Bukankah cinta itu seperti Tuhan yang berhenti eksis ketika kau tidak lagi mempercayainya?

.

.

.

Wei Wuxian tengah sibuk memegangi perutnya dan berusaha untuk tidak tertawa lebih lebar lagi ketika ia tersadar bahwa keheningan telah datang dengan tiba-tiba. Membungkam seisi ruangan yang sempat gaduh beberapa detik lalu.

Semua mata tertuju pada pemuda yang kini tengah berdiri di pintu masuk. Beberapa dari mereka tidak bisa menyembunyikan wajah terkejut mereka, beberapa lagi saling berbisik, menyambut apa yang tertangkap oleh indera penglihatan mereka.

Berdiri tidak jauh dari tempat Wei Wuxian duduk, Lan Wangji membalas tatapannya dalam diam.

Dan yang Wei Wuxian tangkap saat itu, sang ketua osis tak lagi berambut panjang.
.

.

.
Satu hal yang membuat Wei Wuxian terhibur dengan kehadiran Lan Wangji adalah fakta dimana dirinya dan Lan Wangji mempunyai satu kesamaan.

Keduanya sama-sama mempunyai rambut panjang.

Awalnya Wei Wuxian sedikit terkejut karena ada orang lain yang mau merawat rambutnya sampai sepanjang itu, selain dirinya sendiri. Namun, lambat laun, entah kenapa hal itu justru membuat Wei Wuxian merasa senang tanpa alasan yang jelas.

Entah karena itu artinya Wei Wuxian bisa membuat Jiang Cheng berhenti mengolok-olok panjang rambutnya, menghina panjang rambutku berarti kau menghina Lan Wangji, ucap Wei Wuxian asal saat Jiang Cheng menyuruhnya untuk memotong rambutnya itu.

Atau mungkin karena Wei Wuxian, menganggap panjang rambut Lan Wangji sangat cocok dengan parasnya yang sempurna itu. Dan membuat Wei Wuxian tidak bosan menatapnya.

Wei Wuxian tahu alasan kedua terdengar omong kosong. Karena yang Wei Wuxian tangkap saat ini, Lan Wangji masih terlihat sempurna seperti sebelumnya. Bahkan kalau boleh ia jujur, sang ketua osis di depannya nampak lebih bersinar dengan model rambut barunya.

Terlebih dengan kacamata yang bertengger dan seakan melindungi bola mata emas- wow..

Wow, batinnya mengulang.

Wei Wuxian menggelengkan kepalanya dan sadar dari lamunan. Ia menggeser tubuh dan nampan makanannya dengan cepat, mendekatkan posisi duduknya pada Jiang Cheng.

Sementara itu, Jiang Cheng yang tengah menikmati makanannya pun terganggu oleh Wei Wuxian yang secara tidak sengaja menyenggol sikunya tiba-tiba. Jiang Cheng kemudian menoleh dan menatap pemuda di sampingnya dengan tatapan 'Kau ingin mati?'

Wei Wuxian yang masih sibuk memperhatikan Lan Wangji tentu tidak menyadari hal tersebut, dan justru berbisik, "Aku tidak tahu kalau selama ini bola mata Wangzhan berwarna keemasan. Jadi selama ini dia pakai lensa kontak?"

Jiang Cheng memutar bola matanya sendiri, "WangJi," ucapnya sembari mendorong muka Wei Wuxian untuk menjauh darinya, "Berhenti memanggilnya seperti itu. Dan ya, Lan Wangji memang memakai lensa kontak. Aku lupa sejak kapan ia memakainya."

Wei Wuxian menatap Jiang Cheng dengan tatapan tak percaya, "Itu berarti kau juga melihatnya ketika ia masih berambut panjang dan menggunakan kacamata?!"

Kini giliran Jiang Cheng yang kembali menatap aneh pemuda di sampingnya. Walaupun suara Wei Wuxian tidak bisa dikatakan keras dan mengganggu seisi kantin, tapi melihat saudara angkatnya yang bersikap aneh hanya karena sang ketua osis baru memangkas rambutnya, bukanlah sesuatu yang ingin dilihat Jiang Cheng di jam istirahat sekolah.

"Kau tertarik dengan Lan Wangji," ucap Jiang Cheng datar. Bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang kemudian membuat Wei Wuxian berdesis.

"Siapa yang tidak tertarik dengan Wangzhan?" balasnya. "Siapapun yang melihat wajah Wangzhan dan tidak menganggapnya seperti seorang dewa, aku yakin mereka buta dan tidak bisa dikategorikan sebagai makhluk hidup."

Jiang Cheng berpikir sejenak dan berniat ingin membalas dengan, 'Aku tidak,' namun niatnya itu segera ia urungkan karena ia baru mengingat bagaimana dirinya juga pernah berpikiran tentang hal yang sama, saat pertama kali dirinya melihat sosok Lan Wangji.

"Baiklah, aku akan kesana dan menemaninya makan," ucap Wei Wuxian tiba-tiba.

Jiang Cheng menghentikan Wei Wuxian secepat yang ia bisa sebelum makhluk astral di sampingnya itu membuat keributan.

"Apa kau gila?" bisiknya, memaksa Wei Wuxian kembali duduk di sampingnya. "Kau ingat apa yang kau lakukan padanya kemarin? Kau menciumnya! Di bibir! Kau mencium Lan Wangji. Sang ketua Osis. Seorang Lan! Di bibir!"

Wei Wuxian menjauhkan tubuhnya dari Jiang Cheng sembari menatap pemuda di sampingnya dengan tatapan aneh, "Lalu?" tanyanya. "Aku melakukannya untuk membuktikan kalau aku tidak menghisap rokok itu. Dan kalau tidak seperti itu, mana mungkin aku bisa membuktikan pada mereka kalau tidak ada aroma tembakau di bibirku? Hm?"

"Kau tidak mengerti," Jiang Cheng mendengus kesal, "Apa kau sadar bahwa sejak kita disini banyak orang yang memperhatikan gerak-gerikmu? Aku menemanimu kesini karena aku tidak ingin terjadi apa-apa-"

Wei Wuxian memotong, "Aiya, Jiang Cheng! Aku terharu melihat kau yang begitu peduli padaku. Sini, sini, biar gege ini beri pelukan untukmu."

"Enyah kau!" Jiang Cheng mendorong keras kepala Wei Wuxian, "Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada orang-orang tersebut, itu yang 'ku maksud. Siapa yang peduli kalau mereka akan menghajarmu? Kau itu kapten klub martial arts."

Wei Wuxian mengerucut, sebelum akhirnya menghisap habis susu kotak yang kini digenggamnya.

"Lagipula aku tidak habis pikir kalau kau akan memakai trik kotor itu pada Lan Wangji. Beruntung Xichen laoshi ada di tempat yang sama, kalau tidak..." Jiang Cheng menggelengkan kepala dan mendengus pelan.

"Umh..." Wei Wuxian kembali menatap Jiang Cheng, "Kau menyadarinya juga, bukan?"

"Menyadari apa?" Jiang Cheng ganti menatapnya pemuda disampingnya dengan malas.

"Saat itu, yang menahanku di tempat justru Lan Zhan," Wei Wuxian menyeringai kecil ketika tatapan Jiang Cheng berubah menjadi tatapan horor, "Aku tidak berbohong, aku bahkan bisa merasakan lidahnya yang menyap-"

Kata-katanya terpotong ketika Jiang Cheng dengan paksa memasukkan segenggam kentang goreng ke mulut Wei Wuxian untuk membungkam pemuda tersebut.

"Kalau mereka tidak membunuhmu saat ini juga, maka aku yang akan membunuhmu,."

Seketika seisi kantin pun menjadi gaduh. Wei Wuxian berhasil terlepas dari cengkeraman Jiang Cheng dan kini sibuk melarikan diri dari kejaran si buas Jiang.

Mereka tidak menyadari tatapan dingin yang diberikan pemilik bola mata emas yang tersembunyi dibalik kaca matanya.
.

.

.

"Wenniiiinnggg," Wei Wuxian merengek, sebisa mungkin tidak menginjak batas antara koridor dan ruangan berlatih martial arts di depannya.

Pemuda yang dipanggilnya menoleh dan bangkit dari posisi duduknya. "Kapten Wei," gumamnya sebelum memutuskan untuk berlari kecil kearah Wei Wuxian.

Wei Wuxian masih mengeluarkan tangisan palsunya, tertunduk lesu dan duduk bersandar pada kusen pintu di sampingnya. Sesekali ia mengusap-usap kusen itu sembari kembali merengek, "Kenapa kalian berlatih tanpa kapten kalian? Apa kalian tidak merindukan kapten kalian ini?"

Sebagian orang yang berada di dalam ruangan tersebut memutar bola mata mereka saat mendengar hal itu. Sebagiannya lagi hanya mendengus geli dan melanjutkan latihan mereka.

Wen Ning yang kini tengah duduk diatas kedua kakinya yang terlipat kebelakang hanya tersenyum kaku, namun tidak terlihat kikuk, "Kapten Wei, hari ini... adalah hari pertama kami berlatih tanpa kapten kami. Aku harap...mereka segera menangkap pelakunya. Jadi kau...bisa kembali berlatih... bersama kami."

Wei Wuxian menatap lesu pemuda di depannya seketika. Dan sebelum sempat ia kembali melakukan aksi tangisan buayanya, Wei Wuxian bisa mendengar namanya terpanggil dari speaker di dalam ruangan klubnya itu.
.

.

.

Wei Wuxian bergegas menuju ke lokasi yang baru saja di dengarnya tadi. Ia menghiraukan tatapan para siswa dan siswi yang diberikan kepadanya ataupun bisikan-bisikan yang dengan samar tertangkap telinganya.

Wei Wuxian bahkan tidak sempat meminta maaf ketika ia bertabrakan dengan seseorang di salah satu anak tangga yang ia naiki. Ia hanya sempat menundukkan kepala sejenak kepada pemuda yang ditabraknya tadi sebelum kembali melangkahkan kakinya.

Setibanya ia di tempat yang di tuju. Kedua bola matanya menangkap sosok Lan Wangji. Tentu Wei Wuxian tidak heran lagi kenapa teman sekelasnya itu bisa berada disana. Mengingat statusnya sebagai ketua osis.

Pandangan Wei Wuxian beralih pada sesuatu yang tergeletak di atas meja.

"Kami menemukannya di dalam lokermu siang ini," Lan Qiren membuka suara.

Dan Wei Wuxian mengumpat seketika di dalam hati.

Di atas meja tersebut, terdapat beberapa kertas dan selembar kunci jawaban. Sedangkan amplop cokelat yang menjadi alas kertas-kertas tersebut tertulis; Dokumen Rahasia.

"Wei Wuxian, kau tidak diizinkan untuk menginjakkan kakimu di gedung utama selama dua minggu. Termasuk mengikuti pelajaran atau test yang berlangsung selama periode tersebut. Nilai yang tidak dapat kau raih akan menjadi resiko yang harus kau tanggung sendiri."

Wei Wuxian mengepalkan tangannya, erat. Dan menatap kertas-kertas di depannya itu dalam diam.

"Bagaimanapun, kau masih diizinkan untuk menetap di asrama Gusu sampai batas hukumanmu berakhir," Lan Qiren menambahkan.

Wei Wuxian tidak tahu harus berkata apa lagi. Tentu ia bisa mendengar dengan jelas kata demi kata yang mengalir dari mulut sang kepala sekolah.

Namun, yang ada dipikirannya kali ini hanyalah satu; Seseorang benar-benar ingin menjadikannya sebagai kambing hitam.

Bahkan menyangkal sekalipun, tidak akan menguntungkan posisinya saat ini.

Dengan perasaan berat, Wei Wuxian pun membungkukkan badan ke arah Lan Qiren, kemudian ke arah Lan Xichen yang juga nyatanya ikut menemani mereka sejak tadi.

Ia bisa melihat sekilas, tatapan khawatir yang diberikan Lan Xichen kepadanya.

Wei Wuxian menghela napas sejenak sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Dengan pikiran yang berkecamuk dan perasaan yang masam.

Ia bahkan tidak menghiraukan panggilan seseorang yang berusaha menghentikannya.

Sesampainya di tikungan yang menghubungkan antara koridor dan anak tangga di depannya, Wei Wuxian pun menghentikan langkah kakinya dan berteriak seketika.

"Aaarrggh!" Wei Wuxian berjongkok dan menenggelamkan kepalanya pada lututnya, kesal.

"Wei Ying!"

Wei Wuxian bisa merasakan kehadiran seseorang disampingnya. Ia sedikit melirik ke sumber asalnya suara dan mendapati Lan Wangji kini bertumpu pada satu lututnya, memposisikan dirinya agar sejajar dengan Wei Wuxian.

Melihat hal itu, Wei Wuxian pun tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, "Hargh!" serunya, sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan dari posisi jongkoknya tadi.

Namun, sebelum sempat Wei Wuxian terjatuh dari posisi jongkoknya, Lan Wangji dengan cepat sudah menahan lengannya.

"L...Lan Zhan," gumam Wei Wuxian, dan seketika saja ia bisa merasakan cengkeraman Lan Wangji pada lengannya menguat, "Ow! Ow! Ow!"

Napas Lan Wangji terdengar tercekat. Dan dengan segera, ia pun melepaskan cengkeraman tangannya pada lengan Wei Wuxian.

"Maaf."

Wei Wuxian bisa mendengar pemuda di depannya menggumam. Ia pun terkekeh pelan.

Setelah memutuskan untuk mendudukkan dirinya di atas lantai, Wei Wuxian mendekatkan wajahnya pada pemuda di sampingnya, "Aku tidak tahu kalau kau mempunyai warna bola mata yang indah," ucapnya tiba-tiba.

Mendengar hal tersebut, Lan Wangji segera menjauhkan dirinya dari Wei Wuxian dan membenarkan posisi kacamatanya.

"Jangan bercanda," Lan Wangji kembali membuka suara.

Wei Wuxian hanya menggumam kata "Heeeh," sembari menerima uluran tangan pemuda di sampingnya tersebut dan bangkit dari posisi duduknya.

"Lan Zhan, apa kau tidak suka kalau 'ku puji?"

Pemuda di depannya itu tidak menjawab dan justru balik bertanya, "Kau berhenti memanggilku Wangzhan?"

"Ah," mulut Wei Wuxian menganga, sedikit terkejut atas aksinya sendiri, "Aku bahkan tidak menyadarinya," Ia tertawa sejenak sebelum kembali berkata, "Aku rasa ini karena Jiang Cheng terus-menerus menyuruhku untuk berhenti memanggilmu Wangzhan. Kau keberatan kalau 'ku panggil Lan Zhan? Tidak 'kan? Kau bahkan memanggilku Wei Ying! Ah, benar juga. Sudah seminggu ini kau tidak memanggil namaku dan aku merasa kesepian!"

Wei Wuxian tidak berhenti berbicara. Bahkan ketika Lan Wangji mengisyaratkan padanya untuk kembali melangkahkan kaki dan berjalan menuju ke ruang kelas mereka, suaranya tidak pernah sekalipun padam. Topik demi topik pembicaraan berganti dengan cepat, hal-hal yang terkesan random juga tak luput keluar dari bibirnya. Dan walaupun Lan Wangji sendiri memilih lebih banyak terdiam atau sesekali menggumam 'Mm' untuk menjawabnya, entah bagaimana, perasaan berkecamuk yang sempat menyelimuti benak Wei Wuxian, seakan lenyap begitu saja.

Jika seseorang bertanya padanya, hubungan seperti apa yang ia miliki dengan Lan Wangji. Maka Wei Wuxian tidak akan pernah tahu jawaban seperti apa yang cocok untuk menjelaskan hubungannya dengan sang ketua osis.

Lan Wangji tentu terlihat seperti seseorang yang menjaga jarak darinya. Yang juga membuat Wei Wuxian yakin kalau pemuda itu membencinya. Tapi terkadang Lan Wangji juga membuat Wei Wuxian berpikir kalau mungkin...mereka bisa saling mengenal lebih dalam dan membangun tali pertemanan.

Panggilan 'Wei Ying' yang sempat diucapkan pemuda yang kini tengah berjalan disampingnya itu pun bukan pertama kalinya tertangkap oleh indera pendengaran Wei Wuxian.

Wei Wuxian sudah mendengarnya ratusan kali, keluar dari mulut yang sama. Dengan berbagai nada bicara, ekspresi dan emosi yang mengalir bersamaan dengan dua suku kata namanya itu.

Ia sendiri yang menyuruh Lan Wangji untuk memanggilnya seperti itu. Karena Wei Wuxian merasa tidak adil jika hanya dia yang memanggil Lan Wangji dengan nama kecilnya.

Dan mengingat ekspresi yang dibuat Lan Wangji saat itu, ketika Wei Wuxian dengan santai menyuruh pemuda tersebut untuk memanggilnya 'Wei Ying', tentu tidak membuat Wei Wuxian menyesalinya.

Tatapan Wei Wuxian kembali beralih pada tengkuk leher Lan Wangji ketika pemuda tersebut berjalan mendahuluinya. Pemandangan itu merupakan hal baru bagi Wei Wuxian karena sejujurnya, kedua matanya tersebut telah terbiasa melihat rambut Lan Wangji yang terurai, menutupi tengkuk lehernya itu.

Meskipun, harus ia akui, kalau Lan Wangji terlihat semakin menawan dengan rambut barunya, Wei Wuxian tidak bisa berbohong kalau ada perasaan tak nyaman tersendiri yang menyelimuti hatinya.

Wei Wuxian bisa mengingat dengan jelas bagaimana helaian rambut pemuda di depannya itu menyentuh tangannya, ketika ia memainkannya saat jam-jam pelajaran berlangsung. Dan ketika ia dilanda dengan kebosanan.

Wei Wuxian tahu Lan Wangji menyadari hal tersebut. Namun, karena tak ada satu katapun yang terlontar dari mulut Lan Wangji, Wei Wuxian menganggap kalau pemuda tersebut tidak terlalu mempermasalahkannya.

Di satu sisi, status Lan Wangji sebagai ketua osis, bukanlah sebuah status yang bisa dianggap remeh oleh siapapun. Termasuk oleh Wei Wuxian sendiri.

Tidak jarang, Lan Wangji memergokinya tengah memanjat pagar sekolah karena terlambat bangun. Yang berujung dengan diseretnya Wei Wuxian ke tengah lapangan dan membuatnya harus bertekuk lutut serta menjadi bahan tertawaan seisi sekolah.

Wei Wuxian tidak pernah menghiraukan hal tersebut. Meski Lan Wangji sendiri sudah berulang kali memperingatinya agar tidak terlambat. Tapi, kalau hal itu bisa membuat seorang Lan memberikannya sebungkus roti dan sekotak susu dingin setelah Wei Wuxian menjalani hukuman tersebut, siapa yang akan menolaknya? Tentu saja bukan Wei Wuxian.

Terlebih jika seorang Lan itu tidak lain tidak bukan adalah Lan Wangji sendiri.

Wei Wuxian menghentikan langkah kakinya tiba-tiba setelah menyadari kalau pemuda yang sempat berjalan di depannya kini berbalik dan menatap dirinya.

"Aku akan membantumu."

Wei Wuxian tidak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya, "Huh?" ucapnya dengan tatapan penuh kebingungan yang ia berikan pada pemuda di depannya tersebut.

"Aku akan membantumu mencatat semua pelajaran selama dua minggu ke depan."

Kali ini tatapan Wei Wuxian terganti dengan tatapan tak percaya, "Lan Zhan..."

Sementara pemuda yang berada di depannya itu kembali melangkahkan kaki, tidak menghiraukan panggilan Wei Wuxian terhadapnya.

"Lan Zhan, apa kau tidak sengaja membenturkan kepalamu kedinding setelah aku menciummu kemarin?"

Suara 'Brak!' terdengar sangat keras setelahnya.

Dan Lan Wangji jatuh tersungkur ketika pintu ruangan kelas mereka terbuka dari dalam. Tiba-tiba saja.

"Lan Zhan!"