Chapter ke 2 nya....XDDD. maap, di chapter in rada "bahaya". Mohon hati2 pas nge bacanya...(hahaha...)
Chapter 2.
10 menit sebelum pelajaran dimulai. Tapi sosok Jiima belum terlihat di kelas. Aneh. Padahal dia biasanya sudah datang 15 menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Ah, kenapa aku jadi memikirkannya? Dia mau datang atau tidak, itu sama sekali bukan urusanku. Aku juga tidak bermaksud menanyakan maksud perbuatannya semalam. Selama aku sibuk memikirkan itu, bunyi bel pertanda pelajaran dimulai telah berbunyi. Jiima tidak masuk hari ini.
Si sialan itu kenapa pakai tidak masuk segala sih hari ini? Padahal ada surat2 yang harus dia tandatangani yang harus selesai besok. Surat2 itu sudah susah2 kukerjakan sampai larut. Aku mengerjakannya bukan karena aku tak bisa tidur karena memikirkan perbuatan yang dilakukan si brengsek itu. Karena mengingat tanggung jawabku saja sebagai pengurus kelas. Walau aku tetap saja tak suka melakukannya. Tunggu, apa dia tidak masuk hari ini karena semalam kehujanan?
"Tapi itu salah dia sendiri, siapa suruh memberikan jas hujannya kepadaku?" Iya. Itu salah dia sendiri.
"......." Aku membuka tasku dan melihat jas hujan didalamnya.
"Hhaaahh...." padahal aku mau mengembalikannya dan mengucapkan terima kasih. Aku kembali menutup tasku.
Sebentar! Apa benar di sini? Aku kembali mengecek alamat dengan catatan kecil yang ada di tanganku.
"Benar di sini" kataku setelah yakin bahwa aku berada di alamat yang tepat.
"Dia memang anak orang kaya" sambil mengagumi besarnya rumah yang ada di depan sekali dengan rumahku. Tentu saja. Soalnya, aku memang bukan dari keluarga yang berada. Malah bisa dibilang miskin. Kalau tidak karena beasiswa murid berprestasi, aku tidak mungkin dapat bersekolah terutama di sekolah mahal tempatku bersekolah sekarang.
"Aahh... apa yang kulakukan sih? Sampai menanyakan alamatnya pada guru segala."
Aku menyesali kebodohanku.
"Tidak. Aku datang karena ingin mengembalikan jas miliknya dan menyuruhnya menandatangani surat2 yang harus dia tandatangani kok. Bukan sama sekali karena khawatir dengan keadaannya, kok."Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
"Ting....tongg...."
"Klikk..."
"Ya, siapa?"
Aku kaget mendengar suara Jiima dari interphone. Memang dasar rumah mewah. Aku belum pernah ke rumah yang memasang interphone segala.
"I...ini aku, Nagi."
"Brakk!! Drap...drap...drap.... Klikk"
Terdengar suara keras dari dalam sana. Aku benar2 kaget. Dan dalam hitungan detik, terdengar suara langkah menuju pintu masuk.
"Kleekkk..."
Dari balik pintu tampak sosok Jiima yang sedang kehabisan nafas membuka pintu. Penampilannya cukup menyedihkan untuk seorang Jiima. Rambutnya cukup awur-awuran. Dia memakai piyama berwarna putih dengan sedikit garis bewarna biru di ujung lengan dan kerahnya. Dia juga tidak memakai kacamata yang biasanya tidak pernah dilepasnya selama berada di sekolah. Raut wajahnya terlihat seakan tak percaya aku yang benar2 datang.
"A...aku datang mengembalikan jas mu dan memberikan surat2 yang harus kau tandatangani untuk besok." kataku dengan panik karena melihat wajah Jiima yang seperti itu.
"Ini!!" kataku sambil memberikan bungkusan yang berisikan jas hujan dan surat2 kepada Jiima.
"Terima kasih" Jiima mengatakan itu sambil tersenyum seperti senyumnya yang biasanya.
"Ka...kalau begitu, aku permisi..."kataku sambil buru2 berbalik hendak pulang.
"Tu...tunggu..."Jiima langsung meraih tanganku.
"Apaan sih? Apa lagi?" aku buru2 menepis tangannya.
"Apa kau bisa memasak?"
"Eee...??"
"To...tolong buatkan maka..naan......" Jiima mengatakan itu dengan suara memelas dan dalam keadaan sempoyongan hampir roboh. Aku hanya bisa berwajah bingung melihatnya.
"Kau tinggal sendiri saja di rumah sebesar ini?" Aku memasuki dapur di rumah dugaan, dapurnya luas. Tentu saja. Dengan rumah yang sebesar ini. Sedangkan Jiima terduduk lemas di meja makan yang letaknya tak jauh dari dapur.
"Orangtuaku sedang di Hong Kong. Yah, mereka memang jarang ada di rumah. Biasanya aku tinggal dengan seorang pembantu. Tapi, sejak semalam dia pulang ke rumahnya karena ayahnya sakit."Jiima mengatakannya dengan kepalanya tersuruk di antara kedua lipatan tangannya.
"Oohhh...pantas saja tak ada yang memasak untukmu."kataku sambil mengecek isi lemari es.
"Kenapa kau tidak masak sendiri saja?" Baru saja aku ingin menanyakan hal itu, tapi langsung kuhentikan. Dasar aku bodoh. Mana mungkin anak orang kaya seperti dia bisa memasak. Pernah menyentuh kompor saja, mujur.
"Aku mencoba memasak sesuatu, tapi hasilnya aku malah muntah setelah memakan masakanku sendiri."katanya dengan posisi tetap seperti tadi.
"Hhmmsss... dasar bodoh!"Aku langsung meralat pikiranku tadi. Orang ini....benar2 tuan muda yang aneh. Ternyata gara2 itu dia tak ada tenaga untuk ke sekolah hari ini. Rugi rasanya aku sedikit merasa bersalah.
Setelah menemukan bahan makanan yang bisa kumasak di lemari es, aku langsung mulai memasak. Karena sepertinya kalau aku menunggu lebih lama lagi, Jiima benar2 bisa mati. Kondisinya sepertinya sudah mengenaskan. Aku tersenyum geli melihat sosoknya yang menyedihkan itu.
"Zrresssshhh...."
"Tlokk...tlokk..tlok..." suara aku memotong sayuran di telanan.
Selagi aku melakukan itu, Jiima ternyata asyik melihatku.
"Kau pintar memasak, ya?!" katanya .Aku baru menyadari kalau Jiima sedang melihatku. Posisi tubuhnya masih sama, hanya saja kali ini kepalanya melihat ke arahku.
"Ya, soalnya di keluargaku memang aku yang mengurus segalanya. Ibuku sibuk bekerja dan adikku masih terlalu kecil untuk melakukan semua itu."
"Adikmu cewek,ya? Pasti dia manis."
"Iya. Tapi, aku tak akan menyerahkannya pada orang sepertimu. Lagipula, umurnya baru 10 tahun."
" Jahatnyaa.... sepertinya kau tak suka dengan orang sepertiku."Jiima mengatakannya dengan senyum.
"Tapi tenang saja. Aku tak akan mendekati adikmu. Aku lebih menyukaimu." Dia mengatakannya dengan senyum lebar.
"Craashh.." Jariku teriris pisau karena kaget mendengar perkataan Jiima barusan.
"Aawww....!!!"Aku langsung menjauhkan tanganku dari pisau.
"Nagi, kau tak apa2 ??" Jiima langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Tak apa kok. Cuma tersayat sedikit."
"Coba kulihat !!" Jiima meraih tanganku melihat lukaku.
"Dasar. Kau ini kenapa ceroboh sekali ?!" Sambil mengatakan itu, Jiima memasukkan jariku yang tersayat ke mulutnya. Dan menghisapnya.
"!!!"
"A...aku baik2 saja! Kau tak perlu melakukannya!!" Aku segera melepaskan jariku dari mulutnya. Sial!! lagi2 dia membuat mukaku merah.
"Benar kau baik2 saja?"
"Tentu saja!! Kau duduk diam saja menunggu makanan siap di sana!!" Aku menunjuk meja makan tempat Jiima duduk tadi dan berbalik ke arah dapur melanjutkan memasak sambil menahan debaran jantungku. Dan sepertinya Jiima mematuhi perintahku dan kembali ke posisinya semula.
Setelah Jiima selesai makan sambil memuji masakanku, berarti tugasku sudah selesai. Aku beranjak dari tempat dudukku.
"Kalau begitu, sekarang aku pulang, ya."
"Nagi !!"
Jiima memeluk tubuhku dari belakang.
"Jii....Jiima !!?"
"Jangan pulang !! Tetaplah di sampingku hari ini."
" Apa yang kau...."
"!!!?"
Aku tak bisa melanjutkan kata2ku. Tangan Jiima yang satu memelukku erat dan yang satunya lagi menyentuh *beep*ku.
"Brengsek!! Apa yang kau sentuh?! Menjauhlah dariku!!" aku berusaha melepaskan diri dari dekapan Jiima.
"Apa kau menyukainya?" Jiima mengucapkannya di telingaku dan menyentuh lebih keras lagi.
" Kauu... Apa maumu, sialan ??" Aku susah payah menahan diriku dan berusaha menyingkirkan tangan Jiima.
" Aku menginginkanmu, Nagi" Jiima mempererat dekapannya dan menyentuhku lebih jauh lagi.
" Kau sudah gila! Lepaskan aku !!!" kepalaku sudah mulai panas dan aku mencoba menyingkirkan tangan Jiima sekuat tenaga. Tapi, tampaknya sia2.
"Hhaa...uunnn....."
"Lepas...kann.. sialan...!" aku hampir tak bisa menahan diriku. Tapi Jiima sama sekali tak berniat memperlonggar pelukannya.
"Kau tak akan kulepaskan!" Jiima kemudian mengangkatku ke kamarnya dan melemparkanku ke tempat tidurnya.
Setelah itu, dia menindihku dan menciumku.
"uumm...."
"!!!" Aku terkejut ketika lidahnya masuk ke dalam mulutku. Aku langsung melepaskan diriku.
"Sial ! Kau...uumm" Sia2 saja. Jiima meraih wajahku dan mengulum bibirku lagi.
"Uuummm....mmm..."
"Haa....ahh..."Jiima akhirnya melepaskan bibirku.
"Cupp...cup..."
"!!!" Jiima kemudian mulai mencium leherku dan kebawahnya.
"Akh... Jimaa sialan kau...!!"
Jiima sepertinya tak memperdulikan perkataanku dan tetap melanjutkan mencium leherku dan akhirnya mengulum *nipple*ku.
"Aahh...tidak!! Hentikan, brengsek!!"
"Kau sekarang dalam posisi tidak bisa menolak. Di rumah ini tidak ada siapapun kecuali kita berdua, ingat?" Jiima tersenyum lebih nakal dari biasanya dan sekarang tangannya membuka celanaku dan menyentuh *beep*ku.
"Waa...!!! Apa yang akan kau lakukan?!"
"Kau cukup menikmatinya saja." Jiima mulai menjilat dan mengulum *beep*ku.
"Aahh... Tidak. Hentikan itu!!"
"Pada saat aku melakukan ini, kau seharusnya menutup mata dan menikmatinya saja."Setelah mengatakan itu, dia melanjutkan pekerjaannya.
" Seenaknya...saja kau....brengsek..."
"Aaahhh...ahh..hngg...Jiima...hentikann..." Seluruh badanku terasa panas. Aku benar2 tak bisa menahannya lagi. Tapi Jiima sama sekali tak berniat menghentikannya.
"Haa...tidak...aku tida...ah.."
"Spurt"
Ah, tidak. Aku akhirnya......di depan Jiima. Rasanya aku benar2 marah dan malu.
"Jangan khawatir. Ini benar2 cantik." Jiima mengatakan sambil menjilatinya.
"Jangan mengatakan yang seperti itu cantik!! Dasar kau maniak!! Cukup sud....umm..." Jiima kembali mengulum bibirku.
Sambil menciumku, tangan Jiima menuju pantatku. Satu jarinya masuk ke lubang milikku.
"!!! Huumm...mmm...." Sial. Apa yang dia lakukan? Tapi aku tak bisa melepaskan diri dari ciumannya.
"Hhngg... unn...." Aku berteriak sewaktu jari Jiima bergerak2 tapi, suaraku tak bisa keluar karena mulutku ditahan oleh mulut !! Aku benar2 kesal sampai2 air mataku mengalir. Aku merasa aneh. Sebelumnya, aku tak pernah merasa seperti ini.
"Haa...ah...haah..." Akhirnya Jiima melepaskan ciumannya. Mungkin dia merasakan air mataku. Tapi tangannya tetap berada pada posisi seperti tadi.
"Aahh...ah!!" Suaraku semakin keras karena jari Jiima semakin cepat bergerak.
"Tidak...Aah..hentikan...sudah cukup..." tapi Jiima hanya tersenyum seperti biasanya.
Jiima kemudian melepaskan jarinya dan mengangkat kedua kakiku.
"Tunggu!! Kau mau apa? Hentikan!!"
"Bukannya kau juga menginginkan ini?" Dia mengatakannya sambil tetap tersenyum santai.
"Kapan aku menginginkannya? Sialan kau!!"
"Bohong. Punyamu sudah sejak tadi menjadi keras. Tadi kau menikmatinya kan?!"
Bllusshhh
Wajahku langsung menjadi merah padam. Aku jadi benci pada diriku sendiri yang tadi sempat menikmatinya.
"Tidak mungkin aku menikmatinya!! Dasar idiot!!"
"Kau bohong. Wajahmu merah." Sambil tersenyum. Aku benci melihat senyumnya itu.
"!!"
Sial! Bagaimana cara aku menyembunyikan wajah merahku ini? Dasar hemoglobin bodoh!!
"Aku akan memberimu kenikmatan yang lebih lagi"
"Tidak!! Hentikan!! Aku tak ingin melakukannya!!"
"Aku kan sudah bilang, kau dalam posisi tidak bisa menolak."
*beep* milik Jiima mulai masuk ke lubang milikku.
"Aakh... itu sakit!! Hentikan sialan!!"
"Maaf. Tapi, aku tak bisa menahannya lagi. Aku akan melakukannya dengan perlahan."
"Aakk...ahh...hen...tikan...nnnn"
Sial!! Rasanya benar2 sakit. Si brengsek itu mengatakan akan melakukan dengan pelan, tapi tetap saja sakit.
"Haahh...ahh...sa...kit...ah...keluarkan...itu.....Jiima" Air mataku mengalir deras. Aku mencengkram seprai dan punggung Jiima sekuat tenaga. Berharap Jiima akan menghentikannya. Tapi sepertinya dia tak memperdulikannya dan tetap menembusku.
"Aahh...haah...brengsek...ah....aku tak akan ....memaafkanmu....."
"Apa kau akan semakin membenciku?"
"Haa...aku pasti...akan membalasmu!!" Aku menatap tajam Jiima dengan mata yang berlinang air mata.
"Hmm.... coba saja. Huh!!" Jiima mengatakannya dengan senyum nakal dan memperkuat tenaganya.
"Hakhh...ahh..ah..." Aku berteriak sekuat tenaga. Si bajingan itu sekarang tidak menahan tenaganya lagi dan mempercepat gerakannya.
"Aahh...tidak!! Haa....nnnn.. Aaahh..."
Bersambung di chapter selanjutnya.......
Wahahaaaa....ero bgt !!!!! ////. Maap...mungkin banyak yg kaget....soalnya msih di chapter 2...tp nikmati sajalah...wahahaha......*laugh.
