeram marah ketika dilihatnya sang anak masih belum memilih satu jas pun.
"Harry! Ini sudah hampir sore!"
Harry menutup kedua telinganya. "Aku tahu, Mom! Tapi, sungguh! Aku tak tahu harus memakai yang mana!"
Lily memijit pelipisnya, kemudian berjalan mendekati Harry. "Mm—biar kulihat."
Tangan lentiknya mencoba mengambil tiga setel jas disana, kemudian menatanya diatas tempat tidur Harry. Matanya mencoba mengamati jas mana yang sekiranya cocok untuk anaknya.
Harry berjalan mendekati cokelat panas yang masih mengepul di meja nakasnya. Dia meminumnya sembari mengamati gerak-gerik ibunya yang masih antusias memilihkan jas untuk dirinya.
"Bagaimana kalau yang tengah saja, Mom? Terlihat simpel," ujar Harry sambil meletakkan cangkirnya kembali ke tempat semula.
Lily menggeleng pelan. "Terlalu biasa. Bagaimana kalau yang ini?" tanyanya seraya menunjuk salah satu jas berwarna putih gading.
Harry mengangkat bahunya tak peduli. "Aku ikut apa kata Ibu."
Lily memajukan bibirnya kesal. Kemudian mengambil jas pilihannya itu. Dia berjalan mendekat kearah Harry, seraya menyerahkan jas berwarna putih itu pada sang anak.
"Kau pakai dulu sebentar. Aku ingin melihatnya."
"Oh, Mom, ini sungguh menyu—"
"Sudah pakai saja!"
"Iya, iya!"
Lily tersenyum menang ketika melihat anak tunggalnya melangkahkan kaki ke kamar mandi disana.
Dia menunggu dengan sabar sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan itu. Sesekali, dia menggeleng miris ketika matanya mengamati sekeliling kamar Harry yang nampak terkesan begitu—kumuh?
Lily berdecak kesal seraya menyilangkan tangannya di depan dada. "Benar-benar tiruan asli James Potter..."
Tak lama kemudian, Harry keluar dari kamar mandi di dalam kamarnya dengan mengenakan jas pilihan sang ibu. Mukanya nampak ragu ketika melihat dirinya sendiri memakai jas ini. Dia agak—tak yakin.
Lain Harry, lain Lily. Wanita itu membelalakkan matanya lebar ketika sosok anaknya itu telah keluar dari sana. Sebuah senyum tersungging di bibirnya.
"Mom, kurasa..."
"Cocok sekali!" pekik Lily. Dia berlari kearah Harry yang masih melongo di tempatnya berada. "Aku tak tahu kalau pilihanku selalu tepat," ujarnya lagi sambil magut-magut penuh percaya diri.
Harry mengamati ibunya skeptis. "Err—kau yakin?"
Lily merengut. "Tentu saja! Bercerminlah!"
"Yeah, aku sudah melihatnya tadi... Tapi—"
"Bagus! Sekarang kau lepas jas ini, aku akan merapikannya untukmu. Lalu, kau mandi, kemudian makan dan berberes diri. Kau takkan bisa telat ke sebuah pesta dansa."
Harry mendesah pasrah. Ibunya takkan pernah terbantahkan. Takkan pernah. Akhirnya, dia hanya bisa mengangguk patuh. Lily bersorak girang, kemudian mengecup pipi putih anaknya sebelum pergi dari sana.
Oh—oke. Sebuah pesta dansa tanpa pasangan akan segera dimulai, Potter...
.
.
.
Harry selalu menekuk mukanya selama dia ada di dalam mobil James yang akan mengantarkannya ke sekolah. Lain dengan James, dia sangat bersemangat memberikan Harry tutor singkat tentang apa saja yang harus dia lakukan. Maklum—Harry belum pernah ke pesta dansa sebelumnya. Sebut saja dia norak, biarlah.
Setelah lima belas menit mereka lewati dengan ramai di dalam mobil Audi tua milik sang ayah, Harry akhirnya sampai di depan gedung sekolahnya. Dia mendesah lelah ketika turun dari mobil itu.
Setelah mengucapkan terimakasih pada James—yang dibalas dengan pekik support sang ayah—, Harry langsung melangkahkan kakinya lesu ke pintu utama.
Disana sudah nampak penuh sesak dengan siswa-siswi Hogwarts. Mereka terlihat begitu mempesona dengan dandanan spesial mereka dan tentu saja—pasangan masing-masing.
Harry mendadak semakin tak bersemangat ketika dia sadar bahwa dia sama sekali tak punya pasangan. Apa gunanya ada duapuluh sembilan kartu ajakan kalau kini dia bahkan tak ada pasangan?
Ah—kalau tahu seperti ini, lebih baik dia pergi dengan salah satu orang yang mengiriminya kartu saja, batinnya merana.
Di depan sana, dia bisa melihat Hermione sudah bergandeng tangan dengan seorang lelaki gagah yang dia kenal benar bernama Viktor Krum. Rupanya, Hermione tak menyadari kalau Harry sudah datang.
Lain dengan seorang pemuda yang sedari tadi Harry perhatikan terus sama berwajah masam ketika melihat bagaimana excited-nya Hermione; Ron Weasley. Di sampingnya, ada seorang perempuan berkulit cokelat yang dia tahu bernama Padma Patil.
Beberapa orang menatap Harry bingung. Yeah, bagaimana tidak? Dia datang sendiri ke pesta dansa sekolah? Bukannya itu memalukan?
Sang pemuda bermata cerah itu kembali mendesah dan merutuki kebodohannya yang menyia-nyiakan semua ajakan yang datang kepadanya. Andai saja—
"Harry? Kau kah itu?"
Eh?
.
.
.
Jika di luar ruangan gedung saja sudah penuh sesak, apalagi di ruangan utama tempat dimana pesta akan digelar.
Sudah ramai dengan para pasangan yang siap unjuk kemesraan.
Tak terkecuali dengan sekelompok pemuda populer di sekolah itu.
Pansy Parkinson nampak anggun dengan gaun berwarna hijau botol. Di sampingnya, sudah ada pasangannya yang terlihat sedang sibuk berbincang dengannya; Marcus Flint.
Sementara Daphne Greengrass nampak benar-benar pergi dengan Roger Davies, murid yang seangkatan dengannya. Daphne mengenakan gaun panjang dengan motif batik—seperti yang ia bicarakan sebelumnya dengan Pansy.
Blaise dan Theo terlihat sedang berbicara mesra di sudut ruangan disana dengan segelas minuman di tangan masing-masing.
Tak lama setelah itu, Draco Malfoy nampak hadir menyapa Pansy dan Daphne yang sedang tertawa bersama. Kedua perempuan cantik itu sontak menganga lebar ketika melihat kedatangan Malfoy muda itu bersama dengan—
"Kalian harus bertemu dengan pasanganku. Fleur Delacour..." ujar Draco dengan nada penuh keangkuhan.
Gadis berparas cantik dengan gaun berwarna merah muda di sampingnya itu tersenyum manis seraya menjabat tangan kedua pasangan di depannya.
Blaise dan Theo—yang baru saja melihat Draco datang—bergegas menemui sahabatnya itu. Mereka mengernyit heran ketika mengetahui bahwa Draco benar-benar datang dengan primadona sekolah.
"Rupanya kau benar-benar tak datang bersama Potter," ujar Daphne lesu. Draco mengernyit mendengarnya.
"Hentikan pembicaraan tentang Potter di antara kita berdua, Daph. Aku bosan."
Daphne mendecih kesal, kemudian melenggang pergi sambil menggeret tangan pasangannya. Pansy nampak tak begitu peduli. Dia masih sibuk mengamati beberapa pasangan yang sudah mulai masuk ke arena utama.
Sesaat kemudian, netra birunya terbelalak lebar ketika melihat satu pasangan yang membuatnya tak bisa mengatupkan bibir merahnya.
"Draco..." panggilnya lirih.
"Apa, Pans?"
"Tebak dengan siapa Potter datang..."
Draco mengernyit heran, kemudian memilih untuk mengikuti arah pandang sahabat perempuannya itu. Sesaat setelah dia menemukan orang yang dikatakan Pansy, matanya membulat sempurna.
Blaise dan Theo mengalihkan pandangannya kearah pintu utama setelah melihat reaksi kedua temannya itu.
Reaksi mereka tak jauh berbeda; sangat terkejut.
"Bloody hell, Potter..."
TBC
A/N : Chapter dua-nya saya jadikan dua bagian ya, soalnya membosankan banget kalau dijadiin satu. Langsung update juga, kok hihi...
