Bab 1

.

.


Jongin tidak pernah mengharapkan apapun setiap harinya. Selain apa yang ia kerjakan hari Ini harus berjalan lancar tanpa masalah yang kerap kali membuat kepalanya pusing.

Ia akui dia sedikit ceroboh, dan tidak pernah bisa bergaul dengan lingkungannya. Itulah sebabnya ia sedikit merasa tertekan saat berada di tempat kerja.

"Hey, Jongin"

Yu noona baru saja memanggilnya. Kelihatannya yeoja 24 tahun itu membutuhkan pertolongan atau apapun itu karena wajahnya saat ini terlihat begitu serius.

"Ya?"

"Ada seseorang yang mencarimu di sana"

Jongin berpikir dalam diam. Dia harap itu bukan masalah besar karena ada seseorang yang mencarinya. Jantungnya berdegup cepat. Rasanya seperti ia akan mati saat itu juga.

"Siapa?"

"Entahlah" Yu berkata. Ia menggantikan Jongin menata buku di rak. "Orangnya tampan sekali"

Jongin mengernyitkan keningnya. "Apa noona yakin dia mencariku?"

"Tentu saja. Kau kan yang kemarin menolong anak kecil itu"

Oh... AKHIRNYA bukan masalah, batinnya. Ia mendesah lega dan berpamitan untuk segera menemui orang yang mencarinya.

...

"Itu dia" HAOWEN berseru senang ketika melihat sosok ramping yang sedari tadi ia Tunggu-tunggu kehadirannya.

Sehun melihat ke arah telunjuk Haowen yang menunjuk seorang remaja bertubuh ramping berbalut seragam kerja pegawai toko buku itu. Kulitnya tan dan saat ia tersenyum memang terlihat begitu manis untuk ukuran seorang namja.

"Hallo" ucapnya, ia membungkuk hormat di hadapan Sehun.

"Oh, hallo"

Pemuda ber-name tag Kim Jongin itu tersenyum ketika Haowen memeluk pinggangnya begitu manja.

Sehun sama sekali tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya itu. Haowen memang manja, tapi bersikap manja pada orang lain sama sekali bukan sosok Haowen yang ia kenali.

"Hao" Sehun mengingatkan.

Haowen kecil merenggut kesal. Kemudian ia mulai berceloteh lucu dan memperkenalkan Ayahnya pada sosok manis itu.

"Terimakasih telah menolong putra saya, Jongin-ssi" ucapnya, santun.

Jongin mengangguk kikuk. Rasanya ia tidak percaya jika ada orang kaya yang mau membungkuk hormat padanya. Bahkan mau menemui dirinya di tengah-tengah kesibukannya dalam bekerja.

Mungkin ia berpikir jika masih ada orang kaya yang mau mengingat pertolongan yang diberikan oleh orang-orang biasa seperti dirinya. Ah, Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat ini.

.

.

.

.


YUAN terus memperhatikan Sang kakak yang tengah mengobrol dengan seorang pelanggan. Kakaknya yang baik hati itu terlihat sangat ramah dan telaten saat berhadapan dengan para customer.

"Dia siapa Kyung?" tanya Yuan, seraya menunjuk sosok namja yang baru saja berbicara dengan sang kakak.

"Oh.. Namanya Lee Jongsuk. Dia dokter yang bertugas tak jauh dari tempat ini"

"Tampan"

Kyungsoo mengangguk setuju. Selain tampan, Dokter yang akrab di panggil dokter Lee itu memang dikenal ramah dan baik hati oleh para pasiennya.

"Dia sering makan di siang di sini"

"Benarkah?"

Memangnya ada yang salah ya? Kyungsoo menatap Yuan aneh. Adiknya ini memang tidak bisa melihat pria tampan seperti dokter Lee.

"Memangnya kenapa?"

"Ku rasa aku tertarik padanya"

Kyungsoo melirik dokter Lee diam-diam. Dokter tampan itu sedang duduk di dekat jendala sembari menikmati makan siangnya dengan tenang.

"Kau gila?"

"Tentu saja tidak, eonnie"

Yuan menyebutnya kakak itu kalau sedang ada maunya. Kalau Jongin bilang, Jalang tidak tahu malu. Tapi Tetap saja Kyungsoo tidak akan tega memanggil Yuan seperti itu. Meski Yuan jalang, dia tetap seorang wanita dan harus dihormati.

"Berapa usianya?"

"40 tahunan"

"Mwo?"

"Sudah punya istri?"

KYUNGSOO menggeleng.

"Hohh.."

"Yak" Kyungsoo berseru, seraya menepuk lengan sang adik. "Kau gila? Bagaimana dengan jun?"

Yuan menepuk keningnya dan mendesah pelan. "Omo, aku hampir lupa"

.

.

.

.


Pada bulan september lalu Sehun baru saja memutuskan Changmi dan bulan ini pun ia juga harus memutuskan hubungan dengan yeoja secantik Minah yang ia kencani 1 bulan yang lalu.

Ini semua karena ulah Haowen yang selalu merengek padanya ketika Sehun sedang berkencan dengan kekasihnya. Sebenarnya dia juga mau menikah, memiliki seorang istri yang bisa ia cintai dan membantunya membesarkan Haowen.

Tapi ya mau bagaimana lagi? Haowen selalu saja punya cara supaya kencan dengan kekasihnya itu selalu saja gagal. Entah apa yang Haowen inginkan sebrnarnya. Kalau pun ditanya anak itu akan memberikan jawaban yang menurut Sehun sama sekali tidak bisa dimengerti oleh otak cerdasnya itu.

'Tante itu jelek' begitulah kata Haowen. Jeleknya tuh dilihat darimana sih? Sehun bukan orang yang pemilih dalam soal tipe. Tapi bukan berarti semua pacarnya itu jelek lho. Entah keberuntungan macam apa yang membuat Sehun selalu di kelilingi orang-orang cantik seperti Changmi dan Minah.

"Kita hanya perlu membuat strategi kencan yang bagus di hari pertama" kata Luhan. Dia berkata dengan nada yang seolah memang mudah untuk dilakukan.

"Ayolah, hyung!" Sehun mulai bosan. "Haowen bukan anak kecil yang mudaH dibohongi"

"Kali ini pasti berhasil, Hun" sahutnya.

Luhan kembali memperlihatkan album foto berisi cewek-cewek cantik yang mungkin saja bisa membuat hati sang adik kepincut.

Ini gila, pikir Sehun. Luhan memang sering berlangganan forum pencarian jodoh untuk bersenang-senang. Namun Sehun sama sekali tidak bisa memulai suatu hubungan dengan bersenang-senang. Selain bukan tipe cowok badboy, menyakiti hati seorang wanita itu sama sekali bukan gaya Oh Sehun. GENTLE SEKALI KAN YA?

"Namanya Seungmi, imut kan ya?"

Sehun memutar mata bosan.

"Oh.. Atau Inwoo, dia namja manis. Wajahnya bishounen sekali. Mirip mantanmu lho, Hun"

"Hyung"

"Hun, ayolah"

"Aku tidak mau" ia beranjak dari sofa. "Aku punya pekerjaan yang harus ku selesaikan"

LUHAN mendengus. Yasudah, gumamnya. Daripada susah-susah memaksa Sehun untuk memilih. Lebih baik dirinya saja kan yang memilih. Lagipula namja-nama di sini imut imut. Yeojanya juga, cantik-cantik. Lumayan buat dijadikan teman kencan, pikirnya.

.

.

"Yuan meminta ibu untuk menanyakan nomor handphone Dokter Lee?"

Ibu mengangguk pelan.

Jongin memukul pelan meja makan dengan tampang masam. Selera makannya hilang sudah.

"Ibu" namja muda itu mencoba untuk menjelaskan. "Ibu ini apa tidak malu? Ibu tahu kan status ibu itu apa? Bukan bermaksud apa-apa. AKU hanya tidak mau ibu-ibu di lingkungan ini semakin mencibir ibu"

Kyungsoo menarik napas sepelan mungkin. Putranya benar, dan ia pun juga memikirkan bagaimana pendapat orang nanti. Apalagi dirinya seorang janda, dan dokter Lee adalah seorang dokter yang paling dipuja di lingkungan mereka.

"Ibu boleh merasa tidak malu dengan semua ocehan orang lain yang menilai ibu"

Jongin tatap sang ibu dengan tatapan memohon. "Tapi untuk sekali ini saja pikirkan perasaanku, bu"

Sang ibu tersenyum. "Ibu tidak akan melakukan itu"

"Yuan memang adik ibu. Tapi kau putra ibu. Kau adalah prioritas di hati ibu"

Jongin mengangguk. Ia pun balas tersenyum dan memeluk sang ibu.

Ibunya adalah orang yang naif dan terlalu polos untuk ukuran orang dewasa 39 tahun. Dan Jongin berharap, semoga Tuhan selalu melindungi sang ibu disetiap langkahnya.

Meski ibunya cerewet, Jongin selalu menyayangi ibunya. Karena sejak ia kecil, hanya sosok ibu lah yang ia miliki.

...

'Ku rasa kau butuh cuti beberapa hari untuk liburan' KRIS berusul.

Alisnya yang berwarna pualam itu bertaut. Matanya menatap ke arah Kris yang tengah duduk di atas meja belajarnya.

Yang mana membuat Jongin jengkel adalah ucapan Kris yang selalu begitu saja meluncur dari bibirnya. Seolah ucapannya itu sangat mudah dilakukan dengan hanya menjentikan jari saja ke udara. Bedebah! Kris yang bodoh! Tentu saja itu tidak mudah. Karena Jongin pikir daripada menghabiskan uang lebih baik di rumah. Membaca buku, atau tidur seharian. Uang gajinya tidak akan berkurang satu perak pun.

"Aku tidak"

'Memangnya kau tidak bosan? Oh ayolah, Jongin' Kris melayang mendekati ranjangnya. 'Di luar tidak seburuk apa yang kau pikirkan'

"Mungkin Sabtu atau minggu aku akan keluar"

'Benarkah?'

"Ya" sahutnya. "Tapi aku harus memastikan jika ibu tidak sibuk weekend nanti"

.

.

.

.


Bab 2

.

.

Jung Ilwoo terus pamer tentang adik bayinya yang baru lahir 3 hari yang lalu. Ilwoo bilang aegy nya sangat lucu dan menggemaskan. Dia sangat bahagia, dan untuk ke depannya nanti ia tidak akan kesepian lagi karena sudah punya adik yang lucu.

Haowen mengerucut sebal. Sebagai seorang anak kecil yang masih berusia 7 tahun. Tentu saja sifat irinya itu masih ada. Dan dia kesal (sekaligus iri) karena Ilwoo terus terusan pamer padanya.

Haowen kecil berjalan sambil menendangi dedaunan gugur di bawah kakinya. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang di depannya yang lebih tinggi darinya. HAOWEN mendongak, hendak memaki. Tetapi bocah kecil itu membulatkan kedua matanya ketika melihat sosok yang ia tabrak itu memberikan senyuman manis yang mampu membuat emosinya mereda seketika.

"Jongie hyung" serunya. Ia memeluk erat pinggang Jongin dengan ekpresi senang.

Kris di samping Jongin tertawa. Andai Jongin bisa, sudah ia pukul wajah menyebalkan Kris saat tertawa menggodanya.

...

Haowen terus berceloteh, lebih tepatnya mengadukan tingkah menyebalkan Ilwoo-teman sekelasnya yang pamer tentang adik bayinya pada Jongin.

Mulutnya pun juga terus mengunyah corn dog yang dibelikan Jongin di sebuah stand yang terletak tak begitu jauh di daerah taman

Jongin Yang mendengar itu pun tertawa. Haowen anak yang menarik, pikirnya. Karena selama 19 tahun ia hidup. Baru kali ini ia menemukan ada orang yang berterus terang jika ia mengagumi Seorang Kim Jongin sebagai seorang fans kepada idolanya.

Haowen bilang dia manis. Jongin ingin menjadi skeptis. Tapi banyak yang bilang, anak kecil itu tidak pandai berbohong. Dan ketika melihat ke mata sempit Haowen, Jongin yakin tidak ada kebohongan di sana.

"Hao"

"Iya, hyung?"

Nam.. Nam.. Nam.. HAOWEN masih mengunyah.

"Papanya Haowen dimana?" tanya jongin. Ia ingin segera pulang ketika jam di tangannya menunjukan pukul 2 siang. JONGIN harus segera tiba di Ruko dan membantu sang ibu di kedai mereka.

"Papa sedang bekerja"

Jongin mendengus sepelan mungkin. Orang kaya macam papanya Haowen itu memang orang yang workaholic. Bahkan Jongin berani bersumpah, jika berada di taman seorang diri dan menanti ayahnya datang menjemput itu bukan hal yang pertama bagi seorang Oh Haowen.

Ia ingin langsung pamitan. Tapi meninggalkan Haowen sendirian entah mengapa hatinya terlalu ragu untuk melakukan itu.

"Jongie Hyung tidak pulang? "

Jongin menggeleng. Awalnya ia hendak duduk duduk saja di taman ini. Tapi ketika baru memasuki taman, tidak sengaja ia malah menabarak anak kecil yang pernah ia tolong tempo hari.

...


"Haowen"

Sosok yang mereka bicarakan baru saja tiba.

Jongin menoleh, dan nyaris saja tersedak corn dog yang tengah ia kunyah. Bagaimana bisa ia baru menyadari, jika ayahnya Haowen sangat tampan dengan tubuh tinggi atletisnya.

"Oh, Jongin-ssi" Oh Sehun menatap Jongin dengan tatapan curiga.

"Oh, hallo" Jongin berdiri dan membungkuk.

Mengapa namja manis ini bisa ada bersama Haowen? Bukannya bermaksud ingin berprasangka buruk. Tetapi sebagai seorang direktur diusia muda, Oh Sehun selalu belajar untuk tidak mempercayai orang lain dan timbulah perasaan penuh praduga itu.

Melihat tatapan Sehun yang seperti itu. JONGIN jadi tidak enak hati. Hatinya berkata jika Oh Sehun sedang memperhatikan dirinya begitu detail. Jongin tahu tatapan itu, tatapan kecemasan seorang ayah saat melihat anaknya berteman dengan orang yang mencurigakan.

"Papa, Haowen tadi di sini bersama Jongie hyung. Jongie hyung baik sekali mau menemani Hao menunggu papa"

Jongin memaksakan seulas senyum kikuk.

"Oh, benarkah? Kalau begitu terimakasih telah menjaga Haowen selama menungguku, Jongin-ssi"

Sehun mencoba menghilangkan pikiran negatifnya mengenai Kim Jongin. Dari tampangnya saja Jongin tidak menunjukan gelagat orang jahat. Malah terlihat seperti orang dungu yang tidak tahu harus melakukan apa di tengah situasi awkward begini.

"Ayo, kita pulang" ajak sang papa.

Haowen menggeleng. Ia mengeluh lapar dan meminta Sehun supaya mentraktir Jongin makan siang bersama mereka. Jongin tentu saja terkejut, ia menolak halus. Tetapi Ayah dan anak itu memaksa. Apalagi Haowen mengancam akan menangis keras jika Jongin tidak mau.

Ini menyebalkan, batinnya.

.

.

.

.


Biasanya Jongin akan segera tidur setelah beraktivitas di luar rumah. Tetapi ia malah melamun memperhatikan langit-langit kamarnya tanpa ada niatan untu segera tidur.

Bahkan sudah dua buku yang ia baca, dirinya tidak juga mengantuk. Alih-alih mengantuk dirinya hanya merasa semakin bosan dengan aktivitasnya yang selalu monoton.

'Hey'

Suara berat Kris terdengar. Hantu gentayangan itu baru saja memasuki kamarnya dengan menembus dinding. Pakaian Kris selalu sama. Stelan jas hitam dan kemeja putih yang membalut tubuhnya seakan ia hendak bepergian ke pesta pesta formal.

Pakaian yang dikenakan kris tidak akan pernah terlihat modis. Jongin yakin, Pakaian yang dikenakan Kris saat ini adalah pakaian terakhir yang ia gunakan sebelum dimakamkan.

'Ku kira kau sudah tidur'

Jongin menggeleng pelan.

Kris mulai berceloteh tentang pengalamannya yang bepergian mengunjungi pasar malam khusus hantu-hantu gentayangan Seperti dirinya. Ia bertemu dengan hantu perempuan yang mati di bunuh suaminya sendiri. Kasihan, pikir Jongin. Ia merutuk kejahatan namja bejat itu. Semoga besok ia mati terlindas tronton saja mengingat perbuatan kejinya terhadap sang istri.

'Hantu sekalipun juga harus bergaul' Kris berkata. Ia menyibak rambut blondenya ke belakang.

"Harusnya kau ajak aku ke sana"

'Kita kan baru saja pergi ke tempat itu siang tadi'

What the heck...Maksudnya pasar malam para hantu itu ada di taman bermain anak-anak gitu? IYEEE, mengerikan sekali...

"Hah?"

'Santai saja, Kim Jongin' sahut Kris. 'Kau seperti baru pertama kali melihat hantu saja'

Mana bisa ia membayangkan, jika tempat yang selalu ramai di siang hari, akan menjadi sarang hantu di malam harinya. Jongin memang tidak pernah peduli pada hantu-hantu gentayangan yang berlalu lalang di sekitarnya. Tapi ia ingat, ia pernah jatuh sakit akibat tak sengaja melihat hantu korban kecelakaan yang amat sangat menyeramkan.

"Apa salah satu dari mereka terlihat menyeramkan?"

'Tidak' sahut Kris. 'errr, tentu saja mereka lebih dulu mengubah penampilan agar tetap menarik'

"Sama saja" gumamnya.

Ini adalah hal yang sangat mustahil. Tapi Jongin sadar, sejak ia kecil ia memang sudah aneh. Ditambah dengan kemampuan Yang ia miliki. bertambah aneh sajalah hidupnya Ini.

"Jongin"

Ibu membuka pintu kamarnya. Menatap putra semata wayangnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"ibu"

Kyungsoo menarik napas sebelum bicara. "Jangan bicara sendiri! Itu tidak baik" ibunya mengingatkan.

Sejak kecil Jongin memang selalu berbicara sendiri. Dan Kyungsoo sebagai seorang ibu tentu saja sangat khawatir untuk hal ini. Kyungsoo ingin menebak jika putranya memang memiliki kemampuan istimewa. Tetapi jika ditanya lebih detail lagi Jongin hanya diam dan menatap lawan bicaranya seolah mereka musuh.

"Iya, ibu"

"Lekaslah tidur!"

Kris tertawa. Tentu saja hanya Jongin yang bisa mendengar tawa menyebalkan lelaki Tersebut.

"kau puas?"

Kris masih tertawa.

Jongin yang sebal pun langsung masuk ke dalam selimut dan menutupi seluruh tubuhnya denngan selimutnya.

"Oh"

Ia nyaris memekik ketika mendapati Kris juga berada di dalam selimut. Dasar hantu, batinnya kesal.

"Kris, pergilah ke tempat lain! Jangan menggangguku terus" ia nyaris memekik.

Jongin menyibak selimutnya.

Kris masih tertawa senang mendengar Jongin emosi.

'Kau ini marah-marah terus'

"Biarkan"

Tetapi Kris tahu, jika Jongin sama sekali tidak benar-benar marah padanya. Dia adalah tipe yang tidak bisa marah pada orang lain walau sebenarnya ia merasa kesal. Makanya Kris sangat suka menggoda Jongin dari dulu.

"Kris"

Kris menyahut pelan. Ia masih merebahkan tubuhnya di samping Jongin.

"Aku tadi bertemu Haowen lagi"

Jongin memulai ceritanya, seraya memunggungi Kris.

'Oh, pacar cilikmu itu ya?'

"Sembarangan"

Kris tersenyum mendengarnya.

'Apa kau masih merasakan perasaan aneh lagi saat menatap matanya?'

"Tidak" sahutnya, "Mungkin aku terlalu bawa perasaan saat itu"

Kini Jongin berbalik. Menatap namja 24 tahun itu dengan begitu serius. "Aku sempat juga bertemu papanya"

'si Tuan Oh'

"Ya"

Jongin berkata jika Sehun sangat tampan. Kris menyindir jika Jongin terlalu bodoh kalau baru menyadari sekarang.

"Kris"

'Ada apa?'

Pemuda itu tampak ragu-ragu.

"Kata orang pertemuan pertama itu tak sengaja. Tapi pertemuan kedua adalah takdir. Apa benar begitu?"

Kris berpikir sejenak. Meski usianya sudah menginjak 41 tahun jika ia hidup, dia tetaplah belum sedewasa Usianya itu dalam masalah percintaan. Namun Kris pernah mendengar cerita takdir benang merah dari orang-orang tua jaman dulu. 'Pertemuan pertama adalah kebetulan, sementara pertemuan kedua adalah takdir'

Ia ingin menjelaskan. Tapi bagaimana caranya? Sementara sosok di sampingnya ini adalah sosok yang skeptis dalam menanggapi suatu permasalahan.

'Apa yang kau rasakan saat ini?'

Ada rona merah di wajah Jongin. Dan Itu luput dari pandangan Kris.

"Saat makan siang bersama mereka, aku merasa tidak asing. Dan itu sangat nyata"

'Mungkin kau sedang baper, Jongin'

"Mungkin" gumamnya.

Hening sejenak. Sebelum pada akhirnya Jongin berkata jika tidak ada gunanya juga ia memikirkan perasaannya terhadap keluarga kecil itu. Akan lebih baik ia tidur karena esok hari ia sudah mulai berangkat bekerja.

.

.

..

.

.

.


Sebenarnya bukan hanya Jongin yang merasakan perasaan aneh sejak makan siang bersama itu.

Oh Sehun pun juga merasakannya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan selama 26 tahun ia hidup dan telah bergonta-ganti pacar meskipun bukan keinginannya ia menjadi Playboy.

Jantungnya berdegup cepat. Apalagi saat ia mengingat senyum Jongin yang manis. Dan demi apapun, ia bisa melihat jiwa keibuan Dalam diri namja manis itu ketika Jongin membiarkan Haowen memuntahkan acar timun di tangannya.

Jika Haowen bukan anaknya, sekalipun Sehun tidak akan mau membiarkan tangannya kena muntahan seperti itu. Jongin sedang tidak memainkan akting apapun, dan Sehun tahu itu.

"Kau sedang memikirkan apa?" Boom bertanya.

"Ah" Sehun jadi salah tingkah.

Ibunya terkekeh geli melihat hal itu.

"Apa kau sedang kasmaaran?"

"Ibu"

"Hahaha, Kau membuat ibu ingin tertawa, Sehun"

Namja 26 tahun itu mendengus pelan. Tapi melihat tawa di wajah ibunya adalah suatu kebahagiaan tersendiri di dalam hidupnya. Entahlah, sejak ibunya didiagnosis kanker, Sehun selalu ingin membuat ibunya bahagia karena ia tidak mau menjadi anak yang durhaka dalam detik-detik terakhir ibunya menikmati hidup. Meski Sehun tak tahu kapan, tetapi tak bisa ia pungkiri jika ketakutan akan kehilangan sosok ibu terus menghantui pikirannya.

"Ibu, Mengapa ibu bisa jatuh cinta pada ayah?"

Boom menghentikan tawanya.

"Karena ayahmu Oh Seungsoo"

Sederhana sekali, pikir Sehun.

"Apa karena itu?"

Boom menggeleng, dan berkata jika mencintai seseorang itu tidak perlu alasan apapun. Saat hati bergetar, dan kau yakin dalam hatimu jika dialah orang yang kau inginkan untuk hidup bersama, menjalani suka duka hingga hari tua sekalipun. Saat itulah kau benar-benar menemukan orang yang pas. Orang yang akan menjadi jodohmu, dan orang yang akan kau cintai selama kau bernapas.

"Apa ayah pernah bertanya hal ini pada ibu?"

"Tidak"

"Kenapa?"

Boom berkata jika Sehun terlalu kaku kalau urusan percintaan.

"Cinta tidak perlu alasan, Oh Sehun"

Sehun berpikir dalam diam. Ada baiknya ia menanyakan hal ini pada sang ibu. Tetapi ia agak malu. Karena disaat anak 14 tahun sudah bisa merasakan cinta, dia yang 26 tahun malah tidak pernah (atau baru) merasakannya.

"Apa jantung berdegup Cepat Pertanda jatuh cinta? "

"Itu tandanya kau akan mati"

Sehun tertawa mendengar lelucon sang ibu.

"Aku serius, bu"

Boom menyendokan kimchi ke dalam mangkuk putranya. "Apa kau merasakannya hanya saat kau bersamanya? Atau saat kau memikirkannya?"

"Kalau dua-duanya?"

"Cinta sejati"

"Ada-ada saja" gumam Sehun.

Sang ibu tersenyum penuh arti.

"Ibu kenapa?"

"Ibu harap kau menemukan cinta sejatimu, Hun"

"Cinta sejatiku itu Ibu, ayah, dan Haowen"

BOOM menjitak kepala Sehun. Berkata jika cinta yang dimaksud ibunya itu berbeda dari yang Sehun katakan tadi.

.

.

.

.


"Mereka bilang cinta? Ada-ada saja" gumam Jongin.

Mulutnya mengunyah udon pelan-pelan. Di belakangnya sepasang muda-mudi terus-terusan menggombal dan membuat telinganya panas.

'Kau ini iri atau bagaimana?'

"Tidak" Jongin menyahut pelan.

Dia sadar diri Untuk tidak berkata terlalu keras. Bisa disangka orang gila nanti.

'Eh, bagaimana soal Wonshik?'

"Dia?"

Kris mengangguk.

Jongin berpikir sejenak. "Bagaimana apanya?"

'Dia masih terus salah tingkah di hadapanmu?'

"Tidak tahu"

Rasanya Kris ingin menjitak kepala Jongin dengan sumpit. Tapi ia urungkan, karena tidak mau membuat kerusuhan seperti membuat sumpit melayang-layang di udara.

'Jongin'

Kris mengisyaratkan Jongin untuk menoleh ke arah kiri. ADA apa? Pikirnya. Jongin manut saja. Dan langsung membulatkan kedua matanya ketika mendapati sosok Tuan Oh baru saja memasuki kedai mie.

"Apa yang dia lakukan di sini?"

'Tentu saja makan malam, bodoh'

Well, Tuan Oh kan orang kaya. Seharusnya dia bisa makan di restoran mahal seperti kemarin. Apa dia orang yang pelit ya? Pikirannya mulai ngawur.

'Pertemuan ketiga'

"Ish"

Jongin menatap Kris kesal.

'Lihat, dia duduk sendiri. Kau tak mau menyapanya?'

"Kau gila? Dia bisa curiga nanti"

'Sampai segitunya'

Tapi hal yang tak terduga pun terjadi. Kris dengan iseng melempar satu kepal tisu ke arah Oh Sehun. Membuat namja itu celingukan ke kanan dan ke kiri.

"Krisssss" Jongin gregetan. "Kau gila?"

Kris malah tertawa cengengesan. Seolah dia tidak melakukan sesuatu yang Nantinya bisa membahayakan Jongin.

"Jongin-ssi"

Jongin nyaris tersedak ketika mendengar namanya di sebut. Ia mendongak dan mendapati Oh Sehun baru membuang sesuatu di tong sampah, yang berjarak Kurang lebih 6 meter dari posisi mejanya.

"Eh.. A.. Ano"

Kris tertawa, wajah Jongin memerah seperti udang rebus Sekarang.

Namja tampan itu tersenyum ramah. "Aku boleh duduk di sini kan?" tanya Sehun.

"I.. Iya"

"Jangan canggung begitu, kita kan sudah saling mengenal"

Sehun tidak mau berpikiran negatif jika Jongin mengikutinya. Kalau dilihat dari udon yang tengah disantap Jongin. Ia bisa menilai jika Jongin lebih dulu tiba di kedai ini sebelum dirinya.

"Aku tidak Menyangka jika akan bertemu denganmu lagi di sini"

"Aku juga, Tuan Oh"

Namja itu terkekeh. Jongin memang orang yang sopan.

"Aku selalu makan di sini setiap malam" Kata Sehun. "Ibuku terlalu lelah jika harus memasak makan malam untukku, mengingat waktu pulang kerjaku yang sering larut"

"Oh, ku pikir aku juga" Jongin menimpali. "Meski ibuku membuka kedai, tapi ibu juga sering kali kelelahan untuk memasak makan malam. Jadi ku pikir, aku makan di sini saja"

"Jongina, ini yang dibungkus" paman Jang berjalan dengan seKotak jjangmyeon yang di pesan Jongin untuk sang ibu.

Jongin mengucapkan kata terimakasih. Paman Jang pun mengangguk dan kembali bekerja di dapurnya.

"Memakai kotak makan sendiri saat membeli makanan, boleh juga"Sehun berkomentar. Sebisa mungkin ia menghilangkan kecanggungan diantara mereka.

Jongin tertawa salah tingkah. "Kalau dibungkus makanannya bisa tidak sehat"

"Aku juga mau seperti itu"

"Hahaha, iya.. Ibuku yang mengajariku untuk selalu membawa kotak makan jika hendak membeli makanan yang di bawa pulang"

Dan tak lama kemudian Seorang pramusaji tiba membawa makanan yang di pesan Sehun.

"Cepat sekali datangnya"

"Di sini tak perlu menunggu lama untuk semangkuk mie yang enak"

"Iya" kata Sehun. "Apa anda selalu makan di sini? Tapi mengapa aku tak pernah melihatmu?"

"Aku biasa mampir di sini jam 7 malam. Sehabis bekerja"

"Oh" Sehun ber Oh pelan. Dia mengerti kenapa mereka tidak pernah berjumpa satu sama lain meskipun mereka sama-sama pelanggan di kedai mie ini. "Mungkin aku yang terlalu larut ya"

"Tuan Oh"

"Ya?"

"Aku sudah selesai"

Sehun melihat ke arah mangkuk Jongin. Masih tersisa setengah di sana. "mengapa tidak dihabiskan?" tanya Sehun. "Pasti anda risih dengan keberadaanku ya?"

Jongin terkejut mendengarnya. Segera saja ia menggeleng dengan cepat dan berkata jika ia tidak bisa lama-lama karena ibunya menunggu di rumah.

Sehun dengan cepat memakan mie-nya. "Mau aku antar?"

"Eh, tidak usah"

SEHUN TERSENYUM dan berkata jika Jongin tidak perlu takut atau pun merasa formal di hadapannya. "Aku sudah selesai makannya, jadi kita bisa pulang bersama"

"Tapi Bagaimana dengan makanan anda?"

"Aku sudah kenyang" Sehun berkata santai. Ia meminta Jongin untuk menunggunya sementara Sehun membayar makanannya.

"Kenapa jadi seperti ini sih?" keluhnya.

Kris yang sedari tadi hanya menperhatikan pun akhirnya mengeluarkan suara.

'Mungkin kalian berjodoh*lol'

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

A/n

Oh thx buat semua readers yang masih setia ngikutin semua Ff ku yang gaje dan klise ini*lol. Respon kalian terlalu positif, meskipun masih ada beberapa yg jadi silent readers. Tapi aku seneng kalian masih mau baca ff aneh ini. Ada yg bilang jangan terlalu merendah. Jujur aja ya, aku tuh update nungguin para senior update. Karena kalo aku liat ff ku disandingkan sama karya karya mereka, rasanya tuh malu sendiri hahahay. Jadi aku update setelah mereka update dulu. Mungkin kalo semua author Hunkai dipertemukan dalam sebuah ballroom. Cuma aku yg kikuk. Aku orangnya gak pedean. Bahkan sempet ada readers yang nganggap aku sombong, kayak gong lah. Kalo gak disapa gak mau nyapa. Bukan begitu ya, Aku tuh masih gak percaya kalo aku punya banyak readers yg mau baca ff ff abal karyaku. Dan alasan kenapa gak pernah On Fb, karena Fb ku tuh sepi banget*lol. Jadi malu ngakuinnya.. Haha btw kalo yg nanya masih On Line lama kah? Masih kok.. Malahan niatnya mau bikin FF fluffy di sana.

Joylight25 For my official. Ig? Ada sih.. Rahasiaaaa hehe..

Ditunggu review nya yaa^^