Tittle : Failed Romantic
Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki
Warning : OOC, typo(s), light shounen-ai, gak ada humor /?
.
.
.
Sudah tiga hari sejak curhatan seorang Furihata Kouki pada Kuroko, dan tiga hari itu juga manager tim Touou sibuk dengan ponselnya. Bahkan Aomine tidak mengetahui apa yang dilakukan Momoi pada ponselnya. Wajah gadis berambut pink itu selalu berubah setiap ponselnya berdering. Serius, bingung, frustasi, dan bahkan tertawa terbahak-bahak
"Oi Satsuki, sebenarnya kau sedang apa?" Aomine yang penasaran bertanya pada teman masa kecilnya itu
"Sedang menjalankan misi yang diberikan Akashi-kun"
Sang ace Touou semakin mengernyitkan dahi mendengar jawaban Momoi. Mengangkat bahu, ia mencoba mengabaikan gumaman-gumaman tak jelas dari Momoi
.
.
.
Furihata semakin gelisah. Memang ia mengatakan bahwa ia ingin menghentikan hubungannya dengan Akashi, namun sang pemain bernomor 12 itu merasa tak nyaman tanpa pertanyaan penuh perhatian dari sang kekasih. Frekuensinya menatap layar ponsel menjadi lebih sering. Tak jarang Riko berteriak padanya karena tak mendengarkan instruksi. Tak jarang para anggota tim Seirin harus memanggilnya beberapa kali agar sang pemilik nama menoleh
Di saat sang teman sedang mengalami masa galau, Kuroko sedang dalam masa penyiksaan. Ia bagai pembawa kabar bagi sepasang kekasih yang sedang adu cuek. Beruntung Furihata tak menanyakan kabar Akashi. Sang kapten Rakuzan selalu menanyakan keadaan Kouki-nya setiap saat pada Kuroko. Belum lagi Akashi yang menyatakan diri ingin menjadi romantis
"Kuroko..."
Sang pemuda berambut biru langit itu menoleh. "Ada apa Furihata-kun?"
"A-Akashi-kun..."
Wajah datar Kuroko berubah menjadi semakin datar. Saat ini ia sedang muak mendengar nama mantan kaptennya. "Ada apa dengan Akashi-kun?"
"B-bagaimana kabarnya...?" wajah Furihata semakin tertutup karena kepalanya yang menunduk dalam. Oh rupanya ia tak kuat berlama-lama tanpa kontak dengan kekasihnya
"Dia baik-baik saja" jawab Kuroko dengan datar. "Aku permisi dulu, Furihata-kun" Kuroko mengangguk pelan dan pergi meninggalkan gym
Kuroko masih bersyukur karena ia bukan Momoi. Gadis pink itu memiliki pekerjaan yang lebih melelahkan darinya. Terbesit rasa kasihan di benaknya, namun cepat-cepat ia hapus saat ia mengingat wajah Momoi dengan tangan membekap mulut, serta hidung yang mengeluarkan darah segar. Entah ada perjanjian apa antara Momoi dan Akashi sehingga membuat gadis itu mau membantu Akashi. Mungkin Akashi memberikan fanservice secara langsung, mungkin.
Tangan pucat Kuroko meraih ponselnya saat dirasa benda itu bergetar menandakan pesan masuk. Mood-nya memburuk drastis saat membaca siapa si pengirim pesan
.
.
From : Akashi-kun
Beritahu Kouki kalau aku akan menjemputnya malam ini di rumahnya untuk berkencan
.
.
Dengan sangat terpaksa Kuroko kembali menuju gym untuk menunjukkan kabar baik pada rekan satu timnya itu
"Furihata-kun, malam ini ada acara?" Kuroko bertanya pada Furihata yang sedang membereskan bawaannya
"Tidak ada" Furihata menjawab dengan heran. Tumben sekali temannya yang satu itu bertanya seperti itu
"Akashi-kun akan menjemput di rumah Furihata-kun malam ini"
Antarkan pesan dan langsung pergi. Itulah yang dilakukan Kuroko. Ia sedang tidak ingin memikirkan segala hal yang berbau romantis atau pacaran atau apapun itu. Yang diinginkannya hanyalah segera beristirahat di rumahnya yang nyaman
"Akhirnya..."
Kuroko bergumam pelan setelah mencapai ranjangnya yang empuk. Matanya menerawang langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang entah kemana
Fantasinya terusik saat ia mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. Dengan langkah malas ia beranjak dari kamarnya. Tanpa mengintip, ia membuka pintu dan mendapati seorang pemuda berambut cokelat yang dikenalnya
"KUROKO APA YANG HARUS KUPAKAI NANTI MALAM?!" Furihata menerjang masuk dan memeluk Kuroko dengan wajah hampir menangis
Siku-siku kekesalan muncul di dahi pemuda berambut biru itu. Tak pernah terpikir kalau temannya itu menjadi seperti seorang gadis yang akan pergi kencan dengan kekasihnya untuk pertama kalinya. "Bagaimana kalau kita ke rumahmu untuk melihat pakaian?"
Furihata mengangguk dengan air mata yang menggantung di ujung mata. Sepertinya pemuda satu itu benar-benar bingung bagaimana menghadapi kekasihnya setelah berjauhan
Kuroko berjalan beriringan dengan Furihata menuju rumah si pemuda brunette. Tak beberapa lama, sampailah mereka di depan sebuah apartement sederhana. Furihata mempersilahkan tamunya masuk dan segera mengajaknya ke kamarnya. Kuroko terpana melihat kamar yang begitu berantakan. Baju berserakan di lantai, berbagai macam parfum ada di meja, dan tas sekolah yang dilempar begitu saja di atas ranjang
Kuroko beranjak menuju lemari Furihata dan menemukan baju-baju tergeletak. Ia menoleh dan melihat Furihata yang hanya memasang wajah salah tingkah. Benar-benar seorang gadis yang ingin kencan, pikir Kuroko
"Aku sudah memilih beberapa baju yang menurutku bagus..." Furihata mengambil sebuah kaus dengan bahu yang lebar
Melihat pakaian yang terlalu 'menggoda', Kuroko menggeleng tegas. Ia tidak mau temannya menjadi santapan singa
Furihata memasang wajah hopeless dan kembali membongkar tumpukan baju di lantai. Kuroko hanya menatapnya tanpa ikut membantu. "Apa yang harus kupakai? Mungkin kaus saja... tidak tidak, ini kencan, aku harus tampil istimewa. Sebuah kemeja? Ini terlalu simpel. Apa aku harus membeli baju baru? Atau..." matanya menyapu kesana kemari sambil menggumamkan setiap jenis pakaian yang dilihatnya
Kuroko yang sudah bosan mendengar daftar pakaian yang dimiliki temannya dengan cepat mengambil sebuah kemeja yang tergeletak dan menyodorkannya pada Furihata. "Gunakan ini saja Furihata-kun"
Furihata yang sudah putus asa hanya bisa menerima pakaian yang diberikan Kuroko. "Terima kasih Kuroko, aku benar-benar tertolong" ucapnya dramatis sambil mencengkram pundak Kuroko
"Tidak apa-apa Furihata-kun. Kalau begitu aku pergi dulu" Kuroko berpamitan pulang dari temannya yang akan pergi berkencan itu
.
.
Furihata Kouki sudah siap di ruang tamunya sejak 30 menit sebelum waktu yang dijanjikan. Bahkan ibunya sempat bertanya kenapa anaknya itu menjadi sangat tegang. Setiap menit terasa seperti satu tahun baginya. Tak jarang ia meraih kaca yang berada di dekatnya dan memperbaiki rambutnya yang sebenarnya baik-baik saja
"Kouki, bukankah janjinya jam 8?" sang ibu yang ada di dapur akhirnya bertanya
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin—"
TING TONG!
Furihata tersentak kaget saat suara bel memotong ucapannya. Dengan cepat ia berlari ke kamarnya yang ada di lantai dua. "Okaa-san tolong bukakan pintunya!" serunya sambil terus berlari
Sang ibu hanya menatap heran pada Furihata. Sudah menunggu selama lama, tapi kenapa anaknya itu malah berlari ke kamarnya saat sang tamu sudah datang? Tak mau ambil pusing, wanita itu segera membuka pintu depannya
"Akashi-kun, lama tidak kemari" wanita berambut cokelat itu tersenyum ramah dan mempersilahkan Akashi masuk
Akashi hanya tersenyum membalas ucapan sang (calon) ibu mertua
"Kouki, Akashi-kun sudah datang!" panggil ibunya dari bawah
Furihata (yang sudah tahu sejak awal) berpura-pura membuat suara gaduh dari kamarnya dan menunggu selama 5 menit. Tarik napas, keluarkan, tarik napas, keluarkan. Dengan langkah yang sangat lambat ia menuruni tangga
"Lama sekali Kouki"
Pemuda berambut cokelat itu sempat terpana sejenak. Baru tiga hari mereka tidak bertemu satu sama lain, Akashi sudah berubah menjadi sangat tampan di matanya
"Akashi-kun sendiri datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan"
Rupanya point guard Seirin itu ingin jual mahal. Padahal ia yang sangat menantikan kedatangan kekasihnya menjadi lebih cepat
Akashi tertawa kecil melihat tingkah kekasihnya. "Kalau begitu kita langsung pergi saja Kouki" ucapnya dan mengamit tangan Furihata
Terjadi keheningan yang sangat canggung di antara keduanya. Furihata hanya menatap gugup ke luar jendela mobil sang kekasih, menikmati pemandangan malam kota. Sementara Akashi hanya menatap lurus ke depan, tak berminat memulai pembicaraan. Pertanyaan muncul di otak Furihata saat ia melihat jalanan yang semakin lama semakin sepi
"Akashi-kun, kita akan pergi kemana?"
"Tempat spesial"
Furihata menatap heran pada Akashi yang hanya menyahut dengan senyum misteriusnya. Tak beberapa lama, pertanyaannya terjawab dengan suara mobil yang berhenti. Setelah turun, yang ditemukannya hanyalah sebuah jalanan sepi tanpa penerangan atau kendaraan
"Dimana ini Akashi-kun?" kembali Furihata bertanya heran. Ia merasa asing dengan lingkungannya
Akashi tak menyahut dan menutup mata Furihata dengan kain hitam. Gumaman takut dapat terdengar dari mulut pemuda sang surai cokelat. Akashi menenangkannya dengan menggenggam tangannya
Setelah berjalan beberapa saat, Furihata merasa dihadapkan dengan sebuah kursi. Dengan dibantu sang kekasih, Furihata berhasil duduk. Terdengar bunyi kursi dari depannya dan matanya terbebas dari kegelapan
Mata cokelat itu mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya. Setelah dapat melihat normal, yang ditemukannya adalah sang kekasih sedang duduk berhadapan dengannya dengan dibatasi meja bundar. Berbagai makanan tertata di atasnya dan sebuah lilin menghiasi meja putih itu
Furihata menoleh dan ia melihat hamparan laut gelap. Ia kembali menatap sang kekasih dengan heran, dan hanya dibalas dengan sebuah senyum kecil. Matanya kembali melihat sekeliling dan menemukan banyak lilin pendek ditata di sekeliling mereka. Setelah mengamati letak lilin-lilin itu, ia tersadar bentuk apa yang dibentuk sang lilin
Tanda cinta, atau sering disebut sebagai love
Furihata tak bisa berkata apa-apa. Ia sangat terkejut dengan rencana sang kekasih. Ia hanya bisa menatap Akashi dengan wajah yang sangat memerah
"Makan malam spesial ini kusiapkan untuk Kouki-ku yang manis"
Ucapan romantis yang diiringi dengan senyum lembut membuat hati Furihata meleleh. Ia tak sanggup berlama-lama marah pada kekasihnya yang sangat perhatian
"Terima kasih Akashi-kun, aku benar-benar—"
Kalimat Furihata terpotong dengan bunyi angin yang cukup kencang. Akashi sempat merasa kesal karena makan malam romantisnya terganggu. Akashi membuang perasaan kesal itu. Malam ini ia harus merasa bahagia dan membuat kekasihnya ikut bahagia dengan—
Kegelapan menyergap dua orang pemuda yang sedang berkencan di pantai itu. Puluhan lilin yang menemani keduanya mati dalam sekejap diterpa angin
Akashi mati gaya. Furihata speechless
Akhirnya keduanya memakan makanan mereka dalam kegelapan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Keheningan itu terus berlanjut hingga Furihata di antar sang kekasih kembali menuju rumah
.
.
Malam itu, dapat dipastikan lima orang pemuda dan seorang wanita berambut pelangi akan mati di tangan raja iblis yang sedang murka
TBC
yosh akhirnya update
maaf jika chapter ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan (author krisis ide)
makasih buat semuanya yang udah review, fav, dan follow. saya terharu :')
oh iya, GoM gak ada muncul di chap ini, mungkin chap depan bakal ada
the last, review?
