"Fang, aku baru tahu soal kamu."

Kak Nico mendekati Fang yang kini berkutat dengan sebuah kalkulator digital, menengok angka-angka yang diketik sang empunya. Pria berkacamata gagang nila itu masih terus menghitung angka-angka dengan alat yang dibawanya.

"Kamu itu..."

Aku sudah tahu apa yang akan dikatakan pria berambut cepak hitam itu kepada Fang. Pasti—

"Cocok jadi tukang rentenir ya?"

Sudah aku duga.


BoBoiBoy fanfiction © Animonsta Studios

Be A Girl, You Tomboish Girl!

Pairing: Ying x Fang

Genre(s): Romance, Humor, Friendship, etc (tergantung chapter selanjutnya)

Warning! Typo dan segala kesalahan ketika mengetik mungkin akan muncul. Mohon segera tekan tombol 'back' jika anda merasa hal tersebut menganggu mata anda.

.

.


Chapter II – Step to be Girl


"Kau sudah mengenai petak tanahku! Bayar cepat!" tukas Fang yang sudah selesai menghitung dari kalkulatornya. Kak Nico yang memegang beberapa uang palsu setengah-setengah merelakan hak miliknya diambil alih sang adik kelas.

Kalau kalian tahu, kami kini bermain monopoli. Permainan ini sangat terkenal dengan beberapa petak rumah, uang palsu, kartu, dadu, dan tentu sang penanda jalan, dan kami telah memainkan ini sekitar 1 jam di rumah kos kak Nico. Alasan Fang menagih karena kini kak Nico mendarat pada tanah petak berwarna kuning, alias negara China. Negara milik Fang yang ia beli lengkap dengan empat rumah mini berwarna hijau, dan kompleks D itu cukup mahal walau masih mahal bagian kompleks F. Jadi bayangkan berapa yang harus kak Nico bayar kali ini.

Aku menahan tawa dengan menyembunyikan mulutku dibalik jaket ungu pinjaman rival Boboiboy ini. Aku sebenarnya ingin tertawa mengejek, tapi karena sekarang aku berhadapan dengan kak Nico yang belum terlalu akrab kurasa jangan dulu.

Yang ditagih pun mengulurkan uang sejumlah yang tertera dalam kalkulator Fang.

"Aku jadi ngerti deh kenapa kamu bakat banget sama matematika, Fang," kataku. "Menghitung uang aja cepat."

"Dari TK aku sudah menguasai penghitungan jumlah uang," Fang berusaha menahan cengiran yang mulai ingin terlihat dari bibirnya sehabis menghitung jumlah uang palsu dalam tangannya.

Mungkin kalo soal pelit, Fang sekarang jagonya ya? Dulu aku pernah baca kalau di anime Jepang bila ada karakter cowok berkacamata pasti dia bagian si 'pelit' seperti dalam anime Our*n High School, dan Fang bakal jadi generasi penerusnya. Walau berkacamata itu hanya bukti yang tidak kuat.

"Nanti beli mobil," nasehat kak Nico. "Buat bahagiakan isteri. Sekarang cewek-cewek itu gengsinya tinggi. Pengennya serba mewah."

"Makanya pilih cewek jangan yang mahal," sahut Fang.

"Cewekku itu orangnya sederhana! Hanya saja demi mendapat predikat baik di depan orang tuanya, sebab itu aku selalu membelikan oleh-oleh sehabis mengajak dia jalan, hiks!"

Tiba-tiba kak Nico curhat, hebat kau Fang.

"Uang transferan orang tua selalu habis setengah bulan. Padahal orang tua mengirim uang untuk pasokan makan sama uang kos setiap bulan," lanjut kak Nico. Aku mengambil dua buah dadu lalu mengocoknya sambil mendengarkan percakapan dua kaum adam ini.

"Cewek itu egois sih, makanya banyak cowok jomblo."

"Dan bibit awal adanya homo itu dari para cowok yang tidak bisa menerima kekurangan mereka atau tidak sanggup memenuhi kebutuhan mereka tapi ingin sekali merasakan bagaimana pacaran. Kalau tidak... bagi para otaku, biasanya mereka pacaran dengan gadis 2D."

"Fang."

"Apa?"

"Kita kawin yuk?"

Aku batuk-batuk spontan disamping kak Nico yang digebukin habis sama adik kelasnya sendiri.


Dua jam aku dan Fang habiskan bermain di kos rumah kak Nico, kami berdua pun sepakat untuk pulang. Aku melontarkan alasan harus menjaga nenek yang takut-takut bakal mengira kucing milik kami itu si kakek yang menjelma menjadi siluman (kau tidak akan tahu hal ekstrim apa yang dilakukan nenekku terhadap hewan peliharaan kami, terakhir nenekku bugil dan tidur satu ranjang dengannya), sedangkan Fang memberi alasan berupa menyiasati strategi untuk mengalahkan rivalnya—Boboiboy. Alasan yang tidak logis itu terpaksa diterima kak Nico daripada tusukan jari bayang dari pengendali kegelapan ini akan menusuk tepat pada paru-paru kakak kelas nanti.

"Kenapa ikut aku sih? Langkah cowok itu kan lebar-lebar!" tukasku merasa sengsi dengan pria satu rasku yang kini berjalan menggiringku. Dia melangkahkan kakinya lambat, seakan mengejekku secara sirat, "Langkah kok kecil banget, aku kan jadi jalannya lambat".

"Langkah kaki kamu kecil sih," alasannya. Kan sudah aku duga dia bakalan ngomong gitu.

"Heh, aku juga kalo mau lari aku bakal lebih cepat dari kamu kok," balasku. "Ingat ucapan kak Nico alasan dia memasukkanku menjadi member? Ingat kalau aku punya jam kekuatan?" aku memberikan beberapa bukti karena berkeyakinan bisa mengalahkannya dengan alasan-alasan itu.

"Mau bertarung? Gerakan bayang dan kuasa memanipulasi waktu, mana yang lebih cepat," tantangnya.

"Tidak ah, malas. Aku gak mau jadi tomboi lagi."

"Jadi masih membicarakan tentang masa remaja, Ying?" sindir Fang sambil memperbaiki kacamatanya. Tadinya dia berjalan mengekoriku, namun entah sejak kapan dia ada di sebelahku.

"Dulu aku tidak mau cantik karena aku mengira semua bakal jadi nenek-nenek kayak nenekku, keriputan. Namun, aku suka sekali dengan novel pinjamanmu dulu," aku mengingat-ingat momen saat pertama kali mendapat pencerahan dari dalam novel yang dipinjam lelaki di sebelahku ini. Dahulu aku tidak bakal tahu kalau cowok yang hanya terfokus untuk mengalahkann rivalnya tentang kepopuleran ini ternyata mempunyai novel yang sangat menarik. Siang malam aku tidak berhenti untuk membaca buku dengan ketebalan 567 lembar itu.

Fang menutup matanya dengan helaan nafas kecil, "Hhh, itu novel nyasar dari pemilik rumah yang kudiami dulu. Aku tidak mungkin membeli yang begituan."

"Kalau gitu novelnya untukku boleh?"

"Tidak boleh."

"Ihh tapi katanya bukan punyamu kan?"

"Cerewet. Alasan aku tidak memperbolehkanmu memilikinya, karena aku sudah pusing saat tahun lalu setiap bertemu denganku selalu saja membicarakan isi novel itu," omelnya. Kalau ingat-ingat, tidak ada satu hari bila bertemu dirinya dengan tidak membicarakan isi dalam cerita novel yang kupinjam. Semua itu hanya berlaku sampai Fang datang ke rumahku tanpa diundang dan merebut kembali miliknya.

Dulu dia memang cukup sadis—jika sekali tegas. Sekarang pun masih.

"Atau jangan-jangan... kamu sebenarnya membelinya hanya saja malu bilang kalau itu punyamu?" godaku dengan cengiran penuh makna. Sang lawan bicara membentakku tiba-tiba.

"Asal kau tahu ya gadis tomboi, kau takkan pernah bisa seperti dalam cerita itu dimana nanti kau bakal jadi primadona!"

Ucapan blak-blakkannya membuatku kesal tentu saja. Dia meremehkanku secara langsung artinya kan? Akan kubuktikan ucapannya salah.

Aku menghentikan langkahku lalu bertatap dengannya berani, "Bagaimana kalau kita taruhan? Kalau ucapanmu benar, kau boleh minta apa saja dariku."

"Tanpa tantangan pun sudah terbukti aku yang bakal menang," ucap Fang bangga sembari melipat kedua tangannya. Ia ikut berhenti melangkah. "Dadamu saja kerempeng gitu."

"Ngomong dijaga sedikit," sebatku menahan kesal. Disamping dia hanya menaggapi ucapanku dengan mengupil, aku bersumpah dalam hati akan membuatnya kalah telak. Aku akan mencari pacar, dan memang yang terlebih dahulu kulakukan adalah menjadi gadis feminim seperti dalam novel yang kubaca waktu itu.


Jam 21.23, aku menarik langsung ponsel yang terbaring diatas ranjangku. Kubuka website fac*book dan kebetulan akun milik sahabat terbaikku—Yaya, disamping tertera warna hijau. Langsung aku menekan 'pesan' dan mengirimi chat padanya.

Ying: "Yaya! Yaya! Tolong akuu!"

Dua menit kemudian Yaya membalas chat-ku.

Yaya: "Ada apa Ying? Kok panik?"

Ying: "Besok bangun pagi-pagi ya? Nanti aku jemput dan certain deh!"

Yaya: "Eh kok gitu?"

Ying: "Soalnya nyawaku jadi taruhan nih!"

Setelah aku menuliskan pesan berkalimat hiperbola, langsung ku mengnonaktifkan akun milikku dan aku tidak tahu apa tanggapan Yaya setelahnya.


[Satu — Latihan Berdandan]


"Oke Ying, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba kau menyuruhku membawa kosmetik. Tapi bersyukurlah hari ini aku diperbolehkan guru membawanya," Yaya melipat tangannya dengan wajah masam di depanku disamping aku hanya menanggapi dengan kekehan kecil.

Aku secara paksa menjemputnya pada jam 05.45 subuh dan saat itu ia sedang memasak bareng Ibunya. Disana aku menceritakan perihal mengapa menyuruhnya bangun pagi-pagi, dan dia yang awalnya ingin membantu Ibunya pun terpaksa tidak melakukannya hari ini. Bahagianya punya sahabat sepertinya~

"Hehe maaf Yaya. Aku hanya ingin membuktikan ucapan Fang kemarin itu salah," kataku menerangkan situasi. Yaya menghela napas kecil sebagai respon.

"Hhh, kau ini... Tidak pernah berubah ya. Selalu saja tidak terima dikomentar orang," dia menggelengkan kepalanya kecil dengan senyuman kecil. "Tidak salah sih ingin menjadi cantik."

"Makasih Yaya!"

"Aku juga ikut kesal dengan tindakan Fang yang tiba-tiba kekanakan di depanmu sih, makanya aku mendukung sekali pikiranmu ini," lanjutnya. "Tapi berjanji kau belajar memakai kosmeik mandiri ya?" Yaya mengeluarkan bando berbahan karet dengan krim lengket berwarna coklat tua.

"Siap!"


Fang memasuki kelas dengan tampang serius seperti biasa—cuek pada sekitar. Yaya pun berjalan menggiring Fang dan menahan tangannya ketika sang pria berzodiak Aries ini ingin duduk pada bangkunya sekedar mendaratkan pantat.

"Fang! Aku punya kejutan sama kamu deh," kata Yaya ceria. Fang kebingungan setengah mati karena tiba-tiba calon ketua kelas ini bersikap ramah padanya. Fang pun tidak jadi berdiri.

"He? Donat?" tebaknya. Yaya menggeleng.

"Yang lebih baik!"

"..."

"Kok diam?"

"...yang itu?" Fang menunjukku yang kini berdiri di dekat lokasi mereka secara poin. Aku yang sudah memasang posisi semanis mungkin dibuat kecewa langsung karena respon yang tidak seperti kuharapkan.

"YING! KAU MAU JADI BADUT APA?" Gopal yang hadir di kelas langsung menunjukku setelah berteriak laknat mengalahkan suara nyaring bom atom.

"Aduh! Gelak tawa aku ni," Boboiboy yang entah kapan datangnya merangkul Fang sambil menunjukku tertawa. "Gyahaha! Itu lipsticknya tebal amat—ahaha!"

"Nih Ying, udah aku buat kertas ulangan aku jadi cermin— GYAHAHAHA!" sehabis Gopal menyodorkan cermin padaku lalu tertawa kembali, aku menengoki pantulan wajahku yang...

HANCUR HABISSS!

Lipstick merah tebal melebihi garis bibir dalam overdosis. Lalu krim wajah yang kebanyakan juga bedak yang tidak dipoles secara tipis. Blush on yang dipaksakan terlihat.

Tuhan, tolong telan aku ke dasar bumi sekarang.

"Tak apa, tak apa, Ying tetap Ying kok," Fang menepuk pundakku bersama Boboiboy yang sudah merasa perutnya keram kebanyakan tertawa.

"Yaya..." aku hampir menangis dibuat malu karena mereka.

"Gapapa kok, namanya saja baru belajar berdandan," kata Yaya—secara tak bersalah, dengan mantapnya. "Ya kan Boboiboy?"

"Eh ah—engh, i—iya!"


[Dua — Pakaian feminim]


"Yaya, menurut kamu ini pakaian aku feminim tidak?"

Saat jam istirahat, dengan kekuatan jamku aku mengambil beberapa pakaian untuk diuji coba kecocokannya (jangan tanya darimana aku mendapatkan mereka). Mulai dari pakaian terusan sampai gaun pengantin kucoba satu persatu.

Masih di dalam kelas, Yaya menggeleng setiap pakaian yang aku kenakan.

"Kamu memakai rok di dalam kelas saja sudah feminim, Ying," bilang Yaya.

"Fang bilang aku tomboi, dan akan kubuktikan bahwa aku ini tidak tomboi amat!" kecamku bersemangat.

Tiba saat bel berbunyi tanda masuk, Fang yang sudah membeli donat wortel masuk ke dalam kelas berjalan sambil memakannya. Kebetulan aku habis membuka pakaianku dan berganti dengan pakaian terusan bersiluet H atas lutut dengan kedua lengan diangkat. Kebetulan Fang menengok padaku reflek.

"HAHA! KETEK BERBULU!" teriak Fang spontan mengejek sambil menunjukku secara poin. "Gak salah aku beliin kamu pisau cukur!" lanjutnya yang masih ingat tentang momen ketika memberiku alat cukur janggut.

"LARI YANG LAJU!"

"GERAKAN BAYANG!"

Lalu terjadilah adegan kejar-kejaran secara tidak kasat mata.


[Tiga – Menembak]


"Enghh, sejak pandangan awal aku sudah suka padamu. Jadilah pacarku!"

"YAYA! AKU GAK BISA BERAKSI SEPERTI DALAM KOMIKMU ITU!" teriakku reflek ketika Yaya mempraktekkan karakter gadis dalam komik yang ia bawa itu terhadapku. Ceritanya aku menjadi lawan yang ditembak, dan Yaya mempraktekkan menembak.

Langsung gagal.


"Ah Yaya, aku capek!" aku membaringkan kepalaku pada meja kelas. Rasanya aku ingin mati sekarang.

"Hish katanya mau membuktikan kalau Fang itu salah, gimana sih?" Yaya menarik tas selempangnya tanpa memandangku sedikitpun–menatap lurus pada pintu keluar kelas. Jam pulang sekolah sudah dikumandangkan sejak lama, dan kami adalah dua dari beberapa murid kelas tujuh yang masih menetap dalam kelas disamping beberapa murid lainnya sudah bubar.

"Iya aku mau. Mau banget," kataku lemas. "Tapi aku juga punya hati. Aku malu diejek melulu."

"Oh soal ketek?"

"YAYA!" jeritku panas ketika Yaya mengucapkan kalimat yang membuat rasa minderku semakin tinggi.

"Ahaha, bercanda. Menurutku sih kamu lebih baik apa adanya, Ying. Aku tahu semua gadis memang ingin dikatakan manis. Namun, kamu saja belum punya satu orang yang difokuskan untuk itu," nasehat Yaya.

"Tidak kok. Aku ingin punya pacar," balasku dengan nada malas.

"Untuk siapa?"

"Untuk... ngg, cowok."

"Bahkan kau belum tahu untuk apa kau menjadi manis. Percuma kamu berubah, kan kan kan?"

Aku menenggelamkan wajahku dalam lipatan tangan–membaringkan kepalaku di atas meja. Aku tahu ucapan Yaya itu serius walau dia menyisipkan ucapan yang selalu digunakannya ketika memaksa kami memakan biskuitnya.

"Kamu gak pulang Ying?"

"Pulanglah," kataku.

"Eh tumben. Maaf ya kalau ucapanku menyinggung kamu, Ying," Yaya meminta maaf.

"Tidak, bukan salah kamu kok," kataku lagi. "Aku hanya perlu pulang lebih telat karena malas bertemu Fang dan kawan-kawannya. Kan mereka sekarang bermain basket di lapangan basket."

"Maaf ya Ying, aku pulang dahulu," Yaya meninggalkanku tidak beberapa lama. Suara tapak kaki yang menggema dalam kelas ini perlahan mengecil seiring waktu.

Benar apa kata Yaya, kalau saja aku memaksakan diri menjadi gadis memang untuk apa? Aku merasa itu ada keseruan tersendiri namun ternyata akupun tidak tahu tujuannya untuk apa. Misalkan di dalam novel sang gadis ingin menjadi manis karena ingin bersaing dengan lawan jenisnya dalam dunia artis, apa alasanku?

Aku mendongakkan wajahku dan meraih cermin yang sempat diubah Gopal ketika aku menengoki wajahku.

Gadis tomboi sepertiku...

Tentu takkan bisa feminim ya? Jadi gadis-gadis manis yang ada di dunia selama ini karena mereka punya karunia menjadi 'bunga'? Jadi gadis jelek sepertiku tidak pantas bergaya feminim?

Mengapa aku telat menyadarinya ya?

Aku hanya cocok menjadi gadis jelek yang berpakaian tomboi dalam hari-hari biasa. Dadaku saja rata, tidak seperti Yaya yang sedikit menonjol (hei aku tidak mesum). Rambutku bahkan selalu kuikat kepang dua, membuktikan aku ini juga culun. Ditambah memakai kacamata karena malu dengan pakaian seragamku yang terlihat feminim.

Bahkan secara tidak langsung dari awal aku sudah menolak yang namaya menjadi 'feminim'.

Bodohnya aku! Mengapa aku telat menyadari respon gaya berpakaianku selama ini! Bodoh bodoh bodoh!

"Ying, kau tidak pulang?"

Sejak kapan ada penghuni dalam kelas ini selain aku? Namun suara ini aku sangat mengenali siapa pemiliknya.

"Apa, Fang? Ngurus orang saja," aku menyembunyikan cermin yang tadi kupakai spontan. Saat aku merasa pria menyebalkan itu mendekatiku, aku langsung saja berdiri cepat dari bangkuku ingin menjauhinya.

"Sikapmu sangat aneh, Ying! Makanya aku menegurmu!" sahut Fang dengan nada tinggi.

"Ketekku berbulu, jangan didekati," aku mempercepat langkahku keluar kelas.

"Setiap cewek pubertas juga keteknya pasti berbulu, Ying! Malah ada yang lebat seperti janggut kakek-kakek biksu!"

"Memang kamu pernah lihat ketek Yaya?"

"Enghh... t–tidak sih," Fang gelagapan, dan aku punya peluang besar untuk sejauh mungkin menghindarinya. Aku mulai mempercepat langkahku.

"Eh–hei, Ying!" Fang menahan tanganku sigap sebelum aku sukses menjauhinya dengan jarak jauh. "Kamu kenapa sih?!"

Pertanyaannya membuatku tidak kuasa memendam rasa gelisahku. Mulutku tiba-tiba saja terbuka dengan nada lantang,"A–aku tidak punya alasan untuk jadi manis. Aku–aku–hiks!"

"Ying..."

"Yaya bilang aku tidak punya alasan menjadi manis!" aku melanjutkan kalimat cerewetku. "Aku selamanya cocok dan bakal terus cocok menjadi gadis tomboi! Aku lelah... Aku lelah untuk bisa merasakan seperti dalam novel rekomendasian kamu! Seandainya saja, seandainya saja aku tidak pernah membaca novel itu–"

"KALAU GITU, BUATLAH ALASAN MENJADI MANIS KARENA AKU!"

"A... pa?" aku berhenti untuk menyesali. Fang memegang daguku, lalu mendongakkan wajahku yang menunduk sebelumnya. Terlihat wajah sang anak tanpa jelas status keluarganya ini serius.

"Dengan begitu kau bakal punya alasan. Aku tahu bagaimana bahagianya kamu saat membaca novel itu," raut wajah Fang dengan dahi mengkerut tiba-tiba menatapku lembut. Senyum tipis terlukis dari wajahnya. "Aku melihatnya, seakan pandanganmu menjadi berubah karena ceritanya. Makanya... makanya jangan putus asa. Kumohon, jangan menyerah Ying..."

Terasa telapak tangan besar mengusap kepalaku lembut. Tangan yang ditahannya serasa ditarik, hingga tubuhku kini dalam posisi sangat dekat dengan sang penarik. Fang memelukku dengan hangat, memberi rasa iba akan penderitaanku.

Aku ingin sekali menangis. Namun disamping itu aku menjepit kedua sisi bibirku untuk menahan isak.

Pikiranku penuh dengan pertanyaan apa maksud Fang dengan jangan menyerah menjadi feminim. Dan yang paling penting, apa maksud reaksinya dengan memelukku atau ucapannya ketika berteriak tadi. Menjadi manis karena alasan 'dia'? Heh, aku ingin sekali mengejek Fang sekarang.

"Hei Fang, kenapa tiba-tiba memelukku?"

"Muka kamu kalau mau menangis itu jelek. Jadi aku menyembunyikannya sebelum aku muntah-muntah di tempat," katanya santai. Langsung muncul perempatan dari kepalaku.

"RASAKAN INI! SERIBU TENDANGAN LAJU!"

"PERISAI BAYANG!"


-Bersambung-


A/N: Thanks for your observation, Dearest Sweetness! You give me inspiration to continue this fanfic. By the way, sorry for Yinglovatic to not translate this fanfic. I'll tried but so hard for keeping my writing style to English since Indonesian style language having more interesting vocabulary to writing in it, opposite than English. And two, i'm bad with English! *cries*

Maaf untuk apdet yang lama karena sebagai anak yang dituntut orangtua agar menjadi gadis berprestasi itu sangat mengerikan prinsipnya. Hiks! Saya diancam dikuliti bila saja nilai ujian bakalan memburuk! Oke itu hanya hiperbola.

February 06, 2015