Sudah pukul 07.15. Tao kalang kabuL Mobil yang biasanya dia pakai tiba-tiba saja tidak di tempat, dipakai Ayahnya karena mobilnya sedang diservis di bengkel. Akhirnya Tao memutuskan untuk naik taksi. Taksi jenis apapun, yang penting taksi.

Semalam Tao tidur seperti bayi, sangat lelap. Begitu matanya terbuka Tao, langsung terjatuh dari tempat tidur karena melihat jam mejanya menunjukkan pukul 6.45. Entah kenapa hari ini sial banget. Udah telat bangun, mobilnya dipakai Ayahnya, sarapan di meja cuma ada sehelai roti, terakhir ... eh dia malah dapat benjol di kepala. Aduh, apes banget!

"Pak... cepetan Pak... Udah telat nih!" teriak Tao pada supir taksi yang membawanya sambil mengeluarkan HP dari dalam kantong tasnya. Tao benar-benar kebingungan begitu melihat banyak missed call dan sms di HP-nya. Sudah pasti dari Luhan.

"Iya, mas ... Ini lagi diusahain. Emang kalau di wilayah sini sering macet."

"Yah, Pak... Usahain dong. Mungkin bisa lewat jalan tikus kek atau lewat jalan kecoa kek.., Pokoknya jam 07.30 harus sampai di pabrik itu." Tao hampir mau nangis.

Tiba-tiba aja ada sebuah panggilan di HP-nya, pasti dari Luhan.

'Apa?" tanya Tao dengan suara altonya.

"LAGI DI MANA MAS? TAHU ENGGAK SIH INI SUDAH JAM BERAPA?" tanya Luhan dengan suara yang enggak kalah tingginya.

"Iya gue tahu ... Gue lagi kena macet. Pusing nih . . . !" Tao benar-benar panik.

"Kok bisa sih? Pasti tadi pagi telat bangun ya?"

"Glek ... Kok tahu sih ... ? Iya, emang tadi pagi gue telat bangun."

"Pantesan ... udah ah ... Pokoknya jam 7.30 kalo lo belum datang juga, enggak tahu deh gimana nasib magang lo di sini." Luhan langsung mematikan HP-nya.

Tao hanya bengong begitu mendengar kalimat terakhir sahabatnya itu. Dia malah jadi semakin panik. Tao tahu perusahaan tempat magangnya ini sangat terkenal karena disiplinnya. kalau hari pertama dia telat masuk, itu berarti bencana besar.

"Pak... udah sampai belum sih? Masih lama enggak?" Tao melihat jam-tangannya, pukul07.20.

"Itu mas ... Pabrik FJI yang gedungnya war a krem itu... Kira-kira kalau lari dari sini cuma sekitar sepuluh menit"·tunjuk sopir taksi itu.

"Begitu ya ... Ya udah aku keluar aja sekarang." Tao, segera keluar dari taksi dan membayar ongkosnya. Dengan memakai celana kain dan blazer, Tao pun segera berlari. Tidak perduli kalau blazer yang dipakainya bisa kusut atau celananya bakal robek. Pokoknya tujuan utamanya adalah sampai ke gedung FJI itu dan jangan telat.

Dari pos penjaga satpam ke lobby pun Tao harus berlari. Gedung FJI lumayan besar juga. Dari pos satpam ke lobby saja jaraknya seratus meter. Gedungnya seperti gedung pencakar langit. Lumayan luas juga karena kantor dan pabriknya ada dalam satu wilayah. UntungIah Tao belum terlambat. Di lobby ia bertemu dengan Luhan yang lama menunggunya.

"KEMANA AJA SIH?" tanya Luhan.

"Sorry ... Namanya juga kena macet... Yang penting enggak telat kan?"

"Telat sepuluh detik, tapi enggak apa-apa deh. Kita disuruh ke ruang rapat untuk bertemu karyawan HRD, manager purchasing, dan manager produksi." ajak Luhan sambil menarik tangan Tao.

"Bukannya kita ketemu sama bagian HRD aja? Ngapain ketemu sama manager produksi dan manager purchasing juga?" tanya Tao heran.

"Gue juga enggak tahu ... Udahlah, yang penting kita ke sana aja dulu. Yuk ... !" Luhan mengajak Tao ke ruangan yang tadi ia sebutkan.

"Eh, kalau dilihat-lihat, nih kantor lumayan keren juga ya?! Kayaknya kita enggak bakal rugi deh magang di sini. .. " kata Luhan sepanjang perjalanan menuju ruang rapat.

"Iya juga ya, tapi kita kan cuma tiga bulan di sini ... "

"Gue ngerasa kita magang di sini bakal seru deh ... Atau menegangkan ya?"

"Hehehe .. , menegangkan ya? Bener banget, gue jadi ingat pas diomelin habis-habisan sarna pak Suho,HRD itu, gara-gara nanya terus tentang status magang kita."

"Iya ... Ngomong-ngomong kita enggak kesasar kan?"

"Bener kok,itu ruang rapatnya ... Apa salah ya? pak Suho mana sih?" tanya Luhan.

.

.

.

Pak Suho yang tadi Luhan sebut namanya itu ternyata sudah berada di belakang mereka. Dia memakai baju hitam dan celana panjang cokelat. Raut wajahnya tampak lelah.

"Selamat pagi semuanya, maaf ya kalau saya telat..." sapa pak Suho.

"Selamat pagi pak, enggak apa-apa kok, kami juga baru saja sampai." jawab Tao dan Luhan.

"Oh iya, begini, saya belum bisa menentukan kalian magang di departemen mana. Nanti, kalian ketemu pak Siwon dan pak Donghae, ya? Mereka yang akan menentukan ... Enggak apa-apa kan?" pak Suho memandang Luhan dan Tao.

"Enggak apa-apa kok pak ... " jawab Tao dan Luhan hampir bersamaan.

"Oh ya udah ... Kalian tunggu di sini ya. Ntar kalau ketemu mereka, terutama pak Siwon, kalian nurut aja ya, Jangan melawan. Soalnya dia itu cerewet. .. Mengerti kan?" bisik pak Suho.

"Baik Bu . . ."

"Oke kalian tetap di sini ya ... "pak Suho meninggalkan mereka berdua diruangan itu .

Tao dan Luhan terdiam, memikirkan kata-kata pak Suho barusan. Emang kayak apa sih pak Siwon itu, sampai-sampai pak Suho sebegitu khawatirnya? Tao terus berpikir dan mengira-ngira. Bagi Tao, tidak ada yang lebih menakutkan dari Ibunya dan Neneknya. Kalau mereka berdua marah ... Wah .. itu pertanda tsunami dan hujan geledek telah datang Hihihi. ..

"Tao .. Kok bengong sih? Pasti karena mikirin kata-kata pak Suho tadi ya?" tanya Luhan ragu-ragu.

"Enggak kok ... Santai aja. Gue rasa pak Siwon nggak semenakutkan itu deh ... Setidaknya, tidak melebihi Ibu atau Nenek gue. Kita nggak usah terlalu khawatir."

"Iya juga ya ... Mungkin pak Suho terlalu berlebihan. Tapi, kalau dia memang menakutkan gitu, gimana dong? Yang gue khawatir, gue satu departemen sama dia. Wah ... kiamat deh selama tiga bulan."

"pak Suho cuma bilang dia cerewet kan? Enggak masalah kita kan hampir tiap hari kena marah ortu kita. tapi emang dia seperti apa ya, sampai-sampai pak Suho takut begitu? Apa dia melebihi mons ... " Belum sempat Tao menyelesaikan kata-katanya, terdengar derap kaki yang kuat mendekati ruangan.

"Eh, Tao ... Bunyi apaan tuh?" tanya Luhan ketakutan.

"Enggak tahu... Bunyi apaan ya?" tanya Tao bingung ...

BRAKKKKKKK! Tiba-tiba saja pintu terbuka seolah menghantam dinding. Luhan dan Tao sampai loncat dari tempat duduk, untungnya mereka tidak terjatuh. Di hadapan mereka muncul seorang pria separuh baya dengan baju merah menyala dan celana gombrong warna hijau tua.

TO BE CONTINUED...