Semua gelap. Tidak ada secuil pun cahaya yang tertangkap oleh lensa mata mereka. Bahkan, kedua belas orang yang sekarang tengah melingkar itu tidak menyadari kehadiran masing-masing dari tiap mereka. Semuanya kebingungan dengan apa yang ditangkap oleh retina mereka. Bahkan suara pun sudah tak sanggup keluar. Hanya gelap dan sunyi. Hingga sebuah cahaya kehijauan muncul di tengah-tengah mereka. Secara perlahan cahaya tersebut berubah menjadi sebatang pohon. Dan kesamaran itu semakin jelas hingga mereka bisa menangkap dengan sangat jelas bahwa yang tengah mereka lingkari adalah sebatang pohon oak yang sudah tidak asing bagi semuanya.
—Tree of Life
—di pusat kota.
Bersamaan dengan mereka menyadari ada sebatang pohon yang mereka lingkari, mereka mulai menyadari kehadiran dari tiap dua belas orang itu. Hanya saja setiap dari mereka seolah mendapat kabut pada matanya. Setiap dari mereka tidak bisa melihat dengan jelas siapa saja yang berada di sana, bahkan dengan orang yang berdiri tepat di samping mereka. Suara pertanyaan hendak keluar ketika tiba-tiba dari setiap telapak tangan kanan mereka mengeluarkan cahaya berwarna hijau. Secara serempak mereka melihat ke arah telapak tangan mereka. Menengadahkannya, membuat cahaya kehijauan itu dengan bebas melesat ke atas. Kembali, mereka menengadah. Mencari tahu kemana cahaya itu berakhir. Namun kemudian cahaya itu meredup. Ketika mereka kembali melihat ke arah tangan mereka, cahaya kehijauan tersebut secara perlahan meredup dan berubah menjadi sebuah bandul. Entah, mereka tidak menyadari bandul apa itu, yang mereka tahu bandul tersebut berbentuk seperti simbol —dan setiap dari dua belas orang itu mendapat bandul dengan simbol yang berbeda. Mereka tidak punya waktu untuk mengutarakan kebingungan mereka, karena kegelapan kembali menelan semuanya. Tidak ada cahaya, hanya tinggal gelap dan hening.
.
.
.
Dalam sekejap Minseok langsung membuka matanya. Dapat dilihatnya cahaya menelusup dibalik tirai jendela kamarnya. Minseok mengerjapkan matanya berkali-kali, menguceknya lalu langsung terduduk. Ia meregangkan tubuhnya hingga dapat terdengar bunyi samar dari suara tulangnya. Sesaat setelah itu Minseok merenggut. Ia terdiam beberapa saat, baru menyadari ada yang aneh dengan tangan kanannya. Sedari tadi ia merasa tangan kanannya itu memegang sesuatu. Dengan perlahan ia membuka kepalan telapak tangan kanannya dan seketika matanya membulat —ia menemukan bandul yang sama seperti dalam mimpinya dan dengan simbol yang sama pula.
Apa maksudnya ini?
.
.
.
Angin pagi itu masih terasa dingin menelusup lembut ke kulit Luhan. Namun seperti tidak terasa, pemuda itu masih asyik menatap pohon Oak dihadapannya. Tangannya bergerak menyentuh papan nama pohon yang dikenal sebagai Tree of Life itu. Ia menerawang ke langit tepat di atasnya. Semua terasa membebaninya, mimpinya, pohon itu, cahaya itu, dan bandul itu. Semua terasa sangat nyata.
"Luhan-ah, sedang apa kau di sini?" Sebuah suara berhasil ditangkap gendang telinga Luhan. Membuat pemuda berdarah Cina itu menghentikan segala pemikirannya dan melihat ke arah yang memanggilnya.
"Minseok-ah, aku merindukanmu." Jawab Luhan pada orang yang dipanggilnya dengan memamerkan senyum manisnya. Minseok —pemuda yang diberi senyum itu hanya mampu mengangkat sudut bibirnya canggung. Tersenyum namun dengan ekspresi bingung.
.
.
.
Minseok berjalan ke arah meja yang terletak di dekat pintu. Di tangannya sudah terdapat nampan yang menampung dua cangkir kopi. Kepulan asap dengan bau khas mulai berpendar ke seluruh ruangan, memberikan aroma khas yang menggugah selera bagi siapa pun pecinta kopi. Termasuk Luhan yang sedari tadi pandangannya tertuju pada pohon Oak di sebrang jendela akhirnya menarik perhatiannya pada kopi yang di bawakan oleh teman lamanya —Minseok. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk melepas rindu di dalam cafe milik Minseok —Xoxo Cafe.
"Xie xie." Luhan tersenyum hangat sambil menerima cangkir kopinya ketika Minseok sudah sampai di hadapannya. "Seperti biasa, kopimulah yang terenak, Minseok-ah."
Minseok menyunggingkan senyumnya. "Itu karena kau tidak pernah minum kopi selain kopi buatanku." Ujarnya. Ia mengambil duduk tepat di hadapan Luhan. Menyimpan nampan kopi di tengah meja mereka dan mengambil cangkir kopi miliknya.
Luhan menggeleng dua kali. "Itu karena hanya kopimu lah yang pantas dirasakan oleh lidahku. Aku tidak akan membiarkan lidahku merasakan kopi selain kopi buatanmu."
Minseok terenyum sambil membuang muka dengan wajah merah. "Aku tak percaya." Tapi sedetik kemudian ia kembali melihat kearah Luhan, mendekatkan wajahnya. "Benarkah?"
Mendengar pertanyaan sahabatnya itu, Luhan hanya mampu tersenyum geli. "Tentu saja tidak." Jawabnya disertai dengan tawa renyah.
"Aish, kau mempermainkanku lagi." Ucap Minseok dengan wajah kesal namun sesaat kemudian ia ikut tertawa bersama dengan Luhan.
Hangat. Suasana bagi keduanya terasa hangat. Ditambah dengan secangkir kopi yang mulai dihisap oleh Luhan membagikan rasa hangat bagi tubuhnya di pagi hari itu. Minseok yang melihat itu pun tergerak untuk meminum kopinya. Namun ketika ia memasukan mulut cangkir di belahan bibirnya, bukan rasa hangat yang ia rasakan melainkan dingin yang begitu membekukan. Segera dijauhkannya cangkir tersebut. Dipandangnya isi dalam cangkir kopinya dengan takjub. Tidak ada kopi hangat seperti yang tadi ia buat. Kepulan asap yang keluar dari cangkir bukanlah karena fraksi hangat, melainkan karena kopi tersebut telah menjadi es —membeku.
"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Luhan khawatir melihat ekpresi aneh dari sahabat koreanya itu.
Minseok yang menyadari hal tersebut segera memamerkan senyum cerianya. Setidaknya ia tidak ingin Luhan mengetahui segala yang mengganjal dalam benaknya akhir-akhir ini. "Tentu, hanya merasa aneh tiba-tiba melihatmu datang." Ucap Minseok mencoba mengalihkan perhatian Luhan dan itu berhasil, karena pemuda berparas manis di depannya langsung terdiam.
Luhan menyimpan cangkir kopinya dan menarik pandangannya kembali ke sebrang jendela —di mana pohon oak itu terlihat. "Sebenarnya ada yang mengganggu pikiranku selama seminggu ini." Pandangan Luhan menerawang menatap Tree of Life. Ia menyipitkan matanya yang dilanjutkan dengan membuang nafas lelah. Ia seperti menyerah dan menggerakkan tangannya merogoh saku jas berwarna krem yang saat itu tengah ia kenakan.
Bersamaan dengan tangan Luhan yang telah sampai di permukaan meja, sebuah bandul berwarna silver tampak dari tangannya. Luhan meletakkan bandul dengan bentuk unik tersebut di atas meja, membiarkan Minseok melihat bandul tersebut dengan tatapan bingung.
"Kau pasti menganggapku gila, tapi aku mendapatkan bandul ini lewat mimpi yang kualami seminggu yang lalu." Ucap Luhan dengan suara berat. Ia menatap bandulnya sesaat yang kemudian kembali melihat ke arah Tree of Life. "—dan pohon itu muncul sebagai pusat dari mimpiku. Aku tidak mengerti apa maksud dari mimpiku itu, dan itu sungguh menggangguku. Apalagi selama seminggu ini aku selalu memimpikan hal yang sama, tentang bandul, orang lain yang mendapatkan bandul, dan pohon itu." Luhan kembali menarik perhatiannya pada secangkir kopi di atas meja. Mengambilnya dan menghirup aromanya yang khas. Membuat pikirannya serasa tenang sejenak. "Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, makanya aku datang kemari untuk melihat pohon yang kuyakin adalah pohon yang muncul dalam mimpiku, dan untuk meluapkan semuanya...padamu. Karena hanyalah kau yang bisa kupercaya, Minseok-ah." Luhan kemudian menatap Minseok untuk sekedar memamerkan senyumnya namun ia sendiri sedikit terkejut ketika Minseok malah menunjukan sebuah bandul dengan warna silver yang sama dengan bentuk unik pula, namun berbeda bentuk dengan Luhan.
"Aku mengalami hal yang sama denganmu, Luhan-ah." Minseok terdiam beberapa saat hingga akhirnya ia menunjukkan cangkir kopi miliknya yang sudah tak berisi kopi hangat lagi —melainkan sebongkah es kopi. "Dan hal ini jadi semakin sering terjadi padaku." Lanjutnya dengan tatapan penuh kebingungan kepada Luhan.
Minseok dan Luhan pertama bertemu ketika Luhan mengikuti pertukaran pelajar di Korea. Lewat hobi mereka yang sama, lambat laun mereka menjadi akrab dan akhirnya menjadi sahabat hingga sekarang. Seperti halnya Jongdae yang sering merasakan keanehan ketika didekat Minseok, begitupun dengan Luhan. Kedua orang ini merasa mereka sering merasakan musim dingin yang salah alamat —hadir tidak pada musimnya ketika mereka bersama dengan Minseok.
"Selama seminggu ini entah kenapa aku jadi berpikir, apakah ini jawaban dari keanehan yang sering terjadi padaku?" Tanya Minseok sambil menimbang-nimbang bandul miliknya yang sekarang berada di telapak tangan kanannya.
Luhan mencoba mencerna semuanya. Bukan merasa lebih ringan, ia jadi lebih merasa terbebani dengan segala pemikiran yang memenuhi otaknya. Untuk sesaat mereka berdua hanya terdiam. Menatap bandul masing-masing dan mencoba mencari benang merah dari kejadian yang selama ini mereka alami dengan bandul yang mereka dapatkan. Sayangnya kebisuan tersebut langsung terpecah ketika suara lonceng pintu kafe yang terbuka berbunyi. Seorang pemuda dengan perawakan mungil dan mata bulat memasuki kafe pada pagi itu yang jelas-jelas masih dalam mode closed. Secara serentak, Luhan dan Minseok langsung memasukkan bandul mereka ke dalam saku masing-masing.
"Permisi, tapi kafe belum buka." Ucap Minseok ramah sambil menghampiri pemuda yang datang tadi.
"Ah maaf, apa saya bisa bertemu dengan pemilik atau direktur atau mungkin manajer kafe ini?" Tanya pemuda tersebut.
Minseok hanya menatap pemuda itu bingung. "Kebetulan pemilik sekaligus direktur dan manajer kafe itu adalah saya. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Luhan yang sedari tadi diam akhirnya beranjak. Ia menepuk bahu Minseok pelan, membuat perhatian kedua pemuda yang berada diambang pintu itu tertuju padanya. "Kalau begitu aku pamit dulu, aku harus mengajar." Ucap Luhan sambil menunjukkan jam tanganya yang ternyata sudah memutar angka 7.
"Ah, baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan."
Luhan tersenyum sejenak. "Kita lanjutkan ini nanti." Ia melihat pemuda yang berdiri di depan Minseok. Membungkuk pada pemuda itu sekilas lalu pamit pergi.
Pemuda mungil yang datang ke kafe itu hanya membalas bungkukan Luhan hingga pemuda cantik tersebut keluar kafe. Sesaat setelah itu, ia kembali melihat ke arah Minseok dan kembali membungkuk.
"Saya Do Kyungsoo, biarkan saya menjadi koki di kafe anda." Ujarnya tiba-tiba dengan posisi masih membungkuk.
Minseok hanya menatap pemuda yang mengaku bernama Kyungsoo itu dengan takjub. Ia masih berusaha mencerna perkataannya yang terasa tiba-tiba.
"Saya merasa koki anda tidak pandai memasak dan masakannya tidak enak. Maka dari itu saya menawarkan diri untuk menjadi koki di sini. Jadi mohon terima saya."
"Ya?!" Itu bukan teriakan Minseok, justru sebaliknya Minseok kenal dengan suara yang keluar menyerupai dengan teriakan namun terdengar merdu tersebut. Itu adalah suara Jongdae yang kini tengah berdiri dibelakangnya lengkap dengan baju koki yang dipakainya. "Apa maksudmu dengan tidak enak?!" Teriaknya lagi.
Minseok yang melihat itu hanya mampu tersenyum canggung sementara Kyungsoo hanya menatap Jongdae dengan tatapan bingung andalannya.
.
.
.
Kedua bandul dengan lambang berbeda itu tak pernah luput dari pandangan Yifan. Yang satu berbentuk seperti jam pasir dan satunya lagi seperti seekor naga. Yang satu adalah kepunyaan adiknya, Zitao dan yang satunya lagi adalah kepunyaannya. Mereka berdua mendapatkan hal tersebut di hari yang sama dengan cara yang sama —melalui mimpi dengan pohon oak sebagai pusat. Dan karena hal ini pulalah, akhirnya Yifan memutuskan untuk pindah dari asrama ke sebuah flat kecil yang tidak jauh dari tempat asramanya dulu dengan membawa Zitao bersamanya.
Suara pintu kamar Yifan yang terbuka mulai terdengar, bersamaan dengan itu sebuah kepala dengan paras yang sangat dihapal oleh Yifan nampak menyembul di baliknya.
"Gege, kau tidak berangkat mengajar?" Tanya Zitao yang kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Yifan. "Kau masih memikirkan hal itu?" Tanya Zitao yang kini ikut memandangi bandul di atas meja belajar kakaknya.
"Pastikan ini menjadi rahasia kita berdua, Tao." Ucap Yifan dengan helaan nafas terbuang. Ia beranjak dari duduknya dan mengambil jas berwarna krem yang tergantung dibalik pintu. Menepuknya sekilas kemudian memakainya.
Zitao menatap kakaknya dengan wajah yang sulit diartikan. "Apa kau belum menemukan petunjuk, ge?"
Yifan yang mendengar itu hanya menggeleng. "Semoga kita akan mendapatkan petunjuk dengan segera." Ia menampilkan senyumnya sekilas hanya untuk menenangkan adiknya yang sekarang menatapnya dengan pandangan khawatir.
"Apa kau yakin tidak kita tanyakan saja pada guru? Mungkin dia tahu sesuatu tentang legenda itu dan arti dari semua ini." Ujar Zitao yang membuat Yifan terdiam sejenak.
"Itu terlalu beresiko, Tao. Jika memang ini adalah bagian dari legenda itu, maka terlalu berbahaya jika kita memberi tahu orang lain sebelum kita menemukan semua orang yang terikat dengan legenda."
"Tapi dengan begini pun kita tidak menemukan apapun, ge. Kita..." Perkataan Zitao terputus ketika Yifan menepuk kepalanya pelan.
"Untuk saat ini kita tidak bisa mempercayai siapapun, Tao. Sahabat pun bisa menjadi musuh, kau ingat? Jika memang ini benar-benar sesuai dengan legenda itu, maka ini tidak main-main... Kita harus menemukan yang lain sebelum orang luar yang menemukannya."
"Tapi bagaimana caranya? Ini sudah seminggu." Ucap Zitao gusar.
Yifan tampak menghela nafas lelah. "Entahlah, tapi yang pasti jangan membuat kepindahan kita dari asrama menjadi sia-sia dengan kau memberi tahu ini pada orang lain." Ucap Yifan. Namun Zitao masih tampak sedikit bimbang. "Kau percaya padaku, kan Tao?"
Zitao menatap Yifan. Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya sebuah anggukan tergerak dari kepala Zitao. Yifan yang melihat itu hanya tersenyum sambil mengacak pelan kepala Zitao. "Xie xie." Yifan beranjak mengambil sepatu pentopelnya. "Hari ini kau tidak mengajar wushu?" Tanya Yifan di sela-sela kegiatannya memakai sepatu.
Zitao menggeleng pelan. Ketika menyadari kakaknya tidak sedang melihatnya akhirnya dia memutuskan untuk buka suara. "Tidak, hari ini aku harus bertemu guru Li untuk memperkuat kemampuan pedang ku."
Mendengar itu Yifan segera melihat Zitao. Seperti sudah paham, Zitao langsung buka mulut. "Aku tidak akan memberi tahunya, aku janji." Ucapnya sesegera mungkin sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk simbol peace
Yifan yang melihat itu langsung tersenyum. "Simpanlah bandul itu di tempat yang aman. Aku pergi."
Bersamaan dengan hilangnya Yifan dibalik pintu, Zitao menghembuskan nafas lega. Perhatiannya kini kembali pada dua bandul yang tergeletak diatas meja belajar Yifan. "Ini sungguh membuatku gila." Gumamnya. Namun sejurus kemudian pandangannya meredup. "Ini terlalu membuatku bersemangat hingga rasanya lupa untuk bernafas."
.
.
.
Berlembar-lembar kertas lusuh dengan berbagai gambar menjadi perhatian serius dari Junmyun. Pemuda itu kembali membuka lembar-lembar tidak teratur itu dengan pandangan yang meneliti. Sebenarnya tidak berlembar-lembar juga, hanya dua lembar. Itu pun ia mendapatkannya secara tidak sengaja di balik papan nama Tree of Life tiga hari yang lalu, ketika ia mengunjungi pohon oak di pusat kota. Atau mungkin memang sudah jalannya ia menemukan kertas tersebut. Ia pun tidak tahu. Tapi yang pasti, mimpinya seminggu yang lalu benar-benar mengganggu hari-harinya kini. Serasa tidak ada ruang untuk berpikir pada hal yang lain. Hati dan pikirannya serasa ditarik terus menerus untuk memikirkan hal ini. Pandangannya lagi-lagi beralih pada dua bandul di sampingnya. Satu itu miliknya, bentuknya seperti partikel air. Sementara yang satunya adalah milik adik angkatnya, Kyungsoo. Bandul milik Kyungsoo terlihat seperti kepala seekor binatang atau sejenisnya. Dan yang paling menarik, kedua bandul tersebut didapatkan oleh Junmyun dan adiknya di hari dan dengan cara yang sama, seminggu yang lalu melalui mimpi dengan pohon oak sebagai pusat —yang Junmyun yakini merupakan pohon oak di pusat kota.
Masih jelas diingatan Junmyun seminggu yang lalu ketika adiknya tiba-tiba berlari ke kamarnya dengan meneriakkan nama Junmyun. Sedetik setelah ia sampai di kamar Junmyun, pemuda dengan nama Kyungsoo itu semakin membulatkan matanya kaget ketika melihat bandul di tangan Junmyun. Ia tanpa ragu langsung menunjukkan bandul yang ia dapat secara tiba-tiba ketika bangun tidur, dan cerita mereka pun mengalir begitu saja.
Junmyun menghela nafas. Ia seperti begitu lelah memikirkan ini semua. Bahkan ia harus cuti tidak masuk kerja hanya karena memikirkan hal ini. Perhatiannya kini kembali fokus pada dua lembar kertas lusuh berwarna kecoklatan ditangannya. Dilihat berapa kalipun Junmyun tampak tak bisa memahami makna dari lembar kertas tersebut. Lembar yang pertama ia pegang mempunyai gambar seperti partikel air, simbol yang mirip sekali dengan bandul yang ia dapatkan sementara lembar yang ke dua mempunyai gambar yang mirip dengan seekor naga, meski sebenarnya ia kurang yakin —dan gambar yang kedua itu bukan merupakan gambar simbol bandul yang didapatkan oleh adiknya. Berarti ada kemungkinan bukan hanya mereka berdua yang mendapatkan mimpi tersebut, kan? Hal yang menarik lainnya Junmyun dapatkan di kertas itu adalah sebuah tulisan yang tertera di pojok kanan atas lembaran itu. Untuk yang pertama tertulis Suho dan yang kedua tertulis Kris. Pada lembar kertas dengan tulisan bernama Suho, Junmyun melihat tulisan lain selain gambar pertikel air. Tapi sayangnya, ia sama sekali tidak mengerti dengan arti tulisan itu. Sementara pada lembar yang bertuliskan Kris, Suho sama sekali tidak bisa menemukan tulisan apapun selain kris dan gambar dengan lambang seekor naga. Entahlah, ia kembali tidak yakin dengan semuanya. Ia kembali berkutat dengan komputernya untuk mencari informasi lebih hingga sebuah suara telepon menghentikannya. Junmyun memeriksa smartphone nya dan ia mendapatkan nama Kyungsoo sebaga ID Caller. Dengan segera Junmyun mengangkat teleponnya.
"Yob..."
"Hyung, aku di Xoxo Cafe, cepat kemari. Aku dapat masalah."
Hanya itu dan Kyungsoo langsung memutuskan teleponnya. Junmyun yang mendapatkan telepon singkat dari Kyungsoo hanya mampu mendengus kesal. Meski ia sudah terbiasa dengan kebiasan adiknya itu namun rasa kesalnya tak pernah bisa ia hindari. Junmyun segera beranjak dari tempatnya duduk menuju kamar mandi. Setidaknya sebelum berangkat ia harus membersihkan wajahnya terlebih dahulu agar terlihat lebih segar. Namun bukannya rasa segar yang ia dapat malah makian yang keluar dari mulutnya. Pasalnya, sebelum ia sempat memutar kran air cuci, aliran air tiba-tiba memuncrat dari lubang saluran bersamaan dengan keluarnya air dari kran air cuci yang entah kenapa melawan gravitasinya untuk mengalir ke bawah, melainkan memuncrat ke wajah Junmyun dengan sukses. Sang pemuda yang jadi sasaran air tersebut langsung terjengkang karena kaget dan berakhir terduduk di lantai dengan lemas.
"Ya! Kenapa aku jadi semakin tidak bersahabat dengan air!" Teriaknya frustasi.
.
.
.
Mata sayu pemuda bernama Yixing itu menatap ragu pintu ruang dokter di depannya. Antara jadi mengetuk atau tidak. Hari ini adalah hari yang dijadwalkan untuk pemeriksaan kondisinya kembali setelah seminggu keluar dari rumah sakit. Tapi entah kenapa langkahnya malah membawanya ke ruang dokter yang bukan dokternya. Ia ingat ruangan siapa ini —ruangan dokter yang menangani anak kecil yang tertimpa pot seminggu yang lalu.
Langkah Yixing hampir saja berbalik ketika pintu ruang dokter itu tiba-tiba terbuka. Melihat itu dengan segera Yixing membungkuk hormat —budaya yang ia pelajari selama di Korea. Melalui sapaan dan basa-basi sekenanya, akhirnya mereka memutuskan untuk berbicara di kantin rumah sakit.
"Yixing-sii pasien rumah sakit ini juga kan?" Tanya dokter dengan nama tag Kim Jaesuk itu.
Yixing hanya mengangguk mengiyakan dengan senyum khas yang memperlihatkan lesung pipi di pipi kanannya.
Dokter Kim mengangguk mengerti. "Kemarin Dokter Lee tampak hawatir sekali mendengar kecelakaan pot jatuh itu. Beliau sangat khawatir jika kau juga kena."
Kembali Yixing tersenyum. "Terkadang Dokter Lee berlebihan tapi saya bersyukur punya dokter seperti beliau." Ingatannya sempat melayang pada Dokter Lee yang sudah menjadi dokternya selama tinggal di Korea. Dokter dengan usia setengah abad yang begitu perhatiannya dan sudah seperti seorang ayah kedua baginya.
Dokter Kim mengangguk setuju. "Aku setuju. Beliau memperlakukan pasiennya seperti keluarganya sendiri. Saya sungguh kagum pada beliau." Dokter Kim tiba-tiba terdiam. "Tapi apa yang ingin Yixing-ssi bicarakan denganku?"
"Ini mengenai anak yang kecelakaan kemarin, Dokter. Sebenarnya dari kemarin saya ingin menjenguknya, tapi kakak saya mengurung saya di rumah jadi sulit untuk ke rumah sakit. Dia... dia baik-baik saja kan? Saya berusaha mencarinya, tapi kata suster tidak ada pasien rumah sakit ini yang kecelakaan tertimpa pot."
Dokter Kim tampak terdiam. Ia merenung sesaat lalu kemudian menatap Yixing serius. "Apa kau yakin, dia yang benar-benar terluka?"
"Maksud, Dokter?"
Dokter Kim membuang nafasnya pelan. "Tapi sungguh ketika kami menanganinya, dia tidak terluka sama sekali. Makanya kecelakaan tersebut tidak tertulis dibagian administrasi."
"Tapi bagaimana mungkin Dokter? Waktu itu darahnya banyak sekali..."
"Kau benar. Setelah diperiksa kembali pun, itu memang darah milik anak itu. Tapi sungguh tidak ada luka dikepalanya. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi..." Dokter Kim terdiam sejenak. Menatap Yixing dengan penuh selidik. "— kankernya juga sembuh."
"Ne?"
"Anak itu adalah salah satu pasien saya yang mengidap kanker otak stadium akhir. Semua dari kami sudah menyerah akan keadaannya. Setelah kecelakaan pot yang ia alami, kami memutuskan kembali memeriksanya secara menyeluruh, takut-takut jika ada luka dalam yang terjadi. Namun kami malah menemukan hal yang lebih mengejutkan, anak tersebut sembuh total. Di dalam kepalanya sudah tidak ada sama sekali sel kanker."
Yixing yang mendengar itu langsung terperangah. Antara kagum dan senang. "Apakah itu sebuah keajaiban?" Ucapnya tak percaya dengan wajah yang menampakkan rasa senang.
Dokter Kim mengangguk dengan seulas senyum yang terpantri di bibir tipisnya. "Bisa jadi itu adalah keajaiban dari Tuhan." Ucapnya dengan senyum yang semakin mengembang.
"Syukurlah, ternyata hal seperti itu memang ada." Yixing masih meluapkan rasa senangnya. Ia kembali menyesap coklat hangatnya tanpa menyadari tatapan Dokter Kim yang penuh selidik padanya. Bahkan sebuah senyum licik sudah tergores dengan sempurna di bibir dokter muda itu.
"Dan yang membantu keajaiban itu—." Tiba-tiba tangan Dokter Kim bergerak mengambil tangan kanan Yixing, membuat pemuda berusia 23 —dalam perhitungan usia korea itu terperanjat kaget. Ditambah kini Dokter Kim menggenggam tangan kanan Yixing dengan kedua tangannya, memandangnya dengan senyum yang terlihat aneh bagi Yixing.
"—adalah tangan ini."
Yixing sedikit terperanjat. Dengan segera ia melepaskan tangannya dari genggaman Dokter Kim. "Apa maksud dokter?"
Bukannya menjawab, Dokter Kim malah tersenyum. Ia menyesap minumannya sesaat yang kemudian kembali tersenyum. "Tidakkah kau menyadarinya, Yixing-ssi? Ayolah kau pasti sudah merasakannya."
"Aku sama sekali tidak mengerti, Dokter."
"Kau adalah seorang penyembuh. Healing —vitakinesis." Dokter Kim menyimpan minumannya di atas meja. Badannya condong kedepan menggapai telinga Yixing dan berbisik pelan tepat didepannya. "Tidakkah kau bertemu dengan seekor unicorn putih dalam mimpimu?"
Mata Yixing langsung membulat meski mungkin terlihat tetap tak berpengaruh pada matanya yang sipit. Ia sesegera mungkin menjauh dari Dokter Kim dengan senyum canggung yang terlukis dari bibirnya. Sial, ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Di saat seperti ini ia sangat membenci kepolosan yang tak bisa ia hindari dari dirinya. Meski ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud sang dokter dengan 'seorang penyembuh', tapi bagaimana Dokter Kim tahu mengenai pertemuaanya dengan seekor unicorn cukup membuat dirinya terhenyak. Tiba-tiba ia merasa takut, jangan-jangan Dokter Kim juga mengetahui mimpi mengenai pohon dan sebuah bandul yang kini ada di saku jaketnya.
"Ma-maaf sa-saya tidak mengerti dengan apa yang Dokter ucapkan." Gugup dan bergetar. Jelas gelagat takut dan gugup Yixing dapat ditangkap jelas oleh sang dokter, apalagi dirinya sama sekali tidak bisa menatap mata dokter muda di depannya. "Sa-saya harus bertemu dengan Dokter Lee." Sesegera mungkin Yixing membungkuk hormat dan pamit dari sana. Menjauh dari dokter Kim secepat mungkin. Namun sebuah perkataan Dokter Kim membuat langkahnya terhenti sejenak.
"Ada sebelas yang lain yang memiliki keistimewaan sepertimu Yixing-ssi. Mereka sama sepertimu dan memiliki misi yang sudah ditakdirkan. Pikirkanlah, dan datanglah padaku jika kau sudah mengambil keputusan."
Yixing terhenyak. Antara rasa bingung dan takutnya, akhirnya ia memilih kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Dokter Kim yang diyakininya masih berdiri memandangi punggungnya yang menjauh. Yixing rasa ia harus memikirkannya dengan matang. Ini membuatnya takut sekaligus bimbang. Ia tahu dari awal, lewat mimpi itu dan keanehan yang dialaminya selama seminggu ini —atau tanpa disadarinya dari semenjak ia lahir, ada sesuatu yang besar yang akan menimpanya. Maka dari itu, jika ia gegabah, mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sementara itu, jauh dibelakang, Dokter Kim kembali melukiskan senyum di bibirnya yang tipis. Senyum yang mirip dengan seringaian itu terus terulas seiring Yixing yang semakin menjauh dari jarak pandangnya.
.
.
.
Extraordinary
.
.
.
Alternative Universe, Fantasy, Brothership
.
.
.
Story©Terunobozu
.
.
.
=Part 1a End=
A/N 1st. Maaf, yang kemarin itu prolog. Ini part 1-nya, saya bagi dua, alasan yang pertama karena part 1-nya kepanjangan, dan alasan yang kedua karena saya gak kuat lagi nulisnya. Semoga tidak dipermasalahkan.
Terimakasih atas respon yang positifnya, tapi mohon maaf, tulisan ini akan mengambil waktu yang lama, saya harap tidak ada yang terlalu berharap ini update cepat. Gomen (bow)
A/N 2nd. Terima kasih banyak untuk chachaofmariditha, opikyung0113, han gege, lailarohmadona, hunhanshipper, chairun, Z, taemin-nia, Ateara EXOtics, dan noonamoudy. hannie . Salah satu semangat untuk melanjutkan cerita ini adalah karena kalian.
See ya~
