Show chapt 2: Go
Summary: Indonesia masih asyik dengerin ocehannya France
Chara(s): Fem! Indonesia, Netherlands, France, England, America, Australia
Warning: Banyak menggunankan bahasa tidak baku, masih datar
Disclaimer: Hetalia Axis Powers©Hidekaz Himaruya
"Hoi, Netherlands! Bagaimana di tempatmu, hah?" seorang pria kecil beralis tebal menyoraki seorang pria bertubuh besar dengan gaya rambut spiky yang berada di seberang sana. Nadanya terdengar mengejek.
Netherlands memalingkan wajah cuek. Ia nampaknya lebih suka memperhatikan sebuah bangunan yang berdiri tepat di hadapannya. Di sana para pekerja kontruksi bangunan sedang sibuk dengan proyeknya.
"Tuan, sebentar lagi persiapannya selesai," seorang buruh bangunan melapor. "Apa perlu kita…"
"Tidak. Nanti saja,"
"Um, baiklah, tuan," lalu pekerja itu memohon diri pamit.
"Di sini sudah hampir selesai," ucap Netherlands pada England yang menghampiri 'stand'-nya.
England nyengir. "Hoo…jadi ini, ya bangunan dari tempat yang kau banggakan itu…" sang UK memperhatikan bangunan yang sedang dibangun di hadapannya. Seperti sebuah puri. Namun desain dan reliefnya begitu berbeda dengan puri istana miliknya. Lebih kecil, mungil, dan lebih berkesan mistis.
"Lumayan," ia mangut-mangut. Dalam hati ia memuji kemisteriusan 'puri' itu. "Tapi, yah…bangunan yang sedang kubangun lebih besar dan terkenal di Eropa ketimbang milikmu! Taj Mahal kau tahu! Wahahahaha~," tawanya sakartis.
"Fuh…" Netherlands netral. Ia seolah-olah tahu apa yang akan dilontarkan memalingkan muka lagi ke arah bangunan yang sebentar lagi akan selesai dibangun tersebut. Dinding-dindingnya telah dibangun kokoh, begitu juga dengan bagian inti lain. Reliefnya dibuat sedetail mungkin. Dan tidak lupa beberapa hiasan khas yang selalu bisa mengingatkannya dengan negeri 'kepunyaannya' itu.
Ya, mungkin ini tidak seberapa berharga di mata mereka, tapi bagiku ini lain…
Tak berapa lama muncullah seorang sinting lainnya yang mengganggu suasana damai di stand Netherlands. Jika England dengan tawa edannya, maka seorang satu ini dengan desahannya yang bisa membuat orang yang mendengar sakit perut, muntah-muntah, diare, maag, dan berbagai macam penyakit perut lainnya. Siapa lagi kalo bukan si super mesum, France.
"Ah~ Netherlands~ Bagaimana keadaan di tempatmu~?" pertanyaan yang tak jauh brerbeda dengan yang sebelumnya ditanyakan si alis tebal. Namun dengan versi yang sudah dapat ditebak kemesumannya. Dan anehnya lagi, ia datang sambil merenggakan tangan ingin memeluk si UK-e. Dan terkaparlah France untuk beberapa saat.
Netherlands facepalm dan mengambil jarak aman dari sang mesumitis.
"Seperti yang kau lihat," jawabnya singkat setelah France berhasil membuat malaikat maut lari tunggang langgang karna hampir dicium oleh bibir kemesumannya.
"Oh! Jadi ini, ya. Astaga~ Cantik sekali~," pujinya dengan mengelus-elus benjolan kecil di kepala. "Indies pasti senang melihatnya,"
Blush! Tiba-tiba pipi Netherlands sedikit bersemu kemerahan. Tapi ia tak ingin seorang pun mengetahuinya dan tetap memasang wajah stay cool seperti sediakala.
"Ow, Holland, pipimu merah~," goda France yang naasnya selalu tajam instingnya akan masalah cinta-percintaan.
Netherlands merengut. "Mungkin aku demam," kilahnya gelabakan.
"Ahahaha~ Demam cinta~ Oke, aku mengerti. Aku akan merelakanmu pada Indies,"
Dan kini untuk kedua kalinya France mendapatkan bogem mentah dalam pagi ini. Mental sampai langit ke tujuh, dan semoga ia kembali sebelum England menyelesaikan pesta mirasnya nanti malam(?).
England yang sembari tadi memperhatikan berbalik facepalm. Cinta memang mengerikan, sungutnya dalam hati.
"Jika aku jadi kau, aku akan membangun Candi Borobudur dalam expo ini," tutur England mengalihkan pandangan ke pintu gerbang 'Puri Bali' di dekatnya.
"Itu tak akan banyak berarti," Netherlands tersenyum sinis.
England mengeryitkan dahi. Entah tak mengerti perkataan sang negara Tulip atau merasa aneh melihat Netherlands yang tersenyum seperti itu.
"Bangunan ini selalu mengingatkanku padanya. Berbeda dengan Borobudur yang megah itu. Standar namun memiliki banyak keunikan, itulah maksudku membangun Puri Bali ini. Benar-benar mencerminkan sikapnya yang sederhana tapi memiliki banyak potensi.
Melihat bangunan seperti ini pun sekilas sudah dapat membuatku terbayang saat ia menari di ujung sana. Begitu manis,"
England cengo.
Netherlands juga tersadar dari lamunannya.
"Bwahahahahahahahahahahaha~ Kau bicara apa, hah? Huahahaha…,"
Mampus! Netherlands diguyon England akibat bicara ngelanturnya. Sial, apa yang kau lakukan bodoh?, ratapnya dalam hati.
"A-aku harus segera menghubungi Indies untuk acara tari,"
Dengan segera Netherlands meninggalkan England yang masih bergelak tawa. Dengan wajah memerah dan kesal tentunya.
"Cinta memang tak pandang bulu, ya~ Bahkan untuk si pria sok cool…pft…"
Dari balik semak-semak France menahan tawa geli menyaksikan peristiwa ngelantur tersebut.
~*w*~
"….."
Di sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat rapat G-20 dan G-8, lebih tepatnya di halaman belakang gedung tersebut duduklah Indonesia yang ditemani France di sebelah kirinya. Wanita itu terdiam membisu setelah France menyudahi kisah masa lalu yang terjadi di kediamannya di Paris 69 tahun yang lalu. Masa disaat ia masih dalam 'dekapan' sang kompeni, Netherlands.
"Jadi, mon cheri, kau sudah merasa baikan? Bagaimana menurutmu?" France mulai senyam-senyum kurang waras.
Indonesia tidak respect dengan aura France yang mulai kembali mesum. Tangisnya sudah reda. Perlahan singgungan merah jambu mulai menghiasi wajahnya.
"Be-benarkah Netherlands berkata seperti itu…?"
"Ya! Sewaktu Colonial Expo di tempatku dulu. Bagaimana? Aku seorang yang pandai bercerita, kan?" lagaknya mulai seperti si 'maha agung plus awesome', Mr. Barack Prussia (Eh?).
Indonesia semakin memerah.
"Ngomong-ngomong, Indonesia, kau sedang menunggu siapa tadi? Bukannya rapat G-20 lebih dulu selesai daripada rapat G-8? Oh, iya! Pertemuan puncak nanti di tempatku, lho~ Di pantai~ Kalau kau mau aku tidak kebertana kalau kau mau i…."
-BUAG-
Dengan selamat kepala Indonesia menyundul dagu France; karena ia lebih pendek ketimbang pria mesum itu. Dan terkaparlah France dengan darah segar mengalir dari hidung.
"Ya, ampun, gusti! Aku lupa!"
Ia pun berlari pergi meninggalkan France yang sekarat. Kasihan France, mungkin memang sudah nasibnya selalu terkapar mengenaskan.
~*w*~
Dari kejauhan Indonesia bisa melihat seorang pria blone dengan kacamata sedang asyik menikmati makanan kesukaannya, hamburger.
"A-AMERICA!"
"Waks!" sontak pria itu kaget setengah hidup mendengar suara TOA di kejauhan. Bahkan hamburger kesukaannya hampir jatuh ke tanah. Untung cuman jatuh di rumput…
"A-A-Am-me-merica…." Indonesia mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Ah! Indonesia! Baru saja aku ngobrol dengan Bos-mu, lho! Ternyata dia orang yang asyik!" celetuk si HH tak mengidahkan suasana.
"Benarkah? Kukira Bos sudah pulang duluan ta… Ah! Bukan itu maksudku! America, kau lihat Netherlands tidak?"
"Hm..much…Netherlandch?" America mulai mengunyah hamburgerya .
"Ya, ya! Netherlands! Kau lihat dia?"
America sok berlagak jenius dengan mengeryitkan dahi. Berfikir. "Um….."
"….?"
"Hng…."
"…..?"
"Ngga tau, tuh. Ngga liat…."
-gubrak-
Indonesia meratapi nasibnya. Sudah nyariin Netherlands ngga ketemu, sekarang malah dibodohi America pula. Meskipun ia tahu dari awal America itu memang bodoh.
"Oh, kau mencari Netherlands, Indonesia?"
Sebuah suara muncul dari balik America. Suara yang terasa begitu familiar di telinga gadis ASEAN itu. Nadanya juga memberi kesejukan seolah-olah tahu di mana Netherlands berada.
"Ah~ Kau tau di mana dia, Australia?"
"Ya, tadi kulihat ia naik pesawat menuju South Africa. Dia kan masih harus bertanding, Indonesia,"
Sontak Indonesia sweatdrop. Ia benar-benar lupa jika Netherlands masih harus menghadapi Slovakia di babak 16 besar.
"Indonesia? Kamu ngga papa?" tanya pria yang dijuluki maniak Koala itu khawatir melihat perubahan air muka Indonesia. Sedangkan si HH masih asyik memakan hamburgernya dengan penuh suka cita.
"Hiks…pa-padahal dia sudah memintaku sampai datang ke tempatku segala….." Indonesia mulai menangis lagi. Australia panik, America santai menikmati makanannya.
"Bagaimana ini….aku sudah bilang pada Bos jika aku akan pergi ke Den Haag dengan pesawat Netherlands….hiks…." Indonesia menundukkan kepala.
"Jangan khawatir! Ada HERO di sini! Kau bisa memakai pesawatku, Indonesia!"
Tak ada badai, tak ada tsunami. America seperti biasa selalu antusias menjadi pahlawan di siang bolong. Tapi nampaknya seruan itu berhasil membawa musim semi datang kembali ke raut wajah wanita Asia itu.
"Benarkah, America? Ka-kau mau menolongku?" senyum sumringah menghiasi wajah Indonesia. Sampai-sampai lesung pipinya terlihat jelas.
"Ya! Ayo, semuanya! Den Haag tujuan kita!"
Dan pergilah mereka bertiga ke Den Haag menaiki pesawat pemerintah milik America.
~To be continue~
OMAKE~
1. Colonial Expo International
Diadakan di Paris pada tahun 1931. Lebih tepatnya Vincennes et Lago Daumaesnil, Bosco. Adalah sebuah acara dimana setiap negara di Eropa membangun bangunan dengan corak arsitektur ala jajahan masing-masing negara. Saat itu Inggris membentuk paviliun berbentuk Taj Mahal, Perancis memabngun paviliun Angkor Wat di Kamboja, Italia membangun paviliun seperti rumah di Somalia, dan Belanda membangun paviliun seperti Puri di Bali.
2. Pertemuan puncak G-8 yang akan datang akan diadakan di tempat peristirahatan tepi pantai Nice di Prancis tenggara. (KOMPAS-Minggu, 27 Juni 2010)
Sepatah, dua patah, tiga tumbang, tumbuh telongewu~ Sekapur sirih dari author (LOL)
Ya, Allah! Ini fic masih bersambung lagi, toh! –njedotin kepala ke lantai- Ah, maaf buat para readers yang mengharapkan suatu fic yang berkualitas, sungguh mohon maaf sebesar-besarnya (_ _)\ Cerita ini belum masuk ke klimaks, bahkan penanjakan pun belum =_= Ah, semoga rating di cerita selanjutnya ngga sampai M… Jujur kalo soal Netherlands dah ketemu ma Indonesia rasanya saya…. –PLAKPLAKPLAK- Pikiran mesuuuum! Agggghhh!
Maaf jika ada yang miss typo atau kesalahan-kesalahan lainnya. Saya harap ada yang mau nge-review buat ngasih tempe. Jadi, bagaimanakah kelanjutannya (lagi)? Apa tujuan sebenarnya Indonesia ke Den Haag? Dan kenapa sampai Australia pun ikut nyasar ke pesawatnya America =_=" (jujur author pun belum mikir sebabnya)? Thanks for reading~ :D
