© Masashi Kishimoto
Summary :
jalan kehidupan itu sama seperti buku. Pasti ada suatu hal yang menjadi pembuka dan tentu akan diakhiri oleh sebuah penutup. Tapi,bagaimana jika pembuka dari buku itu juga diawali sejak ia membuka lembaran buku? Akankah akhir dari cerita itu juga akan tertutup di lembar terakhir buku itu? penasaran? Silahkan mampir../summary ancur, oke!
pair : Nejiten
Warn : Fanon! Headcanon! tak mungkin luput dari Typo(s), gaje, ancur, judul sama isi gk nyambung dll XD X3 :'V. Mohon sarannya di kotak review..:)
~Happy reading~
TENTEN P.O.V
Setitik cahaya menerobos masuk melalui celah-celah tirai dalam kamar kami. Cicitan burung pun mulai terdengar dari luar sana. Aku membuka mataku perlahan, kemudian menyipit saat cahaya tersebut memasuki netraku.
".. Sudah pagi rupanya." gumamku. Aku melirik kearah kalender kecil di atas nakas. Tanggal 2 Juli. Aku tersenyum kecil saat melihatnya. Besok adalah harinya.
Aku berusaha bangun untuk membuka tirai jendela, sampai sebuah lengan kekar menahan pinggang rampingku.
"Enggh.. tidurlah sebentar lagi. Lagipula ini hari Minggu.. Mizu juga belum bangun, apa kau mau menggangg—"
Cup! Aku memberinya kecupan selamat pagi. Tentu saja hal itu membuat matanya yang sebelumnya tertutup menjadi membuka seutuhnya.
"Ohayou, anata," aku tersenyum lembut kearahnya. "..tak biasanya kau secerewet ini di pagi hari, hihi.." aku terkekeh pelan.
"Hn... dan kau harus diberi hukuman atas kelancanganmu barusan"
"Hei..! ap.. apa yang KYAA!"
SYUUT...! selimut yang tadi hendak kulipat, malah ditarik keatas olehnya.
.
"Haha.. hihihi.. hen-hentikann.. gelii!, heii!" aku terus meronta supaya ia melepaskan tangannya yang mulai menggelitiki perutku. Aah! Sial! Seharusnya aku sudah bangun untuk memandikan Mizu, tapi gara-gara manusia satu ini pekerjaanku jadi terhambat.
Perlahan ia berhenti menggelitikiku, tapi tangannya masih setia berada di pinggangku. Perlahan ia mulai mendekapku seakan tak mengijinkanku untuk pergi satu milipun darinya. Aku menatap ke wajahnya, menatap langsung pada matanya.
"Kenapa? Apa ada yang kau pikirkan, sayang?" aku meletakan sebelah tanganku di wajahnya.
"Aku hanya berpikir, istriku semakin hari semakin cantik, bagaimana bila ada seseorang di luar sana yang menyukaimu?" ujarnya. Aku memukul bahunya pelan. Dasar menyebalkan! Dia memang paling ahli dalam hal merayuku, aku yakin wajahku sudah sangat merah sekarang.
"Baka! itu mana mungkin. Aku juga tak mungkin menyukai orang lain, dasar bodoh!" aku menyembunyikan wajahku di dada bidangnya. Dapat kudengar ia terkekeh pelan. Sebelah tangannya terulur untuk menggapai pipiku. Ia menciumku, awalnya hanya kecupan biasa, namun lama-lama ia menjadi liar dan tak terkendali. Kami melepas ciuman itu setelah beberapa menit.
Bagus! Sadarkah ia sekarang jam berapa?
Kali ini aku benar-benar beranjak dari tempat tidur, namun, lagi-lagi tangannya menahanku.
"Sudah kubilang ini kan hari libur, kenapa kau terburu-buru sekali sih? Mizu 'kan belum bangun," ia mendengus, tapi hal itu sangat lucu di mataku. "lagipula yang tadi itu baru permulaan, Tenten" ia semakin merajuk.
"Haah~ aku tak bisa terus-terusan berada di sini, sayang. Karena besok adalah hari yang special. Jadi aku harus mempersiapkannya dari sekarang" aku tersenyum miring. Kulihat ia menautkan kedua alisnya dan bersikap seperti ia tak tahu apapun. Bodoh, ia pasti lupa hari ulang tahunnya sendiri. Padahal untuk hal lainnya ia tak usah diragukan.
"Hari special? Memangnya ada apa?"
Tiba-tiba muncul sebuah ide untuk menjahilinya. Yahh, sekali-sekali tak masalah bukan?
"Seorang sahabatku besok berulang tahun."
"Laki-laki atau perempuan?" ia menatap tajam padaku
"Seorang laki-laki, dan kalau kau ingin tahu, ia sangat tampan. Bahkan dulu aku sempat ditolaknya saat menyatakan perasaanku padanya. Lalu sekarang, aku harus menyiapkan beberapa bahan untuk —"
"Tidak boleh!"
"Haa? Kenapa? Ia selalu mengingat dan membuat kejutan di hari ulang tahunku. Aku merasa tak enak bila tak membuat kejutan untuknya"
"Sekali tidak, tetap tidak!" matanya menatapku tajam.
Aku berusaha mati-matian menahan tawaku, kemudian aku membalik badan dan berjalan ke pintu seraya memperbaiki kucir rambutku.
"Dalam hal ini kau tak bisa mencampuri urusanku, anata."
Jangan tertawa Tenten, jangan tertawa, "Oh iya, aku akan mengajak Mizu ke supermarket untuk membeli keperluan besok. Kau jaga rumah ya."
Blam! Pintu tertutup sempurna.
.
.
.
Back to story.
Hening menyelimuti mereka berdua. Tak ada satupun dari mereka yang membuka suara dalam lorong buku novel klasik tersebut. Neji duduk seraya menyenderkan punggungnya pada rak di sebelah kiri. Sedangkan Tenten duduk menyender pada rak sebelah kanan dengan sedikit menunduk. Bagi Neji mungkin keheningan bukanlah suatu hal yang mengganggunya. Namun, lain lagi bagi Tenten, ia tak terbiasa dengan keheningan seperti ini. Jadi, ia memberanikan diri bersuara,
"Em...apa kau suka membaca novel klasik seperti ini?" Neji menoleh, dan itu membuat Tenten salah tingkah. "Aa.. m-maksudku kartu pelajarmu itu kutemukan dalam buku ini, i-itu artinya kau habis membaca buku ini 'kan?" sambung Tenten, ia sedikit melirik ke arah Neji
" Aku tak menyukai novel sebenarnya, waktu itu aku hanya asal mengambil buku saja." Tenten mengangguk paham, "Kau sendiri?"
"Eh? A-aku?..kupikir aku lebih menyukai ensiklopedia dan sebagainya daripada buku ini. Tapi... sesekali membaca buku novel seperti ini kurasa bukan hal yang buruk" Tenten tersenyum lebar, hingga matanya sedikit menyipit.
Blushh... sapuan merah muda tipis menyebar ke seluruh wajah pucat Neji.
NEJI P.O.V
Apa yang terjadi padamu, hei! Bersikaplah biasa saja. Toh, aku juga tak akan bertemu dengannya lagi setelah ia memberikan kartu pelajar milikku. Ah! Aku hampir lupa!
"Jadi.. bagaimana caraku mendapatkan kartu pelajarku kembali?" ia nampak bingung menjawab pertanyaanku. Aku menghela nafas pelan. "Bagaimana kalau kau ke sekolahku saja? Suna High school—"
"Tidak bisa!" aku mengeryit heran, "Suna High School itu sangat sangat jauh dari sekolahku.. B-bukannya aku tidak bisa, hanya saja sebentar lagi Bunkasai digelar dan aku adalah penanggung jawabnya." Ia menunduk.
Aku termenung sesaat. Repot juga kalau begini. Aku tak mungkin bisa ke sekolah ataupun rumahnya, tanpa kartu pelajar itu akan sulit untuk berpergian jauh.
Kuso! Aku memejamkan mataku untuk meredam emosiku.
"Apa kau punya waktu untuk kemari lagi?"
Eh?
NORMAL P.O.V
Neji membuka kedua matanya, lalu menatap gadis di depannya dengan wajah bingung.
"Kemari lagi? Untuk apa?" tanya Neji.
"Aku akan mengembalikannya seperti saat aku menemukannya, jadi bila kita tidak bisa kebetulan bertemu seperti tadi, kau bisa langsung mengambil kartu pelajarmu." terang Tenten.
"Maksudmu?" alis Neji berkerut samar.
"Kuselipkan kembali di buku Romeo and Juliet ini. Bagaimana?" Tenten mengendikan bahunya, "Yahh.. karena perpustakaan ini sudah seperti rumah keduaku, jadi aku selalu punya waktu untuk kemari, kapanpun. Hehe.." ia menunjukan senyum tiga jarinya.
"Ah.. Sou" balas Neji. Hening sesaat. Tiba-tiba Neji bangkit dan sedikit menepuk celananya. "Kalau begitu, besok aku akan kemari lagi. Terima kasih." Neji mengulurkan tangannya untuk membantu Tenten berdiri, tapi sayangnya,
"Apa?" tanya Tenten polos. Neji mendengus kesal.
"Ck, berikan tanganmu." Tenten mengulurkan tangannya meski ia belum paham maksud dari pemuda di depannya.
Seett...!
Entah karena Neji yang terlalu kuat menariknya atau memang Tenten yang belum siap sehingga kehilangan keseimbangan. Yang jelas, saat ini posisi mereka adalah Neji yang jatuh terduduk dengan Tenten yang berada tepat di atasnya. Jarak keduanya sangat tipis, hidung mereka bersentuhan, bahkan Tenten bisa merasakan hembusan napas Neji menyapu wajahnya. Kedua mata mereka bertemu. Amethyst dan Hazel. Lama mereka terhanyut pada iris masing-masing, sampai Neji berdehem pelan.
"Go-gomenasaii!" pekik Tenten, ia beranjak bangun dan memperbaiki pakaiannya. Tenten menggigit bibir bawahnya gugup. Matanya menoleh kesana kemari, asal tak bersiborok dengan amethyst itu. Neji masih belum mengucapkan apapun.
'Kami-sama! ini sangat memalukan! Aku harus segera pergi dari sini !' batin Tenten.
"Ten—"
"A-aku pergi dulu! Sampai jumpa! Senang bertemu denganmu!" teriak Tenten dari kejauhan.
"—ten.." Neji hanya bisa melongo melihat gadis itu—yang entah bagaimana caranya—sudah berada di pintu masuk perpustakaan.
Neji mendengus geli dan menggelengkan kepalanya.
'Gadis yang aneh'
# # #
Keesokan harinya,
NEJI P.O.V
Pukul 5 sore. Apa aku kesorean ya? Yah, kurasa begitu. Tapi, sudahlah, toh aku bisa mengambil kartu pelajar milikku tanpa harus bertemu dengannya. Aku mengendikan bahu.
Kurasa memang aku kesorean. Dapat kulihat pengunjung perpustakaan yang mulai bergegas pulang dan meninggalkan perpustakaan. Hanya ada satu dua orang yang masih berada di dalam, termasuk penjaga perpustakaan yang wajahnya sangat menyebalkan itu.
Haah~ fokus saja pada tujuanmu kemari, Neji. Dimana kira-kira buku novel itu ya? Romeo and Juliet.. hmm.. novel klasik, novel klasik. Ah, lorong ini.. ya ini lorong novel klasik dan terjemahan, pasti novel itu ada di sekitar— hei, siapa itu?
NORMAL P.O.V
Neji sedang menyusuri lorong demi lorong dalam perpustakaan itu, tentu saja tujuannya hanya satu. Mencari buku novel Romeo and Juliet dan menemukan kartu pelajarnya. Kemudian, Neji memasuki salah satu lorong yang menurutnya adalah lorong yang sedari tadi dicarinya.
Namun, sebuah siluet seseorang yang tengah melakukan sesuatu pada buku di genggamannya menghentikan langkah Neji. Neji segera berbalik ke arah rak buku disebelahnya, seraya memperhatikan seseorang itu. Ia membelakangi cahaya matahari, sehingga wajahnya tak terlihat jelas, namun Neji tahu kalau dia adalah seorang gadis. Gadis itu tampak menyelipkan sesuatu yang terlihat seperti sebuah kartu. Neji menajamkan lagi matanya, untuk melihat dengan jelas. Rasanya ia tak asing dengan buku itu.'Romeo and Juliet. Itu buku yang kucari' batinnya.
"Itu berarti, dia..." gumam Neji. Sekilas, Neji melihat sebuah senyum terpatri di wajah gadis itu. "...Tenten."
.
"Tenten! Ayo cepat! Mau sampai kapan kau disana?! Hari sudah semakin sore, baka!" pekik seorang gadis yang mengagetkan Tenten (termasuk Neji).
"Hei! ini di perpustakaan, kecilkan suaramu! Baka!" balas Tenten pada gadis tersebut.
"Hihi... gomenasaii, Tenten-chan!" gadis itu terkikik geli, seraya menggandeng tangan Tenten untuk segera pergi dari sana.
"He-hei! Berhenti menarikku, Sakura! Aku bisa berjalan sendiri.. heii! Dengarkan akuu! Sakuraa.." pekik Tenten tertahan pada gadis yang diketahui bernama Sakura tadi. Ia terus menarik Tenten keluar perpustakaan dan menghilang dibalik pintu kayu tersebut. Neji terus memperhatikan gadis itu sampai ia menghilang dari pandangannya.
Baru setelah itu ia menghampiri tempat gadis itu meletakkan buku novel tadi. Ia menariknya pelan dari dalam rak. Ternyata memang benar kalau buku tadi adalah novel Romeo and Juliet. Dibukannya pelan buku itu untuk mencari kartu pelajarnya diantara selipan berlembar-lembar kertas didalamnya.
Srekk!
Neji mengulum senyum tipis, ini memang kartu pelajarnya. Akhirnya, setelah ini ia benar-benar akan bisa hidup normal seperti remaja-remaja seusianya yang berangkat dan pulang sendiri menggunakan kereta, bukan diantar-jemput seperti anak TK. Kesenangan Neji terhenti seketika saat melihat ternyata ada sepucuk kertas yang luput dari penglihatannya. Ia mengambilnya, kemudian ia menyadari bahwa itu adalah sebuah surat. Terlihat jelas bahwa itu tulisan tangan. Ya, tulisan seorang gadis, yang biasanya terlihat rapi dan kecil-kecil. Neji membacanya perlahan,
Nee.. Neji-kun, jika kau sudah membaca surat ini, itu berarti kartu pelajarmu sudah berada di tanganmu. Maaf aku tak bisa mengembalikannya langsung padamu. Dan, terimakasih mau repot-repot untuk datang kemari lagi. Karena jarak sekolahmu dengan perpustakaan ini cukup jauh, aku yakin sulit bagimu untuk kemari. Sekali lagi, maafkan aku.
Mitsashi Tenten
Neji memandang surat itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia adalah murid yang populer di sekolahnya, tentu bukan hal yang baru lagi baginya untuk mendapat surat-surat semacam ini. Tapi, entah kenapa, ia merasa seperti ada sesuatu aneh yang berdesir di hatinya, memacu jantungnya berdegup lebih cepat. Tidak, ia yakin kalau ia tak sedang merasa jatuh cinta atau semacamnya. Terlebih, pada gadis yang belum begitu ia kenal, ralat, ia sama sekali tak mengenalnya. Hanya namanya saja yang ia tahu, hah.. mana mungkin ia bisa langsung menyukainya.
Neji segera menyimpan kartu pelajarnya di tasnya. Ia berpikir akan langsung beranjak dari sana dan pulang ke rumahnya, karena hari semakin larut. Namun, ia berubah pikiran saat melihat selembar kertas dan pulpen di dalam tasnya.
"Hahh... aku pasti sudah gila"
# # #
Teng..Tengg...Tengg...
Bel sekolah baru saja berbunyi, namun suara grasak grusuk dan berbagai seruan para siswa langsung menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Tenten hanya duduk di tempat duduknya sambil melihat pemandangan diluar jendela. Menurutnya, itu jauh lebih menarik saat ini. Sebenarnya, ada hal yang tengah ia pikirkan saat ini,
"Apa ia sudah mendapatkan kartu pelajarnya kembali, ya?" gumamnya pelan. "oh iya, suratku, hahaha bodohnya aku. Tanpa surat itu pun ia pasti sudah tahu jika yang menaruh kartu pelajarnya itu aku" lanjutnya seraya terkekeh pelan.
"Sekarang aku yakin kalau kau sudah gila, nona Mitsashi..!" Sebuah suara membuyarkan lamunan Tenten.
"Bisakah kau tak mengagetkanku, huh?" balas Tenten kesal pada seorang gadis yang tengah berkacak pinggang dihadapannya saat ini.
"Seharusnya kau berterimakasih karena aku sudah menyadarkanmu tadi, bagaimana bila anak-anak lain menyadarinya duluan? Hah! aku yakin foto konyolmu tertawa sendiri barusan akan menjadi trending topik di sekolah ini!" Sakura menunjuk Tenten tepat di depan hidung gadis itu.
"Aaa~ Wakkata, wakkata..! sekarang, bisa kau singkirkan tanganmu dari hidungku?" balas Tenten. Sakura menurunkan tangannya, namun masih menatap Tenten tajam.
"Jadi? Kenapa kau tertawa sendiri begitu?"
"Eh.. emm..." Tenten memalingkan wajah ke arah jendela lagi, "B-bukan urusanmu."
"Ohh.. karena pemuda suna high school itu, ya?... Emm.. Biar kutebak, kau merasa malu setelah menyelipkan suratmu sekalian kedalamnya?... Nee?" dapat terlihat mata Sakura mengerling nakal dan sebuah seringai terpatri di bibir tipisnya. Tenten merasa malu setengah mati, wajahnya pasti sudah seperti kepiting rebus sekarang.
"U-urusai yo!"
Sebagai sahabat dekat Tenten, tentu saja Sakura tahu jika sahabatnya ini tengah jatuh cinta pada seorang pemuda yang— anehnya—baru dikenalnya. Dan Sakura juga tahu, kalau setiap saat Tenten terlihat melamun, ia pasti sedang memikirkan pemuda itu. Haah~ ia tak menyangka jika sahabat tomboy nya itu akan tertarik dengan seorang laki-laki.'Kau hebat juga, Hyuuga' batin Sakura. Ia terkekeh pelan.
"Sakura!" teriak Tenten tepat di telinga Sakura.
"Waa! Apa yang kau lakukann!?" Sakura menjauh dari Tenten dan menutup kedua telinganya.
"Kau tertawa sendiri begitu, Seharusnya kau berterimakasih karena aku sudah menyadarkanmu tadi, bagaimana bila anak-anak lain menyadarinya duluan? Hah! aku yakin foto konyolmu tertawa sendiri barusan akan menjadi trending topik di sekolah ini..." Tenten membalas santai disertai seringai menyebalkan.
"Dasar plagiat." Dengus Sakura, "Ah ya, ngomong-ngomong kau tidak ke perpustakaan?"
"Ha? Untuk apa aku kesana?" Sakura menepuk jidat lebarnya, menyadari kebodohan sahabatnya ini.
"Tenten ku, sayangku, cintaku, duniakuu.. kenapa baru sekarang aku menyadari kebodohanmu, hm?" Sakura berusaha menahan urat-urat kekesalan di dahinya, " TENTU SAJA UNTUK MENGECEK APA DIA SUDAH MEMBALAS SURATMU ATAU BELUM, BAKA!" Tenten segera menutup kedua telinganya untuk menyelamatkannya dari suara yang menyaingi ledakan bom nuklir tersebut- oke itu berlebihan-. Matanya terpejam erat. Satu hal yang perlu Tenten catat : jangan pernah bertingkah bodoh dihadapan Sakura.
Setelah ia merasa aman, baru ia membuka matanya dan menatap Sakura tanpa dosa,
"Sudah selesai melolongnya?"
"Tenten... hahahahahha... sudah pernah melihat pisau dapur melayang kearahmu belum? Rasanya aku ingin menunjukkannya padamu sekarang.. hahaha.." Sakura sudah akan meledak lagi, jika saja Tenten tak langsung menahannya.
"Hahaha.. baiklah baiklah, jangan marah lagi, ya?" Tenten melancarkan jurus mautnya. Puppy eyes no jutsu. Sakura memutar bola matanya jengah, "Tapi memang aku tidak tahu mengapa aku harus kesana. Apa kau pikir ia akan benar-benar membalas suratnya? Rasanya sulit dibayangkan. Haha" Tenten tertawa hambar.
"Ten, kau tak akan tahu bila kau tak mengeceknya langsung...sebaiknya sekarang kau cepat kesana, sebelum hari semakin sore!"
"eh? T-tunggu, kau akan menemaniku 'kan?" tanya Tenten.
"Hari ini Sasuke akan datang ke Konoha dan mengajakku kencan. Kau Tau sendiri 'kan kami jarang bertemu karena dia berada di Suna, hehe" ujar Sakura seraya bergegas keluar kelas.
"He..Suna?.. Suna.. K-kalau begitu Sasuke bersekolah di Suna—" perkataan Tenten terputus oleh lambaian tangan Sakura.
"Berjuanglahh Tenten-chan!"
"Dasar Sakura menyebalkan." dengus Tenten, "Lagipula siapa peduli soal surat itu, toh sangat mustahil ia akan membalasnya.. aku tak perlu pergi ke perpustakaan sekarang.. hahh~ rasanya ingin segera sampai rumah dan tidur!" Tenten tersenyum riang.
.
.
"Aku yakin ada yang salah dengan kakiku. .ha."
Dihadapannya berdiri kokoh dinding besar bertuliskan "PERPUSTAKAAN KONOHA". Ia berani bersumpah jika otaknya menyuruhnya pulang tadi, namun ia menyadari jika hatinya berkata lain. sepasang kaki jenjang itu melangkah memasuki interior dalam perpustakaan itu, dan berjalan menyusuri lorong demi lorong di dalam perpustakaan. Hingga ia berhenti di dalam suatu lorong dan berdiri tepat didepan sebuah rak buku yang berisi novel-novel klasik. Namun, hanya ada satu novel yang menarik perhatiannya.
Ditariknya pelan novel berjudul Romeo and Juliet itu. Terbesit perasaan konyol dan dongkol dalam hatinya tentang mengapa ia menyia-nyiakan waktunya untuk pergi kemari.
"Bodohnya aku." Tenten tersenyum miris. Tepat setelah itu, buku itu tertarik sempurna dan berada dalam genggaman Tenten. dibukanya lembar pertama, kedua, dan seterusnya, semakin lama semakin cepat lembaran kertas itu terbuka. Hingga hampir mendekati akhir buku tersebut, surat yang diharapkan Tenten belum terlihat sama sekali. Namun, tiba-tiba,
Sreek! Sebuah kertas jatuh tepat diatas kakinya. Mata Tenten terbelalak lebar.
"Ma-masaka?!"*)ia membungkuk untuk meraih kertas itu. Kemudian ia membukanya perlahan.
Seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya, menimbulkan perasaan aneh tapi juga menyenangkan. Sehingga tanpa sadar, kedua sudut bibirnya tertarik keatas. Sapuan merah muda merambat cepat memenuhi seluruh permukaan wajahnya, namun ia tak berusaha untuk menyangkalnya. Entah kenapa ia ingin ada seseorang yang tahu bahwa ia tengah bahagia sekarang. Iya benar, bahagia, sangat bahagia.
.
.
Ya, aku sudah menerima kartu pelajarku. Ini bukan salahmu, aku yang teledor meninggalkannya. Terima kasih sudah mengembalikannya.
Hyuuga Neji
.
.
TBC.
A/N :
*) masaka : mungkinkah (tulisannya bener gk?)
Hai hai haiii... ketemu lagi sama author jomblo satu ini. semoga gk ada yang muntah baca A/N gk mutu ini :v. Author gk tau ini termasuk fast update ato gk, yang jelas insyaallah author bakal update chap. Setiap hari minggu ato malam minggu (biasalahh.. efek gk ada yang ngapelin... #plakk #authorgedhek) kecuali klo besoknya ada ulangan dsb. TTvTT. Oh iya, gomenn klo ceritanya semakin gk dapet feel dan ancur TTvTT
Akhir kata.. wassalam..
Mind to RnR?
