Disclaimer : Standard disclaimer applied

a/n: hellow semua yang udah pada lumutan nungguin lanjutan dari series ini, dengan segala kerendahan hati, nna minta maaf untuk keterlambatan aplot ini cerita T_T tapi inilah nna adanya sebagai manusia yang perfectly imperfect. Terimakasih untuk semua yang sudah membaca, mereview, memfavoritkan, bahkan yang mengikuti cerita abstrak ini, nna love you all. Also to my dearest yeobo, Tya, yang sabar & berbaik hati mengoreksi chapter ini, miss you sooooo much #peyukciyum. My crazy girl, Wiid, yang iming-iming video abstrak (diikuti sederet ancaman) supaya nna aplot ini chapter, jangan khawatir, cheerleader sebiji ini tetep bakal nge-bitching di chat kamu.

Untuk sementara, maaf nna belum bisa bales review satu-satu. Nna pikir nna perlu memperbaiki chapter 1, dan kalo nna posting chapter editan, nna bakal sekalian bales review kalian.

For now, enjoy the story and Happy Kaisoo Day!


Warning:

KaiSoo / GS! / OT12 / Perhatikan tiap subtitle


|| Jongin & Kyungsoo 16 Years Old ||

"Noona." Jongin tiba-tiba datang dan memutar kursi di depan Kyungsoo lalu duduk berhadapan dengannya.

Kyungsoo bergidik mendengar sapaan Jongin. "Berhenti memanggilku seperti itu, Jongin."

"Tapi kau kan masih lebih tua dua hari daripada aku, jadi kau adalah noona-ku," Jongin berkeras.

"Baik, apa maumu? Kau tidak mungkin kesini dan mendadak manja kepadaku tanpa menginginkan sesuatu. Katakan lalu cepat pergi. Jangan menggangguku," ketus Kyungsoo.

"Tumben judes amat," jawab Jongin sambil mem-pout bibirnya.

"KIM. JONG. IN." Nada lambat Kyungsoo justru lebih berbahaya.

Jongin melirik arlojinya, memastikan tanggal. 'Pantas saja dia marah-marah,' batinnya. Mereka sudah saling kenal, katakanlah, sejak berusia empat bulan dalam kandungan. Tentunya mereka bisa hafal saat-saat penting satu sama lain. Misalnya, pada tanggal-tanggal segini biasanya Kyungsoo akan mendapatkan tamu bulanannya. Diiringi dengan mood swing luar biasa yang kadang bisa membuat godzilla PMS yang ngamuk kemudian memergoki pacarnya selingkuh dengan bekas selingkuhan mantan pacarnya sampai punya anak tiga belas biji akan tampak sangat manis dan manusiawi. Mungkin ada baiknya sepulang sekolah nanti dia belanja stok cokelat. Jaga-jaga untuk membujuk Kyungsoo yang merajuk.

"Ehehehe, kau tahu Myungsoo kan? Yang sekelas denganku itu. Dia baru saja mendapatkan bekal makan siang dari pacarnya."

"Hmm," sahut Kyungsoo cuek sambil tetap fokus pada lembaran kertas nadanya, yang menurut Jongin menyebalkan karena membuat Kyungsoo tidak memperhatikannya. "Dasom kemarin memintaku mengajarinya cara mempersiapkan bekal."

"Buatkan satu untukku."

"Maaf?" Dia mendongak menatap Jongin, membuat Jongin berteriak senang dalam hati karena akhirnya Kyungsoo memperhatikannya.

"Buatkan aku bekal makan siang, sama seperti yang dibuatkan Dasom untuk Myungsoo."

"Kau seharusnya minta pada Krystal, bukan padaku. Kukira kalian berkencan."

"Kami memang sering keluar bersama tapi kami tidak berkencan," bantah Jongin. "Lagipula, aku inginnya makan bekal buatanmu."

Kyungsoo menatap Jongin beberapa saat. "Aku tidak mau," jawabnya tenang lalu kembali pada lembaran kertasnya.

"Please? Please? Please?" pinta Jongin dengan melas.

"Tidak, Jongin. Aku bukan pacarmu, dan ingat umurmu! Berhenti bertingkah manja."

"Memang bukan pacarku, tapi kau kan a girl dan my friend. Jadinya, yaa, kau adalah my girlfriend. Karena itu kau akan membuatkan bekal untukku, atau aku akan terus mengganggumu hingga kau membuatkannya untukku. Dan satu lagi, aku hanya manja padamu jadi berbanggalah bahwa seorang Kim Jongin manja kepadamu," katanya dengan penuh percaya diri.

"Whatever, dan ngomong-ngomong aku harus menemui Mr. Ahn untuk membicarakan masalah klub, bye." Kyungsoo membereskan kertasnya dan segera pergi, meninggalkan Jongin yang cemberut.

Sepanjang hari itu, ponsel Kyungsoo tidak berhenti berdering, penuh dengan pesan dan panggilan dari Jongin. Saat Jongin menjemput Kyungsoo di ruang klub menyanyi, Baekhyun bilang Kyungsoo sudah pulang. Lalu esoknya saat Jongin menjemput Kyungsoo untuk berangkat ke sekolah, Mama Kyungsoo bilang dia sudah berangkat bersama Baekhyun.

Singkat kata, pagi ini bukan pagi yang menyenangkan untuk Jongin. Secara metafora, bisa dilihat ada awan hitam yang menggantung di atas kepala Jongin dan membuat siapapun yang hendak menyapanya mengurungkan niat. Khawatir dengan petir yang sewaktu-waktu tampak siap menyambar. Jongin yang biasanya selalu ceria dan ramah menjadi diam dan dingin.

Sejujurnya, Jongin dengan merana berpikir kalau Kyungsoo membenci dirinya.

Tapi ketika sampai di kelas, dia menemukan bungkusan di atas mejanya yang berisi sekotak bekal dan sebotol air mineral. Selembar catatan tertempel di atas bungkusan itu.

'Aku sudah membuatkanmu bekal, jadi berhenti menggangguku dan biarkan ponselku yang malang beristirahat sejenak.

D_O'

Pagi ini memang bukan pagi yang baik, tapi hari ini jelas hari yang baik. Dan Jongin tidak bisa menghapus senyumannya sepanjang hari.

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 21 Years Old ||

Kyungsoo menggedor pintu gudang dengan sia-sia. Bibirnya terus bergerak dalam sumpah serapah tanpa suara kepada orang asing yang meninggalkannya terkunci di gudang.

Bagaimana bisa Kyungsoo terkurung di dalam gudang?

Salahkan saja sifat suka membantu orang lainnya yang kadang justru membuat dirinya celaka. Jadi, setelah bertemu dengan orang, yang katanya, disuruh Luhan untuk mengambil sesuatu dari gudang dan bersedia mengantarkannya, mereka menuju gedung modelling. Berbasa-basi ringan, orang itu memuji duet Kyungsoo dan Baekhyun yang membawakan What Is Love dengan fantastis. Kyungsoo menerima pujian itu dengan senyum kecil dan ucapan terima kasih.

Saat mereka sampai, pintu gudang sudah terbuka lebar dan gelap gulita. Perasaan Kyungsoo mulai tidak enak. Dia berbalik dan hendak menanyakan apa yang dicari Luhan. Namun belum sempat Kyungsoo membuka mulut, mendadak orang itu mendorong Kyungsoo hingga masuk ke gudang dan segera mengunci pintunya dari luar.

"Apa-apaan ini? " teriak Kyungsoo. "Hei, Buka pintunya!"

Sunyi, tidak ada sahutan. Sepertinya orang itu langsung pergi setelah mengunci pintu gudang.

Dalam kegelapan, dia meraba-raba dinding, mencari saklar lampu. Dipencetnya saklar itu dengan ganas saat lampu tidak kunjung menyala. Ganti dia memeriksa seluruh saku bajunya, mencari ponsel. Lalu lagi-lagi mengumpat tanpa suara saat menyadari dia masih memakai kostum untuk tampil tadi dan ponselnya ada di dalam tas yang ditinggalkan Gyuri di gedung musik.

Great, terkurung sendirian di gudang yang gelap gulita. Berteriak juga percuma karena Kyungsoo tidak yakin ada orang yang akan lewat di sini. Semua orang mungkin sedang berkumpul di lapangan untuk menonton live musik dan mempersiapkan kembang api. Tidak ada ponsel berarti dia tidak bisa menghubungi siapapun untuk meminta tolong.

Digedornya lagi pintu gudang dengan marah. Bibirnya kembali bergerak tanpa suara mengutuk siapapun yang membuatnya terkurung disini. Pikirannya teringat pada Jongin yang mungkin saat ini sedang menunggunya dengan marah.

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 17 Years Old ||

Beberapa bulan terakhir ini Kyungsoo punya kebiasaan baru, menonton film di bioskop dua kali seminggu, atau malah lebih. Dia memang jarang mengajak Jongin, tapi Jongin selalu tahu jika Kyungsoo hendak pergi dan berakhir dengan dia menemani Kyungsoo. Jadi disinilah Jongin tiap kamis dan jumat malam, atau kapanpun Kyungsoo ingin menonton film, menemani Kyungsoo ke bioskop dan menonton film-film random. Dia menyadari bahwa dia tidak sedikitpun menyesal menemani Kyungsoo. Apalagi Kyungsoo selalu bisa memilih film yang bagus untuk ditonton.

"Apa yang kau lakukan, Kkamjong?" tanya Sehun saat melihat sahabatnya pagi-pagi begini sudah serius memperhatikan ponselnya. "Kuharap kau tidak menonton yadong atau Kyungsoo akan sangat kesal kalau dia tahu."

"Pertama dan terakhir kalinya aku menonton video yadong adalah tiga tahun lalu dan itu juga karenamu, Cadel!" balas Jongin ketus. "Aku cuma mengecek jadwal tayang film di bioskop malam ini. Mau ikut?"

"Tidak, aku ada kencan online dengan gadis paling cantik di dunia malam ini," tolak Sehun.

"Aku yakin dia tetap tidak akan lebih cantik daripada Kyungsoo," gumam Jongin yang hampir tidak terdengar oleh Sehun. Sehun, dengan segenap keinginannya, menahan lidahnya agar tidak menyahuti gumaman Jongin. Dia sudah maklum dengan sifat Jongin yang memuja Kyungsoo.

"Naeun-ah." Jongin dan Sehun segera menoleh ke arah Naeun, yang duduk di bangku belakang mereka, dan pacarnya, Taemin, yang juga adalah senior mereka di klub menari. "Masih malam sekolah, sih. Tapi aku punya dua tiket dari kakakku, kau mau menemaniku nonton film nanti malam?"

"Tentu, Oppa," jawabnya dengan rona kemerahan menghiasi pipinya.

"Bagus, nanti akan kujemput jam tujuh." Dia tersenyum lalu berbalik dan melihat Jongin dan Sehun, dia menyapa mereka. "Hey, Jongin, Sehun, sampai ketemu di klub nanti sore."

"Baik, sunbae," sahut mereka bersamaan. Taemin melambaikan tangannya dan keluar kelas.

Jongin menoleh ke arah Naeun yang dikerumuni teman-temannya. "Huuft, aku iri."

"Apa?" tanya Sehun.

"Lihat mereka, punya pacar yang bisa diajak ke bioskop dan kencan. Coba aku punya pacar yang bisa kuajak pergi. Kau saja punya teman kencan, meskipun cuma online."

Sehun mengangkat sebelah alisnya, setengah tidak percaya. "Jongin, kau tidak butuh pacar," tegasnya. "Kau sudah punya Kyungsoo."

"Memangnya apa hubung..."

"Jongin!" seru seseorang dari pintu kelas. Jongin sontak menoleh dan tersenyum saat melihat Kyungsoo menghampiri mereka dengan langkah ceria dan senyum lebar. "Hey, Sehun. Kalian berdua sibuk malam ini?"

"Tidak," sahut Jongin "Kau mau menonton?"

"Yep, aku menemukan film bagus. Kalian berdua mau ikut kan?"

"Inginnya, tapi maaf Kyungsoo, aku ada janji malam ini. Mungkin lain kali?" jawab Sehun menyesal.

Senyum Kyungsoo berkurang. "Tentu saja Kyung, aku akan menjemputmu. Jam berapa?" tanya Jongin sebelum mood Kyungsoo berubah buruk.

Kyungsoo tersenyum dengan antusias. "Aku akan menghubungimu begitu aku dapat tiketnya, bye guys." Kyungsoo segera berlari keluar kelas, bertepatan dengan bel berbunyi.

"Lihat yang kukatakan. Kau tidak butuh pacar karena, practically, kau sudah punya pacar."

"Kyungsoo bukan pacarku, Cadel."

"Whatever, Kkamjong."

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 21 Years Old ||

"Mana Yifan?" tanya Yixing pada Zitao yang tampak kebingungan, tanpa menyadari Joonmyeon yang –lagi-lagi– sedikit memucat mendengar Yixing menanyakan kakaknya.

"Aku tidak tahu," jawab Zitao sedikit cemas. "Luhan memanggilnya tadi dan aku belum melihatnya lagi sampai sekarang. Berdoa saja Yifan tidak melakukan apapun yang sedang direncanakan Luhan."

"Yifan tidak akan melakukan hal yang akan membuatmu melarangnya bertemu denganmu," hibur Yixing. "Lagipula Luhan kan tidak punya apapun yang bisa digunakan untuk memaksa Yifan membantunya."

"Kau tidak tahu," sahut Zitao muram. "Bukan Minseok-jie yang mendapatkan penerbangan ke sini, tapi Luhan. Dan Luhan bisa membuat kesepakatan dengan itu."

Joonmyeon melihat Jongin yang berjalan sambil menoleh ke sekitar seolah mencari seseorang. Dia melambaikan tangan ke arah Jongin dan membuatnya berjalan ke arah mereka. "Hey, ada yang melihat Kyungsoo?" tanya Jongin.

Tiga orang dihadapannya menjawab dengan gelengan pelan. Jongin menghela nafas. "Aku melihatnya di barisan depan saat aku perform dan tadi dia sudah berjanji untuk datang ke backstage setelah performku. Aku menunggunya di backstage tapi dia tidak datang juga"

"Mungkin dia bersama Baekhyun atau Gyuri. Sudah mencoba menghubungi ponselnya?" saran Joonmyeon.

"Ponselnya aktif, tapi tidak diangkat. Aku sudah bertemu Baek-noona dan dia bilang tidak tahu," ujar Jongin sambil mengerutkan keningnya. "Aku mau bertanya ke Luhan dulu, barangkali dia tahu dimana Kyungsoo. Perasaanku tidak enak. Nanti kabari aku kalau kalian bertemu dia," pamit Jongin, lalu dia bergegas pergi.

"Entah kenapa aku punya firasat buruk kalau semua ini ada hubungannya dengan Luhan," gumam Joonmyeon setelah Jongin berjalan menjauh.

"Hei, Gramps!" sapa Sehun yang mendadak muncul dan merangkul bahu Joonmyeon. "Aku ingin mengucapkan selamat kepada Kim Joonmyeon dan Wu Yixing untuk peresmian hubungan kalian," ujar Sehun dengan nadanya yang terkesan monoton, senyum kecil di sudut bibir yang membuat ekspresi dingin muncul di wajah khas aristokratnya, namun dengan kilat jahil yang begitu kentara di matanya.

Tanpa ba-bi-bu, Yixing menyarangkan kepalan tangannya di perut pemuda setengah albino itu. Pukulannya tidak keras memang, barely hurt. Namun membuat Sehun tersentak mundur dan terbungkuk sambil mengaduh seolah pukulan itu benar-benar menyakitinya. Hanya untuk sedetik kemudian dia kembali berdiri tegak dan tertawa lepas. Jenis tawa yang mampu membuat waktu terhenti sejenak, matahari bersinar lebih terang, dunia lebih berwarna, angin bertiup sepoi-sepoi, bunga bermekaran, dan para fangirls jatuh pingsan karena aura berkilau yang dipancarkan Sehun.

Ouch, maafkan Nna dan obsesinya pada Sehun.

"Jadi sekarang aku bertemu dengan dalang dibalik acara 'penembakan'ku yang memalukan?" tuntut Yixing.

"Bukan aku," kelit Sehun.

"Oh Sehun!"

"Memang bukan dia," bela Joonmyeon. "Itu ide Luhan. Tanyakan saja pada Zitao kalau tidak percaya."

Yixing menoleh ke arah Zitao dengan pandangan terkhianati. "Kau juga?"

Zitao hanya tersenyum gugup pada Yixing. "Tugasku hanya untuk memastikan operator menyalakan mic Joonmyeon dan mengangkat tirai stage pada waktu yang tepat."

Dibawah pandangan tajam Yixing yang masih tertuju padanya, senyum Zitao perlahan berubah menjadi ringisan. "Dan, umm, memastikan Yifan tidak mengamuk atau melakukan hal-hal yang membahayakan saat dia tahu ada laki-laki yang memeluk adiknya atau bahkan menjadi kekasih adiknya."

Yixing mengerjap. Oke, Zitao benar. Keselamatan Joonmyeon sekarang menjadi salah satu hal yang patut diprioritaskan, apalagi jika berhubungan dengan Yifan. Jadi panda calon kakak iparnya itu dimaafkan. Tapi little deer itu harus mendapatkan balasan untuk rencananya yang membuat Yixing malu.

"Ngomong-ngomong, kau melihat Kyungsoo?" tanya Joonmyeon pada Sehun.

"Tidak. Memangnya kenapa?"

"Jongin mencarinya. Sekarang mungkin dia sedang bertanya ke Luhan."

"Ooh." Postur santai Sehun tidak berubah. "Tenang saja, sebentar lagi mereka juga akan bertemu kok. Bahkan aku berani bertaruh sekarang Yifan sedang mengantar Jongin ke tempat Kyungsoo."

Mereka bertiga terdiam mendengar jawaban Sehun. "Sehun, please, jangan bilang kalau Luhan benar-benar melakukan ide gilanya itu?" pinta Yixing.

"Mengurung mereka di gudang hingga mereka saling mengutarakan perasaan mereka? Tentu saja tidak. Luhan tidak melakukannya," jawab Sehun tenang, membuat raut khawatir memudar dari wajah Yixing dan Zitao.

Namun seringaian jahat, yang benar-benar JAHAT, tersungging di bibir Sehun, matanya kembali berkilat dengan kadar kejahilan yang mengerikan, membuat wajahnya yang angkuh menjadi semakin tampan.

"Aku yang melakukannya."

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 18 Years Old ||

"Kau bisa pulang duluan, Jongin," ujar Kyungsoo saat menemukan Jongin menunggunya sambil bersandar di mobil yang diparkir dekat gerbang sekolah.

"Memangnya kau mau kemana?" tanya Jongin heran. Dia dan Kyungsoo terbiasa berangkat dan pulang sekolah bersama sejak mereka kecil. Hingga sekarang saat mereka SMA, Papa Kyungsoo belum memperbolehkan Kyungsoo membawa mobil sendiri, sedangkan ibu Jongin tidak mengijinkan Jongin menyetir kecuali Kyungsoo bersamanya.

Kyungsoo menatap Jongin ragu. "Aku mau pergi ke mall," jawab Kyungsoo pada akhirnya. "Mengunjungi cabang butik Han yang baru dibuka, sekalian mengambil pakaianku. Setelah itu mungkin meminta Seungyeon-eonnie atau Hyeri-eonnie untuk menemaniku shopping kalau mereka tidak sibuk. Jangan khawatir, aku bisa pulang naik taksi."

Jongin mengangkat alisnya. Dia tahu Kyungsoo tidak suka belanja. Meskipun dia punya waktu yang berlebihan untuk belanja, dia lebih memilih untuk mengikuti berbagai klub dan menjadi aktivis sosial daripada sekedar menjadi seorang sosialita. Bahkan untuk urusan pakaian, Kyungsoo selalu memilih pakaian yang sederhana dan selalu menolak mengenakan rancangan desainer yang, mengutip perkataan Kyungsoo sendiri, 'membuatku terlihat menjadi salah satu orang yang berhati kosong dan hanya peduli dengan materi'. Kalimat itu sempat membuat mamanya, yang juga seorang desainer, marah besar dan mendiamkan Kyungsoo. Meskipun akhirnya beliau mengerti alasan Kyungsoo. Akhirnya Kyungsoo menyerah saat kelas dua junior high school setelah mamanya dan Jongin membujuknya selama seminggu penuh tanpa henti. Dan dia bersedia memakai pakaian dari desainer Han yang memang terkenal simpel namun berkelas. Setelah itu, sampai sekarang mamanya selalu memesan pakaian untuk Kyungsoo dari desainer Han.

"Bagaimana kalau kutemani?" tawar Jongin.

Mata Kyungsoo membulat. "Tidak perlu. Kau kan harus segera pulang."

Jongin berdecak. "Ibu tidak di rumah, kalau kau khawatir. Lagipula dia justru tidak akan senang kalau tahu kau tidak bersamaku di mobil." Dia membukakan pintu samping untuk Kyungsoo. "Ayo masuk."

Mall yang menjadi tujuan mereka tidak jauh, hanya sekitar 10 menit dari sekolah. Selama perjalanan mereka berdua diam hingga sampai di tempat tujuan. Hal yang ajaib karena mereka bisanya selalu punya topik obrolan yang tidak pernah habis.

"Aku heran," Jongin membuka percakapan saat mereka menaiki elevator. "Tumben sekali kau mau ke mall, lebih-lebih untuk belanja."

Kyungsoo tanpa sadar memainkan bandul kalungnya yang berbentuk matahari, hadiah dari Jongin pada ulang tahunnya yang ke lima belas. "Mencoba sesuatu yang baru?"

"Kau tidak sedang mencoba sesuatu yang baru, Kyung," sahut Jongin malas, seolah dia harus menjelaskan darimana matahari terbit. "Kita sudah pernah mencoba hal ini yang saat tahun terakhir primary school dan termasuk dalam daftar 'hal baru yang gagal' dan 'hal yang tidak perlu dicoba ulang'. Dan sekarang kau memainkan matahari itu, artinya kau sedang berbohong."

Kyungsoo menghentikan jemarinya, tepat saat pintu elevator terbuka. "Kita sampai," ujarnya dan segera berjalan keluar elevator dengan cepat. Namun Jongin mencekal tangan Kyungsoo hingga membuatnya berhenti.

"Aku tidak suka kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku," geram Jongin. Dilepaskan cekalannya saat menyadari Kyungsoo mengernyit tidak nyaman. Lalu dia menggandeng lembut tangan Kyungsoo, mengajaknya berjalan lebih santai. Membuat mereka tampak seperti pasangan remaja yang sedang kencan. "Kau tahu aku paling tidak suka melihatmu overthinking. Aku selalu mengatakan apapun yang kupikirkan padamu, karena aku tidak mau kau salah paham padaku kalau aku melakukan sesuatu yang menurutmu aneh. Aku mau kau juga seperti itu, selalu mengatakan apa yang kau pikirkan atau mengganggumu. Aku memang mengenalmu seumur hidupku dan aku tahu kebiasaanmu, tapi bukan berarti aku bisa membaca pikiranmu. Dan aku tidak suka kau menghabiskan waktumu sibuk dengan pikiranmu sendiri lalu kau tidak memperhatikanku sama sekali. Aduh," ringis Jongin saat Kyungsoo melepaskan gandengan Jongin dan mencubit lengannya dengan keras.

Cengiran Jongin mengembang. "Nah, aku lebih suka seperti itu, karena itu artinya kau memperhatikanku." Dia berkelit untuk menghindari cubitan Kyungsoo. "Jadi, mau cerita padaku?"

Kyungsoo melengos, berpura-pura tidak mendengarkan .

Mereka memasuki sebuah butik dan disambut langsung oleh sang desainer sendiri yang masih sepupu Jongin. "Halo kalian berdua," sapa Han Seungyeon. "Baik sekali mau mampir kesini."

"Hai, noona. Aku mengantarkan Kyungsoo mengambil pakaiannya," jawab Jongin. Kyungsoo hanya tersenyum manis pada Seungyeon.

"Tidak perlu repot-repot, Kyungie. Hyeri tetap akan mengantarkan pakaianmu ke rumah seperti biasanya."

Kyungsoo memainkan jemarinya. "Aku tidak enak merepotkan eonnie dan Hyeri-eonnie terus-terusan."

"Sekalian refresing. Bisa stres kami terus-terusan belajar untuk ujian kelulusan," tambah Jongin. "Kyungsoo juga mau belanja."

Mendadak senyum Seungyeon melebar. "Oh, bagus sekali. Mamamu sering sekali mengeluh tentangmu yang paling tidak mau kalau diajak shopping. Aku tidak bilang selera fashionmu buruk, kan aku yang merancang seluruh pakaianmu," candanya. "Tapi aku senang sekali kalau sesekali bisa melihatmu mengenakan sesuatu yang berbeda meskipun bukan rancanganku." Seungyeon menepukkan tangannya dengan antusias. "Nah, jangan biarkan aku menghambat kalian. Taruh saja tas kalian dikantorku, nanti ambil lagi kalau kalian sudah selesai belanja."

Setelah berjanji bahwa mereka akan menemani Seungyeon makan malam nanti, keduanya berjalan menyusuri deretan toko di dalam mall itu. "Apa yang biasanya dilakukan kalau perempuan shopping?" tanya Kyungsoo pelan.

Jongin tergelak. "Yang perempuan disini kan kau, Kyung. Kenapa malah tanya aku?" Jongin mendadak serius saat dilihatnya ekspresi Kyungsoo semakin muram. "Oke, kalau Naeun dan teman-temannya, mereka biasanya mulai dari toko pakaian, lalu ke area bermain, setelah itu ke toko sepatu, dan terakhir ke toko aksesoris. Kalau Krystal dan yang lainnya mulai dari sepatu, gadget, pakaian, dan terakhir mereka nonton film."

"Kau itu, bagaimana bisa hafal kebiasaan mereka?"

"Mau bagaimana lagi? Yang satu mejanya di depanku, yang satunya dibelakangku. Mau tidak mau aku terpaksa mendengarkan mereka mengoceh tentang acara shopping mereka," adu Jongin.

Kyungsoo tersenyum. Hanya senyum kecil tapi membuat Jongin bersyukur gadis di sampingnya sudah tidak muram lagi. Dia menarik Kyungsoo untuk memasuki sebuah toko terdekat. "Kenapa kau tidak asal mengambil salah satu baju di rak itu lalu mencobanya?" usulnya.

"Kau biasanya melakukan itu?"

"Biasanya seperti itu. Tapi aku lebih sering menyuruh Sehun memilihkan untukku lalu menolaknya, berlagak seperti aku majikan yang menganiaya babunya," jawab Jongin sambil nyengir.

"Dasar," gumam Kyungsoo, namun diturutinya juga permintaan Jongin. Dia asal meraih salah satu gantungan baju dari rak. Keningnya berkerut saat melihat baju yang diambilnya. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru toko. Dari tadi perhatiannya hanya terpusat pada pembicaraannya dengan Jongin dan membuatnya tidak menyadari toko apa yang mereka masuki. Pantas saja banyak orang yang melihat ke arah mereka dengan tatapan aneh. Dia melotot ke arah Jongin. "Serius, Jongin?"

Jongin tidak mampu menahan tawanya lagi. Dia berlari keluar dari toko sambil tertawa seperti orang gila. Dia meninggalkan Kyungsoo berdiri canggung sambil memegang sebuah lingerie yang hanya dengan melihatnya saja sudah membuat wajah Kyungsoo bersemu merah karena malu.

Kyungsoo mengembalikannya ke rak lalu membungkuk minta maaf kepada pramuniaga dan orang-orang disekitarnya sebelum keluar menyusul Jongin. Dilihatnya Jongin bersandar terbungkuk di dinding agak jauh dari toko, masih belum bisa menguasai tawanya. Dihampirinya Jongin lalu memukuli lengannya keras-keras, mengabaikan Jongin yang masih dikuasai tawa.

Kyungsoo tetap tidak berhenti memukuli Jongin meskipun dia tahu hal itu sia-sia. Percuma saja memukuli Jongin. Menjadi seorang dancer tentu saja bukan tanpa keuntungan. Meskipun terlihat kurus, Jongin memiliki keanggunan khas penari dan tentu saja otot-otot yang terlatih. Memukuli Jongin hanya membuat buku jari Kyungsoo terasa sakit.

"Oke, maaf, maaf." Jongin menggenggam kedua tangan Kyungsoo, mencegah gadis itu melukai tangannya sendiri, dan menarik nafas dalam-dalam untuk mengontrol sisa-sisa tawanya. "Kita cari toko lain yang tidak berbahaya untukmu," ujarnya dengan senyum lebar di bibir. "Sebenarnya aku cukup kagum dengan seleramu mengenai pakaian yang tadi." Komentarnya dibalas dengan sebuah pukulan lagi.

Kyungsoo menghela nafas. "Mungkin sebenarnya yang membuatku trauma untuk belanja adalah kau."

Keduanya berpandangan dan terdiam sejenak, lalu tertawa bersama.

"Baiklah," gumam Kyungsoo di akhir tawanya. "Aku mendengar beberapa anak membicarakanku. Dan aku,... aku hanya tidak suka mendengarnya."

"Apa yang mereka bicarakan?" Jongin kembali serius.

Kyungsoo mengangkat bahunya. "Aku dan ketidak tahuanku mengenai barang bermerek, tren make-up terbaru, dan gaya busana populer musim ini," jawab Kyungsoo sambil lalu, seolah hal itu tidak membebani pikirannya.

Jongin menghela nafas kesal. Seharusnya sejak awal dia sudah tahu apa yang mengganggu Kyungsoo. Sudah pasti pembicaraan para princess dan otak mereka yang kosong. Diacaknya rambut Kyungsoo pelan, membuat Kyungsoo sedikit cemberut karena perlakuan itu membuat rambutnya berantakan. "Jangan biarkan pembicaraan bodoh mereka mempengaruhi kepala kecilmu ini," ujarnya lembut. "Sepuluh tahun dari sekarang mereka hanya akan memakai dan berburu barang-barang bermerek itu karena uang suami mereka, sedangkan kau berhasil menjadi arsitek dan penyanyi yang diburu oleh barang-barang bermerek itu untuk menjadi model brand mereka. Got it?"

Kyungsoo menepis tangan Jongin dan menata rambutnya. "Aku tidak apa-apa. Sungguh," jawab Kyungsoo. Tahu bahwa Jongin mengkhawatirkannya.

Jongin termenung menatap Kyungsoo yang menata rambutnya. "Kau tahu, Kyung? Kau yang berbeda seperti ini adalah orang yang spesial. Dan kau tidak perlu membuat dirimu sama seperti mereka."

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 21 Years Old ||

Kyungsoo mengatur nafasnya pelan. Dia tidak boleh panik dalam kondisi seperti ini.

'Tidak apa-apa,' pikirnya tenang sambil memejamkan mata. 'Sebentar lagi mereka akan menyadari kalau aku tidak ada dan mulai mencariku.'

Dia mengabaikan suara negatif di sudut otaknya yang berkata bahwa teman-temannya mungkin malah tidak pernah menyadari dia pergi.

Digelengkan kepalanya, berusaha mengusir suara itu menjauh. Dia membuka mata dan menyadari bahwa kondisi gudang itu tidak segelap yang dia bayangkan. Celah ventilasi di atas kusen pintu memberikan akses masuk untuk cahaya remang dari penerangan di luar gudang dan membentuk siluet benda-benda yang berada di gudang. Dikerjapkan matanya, berusaha membiasakan diri dengan cahaya yang minim. Butuh waktu yang cukup lama hingga matanya terbiasa.

Kyungsoo mengedarkan pandangannya, berusaha mengenali benda-benda yang berada di dalam gudang. Jika Kyungsoo beruntung, mungkin dia bisa menemukan sesuatu yang cukup berat tapi mudah digerakkan untuk membantunya mendobrak pintu gudang. Atau setidaknya bisa cukup berisik dan memancing perhatian orang yang lewat, itupun kalau ada yang lewat.

Samar-samar didengarnya dua suara berbicara dan mengarah ke gudang. Kyungsoo hendak berteriak namun mengurungkan niatnya. Suara negatif di sudut otaknya berteriak semakin keras memunculkan berbagai skenario terburuk yang mungkin terjadi. Kyungsoo merapatkan tubuhnya di sebelah pintu dan berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Namun nihil.

Terdengar suara kunci dibuka dan Kyungsoo berancang-ancang untuk segera menerobos keluar. Sayangnya, pada saat itu juga sesosok tubuh didorong masuk dan menabraknya hingga keduanya jatuh ke lantai. Dan Kyungsoo kembali mengumpat dalam hati saat mendengar suara pintu yang lagi-lagi dikunci.

"Damn it."

Kyungsoo membeku mendengar suara itu. "Jongin?" tanyanya pelan memastikan pendengarannya tidak salah.

Sosok yang berada di depannya menjulurkan tangan hingga menyentuh wajah Kyungsoo dan berjengit kecil. Tangannya menangkup wajah Kyungsoo, memastikan Kyungsoo baik-baik saja. "Kyung? Kau baik-baik saja? Apa yang..."

"Seseorang yang mengaku suruhan Luhan memintaku mengantarnya ke sini. Tapi dia membuatku terkurung di sini."

"Sama. Aku mencarimu dan Luhan menyuruh seorang stafnya untuk mengantarku menemuimu. Sialan si Luhan. Akan kukebiri pacar cadelnya itu supaya tahu rasa," maki Jongin.

"Jaga bicaramu," desis Kyungsoo. Meskipun dalam hati sebenarnya dia mendukung penuh ancaman Jongin, tapi dia tidak pernah suka Jongin mengucapkan kata-kata yang buruk. Tapi ada sesuatu yang rasanya salah.

"Staf yang disuruh Luhan mengantarmu, dia tinggi, pirang, tampan, dan bicara dalam bahasa Inggris?" tanya Kyungsoo.

Dalam kegelapan, Kyungsoo tidak bisa melihat ekspresi Jongin yang mengeruh saat mendengar satu kata pujian dari Kyungsoo untuk orang yang membuat mereka terkurung di sini. "Ya, dia memang tinggi. Tapi dia lancar berbahasa Korea."

Kyungsoo mengerutkan keningnya. Apa mungkin mereka orang yang sama? Kalau bukan, berarti mereka benar-benar sedang sial. Tapi kalau iya, berarti ini akal-akalan Luhan untuk mengerjai mereka. Tapi untuk apa?

Jongin bangkit dan menggedor pintu gudang. "Dikunci dari luar. Ponselku... Brengsek!" umpatnya saat ingat Luhan meminjam ponselnya. "Dimana ponselmu Kyung?"

"Di tas di gedung musik."

Jongin hampir mengumpat lagi saat ingat bahwa Kyungsoo mungkin bakal mencuci mulutnya dengan sabun ketika mereka keluar dari sini kalau dia mengumpat lagi. Dia mengacak rambutnya frustasi. Apa yang harus dia lakukan supaya mereka bisa keluar dari sini? Bukan tentang dirinya, tapi Jongin bersumpah akan menjadi mimpi terburuk Sehun dan Luhan kalau setelah mereka bisa keluar dari sini Kyungsoo mengalami apa yang dia pernah rasakan bertahun-tahun yang lalu.

Kyungsoo mengalihkan pandangannya. Jengah melihat Jongin yang, dengan ajaibnya, mondar-mandir dalam keremangan tanpa menabrak satupun barang. Samar-samar matanya mengenali sebuah meja beroda yang berada tak jauh darinya. Buru-buru diperiksanya meja itu dan tersenyum puas saat mengetahui meja itu dapat berfungsi dengan baik. Dia menoleh ke sekitar dan menemukan beberapa kardus yang entah isinya apa. Otaknya berputar cepat mengatur rencana.

"Jongin, bantu aku menaikkan kardus-kardus ini ke atas meja."

"Untuk apa?"

"Mendobrak pintu gudang."

"Aku tidak yakin akan berhasil," ujar Jongin pesimis.

"Lakukan saja, daripada berdiam diri dan tidak melakukan apapun," sahut Kyungsoo pedas.

Jongin mengangkat tangannya dalam gestur menyerah. Dia membantu Kyungsoo memenuhi meja beroda dengan kardus dan mendorongnya ke arah pintu gudang.

"Dalam hitungan tiga, dorong ke arah pintu," perintah Kyungsoo.

Jongin mengangguk. Meskipun dalam kegelapan dia tidak yakin Kyungsoo bisa melihatnya. Tapi tanpa itu pun Kyungsoo tahu kalau Jongin sudah mengerti.

"Satu," hitung Kyungsoo. "Dua. Tiga!"

Keduanya mendorong meja tersebut hingga menabrak pintu dan menghasilkan suara debum yang cukup keras. Kyungsoo mendongak penuh harap.

"Percuma, pintunya terlalu tebal."

Kyungsoo mendengus kasar. Kenapa semua film dan drama membuat adegan mendobrak pintu tampak mudah? Padahal kenyataannya sulit sekali. Tapi Kyungsoo tidak menyerah. Ditariknya meja itu menjauh dari pintu dan kembali didorongnya hingga menabrak pintu.

"Sudah ku bilang percuma, Kyungsoo. Bisakah kau diam sebentar dan menenangkan dirimu?"

Jongin bisa sangat menyebalkan kalau dia mau. Kyungsoo tahu itu. Jongin juga sangat manja dan selalu menuntut orang lain memperhatikannya. Kyungsoo juga tahu itu, malah dia menghabiskan hampir seumur hidupnya memanjakan Jongin. Tapi maaf, untuk kali ini Jongin harus menutup mulutnya. Jujur saja, Kyungsoo sekarang sedang sangat kesal pada Luhan, orang yang membuat mereka terkurung di gudang ini, teman-temannya yang tak kunjung mencari mereka, dan dia tidak ingin kekesalannya harus tertuju pada Jongin. Lebih baik kekesalannya dilampiaskan dengan mendobrak pintu gudang yang sudah berdosa padanya karena tidak kunjung terbuka.

"Demi Tuhan, Kyungsoo!" seru Jongin geram setelah Kyungsoo mendobrak pintu untuk ketiga kalinya. "Jika orang lain berada di posisimu mereka akan duduk diam dan berpikir dengan tenang. Tidak bisakah kau bertingkah seperti mereka dalam keadaan seperti ini alih-alih bertindak gegabah? Kau bisa membuat dirimu terluka." Jongin tidak bermaksud membentak Kyungsoo. Dia hanya tidak ingin Kyungsoo melakukan hal yang bisa membahayakan dirinya sendiri.

Dengan menggertakkan gigi, Kyungsoo mendorong meja ke arah pintu untuk ke empat kalinya. Entah karena pintu itu berniat untuk menyerah dan meminta pengampunan pada Kyungso sebelum dirinya hancur karena terus-terusan didobrak, atau karena tambahan energi kemarahan Kyungsoo, pintu gudang itu akhirnya terbuka.

Kyungsoo berbalik menghadap Jongin yang masih terperangah. "Kau bilang aku berbeda!" teriaknya marah. "Kau selalu bilang aku tidak perlu menjadi seperti mereka. Tapi kenapa kau ingin aku menjadi sama seperti mereka?!"

Jongin kehilangan kata. Dia mendekat ke arah Kyungsoo dan mengulurkan tangan ke arah sahabatnya sejak kecil itu. Namun begitu jemarinya menyentuh lengan Kyungsoo, Kyungsoo menyentakkan tangan dan memutar tubuhnya. Jongin melangkah mengitari Kyungsoo, berusaha memaksa Kyungsoo menatap wajahnya.

Tidak pernah seumur hidupnya Jongin merasakan apa yang sekarang dirasakannya. Kyungsoo selalu ada di sisinya saat dia membutuhkannya dan dia juga selalu berada di sisi Kyungsoo saat gadis itu membutuhkannya. Kyungsoo dan Jongin tertawa dan menangis bersama karena banyak hal. Mereka saling berbagi hal yang membuat mereka tertawa. Tapi satu hal yang pasti, mereka tidak pernah menangis karena satu sama lain.

Jongin menelan ludahnya kasar. Kerongkongannya terasa sekering gurun. Cahaya lampu dari belakang tubuh Jongin jatuh di wajah Kyungsoo. Menyinari sudut mata Kyungsoo yang basah.

Dia sudah membuat Kyungsoo menangis.

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 16 Years Old ||

"Menurutmu, mana yang harus kupakai?"

Kyungsoo mendongak dari novel yang sedang dibacanya. Dia mengernyit melihat dua buah kaos yang sedang di pegang Jongin. "Kau mau kencan atau latihan menari di studio?"

"Oke, bukan keduanya." Jongin melempar keduanya dan kembali membongkar lemarinya. "Bagaimana kalau ini?"

Kyungsoo tidak repot-repot mendongak untuk kesekian kalinya. Dia hanya melirik sekilas pada kemeja yang dipegang Jongin. "Niat melamar kerja pakai kemeja seperti itu?"

"Bukan." Jongin kembali melemparkan kemeja itu ke tumpukan yang menggunung dekat kaki ranjang tidurnya. Kyungsoo yang sedari tadi tengkurap di ranjang Jongin mengabaikan tingkah Jongin yang ribut sendiri.

"Aku harus pakai apa Kyung?" Kalimatnya hampir berupa rengekan.

"Aku kan dari tadi sudah bilang pakai pakaian seperti kemarin kau menemaniku nonton. Kenapa kau bertingkah seperti gadis remaja yang mau pergi kencan pertama?"

"Kan ini memang kencan pertamaku."

"Jadi nonton film dan makan malam denganku kemarin tidak dihitung sebagai kencan?" Nada kecewa dari suara Kyungsoo membuat Jongin mendadak merasa bersalah.

"Maksudku bukan begitu," sahutnya. Kyungsoo segera merubah posisinya menjadi duduk. Dia menunduk dalam-dalam dan membiarkan rambutnya yang hari itu dibiarkan tergerai menjuntai menutupi wajahnya.

"Hei, hei." Jongin segera mendekat ke arah Kyungsoo dan berlutut di tepi ranjangnya. Dia melihat bahu Kyungsoo berguncang pelan. "Kyung, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud–," kalimatnya terhenti.

Jongin mengamati Kyungsoo lekat-lekat. Dia menyadari bahwa pundak Kyungsoo, bahkan seluruh tubuhnya bergetar perlahan. Tapi alih-alih isakan, dia mendengar suara tawa yang ditahan. "Kau mengerjaiku," serunya kesal. Dia berjalan menjauh dan berkacak pinggang.

Kyungsoo mendongak dan tertawa lepas. Dia menoleh ke arah Jongin yang memasang raut kesal. "Habis kau lucu sekali," jawabnya masih dengan tawa. "Ayolah Jongin. Kau tidak membutuhkan lebih dari lima menit untuk berganti pakaian dan menemaniku nonton film. Tapi kau sudah menghabiskan hampir satu jam untuk mencari pakaian yang kau rasa pantas untuk kencanmu. Padahal intinya nanti kalian berdua akan makan siang dan nonton film juga, tidak berbeda dengan yang kemarin kita lakukan."

"Tapi kan berbeda."

"Aku tidak melihat bedanya. Yang kulihat sama saja, bahwa sangat tidak sopan membuat orang lain menunggumu. Baik itu kencan atau bukan. Kau sudah membuat aku menunggumu selama satu jam, lalu kau akan membuat teman kencanmu menunggumu jika kita tidak berangkat dalam sepuluh menit, dan kau akan membuat Baekhyun-eonni menungguku karena aku menungguimu disini. Ada tiga wanita yang kau buat menunggu, Jongin."

Jongin menatap tumpukan pakaiannya dengan pasrah. Kyungsoo menghela nafas dan bangkit dari duduknya. Dia meraih sebuah kaus dan kemeja yang belum kusut diantara tumpukan pakaian yang tadi dilemparkan Jongin dan diserahkannya pada Jongin. "Pakai itu saja," ujarnya yang ditanggapi dengan pandangan skeptis Jongin. "Pakai, atau aku panggil taksi sekarang dan pergi menemui Baekhyun eonnie sendiri," ancam Kyungsoo yang membuat Jongin segera berlari mengganti pakaiannya

Kyungsoo berusaha menulikan telinganya karena sepanjang jalan Jongin tidak berhenti mengoceh tentang kegugupan kencan pertamanya. Kyungsoo segera meninggalkan Jongin begitu Jongin memarkirkan mobilnya dan mengabaikan panggilan Jongin di belakangnya. Dia berlari memasuki elevator yang kebetulan terbuka dan memilih lantai dimana bioskop berada. Dia yakin Baekhyun sudah menunggunya. Mungkin Krystal juga sudah menunggu Jongin disana.

Pintu elevator tertutup sebelum Jongin berhasil masuk. Kyungsoo tahu bahwa Jongin pasti lebih memilih untuk berlari menaiki eskalator daripada berlama-lama menunggu elevator dan membiarkan Kyungsoo sampai sendirian di lantai tujuan mereka. Sikap protektif Jongin semakin tumbuh bersama usia mereka.

"Eonnie!" seru Kyungsoo saat memasuki lobi bioskop dan melihat Baekhyun. Dia bergegas mendekati Baekhyun.

"Jadi kesini naik taksi?" tanya Baekhyun saat melihat Kyungsoo sendirian tanpa Jongin yang mengekorinya.

"Jongin aku tinggal di basement. Dia cerewet sekali," adunya.

"Kau cemburu saja dia kencan dengan gadis lain, bukan denganmu," canda Baekhyun yang ditimpali dengan tawa polos Kyungsoo.

Kyungsoo mengibaskan tangannya. "Malah untung kalau masih ada yang mau dengan Jongin. Jadinya akan tidak ada yang merecoki aku terus-terusan. Huhh, sepanjang perjalanan kesini saja dia terus-terusan mengoceh, sampai aku tidak mengerti apa yang dia omongkan. Eonnie lihat Krystal?" tanya Kyungsoo.

"Dia baru saja datang," jawab Baekhyun. Dia mengedikkan bahu ke arah loket tiket. "Dia sedang membeli tiket."

"Mereka nonton film yang sama dengan kita?"

"Tidak tahu. Tapi aku kira tidak."

"Kyungsoo, kau datang juga," sapa Krystal. Alisnya sedikit berkerut saat menyadari Kyungsoo hanya sendirian. "Mana Jongin? Kalian tidak datang bersama?"

"Sebentar lagi Jongin juga sampai. Aku tadi naik duluan, kasihan Baek-eonnie sudah menungguku."

Kyungsoo memekik saat sepasang tangan menggamit lengannya dan seseorang dengan nafas terengah menyandarkan kepala di pundaknya.

"Ngapain sih kau pakai acara naik duluan dan meninggalkan aku di bawah? Aku sampai lari-lari naik eskalator dan orang-orang melihatku seperti maling yang dikejar polisi. Malu dan capek tahu!" protes Jongin. Dia menegakkan tubuhnya dan memutar Kyungsoo menghadapnya. Dia mengamati Kyungsoo mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, memeriksa apakah gadis itu baik-baik saja. "Jangan melakukan itu lagi! Kau membuatku khawatir setengah mati. Bagaimana kalau elevatornya mati dan kau terjebak di dalamnya tanpa bisa meminta bantuan? Bagaimana kalau kau kenapa-kenapa? Diculik? Hilang? Ibu tidak akan mengakuiku sebagai anak dan akan mengirimku dalam kotak pendingin ke Mama lalu Mama bakal mencincangku untuk makan malam kalau terjadi apa-apa padamu!" repetnya. Membuat Baekhyun dan Krystal setengah melongo melihat sisi lain dari Kim Jongin yang tampak selalu cool.

"Oh, hei Baek-noona, Krystal," sapanya santai saat menyadari kehadiran dua gadis itu. Keduanya segera mengatupkan mulut mereka sebelum ada serangga yang kesasar masuk.

"Hai Jongin," sapa keduanya.

"Jadi, kita nonton apa?" tanya Jongin santai seolah dia tidak baru saja menjadi induk bebek cerewet yang kehilangan anaknya.

Krystal melirik tangan Jongin yang masih menggenggam lengan Kyungsoo. "Aku membeli tiket film sci-fi di teater tiga. Kau tidak keberatan kan?"

Senyum Jongin sedikit bergetar, namun tidak ada yang menyadari. "Boleh. Kita masuk sekarang?" Jongin melangkah tanpa melepaskan genggamannya di lengan Kyungsoo.

"Sebenarnya, Jongin," tahan Kyungsoo. "Aku dan Baek-eonnie akan nonton film animasi." Dia melepaskan genggaman Jongin.

Jongin menoleh ke arah Kyungsoo. "Di teater berapa?" tanyanya penuh selidik.

Kyungsoo melirik ke arah Baekhyun. "Teater delapan," jawab Baekhyun.

"Jauh sekali," gerutu Jongin pelan. "Kau bawa ponselmu kan? Dompet? Kartu kredit?" tanya Jongin pada Kyungsoo.

Setelah semenit penuh wejangan dari Jongin dan memastikan bahwa mereka makan siang berempat, yang membuat bibir Krystal sedikit mencebik saat mendengarnya, akhirnya dia membiarkan Kyungsoo dan Baekhyun memasuki teater delapan sedangkan dia menggandeng tangan Krystal memasuki teater tiga. Dia berkali-kali mengecek ponselnya selama preview film dimulai.

Krystal menghela nafas dengan jengah. Dia berpikir Jongin itu lumayan menarik, karena itu dia mengajak Jongin nonton film hari ini. Sebagai teman sekelasnya, dia tahu kalau satu-satunya gadis yang dekat dengan Jongin adalah Kyungsoo. Dari situlah rumor mereka berdua berpacaran santer terdengar. Jongin sebenarnya lumayan populer di sekolah. Dengan segudang prestasi menari, sikap ramah, dan wajah tampan, siapa yang bakal tidak menyukainya?

Krystal mengenal Kyungsoo ketika dia sering main ke klub menyanyi untuk menemani kakaknya. Dia dan Kyungsoo pun menjadi teman yang lumayan dekat. Dia memberanikan diri bertanya tentang rumor itu, tapi Kyungsoo menjawab sambil tertawa bahwa mereka bertetangga dan bisa dikatakan tumbuh bersama sebagai saudara. Dia malah bertanya balik apakah Krystal menyukai Jongin. Kyungsoo juga menyemangatinya untuk mengajak Jongin nonton film ketika dia menjawab bahwa menurutnya Jongin lumayan menarik.

"Kau sebegitu khawatirnya dengan Kyungsoo ya?"

Jongin menoleh kaget. "Eh, iya. Ini pertama kalinya dia pergi sendirian. Wajar kalau aku khawatir."

Alis Krystal bertekuk heran. "Kyungsoo kan bersama Baekhyun-sunbae."

"Maksudku, ini pertama kali aku tidak menemaninya. Biasanya kemanapun dia pergi, dia selalu bersamaku."

"Oh," gumam Krystal pelan.

Meskipun begitu, Krystal berpikir bahwa tingkah Jongin yang duduk gelisah kursinya saat ini lebih mirip suami yang cemas menunggui istrinya melahirkan. Kristal mendapatkan perasaan bahwa acara nonton hari ini tidak akan semenyenangkan yang dia bayangkan. Sedikit menyesal rasanya menolak ajakan Minhyuk untuk nongkrong bersama anak klub musik divisi band hanya untuk nonton bersama Jongin kalau Jongin sendiri mengabaikannya seperti ini.

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 21 Years Old ||

Mereka berenam berhenti begitu melihat pintu gudang yang sudah jebol dan Kyungsoo yang berdiri penuh kemarahan tetapi dengan mata yang basah. Jongin berdiri diam memunggungi mereka dan menghadap Kyungsoo. Suasananya begitu mencekam dan itu mengejutkan mereka berenam. Kyungsoo tidak pernah marah, tidak pada siapapun, dan tidak mungkin marah pada Jongin.

Zitao melakukan satu gerakan tangkas dan terdengar suara benda berat jatuh diiringi serentetan kalimat dalam bahasa yang tidak dapat dikenali sebagai bahasa apapun di bumi bercampur beberapa patah kata yang sepertinya bahasa Korea, Mandarin, dan Inggris yang kesemuanya juga sulit ditangkap karena diucapkan dengan suara yang rendah dan cepat. Mereka semua menatap horor pada Yifan yang terbaring kesakitan di tanah. Pemahaman yang menurut mereka agak tidak masuk akal merasuki benak mereka, Zitao membanting Yifan? Serius, panda itu tega membanting kekasihnya? Panda itu kan gadis paling jinak yang pernah mereka kenal, pengecualian kalau dia sedang berlatih martial artsnya itu.

Kalimat yang barusan rasanya ada yang ganjil? ... Baiklah, abaikan saja.

"Apa-apaan ini, Wu Zitao?" Yifan berusaha duduk dan meringis menahan sakit di punggungnya. Sebenarnya bukan karena sakitnya, rasa malunya itu yang tidak siap di tanggung sang pewaris Wu.

Zitao mengabaikannya, malah dengan sengaja melangkahi kaki panjang Yifan dan berjalan menuju Kyungsoo dengan raut ceria. "Selamat untuk performmu yang sempurna, Kyung. Aku bangga sekali. Oh iya, bagaimana kalau kita rayakan ini di rumahmu, sekalian kita ajak Baekhyun? Aku sedang ingin noton film sambil memesan makanan, boleh kan?" celotehnya sambil menggamit lengan Kyungsoo dan membimbingnya menjauh dari gudang. Langkah Kyungsoo pendek dan berat, seolah kakinya telah membatu disana "Sekalian kita merayakan tawaran audisi Yixing untuk menjadi back-up dancer di konser BoA beberapa minggu lagi. Dia bahkan dihubungi langsung oleh pihak manajemen untuk megikuti audisi, benar kan, Yixing?" tolehnya pada Yixing.

Yixing hanya mengangguk tanpa menyahut. Wajahnya berkerut penuh keprihatinan pada sahabatnya itu.

"Lalu Luhan," Zitao menoleh pada Luhan, "Ah, sayang sekali, tapi Luhan harus ikut rapat panitia kan? Jadi dia tidak bisa ikut kita."

Diam-diam Luhan menghela nafas lega mendengarnya. Tapi bibirnya segera membentuk sebuah pout saat ingat bahwa girls night mereka biasanya sangat seru dan sudah lama mereka tidak melakukannya.

"Tapi kau bisa menyusul saat rapatnya sudah selesai," tambah Zitao ringan.

Luhan bisa merasakan setetes keringat dingin mengaliri punggungnya. Meskipun kedengarannya manis, ucapan Zitao tadi merupakan sebuah ancaman. Dan sejujurnya dia belum siap mental kalau harus jadi camilan panda, unicorn, kucing, dan pinguin yang sedang ngamuk. Dalam hati dia merutuk kekasihnya yang memeras Yifan menggunakan namanya dan menyebabkan semua kekacauan ini.

"Yixing mendapatkan tawaran itu karena Joonmyeon-oppa merasa bersalah pada Yixing, sekaligus khawatir kalau calon pacarnya itu tidak lulus mata kuliah Mr. Lee. S. kan milik keluarga Joonmyeon-oppa," gumam Kyungsoo pelan namun bisa didengar dengan jelas oleh semua orang disana.

Kyungsoo dan kepolosannya yang seringkali muncul di waktu yang tidak tepat.

Semuanya, minus Kyungsoo yang menunduk dan Jongin yang tetap menatap Kyungsoo, menoleh ke arah Joonmyeon dengan ekspresi yang berbeda. Yixing dengan ekspresi terperangah, Sehun dan Luhan dengan ekspresi please-tidak-adakah-yang-lebih-romantis-lagi?, Zitao dengan ekspresi pandanya, dan, uh-oh, Yifan dengan ekspresi naga-siap-mengamuk.

Joonmyeon menelan ludahnya dengan keras. "Umm, audisinya kan dilakukan secara terbuka," jawabnya lemah. "Aku hanya menitipkan berkas Yixing pada panitia audisi."

Zitao memutar matanya. 'All fair in love and war' sepertinya menjadi pepatah yang menjadi pedoman utama orang melakukan tindakan aneh jika jatuh cinta. Perhatiannya kembali pada Kyungsoo. "Apapun itu, yang penting kita rayakan dulu."

"Lalu aku bagaimana?"

Zitao menoleh ke arah Yifan. Pandangannya sengit meskipun suaranya tetap lembut dan ceria. "Kan aku sudah bilang jangan melakukan hal yang aneh-aneh, Yifan," dia kembali menggandeng Kyungsoo dan menarik Yixing pergi dari sana.

"Hei, tapi kau bulan depan tetap pergi bersamaku kan?" tanya Yifan yang tentu saja diabaikan oleh Zitao yang sudah berlalu.

Joonmyeon mengabaikan Yifan dan Luhan yang beradu argumen selepas kepergian Zitao, Kyungsoo, dan Yixing, yang terakhir ini membuatnya menatap mereka pergi dengan tidak rela. Meskipun lucu jika diperhatikan baik-baik. Seekor naga menjulang terpaksa menunduk untuk menyahuti ucapan seekor rusa yang mendongak dengan tatapan tajam dari matanya yang bulat. Oh, sepertinya Joonmyeon sudah tertular kebiasaan Luhan, Yixing, dan Zitao untuk menyebut teman-temannya dengan julukan hewan. Zitao pernah cerita dia punya kebiasaan untuk membeli sebuah boneka yang dia rasa mirip dengan orang-orang yang dia anggap dekat dengannya. Dan mereka terbiasa untuk memanggil boneka itu dengan nama teman mereka, atau malah tertukar memanggil teman mereka dengan boneka tersebut.

Joonmyeon juga mengabaikan Sehun yang dengan tampang bosan melihat kekasihnya bertengkar dengan naga peliharaan Zitao, namun bersiaga jika sewaktu-waktu dia harus menghentikan pertengkaran keduanya. Perhatian Joonmyeon tertuju pada Jongin yang sedari tadi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan saat Kyungsoo pergi, dia hanya mengawasinya dengan pandangan kosong.

"Jongin," panggil Joonmyeon pelan. "Kau baik-baik saja?"

Diluar dugaan, Jongin tertawa terbahak-bahak, membuat Joonmyeon dan Sehun menatapnya dengan kaget. Luhan dan Yifan bahkan menghentikan pertengkaran mereka untuk menoleh ke Jongin yang, sepertinya, mulai kehilangan kewarasannya.

"Aku baik-baik saja, hyung. Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku. Itu kan bukan perbuatan yang salah, tapi kenapa aku merasa bersalah ya? Lucu sekali kan?."

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 10 Years Old ||

Untuk mengatakan bahwa Jongin sedang senang adalah merendahkan. Karena sekarang dia berjalan seolah terdapat per di kakinya yang membuat langkahnya menjadi ringan. Dia menggenggam tangan Kyungsoo erat-erat saat mereka melewati pintu gerbang.

"Jongin, kau menggenggam tanganku terlalu erat."

"Nanti kau hilang. Lihat, ramai sekali kan?"

"Tapi tanganku sakit," rengek Kyungsoo.

Jongin menoleh ke arah tangan mereka berdua yang bertautan. Mungkin dia memang menggenggam tangan Kyungsoo terlalu erat sehingga kulit putih itu mulai memerah. "Maaf," cengirnya lebar. Sedikit dilonggarkan genggamannya, namun tetap cukup erat. Memastikan dia dan Kyungsoo tidak terpisah. "Pokoknya jangan jauh-jauh dariku. Kau itu kan kecil sekali, nanti kalau hilang bagaimana?"

Bibir Kyungsoo mencebik. Bukan salahnya juga kalau tubuhnya masuk kategori sangat mungil sedangkan Jongin termasuk kelewat tinggi untuk ukuran anak usia 10 tahun. Tapi tak urung dibalasnya genggam tangan Jongin. Lagipula Jongin benar. Di taman bermain sebesar ini, sangat mungkin bagi Kyungsoo untuk hilang. Apalagi ini pertama kalinya mereka berdua datang ke taman bermain.

Langkah Kyungsoo terhenti saat mereka melewati sebuah stan permainan. Matanya terpaku pada sebuah gantungan kunci. Jongin ikut berhenti saat Kyungsoo tidak melangkah bersamanya. "Kyung?" panggilnya.

"Gantungannya lucu," gumam Kyungsoo pelan. Dia menoleh pada Jongin. "Nanti sebelum pulang, kau mau mendapatkannya untukku kan?" tanyanya dengan mata berbinar.

Jongin tersenyum lebar. "Tentu saja! Pokoknya hari ini aku akan mendapatkan semua hadiah yang kau mau."

"Tentu saja kau akan memenangkannya untuk Kyungsoo, Jagoan. Sekarang kita cari ibumu dulu, aku masih harus mengantarkan paket untuk tuan besar Kim," supir keluarga Kim membimbing mereka untuk menuju tempat keduanya akan bertemu ibu Jongin.

Ibu Jongin dengan antusias mengajak keduanya untuk menaiki berbagai wahana, yang dituruti dengan sama antusiasnya oleh Jongin dan Kyungsoo. Bianglala, merry-go-round, roller coaster, rumah hantu, dan banyak lagi wahana lain yang mereka ikuti.

Kyungsoo menarik tangan ibu Jongin. "Aku ingin ke toilet."

"Tentu, sayang," jawab ibu Jongin. Dia membimbing kedua anak itu menuju restroom. Setelah Kyungsoo masuk toilet, dia menuduk di depan Jongin dan berkata, "Tunggu Kyungie disini. Ibu akan membeli minum untuk kalian. Jangan pergi sampai ibu kembali, mengerti?"

Jongin mengangguk. "Aku mengerti." Dia memandang ibunya pergi menuju penjual minuman yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka. Matanya kembali melihat sekelilingnya hingga menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya.

Kyungsoo keluar dari restroom dan keheranan saat tidak mendapati siapapun yang menunggunya. Tapi Kyungsoo memutuskan untuk tetap di tempatnya. Kalau Jongin dan ibunya menyadari dirinya tidak bersama mereka, mereka pasti akan kembali mencarinya kesini.

"Kyungie," panggil ibu Jongin. Beliau mendekat dengan tangan penuh kantong berisi minuman. Tuh, kan? Mereka tidak mungkin meninggalkannya. "Mana Jongin?"

Kyungsoo mengerjap. "Bukannya pergi dengan ibu? Waktu aku keluar toilet dia sudah tidak ada."

"Tidak kok. Ibu sudah bilang supaya menunggu disini denganmu Apa mungkin dia sendiri ke toilet?" tanya ibu Jongin sambil berusaha melongok ke restroom pria. "Kita tunggu sebentar lagi."

Menit berlalu namun Jongin tak juga keluar dari restroom. "Jongin lama," kata Kyungsoo.

Ibu Jongin menggumam pelan. "Permisi," panggilnya pada seorang petugas taman bermain yang kebetulan lewat. "Bisa tolong anda lihat apakah ada anak laki-laki memakai kaos hitam dan jaket biru berada di dalam?"

Petugas itu mengiyakan dan masuk ke dalam restroom. Tak lama kemudian dia keluar lagi. "Tidak ada siapapun didalam. Apakah anda yakin dia masuk kedalam?"

"Tidak, tapi tadi dia disini untuk menunggui temannya," tangannya mengusap pundak Kyungsoo dan kegelisahan memberati suaranya.

Saat Jongin membuka mata, dia hanya melihat kegelapan. Dia tidak tahu kenapa dia ada disini. Seingatnya tadi dia sedang berjalan kembali menuju restroom. Dia ingin mengusap matanya namun tangannya tertahan. Dia menggerakkan tangan semakin keras dan meringis saat merasakan tali yang mengikat pergelangan tangannya menggesek kulitnya. Dia harus cepat kembali ke Kyungsoo atau gadis kecil itu akan ngambek padanya. Kyungsoo yang ngambek sama artinya dengan Kyungsoo yang tidak bisa dipeluk untuk tidur siang. Terdengar suara langkah mendekat dan dia berteriak meminta pertolongan, tapi tak ada jawaban. Langkah itu berhenti di sampingnya. Dia tak sempat melihat wajah orang itu saat sebuah saputangan membekap mulutnya dan kesadaran kembali meninggalkannya.

Ibu Jongin mengeluarkan poselnya. Berniat untuk menghubungi putranya.

"Ponsel Jongin mati soalnya jatuh saat bermain di gamezone tadi," sela Kyungsoo sambil menunjukkan ponsel Jongin yang dititipkan di tasnya.

"Mari saya antar membuat laporan kehilangan orang di bagian keamanan," tawar petugas tadi yang diangguki ibu Jongin. Ketiganya menembus kerumunan taman bermain menuju kantor bagian keamanan.

Sebut saja itu firasat, tapi Kyungsoo tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari sebuah wahana yang sedang tutup. Kyungsoo menghentikan langkahnya tanpa disadari kedua orang dewasa yang bersamanya. Dari sini dia bisa melihat kantor keamanan yang menjadi tujuan mereka. Menuruti perasaannya, dia mendekati wahana itu. Disibaknya plastik yang menutupi pintu masuk dan melangkah memasuki ruangan gelap.

Tangannya mengeluarkan ponsel dari tas dan menyalakannya, memberi sumber cahaya yang cukup untuk melihat dalam keremangan. Dia menarik nafas dalam-dalam, memantapkan hati dan melangkah menyusuri ruangan tersebut. Ruangan itu penuh dengan peti kayu besar yang isinya adalah peralatan wahana, tebak Kyungsoo, dan berbau serbuk gergaji.

Langkah Kyungsoo membawanya masuk semakin dalam ke sebuah lorong panjang. Sesuatu yang teronggok menarik perhatiannya. Dia mengarahkan cahaya ponselnya pada benda tersebut.

"Jongin!" pekiknya saat melihat apa yang dikiranya onggokan benda ternyata adalah sahabatnya. Dia berlari mendekati Jongin yang tidak sadarkan diri dengan tangan terikat.

Dengan jemari gemetar Kyungsoo berusaha melepas ikatan tangan Jongin. Simpulnya erat, namun bukan tidak bisa diurai. "Jongin, bangun!" Selesai membebaskan tangan Jongin, diguncangnya tubuh Jongin untuk membangunkannya.

Ponsel Kyungsoo mendadak berbunyi nyaring. "Ibuu!" teriak Kyungsoo begitu menerima panggilan yang ternyata dari ibu Jongin. "Ibu, aku menemukan Jongin!"

"Ya Tuhan!" pekik ibu Jongin. "Kalian dimana? Kau baik-baik saja kan?"

"Kami di dalam wahana yang sedang ditutup dekat kantor keamanan."

Terdengar percakapan dari seberang sana. "Keluar dari sana, nak. Tunggu kami diluar. Jangan tutup teleponnya."

"Tidak mau," sahut Kyungsoo. "Jongin pingsan dan tangannya diikat."

Terdengar teriakan panik tertahan. "Beritahu ibu ciri-ciri wahananya."

"Jaraknya dari kantor keamanan seperti dari rumahku ke rumah Minseok-eonnie. Lalu pintu masuknya ditutup plastik putih. Isi ruangannya peti kayu besar dan baunya seperti kayu basah." Kyungsoo berdiri dan melihat sekitarnya. "Ada lorong panjang, dindingnya berkilat, dan, aduh," pekiknya saat tersandung kaki Jongin.

Sayangnya ponselnya terjatuh dan membentur lantai dengan keras. "Ehh!" disambarnya posel itu dan menekan tutsnya. Namun ponselnya terlanjur mati.

Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu datangnya pertolongan. Dia kembali duduk disamping Jongin dan berusaha menyadarkannya. Setelah mengguncang tubuhnya dan menepuk pipinya beberapa kali, Jongin akhirnya siuman. "Kyungsoo," panggilnya pelan. Matanya terbuka tapi tak terfokus.

"Iya," jawab Kyungsoo.

Jongin memeluk Kyungsoo erat. "Jongin," panggil Kyungsoo khawatir. "Kau baik?" Dia berusaha melepas pelukan Jongin untuk melihat wajahnya.

Jongin tidak bergeming. Tangannya melingkari tubuh Kyungsoo dengan erat.

Terlihat sorotan lampu senter dari arah datangnya Kyungsoo tadi. Dia balik memeluk Jongin erat. Ketakutan merayapi tubuhnya. Apakah itu ibu? Atau malah orang yang mengikat Jongin di sini?

"Kyungsoo!" terdengar panggilan namanya. Tapi dia tidak menyahut. Dia tidak mengenali suara yang memanggilnya.

"Kyungsoo! Kau disini, nak?!"

Kyungsoo bernapas pendek-pendek. "Ibu?" teriaknya balik.

Terdengar langkah kaki bergegas menuju kearahnya. Mendadak matanya disilaukan oleh cahaya yang disorotkan padanya. Refleks dia memejamkan mata. Kemudian sepasang lengan membawanya dalam rengkuhan yang menenangkan.

"Puji Tuhan. Kyungsoo, Jongin, kalian baik-baik saja nak?"

"Ibu," panggil Kyungsoo tersengal. Air matanya mengalir seiring perasaan lega yang luar biasa. Kepalanya terasa pusing karena mendadak ada banyak orang dalam ruangan temaram itu. "Aku baik, tapi Jongin..."

Ibu Jongin berusaha membuat Jongin menghadap padanya, namun Jongin tak melepaskan pelukannya pada Kyungsoo. Dia hanya menolehkan kepala pada ibunya namun dengan pandangan kosong.

Salah seorang petugas berinisiatif menggendong Jongin untuk membawanya keluar dari ruangan itu. Jongin langsung menggeliat keras berusaha membebaskan diri dan berteriak histeris. "Kyungsoo! Kyungsoo!"

Kyungsoo segera menggengam tangan Jongin. "Aku disini, aku disini," hiburnya.

Jongin berhenti bergerak, matanya memandang liar mencari Kyungsoo. Nafasnya mulai teratur saat melihat Kyungsoo disampingnya.

Kyungsoo tidak punya pilihan lain. Dia membiarkan Jongin menggengam tangannya hingga mereka tiba di kantor keamanan. Dia mengusap lengan Jongin selama orang-orang dewasa disekeliling mereka meributkan hal yang tidak dimengertinya tentang hilangnya Jongin. Dia mengizinkan kepala Jongin ditidurkan di pangkuannya selama perjalanan pulang. Bahkan sampai beberapa hari setelah itu, dia merelakan waktunya tersita dan tidurnya diganggu karena Jongin selalu histeris saat Kyungsoo tidak bersamanya.

Kyungsoo tidak mengerti apa yang dikatakan dokter tentang Jongin. Terlalu banyak istilah berat yang sulit dipahami otak 10 tahunnya. Yang dia mengerti adalah Jongin sedang ketakutan. Jika bersamanya membuat Jongin tidak takut, dia tidak akan mempermasalahkan hal sepele seperti kurang tidur atau tidak bermain.

Kyungsoo peduli padanya. Dia menyayangi Jongin.

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 21 Years Old ||

Yixing membuka pintu dan tertegun begitu melihat orang yang berdiri di baliknya.

"Hey, Xing!" sapa Jongdae.

Yixing mengerjap, menghilangkan kekagetannya. "Hai." Dia memeluk orang kepercayaan kakaknya itu singkat. "Mari masuk," ajaknya. "Sudah sarapan?" Yixing membimbingnya menuju ruang makan

"Belum, dari bandara aku langsung kesini. Tapi aku tidak menolak kalau kau membuatkan sesuatu untukku."

Yixing meringis. "Sebenarnya aku menunggu Zitao dan Joonmyeon untuk membawakan sarapan. Kau tahu kan kalau aku dan Luhan tidak bisa masak." Dia meraih sebuah cangkir dan menuangkan kopi.

Jongdae tertawa dan duduk di kursi. "Jadi benar kau dan Joonmyeon pacaran? Punya nyali juga dia berani pacaran denganmu. Pertama aku dengar dari Yifan kukira dia cuma bercanda karena, tipikal kakakmu, candaannya buruk sekali. Thanks," ujarnya saat menerima cangkir kopi dari Yixing.

"Candaan Yifan memang selalu buruk," timpal Yixing setuju. "Dan aku berharap kau tidak disini untuk membuatnya menjadi lebih buruk."

"Maksudnya?"

"Meledek Joonmyeon, dia kan sahabatmu, dan sebagainya," suaranya mengambang. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya begitu Jongdae menyinggung hubungannya dengan Joonmyeon, namun segera hilang sebelum Yixing berhasil mengingatnya.

Terdengar suara bel pintu lalu seruan Luhan, "Biar ku buka!" Diikuti derap langkah menuruni tangga. Yixing hanya mengangkat bahunya saat Jongdae menatapnya penuh tanya.

"Oppa!" seru Luhan saat muncul di dapur dan melihat Jongdae. Dia mengecup pipi Jongdae singkat sebelum meletakkan bungkusan-bungkusan yang dibawanya.

"Hei, Lu. Hei, Joon," dia melambaikan tangan pada Joonmyeon. "My little penguin," sapanya pada Kyungsoo.

"Aku kangen Oppa," gumam Kyungsoo sambil memeluk Jongdae.

"Yaah, aku juga merindukanmu."

"Mana Zitao?" tanya Yixing. Ada gelas latte diantara bungkusan yang diletakkan Luhan di atas meja, artinya Zitao yang membeli sarapan mereka. Tapi gadis itu masih belum tampak.

"Masih di mobil," jawab Joonmyeon. Dia meraih tangan Yixing dan meremasnya lembut. Caranya untuk mengucapkan selamat pagi. Yixing tersenyum, menunjukkan lekukan di pipinya yang membuatnya tampak semakin cantik.

"Halo, Nyoya Wu. Apa kabar?"

Zitao, yang baru saja memasuki ruang makan, berhenti di tempatnya berdiri. Matanya membulat dalam keterkejutan dengan rona mawar merekah di pipinya. Ekspresinya tampak seolah dia berharap lantai di bawah kakinya terbelah dan menelannya saat itu juga.

Empat orang lainnya di ruangan itu kebingungan. Tidak memahami kenapa kalimat Jongdae barusan memberikan efek sebegitu besar pada Zitao. Jongdae tergelak melihat reaksi mereka semua. "Kalian sama sekali tidak tahu? Yixing?" Yixing hanya menggeleng. "Tidak lihat cincin di jari Zitao?"

"Tu.. Tutup mulut," gertak Zitao. Berusaha tampak galak, tetapi gagal karena semburat merah jambu yang menyebar di pipinya membuatnya tampak ratusan kali lebih menggemaskan.

Semua tampaknya memiliki kesimpulan yang sama. "Kapan?" Kyungsoo tampaknya masih setengah terpana.

"Saat festival kalian kemarin. Hmm, kalau tidak salah sebelum mereka berdua menemui Joonmyeon dan Yixing di backstage. Atau setelah dia memastikan Yifan tidak menata ulang wajah Joonmyeon? Aku lupa."

Cengiran lebar yang membelah wajah terbentuk di bibir Luhan. Dia segera menyeret Zitao ke ruang tamu kemudian memberondongnya dengan pertanyaan. Kyungsoo bangkit dan menyusul keduanya.

"Aku tidak percaya Yifan tidak memberitahuku," gumam Yixing.

Jongdae mengendikkan bahunya. "Kalau kataku, kakakmu itu sama sekali tidak romantis. Dia bilang kalau dia hanya melempar kotak berisi cincin ke arah Zitao dan berkata 'Aku tidak tahu kapan, pokoknya sekarang kau pakai itu dulu biar semua tahu kau itu terikat padaku'. Masih mending cara Joonmyeon yang meskipun agak norak tapi masih ada manisnya sedikit," komentar Jongdae yang membuat Joonmyeon terbatuk pelan karena malu. "Tapi mau bagaimana lagi? Yifan itu selalu blak-blakan kalau menyangkut Zitao."

Yixing mengenyit. "Kenapa Yifan berkata seperti itu? Dia kan tinggal menunggu kelulusan Zitao tahun depan."

Sesuatu melintas di mata Jongdae. "Kau lupa kalau Yifan itu pria posesif tapi tidak berani untuk mencium kekasihnya sendiri?" Bibir Yixing membentuk cengiran kecil saat mendengar kakaknya dicela seperti itu. "Lagipula belum tentu dia bisa langsung membawa Zitao ke kantor pencatat pernikahan setelah upacara wisuda selesai kan? Meskipun aku yakin tidak ada yang bisa menghentikannya kalau dia sudah berniat seperti itu," cerocos Jongdae. "Dan omong-omong, Yifan menitipkan sesuatu untuk Joonmyeon. Bukan surat cinta, kujamin itu," tambahnya dengan senyum jahil. Dia mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya pada Joonmyeon yang menerimanya dengan kernyit bingung.

Joonmyeon membuka amplop tersebut dan memucat. "Jangan bercanda, Jongdae."

"Memang isinya apa?" Yixing meraih amplop dari tangan Joonmyeon dan terbelalak membaca isinya. "Ya Tuhan," desahnya putus asa. "Kakakku pasti sudah gila."

"Joon, kapan kau menerima kenyataan bahwa kau menjadi kekasih adik dari Wu Yifan? Tentu saja dia tidak mungkin semudah itu melepas adiknya untuk bersama seseorang. Oh, aku sarankan kau sebaiknya segera berkemas."

Joonmyeon menghela nafas frustasi. "Bagaimana dia bisa mengatur hal-hal seperti ini? Minseok tidak mungkin sekurang kerjaan ini untuk ikut-ikutan dalam permainan Yifan."

"Keluarga Oh," jawab Jongdae seolah mengatakan bodoh sekali kalau Joonmyeon tidak mengetahuinya. "Sehun butuh tandatangan Yifan supaya maskapainya bisa menjadi rekanan transportasi udara Perusahaan Wu dan sekaligus menembus pasar Kanada. Daripada datang ke kantor dan berurusan dengan tetek bengek yang pelik, lebih baik dilakukan dengan cara lain yang lebih mudah. Tapi tentu saja Yifan tidak memberikan tanda tangannya dengan cuma-cuma."

"Baiklah," erangnya pasrah. Dia bangkit dan mengecup pipi Yixing lembut. "Aku akan berusaha kembali padamu dalam keadaan hidup," bisiknya. Untung jurusannya sudah libur duluan, tidak seperti jurusan di Fakultas Seni yang masih terus masuk secara berkala dengan sederet jadwal latihan dan pementasan. Lagipula restu dari Yifan uhuk-calon-kakak-ipar-uhuk ini penting untuk didapatkan.

"You'd better be," gumam Yixing muram. Dalam situasi biasa mungkin ciuman dari Joonmyeon tadi bisa membuat wajah Yixing merona hingga membuat tomat tampak pucat. Tapi dengan kekhawatirannya pada Joonmyeon, situasi ini menjadi sangat tidak biasa. Matanya mengikuti Joonmyeon yang keluar dari rumah hingga menghilang dari pandangannya.

"Aku tahu bicara ala Yifan lebih tepatnya adalah tes bertahan hidup. Tapi ke Afrika? Untuk apa juga Yifan mengirim Joonmyeon kesana? Dia kan tidak mungkin meninggalkan perusahaan lagi hanya untuk 'bicara' dengan Joonmyeon," gerutunya heran.

"Ada Chanyeol di Afrika. Mungkin Yifan berpikir akan lucu jika Chanyeol memiliki teman untuk memberi makan singa liar Afrika."

"Jangan," Wajah Yixing tampak menghijau karena mual. "memasukkan gambaran mengerikan apapun dalam otakku."

Seringai muncul di wajah Jongdae. Menggoda Yixing merupakan hal yang menyenangkan. "Kau tahu kan kalau menjadi pengawas pusat reservasi hewan liar itu berat, menantang, sekaligus penuh pertaruhan nyawa. Minggu lalu Chanyeol meneleponku dan bercerita kalau ada sekawanan antelop marah yang..."

"Ngomong-ngomong soal Chanyeol," sela Yixing keras. Jongdae harus dihentikan sebelum memberikan otaknya gambaran lain yang lebih nyata dan lebih buruk. Sungguh, doa Yixing tidak terlalu muluk, hanya supaya Joonmyeon bisa bertahan hidup menghadapi tes dari kakaknya. Apapun tes yang muncul di otak Yifan. Lebam-lebam sedikit dan tergores sana sini tidak apa-apa deh, Joonmyeon tetap ganteng kok. Yang penting Joonmyeon bisa kembali padanya dalam keadaan hidup dan utuh, titik. Yifan harus bertanggung jawab kalau Jonmyeon kembali padanya dalam keadaaan kurang dari saat dia berangkat. "Kau sudah menemukan siapa gadis misterius yang ditinggalkannya di Korea?"

"Belum, kalau sudah ketemu aku mau kau bertemu dan bicara padanya," pinta Jongdae yang diangguki oleh Yixing. "Aku tidak percaya dia meninggalkan kekasihnya tanpa kabar."

Mereka hanya pernah sekali mendengar Chanyeol bercerita tentang seorang gadis yang menjadi alasannya untuk meninggalkan seluruh kehidupannya di Korea. Itupun setelah Minseok mengikatnya di kursi dan memaksanya bicara dengan ancaman dia akan memulangkan paksa Chanyeol ke Korea dengan paket, tidak peduli dalam kondisi hidup ataupun mati. Jongdae masih ingat berapa biaya yang harus dikeluarkan Yifan untuk pengobatan Chanyeol supaya dia dapat 'segera sehat dan mampu berfungsi dengan semestinya' semacam Chanyeol adalah mesin saja. Jangan lupakan juga biaya perbaikan kantor Yifan yang porak-poranda seperti habis diterjang hamster mengamuk setelah kejadian itu. Siapa bilang hamster tidak bisa mengerikan? Kantor Yifan menjadi saksi bisu bagaimana seekor hamster berwujud Minseok sanggup membuat seorang laki-laki dewasa seukuran Chanyeol mengalami 1 tulang rusuk patah, dislocated tulang bahu kanan, cedera lutut kiri, serta gegar otak ringan. Eh, gegar otaknya karena Chanyeol gagal membungkuk saat berlari dan akhirnya membentur kusen jendela pantry, jadi itu bukan salah Minseok. Untungnya juga Chanyeol tidak mengajukan gugatan tentang 'penganiayaan' yang dia alami.

Jadi, waktu itu Minseok dan Chanyeol berkejaran di gedung perusahaan Wu mulai dari lobi hingga lantai 25 dengan bergantian menggunakan tangga dan elevator dan membuat Chanyeol bersembunyi di kantor Yifan, bahkan dengan konyolnya mencoba meminta perlindungan di belakang Yixing yang kebetulan disana. Meskipun berujung sia-sia karena pintu kantor Yifan yang terkunci menjeblak terbuka hanya dalam sekali tendangan dan Yixing menyingkir dengan patuh dari depan Chanyeol setelah mendapatkan lirikan ketus dari Minseok. Minseok kemudian, berkelahi terdengar terlalu keren kalau pada kenyataannya Chanyeol hampir tidak bisa membalas dan hanya sekedar menahan pukulan dari Minseok, menghajar Chanyeol hingga pemuda itu setengah sadar. Lalu dia mendudukkan Chanyeol di kursi dan mengikatnya dengan kabel telepon tanpa ada satupun yang bisa menghentikannya. Minseok bahkan menyuruh kurir untuk mengantarkan kotak kayu seukuran manusia ke kantor Yifan untuk membuktikan bahwa dia serius dengan ancamannya.

Luar biasanya, Chanyeol masih punya cukup kesadaran (dan kewarasan serta kejujuran) untuk mennjawab pertanyaan Minseok, meskipun jawaban yang dikeluarkan Chanyeol pun hanya dua kalimat singkat. 'Aku pergi ke sini dan meninggalkan semuanya termasuk gadis yang aku cintai di Korea. Meskipun sulit dan terdengar tidak masuk akal, ini cara kami supaya, entah cepat atau lambat, bisa bersama.' Dan jawaban kurang jelas itu sukses membuat Minseok hampir menguliti Chanyeol hidup-hidup sebelum akhirnya gadis itu pergi ke Korea dan menyelidikinya sendiri. Meskipun akhirnya pulang dengan tangan hampa karena Chanyeol menutupi masa lalunya dengan rapat.

"Mungkin bukan tanpa kabar. Ingat bagaimana dia menghilang setiap beberapa bulan? Tidak mungkin dia tidak menemukan suatu cara untuk berkomunikasi dengannya."

"Tapi yang pasti dia tidak pernah memasuki Korea Selatan. Pihak imigrasi pasti menempatkan namanya dalam suatu daftar yang segera menarik perhatian jika dia berusaha memasuki Korea Selatan. Ayahnya tidak menjadi Perdana Menteri tanpa alasan. Dari pada itu, sebenarnya ada hal yang lebih menggangguku. Kenapa Kyungsoo tidak bersama Jongin?"

"Itulah," keluh Yixing jengkel. "Mereka berdua bertengkar."

"Jongin dan Kyungsoo? Kau pasti bercanda."

"Yifan tidak bercerita padamu?" tanya Yixing. Begitu Jongdae menggeleng, dia menceritakan seluruh kejadian saat festival tiga minggu lalu yang membuat keduanya saling mendiamkan sampai sekarang.

"Dosa apa aku sampai punya adik sebegitu bodohnya?" erang Jongdae. "Lalu dia belum juga minta maaf sampai sekarang?"

Yixing menggeleng. "Kyungsoo kelihatannya sudah tidak terlalu mempermasalahkannya lagi. Tahu sendiri bagaimana Kyungsoo, dia tidak pernah marah dalam waktu yang lama, apalagi pada Jongin. Dia mungkin memaafkan tingkah kekanakan Jongin, tapi tidak dengan kalimatnya tentang 'menjadi seperti mereka'. Jadinya dia menghindari Jongin sebisa mungkin. "

"Dan Jongin?"

Yixing tampak berusaha mencari kata yang tepat. "Kesetanan," ujarnya. "Terus-terusan berlatih tanpa henti. Ada proyek kerjasama dengan antara jurusan Tari, Akting, dan Musik untuk pementasan musim dingin. Jongin terpilih menjadi salah satu pemeran. Untung Baek-Jie juga terpilih. Ada dia yang setidaknya mengingatkan Jongin untuk tidak terus-terusan berlatih. Walaupun agak percuma karena kita semua tahu kalaupun ada orang yang perintahnya didengarkan Jongin, itu adalah Kyungsoo."

Suara bel pintu membuat percakapan keduanya terhenti. Yixing mengernyit. Siapa lagi yang datang? Mereka sedang tidak menunggu seseorang. Kalau itu Sehun, dia pasti sudah langsung nyelonong masuk tanpa repot-repot membunyikan bel. Hubungan Sehun dan Luhan sebenarnya lebih amannya disebut sudah menikah. Jadi dengan Izin dari Yifan sebagai wali Luhan dan kakak Yixing yang tinggal bersama Luhan, Sehun punya kunci duplikat rumah ini.

Tapi beberapa saat kemudian terdengar teriakan melengking penuh kegembiraan yang memberitahu keduanya siapa yang datang. "Baekhyun," ujar Yixing.

Jongdae mengangguk. Dia tidak terlalu mengenal Baekhyun kecuali dari cerita Jongin dan Kyungsoo tentang sunbae mereka yang memiliki suara menakjubkan.

Kyungsoo muncul di ruang makan sambil menggosok telinganya pelan. "Ampun deh, suaranya Baek-eonnie," gerutunya. Dia menarik kursi di sebelah Jongdae dan duduk.

Baekhyun menyusul beberapa saat kemudian. "Mereka mengoceh dalam bahasa yang tidak aku pahami sepatah katapun dan kau meninggalkanku cengo bersama mereka," protesnya pada Kyungsoo.

"Baek-eonnie kalau teriak tidak kira-kira sih. Telingaku sampai sakit," balas Kyungsoo. "Kenalkan dulu. Ini nih bentuknya Jongdae-oppa, kakaknya Jongin. Yang sering kami ceritakan."

Baekhyun menatap Jongdae dan tersenyum sopan kearahnya. "Senang berkenalan dengan anda, Jongdae-ssi."

Kalau Jongdae tidak salah, ada kilat pengenalan yang muncul sejenak di mata Baekhyun. Jongdae mengabaikan perasaan tersebut dan balas tersenyum pada Baekhyun. "Baekhyun kan? Jongin dan Kyungsoo sering bercerita tentangmu. Jangan terlalu formal padaku." Ini pertama kalinya mereka bertemu, mungkin saja Baekhyun mengenalinya dari cerita Jongin dan Kyungsoo.

"Bagaimana kabar Chanyeol-oppa? Di mana dia sekarang?" tanya Kyungsoo pada Jongdae.

Kening Baekhyun sedikit berkerut mendengarnya. Kyungsoo melihatnya dan tersenyum. "Baek-eonnie mungkin belum kenal. Chanyeol-oppa itu teman kerja Jongdae-oppa," jelasnya yang dijawab dengan anggukan Baekhyun.

"Dia dua bulan ini di Afrika, menjadi pengawas di pusat reservasi hewan liar. Terakhir dia meneleponku kapan hari. Mengabarkan kalau dia akan dipindah tugaskan dari penangkaran antelop ke penangkaran singa. Dengan asumsi kalau dia belum mati digilas kawanan antelop marah."

Baekhyun terkesiap keras, membuat mereka semua menoleh ke arahnya. "Itu mengerikan," ujarnya dengan wajah pucat.

"Aku setuju," sahut Yixing dengan wajah hampir sama pucatnya. "Sudah ku bilang jangan membuatku memikirkan hal-hal yang mengerikan. Apalagi dengan Joonmyeon yang ke sana dengan prospek dia akan menghadapi hal yang sama."

Ponsel Baekhyun mendadak berdering. Baekhyun menatap layar ponselnya. Wajahnya yang pucat mulai memerah dengan ekspresi jijik yang nyata.

"Siapa Jie?" tanya Yixing saat Baekhyun tak kunjung menerima panggilan di ponselnya.

"Calon tunanganku tersayang," jawab Baekhyun seolah meludahkan racun. "Aku harus mengangkatnya, atau dia akan mengadu pada ayahku." Dia berjalan ke arah dapur dan menerima panggilan di ponselnya.

Tiga orang lain di ruang makan terdiam saat mereka bisa mendengarkan kalimat-kalimat penuh kemarahan Baekhyun. Tak lama kemudian Baekhyun kembali duduk bersama mereka dengan raut penuh amarah. "Maaf kalau kalian mendengar semuanya," sesalnya.

"Tidak apa-apa. Kenapa Daehyun-oppa menelepon?" tanya Kyungsoo.

"Dia menyuruhku ke kantornya sore ini. Peresmian entah apa itu dan dia butuh seseorang untuk menggandeng lengannya dihadapan partner kerjanya."

"Apa tidak sebaiknya Jiejie datang saja? Jiejie tidak bisa terus-terusan menghindar seperti ini," saran Yixing.

"Dan menerima perjodohan bodoh ini? Tidak, Yixing. Sampai mati aku tidak mau menerimanya," sahut Baekhyun tajam.

Atmosfir ruang makan terasa tidak nyaman. "Aku dengar dari Yixing, kau dan Jongin punya proyek di jurusan kalian untuk pementasan?" tanya Jongdae berusaha mencairkan suasana.

"Iya," jawab Baekhyun dengan senyum kaku.

"Lalu kau tidak ikut juga?" tanya Jongdae pada Kyungsoo.

Kyungsoo bangkit menuju dapur tanpa mengucapkan sepatah katapun. Jongdae menatap kepergiannya. "Dia ngambek?" tanyanya.

"Tidak," sahut Kyungsoo dari dapur. "Aku ambil minum." Dengan membawa segelas air, dia kembali ke ruang makan. "Aku ikut sebenarnya, tapi mengundurkan diri. Aku masuk dalam empat pementasan lho, lima termasuk yang bersama Jongin dan Baek-eonnie. Oppa tahu kan kalau ujian arsitekku dimulai bulan depan. Bisa-bisa aku bakal keteteran kalau aku ikut semua pementasan itu dan mempersiapkan ujianku. Jadinya aku melepas satu yang bersama Baek-eonnie."

"Bukan karena kau bertengkar dengan Jongin gara-gara kejadian di festival kemarin kan?"

Kyungsoo terdiam. Jemarinya menelusuri bibir gelasnya dengan tekun. "Aku sudah tidak marah," jawabnya. "Aku hanya tidak tahu harus seperti apa jika bertemu Jongin."

"Bersikap biasa saja bisa kan? Daripada kalian terus-terusan seperti ini."

"Tapi tidak semudah itu. Apalagi..." kalimat Kyungsoo hilang dalam gumaman pelan. Dia menyambar tasnya dan berjalan menuju ruang tamu diiringi pandangan heran Jongdae serta khawatir dari Yixing dan Baekhyun. "Iya, aku ngambek," ujarnya tanpa menoleh ke belakang. "Zitao, antarkan aku berangkat. Aku masih harus menemui Luna untuk mengurus jadwal latihan," serunya pada Zitao.

Yixing berbicara sangat pelan. "Sebenarnya, kami semua sepakat untuk tidak membicarakan apapun yang berkaitan dengan pertengkaran mereka." Membuat Jongdae ingin membenturkan kepalanya ke meja.

Zitao muncul di dapur dan mengambil gelas lattenya. "Pasti ini gara-gara kau," bisiknya penuh tuduhan pada Jongdae. "Dasar Troll! Bisa tidak sih sesekali kau tidak bertanya atau melakukan yang aneh-aneh? Kyungsoo kan sudah seperti adikmu sendiri," desisnya rendah dan cepat. Dia menoleh ke arah Yixing dan Baekhyun. Nada bicaranya kembali normal. "Sehun sudah di depan untuk menjemput Luhan. Jangan khawatir, Yixing. Aku akan bicara supaya Yifan memulangkan Joonmyeon secepatnya. Kalian tidak kemana-mana? Baekhyun-jie bawa mobil kan? Kalau kalian keluar rumah nanti kabari aku. Aku langsung ke studio, mungkin pulang dua jam lagi. Bye semuanya."

"Hei, aku kan tidak melakukan apapun!" protes Jongdae pada Zitao yang sudah berlari keluar dapur. "Anak itu, disini sebentar saja dan dia menjadi seperti induk ayam, salah, induk panda kelewat rewel. Beruntung sekali sih, Yifan bisa menjinakkannya dan menjadikannya istri," gerutunya dengan suara rendah.

"Tunggu sebentar," sela Baekhyun. "Aku masih belum mengerti hubungan mereka. Mereka itu pacaran kan? Lalu sekarang bertunangan, eh, aku cuma melihat cincinnya saja sih, soalnya Luhan dan Zitao berbicara dalam bahasa alien. Tapi Yifan dan Zitao tinggal seapartemen, atau mereka sudah menikah?"

"Jangankan Jiejie, aku yang adiknya Yifan saja masih tidak paham dengan jalan pikiran mereka," timpal Yixing.

"Mereka bertunangan." Jongdae berbaik hati menjelaskan. "Tapi belum diumumkan ke publik. Yifan cuma ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau panda itu tidak bakal lari kemana-mana. Seolah-olah panda itu mau dengan orang selain dia saja, dan pernikahan yang masih sangat lama karena keluarga Zitao masih ingin dia untuk menyelesaikan kuliahnya. Oh, dan sebenarnya acara tunangan ini sekaligus untuk membujuk Zitao supaya mau pindah ke Kanada bersama Yifan."

"APA?!" teriak Baekhyun dan Yixing bersamaan.

Jongdae menutup erat-erat telinganya yang mendenging. Benar kata Kyungsoo, suaranya Baekhyun tidak kira-kira. Ditambah suara Yixing yang sebenarnya lumayan melengking, Jongdae membuat catatan mental untuk mengunjungi dokter telinga sepulang dari sini. Dia tidak yakin telinganya masih sehat setelah mendengar teriakan keduanya. "Girls, calm down," gerutunya. "Tolong ya suaranya dikecilkan sedikit. Semuanya masih rencana. Zitao akan ikut Yifan ke Kanada setelah mereka menikah. Tapi dengan selisih usia mereka yang hampir 10 tahun dan Zitao sekarang masih, berapa? 19 tahun? 20 tahun? Yifan tidak se-pedo itu juga untuk menikahi Zitao sekarang."

Dua gadis didepannya tampak bersiap untuk memborbardirnya dengan sederet pertanyaan, tapi Jongdae mengangkat tangannya. Membuat keduanya terdiam. "Aku tahu kalian punya banyak pertanyaan tapi aku tidak yakin aku punya jawaban untuk semua pertanyaan kalian, jadi lebih baik jangan bertanya, oke? Bisa kita kembali ke masalah Jongin dan Kyungsoo?"

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 18 Years Old ||

Kyungsoo berdiri dengan gelisah di sudut ruangan.

Dengan gaun mewah dan high heels yang tidak akan dipakainya kecuali karena Mamanya yang merayunya, harus diakuinya bahwa gaun ini memang nyaman untuk dipakai bahkan olehnya yang jarang memakai gaun, dia tampak secantik putri meskipun dia tidak merasa seperti dirinya sendiri. Rasanya begitu asing di ruangan ini. Terlalu banyak orang yang ada di ballroom dan tidak satupun yang dikenalnya. Banyak laki-laki yang menghampirinya untuk sekedar berbasa-basi atau menawarkan dansa yang ditolaknya dengan lembut. Sunguh kalau bukan demi Jongin yang menjadi salah satu model peragaan busana, bersama Sehun juga, Kyungsoo tidak mungkin mau datang ke after party seperti ini. Heck, Kyungsoo malah mungkin tidak akan menginjakkan kaki di acara semacam ini walaupun ini adalah peluncuran line terbaru milik ibunya.

"Sendirian?"

Kyungsoo menoleh kesamping dan disambut oleh seorang pemuda yang tersenyum padanya. "Tidak," jawabnya. "Temanku sebentar lagi akan datang."

"Hmmm," gumamnya. "Mau berdansa denganku? Sambil menunggu temanmu datang."

Kyungsoo tersenyum rikuh. "Terimakasih, tapi tidak."

"Aku dari tadi melihatmu, dan sayang sekali gadis cantik sepertimu terus sendirian. Temanmu sepertinya tidak punya perasaan yang peka. Tapi jika kau menolak kutemani," dia mengangkat gelasnya dengan sopan. "Selamat menikmati pesta kalau begitu." Pemuda itu berjalan menjauh.

Kyungsoo menghela nafasnya. Dia benar-benar berpikir untuk menelepon supir dan memintanya mengantarkan pulang.

Dilihatnya beberapa gadis bergerombol yang menunjuk-nunjuk ke arahnya. Dia berusaha mengabaikannya. Kalau tidak salah, mereka itu kumpulan putri para pengusaha yang kerjanya shopping dan memastikan orang tua mereka mendapatkan tiket tempat duduk paling depan di tiap peragaan busana untuk mereka. Mereka sudah berusaha menarik Kyungsoo dalam kelompok mereka sejak ibunya memperkenalkannya di hadapan rekan bisnisnya. Kyungsoo dengan sopan selalu bisa kabur dari mereka. Tapi jika mereka datang lagi, dia sudah kehabisan alasan untuk kabur. The perks of being famous people's daughter.

"Sendirian?" sapa sebuah suara di belakang Kyungsoo.

Serius? Hampir saja Kyungsoo mengatakannya keras-keras dan menggertakkan giginya dengan kesal sebelum ingat bahwa tingkah seperti itu sangat tidak ladylike. Dia tidak ingin mempermalukan mamanya dengan tingkah seperti itu. "Aku sedang menunggu temanku," jawabnya tanpa berbalik sambil menyibukkan diri dengan dompetnya. Dia sudah pusing hanya dengan melihat begitu banyak orang di ruangan ini. Persetan dengan manner.

"Whoa, Kyung. Tidak perlu seketus itu."

Dengan ngeri Jongin melihat kepala Kyungsoo seolah nyaris putus karena menoleh dengan cepat. "Jongin," seru gadis itu tertahan, tampak begitu lega melihatnya. "Satu lagi orang asing yang menawariku berdansa, dan aku akan mencari Pak Yoon untuk mengantarku pulang."

Jongin tertawa dan menyampirkan lengannya di pundak Kyungsoo dengan kasual. "Maaf membuatmu menunggu lama. Kau cantik sekali memakai gaun seperti ini."

Kyungsoo menyikut Jongin pelan. "Kau juga keren di catwalk tadi."

"Cuma tadi? Bagaimana yang sekarang? Aku ganteng kan?"

Kyungsoo melirik Jongin, mengamati pemuda itu dengan teliti. "Karena kau temanku, aku akan berbaik hati. Dari skala satu sampai sepuluh, nilaimu delapan."

"Delapan? Kenapa cuma segitu?" protesnya. "Sepuluh. Atau minimal sembilan setengah."

"Tidak ada nilai sembilan. Delapan setengah untuk bersukarela menjadi model, meskipun kau membuatku menunggu. Memangnya Mama bicara sepanjang apa sih?"

"Bicara dengan Mama cuma sebentar. Kan aku dan Sehun cuma model dadakan, jadi kami tidak ikut pembicaraan profesional mereka. Yang lama itu aku harus menemani Sehun untuk bicara dengan bonekanya dulu sebelum menyeretnya untuk menemui Mama. Dan kuberitahu, memisahkan Sehun dan bonekanya itu sangat sulit."

"Boneka? Sehun tidak membawa pinku-pinku di dalam tasnya kan?" tanya Kyungsoo was-was. Kyungsoo mendadak merasa khawatir dengan kondisi boneka lucu itu.

"Tentu saja tidak. Bayangkan bagaimana nasib boneka itu jika masuk dalam tas Sehun yang sudah penuh sesak? Dan bagaimana nasib kita kalau seandainya boneka itu tertinggal di sini?"

"Sehun bakal menelepon kita dan merengek semalaman karena tidak bisa tidur tanpa memeluk pinku-pinku," angguk Kyungsoo. "Tapi boneka apa?"

"Boneka hidup. Lihat disana," Jongin menunjuk ke tengah ruangan tempat orang-orang berdansa. "Sehun dan boneka hidupnya yang cantik."

Kyungsoo hampir terperangah. Di lantai dansa tampak Sehun sedang berdansa dengan, boneka sebenarnya pilihan kata yang sangat merendahkan, malaikat. Dengan tubuh sesempurna pahatan malaikat, aura seorang ratu, wajah yang lebih cantik daripada Aphrodite, rambut pirang yang membiaskan warna emas dari cahaya chandelier, dan kelincahan rusa padang rumput. Keduanya berdansa dengan keanggunaan pangeran dan putri dari dongeng lama. Kyungsoo menahan dirinya untuk tidak memperhatikan kaki keduanya karena dia tidak akan heran jika ternyata keduanya berdansa melayang duapuluh senti diatas lantai. "Jongin, aku tidak yakin sebenarnya kita sedang menonton orang berdansa atau sedang menonton kartun klasik?"

"Mau menyaingi mereka?"

"Tidak mungkin bisa menyaing... Hah?" Perhatian Kyungsoo kembali pada Jongin yang tersenyum.

"Mau berdansa denganku?"

"Aku tidak bisa berdansa," sahutnya cepat. "Aku tidak mau menjadi bahan tertawaan."

"Kau bukannya tidak bisa berdansa. Kau bahkan tidak pernah mencoba untuk berdansa, Kyung."

"Pernah kok."

"Saat usia kita tujuh tahun," jawab Jongin. "Kau menggunakan mantel bulu dan topi lebar mama."

"Dan kau menggunakan coat papa. Aku masih ingat kau kemudian terserimpet lalu membuat kita berdua terjatuh. Poor me, aku terkilir sedangkan kau hanya memar."

Jongin tertawa. Tawanya menarik orang-orang memperhatikan mereka. "Ayolah, aku tidak akan membiarkanmu mempermalukan dirimu sendiri." Jongin mengulurkan tangannya pada Kyungsoo.

Selama beberapa detik, Kyungsoo sangat tergoda untuk berbalik dan meninggalkan Jongin. Tapi Jongin menatapnya dengan begitu intens, dan mendadak Kyungsoo menyadari bahwa orang-orang menoleh ke arah mereka. Akhirnya dia menyambut tangan Jongin dan membiarkannya membimbingnya ke lantai dansa. Dia tidak bisa mempermalukan Jongin dengan menolaknya di depan banyak orang. "Aku tidak akan pernah membuatkanmu kue atau bekal lagi kalau sampai orang-orang mentertawakan aku," ancamnya pelan.

"Tidak akan ada yang mentertawakanmu di dansa publik pertamamu. Aku janji." Dia melingkarkan lengannya di pinggang Kyungsoo dan menariknya mendekat. "Pokoknya fokus kepadaku saja, jangan memikirkan langkah ataupun musik. Aku akan membimbingmu, oke?"

"Oke," sahutnya pasrah.

Jongin menepati janjinya dengan tidak menjadikan Kyungsoo bahan tertawaan. Dia membimbing Kyungsoo perlahan-lahan dengan langkah yang sederhana hingga gadis itu merasa nyaman dengan dansa mereka.

"Ngomong-ngomong, siapa yang berdansa dengan Sehun?"

"Ingat teman kencan online Sehun? Ya dia itu. Namanya Luhan, ternyata dia jadi salah satu model baru Mama. Mama sedang mengatur kalau-kalau dia mau pindah ke Korea untuk jadi model tetap Mama sekaligus meneruskan studinya tahun ini berbarengan dengan kita. Dia lulus high school tahun lalu, tapi menunda kuliah untuk karirnya."

"Wow, jadi Sehun mengencani gadis yang lebih tua?"

"Aku juga mau mengencanimu meskipun kau lebih tua dari aku."

"Hanya dua hari! Heran, kenapa kau suka sekali sih mengungkitnya. Dan lagi, memangnya aku mau kencan denganmu?"

"Karena kau menyayangiku dan perhatian padaku lebih dari siapapun di dunia ini kecuali mungkin ibuku."

Kyungsoo membuka mulutnya untuk menyahut kalimat Jongin saat high heels yang dipakainya terasa aneh. "Ouh," aduhnya pelan.

"Ada apa?"

"Aku rasa ada yang salah dengan sepatuku. Bisa kita minggir?"

Jongin menuntunnya keluar dari lantai dansa dan menuju deretan kursi. Dia langsung berlutut mengamati sepatu Kyungsoo begitu gadis itu duduk. "Cuma talinya yang lepas." Tangannya bergerak mengencangkan ikatan pita di pergelangan kaki Kyungsoo.

"Tidak apa-apa Kyungsoo?" sapa Sehun yang baru datang dengan Luhan di gandengannya.

"Tidak apa-apa, cuma tali sepatuku lepas."

"Cinderella wanna be, eh?" senyum terukir di bibir Sehun. "Perkenalkan, ini Luhan. Luhan, ini Kyungsoo."

"Halo," sapa Luhan dengan suara sehalus sutra.

"Kanapa tidak duduk bersama Kyungsoo dan aku akan mengambilkanmu minum?" Sehun mengecup kening Luhan lalu berjalan menjauh.

"Aku akan mengambilkan minum untukmu juga, Kyung." Jongin menepuk lengan Kyungsoo perlahan lalu mengikuti Sehun berbaur di kerumunan.

"Jadi, Kyungsoo?" Luhan tersenyum dan duduk disamping Kyungsoo. "Kau secantik yang diceritakan Sehun padaku. Seorang peri musim panas."

Kyungsoo merona. Bukan pertama kalinya dia mendengarkan pujian semacam itu. Jongin sering memanggilnya dengan peri kecil atau kadang pixie, meskipun dia tidak begitu yakin sebenarnya itu pujian atau ejekan terselubung dari Jongin. Dan malam ini dengan gaun berwarna kuning lembut dan rambut yang dijalin dengan hiasan sulur-sulur bunga yang sederhana, pujian itu semakin banyak diterimanya. "Kau berlebihan. Tapi kau tidak seperti apapun yang diceritakan Sehun." Lekukan muncul di alis Luhan saat mendengarnya. "Dia mendeskripsikanmu sebagai 'cantik'. Tapi aku pikir aku melihat malaikat saat kau berdansa dengan Sehun," lanjut Kyungsoo.

"Nah, sekarang kau yang berlebihan." Luhan tertawa. "Dansa pertamamu? Tampaknya kau tadi gugup sekali."

"Iya," jawab Kyungsoo malu.

"Wow, tapi kau melakukannya dengan sangat baik," puji Luhan.

"Tidak seperti kalian yang berdansa seperti keluar dari layar animasi," balas Kyungsoo dengan senyuman. "Dalam kurang dari sepuluh menit berdansa, kau membuat Sehun tersenyum lebih banyak daripada dia tersenyum dalam sehari. Kalian berdua sungguh beruntung. He must be insanely in love with you." Bicara blak-blakan bukan khas Kyungsoo. Tapi dengan asumsi Sehun tidak mungkin menyembunyikan apapun dari Luhan, termasuk kecenderungannya untuk kadang-kadang bicara tanpa pikir panjang, mungkin kalimatnya tidak terdengar terlalu lancang.

Luhan tersenyum. Matanya menangkap Sehun yang berjalan kearahnya dengan dua gelas minuman di tangannya. "Aku mencintainya, sangat. Dan soal beruntung, kau juga beruntung memiliki Jongin."

"Hubungan kami tidak seperti itu."

Luhan menoleh kaget. "Oh, benarkah? Kukira kalian... maafkan aku."

"Tidak apa-apa. Banyak orang yang juga salah tentang kami," jawab Kyungsoo.

Sehun sampai di tempat mereka dan menyerahkan segelas minuman untuk Luhan lalu duduk disampingnya. Keduanya larut dalam dunia mereka sendiri. Kyungsoo tersenyum melihat mereka. Mereka berdua beruntung memiliki satu sama lain.

Jongin mendadak sudah berdiri di samping Kyungsoo dengan cangkir teh terulur ke arahnya. Kyungsoo menerimanya penuh rasa terima kasih. Belum sempat dia mendongak untuk mengucapkan terima kasih, Jongin sudah mengelus kepalanya lembut. Jongin sudah mengerti apa yang akan diucapkan Kyungsoo.

Meskipun hubungan mereka tidak seperti itu, tapi Luhan benar. Kyungsoo beruntung memiliki Jongin di sampingnya. Dan dia bersyukur untuk itu.

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 21Years Old ||

"Sudah tigapuluh dua hari," ujar Jongin.

"Hmm," sahut Sehun yang masih terfokus pada majalah ditangannya.

"Kyungsoo masih mengabaikan aku." Kalimat Jongin sekarang sudah berupa rengekan.

"Kau tidak mau minta maaf sih."

"Aku tidak salah apa-apa."

"Siapa yang bilang kau tidak bersalah?" timpal Luhan.

"Aku."

"Hanya karena kau bilang kau tidak bersalah tidak membuat kau menjadi makhluk tanpa dosa."

"Aku kan cuma bilang aku tidak bersalah!"

"Berisik!" bentak Yixing. "Diam atau keluar dari rumah ini."

Ketiganya mengkeret. Seminggu terakhir ini Yixing tidak segan untuk membentak siapapun yang dirasanya mengganggu. Tidak ada yang mengira unicorn kalem ini bisa mengerikan kalau jauh-jauh dari si manusia pawang air.

"Sabar dong, Xing," Luhan mengelus punggung Yixing. "Kenapa tidak minta tolong Zitao supaya Yifan mau memulangkan Joonmyeon?"

"Benar tuh," timpal Jongin semangat, mengalihkan kemarahan Yixing. " Tidak ada permintaan Zitao yang tidak akan dikabulkan Yifan."

"Dia tetap tidak mau," jawab Yixing merana. "Zitao juga sudah membantuku, bahkan sampai mogok bicara dengan Yifan. Tapi Yifan bilang kalau Joonmyeon tidak 'lulus' maka dia bukan laki-laki yang pantas untukku."

Tiga orang lain bergidik ngeri. Untuk jadi pacar saja, Joonmyeon harus bertahan hidup dan 'dibuang' di Afrika. Kalau misalnya nanti Joonmyeon melamar Yixing, apa yang harus dilakukannya supaya Yifan merestui mereka? Menjadi tukang gosok gigi hiu putih? Membuat rumah di bumi dengan tembok dari batu bulan? Mengumpulkan pecahan asteroid langsung dari jalurnya di sebelah planet tetangga? Mengendalikan air di kutub, menghentikan pencairan es, dan menghentikan meningginya permukaan air laut?

Hush, jangan bicara keras-keras atau ide itu benar-benar terpikirkan oleh Yifan.

Suara bel membuat Yixing, yang kebetulan berada paling dekat dengan pintu, berdiri sambil menggerutu untuk membuka pintu. Tanpa mengintip melalui jendela, dia meraih handle dan membukanya. Tapi begitu pintu terbuka dan menunjukkan siapa yang bertamu, segera dibantingnya pintu hingga tertutup. Dia melangkah mundur dan bersedekap marah.

Daun pintu kembali menjeblak terbuka dan menunjukkan Yifan yang baru saja membuka –mendobrak– pintu dengan gerakan yang sangat tidak ber-peri kepintuan. "Dasar adik durhaka! Beraninya kau membanting pintu di wajah kakakmu?"

Sehun, Luhan, dan Jongin, juga Zitao yang berdiri di belakang Yifan, tidak tahu apakah mereka harus tertawa melihat tingkah kekanakan Yixing atau meringkuk ketakutan merasakan aura kemarahan Yifan. Yang pasti mereka meringis iba melihat nasib pintu yang menjadi korban Wu bersaudara. Luhan sepertinya harus memanggil tukang kayu kalau masih ingin rumahnya memiliki pintu yang dapat dikunci. Zitao perlahan beringsut masuk menjauhi kedua bersaudara itu.

"Kau disini pasti kabur lagi untuk menemui Zitao. Kalau kau ingin Joonmyeon menunjukkan padamu bahwa dia pantas menjadi kekasihku, harusnya kau ikut bersama dia. Bukannya di kantor lalu enak-enakan kabur kesini," balas Yixing.

"Makanya lain kali lihat dulu siapa saja yang datang bertamu sebelum membanting pintu di depan orang yang bertamu!" hardik Yifan. "Aku tidak susah payah terbang tiga benua untuk menerima kelakuan kurang ajarmu!"

"Uhm, bisa kalian lanjutkan pertengkaran kalian di dalam dan tidak berdiri di tengah pintu seperti ini?"

Suara baru membuat perhatian mereka teralihkan.

"Err... Hai?"

Yixing berlari ke arah Joonmyeon dan memeluknya erat. Joonmyeon bersyukur seminggu di 'pengasingan' membuat refleksnya semakin baik. Tidak lucu kan kalau dia tidak bisa menahan tubuh Yixing dan membuat keduanya jatuh berguling-guling? Tidak lucu memang bagi Joonmyeon, tapi akan sangat memalukan dan membuat Yifan kembali meragukan kelayakannya sebagai kekasih Yixing.

Tanpa banyak kata, Yixing menyeret Joonmyeon menuju dapur. Memulai sesi interograsi.

"Eits, mau kemana?" Zitao menahan tangan Yifan yang hendak beranjak.

"Kemana?" Alis tebal Yifan berkedut. "Tentu saja ke Yixing."

"Tidak boleh." Tangan Zitao melingkari lengan Yifan. "Kau sendiri yang memulangkan Joonmyeon."

"Tandanya kau sudah merestui Yixing dan Joonmyeon. Jangan menjilat ludahmu sendiri, Yifan." Kalimat ini disahut Yifan dengan melayangkan tatapan membunuh pada sosok yang bersandar di pintu.

Luhan mengerjap bingung. "Sejak kapan kau ada di sana?" tanyanya pada Jongdae.

"Sejak Yixing melompat ke pelukan Joonmyeon. Ya ampun," desahnya kesal. Dia masuk dan duduk di samping Jongin. "Terlalu banyak drama di rumah ini yang menjadikan aku tak berarti di mata kalian," keluhnya dramatis, membuat seisi ruangan memutar bola mata mereka. Tangannya mengacak rambut Jongin. "Hey dongsaeng, bagaimana kabarmu?"

Jongin menepis tangan Jongdae dengan tampang kesal sebelum masuk dalam mode merajuk dan merengek. Luhan mendengus sebal kemudian berjalan menuju ke telepon yang tergantung di samping tangga, berniat menghubungi tukang kayu. Saat dia kembali kelima orang itu duduk di sofa sambil mengobrol seru tentang, dia menghela nafas jengah, sepak bola. Dia suka sepak bola, bahkan dia sempat menjadi pemain terbaik saat di klub sepak bola semasa high school. Tapi dia tidak menemukan apa yang menarik dari menjagokan satu klub atau pemain tertentu dan terlibat adu argumen padahal tidak ikut memainkan permainan itu sendiri. Dia bergabung bersama mereka dan menyamankan diri dalam pelukan Sehun yang menyambutnya.

Dia sempat terlelap karena bosan saat ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Betah sekali sih mereka ini sampai sejam lebih dan masih mengobrolkan tentang sepak bola? Dan herannya Zitao yang berada di pelukan Yifan juga masih bisa mengikuti obrolan mereka, padahal Luhan kira dia tidak tertarik dengan hal seperti ini. Dibukanya pesan itu dengan malas-malasan. Matanya melebar saat membacanya. Dia bangkit dan menyeret Zitao menjauhi keempat pria yang tampaknya tidak terlalu memperdulikan sikap anehnya.

"Apa sih, Lu?" tanya Zitao setelah mereka menjauh dari para pria itu.

"Kyungsoo dan Baekhyun sedang dalam perjalanan kemari."

"Lalu? Kita kan sudah janjian akan membuat cupcake dan mencoba resep baru."

Luhan berdecak kesal. "Jongin disini. Kyungsoo akan kesini. Ring any bell?"

"Oh," gumam Zitao saat menyadari maksud Luhan.

"Diantara kumpulan lelaki disana, yang bermarga Oh adalah kekasihku. Bisa kau menjawab dengan kalimat yang lebih kreatif atau aku akan mulai mencurigai kau main serong dengan kekasihku?"

Zitao mendelik kearahnya. "Aku hanya tertarik pada pria Wu yang duduk di sana. Akan kulewatkan tawaranmu yang murah hati," jawab Zitao. "Bagaimana kalau kusuruh Yifan mengajak mereka ke apartemenku?"

Luhan mengangguk pelan. "Lebih baik begitu, daripada nanti Kyungsoo murung lagi." Dia lalu menuju dapur, memastikan stok bahan-bahan yang akan mereka olah.

Yifan menoleh tepat saat Zitao membuka mulut hendak memanggilnya, seolah sudah mendengarnya sebelum Zitao bersuara. Zitao tersenyum dan melambaikan tangan, menyuruhnya mendekat. Yifan meninggalkan pembicaraan yang mulai mengarah ke dunia otomotif dan mendekati kekasihnya.

Zitao mengulurkan kunci apartemen mereka pada Yifan begitu pria itu mendekat. "Pulang dan sekalian bawa mereka juga," perintahnya tegas sambil menunjuk Sehun, Jongin, dan Jongdae yang duduk di ruang tamu. "Oh, dan ajak Joonmyeon juga. Dan ingat, kau tidak boleh protes lagi tentang hubungannya dengan Yixing. Dia sudah lulus tesmu," tambahnya sambil setengah menoleh ke arah ruang makan, dimana Yixing tampak masih menanyai Joonmyeon dengan segudang pertanyaan tentang kepergiannya. Zitao tersenyum melihat mereka berdua.

"Kenapa juga aku harus membawa mereka?" tanya Yifan kesal. "Aku baru saja tiba disini dan aku datang untuk menemuimu. Kau ikut bersamaku kan?" tuntutnya.

Sebuah gelengan membuat Yifan semakin kesal. "Baekhyun akan datang bersama Kyungsoo. Kyungsoo sudah berjanji untuk mengajariku memasak. Tapi aku tidak mau suasana menjadi canggung kalau Jongin ada di sini, soalnya Jongin dan Kyungsoo belum berbaikan."

"Tapi Peach..."

"Pretty please?" Zitao mengerjapkan matanya penuh permohonan.

Yifan kehilangan dunianya selama beberapa detik. Dia berdehem, berusaha mengembalikan kesadarannya. Pikirannya menyumpah keras-keras. Dimana polisi? Pasti ada hukum yang menyatakan bertingkah menggemaskan seperti tadi adalah ilegal, iya kan? "Oke, aku akan membawa mereka pulang."

Zitao tersenyum riang. "Terima kasih." Dia berjinjit dan mengecup sudut bibir Yifan.

Rasanya tidak perlu kujelaskan disini bahwa Yifan segera mengajak Sehun, Joonmyeon, Jongin dan Jongdae ke apartemennya dengan perasaan di awang-awang bukan? Sebenarnya bukan masalah baginya untuk bolak-balik melakoni perjalanan lintas benua meskipun hanya sempat bertemu sesaat dengan kekasihnya. Kelelahan itu resiko. Tapi kebersamaan mereka adalah harga yang impas.

Dari kaca spion mobil, Jongin bisa melihat mobil Baekhyun masuk ke pelataran. Sejak festival semuanya jadi agak rumit. Kyungsoo benar-benar tidak mau hanya berdua saja dengan Jongin. Jadi setiap hari Zitao atau Joonmyeon akan menjemput Kyungsoo lalu Luhan nanti mengantarnya pulang bersama Sehun. Dia menoleh ke arah rumah saat Baekhyun dan Kyungsoo turun dari mobil dengan tawa di wajah mereka. Adukan semen terasa memberati perutnya saat mengamati wajah Kyungsoo. Dia merindukan Kyungsoo.

Kyungsoo menoleh saat merasa ada yang mengawasinya, hanya untuk melihat mobil Zitao meluncur di jalan diikuti mobil Joonmyeon dan Jongin. Keningnya berkerut saat melihat Zitao di ambang pintu.

"Siapa yang membawa mobilmu dan Joonmyeon-oppa? Bukannya dia masih di antah berantah?" tanyanya.

"Yifan dan Joonmyeon, lah," jawab Zitao sambil masuk ke rumah diikuti kedua gadis lainnya. "Kelihatannya Joonmyeon cukup meyakinkan untuk menjadi kekasih Yixing, makanya Yifan memulangkannya seminggu lebih cepat dari rencananya." Zitao bergidik. "Entah Yifan bakal menyuruh Joonmyeon apa lagi kalau sampai dia benar-benar dipulangkan minggu depan."

"Atau mungkin dia dipulangkan karena kau mengancam Yifan," timpal Baekhyun diiringi tawa Kyungsoo.

"Oh, diamlah kalian berdua. Memang kalian berdua betah menghadapi Yixing yang seperti itu? Aku sih tidak, terima kasih banyak," gerutu Zitao. "Lagipula sudah waktunya Yifan belajar merelakan Yixing."

"Yepp, mengingat dia sendiri mengencani panda yang lebih muda dari adiknya dengan usia mental separuh dari umur fisiknya dan tingkat kedewasaan yang tidak setinggi tubuhnya."

Mendadak Zitao berbalik dan melayangkan pukulan pada Baekhyun. Kyungsoo terlonjak mundur karena kaget. Perbedaan tinggi tubuh jelas bukan masalah karena Baekhyun dapat menahan pukulan Zitao dengan sigap dan seulas senyum congkak bermain di bibirnya. "Juga syaraf kontrol emosi yang tidak setebal kantung matanya. Tsk, tsk, tsk," decaknya.

Mata Zitao menyipit berbahaya dan dia mendesis pelan. "Diva."

"Panda."

Kyungsoo merasa bahwa sesuatu yang buruk bakal terjadi. Dia menggigit bibirnya gelisah. Tapi apa daya? Bisa-bisa malah dirinya yang jadi samsak tinju kedua gadis itu kalau berada di tengah perkelahian mereka. Kyungsoo tidak berbakat dalam bela diri. Karena itu, Jongin yang mati-matian berlatih taekwondo sedari kecil untuk melindungi Kyungsoo.

Mendadak sepasang tangan mencekal kerah pakaian Baekhyun dan Zitao kemudian menariknya hingga mereka terpisah dengan kekuatan yang membuat keduanya tercekik.

"Panda dan Kucing nakal," ujar pelaku pencekal kerah kedua gadis itu.

Kyungsoo menghela nafas lega. "Minseok-eonnie."

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 14 Years Old ||

"Kau telat."

"Jangan cemberut." Tangan Jongin terulur untuk mencubit ujung hidung Kyungsoo. "Kau bahkan belum mulai memanggang kuenya."

"Karena menunggumu!" Kyungsoo menghentakkan kakinya dengan kesal dan berbalik masuk ke rumah, meninggalkan Jongin di depan rumah.

"Tunggu dong," Jongin cepat-cepat menyusul Kyungsoo masuk rumah setelah memastikan pintu di belakangnya tertutup. "Kan aku berjanji untuk menemanimu memanggang kue, bukan untuk membuat kue. Lagipula tadi aku menang di game online-ku lho."

Kyungso mendadak berhenti dan berbalik menghadap Jongin. "Jadi game-mu itu lebih penting daripada aku?" tanyanya dengan bibir bergetar.

"Apa?... Bukan seperti itu Kyung," jawabnya buru-buru. "Kau lebih penting."

"Benar?"

"Iya."

"Janji?" tanya Kyungsoo sambil menyodorkan kelingkingnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Pinky promise," jawab Jongin sambil menautkan kelingkingnya.

Senyum cerah terbentuk di bibir Kyungsoo. "Oke, kita panggang kuenya," ujar Kyungsoo riang sambil meneruskan langkahnya ke dapur.

Jongin mengkuti Kyungsoo dengan kening berkerut. Ada yang aneh dengan mood Kyungsoo hari ini.

Pertanyaannya segera terlupakan begitu dia disibukkan membantu Kyungsoo untuk memanggang kue mereka. Jongin tidak pernah tahu kalau ternyata membuat krimdan filling untuk kue bisa sesulit ini. Sudah sulit, ditambah lagi perhatiannya berkali-kali teralih pada Kyungsoo yang sesekali meringis sambil memegang perutnya sekilas.

"Kyung, kau baik-baik saja?" tanyanya.

"Ya," jawabnya dengan ringisan kecil.

"Yakin?"

"Sejak pagi tadi perutku rasanya nyeri. Tapi tidak apa-apa, aku sudah minum obat kok. Mungkin tadi malam aku salah makan."

Jongin mengangguk dengan tidak yakin. Kemarin malam mereka berdua makan sup kimchi buatan mama dan dia tidak merasa ada yang salah dengan masakan itu.

"Bisa kau jaga kuenya? Aku akan ke toilet sebentar."

"Tentu," sahut Jongin yakin. Toh timer di pemanggang masih menunjukkan setengah jam lagi. Kalau kuenya matang, Kyungsoo sudah mengajari Jongin untuk mengeluarkan kuenya dari pemanggang.

Jeritan Kyungsoo membuat Jongin menjatuhkan garpu yang dia pegang dan dia segera berlari menuju kamar mandi. "Kyungsoo! Kau tidak apa-apa?" serunya panik sambil menggedor pintu toilet.

Tidak ada jawaban dari Kyungsoo. Jongin semakin brutal menggedor pintu kamar mandi. "Kyungsoo, jawab aku! Buka pintanya!"

"Aku akan buka pintunya. Tapi jangan masuk," sahut Kyungsoo. "Aku tidak apa-apa."

Jongin berhenti menggedor pintu toilet. "Ada apa? Kau kenapa?" tanyanya.

'Klek,' suara kunci pintu terbuka. Pintu kamar mandi terbuka sedikit dan kepala Kyungsoo muncul dari celah pintu. "Jongin, aku butuh bantuanmu," bisiknya.

"Katakan."

Kyungsoo berbisik pelan. Jongin mengeryit dan mendekatkan kepalanya ke arah Kyungsoo hingga dia bisa mendengarkan kalimat Kyungsoo.

"Di mana aku bisa menemukan itu?"

"Di apotek atau di mini market."

"Aku akan segera kembali, oke? Kau diam saja di sini dan jangan kemana-mana." Begitu melihat Kyungsoo mengangguk, dia segera melesat keluar rumah. Sambil berlari dia ingat apotek hanya berjarak tiga menit berjalan kaki. Satu menit kurang kalau ditempuh dengan berlari, bukan berarti Jongin menghitungnya.

Suasana apotek tampak sepi dan Jongin dengan terengah mendekati apoteker yang berjaga. "Permisi, tolong, aku butuh pem...ba...lut," kalimat Jongin melambat pada kata terakhir. Sisa kepanikannya saat mendengar Kyungso menjerit sudah hilang dan dia baru saja menyadari apa yang terjadi pada Kyungsoo.

Apoteker itu memandangnya dengan geli. Perlahan wajah Jongin memerah. "Umm,.. maksudku... untuk temanku...," tambahnya dalam gumaman.

"Tentu saja," jawab apoteker itu dengan tersenyum. Jarang-jarang ada anak laki-laki usia sekitar 14 atau 15 tahun bersedia masuk apotek untuk membeli pembalut. Dia bergerak diantara rak untuk mencari barang permintaan Jongin. "Kau kelihatan panik sekali."

"Eh,.. iya. Mmm... menstruasi pertamanya," jawab Jongin kikuk.

Dia kembali ke meja kasir dan membungkusnya dengan kantung berwarna gelap, yang sangat disyukuri Jongin. Jongin membayarnya dan hendak pergi, namun dia malah terdiam dan bergerak gelisah di tempatnya.

"Ada yang lain?" tanya apoteker dengan ramah.

"Anu,.. apa ada sesuatu untuk sakit perutnya? Engg,.. dia bilang perutnya nyeri sejak pagi." Kalau ada kepiting rebus sekarang, pasti wajah Jongin lebih merah daripada kepiting rebus.

Apoteker itu tersenyum lagi. "Itu wajar. Aku tidak berani menyarankan obat apapun tanpa tahu kesehatannya. Cokelat hangat bisa membantunya tenang jadi sakitnya tidak terlalu terasa. Kompres perutnya dengan handuk panas atau bantal pemanas juga bisa meringankan sakitnya. Punggungnya juga mungkin sakit, jadi pijatan ringan disini," apoteker itu berbalik dan menunjukkan pada Jongin bagian punggung yang harus dipijat, "bisa membuatnya lebih baik. Tapi kalau memang sakitnya sampai dia tidak bisa bergerak atau bahkan sampai pingsan, sebaiknya bawa ke rumah sakit."

Jongin berusaha mencerna informasi tersebut. "Aku mengerti." Dia membungkuk pada apoteker itu. "Terima kasih," ujarnya lalu bergegas keluar.

Sampai di rumah, dia segara memberikannya pada Kyungsoo yang menurutinya untuk tetap berada di kamar mandi. Jongin lalu ke dapur dan membuat cokelat hangat untuk Kyungsoo. Mama selalu meninggalkan pemanas air listrik dalam kondisi penuh. Kombinasi antara Jongin dan kompor bisa membuat rumah meledak, katanya dengan bercanda. Itu adalah fakta yang, khususnya demi keselamatan Kyungsoo yang selalu ada di sampingnya dan dunia pada umumnya, tidak akan Jongin bantah. Setelah itu dia mencari bantal pemanas yang beberapa hari lalu sempat dipakainya saat cedera dalam pertandingan basket.

Tidak butuh waktu lama sampai Jongin membuat Kyungsoo bergelung nyaman di sofa dengan segelas cokelat hangat di tangannya, bantal pemanas di pangkuannya, dan selimut lembut di kakinya. Menulikan protes dari Kyungsoo bahwa dia hanya menstruasi bukan sakit, tapi memangnya sejak kapan Kyungsoo bisa menang dari Jongin?

Keduanya duduk bersisian sambil menonton animasi favorit Kyungsoo. Jongin berkeras melarang Kyungsoo untuk banyak bergerak, jadi mereka membatalkan rencana untuk menghias kue mereka dengan krim dan filling dan mereka akan makan kue itu apa adanya saja kalau sudah matang nanti.

"Maaf."

"Hmm?"

"Sudah membuatmu kerepotan."

Tangan Jongin terulur untuk mengacak rambut Kyungsoo. "Kau itu tidak merepotkan. Pokoknya jangan membuatku khawatir. Hei, jarang-jarang ada cewek yang dibelikan pembalut oleh cowok untuk menstruasi pertamanya," ujarnya sambil terkekeh. Dia melingkarkan lengannya di pundak Kyungsoo, menarik Kyungsoo untuk bersandar padanya.

"Dan jarang-jarang ada cowok yang dipergoki cewek saat nonton video porno pertamanya," balas Kyungsoo dengan tawa. Dia menyamankan dirinya dalam pelukan Jongin.

"Jangan membahas itu," sahut Jongin dengan wajah memerah. Pikirannya kembali pada kejadian dua minggu lalu dimana Kyungsoo mendadak masuk ke kamarnya dan memergoki dia dan Sehun sedang menonton video porno. Setelah itu, dia bersumpah untuk tidak pernah menonton video porno lagi. "Lagipula, kau sendiri, yang lainnya sudah 'dapat' saat umur 11 atau 12. Kau malah umur 15."

"Mama selalu bilang aku late bloomer," jawab Kyungsoo acuh sambil mengangkat bahunya. "Bagiku bukan masalah."

Yeah, late bloomer. Tapi tubuh remaja Kyungsoo mengatakan dengan jelas bahwa beberapa bagian tubuh remajanya justru early bloomer.

Keduanya terdiam agak lama saat animasi yang mereka tonton mulai tayang lagi.

"Hei, Jongin."

"Apa?"

"Aku penasaran."

"Tentang apa?" Perhatian Jongin masih tertuju pada tokoh animasi di layar TV yang berusaha untuk menerbangkan pesawat.

Kyungsoo merubah posisi duduknya sehingga menghadap Jongin. "Kau pernah mimpi basah tidak?"

Jongin tersedak ludahnya sendiri. Dia menoleh ke arah Kyungsoo yang menatapnya dengan serius. Man, ada apa sih dengan menstruasi yang membuat cewek jadi aneh? Tadi mood swing, sekarang pertanyaan seperti ini. "Ka.. kau itu tanya apaan sih?"

"Jawab dong. Kau kan sudah menemaniku sekarang, masa aku tidak boleh tahu?" balas Kyungsoo dengan bibir mencebik.

"Pernah," jawab Jongin sambil memalingkan wajahnya yang memerah kembali menghadap televisi. Entah kenapa, hari ini wajahnya mudah memerah. "Sudah, jangan dibahas lagi."

Diamnya Kyungsoo dianggap Jongin sebagai tanda iya. Jongin kembali memusatkan perhatiannya pada tokoh animasi di depannya.

"Siapa yang kau impikan?"

Jongin ingin membenturkan kepalanya ke tembok keras-keras. Atau melakukan apapun yang membuat pembicaraan ini beralih tema. Kadang-kadang Kyungsoo bisa sangat menuntut jika dia menginginkan sesuatu. "Kenapa kau tanya seperti itu?"

"Aku penasaran." Mata Kyungsoo membentuk puppy eyes yang memelas. "Terus kapan kau mengalaminya?"

Jongin menelan ludahnya gugup. Ditatap Kyungsoo seperti itu, mulutnya bakal bocor dalam hitungan detik dan tentu saja tanpa kebohongan atau sensor. Padahal demi apapun, dia tidak mau menceritakan mimpinya pada kepada siapapun, terutama pada Kyungsoo.

"Jongin~~"

'Ping.'

Siapa yang menemukan perumpamaan 'Save by the bell'? Jongin sudah bersiap untuk menyembahnya penuh pemujaan karena kebenaran ungkapan itu.

"Kuenya matang." Jongin melompat dari duduknya. "Jangan kemana-mana!" perintahnya pada Kyungsoo sebelum dia ke dapur.

Sambil mengeluarkan kue dari pemanggang, dia mengucapkan syukur pada Tuhan dalam hati dan berjanji akan ke gereja lebih sering.

Dia memang pernah mimpi basah. Satu kali. Pada hari dimana Kyungsoo memergoki dia dan Sehun menonton video porno. Tapi sampai mati pun dia akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Dia kan tidak mungkin bercerita pada siapapun, terutama pada Kyungsoo, kalau objek dalam mimpi basahnya berwajah agak sedikit mirip dengan Kyungsoo.

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 21 Years Old ||

Mereka mampir ke minimarket untuk membeli minuman dan makanan ringan. Jongdae dengan semangat memborong makanan dan hampir memasukkan beberapa kaleng bir ke keranjang belanja saat Joonmyeon mengatakan bahwa mereka harus kembali ke rumah Luhan untuk makan malam dan para gadis itu tidak akan suka melihat mereka datang dengan mabuk. Dengan sedikit menggerutu Jongdae menukar kaleng birnya dengan soda.

Meskipun berbeda mobil, mereka tetap saling berkomunikasi lewat telepon. Jongdae dengan keras kepala memaksa untuk melakukan confrence call dengan alasan dia bisa mati bosan jika semobil saja dengan Yifan. Yifan serta merta mengusirnya, tapi Jongdae tetap berkeras bersama Yifan. Dia tahu paling-paling Yifan akan membuat mereka berputar-putar keliling kota lalu meninggalkan mereka untuk kembali ke pandanya di rumah Luhan. Sebuah dengusan menjadi sahutan dari Yifan, kesal rencananya terbongkar.

Bahkan dari telepon saja yang lain bisa mendengarkan bagaimana Yifan tidak menjadi sosok dingin yang tidak memiliki emosi seperti yang dulu mereka kira. Mereka belajar bahwa meskipun dari luar Yifan tampak seperti naga buas yang siap mencaplok kepala orang yang menantangnya, sebenarnya Yifan sama saja seperti mereka. Malah lebih childish daripada mereka semua terutama kalau menyangkut Zitao. Mungkin sebagai kompensasinya dituntut untuk menanggung nama pewaris Wu sejak usia belia. Seperti saat ini, ketika Jongdae merecoki Yifan tentang hubungannya dengan Zitao sepanjang perjalanan hingga mereka sampai di apartemen Zitao.

"Brengsek kau, Kim. Kau membuat Zitaoku terdengar seperti seorang gundik dan aku seperti pedofil," Yifan melemparkan kaleng kosongnya ke arah Jongdae. Jongdae menangkapnya dengan mudah.

"Faktanya seperti itu, Tuan Wu. Pengecualian untukmu, Joonmyeon yang tertua diantara kami saja paling-paling hanya berani memeluk Yixing. Eh, abaikan Sehun dan Luhan. Tapi kau yang paling tua di sini dengan Zitao yang paling muda diantara kita semua, kalian malah sudah tidur seranjang."

"Perhatikan kalimatmu, itu artinya kami sama-sama tidur di ranjang yang sama, Jongdae. Kalau kami tidak tidur, silahkan otak mesummu itu bekerja."

Semuanya tertawa keras. Bahkan Yifan juga menyunggingkan senyumnya.

"Tapi serius, Yifan-hyung. Hubungan kalian sebenarnya sejauh mana? Sebagai perbandingan saja, kalau Luhan-noona tidak terikat kontrak eksklusif dengan brand milik mama sampai 3 tahun kedepan, mungkin dia sekarang sudah hamil anak Sehun. Aww!" Jongin mengelus kepalanya yang barusan menerima pukulan Sehun.

"Mau dia hamil atau tidak, itu bukan urusanmu. Dan lagi, kenapa kau sampai tahu kapan kontraknya berakhir? Aku saja sudah setengah mati membujuk aunty Do dan tetap tidak diberitahu," gerutu Sehun. Jongin hanya menjulurkan lidahnya penuh ejekan.

"Menurut kalian?" Yifan membuka kaleng soda baru.

"Ciuman," sahut Sehun datar. Dia mengeluarkan dompetnya dan menarik beberapa lembar uang lalu melemparkannya ke atas meja. 'Panda itu tidak mungkin berani melakukan hal yang 'iya-iya'.'

"Making love." Jongdae menyeringai. Tangannya meletakkan jumlah uang tiga kali lipat dari yang diletakkan Sehun.

"Make out," jawab Jongin. Tidak mau kalah, dia ikut melemparkan uang ke meja. 'Zitao memang polos. Tapi tidak mungkin pacaran begitu lama tanpa melakukan apapun. Aku saja sudah kapok memergoki Sehun dan Luhan dalam posisi yang menjanjikan.'

"French kiss," jawab Joonmyeon yang tampak tidak yakin kenapa dia ikut-ikutan melakukan hal yang tidak jelas seperti ini, namun dia ikut meletakkan lembaran uang di atas meja.

"Maaf Sehun." Yifan menenggak sodanya. Jongdae yang mendengarnya seketika bersorak kegirangan. Tangannya bergerak hendak mengumpulkan uang di meja saat kalimat lanjutan dari Yifan terdengar.

"Kau harus membayar makan malam untuk para gadis itu nanti." Yifan lalu menyeringai angkuh. "Aku hanya pernah mencium Zitao dua kali, dirumahku dan di apartemennya pada hari kelulusannya. Dan Zitao menciumku sekali saat kami ke Jepang. Tiga, kalau menghitung yang tadi sebagai ciuman."

Sehun meraung penuh kemenangan. Dia memukul minggir tangan Jongdae yang mematung dan segera mengumpulkan uang hasil kemenangannya.

Jongin menatap Yifan dengan tidak percaya, sedangkan Joonmyeon hanya tersenyum kecil. Jongdae tampak ingin menanyakan sesuatu tapi tak menemukan suaranya.

"Aku tidak percaya!" seru Jongin.

"Semaumu," sahut Yifan tak acuh.

"Tapi kalian kan sudah pacaran sejak Zitao kelas satu di high school. Mana mungkin kau cuma menciumnya saja?" Jongin masih belum percaya

"Banyak yang terjadi, atau dalam kasusku, Luhan happened."

Sehun segera menoleh saat mendengar nama kekasihnya disebut. "Apa hubungannya dengan Luhanku?"

Yifan tersenyum kecut, agak enggan bercerita. "Luhan mengamuk saat memergoki aku mencium Zitao. Menurut kalian seberapa mengerikan amukan Luhan sehingga Yixing dan Zitao bersedia melakukan apapun asalkan Luhan tidak mengamuk?"

Belum sempat ada yang menyahuti kalimat Yifan yang misterius, mendadak pintu depan menjeblak terbuka. Setengah detik kemudian teriakan seorang perempuan terdengar membahana. "Kim Jongdae! Wu Yifan!"

"Oh, shit," umpat Jongdae dan Yifan bersamaan dalam suara pelan.

"Bagian mana," Minseok berdiri berkacak pinggang di hadapan mereka, "dari kalimatku 'Kita punya meeting penting dan jangan berani-berani kabur,' yang tidak kalian mengerti, hah?!" bentaknya.

Sehun, Jongin dan Joonmyeon hanya bisa melihatnya dengan penuh minat. Kapan lagi mereka bisa melihat Sang Pewaris Wu dan tangan kanannya yang terkenal mampu mengintimidasi dan menundukkan para pemimpin perusahaan terkenal di dunia mengkerut di depan sekertaris utama perusahaan Wu?

"Hai, Cantik," sapa Jongdae yang berada paling dekat dengan Minseok gugup, yang disahuti dengan sebuah pelototan dari Minseok. Seandainya tatapan bisa membunuh.

"Kalian berdua sama sekali tidak punya tanggung jawab. Kalian sadar itu?" desis Minseok.

"Kami hanya membantu seseorang menyelesaikan masalah," bantah Jongdae.

"Hanya demi satu orang, kalian sudah menelantarkan delapan rapat, dua belas penandatanganan kontrak, dan nasib ribuan karyawan. Jangan membantah kenyataan Yifan," sentak Minseok saat Yifan hendak bicara. "Biar kutebak." Minseok merebut kaleng soda yang digenggam Jongdae dan menghabiskannya dalam sekali tenggak. Mengabaikan Jongdae yang bertanya dalam hati apakah itu termasuk indirect kiss dan menatapnya terpana. "Orang tersebut adalah Jongin dan masalahnya adalah entah dia terlalu keras kepala atau terlalu bodoh untuk menyadari dan menerima kenyataan bahwa baginya, Kyungsoo adalah lebih dari seorang sahabat."

Skak mat.

Tidak ada yang berani mengatakan hal itu secara blak-blakan kepada Jongin –ataupun pada Kyungsoo-.

"Aku... apa?... Kyungsoo.. Kyungsoo hanya sahabatku," sangkal Jongin tergagap.

Minseok menatap Jongin dengan miris. Kata Zitao, Kyungsoo dan Jongin sudah saling mendiamkan selama hampir sebulan. Masa dalam sebulan itu keduanya masih menyangkal? Kyungsoo masih belum sadar, tapi setidaknya dia sudah memaafkan Jongin. Tapi tidak mungkin dia datang dan mengatakan bahwa dia sudah memaafkan Jongin kalau Jongin adalah orang yang membuat mereka saling mendiamkan begini.

"Kalian itu kelewatan bodohnya," seru Minseok gemas. "Mana ada orang yang mengurung sahabatnya sendiri di gudang supaya mereka menyatakan cinta? Iya, maksudnya kau, Oh Sehun," ujar Minseok tajam. Sehun bergerak tidak nyaman di tempat duduknya. "Dan kau juga Yifan." Minsek menunjuk Kris dengan kaleng sodanya yang sudah kosong. "Untuk apa kau membantu Sehun melakukan ide sintingnya itu? Sudah lupa bagaimana kau dulu setengah mati menyangkal mencintai Zitao until i came and slap that fact right into your bitch face."

Minseok duduk di kursi terdekat dan menghela nafas panjang. Emosi yang meledak-ledak tidak bagus untuknya. Bisa-bisa dia mati muda kalau selalu marah tiap kali Yifan atau Jongdae membuat ulah. "Aku dari rumah Luhan. Dia tanya pada Sehun, perlukah membuat Jongin gegar otak supaya bisa memasukkan sedikit saja akal sehat dalam otak bebalnya itu? Dan kau sudah gila kalau sampai menuruti permintaannya. Lalu Yixing titip pesan, jaga sikapmu Joonmyeon. Dia mengingatkanmu kalau kalian belum sempat kencan dengan pantas dan dia tidak mau kalau Yifan sampai membawamu untuk 'berbicara' lagi."

Respon yang didapat beragam. 'Dasar pecinta,' pikir Minseok, menoleh ke arah Sehun yang tampaknya benar-benar mempertimbangkan untuk membuat Jongin gegar otak. Jongin sendiri tidak memberikan respon apapun saat namanya disebut. Sedangkan Joonmyeon memasang wajah datar. Kalau saja Minseok tidak mengenalnya sejak lama, mungkin dia tidak akan menyadari sedikit kegugupan yang telihat dari cara Joonmyeon melirik ke arah Yifan.

"Pandaku bilang apa?"

Pertanyaan Yifan diacuhkan oleh Minseok. "Dasar laki-laki bodoh. Apa saja yang kalian lakukan sampai mereka belum juga berbaikan setelah sebulan?"

Dunia boleh mengenal Wu Yifan dan Kim Jongdae sebagai ujung tombak Wu Corporation, tapi dunia tidak pernah tahu bahwa sosok sekertaris mungil inilah yang mampu mengikatkan tali kekang di leher keduanya. Yang jika tidak ada dia, mungkin perusahaan akan hancur karena dua orang ini sama-sama untuk kompak mengabaikan semua pekerjaan mereka. Yang satunya sibuk menjadi playboy dan kencan sana-sini sedangkan satunya lagi sibuk mengejar sesosok panda manis.

"Jongin!" panggil Minseok.

Jongin segera menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. "Ya, noona?"

Minseok menghela nafas dalam-dalam. Kalau benar menghela nafas menghilangkan satu kebahagiaan, mungkin memang jatah kebahagiaan Minseok luar biasa banyak. Bertetangga dengan kakak beradik Kim, sampai dikira sebagai anggota keluarga itu karena nama keluarga yang sama, lalu menjadi 'pengasuh' pewaris Wu benar-benar membuat Minseok harus mengelus dada untuk tingkah mereka. "Lima belas pernyataan untukmu."

Sebenarnya penolakan sudah hampir terlontar dari ujung lidah Jongin. Ini permainan yang mereka lakukan sejak kecil dan dia sama sekali tidak berminat melakukan permainan anak-anak semacam ini. Tapi ekspresi Minseok menunjukkan bahwa dia tidak menerima penolakan, jadi dia mengangguk dengan pasrah.

"Janji pada Kyungsoo harus diutamakan."

"Pasti." Jongin tidak mau membuat Kyungsoo kecewa.

"Kyungsoo menangis karenamu dan itu tidak apa-apa."

"Tentu saja kenapa-kenapa!" Ingatan tentang mata Kyungsoo yang basah masih menghantuinya dan membuatnya merasa sangat bersalah.

"Kau lebih memilih menunggui Kyungsoo berlatih seharian penuh daripada kencan dengan teman perempuanmu."

"Ya." Baginya, suara Kyungsoo adalah yang paling indah. Mendengarkannya sepanjang hari rasanya sama seperti mendengarkan suara malaikat yang melantunkan pujian pada Tuhan. Tentu saja Jongin lebih memilih itu daripada menghadapi keribetan kencan dengan orang lain.

"Kyungsoo adalah orang pertama yang kau pikirkan setiap kali kau merasa bahagia atau merasa takut."

"Mmm, bisa dikatakan begitu." Kyungsoo tahu semua hal yang membuatnya bahagia atau takut, dan dia tahu cara untuk menangani Jongin saat berada dalam dua emosi itu.

"Kau akan meninggalkan teman kencanmu jika Kyungsoo mendadak meneleponmu dan memintamu datang."

"Ya." Masa Minseok masih perlu menanyakannya lagi?

"Satu-satunya orang yang tidak akan kau buat menangis adalah Kyungsoo."

"Pasti. Meskipun kemarin itu aku membuatnya menangis tapi aku tidak tahu..." tambahnya dalam gumaman.

"Kau membuat Kyungsoo menangis?!" Jongin hanya nyengir kecil penuh rasa bersalah. Minseok menggelengkan kepalanya pelan, mendadak merasa pusing. Dia hanya bisa berdoa semoga dengan segala kesulitan yang dihadapinya sekarang, di kehidupan yang mendatang dia diberkahi dengan kehidupan yang tenang dan damai, atau minimal dia akan dilahirkan sebagai orang suci. "Tidak masalah bagimu untuk bermanja pada gadis selain Kyungsoo."

"Jelas masalah." Ditaruh mana harga dirinya nanti? Seumur hidupnya, Kyungsoo adalah satu-satunya tempatnya bermanja selain pada keluarga. Kepada Minseok juga sebenarnya. Tapi tetangganya itu lebih banyak judesnya daripada kalemnya.

"Kau mau menjadi teman kencan Kyungsoo jika ada kesempatan."

Jongin terdiam agak lama. "Mungkin." Sepertinya bakal seru kalau mengajak Kyungsoo kencan. Tapi bukannya jalan-jalan setiap akhir pekan, nonton film, dan makan malam diluar sudah dihitung kencan ya?

"Kau akan menerima bekal pemberian dari gadis lain meskipun Kyungsoo sudah membuatkanmu bekal."

"Tidak akan." Mana mau dia menerima bekal buatan orang lain yang tidak jelas rasa masakannya kalau sudah mendapatkan bekal dari Kyungsoo.

"Tidak apa-apa kalau Kyungsoo mengacuhkanmu karena kau sudah punya teman kencan yang memperhatikanmu."

"Tidak mau. Pokoknya Kyungsoo harus tetap memperhatikanku."

"Spoiled brat," desis Minseok. "Kau akan membiarkan Kyungsoo pergi kencan." Fakta yang menyedihkan memang, dalam usianya yang ke duapuluh satu, Kyungsoo hanya pernah berkencan dengan tiga laki-laki. Itu kalau nonton dan makan malam dengan Jongin, pulang dari rumah Luhan diantar Sehun, dan belanja dengan Joonmyeon bisa dihitung kencan. Kalau tidak, artinya Kyungsoo tidak pernah berkencan.

"Tidak boleh. Siapa yang tahu kalau nanti Kyungsoo diapa-apakan? Lebih baik bersamaku saja."

Jongdae, Sehun, Yifan, dan Joonmyeon saling melirik satu sama lain. 'Dasar idiot/ protektif/ posesif / paranoid,' pikir mereka kompak.

"Tanpa sadar kau membeli semua barang yang kau pikir akan sangat cantik jika dipakai Kyungsoo. Tapi barang-barang tersebut akan sangat jelek jika dipakai oleh orang lain." Minseok tahu bahwa di kamar Jongin ada kotak berisi barang-barang yang dibeli Jongin untuk Kyungsoo, tapi tidak pernah bisa –berani– diberikan. Too much information, thank you Jongdae.

"Ya," jawab Jongin setengah melamun. Tiang gantungan seperti para gadis di kelas tari atau kelas model mana cocok mengenakan summer dress warna hijau yang dibelinya saat menemani Sehun menjadi model sebuah toko dua bulan yang lalu. Tapi kalau Kyungsoo yang memakainya, beda lagi ceritanya. Apalagi kalau ditambah flat shoes dengan warna senada yang dibelinya minggu lalu. Jongin sama sekali tidak sadar bagaimana Minseok bisa tahu tentang kebiasaannya.

"Kebahagiaan Kyungsoo adalah prioritas utama bagimu."

"Prioritas utama." Masih dengan nada melamun yang sama. Dan ngomong-ngomong, Jongin baru sadar kalau dia banyak sekali membeli pakaian dan aksesoris yang membuat Kyungsoo tampak seperti seorang peri. Pixie-nya itu memang cantik, dan lebih cantik lagi saat menggunakan warna hijau. Kuning muda juga tidak terlalu buruk. Seperti gaun yang dikenakannya saat perta beberapa tahun lalu.

"Kau akan menjadi best man di pernikahan Kyungsoo."

Jongin berjengit seolah Minseok baru saja menikamnya dengan sebilah pedang. Menjadi best man untuk pernikahan Kyungsoo? Tidak ada yang pernah menyebut tentang pernikahan, pikiran tentang itu bahkan tidak pernah sekalipun terbersit di benaknya. Perasaan dingin yang mengerikan merambat di seluruh tubuh Jongin. Otaknya memberikan gambaran Kyungsoo dalam balutan gaun putih yang cantik berjalan dengan senyum bahagia menuju seorang laki-laki yang menunggunya di altar. Jongin merasakan ada seekor ular besar yang menggeliat dan menggeram buas di dalam perutnya.

Tanpa menunggu jawaban dari Jongin, Minseok mengucapkan pernyataannya yang kelima belas. "Kau mencintai Kyungsoo." Itu bukan pernyataan. Itu adalah kenyataan.

Jongin tampak seperti seekor ikan tersesat yang terlempar di daratan. Kalau ikan bisa memasang tampang kehilangan arah sambil membuka dan menutup mulutnya tanpa suara.

"Kadang cinta tidak hadir dalam wujud kembang api, Jongin. Meledak-ledak, menarik perhatian, dan hilang saat disadari. Kadang dia muncul seperti sebuah tali. Lembut dan liat, tapi terpilin erat bahkan sebelum disadari. Kemudian saat kau menyadarinya, tali itu sudah mengikatmu dan mengamankan hatimu," jelas Minseok lembut.

"Aku harus apa?"

"Terserah padamu." Nada lembut Minseok menghilang, kalimatnya ketus. "Mau diungkapkan sekarang atau didiamkan sampai mati juga bukan urusanku. Tugasku hanya menjejalkan kenyataan yang begitu jelas itu masuk ke dalam kepalamu. Pokoknya aku tidak mau sampai mendengar kalian berdua bertengkar lagi atau kau yang membuat Kyungsoo menangis. Apalagi sampai membuatku datang kesini dan menyeret pulang dua pria luar biasa egois yang menggunakan masalahmu sebagai alasan untuk kabur. Aku akan menggorok lehermu kalau sampai hal seperti ini terjadi lagi."

Kalau saja Minseok masih menggunakan nada manisnya tadi, mungkin Jongin sudah menghambur memeluknya erat, mencium pipi penuh Minseok bertubi-tubi, dan bersujud penuh terimakasih di kaki Minseok. Tapi dengan ancamannya yang barusan, tidak jadi, terima kasih banyak. Dia masih sayang nyawanya dan, sekarang setelah menyadarinya, masih cinta pada Kyungsoo. Dia asal meraih salah satu kunci mobil yang tergeletak di meja dan bergegas keluar, kalau dari suara teriakannya sepertinya ini kunci mobil Joonmyeon. Tanpa pikir panjang dia segera memacu mobil itu pergi. Ada satu tujuan di kepalanya.

Minseok menatap kepergian Jongin dengan senyum puas, sebelum perhatiannya kembali pada para pria di hadapannya. "Oh Sehun. Aku tahu kau yang mengatur penerbangan Yifan kemari tanpa sepengetahuanku bulan lalu. Juga penerbangan Joonmyeon ke tempat Chanyeol. Kau tidak tahu bagaimana Yixing menerorku gara-gara itu. Jadi aku mau kau mengatur dua penerbangan ke Vancouver untuk Jongdae dan ke Cina untuk Yifan. Sekarang, atau aku bersumpah kau tidak akan mendapatkan tandatangan Yifan untuk kerjasama itu," ancamnya. Dia kembali menjadi Minseok yang sangat galak tapi penuh perhatian. Sehun segera meraih ponselnya dan menuruti perintah Minseok dengan patuh.

"Kim Joonmyeon, lebih baik kau segera mempersiapkan sebuah kencan untuk Yixing. Aku malu sekali punya teman yang sama sekali tidak ada romantisnya mulai dari pernyataan cinta sampai sebulan setelahnya. Dan kau tidak akan mengganggu kencan mereka, Yifan," ujarnya tajam. "Yixing pantas mendapatkan sebuah kencan yang romantis. Kau dan Jongdae punya tanggung jawab yang harus dipenuhi."

"Lalu kenapa cuma dua penerbangan? Bagaimana denganmu?" tuntut Jongdae.

Minseok menyeringai. Dia terlihat sangat imut, cantik, dan mengerikan dalam waktu yang sama, dan juga membuat Jongdae dan Yifan penasaran sekaligus tidak ingin tahu. "Aku mengambil cuti tahunanku minggu ini. Oh, jangan khawatir, Gina dan Amber sudah kutempatkan untuk menggantikan posisiku. Aku juga sudah menyuruh tukang survei kita untuk kembali ke kantor dan menulis laporan mereka selama empat bulan ini. Kalian harus mengevaluasi semuanya secara pribadi lalu menulis review dan tindakan lanjutan untuk setiap laporan yang ada. Aku akan tetap memantau kalian meskipun aku disini. Setelah ini kalian akan berharap tidak pernah melanggar perintahku."

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, soon-to-be 15 & 15 Years Old ||

Bola matanya bergerak dibalik kelopak mata yang masih tertutup. Alisnya berkerut saat dia direnggutkan dari dunia mimpi. Dia menggeliat tidak nyaman. Ada suara ketukan dari jendela kamarnya yang membuat Kyungsoo terbangun dari tidur. Dia mengerjap, mengusir kantuk yang masih membujuknya kembali tidur. Suara ketukan itu kembali terdengar, malah semakin persisten.

Dia bangkit dari ranjangnya dan mendekati jendela. Ditariknya tirai hingga terbuka, menunjukkan seraut wajah tersenyum yang menempel di kaca. Kyungsoo menjerit tertahan karena kaget.

"Apa yang kau lakukan?" bisik Kyungsoo. Buru-buru disentaknya daun jendela hingga terbuka dan ditariknya Jongin masuk kamar. Dia melihat keluar, memastikan tidak ada yang orang yang melihat lalu menutup jendelanya lagi.

"Kau sudah gila! Ngapain kau gelantungan di situ seperti monyet?! Kalau mau mati jangan di bawah jendela kamarku dong," cecar Kyungsoo sebelum mengikuti Jongin duduk di kasur. "Aku tidak mau kau hantui seumur hidupku." Kamarnya terletak di lantai dua dan tanpa balkon. Juga tidak ada tumbuhan rambat ataupun bata menonjol yang bisa dijadikan pijakan. Bagaimana caranya Jongin bisa memanjat sampai di kamarnya merupakan misteri bagi Kyungsoo.

Jongin menendang sepatunya hingga terlepas dan menunjukkan cengirannya, membuat kemarahan Kyungsoo menguap entah kemana. "Kenapa tengah malam kesini?" Kyungsoo mengerling pada jam dindingnya yang menunjukkan beberapa menit sebelum pergantian hari.

"Kami baru saja datang. Aku kangen padamu, jadi aku kesini. Memangnya kau tidak kangen padaku?" Jongin memasang tampang anak anjing yang memelas.

Kyungsoo menghela nafas dalam. "Kau kan bisa masuk lewat pintu depan."

"Nanti mama bangun. Kalau mama bangun pasti disuruh kembali besok pagi."

"Oke, kau sudah disini." Kyungsoo mengucek matanya yang masih diberati kantuk. "Sekarang apa?"

"Kado untukmu," jawab Jongin sambil merongoh kantongnya, mengeluarkan seuntai kalung berbandul matahari yang...

"Cantik," bisik Kyungsoo terpana.

"Aku tahu kau pasti menyukainya," Jongin tersenyum lebar.

Perhatian Kyungsoo tertuju pada lipatan kertas kecil yang terjatuh saat Jongin mengeluarkan kalung dari kantongnya. "Apa ini?" tangannya terulur meraih kertas itu.

"Eh, jangan," cegah Jongin. Namun Kyungsoo sudah membukanya dan membaca isinya.

Mata Kyungsoo membelalak terkejut. "Mahal sekali!"

Jongin segera merebut nota pembelian kalung dari Kyungsoo. "Aku bisa jelaskan."

"Lebih baik begitu," gumam Kyungsoo marah. Kyungsoo dan Jongin sudah berjanji sejak ulang tahun mereka yang ke duabelas bahwa mereka akan saling memberikan kado dengan uang yang mereka dapatkan sendiri tanpa bantuan orang tua. Jongin biasanya mendapatkan uang dari turnamen dance dan games. Sedangkan Kyungsoo dari upah menjaga binatang peliharaan tetangga atau saat menjadi 'asisten' papa untuk membereskan dokumen-dokumen di lemari arsip yang selalu berantakan. Hadiah yang mereka berikan kadang tidak seberapa, tapi mereka sangat menghargainya karena itu hasil jerih payah mereka.

"Bisa kau ucapkan selamat dulu?"

"Selamat," ujar Kyungsoo datar.

"Bisa lebih bersemangat? Cowok ganteng didepanmu ini adalah juara 1 Turnamen Dance Korea-Cina untuk kategori Junior High School Boys."

"Narsis," cela Kyungsoo. Tapi senyumnya terkembang dan dipeluknya Jongin hingga keduanya terjungkal kebelakang.

"Whoaaa! Oke, oke, terima kasih." Jongin mengelus punggung Kyungsoo yang menindihnya. "Tapi bisa kita bangun dulu? Kau itu ringan, tapi aku sulit bernafas."

"Ups," Kyungsoo segera bangkit. "Maaf," tawanya pelan.

Jongin bangkit dan ikut tertawa. Dia sih senang-senang saja kalau Kyungsoo memeluknya. Cuma sekarang keduanya berada di atas ranjang, pada tengah malam, Kyungsoo hanya memakai piyama, dan Jongin adalah remaja pria normal dengan, ehem, hormon yang bergejolak.

"Kenapa kau tidak memberitahuku?"

"Kejutan."

"Jadi ini..." pandangan Kyungsoo beralih pada kalung yang jatuh karena ulahnya mendadak memeluk Jongin.

"Yepp, ini hadiah untukmu. Sekaligus permintaan maaf karena tidak bisa merayakan ulang tahunmu."

"Tapi kan mahal sekali. Kado dariku tidak seberapa."

"Kalau begitu ini merangkap hadiah white day, halloween, paskah, dan natal untuk tahun ini."

"Setuju," jawab Kyungsoo.

"Kemari, biar kupasangkan." Jongin menyibak rambut Kyungsoo dan memasang kalung itu ke leher Kyungsoo. "Nah, sekarang ucapkan selamat." Tangan Jongin tetap bertumpu pada pundak Kyungsoo setelah memasang pengait kalungnya. Membuat mereka setengah berpelukan.

"Lagi?" tanyanya bingung.

"Untuk ulang tahunku."

"Eh?" pekiknya terkejut. Dia menoleh kebelakang. Jarum panjang menunjuk melewati angka 12, menandakan hari sudah berganti. Dia kembali berbalik ke arah Jongin. "Selamat ulang tahun," ujarnya tulus. Diraihnya wajah Jongin dengan lembut. "Semoga Tuhan memberkatimu dengan kebahagian di tiap langkahmu dan menjauhkan kesedihan serta kesulitan darimu."

Jongin tersenyum. "Terima kasih." Dia bergerak agak mundur dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa sedikit malu dengan ucapan Kyungsoo.

"Sekarang kado... oh, tidak," Kyungsoo menepuk dahinya. "Masih dikirim, baru tiba besok. Habis, Ibu bilang kau pulang besok. Tidak apa-apa kan?" tanya Kyungsoo penuh sesal.

"Tidak apa-apa," jawab Jongin. "Tapi sekarang aku mau minta sesuatu."

Alis Kyungsoo bertaut keheranan. "Apa?"

"Tutup matamu," perintah Jongin.

"Tutup mata?"

"Sudah, lakukan saja," paksa Jongin.

Dengan ragu dia mengikuti perintah Jongin. Perlahan dipejamkan matanya.

"Jangan bergerak."

Kyungsoo berusaha mempertahankan posisinya. Dalam hati dia mulai bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Jongin. Terdengar suara derit kasur saat Jongin -sepertinya- bergerak mendekat.

Dan terasa sebuah sapuan lembut di bibirnya.

Kyungsoo sontak membuka mata dan mendapati wajah Jongin berada sangat dekat dari wajahnya. Reflek tangannya melayang menampar pipi Jongin hingga remaja itu kehilangan tumpuannya di kasur dan terjatuh ke lantai dengan suara keras

Jongin mengaduh sambil memegangi pipinya yang memerah dan mengelus pinggangnya yang membentur lantai. Tidak terlalu sakit, cuma kaget saja. Sedangkan Kyungsoo melompat-lompat di atas kasur sambil mengibaskan tangannya yang digunakan untuk menampar Jongin. Tangannya terasa panas dan sakit. Seumur-umur baru sekali ini dia benar-benar memukul seseorang.

"Apa-apaan sih, Kyung? Sakit tahu," protesnya.

"Kau itu yang apa-apaan! Kenapa kau menciumku?!" sembur Kyungsoo kesal.

"Itu kan cuma kecupan ringan! Aku dari dulu juga sering menciummu."

"Itu waktu kita masih bayi, dan kita sekarang bukan bayi lagi, Jongin! Itu ciuman pertamaku."

"Itu juga ciuman pertamaku. Aish," geram Jongin kesal sambil mengacak rambutnya.

Kyungsoo turun dari tempat tidurnya dan membuka jendela. "Pulang sana!"

"Tidak mau. Aku mau tidur disini."

Dibantingnya daun jendela hingga tertutup dengan suara keras. "Baik. Terserah," ujar Kyungsoo. Dia berbaring memunggungi Jongin dan menarik selimut menutupi tubuhnya hingga hanya terlihat pucuk kepalanya saja.

"Kyungsoo."

Diam.

"Kyung."

Tidak ada jawaban.

"Kyung-kyung."

Masih tidak ada jawaban.

"Noona."

"Kita seumur," sahut Kyungsoo galak tanpa merubah posisinya.

Jongin naik ke kasur dan duduk dibelakang Kyungsoo. "Kau marah?"

Tidak ada jawaban lagi.

"Jangan marah," pinta Jongin. "Aku tidak mau kau marah di hari ulangtahunku."

"Jongin."

"Ya?"

"Kalau kau ingin menginap, sekarang tutup mulutmu dan tidur."

Jongin nyengir. Kalau Kyungsoo menyuruhnya tidur berarti gadis itu sudah tidak marah. Dia melepas jaketnya dan berbaring tidur di belakang Kyungsoo.

Kyungsoo berbalik menghadapnya. "Kita tidak akan pernah membicarakan yang barusan."

"Tidak akan?" kening Jongin mengerut keheranan.

"Tidak akan," jawab Kyungsoo tegas.

"Ooh, oke." Kyungsoo tampak senang dengan jawabannya dan Jongin tersenyum melihatnya.

Tangan Kyungsoo terulur mengelus pelan pipi Jongin yang memerah akibat tamparannya. Dia hanya tersenyum penuh permohonan maaf dengan raut wajah yang mengantuk. Sangat imut, menurut Jongin.

Ingatkan Jongin untuk memukul Sehun kalau bertemu dengannya karena sudah memberinya ide untuk minta ciuman dari Kyungsoo sebagai hadiah ulang tahun. Si Cadel itu pasti dendam karena kalah dalam babak eliminasi turnamen kemarin sampai menghasutnya untuk melakukan hal ini. Tapi sebenarnya, Jongin penasaran kenapa ada perasaan kecewa yang muncul saat mendengar Kyungsoo tidak ingin membicarakan ciuman pertama mereka. Biasanya para gadis selalu excited tentang hal-hal seperti ini dan menjadikannya sebagai pembicaraan yang tidak ada habisnya. Bahkan sering menjadikannya sebagai bahan taruhan mereka. Tapi kenapa Kyungsoo tidak tertarik sama sekali? Padahal kan setidaknya Jongin bisa menyombongkan diri sudah mencium gadis paling cantik di sekolah mereka.

Tapi penasaran itu hilang saat wajah damai Kyungsoo yang terlelap mengantarnya menjemput mimpi. Dan hal ini menjadi rahasia kecil yang manis diantara mereka berdua.

oOo

|| Jongin & Kyungsoo, 21 Years Old ||

Jongin mengetuk –menendang– pintu depan rumah Luhan pelan dengan ujung kakinya. Apa yang membuat para gadis ini begitu lama membukakan pintu?

Zitao membuka pintu. Gadis itu mengernyit kebingungan saat melihat Jongin membawa sebuah kardus besar di tangannya. "Urm, Jongin, kami tidak menyewakan kamar dan juga tidak sedang menunggu kiriman apapun."

"Bisa kau minggir dan biarkan aku masuk dulu?" gerutu Jongin. "Kardus ini berat sekali dan aku tidak mau membuatnya jatuh menimpa kakimu lalu membuat naga peliharaanmu mengamuk."

Zitao tampak agak ragu. Kyungsoo ada di dalam dan kalau dia membiarkan Jongin masuk, dia khawatir Kyungsoo akan muram lagi. "Oke, masuklah." Dia menggeser tubuhnya, mempersilahkan Jongin masuk ke ruang tamu.

Tapi Jongin terus melangkah menuju dapur dengan Zitao yang berjalan di belakangnya. Dia tahu saat para gadis ini berkumpul, maka mereka akan berkumpul di dapur. Kyungsoo dan Baekhyun akan membuat masakan-masakan yang membuat liur meleleh, kemudian Zitao dan Yixing akan ribut bertanya dan belajar tentang apapun yang sedang dibuat Kyungsoo dan Baekhyun lalu melahap apapun yang tersaji di meja. Sedangkan calon Nyonya Oh yang memiliki diet ketat, lagipula Sehun juga dengan tegas mengatakan bahwa Luhan tidak boleh memasak, hanya menonton dan main icip sana sini.

Empat gadis itu menoleh begitu Jongin memasuki ruang makan yang terhubung dengan dapur. Kyungsoo segera kembali fokus pada kue yang dibuatnya begitu tahu bahwa yang baru saja masuk ke dapur adalah Jongin. Kedatangannya seperti dementor yang menghisap seluruh kecerian. Dia meletakkan kardus yang dibawanya dan menoleh ke arah para gadis yang terdiam. Dia tersenyum kaku pada mereka.

"Hey, Kyung," kalimat Jongin penuh dengan kegugupan yang begitu kentara. "Aku ingin bicara denganmu."

Kyungsoo tidak berdiri dari tempat duduknya, dia bahkan tidak menoleh dari kesibukannya menghias cupcake. "Bicara," sahutnya.

Jongin beradu pandang dengan Luhan. Luhan mengangguk paham dan melepaskan apronnya. Dengan sedikit gelengan kepala, dia mengajak Baekhyun, Yixing dan Zitao meninggalkan Jongin dan Kyungsoo berdua saja.

Setelah memastikan yang lainnya sudah pergi, Jongin menyeret kardus yang dibawanya ke dekat Kyungsoo dan duduk di sebelahnya. Tangannya sibuk membongkar kardus hingga dia menemukan apa yang dicarinya. "Kyung, lihat aku," pinta Jongin.

Kyungsoo dengan enggan mengalihkan perhatiannya dari cupcake mungilnya ke arah Jongin. Seolah jika dia menoleh ke arah Jongin, maka cupcakenya yang cantik akan tersinggung karena diabaikan lalu ngambek dan berubah menjadi jelek. Sebenarnya dia masih malas bertemu Jongin. Bukan karena dia belum memaafkan Jongin, dia tidak terbiasa untuk marah pada Jongin. Tapi masih sakit rasanya kalau mengingat orang yang paling dekat denganmu dan selalu menerimamu apa adanya memintamu berubah menjadi seperti yang dia inginkan.

Alisnya terangkat saat melihat sebuah boneka terulur kepadanya. "Apa?"

"Hari pertama ibu mengizinkanku membawa mobil ke sekolah. Kita berhenti di sebuah kafe yang bersebelahan dengan toko boneka saat pulang sekolah. Waktu itu kau bilang kau ingin membeli sebuah boneka kukang, tapi mereka kehabisan stok dan satu boneka kukang di etalase hanya sebagai display. Kau diam sepanjang perjalanan pulang kita."

Kyungsoo mengerjap. "Ya, lalu malamnya Hyeri-eonnie datang dan membelikan aku satu."

"Aku langsung meminta supir ibu untuk mengantarku berkeliling kota untuk mendapatkan boneka yang sama. Tapi waktu aku mau memberikannya padamu, Hyeri-noona mendadak datang dan memberikan kejutannya." Dia meletakkan boneka itu di pangkuan Kyungsoo.

Jongin meraih sebuah kotak lain dan menunjukkan gantungan kunci bebentuk boneka beruang mungil. "Ini saat kita pertama datang ke taman bermain. Aku menghilang karena ingin memenangkan boneka ini untukmu, karena kau bilang kau menginginkannya. Tapi karena, yaaah, ada kejadian seperti itu, jadi aku batal memberikannya padamu. Aku takut kau akan marah padaku dan menolaknya."

"Mungkin kau harusnya berfikir tentang keselamatanmu dan kecemasan ibu kalau ada apa-apa yang terjadi sebelum kau memutuskan untuk menghilang untuk melakukan sesuatu."

"Sekarang aku sudah tidak kan?" Tangan Jongin meraih sebuah kotak karton. "Ini tiket semua film yang sudah kita tonton." Dia membukanya dan tampak dua lembar tiket utuh di atas potongan tiket lama. "Dan ini tiket premier film baru yang seharusnya kita tonton bulan lalu tapi batal karena kita naga jelek piaraan Zitao membuat kita terkunci di gudang." Kali ini diletakkannya di samping cupcake mungil Kyungsoo.

"Yifan ganteng kok," bela Kyungsoo.

"Kelakuannya yang tidak ganteng," gerutu Jongin. Kali ini sebuah kotak lumayan besar berada ditangan Jongin. Isinya adalah sepasang sepatu bertumit rendah yang cantik dan sebuah, apakah itu binyeo? "Orang Ekuador memberi hadiah sepatu ber-hak pada anak perempuan yang berulang tahun kelimabelas, dan orang Korea merayakannya dengan menyanggul rambutnya dan memasangkan binyeo. Tapi setelah kupikir-pikir, aku batal memberikannya dan akhirnya memberimu itu. Sekalian untuk merayakan kemenanganku." Dia mengisyaratkan kalung yang dipakai Kyungsoo. "Aku rasa, aku juga tidak mungkin bisa memanjat sampai ke kamarmu dengan membawa kotak seperti itu."

Sebuah kantong dengan logo brand ternama ditarik Jongin. "Aku membeli ini dua bulan lalu. Kau bilang untuk akhirnya mama mengizinkanmu mengundang yang lainnya ke rumah musim panas keluargamu. Jadi waktu melihatnya aku langsung berpikir kau pasti cocok mengenakannya. Tunggu sebentar," Jongin kembali membungkuk untuk membongkar isi kardusnya. "Nah, ini dia. Aku membelinya minggu lalu karena kupikir sepatu ini akan cocok dengan baju itu."

Jongin berlutut dan meraih kaki Kyungsoo. Dia memasangkan sepatu itu di kaki telanjang Kyungsoo dan tersenyum senang saat melihat ternyata sepatu itu terpasang dengan manis di kaki Kyungsoo. "Pas kan?"

"Jongin," panggil Kyungsoo sambil menelan gumpalan di lehernya. Membuat Jongin yang masih berlutut mendongak menatapnya dan berhenti mengaduk kadus besarnya. "Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?" Dia tidak suka Jongin yang bersikap manis seperti ini. Jongin yang dia kenal adalah Jongin yang selalu ceria, easy going, dan tidak pernah menyulitkan dirinya untuk melakukan sesuatu.

"Jangan mengabaikanku. Kau tahu benar aku tidak suka kau mengabaikanku tapi kau tetap melakukannya." Dia menyandarkan kepalanya di lutut Kyungsoo. "Aku tidak suka itu. Rasanya kau seperti merampok seluruh duniaku dan membuatku menjadi orang asing tiap kali kau tidak menoleh ke arahku," gerutunya.

"Jangan sok puitis dan manja," bisiknya pelan. "Kau tahu kau hanya perlu minta maaf padaku." Dia menggoyangkan kakinya pelan, meminta Jongin segera bangun, tapi tidak juga diturutinya. Jongin membuat Kyungsoo sangat bingung. Ini Jongin yang dia kenal, yang manja dan menuntut perhatiannya, tapi disaat bersamaan juga sangat asing baginya.

"Aku tidak suka berangkat ke kampus sendirian, rasanya aneh menyetir mobil pagi-pagi tanpamu. Aku tidak suka makan siang di kantin, tidak seenak bekal buatanmu. Aku tidak suka tidak ada kau yang meneleponku untuk menyuruhku beristirahat, aku selalu lupa waktu kalau sudah berlatih. Aku tidak suka ada bagian otakku selalu memikirkan tentangmu yang mengabaikan aku. Aku tidak suka Luhan, Baekhyun, dan Zitao, bahkan Yixing juga ikut-ikutan, yang selalu menjauhkanmu dariku seolah-olah aku ini penyakit menular berbahaya yang bisa menginfeksimu. Dan aku tidak suka menjadi bodoh." Jongin mendongak menatap mata bulat Kyungsoo.

"Aku tidak suka bahwa kau tidak pernah menjadi sahabat bagiku. Aku benci tidak menyadari kenyataan lebih awal bahwa kau adalah cinta pertamaku, dan selalu menjadi cintaku. Aku mencintaimu, Kyungsoo."

Kyungsoo tertegun.

Tangan Jongin meraih kardusnya lagi. Kali ini mengeluarkan sebuah bungkusan dengan logo yang lumayan terkenal. Dia ingat Sehun beberapa kali memberi Luhan bungkusan dengan logo yang serupa. Tapi ada yang samar-samar menggelitik ingatan Kyungsoo. Perasaan bahwa dia pernah melihat logo ini jauh sebelum Luhan tinggal di Korea.

"Dan ini, adalah lingerie yang pertama kau tunjukkan padaku."

Tawa miris Kyungsoo keluar seperti suara tercekik. "Kau bilang kau mencintaiku," bisiknya. "Tapi kau mencium Krystal 2 minggu yang lalu."

"Hah?"

"Di taman gedung Teater."

"Aku tidak melakukannya."

"Iya, kau melakukannya."

"Aku tidak menciumnya! Kami latihan untuk pementasan. Kalau kau tidak menolak peran yang ditawarkan Luna, mungkin yang akan aku cium adalah dirimu. Cuma latihan berdekatan saja kami berdua rasanya seperti mau mencakar wajah masing-masing. Krystal juga tidak mau ada adegan ciuman di pementasan nanti. Tunangannya akan datang menonton dan dia tidak mau menghianatinya. Aku juga tidak mau menghianatimu."

"Kenapa aku dibawa-bawa?"

"Kan satu-satunya orang yang pernah ku cium hanya dirimu!"

"Memangnya itu salahku sehingga kau tidak pernah mencium orang lain?!"

"Tidak, tapi rasanya tidak akan benar kalau aku bersama dengan orang lain. Aku selalu bersamamu, jadi aku tidak tahu bagaimana jika bersama orang lain dan aku bahkan tidak ingin tahu bagaimana rasanya kalau aku punya hubungan seperti ini dengan orang lain. Aku keras kepala dan aku hanya ingin punya hubungan seperti ini denganmu dan bukan dengan orang lain." Jongin terdiam sebentar, memikirkan sesuatu. "Lagipula, kenapa kita bertengkar masalah ciuman? Itu kan sudah lama sekali. Kalau kau mau kucium, bilang saja. Aku tidak akan menolak kok. Sini, kucium." Jongin menegakkan tubuhnya dan meraih dagu Kyungsoo, mendaratkan sebuah kecupan selembut sapuan kelopak mawar.

"Idiot," umpat Kyungsoo pasrah setelah Jongin melepaskan tautan bibir mereka.

"Memang," jawab Jongin serius.

"Lihat, kau bahkan tidak meminta maaf padaku." Air mata sudah membasahi pipi Kyungsoo, tapi matanya berkilau cantik dengan sesuatu yang membuat Jongin merasa hangat.

Tangan Jongin bergerak mengusap pipi Kyungsoo. "Aku tahu. Tapi kau tidak butuh permintaan maafku untuk memaafkanku."

"My idiot."

"Only yours."

oOo

#Epilog.

"Bagaimana mereka berdua?" bisik Joonmyeon pada empat gadis yang bergerombol dekat pintu pembatas ruang tengah dan ruang makan.

"Sepertinya sudah berbaikan, barusan Jongin bahkan mencium Kyungsoo. Di bibirnya," pekik salah satu gadis itu tertahan.

"Jangan berisik, Panda, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Memangnya 'asupan harian' dari Sehun dan Luhan belum membutmu terbiasa?"

"Jangan disangkut pautkan dengan kami. Dari tadi juga memang tidak kedengaran apa yang mereka bicarakan, Baek. Lagipula..."

"Bagus kalau bereka berdua bersama sekarang. Proving HunHan as professional matchmaker." Sehun melingkarkan lengannya di pinggang Luhan dan mengecup keningnya, efektif membuat Luhan menghentikan gerutuannya pada Baekhyun.

"Ngomong-ngomong, mana Yifan dan Jongdae?" tanya Yixing saat tidak melihat dua orang itu ikut datang.

"Kukirim ke Vancouver dan Cina untuk bertemu tumpukan laporan dari para tukang survei. Biar mereka menghadapi hasil amukanku. Enak saja kabur dari tugas dengan seenaknya. Selain itu, kenapa kita harus mengintip begini sih?"

Ponsel Baekhyun di atas meja menjerit menandakan panggilan masuk membuat mereka tersentak kaget. Joonmyeon yang berada paling dekat dengan meja meraihnya dan melemparkannya ke arah Baekhyun yang masih tercengang namun menangkapnya dengan sigap. "Bubar, bubar," desisnya. Dia menarik Yixing untuk duduk di kursi terdekat.

Baekhyun berdiri menatap caller-id di ponselnya dalam diam. Zitao segera berlari untuk duduk di sofa dan Minseok menyusul dibelakangnya sambil meraih majalah dari kolong meja. Sehun tidak ambil pusing. Dia langsung duduk di karpet dan menarik Luhan yang masih kebingungan untuk duduk di pangkuannya.

Jongin membuka pintu dan mengerutkan keningnya saat melihat apa yang teman-temannya lakukan di ruang tengah. Baekhyun yang berdiri kaku dengan ponsel ditangannya yang masih meraung minta perhatian. Zitao sedang memainkan ponselnya dengan tekun dan Minseok membaca majalah fashion milik Luhan. Joonmyeon dan Yixing, untungnya Yifan tidak ada disini, duduk bersisian dengan mesra. Lalu Sehun dan Luhan...

"Woy, get a room!" sentak Jongin pada Sehun dan Luhan yang membuat keduanya menghentikan kegiatan mereka. "PDA, please! Ada anak panda dan unicorn di sini. Kalau mau lanjut, di kamar saja sana." Sehun hanya menanggapinya dengan dengusan. "Telepon dari siapa itu, Baek-noona? Kenapa diam saja? Bagaimana kalau itu tentang pelatihanmu di New York?"

Baekhyun mengerjap dan menoleh ke arah Jongin dengan senyum terkembang. "Maaf, bukan. Ini dari tunanganku," jawabnya pelan sebelum berlari keluar ruangan dengan ponsel yang menempel di telinga dan senyum tetap terukir di wajahnya. Yixing menatap Baekhyun bingung sebelum sebuah deheman mengalihkan perhatiannya.

"Ehem," Joonmyeon berdehem. Dia melingkarkan lengannya di pundak Yixing. Sedikit ambil kesempatan. Mumpung gadis itu sedang dalam mode lemot dan kakak naganya sedang tidak disini. "Kalian sudah berbaikan?" tanya Joonmyeon.

"Harus! Aku tidak mau kalian terus bertengkar dan membuat Yifan mencari-cari alasan untuk kembali ke Korea. Itu bahkan bukan urusan dia," sahut Zitao. "Kau dengar itu?" tambahnya pada seseorang di telepon. "Kau tidak bisa dengan seenaknya meminta Sehun mengatur penerbangan untukmu, dan selesaikan kontrak dengan maskapai Sehun secepatnya. Sudah, kabari aku nanti kalau sudah sampai."

"Hey, itu kan gunanya kau punya teman pemilik maskapai penerbangan? Kau bisa mendapatkan tiket kapanpun kau mau," sahut Sehun yang membuat Luhan menyikutnya keras-keras. "Sorry, Love," ujarnya pada Luhan.

"Sudah baikan?" tanya Luhan.

Jongin menunjukkan cengirannya. "Kami pacaran sekarang," proklamirnya dengan bangga.

oOo

#Teaser.

"Aku merindukanmu. Akhir-akhir ini kita tidak banyak bicara."

Dia tersenyum, meski tahu lawan bicaranya tidak bisa melihatnya. Jika orang lain yang menghubunginya jam dua pagi, mungkin dia sudah menghajar habis orang yang berani mengganggu tidurnya. Dia tidak berlatih martial arts dengan percuma. Tapi dia selalu bisa membuat pengecualian untuk pria ini. Apalagi mereka jarang sekali berada di timezone yang sama. Jadi panggilan pada jam-jam yang aneh sudah biasa baginya. "Aku tahu, aku juga merindukanmu."

"Maaf, soal yang tadi."

"Tidak apa-apa. Aku sudah tidak mempermasalahkannya. Omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku minggu kemarin. Kenapa dikirim ke Afrika? Jawab atau aku akan mogok bicara denganmu," ancam gadis itu. "Lagi," tambahnya.

"Hmm. Petualangan alam liar?" Nada menggoda terdengar jelas dalam suaranya.

"Kau pikir bagaimana aku saat mendengarnya? Kenapa juga ke Afrika? Kau tidak disini dan menjadi korban Yixing. Seminggu penuh dia mengerutu, kemudian mendadak melamun, lalu mengomel panjang lebar tentang kecemasannya pada Joonmyeon dan menyebut-nyebut kawanan antelop marah."

"Yang penting Joonmyeon sudah pulang dengan selamat. Lagipula tadi aku sudah minta maaf kan?"

" Dan sepertinya tadi siang yang lainnya membicarakanmu. Kurasa."

"Aku? Tentang apa?"

"Tentang kau dan tanggung jawab," dia terkekeh kecil.

"Mungkin yang benar adalah tentang bagaimana aku ini seorang tunangan brengsek yang selalu kabur dari tanggung jawab?"

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Kau membuatnya terdengar seperti menghamiliku lalu pergi kabur!" protesnya.

"Ide bagus. Kegiatannya akan memberiku alasan untuk bisa bersamamu lebih lama. Mau dicoba?"

"Mau kukebiri?" ancamnya manis.

"Tidak, sayangku. Kalau begitu, tunggu sampai kita menikah."

"Oke, tapi aku akan memastikan bahwa kau tidak akan kabur setelah aku hamil."

Suara tawa terdengar keras. "Aku akan menjadi kaki dan tanganmu," janjinya. "Tanggal berapa sekarang? Sudah waktunya kah?"

"Masih minggu depan," jawabnya. Tanpa sadar jemarinya mencengkeram ponselnya lebih erat penuh antisipasi.

"Minggu depan? Lama sekali," gerutunya. "Hei, kau tahu kalau pantai-pantai di Rio itu ternyata cantik sekali. Kau mau melihatnya denganku?"

"Rio? Rio as in Rio De Janeiro?" dia bertanya, bingung dan terkejut. Kemudian dia mendengar kekehan samar dari ujung sana. "Tapi aku pikir tadi Minseok eonnie bilang kau dan Jongdae oppa sedang berhadapan dengan tumpukan laporan hasil amukan Minseok eonnie," katanya penuh tuduhan.

"Aku tidak kabur," elaknya. "Apa gunanya punya Jongdae kalau tidak bisa menghadapi amukan Minseok?"

Dia menggelengkan kepalanya dan bisa merasakan lengkungan terbentuk sudut bibirnya. Tunangannya dan kakak Jongin itu dasarnya memang sama-sama cerdas, dan bakal kelewat cerdas kalau bekerja sama. "Baik, lalu apa yang sedang kau lakukan di sana?"

"Bekerja," sahutnya. "Ada rencana untuk membangun resor dan hotel di sini. Meskipun saingannya banyak, potensinya terlalu besar kalau dilewatkan. Tempat ini cantik dan sayang sekali kalau aku disini hanya untuk bekerja. Kalau kau mau datang besok dan menemaniku di sini, aku berjanji padamu akan mengatur ulang prioritasku dan menempatkanmu di urutan teratas."

Sialan pria ini. Bahkan tanpa perlu kata-kata yang manis dia selalu bisa merayunya. Dia tahu meskipun nanti saat disana mungkin dia tidak bisa menempati urutan pertama prioritasnya, tapi bisa bersamanya saja sudah cukup. "Aku akan lihat apakah aku bisa datang kesana. Tapi aku tidak janji," ingatnya.

Dalam diam pun dia bisa merasakan lawan bicaranya tersenyum. "I'll be waiting here. I love you."

"I love you," jawabnya lalu memutuskan panggilan.

Dia menghela nafas panjang. Dia melirik jam di nakas tempat tidurnya yang menunjukan digit 02.18 AM dan memutuskan bahwa sekarang mungkin masih termasuk jam yang cukup beradab untuk menelepon seseorang. Segera ditelusuri kontak ponselnya dan mencari nama seseorang yang dia tahu pasti bisa membantunya.

Nada sambung terdengar dari ponselnya. Dia menunggu lawan bicaranya mengangkat ponselnya sambil memandang cincin yang membuat jari manisnya tak kesepian. Senyumnya mengembang saat mengingat inkripsi yang ada di sisi dalam cincinnya, yang kata kekasihnya ditambahkan pada saat-saat terakhir.

Always

"Tidak bisakah kau menelepon pada jam yang sedikit lebih manusiawi? Sekedar informasi, ini jam dua pagi kalau kau tidak tahu," gerutu suara di seberang sana yang membuatnya meringis penuh maaf.

"Maafkan aku, tapi ini hal yang mendesak." Dia tahu nada manis jenis apapun tidak akan diterima oleh lawan bicaranya dia karena sudah mengganggu tidurnya. Pengecualian jika yang mengucapkan adalah kekasihnya yang cantik itu.

"Baik, katakan. Untung Luhan menyayangimu..." sisa kalimatnya hanya berupa gerutuan yang mau tidak mau membuatnya menjadi merasa semakin bersalah.

"Sehun, kalau sekarang aku membutuhkan penerbangan ke Rio De Janeiro, seberapa cepat kau bisa mendapatkannya untukku?"


Done. #keploktangan Ini chapter paling panjang yang pernah nna publish, fiyuuhh

Ada yang bisa nebak siapa kopel yang bakal nna siksa di chap selanjutnya? #ngakakiblis

Karena nna masih puyeng kopel selanjutnya mau diapain (padahal tinggal nulis aja malesnya amit-amit #plakk) dan janji nna di chapter sebelumnya juga molor sampe tahunan, jadi nna engga janji bisa apdet secepatnya. Tapi nna bisa janjiin kalau ini cerita engga bakal sampe hiatus atau discontinue.

See you later! (and hopefully, soon)

Review are appreciated :) but please, be kind

#HappyKaiSooDay