A Late Story

LOVE IN THE PALACE

.

.

.

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

.

.

.

Genderswitch

Joseon Era

.

Semi Erotic Scene

.

.

Choi Wonwoo sudah menjadi dayang istana selama lima tahun. Gadis kecil itu tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan cerdas. Dan berhasil membiasakan diri hidup sebagai Jeon Wonwoo.

Ia baru saja di pindahkan ke istana utama setelah sebelumnya ia mengabdi di di istana tenggara.

Istana utama menjadi pusat pemerintahan seluruh negeri. Raja, dan seluruh anggota keluarga menempati istana utama untuk segala kegiatan pemerintahan. Disini kemungkinan Wonwoo untuk mendapatkan informasi akan semakin banyak.

Wonwoo baru selesai memilah bahan makanan untuk di masak esok hari ketika malam sudah menjelang. Ia bergegas menuju asrama dayang untuk berganti pakaian karena esok adalah jadwal libur untuk Wonwoo. Jadi ia diperbolehkan kembali ke kediaman pribadinya di luar istana.

.

"Serahkan uangmu, Tuan. Kau kelihatan begitu kaya dengan pakaianmu ini. Pasti uangmu banyak." Wonwoo bersembunyi di balik dinding sebuah rumah. Melirik kesebuah gang kecil yang menampilkan sebuah tindakan kriminal.

Seseorang sedang di rampok di sebuah gang kecil. Dan bodohnya lelaki yang dirampok itu tampak diam.

"Sialan kau! Aku bilang cepat berikan uangmu. Kenapa diam saja?" Si perampok berbadan besar itu mencoba mencekik leher si lelaki yang ia rampok.

Lelaki yang dirampok itu harusnya berontak atau setidaknya melayangkan satu tendangan ke perampok itu.

Apa dia bodoh?

Syuuutt.

Sebuah anak panah melesat menyentuh ujung hidung si lelaki perampok saat tindakannya semakin keji saja.

"Aku bisa saja memanahmu tepat di jantung jika kau tidak segera melepaskan lelaki itu dan pergi dari sini." Si perampok beringsut kemudian berlari cepat sambil memegangi hidungnya yang berdarah.

Wonwoo mendekat kepada korban perampokan itu.

"Anda baik-baik saja, Tuan?" Wonwoo menatap si pria tinggi itu dengan seksama. Pria itu juga melakukan hal yang sama. Tapi pandangan pria itu terhalang kain yang menutupi sebagian wajah Wonwoo.

Si pria mengangguk. Kemungkinan masih kaget karena kejadian barusan.

"Kim Mingyu?" Wonwoo menatap lelaki itu lagi. Benar. Meski sudah lima tahun tak bertemu, ia masih hapal sorot mata dan gigi taring itu jika tersenyum.

"Kau mengenalku?" Lelaki itu bertambah kaget.

"Aku Jeon Wonwoo. Gadis yang kau selamatkan dulu." Wonwoo membuka penutup mulutnya kemudian tersenyum.

"Ya tuhan, aku mencarimu kemana-mana." Wonwoo melotot. Seorang pria baru saja memeluknya seperti seekor koala yang rindu pada induknya.

"Mi-Mingyu…" Wonwoo bernafas lega setelah Mingyu melepaskan pelukannya. Mereka saling tatap dengan gugup. Jantung Wonwoo berdegup dengan cepat.

"Kau yang memanah tadi?" Mingyu beralih kearah genggaman tangan Wonwoo yang memegang sebuah busur. Dan sekantung penuh anak panah dipunggungnya.

Tidak ada yang bisa menyangka Wonwoo adalah seorang gadis melihat pakaiannya saat ini. Ia berpakaian seperti lelaki dan bersuara seperti lelaki tadi. Menggunakan penutup wajah dan berkeliaran di tengah malam dengan panah ditangan.

Wonwoo gadis yang menarik.

"Banyak yang ingin aku obrolkan Wonwoo. Kau ada waktu?" Dibilang ada waktu juga sepertinya tidak sepenuhnya senggang. Tadinya Wonwoo berniat pergi ke hutan perbatasan untuk memata-matai kelompok penculik yang mengatasnamakan roh leluhur itu.

Sudah masuk bulan ketujuh. Hanya beberapa hari lagi menuju bulan purnama. Itu sebabnya Wonwoo berniat memata-matai kelompok penjual manusia itu.

Wonwoo berakhir di sebuah kamar penginapan cukup besar untuk menghabiskan malam bersama. Wonwoo bertanya bagaimana Mingyu bisa terjebak dengan perampok tadi.

Mingyu menjawab karena pengawalnya pergi mengambil kuda sebentar hingga ia didatangi seorang perampok.

"Kau pintar memanah, Wonwoo. Dimana kau mempelajarinya?" Wonwoo tercekat. Dia seorang dayang istana sekarang. Asal usulnya bisa saja terkuak jika saja ia salah bicara.

Wonwoo meletakkan arak beras di gelas kedua yang akan ia teguk. Ia tidak bisa mabuk malam ini. Walaupun toleransi alkoholnya cukup kuat. Tapi Wonwoo tidak bisa menjamin ia tidak kelepasan saat mabuk.

"Pamanku dulu mengajariku untuk berburu kijang di hutan. Kapan-kapan aku akan membuatkanmu sabuk pinggang dari hasil buruanku." Wonwoo tersenyum. Dan itu membuat jantung Mingyu tak karuan.

"Aku benci pelajaran memanah. Tapi melihatmu pandai memanah aku jadi iri." Mingyu meneguk araknya dalam sekali gerakan.

"Pelajaran memanah?"

"Ah.. Ayahku salah satu pejabat perang istana. Jadi dia memberikan pelajaran memanah khusus untukku. Aku sungguh benci hal-hal berbau kekerasan." Mingyu menarik nafas dalam.

"Aku menyukaimu Mingyu. Meskipun kau anak dari pejabat istana tapi kau tidak bergaya sok kaya seperti petinggi istana kebanyakan." Wonwoo lagi-lagi tersenyum.

"Aku juga menyukaimu, Wonwoo."

.

Wonwoo mungkin kehilangan akal ketika ia berakhir dalam sebuah pagutan dengan Mingyu.

Ciuman yang berawal dari saling tatap mendalam.

Hujan turun begitu deras sehingga Wonwoo dan Mingyu terjebak di penginapan. Paman pengawal Mingyu menunggu diluar dengan beberapa orang lainnya.

Wonwoo tau ini salah. Ia gadis yang belum menikah. Terlebih lagi ia adalah Dayang Istana yang artinya ia adalah wanitanya Raja. Bagaimana bisa ia mendesah ketika Mingyu menjamah seluruh tubuhnya?

Wonwoo meremas kuat hanbok sutera yang Mingyu kenakan ketika jemari Mingyu menarik gumpalan rambut Wonwoo agar jatuh secara alami. Masih bergelut dalam ciuman yang manis dan sangat dalam.

"Eungh.. Mingyu.." Wonwoo mendesah saat Mingyu membawanya berbaring di alas tidur lembut. Menarik tali terakhir dari pakaian dalam yang Wonwoo kenakan.

Mingyu menatap wanitanya dengan tatapan memuja. Gadis manis itu begitu sempurna ketika payudaranya menyembul kokoh di dada mulus Wonwoo.

Mingyu menunduk untuk mengecup puncak kemerahan sebelah kanan. Dan jemari yang bergerilya di puncak sebelah kiri.

Wonwoo menggigit bibirnya untuk menahan hasrat yang menyeruak.

"Mendesahlah, sayang." Mingyu menegakan tubuhnya untuk melepas seluruh pakaian yang ia kenakan. Kemudian melepas penutup bagian intim milik Wonwoo. Yang terakhir. Kemudian keduanya sama-sama bertelanjang.

"Sungguh aku hanya mengikuti naluriku. Marahlah jika aku menyakitimu. Ini yang pertama untukku, Wonwoo." Mata mereka saling bertatap. Wonwoo mengangguk sembari tersenyum saat sebuah benda tumpul mendorong permukaan kelaminnya.

Kewanitaannya geli, perih dan nikmat ketika perlahan kejantanan Mingyu masuk mendorong setiap rongga surganya.

"Masuki aku, gyu. Aku milikmu. Akhh-" Wonwoo gemetar, menggenggam erat lengan Mingyu dan memejamkan matanya saat Mingyu mendorongnya dengan keras. Tepat di titik manisnya.

"Aku jatuh cinta padamu, Jeon Wonwoo." Mingyu mendorong kejantanannya perlahan. Lembut namun memabukkan.

"Nikmati aku, gyu. Aku juga mencintaimu… ssshh.. Ouhh.." mereka bertatapan disetiap gerakan yang tercipta. Mereka bersetubuh beralaskan cinta dan berpayungkan kepercayaan.

"Kau begitu nikmat, sayang. Aku harus memilikimu." Kejantanan Mingyu membesar sehingga gerakannya menjadi cepat dan tidak beraturan.

"Aku sedang dalam masa subur." Mingyu mengangguk kemudian bergerak lebih cepat. Wonwoo berkedut dan bergetar nikmat tepat ketika Mingyu menarik kejantanannya keluar kemudian mengeluarkan cairan cintanya di perut Wonwoo.

Mereka menarik nafas sebanyak-banyaknya kemudian saling berpelukan ketika tubuh Mingyu bergulir kesamping.

"Ini pengalaman pertama kita. Aku amatir. Tapi kau begitu nikmat, sayang." Mingyu mengecup kening wanitanya dengan sayang.

"Itu sangat sakit, gyu. Aku kehilangan keperawananku. Tapi aku bahagia." Wonwoo tersenyum.

"Aku ingin memilikimu. Jadi bisakah kau menuruti permintaanku?"

Wonwoo menunduk. Ia bimbang. Sungguh ia sangat mencintai pria yang baru saja menidurinya. Tapi kata 'memiliki' yang Mingyu ucap sama terdengar seperti pernikahan.

Wonwoo seorang Dayang Istana. Dirinya adalah milik istana. Dan tentu saja milik Raja. Bisa saja ia keluar dari istana untuk mendapatkan hidup baru bersama Mingyu. Tapi itu sama saja ia melepaskan kesempatan untuk menemui ayahnya dan membongkar kasus penculikan berantai itu.

Wonwoo tampak ragu.

"Aku tidak menyuruhmu keluar dari istana, Wonwoo. Bertahanlah apapun yang akan terjadi didalam sana. Suatu saat kau akan menjadi milikku." Wonwoo mengernyit. Tapi kemudian ia mengangguk karena kata-kata Mingyu tidak bisa sepenuhnya ia cerna.

Ia hanya menyetujui karena ia tidak harus meninggalkan istana. Ia akan percaya pada Mingyu dan menunggunya datang.

.

.

.

"Hey, Nyonya. Benarkah kau berasal dari paviliun Ratu?" Wonwoo berteriak ketika melintas di gedung utama perjamuan. Matanya menangkap seorang dayang dengan pakaian khas pelayan Ratu malah mengacak-acak tanaman di pinggir taman.

Seluruh negeri tau bahwa Yang Mulia Ratu adalah pecinta tanaman. Ratu Yoon akan mewajibkan setiap dayangnya untuk merawat tanaman di sekeliling paviliun kediamannya. Bahkan seluruh istana.

"Apa urusanmu? Kau cuma Dayang Dapur kan?" Dayang Ratu itu berkacak pinggang. Tidak senang ketika tindakannya tertangkap basah oleh seorang dayang kelas rendah.

"Meskipun ini bukan istana Ratu tapi setiap tanaman di istana ini adalah milik Ratu. Kenapa kau merusaknya seakan-akan kau tidak pernah bertanggung jawab menanamnya?" Wonwoo menaikan nada bicaranya karena kesal tegurannya tidak didengarkan.

"Lalu kau mau mengadu? Memangnya Ratu akan mendengarmu? Kau cuma dayang rendahan."

Wonwoo menggeram marah. Tapi ia mencoba bersabar. Ia memang cuma dayang rendahan, tapi sesama penghuni istana seharusnya tidak saling merendahkan.

"Ada keributan apa ini?" Wonwoo dan si Dayang Ratu tadi terlonjak kaget ketika satu gerombolan manusia datang menghampiri mereka.

"Yang Mulia Ratu…" Wonwoo menunduk dalam ketika sang Ratu berbaju emas itu berdiri dihadapannya. Tidak ada sama sekali keberanian untuk menatap istri Raja tersebut.

Wonwoo diam. Ia bukan seorang pengadu yang tega mengadu pada Ratu tentang perbuatan dayangnya supaya ia dihukum. Tidak. Wonwoo tidak akan melakukan itu.

"Dayang Shin? Apa yang kau lakukan dengan tanaman istana?" Sang Ratu menatap sang Dayang yang tertunduk ketakutan. Ia masih menggenggam bunga yang ia cabik-cabik tadi.

"Maafkan hamba Yang Mulia Ratu." Dayang Shin bersimpuh memohon ampun atas perbuatannya.

"Aku akan memberikan hukuman setimpal untukmu Dayang Shin. Dan kau, bukankah kau Dayang dari Dapur Istana? Siapa namamu?" Wonwoo menegakkan sedikit tubuhnya meski masih belum manatap wajah sang Ratu.

"Hamba Jeon Wonwoo, Yang Mulia Ratu. Benar, saya Dayang dari Dapur Istana."

"Kenapa kau memarahi Dayang Shin tadi?"

"Hamba hanya kesal karena ia merusak kerja keras orang lain. Tanaman yang ia rusak adalah tanaman yang sangat sulit tumbuh di tempat kering seperti istana. Tapi ketika tanaman itu sudah tumbuh indah, ia malah merusaknya." Wonwoo berkata jujur dan alami. Ia hanya merasa kesal. Ia juga menyukai tanaman sehingga paham beberapa jenisnya.

"Sudah berapa lama kau berada di istana?"

"Lima tahun, Yang Mulia."

"Baiklah. Dengar titahku." Wonwoo kaget. Walaupun tidak pernah mengalami langsung, tapi kata titah Ratu berarti adalah keputusan kerajaan. Apa ia akan dihukum?

"Hamba siap menerima titah Yang Mulai Ratu." Wonwoo berlutut tegak menghadap sang ratu.

"Aku, Ratu Yoon, menobatkan Dayang Jeon dari Dapur Istana sebagai Dayang Istimewa tingkat satu. Setara dengan Dayang Istana Kepala. Dan akan bekerja dibawah perintah langsung Raja yang akan segera dinobatkan." Wonwoo terbelalak. Dayang Istana Istimewa? Tingkat satu? Raja yang baru?

"Dewa memberkati keputusan anda Yang Mulia Ratu." Wonwoo menjawab dalam keadaan linglung. Keadaan menjadi riuh.

Penobatan Dayang Istana Istimewa baru terjadi dua kali sepanjang sejarah. Dan hari ini tertoreh sejarah ketiga. Dayang Istimewa adalah Dayang pilihan yang biasanya akan menjadi kesayangan Raja ataupun Ratu.

Dayang Istimewa pertama menjadi Selir Raja pertama negeri ini. Sedangkan Dayang Istana Istimewa kedua sudah menjadi Ibu Suri yang sekarang.

Wonwoo tidak tau ini sebuah keajaiban atau sebuah musibah. Kenapa ia diberikan tanggung jawab yang mengikatnya pada istana ketika ia berniat melarikan diri dari sini agar bisa hidup bersama pria yang sudah mencuri hati dan tubuhnya? Mingyu.

Sekarang ia sudah jadi sepenuhnya milik Raja terbaru yang akan dinobatkan minggu depan.

Raja yang sekarang sudah mulai sakit-sakitan sehingga pemerintahan mulai dialihkan ke Putera Mahkota yang akan segera dinobatkan menjadi Raja.

Wonwoo bingung harus berkata apa.

Wajah Mingyu terngiang di pikirannya. Berputar-putar tak karuan.

.

.

"Raja yang akan menjabat belum pernah menikah. Jadi kemungkinan Nyonya Wonwoo menjadi Ratu itu kecil. Biasanya kerajaan akan lebih memilih wanita dari luar untuk mendampingi Putera Mahkota mendapat tahta." Wonwoo bersila di kediamannya yang baru.

Sebuah paviliun di timur istana utama. Mewah, luas, tetapi ia seperti terkekang. Tidak bebas. Ia ingin bertemu Mingyu-nya. Memeluknya kemudian bercinta dengannya.

"Aku tidak pernah berharap jadi Ratu, Boo. Aku bahagia walaupun cuma menjadi Dayang Istana rendahan." Seorang Dayang Istana Istimewa akan mendapatkan sepuluh pelayan pribadi dan sepuluh pengawal penjaga.

Wonwoo menarik sahabatnya, Boo Seungkwan yang sama-sama dari dapur istana untuk menemaninya dan menjadi pelayan pribadinya.

"Nyonya, semua orang ingin menjadi Ratu. Kenapa Nyonya malah tidak ingin?" Boo menyerahkan potongan apel yang ia kupas kepada Wonwoo.

"Sudah aku bilang jangan panggil aku nyonya saat cuma ada kita, Seungkwan." Wonwoo merengut. Ia belum terbiasa menjadi seorang yang disegani.

Ia biasa menunduk menghadap orang lain tapi sekarang orang lain yang akan menunduk untuknya.

.

"Nyonya Jeon. Anda mendapat surat dari kediaman pribadi anda, Nyonya." Wonwoo baru saja akan keluar paviliun-nya untuk mengunjungi panggilan Ratu saat seorang Dayang datang menghampirinya.

Wonwoo menerima sebuah kertas berisi surat. Siapa orang di kediamannya yang mengiriminya surat?

'Aku si pencuri hatimu. Bisakah kita bertemu malam ini, sayang?' Wonwoo bersemu merah membaca barisan kata-kata di kertas tersebut. Ia tau, itu Mingyu-nya.

"Ayo segera ke istana Ratu sebelum petang menjelang. Karena aku harus kembali ke kediaman pribadiku." Wonwoo berjalan mantap dengan senyum tersungging di bibirnya.

Wonwoo tidak memikirkan apapun selain pria itu. Ia bertahan di istana juga demi pria itu. Semoga kepercayaannya membawa Wonwoo dan segala usahanya dekat dengan keberhasilan.

Dan satu-satunya harapan agar ia bisa bersama Mingyu.

.

.

.

A Late Story

.

.

.

Entah kenapa A Late Story ga begitu banyak respon nya. Apa karena di letakin di Rate M?

Apa karena Genderswitch?

Beri noona kritik dan saran untuk kedepannya ya.. Gomawo

.

Kim Noona

Sat, 12th Nov 2016