KEHIDUPAN BARU

By Sakura Dini

Disclaimer: Naruto-Masashi Kishimoto

Pairing: Naruto X Hinata.

Summary: "hikz… ka-u… mem-ben-ciku… ya?" ujar Hinata di sela tangisnya dalam pelukan Naruto."Siapa bilang? Kenapa kau berpikir seperti itu?"

Balas review dulu ah. Biar pun Cuma ada dua orang.

#Aira Mitsuhiko : Lanjutkan! Lebih Cepat Lebih Baik! Pro Rakyat! Eh.. salah. Pemilu udah lewat oh jadi nama anda Hana. Selamat ya… kapan anda melahirkan Hinata? *ditabok* iya sih. Minato memang cocok jadi ayah yang baik.

#Hatake Nekoshi : maaf kalau kpibadiannya Hinata agak berbeda. Tapi kan lebih untung daripada aku jadiin dia banci *dijyuuken* terima kasih atas pujiannya… akh Q sangat terharu… *Naru: Lebay lou!*

Tengkyu udah review. Sering-sering main kemari ya… *All: Gak Nyambung!*

Selamat membaca Chapter 2 sekaligus yang terakhir. ^_^

Chapter 2

Pukul 19.00 di kediaman rumah Namikaze. Seperti biasa Naruto yang menyiapkan makan malam keluarga. Kali ini ia membuat tiga porsi nasi kare. Tapi ada sedikit kejanggalan. Ada satu porsi yang lebih sedikit isinya dari yang lain. Dan piring yang berisi porsi itu diberikan kepada Minato. Ayahnya sendiri.

"Kenapa hanya punyaku yang paling sedikit?" protes Minato ketika melihat piringnya berisi satu sendok nasi dan kare. (Dini: hu… naru pelit!~Naru: Diem lou! *dini ditodong garpu*)

Naruto hanya diam sambil membatin 'itu hukuman buat papa genit yang sudah mencium anaknya sendiri'

Minato pun naik pitam karena jatah makan malamnya tidak boleh ditambah oleh Naruto.

"NARUTO! Kenapa Bersikap Tidak Sopan Pada Orang Tua!" seru Minato

"Berisik! Aku Tak Pernah Menganggapmu Sebagai Orang Tua!" balas Naruto.

Hinata sedikit terkejut melihat tingkah Naruto dan Minato. "eh… pak Minato. Bo-leh ambil makananku kok…" tawar Hinata. Mencoba melerai pertengkaran kecil ayah dan anak. Tapi sayangnya omongan Hinata tidak dipedulikan.

"Hei! Kau Pikir Kau Bisa Makan Berkat Siapa Hah!" seru Minato lagi kepada Naruto.

"Cerewet! Padahal Menanak Nasi pun Tak Bisa!"

"Apa Kau Lupa! Aku Dulu Yang Menggantikan Popokmu Dan Mencebokimu!"

"Apa Papa Tak Bisa Memakai Mesin Cuci! Mengangkat Telepon pun Tak Mampu! Ah. Sungguh Memalukan!"

"Kau Juga Tak Bisa Memanaskan Kamar Mandi Sendirian! Enyah Saja Kau Diantara Debu Dan Lumut!"

Hinata sweatdropp melihat pertengkaran mulut diantara Naruto dan Minato. (Dini: ayo! Serang sebelah kanannya! Ya hajar dia!~ Hinata: Naruto-kun & Minato tidak bertarung tau!~Dini: siapa yang nonton mereka? Aku kan nonton OVJ. Ayo Sule! Hajar pak dalangnya! *all sweatdropp*)

-

-

-

Naruto duduk di sofa sambil memecet remote tv. Raut wajahnya tampak serius. Padahal yang ditonton film Tom & Jerry. Yah… sepertinya pikiran Naruto melayang entah kemana.

"Naruto-kun…" sapa Hinata. Naruto menoleh.

"Hinata-chan. Kau belum tidur?" Tanya Naruto. Hinata menggeleng. Ia lalu duduk di samping Naruto.

"Kenapa tadi kau marah? Karena tidak diajak jalan-jalan ya?" tebak Hinata

"Aku tidak marah kok" Naruto memalingkan wajahnya ke tv sambil memencet tombol remote.

"Bohong" tuduh Hinata. Naruto menoleh. Mata Samudra bertemu dengan mata Lavender.

"Kenapa…?"

"Apa?"

"Kenapa Kau Bersikap Sembarangan Dengannya?!" tiba-tiba nada suara Naruto (agak) meninggi. "Harusnya kau melawan! Waktu dicium Tiba-Tiba Olehnya. Dengan Menamparnya Misalnya…" Seru Naruto

"Hah! Ka-u… mem-bun-tuti… kami?" Hinata terkejut.

"iya! Itu karena kau ikut lelaki playboy itu dengan begitu mudahnya! Apa kau tidak sa…" Naruto menghentikan kata-katanya karena melihat mata lavender sang gadis basah. "Hinata-chan... kau… kenapa?"

"Ka...re-na… a-ku… men-dambakannya…" Hinata menunduk. Membiarkan rambut indigonya menutupi sebagian sisi wajahnya. "Seperti a-pa… seorang A-yah… A-ku… sela-lu mendam-bakannya…" dua sungai kecil pun terbentuk di kedua pipi mulus Hinata.

"eh… Ma-af… aku tidak bermaksud untuk… hei… kau jangan menangis…" Naruto mulai panic mendengar isak tangis hinata. "lihat! Ada kucing bisa terbang! Eh… akhirnya Tom bisa memakan kucing itu! Bwahahaha……" Naruto tertawa paksa sambil menunjuk layar tv. Mencoba menghibur Hinata. Sungguh cara menghibur yang salah. Anak tk pun tau kalau kucing/tom tak mungkin memakan kucing bukan? Ditambah lagi acara tv kan sudah diganti dengan reality show termehek-mehek*?* (ah Naru cara kau menghibur gadis sungguh memalukan! *ditimpuk tv*)

Naruto menghentikan tawa paksanya karena Hinata masih menangis. (yaiyalah. Orang nangis kok malah diketawai~Naru: cerewet lou! *dini dibungkus tisu*) Naruto menghela nafas lalu merangkul Hinata. Membiarkan gadis indigo menangis dalam pelukannya "Maafkan aku karena selalu memarahimu" guman Naruto.

"hikz… ka-u… mem-ben-ciku… ya?" ujar Hinata di sela tangisnya dalam pelukan Naruto.

"Siapa bilang? Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"habisnya…. Kau selalu marah jika aku dekat dengan pak Minato… pasti kau cemburu karena aku sudah merebut perhatiannya papa"

Oh… sungguh polosnya gadis ini. Naruto ingin sekali tertawa atas pernyataan Hinata. Bagi Naruto, ia tak peduli dengan perhatian Minato. Tapi Naruto menahan tawanya.

"emm… perkataanmu ada sedikit benarmya. Aku memang marah kalau kau terlalu dekat dengan papa. Tapi bukan berarti aku cemburu padamu"

"lalu kenapa?" Hinata melepaskan pelukan Naruto. Ia menatap mata samudra Naruto. Mata lavendernya sudah tidak mengalirkan air lagi. Tapi masih ada bekas basahnya di pipi Hinata.

Naruto menghapus bekas sungai kecil di pipi Hinata dengan jempol jari tangannya. "aku cemburu karena kau lebih dekat dengan Minato daripada aku. Aku ingin kau lebih perhatian padaku Hinata-chan"

'Blush' Naruto melihat semburat merah dikedua pipi Hinata 'hehehe… aku berhasil membuat dia merona' batin Naruto. (apa? Merangsang? *dijitak*~Naru: merona budek!)

Hinata memalingkan wajahnya ke layar tv. Menyembunyikan senyum bahagianya dari pandangan Naruto.

"Hinata-chan. Papa kan sudah menciumu. Jadi tak apa-apa kan kalau kakakmu juga… ehm… menciumu" ujar Naruto.

Hinata diam. Wajahnya kini lebih merona dari yang tadi. Hinata segera berdiri dari duduknya. "a…aku ma-u… tidur dulu"

"wah. Kau mau lari dari pembicaraan ya…"

"a-ku… su-dah mengan-tuk…Naruto-kun"

"kalau begitu kau tidur bersamaku saja. Kita kan saudara. Mandi bersama pun tak masalah bukan?" goda Naruto seraya tertawa kecil.

'PLAK'

Hinata berlalu memasuki kamarnya.

"ckckck… ternyata adikku yang lembut itu bisa galak juga" guman Naruto sembari mengelus-ngelus pipi kirinya yang berbekas tanda telapak tangan berwarna merah. (Dini: pipi kanannya Naruto bagianku ya? ~Naru: ma-u diapain? Di-cium?~Dini: tidak. Aku mau menamparnya juga :-D *dirasengan*)

-

-

-

Pagi ini Naruto bangun kesiangan. ia melirik jam. Pukul 08.00. "akh… aku harus menyiapkan sarapan" gumannya sendiri.

Naruto pun beranjak dari kasurnya. Ia langsung menuju dapur. Tapi Naruto (agak) terkejut melihat Hinata sudah mendahuluinya.

Hinata menggenakan celemek di pinggangya. Gadis itu memasak sesuatu di atas kompor.

"Hinata-chan? Apa yang kau lakukan?"

Hinata menoleh "Pagi Naruto-kun" sapanya seraya tersenyum. "kau duduk saja. Pagi ini biarkan aku yang memasak sarapan untukmu"

Naruto menggaruk belakang kepalanya seraya tersenyum menampakkan giginya. "baiklah aku akan menunggu". Naruto segera duduk di meja makannya. "oh ya. papa mana?"

"pagi-pagi sekali. Pak Minato sudah pergi kerja. Katanya dia mau bertemu dengan sutradara"

"oh begitu"

Tak lama kemudian. Hinata menyajikan semangkuk makanan berkuah di hadapan Naruto.

"Mie?" Naruto mengangkat sebelah alisnya.

"ini namanya Mie Ramen. Aku belajar memasak makanan ini di kedai ichiraku dekat rumah lamaku dulu" jelas Hinata-chan.

"oh. Aku akan memakannya. Itadaimatsuka!" seru Naruto lalu memakannya. "emm… enak! Wah ternyata kau pandai Memasak Hinata-chan" puji Naruto membuat Hinata merona "aku mau tanbah lagi" pinta Naruto.

"selera makanmu tinggi ya Naruto-kun" Hinata tertawa kecil.

"habis. Masakanmu enak sekali. Lagipula… ini pertama kalinya ada yang membuatkan sarapan untukku"

"a-ku juga… ini pertama kalinya ada yang makan masakanku"

Naruto dan Hinata saling memandang seraya tersenyum bahagia.

"Hinata-chan. Habis ini kita pergi ke suatu tempat yuk" ajak Naruto.

-

-

-

~~Hinata's POV~~

Aku berlari ke arah pantai. Ah senangnya aku diajak kesini lagi. Tapi kali ini aku bersama Naruto-kun.

"terimakasih sudah mengajakku kemari Naru~" aku menoleh. Namun aku tidak melihat pemuda pirang itu yang berada dibelakangku tadi. Dia kemana?

Belum sempat aku mencari dia. Naruto-kun sudah mengagetkanku dengan mucul tiba-tiba di balik punggungku. Aku terkejut tapi dia malah tertawa.

Naruto-kun berlari di pinggiran pantai sambil mengatakan "ayo kesini. Pus pus pushi cat…" Naruto tertawa

Apa-apaan dia memanggiku seperti itu. Memangnya aku kucing? "Naruto-kun… Jangan Lari" seruku seraya mengejarnya.

Kenapa dia sepertinya senang membuat aku marah. Tapi entah kenapa aku senang dengan perilaku nakalnya.

Kami bercanda tawa di pinggir pantai. Oh maaf aku ralat. Dia yang tertawa terbahak-bahak mengejekku sambil lari dari kejaranku.

Dan pada akhirnya. Aku lelah juga karena tidak bisa mengejar rambut duren itu. Dengan nafas yang terengah-engah aku beristirahat di bawah pohon. Aku duduk bersandar di batang pohon.

Naruto yang melihatku berhenti berlari menghampiri diriku. "sudah capek ya?" dia tersenyum penuh kemenangan.

"huh! Aku kan perempuan. Jadi wajar saja bukan?" aku menggembungkan pipiku.

Naruto lalu duduk di sampingku. "wah. Kau berkeringat" Naruto membelai rambutku.

Aku menoleh. Ia lalu menghapus keringatku dari kening hingga pipiku. Tangannya berhenti dan menempel di pipi kiriku. Naruto menatap mataku. Begitu pula denganku.

Mata Samudra yang sangat sejuk. Mampu membuat hatiku terasa tenang.

Naruto medekatkan wajahnya padaku.

Dekat…

Tinggal berapa inci lagi…

Aku menutup mataku…

Menunggu ia melakukannya…

Dan…

'CUP'

Aku membuka mata. Naruto mencium pipiku. Akh… kenapa pipi. Seharusnya kan…

"kau adikku ya?"

"ah… i-ya…"

Aku melupakannya…

Naruto-kun adalah kakakku…

Kami hanya saudara…

Entah kenapa…

Hatiku terasa…

Sakit…

"kita pulang yuk" ajak Naruto seraya menarik tanganku.

Aura kami berdua berubah. Aku tau… dia juga merasa sedikit sakit… terlihat jelas dari wajah Naruto yang tidak tersenyum lagi. Dia… sedih?

Tapi ini semua sudah suratan takdir dari Tuhan… bukan?

~End Hinata's POV~

(mengapa cinta ini terlarang… saat ku yakin kaulah milikku. *dini nyanyi lagunya virgin cinta terlarang*~Hina: maaf mas. tidak ada uang kecil~Dini: eh lo pikir gw pengamen apa? Manggil mas lagi. Emang lo gak liat gw pake rok~Hina: oh kalau begitu anda wanita ya?~Naru: bukan! Dini itu waria. Hahaha *Naruto dishannaro dini*)

-

-

-

Normal POV

Naruto kembali memencet tombol remote tv. Entah mengapa semua saluran tv hari ini begitu membosankan baginya. Ia melirik Hinata yang sedang asik menyapu lantai. (wah Hinata beralih profesi jadi pembantu *dijyuuken*)

Mata Samudranya lekat menatap semua gerak gerik Hinata.

Merasa diperhatikan. Hinata menoleh. Naruto langsung memalingkan wajahnya kembali ke tv. Pura-pura serius dengan acara tv.

"Naruto-kun. Aku baru tau kalau kau suka nonton film Barbie" Hinata tertawa kecil.

Naruto terbelalak ketika sadar yang ditonton adalah acara tv yang disukai anak perempuan.

"ah… i-ya… aku baru saja menyukai film Barbie semenjak ada Barbie cantik yang tinggal di rumahku" goda Naruo membuat Hinata merona. 'Ada untungnya juga punya ayah yang suka merayu wanita' batin Naruto

"HINATA!!" seru sebuah suara yang muncul tiba-tiba dari ruang tamu.

Naruto dan Hinata menoleh. Melihat Minato yang baru saja pulang.

"hebat! Foto Hinata yang di pantai dilihat kenalanku seorang sutradara iklan" Minato menghela nafas. "Hinata. Kau Cocok Jadi Model Yang Sedang Mereka Cari. Dia Ingin Bertemu Denganmu!"

"Be…be-narkah?" Tanya Hinata

"Iya! Kita pergi bertemu dengannya besok saja" pinta Minato.

"hei. Bisa juga kau melakukan pekerjaan dengan benar" celetuk Naruto

"Enak saja! Aku kan selalu bekerja dengan serius" ujar Minato.

Hinata menghampiri Naruto. "Naruto-kun. ba…gai-mana ini?" Tanya Hinata ragu.

"Bukankah itu bagus kalau kau mencobanya?"

"ah, aku jadi berdebar-debar"

"Berjuanglah! Semoga kau berhasil!" seru Naruto menyemangati Hinata. "Kau pasti bisa jadi model terkenal seperti mamamu. Kau kan cantik" puji Naruto lagi dan lagi membuat Hinata merona.

'apakah ini benar-benar terjadi?' batin Hinata

-

-

-

Keesokan harinya. Setelah menemui sutradara iklan. Akhirnya Hinata dikontrak menjadi model iklan mereka. Bukannya pulang setelah itu. Minato malah mengajak Hinata makan siang di sebuah restoran.

"kenapa makan siang di sini? Lebih baik kita pulang saja dan makan siang bersama dengan Naruto-kun…" usul Hinata.

"wah wah wah… sejak kapan kau lebih memikirkan Naruto?"

"eh?! Mak-sudku… ka…ka-sihan kan ka-lau Naruto-kun makan siang sendirian…"

"ehm… tuh kan! Kayaknya ada yang disembunyikan" ujar Minato seraya menunjukkan wajah serius seperti polisi yang mengintrogasi tersangkanya.

"Ja-jangan… sa-lah paham dulu" Hinata makin gugup.

"Hahaha… sudahlah aku hanya bercanda. Lagipula itu wajar terjadi pada anak muda. Aku dulu juga pernah merasakannya" Minato tertawa

'kenapa Dia bicara seperti itu? Aku dan Naruto-kun hanya saudara' pikir Hinata

"sebenarnya aku ke sini karena ada janji bertemu dengan klien. Kalau dia sudah datang kau boleh pulang menemui Naruto-mu itu. Hahaha…"

"Pak Minato!" semburan merah mucul dikedua pipi Hinata 'dia yang aneh atau aku yang aneh?' batin Hinata.

"Apa anda Namikaze?" Tanya seorang pria yang menghampiri meja makan mereka.

Minato dan Hinata menoleh. Melihat pria paruh baya dengan rambut panjang sepinggul berwarna hitam. Hinata terkejut ketika melihat mata pria itu. Sepasang mata Lavender. Sama dengan matanya.

"ah iya. Anda?" Tanya Minato.

"saya direktur bagian promosi. Uchiha Hiashi" pria itu menunduk memberikan salam. "gadis ini yang untuk model iklan?" tanyanya ketika melihat Hinata.

"iya… ini putrinya Hyuuga Hana yang meninggal beberapa waktu yang lalu. Namanya… Hyuuga Hinata…" ujar Minato.

"Hyuuga… Hinata… begitukah?" ujar Hiashi dengan penekanan ucapan nama hyuuga Hinata.

-

-

-

"Aku Pulang!" seru Hinata memasuki kediaman rumah Namikaze.

Naruto yang sedari tadi menunggunya segera menyambut gadis itu. "Hinata-chan. Bagaimana? Kau diterima mereka menjadi modelnya?" Tanya Naruto

Hinata mengangguk. "aku sudah dikontrak"

"wah hebat! Selamat ya Hinata-chan" Naruto bersemangat. Tapi sayangnya gadis itu terlihat lesu.

Hinata berjalan dengan lemas dan duduk di sofa. Pikirannya melayang tentang pertemuannya dengan pria bernama Hiashi beberapa jam yang lalu.

"Hinata-chan kau tak apa-apa kan?" Tanya Naruto khawatir melihat tingkah Hinata. Gadis itu menggeleng. "oh ya. mana papa? Kenapa dia tidak pulang bersamamu?"

"Pak Minato menyuruhku pulang duluan. Katanya dia mau bicara bisnis berdua dengan pak Hiashi"

"Hiashi? Siapa dia?"

"entahlah" Hinata menundukan kepalanya.

"kau pasti sangat lelah. Aku akan membuatkanmu jus jeruk." Ujar Naruto lalu pergi beranjak ke dapur.

~~Hinata's POV~~

Siapa?

Siapa pria itu?

Ini pertama kalinya aku melihat mata yang hampir mirip denganku.

Mamaku saja tidak memiliki mata yang sama denganku.

Apa mungkin Pria itu adalah….

'Brak' suara pintu utama terbuka membuyarkan lamunanku. "Aku Pulang!" seru suara Pria yang kukenal.

"Pak Minato!"

"Oi. Kau belum tidur ya?" ujarnya dengan suara seperti orang mabuk.

Aku mendekatinya. Hmm benar saja dugaanku. Dia bau sake. "kenapa sampai mabuk begini? Tunggu disini. Biar aku ambilkan air minum"

"tidak perlu…"

Aku hendak pergi meninggalkannya untuk mengambil minuman. Tapi tiba-tiba Minato menarik tanganku. sehingga keseimbangan kami tidak terjaga ditambah lagi Minato sedang mabuk.

Dan akhirnya…

'Bruk' kami berdua terjatuh dilantai. Posisi kami, aku dibawah dan Minato menindihku.

"Hana…" ujar Minato.

Aku berusaha bangkit. Tapi tubuh pak Minato sangat berat. "Pak Minato aku mau~"

"Hana…" ujar Minato lagi dengan suara merayu.

Oh tidak! Minato sedang mabuk. Dia pasti mengira aku adalah mama.

"Bu…bukan. Aku bukan Hana. Aku Hinata putrimu" ujarku seraya memberontak karena pak Minato mendekatkan wajahnya padaku.

"Jangan Pergi!" seru Minato tiba-tiba "Jangan pergi ke tempat lelaki tak berguna. Yang bahkan tak bisa mengurus putrinya sendiri itu"

Apa?!

"Hana… jangan pergi" guman Minato lagi.

"apa Maksudnya ini? Yang tadi itu… jangan-jangan… aku… anak perempuan dari orang itu…"

Kalau begitu…

Aku…

Bukanlah anak perempuan dari Minato…

~End Hinata's POV~

'Prang' Naruto menjatuhkan gelas minuman jus jeruk. Ia terkejut dengan apa yang baru saja dilihat dan didengarkannya.

-

-

-

"Kenapa menyembunyikan hal sepenting itu? Kalau begitu… bukankah kami sama sekali tidak punya hubungan darah?" Tanya Naruto.

Minato mengangguk "yah. Begitulah." Pria paruh baya itu duduk di sofa sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk akibat disiram Naruto supaya sadar dari mabuknya.

"lalu apa hubunganmu dengan mamaku?" kali ini Hinata yang bertanya

"aku, Kushina, dan Hana. Sudah bersahabat sejak kecil. Sampai aku menikah dengan Kushina. Hubungan kami bertiga sangat baik. Tapi setelah melahirkan Naruto, Kushina meninggal. Sebagai seorang pria aku tidak bisa merawat bayi sehingga Hana membantuku merawat Naruto selama 2thn. Aku pun menawarkannya untuk menjadi ibu Naruto"

"Dia menerima lamaranmu?" Tanya Naruto

"Tidak. Aku ditolak. Hana sudah jatuh cinta pada Pria lain. Sayang sekali Pria itu sudah bertunangan. Saat Hana tinggal di apartemen Hiashi. Kecelakaan hubungan itu pun terjadi. Dan malam harinya Hana kabur ke tempatku. Karena itulah timbul gossip diantara kami"

"i-tu artinya… kau… bukan papa kandungku…" mata lavender Hinata basah. Ia lalu berlari menuju kamarnya.

"Hinata-chan!" seru Naruto.

"Naruto!" panggil Minato. Naruto menoleh. "Hiashi tidak bersedia merawat Hinata. Tapi kau tenang saja. Aku sudah menamparnya"

"Kenapa tadi kau tidak mengajakku?"

"memangnya kenapa? Kau mau menamparnya juga?"

"tidak! Aku mau mengucapkan terimakasih padanya. Sekaligus MENINJU Bajingan itu!" Naruto tersenyum licik.

"Kau memang anakku" Minato tertawa.

-

-

-

Hinata membuka kopernya dan mulai memindahkan baju dari lemari ke dalam koper.

"Apa-apaan ini? Kau mau kemana?" Tanya Naruto yang tiba-tiba muncul di pintu kamar Hinata.

Hinata menghela nafas. "Padahal… ku kira aku sudah menemukan tempat. Saat aku kira Pak Minato adalah Papaku… aku Sangat senang… saat kesini dan kalian menerimaku… aku sangat senang. Aku sudah tidak bisa tinggal disini lagi. Kalian bukan keluargaku…" Hinata menunduk.

Naruto menghampiri Hinata. Ia lalu mengeluarkan semua isi koper Hinata.

"A…a-pa yang kau lakukan?"

"Menghentikanmu untuk pergi meninggalkanku!" wajah Naruto memerah.

"A-pa maksudmu? A…a-ku bukan adikmu Naruto-kun"

"Aku tau. Karena itu aku senang." Naruto langsung memeluk Hinata. Wajah Hinata pun merah padam "Kau tau sendiri kan. Aku menyayangimu lebih dari sekedar adik."

"Naruto-kun…?"

"Aku mohon. Tetaplah tinggal disini. Bukan sebagai adikku. Tapi sebagai…"

"apa?" Hinata melepaskan pelukan menatap mata samudra milik Naruto. Menanti kata-kata selanjutnya.

"Sebagai Calon Istriku" Naruto tersenyum.

Deg' Hinata hampir pingsan.

"Kau mau kan? Hinata-chan?" Naruto mengangkat dagu Hinata. "Aku mencitaimu" ujarnya tulus tanpa menghilangkan senyum diwajahnya.

"Na… Naruto-kun!" Hinata langsung memeluk kembali Naruto. "A..a-ku tidak mau… pergi dari rumah ini"

"Apa itu artinya… kau Menerimaku?" Tanya Naruto. Ia lalu merasakan Hinata mengangguk dalam pelukannya. "Apa? Aku tidak mengerti basa tubuh loh!" Naruto pura-pura bloon (emang bloon beneran kok *ditendang ke laut merah muda*?*)

"I..i-ya.."

"Iya apa? Bicaranya yang jelas dong Hinata-chan"

"Ah… Naruto-kun berhenti menggodaku" Hinata menengadah melihat mata Samudra milik Naruto.

"hehehe…" Naruto tertawa kecil.

"Naruto-kun… a..a-ku…"

Naruto berhenti tertawa. Ia lalu medekatkan wajahnya pada Hinata. "Apa?"

Hinata merasakan nafas Naruto dekat dengan wajahnya. Hinata pun menutup matanya. "Aku juga Mencintaimu"

Naruto tersenyum sesaat. Ia lalu menghapus semua jarak diantara dia dan gadis. Naruto mengambil first kiss Hinata. (b^_^d maaf yang ini tidak bisa dideskripsikan coz Q sendiri belum prnah Kissing. Ah jadi malu. *gak nanya*)

Minato tersenyum melihat adegan anaknya dari balik pintu. "ada baiknya juga menutupi rahasia itu dari mereka selama ini"

-

-

Minato duduk di sofanya sambil berpikir "hmm… kira-kira siapa wanita yang aku gaet lagi ya? Anko kan sudah pergi. Hinata diambil sama Naruto. Kurenai, Shizune, ayame, atau Tsunade saja ya? ah tidak! Aku bisa dipenggal Jiraiya. Oh ya! ada Sakura. model cantik yang masih muda itu. Tapi… aku dengar dia sudah bertunangan dengan temannya Naruto. Kalau tidak salah, namanya Sasuke… hmm… kalau gitu wanita yang mana lagi ya?...." guman Minato sendiri.

(ada yang mau daftar jadi istrinya Minato? Silahkan menghubungi pemakaman terdekat *Dini dikubur hidup-hidup*?*)

~~The End~~

Akhirnya selesai juga…

Kali Happy Ending bukan? *Minato: nggak bagiku. *

Bagaimana? Apa masih kurang panjang? Apa sudah menghibur Anda?

Iya atau tidak tolong berikan review ya… sebagai penyemangatku untuk membuat fanfic lagi.

~~Terima Kasih~~

^_^