Tittle : The Past
Cast : Xi Luhan and all the member.
Warning And Disclaimer : seluruh member milik keluarga dan tuhan-nya, saya hanya pinjam nama dan ide cerita murni milikku.
"Wow, aku harap di zaman ini sudah ditemukan kamera. Sayang sekali, momen Tao yang berhati lembut mengangkat tinju dihadapan Chen yang emosional, terlewatkan begitu saja." desahnya sesal.
Chen terus meronta di tangan Tao yang mencekiknya. Matanya sudah berair dan napasnya sudah tersengal. "Apa kalian akan diam saja?" hardik Luhan pada Kris dan Min Seok yang terdiam.
Dengan gerakan lambat, kedua orang tersebut mendekati Tao dan Chen. Kris memiting tangan Tao hingga sang empu meringis kesakitan sedangkan Min Seok menolong Chen yang hampir pingsan dan mendudukkannya agak jauh dari Kris dan Tao yang mulai baku hantam.
Lay segera memeriksa keadaan Chen sementara Kris dan Tao melawan satu sama lain dan Min Seok mengurus 6 orang bawahan Tao. Hingga pukulan Tao mengenai luka didada Kris yang belum sepenuh sembuh dan membuatnya tersungkur.
Luhan segera berlari mendekati Tao yang akan menendang tubuh Kris dan menahan kaki itu lalu membantingnya ke tanah. Ia kemudian memiting tangan Tao ke belakang dan mengunci pergerakannya. "Huang Zitao, kami bukan musuhmu." Ujar Luhan lembut, seperti mantra kalimat Luhan menghentikan Tao yang meronta.
Tapi baru beberapa detik Luhan mengira Tao akan mendengarkannya. Tubuhnya terpelanting dan terlentang di jalanan, ia segera bangkit dan melihat tatapan Tao yang seperti meremehkan sebelum lari dan menghilang dari pandangan.
"Aku lebih suka Tao dimasa depan," dumelnya dan berbalik menuju Chen yang sedang menuruti perintah Lay untuk mengatur napasnya. Sementara Kris mencoba membubarkan kerumunan, Min Seok duduk sebagai sandaran Chen. "Gwaenchana Chen~ie?"
Chen mengangkat kepalanya dan menatap Luhan bingung. "Hamba berterimakasih karena kemurahatian Tuan Muda." Balas Chen lembut. "Tapi hamba sungguh kaget mendengar Tuan Muda berbicara bahasa hamba, bagaiamana Tuan Muda tahu hamba bukan rakyat Huan?"
"Err…?"
"Tuan Luhan adalah seorang Oracle." Sahut Min Seok yang langsung diterima oleh Chen. "Aku harap lukanya tidak terlalu berat?" tanyanya dengan bahasa mandarin pada Lay.
"Tidak ada luka yang cukup berarti," sambung Lay dan beralih pada Luhan. "Luhan gege, sebaiknya kita kembali ke istana sebelum Yang Mulia Raja mengetahui anda keluar istana."
"Baiklah," balas Luhan tidak peduli. "Pai-pai Chen~ie!"
"Siapa Chen~ie, Luhan gege?" tanya Kris setelah kembali dari pembubaran.
"Oh ya, namamu Kim Jong Dae kan?" tebak Luhan yang sudah mulai terbiasa dengan penemuan-penemuan ini.
Chen hanya mengangguk takjub sedangkan Min Seok menatap Luhan penuh pengaguman dan berdiri. "Aku akan mengantar Jong Dae-ssi kembali ke penginapannya Tuan!"
Luhan berpisah dengan Min Seok dan Chen untuk kembali ke istana hingga kalimat nenek itu kembali terngiang. "'13 darah suci dan meminumnya. Mereka adalah orang-orang yang berkaitan dengan masamu, Xi Luhan'. Semua sudah terlihat jelas dan berhubungan satu sama lain. Tapi kenapa dengan 13 darah suci? Kalau memang berkaitan dengan masaku. Dengan kemunculan wajah yang kukenali satu persatu, itu berarti hanya ada 12 darah suci. Lalu siapa yang satu lagi? Apakah aku juga termasuk dalam darah suci itu?" pikiran Luhan melalang buana hingga ia tak sadar sudah memasuki kamarnya.
"Tuan," panggil Zhi Jun namun Luhan seperti tak mendengarnya. "TUAN!"
Luhan tersentak dan tersenyum lemah pada Zhi Jun dan menyadari Ia telah sampai di paviliun. Kris dan Lay memandang khawatir padanya begitu pula Zhijun. "Iya?"
"Tuan, penglihatan apa yang dapatkan? Mengapa Tuan terlihat begitu terlarut dalam pemikiran anda?" ujar Zhi Jun, tulus.
"Penglihatan apa? Apa mereka mengira aku mendapatkan penglihatan seperti yang biasanya para Oracle dapatkan?" pikir Luhan geli. "Tak ada yang perlu di khawatirkan, hanya penglihatan biasa." Balas Luhan ikut bermain dalam permainan ini, sembari menahan tawanya. "Ada yang ingin kau sampaikan?" Zhi Jun menggeleng. "Kalau begitu bisa tinggalkan aku. Aku butuh istirahat."
Zhi Jun mulai meninggalkan kamarnya diikuti oleh Lay. Kris memandangnya ragu sebelum memutuskan membiarkan majikannya hingga suara Luhan kembali menghentikannya. "Kris?" luhan memberi tanda untuknya mendekat dan duduk di kursi di tengah ruangannya. "Kau ingat wajah pria yang menyekik pedagang Kim Jong Dae tadi?" Kris hanya mengangguk. "Namanya adalah Huang Zitao, aku ingin kau mencarinya dan membuatnya menjadi orang kita."
Kris memandangnya ragu sebelum mengutarakan isi hatinya. "Maaf jika hamba lancang, hanya saja mengapa Luhan gege ingin pemuda itu menjadi orang anda."
Luhan tersenyum jahil dan dengan cepat menyembunyikannya. "Dia adalah salah satu kunci untuk negara kita bebas dari kutukan." Sambung Luhan dengan wajah muram.
Seperti yang di prediksi Luhan, wajah Kris menunjukkan kegelisahan juga ketakutan. Ia segera mohon undur diri dan pergi dari pavilion itu. Sedangkan Luhan, ia menahan tawanya sementara melihat Kris hampir terjungkal jatuh dari anak tangga pavilion.
*Past*
Luhan memutuskan untuk tidak keluar dari istana sementara Kris melacak keberadaan Tao. Setelah Tao benar-benar di bawah kuasanya, ia akan segera pergi ke Korea untuk melacak yang lain dan mencari tahu apakah ia termasuk dalam darah suci dan anggota ketigabelas.
Luhan duduk di dalam gazebo, sembari memperhatikan para dayang dan kasim mempersiapkan altar untuk upacara pengorbanan dari jarak jauh hingga Zhi Jun mengumumkan kedatangan Min Seok.
"Apa yang kau lakukan disini, Min Seok~ah?" tanya Luhan santai.
"Hanya menikmati cuaca hari ini dan menemukan Tuan melamunkan sesuatu." Balasnya. "Bolehkan hamba duduk?"
Luhan mengangguk singkat. "Panggil aku Luhan saja, aku juga lebih muda darimu."
Min Seok terlihat terkejut. "Itu tidak mungkin saya lakukan Tuan? Jika hamba melakukan hal tersebut, Yang Mulia Raja Huan akan sangat marah dan menganggap hal tersebut sebagai penghinaan."
"Berlebihan!" pikir Luhan. "Terserah kau saja." Mereka tidak berbicara lebih lanjut dalam keheningan yang santai. Tapi rupanya tidak untuk Min Seok, sering kali ia terlihat ingin berbicara sesuatu namun tak berani untuk mengungkapkannya hingga Luhan menangkap gelagatnya. "Ada apa?"
Luhan menunggu dengan sabar ketika Min Seok mengumpulkan keberaniannya dan mulai berbicara. "Hamba perhatikan, Komandan Yi Fan terlihat tergesa-gesa dan gelisah."
"Oh aku baru tahu kalau pangkat Kris disini adalah Komandan, lumayan tinggi juga."
"Hamba tidak bermaksud untuk memancingnya untuk mengatakan hal yang menganggunya namun Yi Fan mengatakan bahwa ia ditugaskan oleh Tuan untuk mencari pemuda bernama Huang Zitao sebagai salah satu kunci untuk terbebas dari kutukan?"
"Aku tidak tahu lelucon konyolku akan menjadi sebesar ini .Jika kukatakan kutukan itu benar maka Xiumin hyung akan memberitahu kerajaan Goryeo bahwa Huan berada di ujung tanduk dan itu berdampak buruk untuk Huan dan untukku jika aku tidak punya kekuasaan pada saatnya aku harus mencari yang lain di Korea. Kalau kukatakan bahwa kutukan itu hanya lelucon sesaat, dengan posisiku sebagai oracle saat ini, untukku melontarkan lelucon macam kutukan itu akan berakibat buruk padaku, posisiku dan kepercayaan raja. Aku juga tidak bisa menyalahkan Kris tentang hal ini karena akulah pemicu awalnya."
"Tuan?" panggilan Zhi Jun yang terdengar begitu khawatir dan was-was kembali menyadarkannya.
"Siapa yang sudah mengetahui ini Zhi Jun?" tanya Luhan dengan perasaan campur aduk.
"Yang Mulia Raja, beberapa menteri dan pejabat, serta dayang tertinggi." Jawab Zhi Jun yang tidak bisa menyembunyikan ketakutan dan kekhawatirannya.
"WOW, I'M DOOMED! Bagaimana lelucon untuk Kris bisa berdampak begini mengerikan? Dan bagaimana bisa Kris membocorkan kutukan palsu itu?!"
"Yang Mulia Raja ingin anda sendiri yang mengatakan keadaan gawat ini padanya dan ia sudah memberikan kuasa penuh untuk Tuan menyelesaikan kutukan ini." sambung Zhi Jun.
"WELL I'M NOT DOOMED and not bad enough! Kurasa aku juga harus berterimakasih pada Kris karena telah memberikanku sebuah kekuasaan lain. Tapi bagaimana aku menjawab pertanyaan Xiumin hyung yang sekarang merupakan Jendral kerajaan Goryeo?"
Luhan mengalihkan pandangannya dari Zhi Jun dan menatap Min Seok yang tidak terbaca ekspresinya. "Huang Zitao bukan satu-satunya kunci untuk lolos dari kutukan ini," Luhan merasa ia membuat masalah semakin buruk dengan membiarkan mulutnya berbicara tanpa batasan, namun ia sendiri tidak mampu menghentikannya. "ada beberapa pemuda lain yang menentukan kutukan ini bisa dihancurkan atau tidak? Aku berharap bahwa Jendral tidak tersenyum atas kutukan yang menimpa kerajaan Huan saat ini karena takdir Goryeo pun di petaruhkan." Luhan bisa melihat bagaimana tubuh Min Seok tersentak sedikit mendengar nama Goryeo disebutkan. "Dan anda satu dari 13 pria yang memegang kunci kutukan tersebut?"
"Ya Tuhan, ingin sekali aku tersenyum dengan alasan yang baru kuberikan tadi! Aku benar-benar jenius bisa memberikan alasan yang begitu masuk akal dan bisa membungkam mulutnya. Setelah aku kembali kemasa depan, mungkin aku akan menjadi motivator atau pembual dengan kemampuan berbicaraku."
"Kau pikir kenapa aku mengetahui namamu saat kita pertama kali bertemu?" ujarnya sarkastik dengan setengah berdusta.
Baru saja Luhan ingin menambahkan unsur-unsur mistis yang akan menambah kesan Oracle-nya, Kris datang dengan tergesa-gesa dan segera berlutut. "Luhan gege, hamba telah menemukan keberadaan Huang Zitao. Namun hamba tidak tahu apa yang harus hamba lakukan agar Huang Zitao menjadi bagian dari anda?" ucap Kris dan mengangkat kepalanya. Baru ia sadari bahwa Min Seok berada di tengah-tengah mereka, raut wajah Kris segera menunjukkan ketakutan dan penyesalan sedalam-dalamnya. "Lu…Lu..Han ge, hamba"
"Kris, kau bisa bangkit dari lututmu dan panggil Lay karena kita akan segera pergi ke tempat Tao." Ujar Luhan lembut.
"Tapi Tuan?" Zhi Jun menyela. "Manusia rendahan in telah membocorkan perintah anda kepada orang Goryeo, ia harus segera dihukum."
"Apa Zhi Jun dan Kris saling membenci satu sama lain dan mencoba untuk saling menjatuhkan?"
Kris segera bersujud dan mengungkapkan kalimat penyesalan. "Maafkan hamba Tuan Luhan, hamba menjadi beban Tuan. Hukumlah hamba, Tuan! Hamba pantas mati!"
"Wow, hukum hamba. Hamba pantas mati! Bukankah dia pengawal pribadiku? Jika aku biasa menghukumnya, hukuman apa yang biasa kuberikan?" pikir Luhan kaget. Tiba-tiba sekelebat bayangan berputar seperti potongan film. Potongan ingatan dimana ia yang mencambuk dayang-dayang istana, ia yang merancang kudeta untuk raja yang sekarang, ia yang menyeret seorang anak perempuan menuju altar untuk upacara pengorbanan dan ia yang memotong kepala salah satu pengawal pribadinya sebelum Kris.
*Past*
Luhan bangun dengan kepala berdenging. Beberapa tabib istana yang sedang mengobatinya tersentak hingga menjatuhkan basin-basin berisi air di meja disebelahnya. Setelah menyesuaikan matanya, ia melihat raut ketakutan para tabib itu ketika berhadapan dengannya.
"Aku tidak menyangka diriku dimasa ini adalah seorang yang kejam. Pantas saja aku merasa aneh ketika melihat mata para dayang dan orang istana bergidik ngeri ketika melihatku." Luhan menghela napas dan memberi isyarat untuk para tabib keluar dari kamarnya dan segera dituruti. Luhan memakai pakaian biasa sebelum memanggil Kris dan Lay untuk menunjukkan keberadaan Tao.
"Tuan yakin anda baik-baik saja?" tanya Lay.
"sejak kapan panggilan Tuanku kembali." Hardik Luhan melirik Lay, yang tanpa sadar membuat tabib manis itu bergidik dibuatnya. "Dan kenapa aku tak melihatmu merawatku?"
"Yang Mulia Raja tak mengizinkan hamba untuk merawat anda Luhan gege." Luhan hanya bisa menghela napas sebal. Mereka berjalan menuju kediaman Tao di tepi kota tapi beberapa meter dari tempat yang dituju. Luhan menemukan Min Seok dengan pakaian rakyat biasa menunggunya.
"Ada apa?" tanya Luhan basa-basi, ketika Kris yang dibelakangnya masih belum berani mengutarakan satu kata pun untuk membuka kalimat basa-basinya.
"Tuan ingin bertemu dengan Tao bukan? Hamba ingin tahu siapa salah satu kunci selain hamba?" jawab singkat dan Luhan bisa merasakan pergerakan kaget Kris di belakangnya.
Luhan tidak ambil pikir panjang dan menyuruh Kris berjalan di depannya untuk menunjukan jalan. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya mereka sampai di perkampungan kumuh. "Ya Tuhan, apa yang kuharapkan selain perkampungan kumuh dimana Tao tinggal sekarang?" pikirnya sarkastik dan tetap mengikuti Kris di depan dan Min Seok yang berjaga-jaga dibelakang sementara Lay berjalan disamping Luhan setelah pria itu merasa Lay ketakutan.
Mereka berhenti di depan rumah besar yang sudah dimakan masa. Para penghuni disana menatap mereka penuh selidik dan membuat bulu kuduk Luhan meremang. Kris terus berjalan maju menggiring Luhan memasuki sebuah ruangan dimana Tao sudah duduk di singgasana reyotnya dengan angkuh.
"Ya Tuhan, engkau tahu berapa hamba sekarang berterimakasih dengan Tao yang lemah lembut dan emosional di masa depan daripada Tao yang galak di masa ini didukung dengan wajahnya yang seperti itu, dan sekarang hamba menyesali pernah menginginkan pribadi Tao yang sesuai dengan wajahnya." racau Luhan dalam hati.
"Wah! Wah! Wah! Bukankah ini Xi Luhan, Oracle paling cemerlang dan kesayangan Yang Mulia Raja Huan." Sambut Tao setengah mengejek tanpa bangkit dari kursinya. "Dan ia mencari Huang Zitao yang rendahan ini?"
"Sekarang apa Luhan?" Luhan bertanya pada dirinya sendiri. "Kau pergi jauh-jauh dari istana untuk Tao mengikutimu. Tapi mendengar sambutannya seperti ini, tidak mungkin Tao akan mengikutiku hanya dengan kata-kata. Karena ini bukan zaman modern dimana Tao mengerti tentang fashion, percuma saja kalau aku akan menyogoknya dengan tas kulit Gucci." Tanpa sadar pandangan mata Luhan mengosong dan membuat orang-orang disekitar menjadi was-was. "Selain barang ber-merk, apa yang menjadi kelemahan Tao?"
"Luhan ge," panggil Yixing sembari menepuk bahu Luhan sehingga ia sadar.
Luhan menoleh ke arah Yixing pelan dan melihat raut kekhawatiran dan sedikit ketakutan. Ia kembali beralih dimana Tao duduk dan melihat wajah tegangnya. "Good, I'd love to see that face now." Sorak Luhan tanpa sadar bahwa ia setengah berteriak.
Tao langsung bangkit dari duduknya dan menatap horror pada Luhan. "Apa yang kau ucapkan?"
Luhan tak jadi menyesali teriakannya dan tersenyum sumringah. "Bisa kita bicara tanpa bawahanmu?" pintanya, namun Tao tak bergeming. "Ini soal kalimat yang kuucapkan tadi?"
Perlahan Tao memerintahkan para bawahannya untuk pergi dan menyisakan mereka berlima. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Saatnya membesarkan kutukan," Luhan menghilangkan senyuman yang sedari tadi berada di wajahnya. "Aku melihat sebuah kutukan yang sebentar lagi akan menimpa 3 kerajaan besar."
Min Seok menghembuskan napasnya kasar ketika mendengar 3 kerajaan besar disebutkan. "Apa hubungannya denganku?" sahut Tao.
"Kau adalah salah satu dari 13 kunci yang bisa menghancurkan kutukan itu?" dustanya lancar. "Semakin lama aku semakin lancar merangkai kebohongan demi kebohongan, kurasa aku berbakat menjadi pembual daripada motivator."
"Aku tidak percaya pada Oracle yang bahkan membunuh adiknya sendiri untuk upacara pengorbanan." Umpat Tao sinis. "Siapa tahu untuk tahun ini kalian membutuhkan 13 orang untuk upacara pengorbanan?"
Bagai sebuah belati menusuk tepat di jantungnya, Luhan berlutut sembari mencengkram dadanya. Lay segera bersimpuh mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Luhan. Rasa sakit di dadanya menjalar menuju kepalanya dengan potongan bayangan bermain di benaknya.
"Maafkan gege, Lu Fang."
"Jangan! Jangan ge! Aku masih ingin hidup!"
Anak perempuan yang ia seret menuju altar pengorbanan ternyata adalah adik dari Xi Luhan dimasa ini.
*Past*
"Ini kedua kalinya Luhan ge pingsan," Luhan mendengar suara Lay samar. Perlahan ia membuka matanya dan mendapati dirinya terbaring di kamar kumuh.
"Dua kali? Mungkin saja Oracle kalian terkena kutukan yang ia bicarakan," sahut Tao dan hampir mendapatkan sebuah pukulan dari Min Seok.
"Jadi kau pikir kau dan aku adalah kutukan juga," seru Min Seok memenjarakan Tao diantara dirinya dan dinding. "Aku juga salah satu dari kunci kutukan itu!"
Kris segera bertindak dengan menjauhkan Min Seok dari Tao. "Apa maksudmu? Kau salah satu kunci?"
"Kalian semua adalah kunci kutukan itu," celetuk Luhan membuat keempat orang itu sadar dengan kehadiran Luhan. "Iya termasuk kau Lay." sambung Luhan ketika Lay ingin berbicara. "Yang ingin kuberitahu kepadamu, Tao, adalah untuk memberitahu semua ini."
"Jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Tao tegang.
"Aku ingin kau ikut denganku ke istana dan membantuku mencari yang lain," pinta Luhan mencoba berdiri dan mendekati keempat orang itu.
"Kalau aku menolak?"
"Sederhana, kita semua mati." Dusta Luhan, entah darimana ia mendapatkan jawaban untuk pertanyaan itu. Mau tidak mau, Tao menurut. Sore itu mereka semua kembali ke istana dan Luhan segera mengajak Min Seok menemui raja Huan.
"Lu Lu!" seru Feng bahagia. "Apa yang membuatmu datang kemari bersama Jenderal?"
"Kau pasti sudah tahu tentang kutukan itu bukan?" Luhan langsung duduk dihadapan raja tanpa dipersilahkan. "Aku ingin membicarakan hal ini?" Feng segera duduk berhadap-hadapan dengan Luhan dan Min Seok berdiri diantara mereka. "Ada cara untuk meruntuhkan kutukan ini, Feng. Yang kubutuhkan hanya menemukan 13 orang tersebut dan melakukan upacara."
"Lalu?"
"Aku butuh pergi ke Goryeo untuk menemukan mereka semua, dan aku butuh semua kekuasaan yang bisa kau berikan kepadaku." Ungkap Luhan tanpa basa-basi serta dengan wajah tak kalah serius.
Feng terlihat menelan ludah dengan susah payah dan mengangguk ragu. "Akan kupersiapkan semua," ia beralih pada Min Seok. "Jenderal, aku harap kau mengirim surat ke Goryeo perihal kedatangan Oracle kami. Bukankah itu sebabnya kau membawa Jenderal untuk mendengarkan pembicaraan ini?" Feng kembali beralih pada Luhan yang susah payah menahan senyuman kepuasan.
"Ada hal lain yang ingin kubicarakan Feng?" ujar Luhan, kali ini dia merasa benar-benar harus membual tentang ini. Feng terdiam, membiarkan Luhan melanjutkan kalimatnya. "Kita takkan membutuhkan upacara pengorbanan lagi."
"Bagaimana hal itu mungkin terjadi? Kita sudah melakukan upacara ini secara turun-temurun bahkan pada dinasti sebelumku?" elak Feng tak percaya.
"Aku mendapatkan penglihatan tentang ini Feng. Kita tak perlu melakukan apapun yang berkaitan dengan pengorbanan. Dewata yang membisikannya padaku." Sela Luhan ketika Feng akan menjawabnya. Dan Feng hanya mengangguk ngeri ketika nama Dewata disebutkan. "Kalau begitu, hamba undur diri."
Luhan segera keluar dari ruangan raja diikuti oleh Min Seok yang terlihat kaku di belakangnya. Setelah dirasa cukup jauh dari pavilion utama, Luhan berbalik menghadap Min Seok. "Kau mengantar pedagang Kim Jong Dae ke penginapannya bukan? Aku harap kau tahu bagaimana cara menghubunginya sesampainya kita di Goryeo" tambah Luhan. "Dan aku harap kita bisa pergi ke Goryeo ketika matahari terbit esok?"
Min Seok hanya mengangguk. "Akan hamba lakukan persiapan Tuan." Dan pergi dari hadapannya.
"Sekali menjadi pembohong, selamanya adalah pembohong." Pikir Luhan getir selama melihat punggung Min Seok menjauh dan kembali ke paviliunnya.
Lay dan Kris berada di kamarnya ketika ia kembali. Sedangkan Zhi Jun mengemasi pakaian. "Kita pergi saat matahari terbit, jika tidak ada penghalang." Luhan menoleh ke arah Kris yang menunduk dalam. "Kris aku mau kau memastikan Tao menaiki kapal bersama kita!"
"Hamba mengerti Luhan gege," sahut Kris mengerti.
"Sebaiknya kalian kembali dan mengemasi barang-barang kalian." Usirnya halus.
Ketika Kris dan Lay keluar dari kamarnya, ia berbalik kepada Zhi Jun. Perlahan tapi pasti, ingatan diri Luhan dimasa ini kembali dan ia ingat bagaimana sifatnya serta tingkah lakunya yang semena-mena selama ini diikuti dengan baik oleh Zhi Jun. Dayang yang melayaninya sejak kecil.
"Maafkan aku Zhi Jun, aku tak bisa membawamu ke Goryeo," ujarnya penuh penyesalan, namun ia sama sekali tidak menyesal. "Aku ingin kau menemani Mei Li yang akan menggantikan posisiku untuk sementara."
"Hamba mengerti tuan. Tuan tidak perlu khawatir." Balas Zhi Jun percaya seratus persen dengan nada penyesalan yang dibuat-buat oleh Luhan. "Yang hamba khawatirkan adalah kesehatan tuan di tanah Goryeo." Luhan hanya tersenyum tipis dan bergumam tentang tidak perlu mengkhawatirkannya.
*Past*
Meninggalkan ibukota Huan ternyata membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat banyak, terlebih lagi ia harus menaiki kapal sederhana untuk menyebrangi lautan dengan ombak ganas. Alhasil, setelah kurang lebih terombang-ambing selama 12 jam lebih. Luhan menjejakkan kaki di Goryeo dengan wajah pucat dan isi perut terkuras.
"Tuan terlihat lelah, lebih baik kita beristirahat di penginapan terdekat." Usul salah satu dayang yang diikut sertakan dalam perjalanan ini.
"Apapun itu." ucapnya, setengah tersadar. Setelah beberapa menit menunggu, Min Seok kembali dengan beberapa kuda. Lay membantu Luhan untuk mendekati kuda tersebut. "Aku tak pernah naik kuda,"
"Tuan hanya perlu naik, biar hamba yang menuntun kudanya." Tawar Kris yang tidak menerima penolakan lebih lanjut.
Ketika sampai di penginapan, Luhan segera berbaring di kamar yang telah di sewakan oleh Min Seok dengan penjagaan ketat oleh anak buahnya. Luhan bahkan tidak peduli bahwa kasurnya terlalu keras untuk penginapan yang lumayan bagus di pesisir dan segera terbang ke dunia mimpi.
Dan ia bermimpi, bermimpi dengan semua darah di sekitarnya. Bermimpi ia duduk di singasana Feng dengan pedang berlumur darah. Ia bermimpi, bermimpi bahwa ia menebas kepala Feng.
TBC
another chapter finished, please review guys! i need your support and love ^^
