Hmmm... sebelum baca, saya mau membagikan pengalaman saya di China...
Jadi, sebenarnya, Lu Xun sama Yangmei sekarang ada di Istana Wei...
Tapi, saya selalu ngerasa istana Wei tuh kayak Istana di Forbidden City yang super besar itu... wewww... ==a Nah, dan karena itu, bagi yang pernah masuk dan liat2 Forbidden City, pasti bisa lebih menjiwai cerita ini (ealah...) Tapi yang nggak pernah pergi juga jangan kecewa... wkwkwk... XDDDD Nah, dan karena istana Wei ini aku buat mirip Forbidden City yang notabene setiap nama tenpat atawa istana punya nama sendiri2, jadi setiap tempat di Istana Wei di ceritaku ini semuanya juga punya nama tempat... XDDDDD
(betapa bodohnya saya dulu pas nulis Istana Wu nggak ada satupun istana ato kamar ato aula ato apalah itu yang punya nama... m(_ _)m Dui bu qi... Dui bu qi... kapan2 bakal saya ganti kalo saya punya waktu...)
BTW, kali ini akan muncul seorang chara dari WO yang tidak lain dan tidak bukan adalah... (GUESS WHO?) *SPOILER, baca aja sendiri...* jadi jangan kaget, ya... ^^
Happy reading! ^^
Lu Xun
Terakhir kali aku melihatmu, air matamu mengalir deras sampai turun membasahi wajahku. Itulah pemandangan terakhir yang kulihat. Justru apa yang kulihat itu membuatku tidak bisa menutup mataku dengan tenang. Aku berharap, apa mungkin Tian masih memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu lagi? Untuk menghapus airmatamu?
Aku tidak tahu dimana aku berada sekarang. Yang pasti aku sedang berjalan, tetapi apa gunanya itu kalau aku tidak sedang kemanapun? Tempat itu gelap, hampir tidak ada cahaya di dalamnya. Aku tahu, kau pasti benci tempat seperti ini, kan? Untung saja aku yang berada di tempat ini sekarang, bukan kau. Lantai yang kupijak seperti lantai kaca yang indah, yang tidak akan pernah berakhir sepanjang apapun aku sudah berjalan.
Apakah kau melihatku sekarang?
Sebab tempat dengan atap sehitam langit malam ini sekarang tiba-tiba bertabur bintang. Dan bintang itu adalah airmatamu yang tidak bisa kau bendung lagi. Apa kau melihatku saat ini? Dan karena itukah kau menangis? Kalau begitu, jangan melihatku. Aku tidak ingin kau menangis. Tenang saja... semua akan baik-baik saja.
Kau harus sadar, tubuhku ini tidak punya sayap. Aku tidak akan pernah terbang meninggalkanmu. Kau tidak perlu takut. Pada saat tanganmu tidak lagi menyentuhku, bukan berarti aku tidak bersamamu. Aku akan selalu menjagamu, dan dimanapun aku, jangan pernah berpikir aku membiarkanmu seorang diri.
Tapi... akulah yang sendirian sekarang.
Sebuah suara terdengar di belakangku. Suara itu asing sekali, tetapi seolah aku pernah mendengarnya sebelumnya.
"Kau ingin membuat cinta menjadi bahagia dan manis."
Aku menoleh.
"Tetapi ada kau harus sadar bahwa cinta itu hanyalah ujian yang berat yang harus kau lalui."
Mata violet menatap lurus ke arahku.
Aku tidak mengenal siapa laki-laki di depanku ini. Rambutnya berwarna abu-abu, senada dengan jubah panjangnya. Di tangan kanannya ia memegang tongkat. Penampilannya sederhana, tetapi dia punya aura yang sangat kuat yang menyelimutinya. Aku teringat dengan sejarah yang pernah kubaca mengenai Siluman Rubah Putih dan Penasihat Jiang. Melihat orang ini, entah kenapa aku jadi teringat akan penasihat yang berhasil mengalahkan Siluman Rubah Putih itu dan membawanya ke akhirat untuk diadili. Tetapi kejadian itu sudah berlangsung ribuan tahun lalu, dan seharusnya Penasihat Jiang sudah meninggal sekarang.
Tetapi, apa benar yang kulihat sekarang ini adalah Penasihat Jiang itu? Aku punya perasaan begitu, terutama dengan aura kebijaksanaan yang melingkupinya. Wajahnya menjadi muda... apa karena ia mendapatkan kehidupan abadi setelah membantu Langit mengalahkan Siluman Rubah Putih?
Tanpa sadar kepalaku mengangguk menyetujui perkataannya. Tetapi selain itu aku membuka mulutku untuk pertama kalinya setelah sekian lamanya berdiam diri. "Siapa kau?" Tanyaku dengan nada sehalus mungkin.
Dia membungkuk dengan sikap hormat padaku, baru sesudah itu memperkenalkan diri. "Aku adalah abdi Langit. Namaku Jiang Ziya atau Jiang Taigong, biasa disebut Taigong Wang."
Abdi Langit. Ternyata benar dia mendapatkan tugas itu sesudah berhasil mengalahkan Siluman Rubah Putih. Dan dari situlah ia mendapatkan kehidupan abadinya sehingga ia sama sekali tidak terlihat tua. Tetapi sampai disitu, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku hanya bisa terdiam sambil menunduk tanpa mengatakan apapun.
"Feng," Panggilnya lagi. Aku tidak tahu ia memanggil siapa, tetapi berhubung yang ada di tempat ini hanya aku saja, aku merasa dia sedang memanggilku. Bukannya menyampaikan sesuatu yang serius, dia malah tertawa kecil. "Maaf, aku hanya merasa aneh melihatmu tidak seperti biasanya."
Aku tersenyum mendengar perkataannya, meskipun sebagian perkataan itu tidak aku mengerti maksudnya. Tetapi sepertinya aku bisa mempercayainya. "Taigong Wang," Aku menyebut namanya untuk pertama kalinya. Tetapi kalau kata-katanya itu benar, berarti mungkin aku pernah melakukannya sebelumnya. "Aku bukan Feng." Sangkalku
Taigong Wang sama sekali tidak terkejut mendengar perkataan itu. Jadi aku melanjutkan. "Aku hanya diberikan kekuatannya, bukan 'aku adalah dia'."
Tongkat yang ia pegang sekarang ia mainkan sendiri, sambil menjawab pertanyaanku. "Manusia memang sering salah mengartikan itu." Katanya. "Mereka bilang seseorang akan 'diberi' kekuatan Feng dan Huang. Tetapi hanya sedikit sekali yang tahu sebenarnya."
"Jadi maksudmu..." Aku bertanya dengan dahi berkerut. "Aku adalah Feng?"
Dia hanya mengangguk ringan seolah itu adalah kabar biasa saja. Seolah dia mengatakan bahwa matahari terbit di sebelah timur.
"Dua tetapi satu. Kau adalah Feng, dan Feng adalah kau." Jelas Taigong Wang. "Kau adalah Feng sebagai manusia. Apa kau tidak tahu? Phoenix itu adalah makhluk akhirat yang tidak akan pernah bisa dilihat atau ditemui siapapun. Kalau bisa pun, tidak akan yang berani padanya." Ia berjalan mendekatiku. Tongkatnya itu bersentuhan dengan lantai kaca setiap langkah yang ia jalani. "Saat ini, kau adalah manusia yang adalah Feng itu sendiri. Kau bukan pemilik kekuatannya, kau juga bukan titisannya, tetapi kau adalah Feng itu sendiri."
Aku terkejut. Terlalu terkejut sampai tidak ada satu katapun keluar dari mulutku. Jadi apa yang dikatakan T'an Mo waktu itu memang benar.
"Hal yang sama juga terjadi pada Huang." Sambungnya lagi.
"Katakan kalau itu bohong." Kataku tanpa ekspresi sedikitpun. Sejujurnya aku tidak tahu harus senang atau sedih, harus tertawa atau menangis, harus lega atau kecewa.
Taigong Wang menatapku lagi, kemudian ia menghela nafas. "Aku bersumpah demi Langit aku tidak berbohong, terutama pada kau, Feng."
Dalam suaranya ada kejujuran dan kesungguhan. Aku tahu dia tidak bohong. Dan lagi, kenapa dia harus membohongiku? Apa ada untungnya dia melakukan itu? Hanya saja... kata-katanya itu terlalu tidak masuk akal. Aku pun akhirnya membantah pernyataan itu. "Lalu... bagaimana saat pertama kali aku diserang Phoenix..."
Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Taigong Wang sudah menyela. "Sudah kubilang. Kau dan dia adalah dua, tetapi satu. Kau adalah Feng, dan Feng adalah kau."
"Aku tidak mengerti."
"Kau belum mengerti." Dia mengoreksi kata-kataku.
Sesulit apapun kenyataan itu kuterima, aku tahu kata-katanya itu benar adanya. Tapi, apa akan mengubah sesuatu? Lalu kenapa kalau aku Feng? Dan kalau Yangmei adalah Huang? Antara 'memiliki kekuatan mereka' dan 'adalah mereka sendiri', apa bedanya?
"Kau tetap Lu Xun." Katanya sekali lagi. "Tetapi kau juga adalah Feng."
Itulah yang dikatakannya.
"Lalu?"
Dia terdiam, seolah memintaku menjelaskan maksud pertanyaanku. Aku mengulanginya. "Lalu apa perbedaannya?"
"Perbedaannya adalah..." Jawab Taigong Wang. "kau belum boleh kembali sebelum tugasmu selesai. Tugasmu jauh lebih berat daripada sekedar menjaga dan melindungi Huang, atau yang sekarang kau kenal dengan nama Yangmei."
Kembali... itu katanya. "Aku memang tidak sedang kembali kemanapun." Sahutku.
Taigong Wang menggelengkan kepala. "Kau sedang berjalan kembali."
"Siapa kau sebenarnya?"
Dengan sebuah pertanyaan itu, akhirnya dia mengakuinya. "Aku adalah abdi Langit yang membawa jiwa-jiwa ke akhirat, atau membawa ke dunia." Jawabnya tegas. "Tetapi aku tidak punya kuasa apapun untuk membawa atau mengusirmu. Yang aku ingin katakan padamu adalah, sekarang belum waktunya untuk pulang."
Jadi, aku bisa bertemu dengan Yangmei lagi?
"Kembalilah kemana kau seharusnya berada."
Aku bisa bersamanya lagi.
Tetapi Taigong Wang seolah tahu apa yang ada di kepalaku. "Tapi, Feng, aku harus mengingatkanmu sekali lagi bahwa tujuanmu bukan saja untuk menyelamatkan Huang, tetapi juga..."
Aku mengangguk dan tersenyum. Entah bagaimana, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Sebagai Feng, tugasku memang bukan hanya menyelamatkan Huang yang adalah Yangmei sekarang. Namun pada saat yang sama, aku harus melakukan apa yang harus dilakukan Phoenix sekarang. Aku yang sekarang tahu apa tujuanku. Sekarang yang harus kulakukan sudah jelas di depan mataku, hanya tinggal menjalaninya saja. "...membawa kedamaian ke China."
Sekali lagi Taigong Wang tersenyum. "Kau bisa melakukannya?" Tetapi dia cepat-cepat meralat pertanyaannya. "Maaf, aku tahu kau bisa, Feng. Bahkan meskipun sebagai manusia."
Perkataannya itu... aku tidak tahu kenapa tetapi sepertinya sesuatu di dalam diriku terbangun. Aku kali ini menjawabnya, bukan hanya sebagai Lu Xun lagi tetapi sebagai Feng. Dan mulailah aku menyadarinya dengan pasti sekarang. Aku bukan pemilik kekuatan Feng, bukan juga titsannya, tetapi aku adalah dia sendiri.
"Taigong Wang, justru aku akan bisa melakukannya ketika aku hidup sebagai manusia."
Sebaris pernyataan itu menimbulkan reaksi terkejut darinya. Tetapi ia membalas senyumanku dengan senyuman yakin. Dia percaya akan kata-kataku. "Sebagai manusia atau sebagai Phoenix, kau tetap sama saja. Tidak berubah."
Entah apa yang tidak berubah dariku, dia tidak menjelaskannya.
"Aku akan segera kembali," Kataku padanya. "setelah aku melakukan apa yang harus kulakukan. Dan aku pasti akan berhasil."
Dengan begitu aku berbalik pergi. Aku belum selesai. Ada banyak hal yang masih belum kukerjakan...
-o-o-o-o-o-o-
Mataku terbuka perlahan.
Entah berapa lama aku sudah tertidur, tetapi sesudah pertemuanku dengan Taigong Wang di tempat tak bernama itu, aku merasa sudah bertahun-tahun lewat. Kepalaku sedikit pening, tetapi ini tidak lebih dari sekedar rasa ngantuk setelah tidur panjang. Sebelum aku membuka mata, aku hanya melihat pandanganku yang kabur dipenuhi cahaya warna-warni sebelum akhirnya lingkunganku menjadi jelas sepenuhnya.
Tubuhku ternyata terbaring di sebuah ranjang. Kupikir setelah semua kejadian ini, aku akan mati, atau masih tetap seekor kucing. Namun alangkah kaget dan senangnya aku saat melihat tubuhku kembali menjadi manusia. Tidak hanya itu, aku menemukan diriku dibalut baju tidur yang lembut, tubuhku diselimuti selimut hangat di atas pembaringan yang nyaman. Aku bingung, apakah aku sudah di Wu sekarang?
Tapi aku ingat benar dimana aku sekarang. Ini Wei, bukan Wu.
Heran, kenapa orang-orang Wei itu bisa berbaik hati padaku? Kukira jika mereka berhasil menangkapku, mereka akan memasukkanku dalam penjara, atau mungkin akan langsung membunuhku. Mungkinkah... ini karena Yangmei? Atau lebih buruk lagi... mereka sudah tahu aku ini Feng?
Pikiran itu sirna ketika pandanganku bertemu dengan beberapa orang dayang Wei yang menatapku dengan mata lebar karena terkejut. Saat melihatku, mereka langsung heboh sendiri.
"Cepat! Cepat panggil Yang Mulia Cao Pi kemari!"
Oh, tidak...
Aku tidak bisa mengatakan apapun di sini. Meskipun mereka memperlakukan aku dengan segala kenyamanan ini, aku tahu mereka tetap menganggapku sebagai tahanan. Jadi aku hanya duduk sambil memandangi lantai, sementara dayang-dayang itu lagi-lagi sibuk sendiri melakukan tugasnya. Mereka berbisik-bisik satu sama lain sambil melirik ke arahku sekali-sekali.
Kupandangi ruangan dimana aku berada sekarang. Kamar ini luas, mungkin dua kali lebih luas daripada kamarku dulu di istana Wu di Jian Ye. Dekorasinya indah, ada berbagai hiasan yang digantung di lantai, juga vas-vas indah yang mahal di sudut-sudut ruangan. Antara ruang dalam dan ruang luar dipisahkan oleh tirai kain yang tipis selain selambu-selambu pembaringan. Sebuah meja dengan segala perabotnya ada tepat di pusat ruang luar itu.
Tidak berapa lama, Cao Pi, dengan Sima Yi yang selalu mengekor dibelakangnya, masuk ke kamarku. Aku menatap mereka sekilas. Mereka sepertinya senang melihatku tidak bisa melakukan apa-apa sekarang meski aku kembali jadi manusia.
"Lihat ini..." Ini dia. Mereka mulai mengejekku lagi. Dan aku... aku hanya bisa menerima itu tanpa membalas. "Kucing kecil ini sudah bangun sekarang."
Sima Yi tertawa mendengar perkataan pangerannya. Bagiku, tidak ada yang lucu dalam kata-katanya. "Sayang dia bukan kucing lagi sekarang." Aku membuang muka melihat senyum mengejeknya itu. "Pus... pus... meow..."
Saat melakukan itu, mereka kelihatannya puas sekali. Mereka tertawa menang saat melihatku hanya bisa mendesah dalam kekalahan. Benar, apa yang bisa kulakukan sekarang?
"Mungkin dia sedih kehilangan majikannya..." Ejek Cao Pi lagi.
Benar! Bagaimana dengan Yangmei? Aku cepat-cepat menoleh ke arahnya. Mataku melebar oleh kekhawatiran dan ketakutan. Melihat ini, seringai mereka semakin lebar saja. "Mana Meimei? Bagaimana keadaannya?"
Cao Pi menjawab pertanyaan itu dengan nada congkak, seperti biasa. Namun kali ini ia terdengar seperti merendahkanku. "Meimei... Meimei...! Dengar, sekarang kau tidak boleh memanggilnya Meimei lagi. Mulai sekarang kau harus memanggilnya Selir Muda Sun." Aku terkejut mendengar ini. Rupanya Yangmei benar-benar bersedia menikahi bajingan Wei ini. "Dia sudah menjadi istriku sekarang, Lu Xun."
"Istri..." Aku mengulang kata-kata itu lagi. Yangmei... kenapa dia harus menjadi istri orang sejahat Cao Pi? Dia pantas memilih siapapun untuk menjadi suaminya. "Kau memaksanya, kan? Kau hanya memiliki tubuh tapi bukan hatinya." Balasku dengan nada sedingin mungkin.
"Sebentar lagi dia akan melupakanmu, Lu Xun." Ujar Cao Pi lagi. "Kalau setiap hari dia tidak kuizinkan bertemu denganmu, pasti dia akan melupakanmu. Setiap hari dia hanya akan melihatku saja."
"Melihatmu akan membuatnya muntah." Aku tersenyum sekilas saat membalas perkataannya. "Kau kira dia hanya akan semudah itu melupakanku hanya demi kau?"
Aku yakin benar akan hal ini. Jadi aku mengatakannya dengan keyakinan penuh. Cao Pi sepertinya tahu perkataanku benar, dan dia hanya bisa mengepalkan tinjunya tanpa melayangkannya karena marah. "Kalau seandainya Yangmei tidak memintaku untuk tidak melukaimu, kau pasti sudah tinggal onggokan daging sekarang."
Yangmei? Jadi... Cao Pi tidak membunuhku sekarang karena Yangmei menyuruhnya begitu? Jadi, demi itukah dia setuju menikahi Cao Pi? Agar aku bisa hidup? Yangmei... tanpa kusadari dia semakin cerdik. Dan pada saat yang bersamaan, aku senang sekali. Dia berusaha menyelamatku. Dia menyayangiku juga. "Kalau begitu, benarlah perkataanku." Aku mengatakannya pada Cao Pi dengan suara menantang. "Dia masih belum bisa melupakanku. Bahkan tujuannya sebenarnya menikahimu adalah supaya aku bisa hidup sampai sekarang."
Cao Pi tersenyum mengejek. "Dan kau kira itu akan berlangsung lama? Tidak. Kau kira kau bisa melakukan sesuatu sekarang? Jangan karena kau boleh tinggal di tempat sebagus ini dan bukan penjara, kau bisa berlaku seenaknya. Kau disini hanya seperti tahanan saja, dan untuk selamanya kau tidak akan kuizinkan bertemu Yangmei."
Aku memicingkan mata, menatapnya dengan tajam. Kata-katanya memang benar. "Asal masih bisa hidup, tidak ada satu hal pun yang tidak mungkin." Balasku. "Dengar, Cao Pi. Sekarang wujudku sudah bukan kucing lagi. Tidak lama lagi, aku akan membawa Yangmei pergi dari sisimu. Aku tidak mungkin akan membiarkannya sendirian bersamamu." Aku mengatakannya dengan nada mengancam, tetapi ini bukan sekedar ancaman. Ini janji, baik untuk diriku, Cao Pi, dan juga untuk Yangmei dimanapun ia berada sekarang.
Perkataanku ini membuat Cao Pi melayangkan tangannya ke wajahku. Aku tidak bergeming sedikitpun. Kalau aku sudah pernah mengalami siksaan yang lebih parah, untuk apa aku takut hanya dengan satu tamparan dari Cao Pi saja? Pangeran Wei itu mendaratkan satu tamparan di pipiku, tetapi aku tahu benar untuk tidak melakukan apa-apa selain tetap menatapnya dengan tajam. Ini mumbuat Cao Pi akan menamparku lagi. Nyaris.
Sima Yi-lah yang menghentikannya. "Yang Mulia! Selir Muda Yangmei bilang anda tidak boleh menyakitinya, kalau tidak ia tidak akan memberikan kekuatannya pada kita."
"Anjing Wu ini masih belum mengaku kalah..." Geramnya marah. Ia menghentikan serangannya saat mendengar peringatan Sima Yi. Akhirnya ia menurunkan tangannya dan berbalik meninggalkanku dengan langkah lebar, diikuti Sima Yi. Pintu dibanting keras-keras sebelum aku menemukan ketenanganku lagi.
-o-o-o-o-o-o-
Yangmei
Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang. Aku benar-benar seperti burung dalam sangkar. Sebenarnya bukan masalah bagiku, toh siapa juga yang ingin keluar dari kamar ini dan bertemu dengan orang-orang Wei itu? Tapi hal ini menjadi masalah ketika aku tidak dapat lagi bertemu dengan Lu Xun. Lagipula, Cao Pi sudah merencanakan semuanya. Berhubung istana Wei ini sangat luas, ia menyiapkan kamar untukku di sebelah paling ujung selatan, sementara kamar Lu Xun di ujung utara.
Sampai sekarang kata-katanya itu masih terekam di kepalaku.
"Kau tidak boleh bertemu dengannya."
"APA? Kenapa begitu?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kau akan segera melupakannya kalau kau tidak melihatnya lagi."
"Kau kira semudah itu membuatku melupakannya? Aku cinta setengah mati pada Lu Xun! begitu juga Lu Xun! Kalau bukan aku yang membawa kami berdua keluar, maka pastilah dia yang akan menyelamatkanku!"
"Hmph, kita lihat saja."
Sesudah itu, dia langsung pergi meninggalkanku sendiri. Aku kesal bukan main. Tetapi apa lagi yang bisa kulakukan? Sedikit saja salah langkah, aku akan membayahakan diriku sendiri dan Lu Xun, entah dimanapun dia sekarang.
Di istana ini, tidak ada seorang pun yang baik. Tidak ada. Mungkin hanya Lu Xun saja satu-satunya manusia yang kuharapkan di tempat asing ini. Dayang-dayang yang seharusnya melayaniku memang menghormatiku sebagai selir muda Cao Pi, tetapi sikap mereka sangat dingin, mungkin karena aku dari Wu. Yah, memang aku musuh mereka, dan aku bangga mengakuinya. Tapi, mungkin dari semua wanita yang ada di istana ini, yang paling kubenci adalah Putri Zhen Ji, istri pertama Cao Pi.
Setiap hari dia selalu datang ke kamarku, menuding dan menuduhku merebut suaminya. Maaf saja, tapi aku bukan orang yang sabar dan sopan santun. Aku adalah Yangmei si Mei Da Mei Xiao – Tidak Tahu Sopan Santun. Jadi, kenapa aku harus diam saja sementara dia mengejekku? Aku selalu, tidak pernah tidak, balas mengejeknya.
Seperti hari ini.
Pintu didobrak keras-keras, dan aku tahu siapa yang akan muncul. Zhen Ji bersama beberapa orang dayangnya. Di tangannya ia menggenggam cambuk yang adalah senjatanya. Hmph, dia kira aku takut dengan senjatanya yang seperti mainan itu? Asal tahu saja, aku juga masih membawa piao di tanganku. Jadi, kalau dia berani melayangkan cambuknya, aku tidak akan segan-segan melemparkan piaoku ke wajahnya yang selalu dia bangga-banggakan karena kecantikkannya itu.
Maaf saja, dia memang cantik, cantik sekali. Tapi Lu Xun pernah berkata aku adalah gadis tercantik yang pernah ditemuinya. Jadi, menurutku sih, aku tetap gadis yang paling cantik!
"Hmph! Selalu bersembunyi seperti biasa! Dasar Wu pengecut!"
Dia yang memulai. "Hei! Aku dari tadi berdiri di sini terus sampai kakiku kesemutan! Bagaimana bisa kau tidak melihatku? Dimana matamu memangnya? Di bokong?" Balasku sambil menjulurkan lidah. Aku senang sekali melihat wajahnya yang berkerut karena marah. Dia boleh saja lebih tua dariku tujuh tahun, tapi aku tidak akan kalah dari nenek sihir tua ini.
Dengan langkah lebar dia menghampiriku, dan baru berhenti setelah jarak di antara kami mungkin hanya tinggal selangkah. Matanya menatap lurus ke arahku, begitu juga denganku. "Aku tidak peduli kau sebenarnya Putri di kerajaan Wu. Tapi disini kau cuma selir! Istri muda! Jadi jaga lidahmu itu sebelum aku potong!"
"Potong saja kalau berani!" Tantangku sambil menyilangkan tangan. "Kalau kau ingin kulaporkan pada Cao Pi dan diceraikan."
Sebelum tangan Zhen Ji melayang, kasim-kasim di luar kamarku berseru bersahut-sahutan. "Yang Mulia Pangeran Cao Pi tiba! Penasihat Sima Yi tiba! Jendral Zhang He tiba!"
Ketiga orang yang disebutkan itu masuk. Bagus, bukan hanya aku berhadapan dengan seorang nenek sihir, tapi aku juga harus menghadapi iblis berjubah pangeran dan pengikutnya yang licik ini... ditambah seorang pengkhianat yang membuatku sampai di istana terkutuk ini. Zhen Ji langsung menekuk lutut dan menunduk dalam-dalam di depan suaminya yang sama brengseknya dengannya. Tapi aku, aku tidak merubah posisi tubuhku sedikitpun. Biar dia tahu bahwa aku tidak semudah itu ditaklukan.
"Yang Mulia..." Zhen Ji memulai. "Ada apa mampir kemari?"
"Ini adalah kamar selirku. Kapanpun aku mampir, bukan urusanmu." Jawabnya dingin, membuatku tersenyum menang sementara Zhen Ji hanya menggertakkan gigi karena marah. "Sebenarnya, apa yang kau lakukan disini?"
Zhen Ji menggeleng kepala. "Tidak... hanya ingin berkenalan dengan Selir Muda Sun."
"Kau lebih baik jangan bohong, terutama padaku." Cao Pi menatapku seperti menanyakan, tetapi aku langsung membuang muka. Lebih baik bertemu seribu Zhen Ji daripada satu Cao Pi.
"Kau bisanya hanya mengintrograsi orang saja." Sahutku tiba-tiba. "Sekarang gantian aku yang tanya. Barusan kau kemana saja?"
Semua yang berada di ruangan itu terkejut. Tapi biarlah. Aku mengulanginya lagi. "Hei! Punya telinga tidak! Aku sedang bicara denganmu!"
"Heh." Cao Pi tertawa pelan. "Kurasa aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Tapi karena kau ingin tahu, akan kuberi tahu." Dia diam sejenak. "Aku baru saja menemui Lu Xun."
Kali ini mataku terbuka lebar. Menemui Lu Xun? Apa maksudnya dengan menemui? Apa lagi yang dilakukannya? Apa dia tidak bisa meninggalkan Lu Xun seorang diri tanpa perlu mengganggu atau bahkan menyiksanya? "Kau apakan Lu Xun?" Seruku sambil menerjangnya, nyaris mencekiknya kalau dua orang dayang tidak terlebih dahulu menahanku. "Kalau kau macam-macam padanya, aku..."
Dia memotong ucapanku. "Tentu saja tidak, Yangmei." Jawabnya. "Aku hanya ingin melihat keadaannya saja."
"Bohong!" Teriakku. "Kau pasti memukulinya lagi seperti biasa kan? Atau setidaknya kau datang cuma untuk mengejek dan mempermalukannya saja! Ya kan?"
Cao Pi berbalik, diikuti Sima Yi dan Zhen Ji. Pangeran Wei brengsek itu tersenyum menang. "Apapun yang kulakukan, itu bukan urusanmu." Kemudian dia berjalan keluar dari kamarku. "Dan sebaiknya yang perbaiki sifatmu yang tidak tahu adat itu. Kami orang-orang Wei punya sopan-santun, tidak seperti orang Wu yang tingkahnya seperti binatang."
Aku menjatuhkan diriku di atas sebuah kursi sambil menggebrak meja keras-keras. "BAJINGAN!" Seruku tanpa menyadari seseorang masih ada di kamar itu. Zhang He duduk di kursi lain di depanku, tetapi tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Mau apa kau?" Sentakku. "Cepat pergi!"
Zhang He hanya tersenyum. "Kau masih marah padaku?"
"Bahkan sampai matipun aku tidak akan memaafkanmu." Jawabku tegas.
Jendral Wei itu kemudian menyuruh semua orang yang ada di tempat itu untuk keluar. Mungkin dia akan mengatakan sesuatu yang rahasia? Dan dia mengusir dayang-dayang supaya tidak ada yang mendengar kami? Setelah hanya kami berdua saja yang ada di ruangan itu, dia melanjutkan. "Dengar. Waktu itu aku sama sekali tidak sengaja. Aku hanya tahu bahwa Pangeran Cao Pi mencari calon istrinya yang hilang."
Aku tidak mengatakan apa-apa.
"Aku bersumpah." Katanya dengan sungguh-sungguh. "Kalau aku tahu begini cerita aslinya, aku tidak akan menyerahkanmu padanya."
"Kau kan musuhku?" Tanyaku padanya. "Jadi kenapa aku harus percaya padamu?"
"Sejak zaman dahulu, di China banyak kejadian seperti ini. Saat Liu Bang pada zaman Dinasti Qin kalah perang dari Mao Dun, dia harus menyerahkan putrinya untuk menjadi selir Mao Dun. Kedua belah pihak sama sekali tidak memikirkan perasaan putri tersebut yang memiliki seorang kekasih, yang cintanya terpaksa putus di tengah jalan hanya karena hal itu." Jelas Zhang He panjang lebar. Entah kenapa cerita itu sangat mirip dengan keadaanku. "Sama denganmu. Aku tidak tahu sama sekali bagaimana kau bisa dipaksa menikah dengan Cao Pi, tapi aku sangat tidak setuju jika ada orang yang memaksakan kehendak orang lain untuk menjadi pasangan hidupnya. Cinta adalah perasaan yang kuat, dan merebut seorang gadis dari pria yang sebenarnya ia cintai itu sungguh kejam! Karena itulah aku ingin membantumu."
Untuk sesaat aku terdiam sambil mengamati wajahnya. Dia sedang bersungguh-sungguh, dan sepertinya dia tidak akan bohong padaku. "Baiklah." Kataku padanya. "Sekarang bagaimana caranya kau bisa membantuku?"
"Mana bisa aku membantu kalau aku tidak mengerti ceritanya?"
Jadi, aku mulai menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir. Sepertinya Zhang He tidak keberatan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengarkanku. Dia mengangguk beberapa kali sementara aku bercerita, dan hampir tidak berkomentar sama sekali.
"Sepertinya susah." Katanya pada akhirnya sesudah aku selesai. "Jadi sekarang kau ingin bertemu dengan Lu Xun?"
Aku mengangguk mantap. "Ya! Lebih dari segalanya." Kemudian aku melanjutkan. "Kalau aku bisa bertemu dengannya, aku akan mengatakan banyak hal. Aku mau minta maaf padanya karena selalu membuatnya menderita. Aku juga ingin berterima kasih padanya karena sudah berulang kali menyelamatkanku." Aku tidak sedang melebih-lebihkan, aku sungguh-sungguh dengan perkataanku. Kalau dipikir, apa yang sudah kulakukan untuknya selama ini selain merepotkannya bahkan membuatnya susah terus?
"Baiklah kalau begitu." Kata Zhang He sesudah beberapa saat berpikir. "Mungkin tidak seberapa, tapi aku akan membantumu sebanyak yang aku bisa. Tulislah surat untuknya, lalu titipkan padaku dan aku akan menyerahkannya padanya."
Aku hampir melompat karena girang. Tetapi mungkin karena banyak kali ditipu orang lain, aku jadi lebih waspada, terutama di saat aku tidak sedang bersama Lu Xun. "Apa kau tidak akan membacanya? Apa kau tidak akan menyerahkannya pada Cao Pi bajingan tengik itu?"
Zhang He hampir tertawa mendengar panggilanku pada Cao Pi. "Tidak akan. Kau masih belum percaya?"
Pada akhirnya aku hanya bisa menggigit bibir. Mungkin kali ini dia bisa dipercaya. Lagipula, waktu itu dia tidak bermaksud jahat, kan? Dia hanya tidak sengaja mengkhianatiku. Jadi, aku langsung mengambil kertas dan kuas serta bak tinta, kemudian mulai menulis.
Sial, ternyata memang jauh lebih susah dari yang kubayangkan. Aku tidak tahu bagaimana cara menulis surat yang indah dan enak dibaca, karena waktu kecil dulu aku tidak suka belajar, bahkan meskipun Lu Xun sudah bersedia mengajariku. Sekarang aku mengerti kenapa dia terus-terusan memaksaku. Itu semua demi kebaikanku sendiri. Kalau mungkin waktu itu aku giat belajar, sekarang aku sudah bisa menulis dengan kata-kata puitis yang indah. Sayangnya, kosa kataku tidak sebanyak itu.
Zhang He membantuku menulisnya. Dengan bantuannya itu, aku tidak perlu sampai mengulanginya lagi dan lagi. Sampai hari sudah petang baru surat itu dilipat dengan rapi dan disembunyikan di balik bajunya.
"Baiklah, Yangmei. Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik." Katanya sebelum pergi.
"Ya! Hati-hati juga!" Balasku melambaikan tangan sambil menatap kepergiannya, seiring dengan surat yang telah kutulis. Aku hanya berharap surat itu sampai pada Lu Xun.
-o-o-o-o-o-o-
Lu Xun
Malam ini langit sangat cerah. Aku keluar dari kamarku meski aku tahu Cao Pi pasti tidak akan suka melihatnya. Tapi, siapa peduli dengannya? Mungkin saat ini dia sedang sibuk mengurusi kerajaannya. Apa dia sampai punya waktu luang sebanyak itu untuk mengangguku lagi? Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sambil menikmati pemandangan malam.
Istana Wei memang jauh berbeda dari istana Wu. Tempat ini dikelilingi oleh tembok yang tinggi, seperti benteng saja. Bahkan tidak ada taman hijau yang penuh dengan bunga-bunga seperti di Wu. Yang ada disini hanyalah lantai batu yang berukir naga. Memang tempat itu megah, tetapi tidak hangat seperti di Wu. Orang-orang yang melihatku langsung menjauh, bahkan beberapa pengawal yang ada di sana berbisik-bisik. Aku tahu mereka sedang mengejekku.
Perlahan kudengar suara derap kaki yang semakin mendekat. Sepertinya ada seseorang yang menghampiriku. Aku berbalik dan melihat seseorang dengan wajah yang sangat familiar. Kalau tidak salah namanya Zhang He, jendral Wei yang berani-beraninya menyentuh Yangmei dan bahkan membawa kami ke tempat ini. Melihat kedatangannya membuat emosiku meluap-luap.
"Kau..." Hanya itu yang keluar dari mulutku.
"Zhang He, seorang jendral Wei." Katanya sambil membungkuk sedikit. Mau apa dia sekarang? "Mungkin kau tidak akan percaya padaku, Lu Xun, tapi..."
Aku langsung membuang muka. "Memang tidak akan pernah. Sekarang pergilah, atau aku saja yang pergi?"
Saat aku akan meninggalkan tempat itu, Zhang He menarik lenganku. "Dengarkan aku dulu!" Sentaknya membuatku berbalik. Aku berusaha melepaskan diri, tetapi bukan hanya ia lebih tinggi dariku tetapi ia juga lebih kuat. Kurasa tidak ada gunanya memberontak selain hanya mengundang kecurigaan dari orang lain. Untung tempat itu sepi sekali.
"Bagus. Sekarang jangan melawan lagi." Lanjutnya. Aku hanya menatapnya dengan tatapan tajam. "Aku tahu susah untuk mempercayaiku, Lu Xun. Aku sudah membawamu dan Yangmei kemari. Tetapi itu kulakukan karena aku sama sekali tidak tahu apa-apa." Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Selembar kertas, entah apapun itu. "Aku berusaha menebus kesalahanku sebisanya dengan menjadi 'pengantar pesan' antara kau dan Yangmei. Kudengar dari Yangmei kalian tidak bertemu sejak perang di He Fei."
Berarti... kertas itu adalah surat dari Yangmei? "Jadi itu..."
"Ya, ini dari Yangmei untukmu." Katanya sambil menyerahkan kertas itu padaku.
Surat itu belum kubuka. Aku hanya terdiam sejenak. Jendral Wei didepanku ini, meskipun memang benar ia yang telah membuat kami di sini sekarang, aku bisa merasakan ketulusannya. Untuk apa dia susah-susah datang kemari hanya untuk menjadi penyampai pesan antara aku dan Yangmei? Belum lagi kalau ketahuan, dia akan disangka pengkhianat. Dalam hati aku tersenyum, rupanya di Wei ini masih ada orang yang memiliki simpati padaku. "Terima kasih, Jendral Zhang He."
Dia terlihat kaget, tetapi langsung menyahut lagi. "Sebaiknya sekarang kita ke kamarmu sambil kau baca surat itu. Aku akan mengirim surat balasan darimu dan langsung pergi dari tempat ini."
Kami berdua berjalan kembali. Surat itu kusimpan baik-baik di dalam bajuku agar tidak ada orang yang melihatnya. Mengenai itu, sekarang baju yang kukenakan bukan lagi baju yang biasa kupakai di Wu. Baju yang kupakai sekarang berwarna biru, warna khas Wei. Aku merasa semakin jauh dari tempat asalku.
"Nah, sekarang bacalah." Katanya sesudah kami sampai dan menyuruh seluruh dayang dan pengawal keluar. Aku membuka surat itu dan membaca setiap barisnya, berulang-ulang sampai kepalaku bisa menghafal setiap baris surat itu.
Lu Xun,
Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana harus memulai menulis. Aku merasa benar-benar bodoh. Gara-gara aku, semua ini akhirnya terjadi. Kamu pasti sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat marah sekali padaku. Aku minta maaf, ya? Kalau kita bertemu, kamu boleh menghukumku apa saja, kok. Aku tidak akan protes lagi karena ini memang salahku.
Ternyata selama ini kamu adalah kucing yang setiap hari kubawa-bawa. Bodoh sekali aku tidak menyadarinya. Tapi, satu hal yang aku tahu adalah aku yang membuatmu mengalami hal itu.
Lu Xun, kalau kupikir-pikir, selama ini aku memang kejam. Aku jahat sekali padamu. Kamu selalu baik padaku, tidak pernah sekalipun mencelakakanku, bahkan selalu menolongku. Aku ingat waktu dulu kita kecil, kamu berkali-kali membelaku di depan papa mama kalau aku nakal. Tidak dulu, tidak sekarang, aku selalu mengulanginya. Aku tetap saja nakal, aku tetap saja bodoh dan ceroboh. Dan gara-gara itu, kamu berkali-kali harus menolongku. Sebenarnya, apa sih yang membuatmu melakukan hal sebanyak itu untukku?
Aku tahu sekarang kamu pasti sangat kesepian. Kamu pasti kecewa dan sedih. Bukan hanya itu, kamu pasti berkali-kali dijahati Cao Pi, kan? Kamu pasti merasa sendirian dan ingin kembali ke Wu, kan? Jangan salah, aku pun merindukan Wu. Aku muak disini. Tapi, dibandingkan Wu dan segala isinya, aku jauh lebih merindukan kamu.
Biasanya kalau aku kesulitan tidur, tanganmu yang akan menjadi bantalku dan tidak lama kemudian aku pasti akan tertidur. Kalau biasanya aku kedinginan, pelukanmu yang akan menghangatkan badanku. Tidak ada keduanya membuatku merasa aneh, aku tidak terbiasa dengan itu. Cao Pi si brengsek bilang dia menempatkanmu di tempat paling selatan, di dekat Tai He Men – Gerbang Tai He, ya? Sementara kamarku di daerah paling utara dekat Shen Wu Men – Gerbang Shen Wu. Meski masih dalam satu istana, tapi aku merasa kita sudah seperti dipisahkan di dua belahan dunia yang beda.
Aku bisa saja malas belajar, malas bersopan-santun, malas berlatih, malas menghafalkan semua ajaran Kong Fu Zi. Tapi ada satu hal yang aku tidak akan malas. Aku tidak akan malas untuk merasa kangen padamu, tidak peduli seberapa sakitnya menunggumu. Tapi aku percaya kamu pasti akan mencariku, kan? Jadi aku pasti akan menunggumu.
Maaf, gara-gara malas belajar, suratku jadi tidak puitis bergini. Suratku ini tidak bisa mengatakan semua kekangenanku. Tapi kamu pasti bisa merasakannya, karena aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama.
Meimei
Aku tidak merasakan mataku mulai berair. Tinta di kertas itu luntur tak karuan saat airmataku mendarat di atasnya. Saat membaca, aku bukannya merasa terhibur. Hatiku malah semakin terasa sakit. Yangmei pasti benar-benar menderita saat ini. Dia benar-benar kesepian. Aku mungkin saja kesepian, tapi aku masih bisa menghadapi semua ini. Entah sudah berapa tahun kulalui seorang diri tanpa ada yang mempedulikanku. Sementara Yangmei, Yangmei belum pernah sekalipun merasa kesepian. Selalu saja ada orang menemaninya.
"Lu Xun..." Aku mendengar Zhang He mendesah pelan, kemudian merebut surat itu dengan paksa dari tanganku yang menggengamnya lunglai, kemudian langsung membakarnya di atas sebuah lentera. "Maaf, tapi kalau ada yang tahu surat ini, bisa celaka."
Aku juga tahu tentang itu. Perlahan airmataku kuseka. Mulutku masih terkunci rapat, tidak bisa mengatakan apapun. Zhang He menepuk bahuku. "Kau tidak mau membalas suratnya?"
"Apa yang harus kukatakan padanya?" Tanyaku balik.
"Setidaknya kau bisa berkata padanya tidak perlu mengkhawatirkanmu." Jawabnya sambil tersenyum. "Tadi Yangmei juga tidak tahu apa yang harus ia katakan, tapi sekali menulis tangannya tidak bisa berhenti."
Sebentar saja aku memikirkannya, sebelum mengambil peralatan tulis dan mulai menulis surat balasan itu untuk Yangmei. Zhang He memang benar, sesudah menulis, aku merasa tanganku tidak bisa berhenti.
-o-o-o-o-o-o-
Yangmei
Dengan hati tegang aku menunggu surat balasan dari Lu Xun. Apa Zhang He tertangkap di tengah jalan? Kurasa tidak mungkin. Atau mungkinkah Lu Xun sangat marah padaku sampai tidak mau membalas suratku? Wajar kalau dia seperti itu, tetapi aku tidak yakin Lu Xun akan melakukannya.
Pintu akhirnya terbuka, tetapi yang masuk bukan Zhang He melainkan Cao Pi. Aku mendengus kesal melihat kedatangannya. Wajahnya saja sudah cukup membuatku muak.
"Bagaimana kabarmu malam ini, Yangmei?" Sapa Cao Pi.
"Sangat buruk. Tetapi sesudah kau datang jadi jauh lebih buruk lagi." Jawabku ketus. "Kesimpulannya, kedatanganmu tidak pernah diharapkan di sini. Kalau masih tahu diri, sebaiknya cepat keluar."
Cao Pi tertawa kecil mendengarnya. "Asal tahu saja, aku tidak begitu senggang sampai harus menemuimu. Aku hanya ingin memberitahukan sesuatu, Yangmei." Dia maju selangkah, sementara aku mundur dua langkah. "Saat pernikahan dulu, Kaisar Xian dari Dinasti Han yang sah, tidak sempat datang untuk memberi selamat pada kita. Karena itu dalam waktu dekat ini beliau akan datang dan melihatmu."
"Aku bukan barang pameran." Balasku singkat.
"Aku juga tidak bermaksud memamerkanmu." Sahut Cao Pi lagi. "Tapi sebaiknya kau ubah sifatmu yang tidak tahu sopan santun itu. Kau tidak ingin dipermalukan di depan Kaisar Xian, kan?" Tanyanya sambil mengakhiri percakapan itu. Dengan demikian dia pergi.
Aku sama sekali tidak kenal Kaisar Xian. Yang aku tahu adalah, semua orang yang mengucapkan selamat atas pernikahanku dan Cao Pi kuanggap musuh, tidak terkecuali Kaisar Xian satu ini. Untuk selamanya aku tidak akan pernah mengakui diriku sebagai selirnya. Jangankan selir, istri pun tidak! Sebab satu-satunya yang akan menjadi suamiku hanya Lu Xun.
Beberapa saat sesudah menendang semua barang yang ada di kamar itu untuk menumpahkan kemarahanku, Zhang He datang. Untuk itu, lagi-lagi dia menyuruh semua dayang keluar terlebih dahulu. Dia kelihatan sangat kaget melihat tingkahku. "Wow, ada apa, Yangmei? Kau sampai marah begitu."
"Kau tidak tahu apa-apa." Balasku. "Si biadab itu memang ingin mati. Katanya beberapa hari lagi Kaisar Xian atau siapalah itu akan datang kemari untuk memberikan ucapan selamat padaku dan Cao Pi. Kenapa semua orang Wei selalu brengsek?"
Zhang He tertawa kecil. "Tidak semua orang Wei brengsek. Kalau Pangeran Cao Pi datang untuk memberikan kabar buruk, aku justru membawa kabar baik." Ia mengangkat selembar kertas, yang pastinya adalah surat dari Lu Xun. Zhang He kaget sekali saat aku menerjangnya dan langsung merebut kertas itu dengan tidak sabar. "Dari Lu Xun. Ingat, sesudah dibaca harus langsung dibakar."
Aku membuka surat itu.
Meimei,
Membaca suratmu membuatku ingin menghukum diriku sendiri. Justru akulah yang harus minta maaf. Aku gagal melindungimu, sampai kamu harus ada di sini sekarang. Aku memang kesepian, aku memang sendirian, aku memang sangat merindukanmu, tapi aku tahu kamu tidak sekuat aku. Kamu selalu suka berada di kerumunan orang, karena itulah yang membuatmu hangat. Sekali merasakan kehangatan itu, kamu jadi takut dingin. Kamu senang jika ada orang yang selalu bersamamu. Kamu takut dengan malam hari dimana kamu harus tidur seorang diri, karena itulah kamu ingin aku berada di sisimu untuk menemanimu tidur.
Tapi kamu harus tahu dua hal. Pertama, malam pasti akan datang. Kesepian pasti akan menghampirimu. Kamu pasti suatu saat akan merasa sendiri saat tidak ada orang disekelilingmu. Kedua, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kalau menurutmu sekarang aku tidak bersamamu karena aku meninggalkanmu sendiri, kamu salah besar. Bagaimanapun caranya, aku akan berusaha mencarimu. Nanti kita akan keluar dari sini bersama.
Ingatkah kamu waktu kita kecil dulu? Kita bermain petak umpet, kan? Kalau kamu tersesat, tunggulah di sana, jangan kemana-mana. Akulah yang akan mencarimu. Sekarang juga sama.
Meimei, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku tidak takut pada Cao Pi, dan aku harap kamu juga. Yang aku takutkan hanya kalau dia melukaimu. Sedikit banyak aku merasa, untuk melindungimu, itulah alasan aku dilahirkan. Karena itu, asalkan kamu tidak apa-apa, meskipun Cao Pi memperlakukanku bagaimanapun, semua akan baik-baik saja.
Aku senang kamu sadar pentingnya belajar. Kalau kita sudah keluar dari tempat ini, aku akan mengajarimu apapun yang kamu mau.
Lu Xun
Padahal aku sudah berjanji untuk tidak menangis di depan orang lain, apalagi orang Wei seperti Zhang He. Tapi... aku tidak tahan! Entah sudah berapa lama aku tidak mendengar apapun dari Lu Xun, dan baru kali ini aku bisa merasakannya mengatakan sesuatu padaku. Dengan suara tercekat aku bertanya pada Zhang He. "Zhang He, apa tadi Lu Xun menangis saat membaca suratku?"
Zhang He mengangguk. "Iya. Bedanya, dia tidak berusaha menahannya seperti kamu."
Akhirnya tangisku pecah saat itu juga. "Kalau begitu tidak masalah aku menangis sejadi-jadinya di depan orang lain!" Seruku terisak-isak sambil membenamkan wajahku di atas meja. "Kalau Lu Xun saja menangis, apalagi aku! Aku memang selalu bilang aku lebih kuat darinya. Padahal kalau dibayangkan dia itu seperti tiang besi, sementara aku seperti tiang bambu."
"Kalau dia tiang besi, Yangmei," Sahut Zhang He. "Tidak mungkin dia sampai menangis begitu. Sekarang, bakar surat itu."
Aku benar-benar merasa sayang kalau harus memusnahkannya. Bukan hanya tulisan itu indahnya seperti kaligrafi, tetapi tulisan itu kan curahan perasaan Lu Xun? Mana bisa kubuang semudah itu? Tapi pada akhirnya kulakukan juga. Airmataku semakin mengalir deras melihat kertas yang perlahan mulai hangus terbakar itu.
"Aku ingin menulis balasannya..." Desahku.
"Simpan saja untuk besok." Sergah Zhang He. "Sudah malam, sebaiknya kau tidur. Kalau aku terlalu lama disini, bisa dicurigai."
"Besok kau akan kembali?"
"Ya." Zhang He mengangguk sambil membuka pintu kamar. "Selamat malam dan selamat beristirahat, Yangmei."
Aku mengantar kepergiannya. "Terima kasih banyak atas bantuannya!"
Dengan begitu, jendral Wei yang ramah itu pergi. Aku menutup pintu dan memanggil kembali dayang-dayang. Hatiku jadi sangat lega sesudah menangis sejadi-jadinya. Aku percaya, semua pasti akan baik-baik saja, karena ada Lu Xun yang akan membawaku pergi dari sini.
Owalah, lebay banget cerita ini... XDDDD
Dan pas bagian Taigong Wang itu juga ada pengungkapan misterinya... bacanya nggak bingung, kan? XDDDD Yahhh... chara2 WO akan makin banyak muncul di sini... ^^ (namanya juga FANTASY... XDDDD)
Yah... chap berikut2nya juga bakal lebay juga... XDDDD
Wokey... chap berikutnya hari Kamis, wokey? ^^
Next Chap: Princess of My Heart (njiaaaahhh... judul yang sangat chessy... XD)
