Theme #2: Through her Eyes
SoulxMaka
.
Not mine. You already know that, geez—
.
Enjoy.
.
Soul
.
Ia tidak pernah berpikir tentang kemungkinan kalau ia mempercayai gadis itu sebegitu dalam.
Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam pikirannya, jika ia memberi sebanyak itu. Ia hanya mengikuti, sekedar mengekor, mematuhi setiap keinginan gadis itu dikala mereka beresonansi agar kemampuan yang mereka keluarkan dapat lebih maksimal. Singkatnya, tuntutan pekerjaan.
Dan, kepercayaanpun hanya mengalir sebatas itu. Tidak lebih.
Kenapa harus memberi lebih? Selama mereka bisa beresonansi dengan baik, maka itu sudah cukup, bukan? Selama mereka bisa mengalahkan musuh mereka, maka apapun jadi, kan? Konsep saling mempercayai karena tuntutan pekerjaanpun tidak buruk, bukan?
Karenanya, ia tidak pernah berpikir untuk mempercayai Maka lebih dalam. Atau mungkin, tidak ingin berpikir begitu.
Soul bukanlah seseorang yang mudah membuka hatinya pada orang lain. Ia waspada. Selalu waspada. Kewaspadaan yang ekstrim dan kadang berubah menjadi kecurigaan tingkat tinggi. Bahkan pada kucing penyihir yang kijil itu. Tak peduli jika kucing itu mungkin sudah tobat, ia masih tidak bisa mempercayainya. Ia tidak seperti Maka, yang dengan tangan terbuka dapat menerima orang lain dan berteman dengan mereka yang pernah menjadi penjahat. Ha ha, ia tidak mungkin seperti itu.
.
Orang lain dapat mengatakan kalau ia adalah seorang pemalas. Bahwa ia terlalu mementingkan prestise cool yang ia junjung tinggi sedari zaman jebot, bahwa ia sangat indifferent dalam pergaulan antar kawan. Terserah. Takkan ada yang tahu jika ia merupakan tipe penganalisa dibalik sikap cueknya. Takkan ada yang tahu kalau ia adalah seorang yang selalu memperhatikan orang-orang sekitarnya walaupun ia terlalu sungkan mengungkapkan hal tersebut.
Terkecuali Maka.
Apakah ia pernah mengatakannya secara gamblang? Tentu saja tidak. Gadis itu mengamati, meneliti sendiri segala sikap yang ia sembunyikan dibalik wajah datarnya. Bahwa disamping berbagai sikap jelek yang Soul punya, ia masih memiliki sisi baik.
Dan, apa yang Soul lakukan setelah ia tahu kalau gadis itu menelitinya macam tikus lab?
Tidak ada.
Ya, ia memang bilang bahwa ia tak percaya siapapun. Tidak seorangpun. Ya, dia memang waspada pada setiap orang yang ada disekitarnya tanpa terkecuali. Lelaki cool tak pernah hipokrit, tapi semua alasan seperti terdistorsi dan berbelok pengartiannya jika bersangkutan dengan Maka.
Ia biarkan Maka mengorek tentangnya lebih dalam. Ia biarkan gadis itu mengetahui kebiasaan-kebiasaannya yang selalu berusaha ia sembunyikan dari yang lain(faktor wibawa, hmm). Ia biarkan gadis itu tahu segala tentangnya. Bersikap acuh tak acuh sembari memperhatikan Maka yang dari hari kehari mengenal dirinya lebih jauh.
Kenapa?
Kadang iapun ingin menanyakan hal yang sama. Kenapa? Kenapa hanya Maka? Kenapa ia bisa selengah ini dihadapan gadis berkepang dua itu? Ah, coret. Bukan. Kenapa ia membiarkan dirinya selengah ini dihadapannya?
Etika pekerjaan lagi-kah?
Atau—
"Kita saling percaya satu sama lain, bukan begitu?"
Ketika kedua bola mata hijau zamrud itu menghantam dan menatapnya lekat-lekat, bagai membius, Soul mendapati dirinya tak bisa lepas dari tatapan tersebut. Disana, dalam mata itu, terpancar keyakinan. Terpancar rasa kasih tidak terkira, dan... sedikit keraguan. Tapi, mungkin itu hanya karena Soul mendiamkan gadis ini dan tak membalas ucapannya hingga menit kelima berlalu.
Dan dia dapati lagi, tatapan lurus itu bagai menjernihkan isi otaknya. Segalanya terlihat lebih jelas. Lebih mudah dipahami. Berbagai petunjuk kecil yang terlewati akhirnya mulai masuk akal.
Ini bukan hanya karena kewajiban atau karena mereka partner. Bukan.
Walau tak menyangka bahwa ia akan bersikap seperti ini, Soul sama sekali tidak bisa menyangkal.
Dan Soul adalah orang yang Maka pilih untuk saling berbagi kepercayaan.
.
.
"Kau membutuhkan aku?"
Kedua mata bening gadis itu berkilau tertimpa cahaya yang entah berasal darimana, hingga beberapa warna cerah lain seakan menjadi teman sejalan dalam retina.
"Kau… percaya padaku?"
Menurutmu?
Soul bermain-main dengan kebisuan. Mengulur-ulur waktu sebelum benar-benar menjawab. Bola matanya berputar-putar dibawah kelopak mata, berlagak menyibukkan diri.
"Soul…"
"Hm?"
"Jawabanmu?"
Pfft.
"Tentu."
Mendengus. "Kalau begitu, kenapa kau tidak segera melamarku?"
.
A/N:
Sekedar rambling. Haish...
Note1: Kijil: centil (maaf, pake bahasa daerah)
Note2: 100 themes ini hanya kumpulan drabble pendek maupun cerita one-shot panjang yang malas saya terbitkan tersendiri. Tidak terkait timeline dan kadang AU. Maaf ya, semoga kalian maklum.
Samarinda, 23 May 2011
