Seorang namja tengah berdiri di depan sebuah bangunan megah bertingkat yang diketahui sebagai salah satu perusahaan terkenal di Seoul. Tangannya menggenggam sebuah ponsel yang sedari tadi ditempelkan pada telinga kirinya. Sesekali kepalanya mengangguk membalas sapaan orang-orang yang melewatinya. Namja itu tampak gelisah. Sudah setengah jam dirinya berdiri disana, tak ayal membuat tubuhnya terasa membeku di tengah hujan salju seperti saat ini.
"Yobeoseo"
Namja tersebut tersentak ketika panggilannya dijawab oleh seseorang yang sedari tadi dia tunggu.
"Eomma, oediga?"
"Eomma dikantor BabyKyu, waeyo?" Namja tersebut tersenyum ketika mendengar panggilan yang dilontarkan oleh orang yang dia sebut eomma.
"Kyu sekarang berada di depan kantor eomma."
"..."
"Yeoboseo.. Eomma... Eomma mendengarku?"
"Ne..Ne.. eomma mendengarmu Kyu. Tapi mian, Lima menit lagi eomma ada meeting jadi eomma tidak bisa menemuimu. BabyKyu menginginkan sesuatu, eoh?"
Senyuman itu hilang seketika. Dihela nafasnya perlahan. Selalu saja seperti ini! batinnya.
"A..ani.. hanya saja Kyu ingin mengatakan sesuatu."
"Apa itu, baby?"
"Hyung... Kibum Hyung mendapatkan beasiswa untuk sekolah keluar negeri eomma."
"Jeongmal? Hyungmu memang hebat."
"Ne. Hyung memang hebat. Eomma harus mengucapkan selamat padanya nanti."
"Arasso, eomma akan mengucapkan selamat pada bummie nanti. Kyu, nanti eomma telpon lagi ya. Eomma harus siap-siap untuk meeting."
"Andwee...eomma. Jebal... jangan tutup telponnya dulu." Namja yang tak lain adalah Kyuhyun itu mengencangkan suaranya. Lensa matanya bergerak gelisah, dihalaunya kabut-kabut bening yang berusaha memburamkan pandangannya.
"Tapi Kyu, eomma..."
"Jika Bummie Hyung pergi, lalu Kyu bagaimana?" suara lirih tersebut terdengar putus asa. Bahkan kumpulan cairan bening tampak menggunung di kedua pelupuk matanya.
Terdengar helaan nafas panjang di seberang sana.
"Tak usah khawatir, eomma akan mencarikan pengasuh untukmu."
Kyuhyun menggelengkan kepalanya walau ia tahu bahwa eommanya tidak bisa melihat itu. Tidak! Bukan itu yang dia inginkan. Bukan pengasuh ataupun yang lainnya.
"Kyu tak butuh pengasuh."
"..."
Tak ada jawaban dari eommanya. Sungguh, Kyuhyun ingin menangis rasanya. Tapi Kyuhyun tahu, kalau dia menangis, itu hanya akan membuang-buang waktunya. Mungkin saja eommanya akan menutup telpon. Dihembuskan nafasnya perlahan lalu mulai berkata.
"Kyu... Kyu... ha...nya bu..tuh..."
"Kyu mianhae, sekretraris eomma sudah memanggil. Eomma tutup dulu, ne. Nanti eomma hubungi lagi."
Dan sambungan pun terputus bahkan sebelum Kyuhyun berhasil menyelesaikan kalimatnya.
TES
Buliran bening turun menelusuri pipi namja berkulit pucat itu. Tidak hanya satu tapi puluhan. Seakan berlomba-lomba untuk keluar dari pelupuk onyx coklat yang kini tampak meredup. Kyuhyun berjalan lunglai meninggalkan bangunan mewah yang merupakan perusahaan eommanya itu. Tak dihiraukan orang-orang yang menatapnya khawatir. Ia hanya ingin segera pergi dari situ.
Cast : Cho Kyuhyun
Kim Ki Bum
Lee Donghae
dll
Genre : Brothership/Friendship
Warning : Fict pertama, aneh bin geje. Mianhae, enjoy ya
Hyung!
Chapter 2
"YAKKK!"
Donghae terbelalak. Begitu pula Kibum yang berada disampingnya. Keduanya tengah menatap makhluk berukuran besar dengan sisik keemasan yang tampak menggelepar di dalam tas Kibum. Mulut mahkluk itu tampak membuka menutup dengan cepat, seakan sakaratul maut tengah bersiap menjemputnya.
"Itu ikan?" tanya seorang namja berkacamata yang ikut melongokkan kepalanya kedalam tas Kibum. Tak ada jawaban, baik dari Kibum maupun Donghae. Kedua namja itu shock, eoh?
"Hae, itu ikan ya?" tanya Kibum mengulangi pertanyaan namja berkacamata tadi.
Entahlah, Kibum yang telah melahap ratusan buku pun tak dapat mendefinisikan makhluk malang tersebut atau mungkin neuron-neuron otaknya mengalami disfungsi akibat rasa terkejutnya. Donghae bungkam. Diamatinya makhluk yang tengah menggelepar itu. 'Makhluk ini seperti ikan. Dia punya sisik. Bahkan juga ekor. Memang benar-benar mirip ikan. Ya makhluk itu memang ikan' Monolognya dalam hati. Donghae terkesiap. Ikan?
"Yak! Kim Kyuhyun mati kau!" Jerit Donghae yang tak ayal membuat Kibum maupun siswa lainnya terlonjak. Bahkan Jung seongsanim yang sedari tadi hanya memperhatikan tingkah siswanya tersebut mengelus dadanya pelan.
Kibum berniat mencegah sahabatnya yang tengah mendekap makhluk naas itu. Namun terlambat. Donghae tampak berlari keluar kelas dengan air mata yang bergulir di pipinya. Kibum memutar bola matanya malas. Sahabatnya memang cengeng jika menyangkut masalah ikan. Kibum tersadar dari lamunannya saat dilihatnya teman-temannya tengah riuh tertawa.
Kibum mengusap tengkuknya kikuk lalu mulai membuka kembali tasnya. Keningnya mengernyit melihat sebuah kertas segi empat berwarna biru yang terselip diantara tumpukan bukunya yang basah –akibat makhluk bersisik tadi. Diambilnya kertas tersebut dan mulai membaca tulisan yang tertera didalamnya. Kibum menutup mulutnya dan mulai terkikik. Beberapa teman sekelasnya nampak tercengang melihatnya. Seorang Kim Ki Bum yang bahkan tersenyum pun jarang sekarang terkikik? Dunia memang sudah gila. batin mereka! Kibum tahu sekarang siapa dalang dibalik ini semua. Bahkan Donghae telah mengatakannya tadi.
"ADA YANG LUCU KIM KI BUM?"
Suara berat Jung seongsanim membuat Kibum menghentikan kikikannya. Ditatapnya pria berwajah tampan yang tak disangka Kibum sedang berdiri disampingnya tersebut. Kibum mengangkat sebelah alisnya. Sejak kapan gurunya berdiri disitu?
"Ada yang lucu Kim Ki Bum?" ulang Jung seongsanim. Kibum menggeleng pelan.
"Lalu mengapa kau tertawa?" Belum sempat Kibum menjawab, teriakan sahabatnya membuat dirinya bahkan seisi kelas terkejut untuk yang kedua kalinya. Oh, jangan lupakan Jung seongsanim yang untuk kedua kalinya mengelus dada.
"Bummmieee, ikannya meninggal." Adu Donghae pada Kibum. Nampak sisa-sisa air mata menggenangi matanya yang mengerjap childish.
Kibum berdehem pelan. Berusaha menyadarkan sahabatnya akan situasi di kelas sekarang. Namun Donghae nampaknya tak mengerti. Ditatapnya Jung seongsanim yang tengah menatapnya heran. 'Seorang namja menangis karena ikan? Sehatkah jiwa muridnya itu?' Itulah yang terlintas dipikiran Jung seongsanim sekarang.
"Seongsanim ikan tadi meninggal dan aku ingin mengadakan pemakaman yang layak untuknya." Kening Jung seongsanim semakin mengerut mendengar kalimat muridnya tersebut.
"Yak! Bummie. Ini semua pasti ulah setan kecil itu. Ya kan?" Donghae menuding Kibum yang tetap dalam wajah stoicnya.
Jung seongsanim menghela nafasnya kasar. Heran dengan tingkah ajaib murid-muridnya.
"PARK DONGHAE! KIM KI BUM! KELUAR DARI KELAS!
"Tapi Seong, kita belum berdoa untuk ikan tadi.. Bagaimana..."
"SEKARANG!"
Donghae menelan ludahnya gugup. Lidahnya menjilat bibirnya yang entah kenapa terasa kering itu, bahkan tanpa disadari sesekali alisnya mengernyit akibat rasa asin yang terasa saat lidahnya tanpa sengaja menelan cairan yang keluar dari hidungnya.
"TUNGGU APA LAGI? KELUAR KALIAN SEKARANG!"
Tanpa dikomando, Donghae berlari keluar kelas disusul Ki bum dibelakangnya. Seisi kelas riuh menertawai dua sahabat itu. Dan untuk ketiga kalinya Jung Seongsanim harus mengelus dadanya.
*****************************Hyung!*********************************
"Geodjinmal... Geodjinmal..."
Kyuhyun terus menggumamkan kata-kata itu bagaikan mantra. Tangannya yang mulai memutih akibat dingin itu saling meremat. Kyuhyun tahu eommanya berbohong. Eommanya tidak akan mengucapkan selamat kepada hyungnya, eommanya juga tidak akan menelpon nanti. Bukankah selama ini eommanya selalu menjanjikan hal yang sama tanpa pernah menepatinya.
Kyuhyun terkekeh pelan, sangat kontras dengan buliran air mata yang sedaritadi tak kunjung berhenti. Untuk apa dia menangis, bukankah itu sudah biasa. Enam belas tahun hidupnya digunakan untuk mempercayai eommanya dan selalu berakhir dengan hatinya yang kecewa. Jadi untuk apa sekarang dia menangis?
Kyuhyun mengusap air matanya kasar, dirogohnya saku celana tempat menyimpan poselnya yang tengah bergetar. Sebuah senyum terulas saat dilihat nama 'Ice-Prince' muncul. Kyuhyun menghela nafas, digesernya tombol merah yang tertera, sesaat kemudian hanya warna hitam yang mendominasi.
'Mianhae hyung,' Kyuhyun tahu Kibum mencemaskannya, hanya saja dia butuh waktu untuk menyendiri sekarang. Semoga saja kejutan yang telah dia persiapkan tadi pagi membuat rasa khawatir hyungnya mereda, yah, walaupun dia tahu setelah ini nyawanya terancam oleh sahabat kakaknya.
Butir-butir salju semakin banyak berjatuhan. Beberapa mendarat diatas surai ikal Kyuhyun yang tak tertutupi apapun. Rasa dingin yang menusuk tulang membuat Kyuhyun menggigil. Dirogohnya sesuatu dari saku jaketnya, sebuah kertas yang terlipat rapi yang dia temukan di dalam nakas sang hyung tadi pagi. Dibukanya kertas tersebut lalu dibacanya lagi tulisan yang tertera didalamnya-entah untuk yang keberapa kalinya. Sebuah surat dari Cambridge, lebih tepatnya Harvard University. Di antara rentetan kata-kata dalam bahasa asing itu tertera nama Hyungnya disertai dengan kalimat yang Kyuhyun sangat paham artinya.
"CONGRATULATION, KI BUM KIM. YOU'RE ACCEPTED IN HARVARD MEDICAL SCHOOL"
Mata Kyuhyun memanas, disusul cairan bening yang lagi-lagi berlomba-lomba untuk keluar. Kyuhyun terisak. Digigitnya bibir yang mengering bahkan telah menngeluarkan darah itu untuk menahan isakannya. Perih. Tapi dia tak peduli, rasa perih di hatinya jauh lebih menyakitkan.
Lewat dua bulan tanggal yang tercetak pada saat surat itu dikirimkan, bagaimana bisa selama ini Kibum menyembunyikan ini darinya.
"Hyuunng...Hiks... Bummie hyung..."
Kyuhyun tak dapat menahan isakannya lagi. Dia kecewa, ya, kecewa karena Hyungnya membohonginya. Menyembunyikan kenyataan bahwa dia akan meninggalkan Kyuhyun. Ya, Kyuhyun bukan menangis karena tahu eommanya tidak akan menelponnya. Tapi kenyataan bahwa ia akan ditinggalkan oleh seseorang yang berharga dalam hidupnya.
Bahkan Kyuhyun tak pernah melewatkan seharipun tanpa Kibum. Jauh lebih banyak dibandingkan waktunya bersama eomma mereka. Kyuhyun tak tahu rasanya hidup tanpa Kibum, karena selama ini mereka selalu bersama. Hyung yang akan menyeretnya ke kamar mandi agar dia bangun, membuatkan sarapan walaupun gosong adalah menu andalannya, membantunya mengerjakan PR, menghabiskan malamnya tanpa tidur untuk merawat Kyuhyun jika asma dongsaengnya itu kumat, bahkan bertengkar dengan sang eomma hanya untuk membuat eommanya pulang ke rumah jika Kyuhyun mengatakan rindu eomma.
Lalu surat ini seakan-akan datang untuk memisahkan mereka. Membentangkan jarak yang dapat melenyapkan kasih sayang Kibum pada dirinya. Merelakan Kibum sama saja membunuhnya perlahan. Hanya Kibum yang Kyuhyun punya.
Kyuhyun ingin bersikap egois, ingin rasanya dia merobek kertas itu menjadi serpihan-serpihan kecil atau bahkan membakarnya, menjadikannya abu tak kasat mata. Tapi dia tahu, hyungnya akan terluka jika dia melakukan itu. Kyuhyun tidak bisa bersikap egois kali ini. Harvard adalah impian Kibum sejak kecil –Kyuhyun tahu itu.
"Hiksss... Hikss... Hyung...Hikss..."
Kyuhyun melangkahkan tubuhnya yang mulai limbung itu menuju rumah.
*****************************Hyung!*********************************
Kibum mengusap wajahnya lelah, berkali-kali dicobanya menghubungi ponsel dongsaengnya. Namun selalu dijawab dengan suara operator yang mengatakan bahwa nomer yang ia tuju sedang tidak aktif.
"Hae ah, temani aku ke kelas Kyuhyun" ucap Kibum pada Donghae. Kini keduanya tengah berada di taman belakang sekolah. Donghae tengah berjongkok di depan sebuah gundukan salju sembari mengatupkan kedua telapaknya. Mulutnya komat-kamit membaca sesuatu. Berdoa, huh?
"..."
"Hae, ya jawablah"
"..."
JEDAKK
"Waduwww kepalaku... Aishhh... Yak! Kim Kibum, tak bisakah kau lihat aku sedang berdoa huh?" teriak Donghae sembari mengusap-usap keningnya yang merah akibat membentur batang pohon didepannya.
"Jangan salahkan aku menendangmu" ucap Kibum tanpa rasa bersalah. Sedang Donghae melanjutkan aktifitasnya berdoa pada gundukan yang tak lain adalah kuburan sang ikan tadi.
"Ponsel Kyu tidak aktif" Kibum berucap lagi.
"Mungkin saja baterainya habis, Bummie." Ucap Donghae setelah selesai melakukan ritual pemakaman ikannya.
"Temani aku ke kelas Kyuhyun"
"Mwo? Ke kelas pasukan iblis itu? Shireo" tolak Donghae cepat.
Kibum mengulum senyumnya. Pasukan iblis yang dimaksud Donghae adalah Kyuhyun dan sahabat-sahabat dongsaengnya. Donghae menyebut mereka pasukan Iblis karena seringkali menjadi objek jahilan adek kelas mereka itu.
"Ayolah Hae, hanya untuk memastikan apa Kyuhyun berada di kelas atau tidak."
"Shireo! Bagaimana kalau mereka mengerjaiku lagi Bummie? Kau tidak ingat minggu lalu mereka memasukkan cacing ke celana dalamku, bagaimana kalau kali ini mereka memasukkan ular? Oh asetku tidak akan terselamatkan" Donghae bergidik ngeri membayangkan kejahilan pasukan Iblis itu.
"Hae ah..." ucap Kibum pelan. Donghae menatap Kibum yang kini tampak memelas. Rasanya tidak tega juga melihat sahabatnya seperti itu.
"Aishhh... Baiklah. Tapi awas saja! Aku akan membuat perhitungan pada bocah setan itu."
Donghae menelan ludahnya gugup saat dirasakan tatapan tajam Kibum tertuju padanya.
"Ha ha ha, tentu saja aku akan melakukannya jika tak ada kau Bummie." Jawab Donghae yang semakin membuat Kibum mendelikkan matanya.
"Hae, apa Kyuhyun sudah mengetahui tentang beasiswa itu?" Tanya Kibum di tengah perjalanan mereka ke kelas Kyuhyun.
"Molla, tapi kau tahu Kyuhyun anak yang cerdas. Cepat atau lambat dia akan mengetahuinya."
Kibum menerawang jalanan didepannya. Jantungnya berdegup kencang. Jika dongsaengnya telah mengetahui perihal beasiswa itu, apa yang akan dijelaskan padanya nanti.
"Bummie.. Mianhae."
"huh?"
"Ini semua gara-gara aku yang kelepasan bicara. Jika malam itu aku tidak mengatakan perihal beasiswa itu, mungkin saja setan itu tidak akan tahu" ucap Donghae menyesal
Kibum tersenyum lalu merangkul pundak sahabatnya itu.
"Gwenchana, seperti yang kau bilang tadi. Cepat atau lambat Kyu akan tahu. Hanya saja sekarang aku tidak tahu harus bersikap bagaimana padanya"
"Kau menerima beasiswa itu, Bummie?" tanya Donghae
Kibum menghela nafasnya pelan.
"Kau tahu harvard adalah impianku kan, Hae?"
Donghae mengangguk.
"Tapi kau juga tahu kan aku tidak bisa hidup tanpa Kyuhyun." Lanjut Kibum lagi.
Donghae mengangguk lagi.
"Jadi, keputusannya kau menerimanya atau tidak Bummie?" tanya Donghae yang masih tak mengerti. Kibum hanya mengedikkan bahu.
"Aish... jawaban seperti apa itu."
*****************************Hyung!*********************************
Kibum berlari tergesa-gesa setelah berhasil memarkirkan mobilnya. Dibuka pintu rumahnya dengan tak sabar. Sesaat setelah mengetahui bahwa Kyuhyun tidak ada di kelasnya, Kibum memutuskan untuk membolos dan mencari dongsaengnya. Pikirannya kalut sekarang. Dia tidak menemukan dongsaengnya dimanapun.
CKLEK
"Hyung"
Kibum tertegun. Dongsaengnya tengah duduk di ruang tamu dan tersenyum ke arahnya. Kibum berjalan mendekati dongsaengnya yang tampak kacau. Pucat dengan bibir yang berdarah. Entah apa yang dilakukan dongsaengnya, Kibum tak tahu. Diulurkan tangannya menyentuh bibir sang dongsaeng. Mengusap sisa-sisa darah yang telah kering itu dengan pelan, sangat pelan. Kyuhyun meringis kecil saat dirasa jari Kibum menyentuh luka di bibirnya akibat bekas gigitannya itu.
"Kau suka membuat Hyung cemas, huh?" tanya Kibum pada Kyuhyun. Matanya tak berhenti menyelami Onyx coklat milik Kyuhyun. Berusaha mencari sesuatu petunjuk apa yang tengah terjadi pada dongsaengnya.
Kyuhyun menggeleng. Dialihkan tatapannya pada vas bunga yang berada di atas meja, tak berani menatap mata Hyungnya. Namun jemari Kibum mengangkat dagu Kyuhyun pelan, mengarahkannya kembali untuk berhadapan dengan manik hitam Kibum. Sedikit berjengit ketika dirasakan panas pada kulit dongsaengnya itu. Baru ia sadari juga pelipis Kyuhyun yang nampak berkeringat. Dongsaengnya sakit.
"Kau demam?" tanya Kibum sembari mengulurkan telapaknya ada kening Kyuhyun.
Tetapi Kyuhyun menepisnya, membuat Kibum terkejut.
"Nan gwenchana" ucap Kyuhyun pelan.
Kibum menelan ludahnya gugup. Jujur saja, daritadi jantungnya berdetak kecang. Pikiran-pikiran bahwa dongsaengnya marah setelah mengetahui perihal beasiswa tersebut berkeliaran.
"Hyung..." panggil Kyuhyun pelan. Kibum menatap onyx itu sekali lagi.
"Kenapa kau menyembunyikannya dariku?"
DEG
Kibum menahan nafasnya sesaat. Benar. Dongsaengnya telah mengetahuinya. Belum sempat Kibum menjawab, tubuh pucat dihadapannya limbung dan hampir saja membentur dinginnya lantai sebelum reflek Kibum yang menangkapnya. Kyuhyun tak sadarkan diri.
'KYU!'
Annyeong...
Gomawo kepada semua reader yang telah membaca FF abal saya.
Gomawo juga untuk yang telah meninggalkan jejaknya di kotak review :*
Itu sangat berarti untuk saya, agar saya bisa belajar menulis yang lebih baik lagi.
Gomawoooooo, neee #Deep Bow.
Mianhe kalau alurnya kecepetan. FF ini memang sudah saya rencanakan dari awal hanya akan menjadi 3/4 chapter. Jadi 1/2 chapter lagi, FF ini akan tamat :D
Saya usahakan setiap 3hari untuk update. Kalo lebih dari 3 hari saya tidak update, pentung saja kepala saya ne. hahahaha
Oh iya jangan lupa berdoa untuk uri Kyuhyun ne, maknae setan itu akan berulangtahun. Yeyyyy! :D
And last Semoga terhibur and mind to review?
Gomawo...
