Secara astronomis, Perancis terletak pada 42 oLU – 51 oLU dan 5 oBB – 8 oBT sementara Jepang pada 30 oLU – 47 oLU dan 128 oBT – 146 oBT. Hal itu menjadikan keduanya memiliki perbedaan waktu 9 jam. Saat jendela rumah-rumah di Jepang dibuka dan tirai-tirai disibak untuk membiarkan cahaya matahari masuk, langit di Prancis sudah dihiasi bintang dengan jarum jam menunjuk angka 11 malam.

Karena itu ...

おはよ and Bonne nuit

"おはよう~~!"

Setengah tersadar, Kyoya bergerak menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Kepalanya terasa berat dan berdenyut-denyut karena tidurnya terganggu. Tapi, alih-alih memarahi atau memutus sambungan teleponnya, Kyoya membalas sapaan penuh semangat sang penelepon.

"おはよう."

"Are? Suara Anda lebih serak dari biasanya. Apa Anda sakit?" pertanyaan bernada khawatir dengan cepat menggantikan seruan semangat sebelumnya. Kyoya tak langsung menjawab, melainkan menenggak segelas air putih yang selalu sedia di nakas samping ranjangnya.

"Kerjaan. Baru tidur jam lima tadi."

"Eh? A-apa saya mengganggu? Apa saya tutup teleponnya saja? Mungkin Anda mau tid—"

"Aku ada rapat jam sembilan. Aku akan mandi." Kyoya memijat pangkal hidungnya sekilas dan mengintip dari celah mata, mencari selop di dekat ranjangnya.

"O-oke. Ngg, baiklah, akan saya tu—"

"Nanti kutelepon balik."

"E-eh? Apa?"

"Kutelepon balik, nanti. Aku mandi dulu."

"Ah. Y-ya."

Setelah mendengar jawaban lirih tersebut, Kyoya memutus sambungan teleponnya dan untuk beberapa saat menatap layar ponselnya. ID sang penelepon yang tertera di laporan panggilan membuat sudut bibirnya berkedut.

Sudah hampir tiga bulan hal ini berlangsung. Tanpa alpa, meski kadang terlambat, gadis itu akan meneleponnya dari Paris dan mereka akan mengobrol selama beberapa saat sebelum Kyoya memulai harinya yang sibuk. Kebanyakan percakapan mereka bukanlah hal-hal penting. Tapi, hal-hal tak penting itulah yang terpikirkan olehnya di akhir hari, saat tubuhnya sudah remuk-redam dan berharap hari esok datang hanya untuk mendengar hal-hal tak penting lainnya.

Agak terhuyung, Kyoya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ponselnya disimpan baik-baik di atas nakas. Sambil melirik jam, ia menghitung dalam hati. Mungkin sekitar tiga puluh menit sampai ia bisa meneleponnya lagi.

Yah, semoga saja dia tidak tidur duluan.

Air hangat melemaskan otot-ototnya yang kaku dan menyegarkan pikirannya. Sekarang, tubuhnya yang jauh lebih segar telah kering dan terbungkus setelan kerja. Setelah mengancingkan kancing terakhir di hem kemejanya, Kyoya menyambar ponsel dan tas kerja yang ada di meja lantas bergegas menuju ruang makan.

Kyoya agak khawatir gadis itu sudah tertidur ketika akhirnya pada dering ke lima, terdengar jawaban dari seberang sana.

"Nghm—halo?"

"Kau tertidur?" Kyoya tak luput mendengar kuapan yang sepertinya coba diredam dengan tangan. Sepertinya gadis itu tadi tertidur.

"Saya lumayan lelah hari ini, jadi agak mengantuk," kilahnya.

"Hn." Kyoya tak mendebat, hanya sedikit membenarkan letak wireless headset di telinga kirinya.

"Sedang sarapan, ya?" tanyanya balik, bertepatan dengan Kyoya yang duduk menghadap ke sisi meja makan dengan satu set sarapan terhidang. Diletakkannya ponsel di sisi kanan dan mulai melebarkan serbet di atas pangkuan.

"Ya." Kyoya menyesap tehnya sedikit. Rasa getir dengan cepat menyebar dalam mulutnya. Kadang, kopi pahit terasa lebih baik dari teh ini. "Apa kabarnya Tuan Houshakuji?"

"Baik ... kami tadi baru pulang dari Frankfurt."

"Untuk?"

"Frankfurt Book Fair—tunggu! Anda tidak sedang minum kopi, 'kan?" tanyanya tiba-tiba.

Kyoya mendengus, "Ini teh."

"Benarkah?" ada nada curiga yang terlalu kentara.

"Kau yang bilang."

Benar. Seminggu lalu, gadis itu mengomelinya saat tahu ia mengonsumsi kopi di pagi hari. Sangkalan Kyoya tentang guna kafein untuk mata dan kepalanya yang pening dibalas dengan argumen keras hingga keputusan sepihak yang menyuruhnya mengganti kopi dengan teh hijau setiap hari.

"Oh. Baguslah!" sekarang, nada ceria yang terdengar. Kyoya mendengus lagi.

"Lalu, bagaimana pameran bukunya?" Setelah bertanya demikian, Kyoya mulai menyantap sarapannya. Ia mencoba mengunyah sepelan mungkin agar bisa dengan jelas mendengar jawaban dari seberang.

"Seru sekali! Sangat ramai! Ada banyak penulis hebat dan buku-buku yang luar biasa! Ooh, andai saja Anda bisa datang! Tapi, tidak apa-apa! Saya sudah belikan beberapa buku yang akan tiba di rumah Anda paling lambat empat hari lagi."

"Buku? Buku apa?"

"Anda akan tahu," balasnya penuh rahasia. "Ah, iya. Ngomong-ngomong, kiriman Anda sudah sampai."

"Sudah?"

"Sebenarnya sudah dari tiga hari yang lalu."

"Lebih cepat dari dugaanku." Terlalu cepat, malah.

Hening.

"Tapi, kalau boleh tahu, kenapa Anda mengirimi saya boneka juga?" tanya suara di seberang sana.

Sekitar beberapa bulan lalu, gadis itu muncul tepat tengah malam di bawah balkon kamarnya dengan sebuah boneka beruang besar berdasi merah. Dari jam tangan hingga pena mahal, gadis itu memilih menghadiahinya boneka. Benar-benar.

"Kenapa memangnya?"

"Ya—ah. Tidak apa-apa sih."

"Kenapa?" desaknya sampai-sampai berhenti menyuap.

"Bonekanya ...," jeda, "seram."

Kyoya melihat boneka itu terpajang di salah satu etalase toko saat menemani Tamaki berbelanja kebutuhan calon bayinya. Tanpa sadar, Kyoya masuk ke dalam toko dan keluar dengan membawa boneka itu. Ukurannya tak beda jauh dengan boneka miliknya dan sama-sama beruang, hanya berbeda warna dan ada pita merah marun di kepalanya. Apa masalahnya kalau begitu?

"Seram bagaimana?"

"Sudahlah, kita bicarakan hal lain saja," elaknya.

"Renge."

"..."

"..."

"Wajahnya mirip Anda, makanya seram. Matanya apalagi ...," aku Renge dengan nada hati-hati, khawatir dengan tanggapan Kyoya.

Sementara itu, Kyoya sendiri mencoba mengingat-ingat raut wajah boneka yang dibelinya tempo hari. Sepertinya biasa saja. Atau tidak? Dia juga tidak ingat jelas sih. Segera setelah dibeli, ia langsung menyuruh orang untuk mengirimnya. Hanya tinggal beberapa hari sebelum ulang tahun Renge. Dan karena ia tidak bisa ke Paris, jangan sampai kadonya terlambat datang juga.

"Ini seperti saya selalu diawasi. Matanya seperti mengikuti saya terus. Saya 'kan jadi tidak berani main ga—ups!"

"Hei." Kyoya terlanjur dengar. "Kau masih main game?"

"Ha. Ha. Ha." Pertanyaannya malah dijawab tawa canggung.

"Dasar."

Uki Doki Memorial, game favorit Renge yang menjadi awal mula pertemuan mereka. Gadis itu berdelusi kalau dirinya adalah Ichijou Miyabi yang baik dan berhati seputih kain habis di-laundry. Tentu saja akhirnya delusi itu hancur berkeping-keping. Mana bisa Ootori Kyoya yang terkenal sebagai 'Raja di balik layar' memiliki hati selembut itu? Anehnya, hal itu tidak membuat Renge menjauhinya. Memang butuh waktu yang lama, tapi di sinilah mereka. Berteleponan dengan jarak ribuan kilometer memisahkan.

Nah, untuk mencegah delusi gadis itu bercampur dengan kenyataan yang akhir-akhir ini tipis sekali bedanya, Kyoya melarangnya bermain game. Mungkin sedikit keterlaluan—dia 'kan GameOta kelas kakap—tapi Kyoya punya alasan bagus untuk itu.

Untuk apa mengobrol dengan laki-laki virtual kalau dia ada dan tersedia? Tapi sepertinya ia kurang meluangkan banyak waktu, makanya Renge masih memainkan game itu.

"Ngg, Kyoya-sama?" panggil Renge, khawatir kalau-kalau Kyoya marah.

"Apa?"

"Apa aku tidak akan mendapat hadiah di hari ulang tahunku? Boneka itu hadiah ulang tahunku, 'kan?"

Kyoya menenggak tehnya hingga tandas sebelum menjawab, "Memangnya kau mau apa?"

"... Tidak ada."

Kyoya menaikkan satu alis. Perempuan dan semua kodenya. Apa dipikirnya Kyoya tidak tahu kalau ia sedang berbohong? Dari nadanya saja sudah ketahuan. Tapi sayangnya Kyoya tidak tahu dengan jelas apa yang diinginkannya. Mungkin satu set pita satin aneka warna?

"Hm, bagaimana dengan pekerjaan Anda? Sepertinya semakin sibuk akhir-akhir ini." Terdengar suara gesekan kain yang samar-samar melatari pertanyaan bernada agak merajuk itu. Kyoya membayangkan gadis itu sudah bergelung di atas ranjangnya yang besar, selimut ditarik hingga ke dada. Bagaimanapun, sudah sangat larut di sana.

"Kenapa kau tidak tidur? Sudah jam berapa di sana?" Kyoya malah balas bertanya sambil menyingkirkan serbet dari atas pangkuannya. Cepat-cepat, seorang pelayan datang dan merapikan bekas sarapannya. Dari jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih tersisa beberapa menit sebelum sekretarisnya datang dan memberitahukan agenda untuk hari ini.

"Saya mau tidur, tapi bonekanya memelototi saya terus," jawab Renge dengan nada menggerutu. "Mungkin sebaiknya saya ikat matanya pakai pita."

"Kau berlebihan."

"Tidak! Apa Anda perlu bukti?"

Tak lama dari pertanyaannya barusan, ponsel Kyoya bergetar. Renge mengiriminya sebuah gambar. Matanya menyipit di balik lensa untuk melihat wujud beruang yang katanya mirip dengannya itu.

Sedetik.

Dua detik.

Tiga—

Memang mirip.

Sedikit merasa bodoh karena rela saja menyamakan diri dengan beruang, Kyoya memang melihat kesamaannya. Mata boneka yang tengah duduk di atas kursi berlengan di dalam foto itu memang mirip dengannya. Datar dan tajam. Hampir seluruh pegawainya tidak berani menatap matanya, tak heran Renge juga risih.

"Bagaimana?" pertanyaan Renge menyadarkannya. "Mirip, 'kan?"

"Wajahnya tidak begitu saat aku membelinya," Kyoya malah menjawabnya dengan sangkalan bodoh yang dibalas dengan tawa geli dari seberang sana.

"Anda ada-ada saja!" tawanya kian kencang dan tanpa sadar membuat bibir Kyoya melengkung tipis.

Setelah tawanya mereda, ada hening yang menjelang. Kyoya tahu Renge tidak tidur lewat napasnya yang memburu. Jadi, ia menunggu hingga napasnya berangsur-angsur normal. Tapi, saat Renge tak kunjung bicara, Kyoya memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka.

"Kurasa sudah waktunya kau tidur," ucap Kyoya lamat-lamat. Tidak ada jawaban. "Aku juga akan berangkat kerja." Tetap tidak ada jawaban sementara Kyoya bisa melihat sekretarisnya sudah tiba dan sedang berjalan ke arahnya.

Sepertinya Renge tanpa sadar jatuh tertidur. Ini bukan yang pertama kali jadi Kyoya tak heran lagi. Kyoya sudah meraih tas dan ponselnya seraya berdiri, bersiap mengucap salam dan mengakhirinya saat sebuah gumaman lirih terdengar.

"Kyoya ... 会いたかった...."

Serta merta gerakan Kyoya terhenti saat itu juga dalam posisi setengah berdiri. Tangannya menekan wireless headset itu lebih dalam, menunggu kalimat lain yang menyusul. Tapi, tidak terdengar apa-apa. Hanya samar suara dengkuran halus yang teratur.

"Dasar curang," Kyoya berdecak pelan. Bisa-bisanya ia langsung tertidur setelah mengucapkan hal itu. Tapi, rasa jengkel yang sejenak timbul ditenggelamkan oleh perasaan lain yang membuat sebuah senyum lebar terkembang di wajah Kyoya hingga membuat sekretarisnya mengerutkan alis.

Tepat sebelum sekretarisnya tiba di hadapannya, dengan lembut Kyoya berbisik—

"Bonne nuit."

—dan memutuskan sambungan teleponnya.

"Selamat pagi, Tuan Ootori. Hari ini, Anda memiliki dua jadwal rapat deng—"

"Pesankan aku tiket ke Paris yang paling cepat yang bisa kau dapatkan." Tanpa mengindahkan ucapan sekretarisnya, Kyoya berbalik meninggalkan pria tua itu yang mematung mendengar perintahnya.

"Paris? La-lalu, bagaimana dengan rapatnya?" tanya sekretarisnya terbata sambil mengekori Kyoya yang berjalan menuju arah kamarnya. Tubuhnya yang sudah cukup renta tak sanggup menangani berbagai kejutan dari tuan mudanya ini. Apa yang harus ia jadikan alasan?

Lagi, Kyoya tak mengindahkan, hanya bergegas menaiki tangga dengan senyum yang masih merekah lebar.

Karena itu, saat Renge menyapanya dengan ucapan 'おはよう' yang menceriakan harinya, Kyoya akan mengakhirinya dengan ucapan 'Bonne nuit' yang lembut untuk mengantarnya ke alam mimpi.