Yup!

Chapter 2 dari Cooking is and Art!

Makasih untuk kalian2 yang sudah me-review… :D

Disclaimer tambahan akan dimasukkan di akhir cerita…

Oke, Countdown…

3…

2…

1…

Start!

….

Cooking is an Art

Chapter: 2

Timing.


"Sakura sayang… Mau bantu ibu memasak?" Tanya seorang wanita berperawakan ramah kepada seorang anak kecil berambut mearh muda.

"Bu… Sakura mau coba bikin telur goreng sosis dong…" Pinta si anak tersebut.

"Baiklah Sakura… Pertama-tama telurnya….."

"Wah… Kau pintar Sakura! Mungkin kamu bisa kerja sebagai juru masak kalau sudah besar nanti…" Puji sang wanita.

Sakura terbangun dari tidurnya pagi itu.

"Mimpi tentang ibu lagi…" Bisiknya kepada dirinya sendiri. "Setelah dua belas tahun ibu meninggal, kenapa aku bermimpi tentang beliau lagi ya?"

Dan Sakura pun teringat percakapannya di apartemen Deidara malam sebelumnya.

"…." Sakura merenung sebentar, sebelum akhirnya melihat foto almarhumah ibunya di atas meja belajar.

"Selama dua belas tahun sejak ibu meninggal, akhirnya aku akan kembali mencoba memasak…" gumamnya.

Di Konoha University…

"Apaa?" Jerit tak percaya terdengar secara bersamaan dari mulut Ino dan Tayuya.

"Sakura kau tidak demam kan?" Ino menyentuh dahi Sakura dengan hati-hati.

"Sakura, Mabuk2an itu tidak baik loh… apalagi pagi-pagi begini…" Tayuya ikut mengeluarkan kekhawatirannya.

"Kalian ini kenapa sih?" Sakura bertanya dengan muka sok kesal. "Apa seaneh itu kalau aku mau belajar masak?"

"Iya…" Kata Ino dan Tayuya secara to the point. Sakura langsung memasang wajah cemberut-nya.

"Oh iya, seperti apa gurumu itu?" Tanya Ino.

"Hmm… Dia laki laki berumur 1-2 tahun lebih tua daripada kita… Rambutnya blonde panjang, mirip seperti rambutnya Ino… Walaupun wajahnya cukup 'cantik', tetapi suaranya berat dan lembut…" Sakura mencoba menjelaskan ciri-ciri Deidara kepada teman-temannya.

"Ngg… Sepertinya aku tahu laki-laki dengan ciri-ciri seperti itu…" Gumam tayuya. " … Tapi sepertinya bukan memori penting, jadi biarlah…"
"Sepertinya laki-laki yang tampan… Kapan aku bisa melihatnya?" Ino bertanya dengan semangat.

"Heihei… Dia itu guru les-ku loh…" Sakura menjawab.

"Sakura jahaaattt… Masak udah punya sasuke, masih mau memonopoli laki-laki lain sih?" Ino memprotes dengan bercanda.

"Ngomong-ngomong soal Sasuke…. Bukannya hari iniseharusnya kamu ke restoran itu?" Tanya Tayuya.

Sakura hanya bisa maklum, selama dua bulan terakhir dia makan malam di restoran uchiha setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat, dan hari ini adalah hari Senin.

"Soal itu… Aku sudah meng-sms Sasuke-kun dan mengatakan kalau hari ini aku tidak bisa…" Jawab Sakura.

"Dan jawabannya?" Tanya Ino.

"Anoo.. Dia belum membalas sms-ku dari tadi pagi…" Ujar Sakura pelan.

"Hmm… Panjang umur…." Ujar Tayuya.

Sakura dan Ino langsung melihat ke arah pandangan Tayuya, dan terlihatlah sang pewaris Uchiha yang sedang mereka bicarakan berjalan ke arah Sakura…. Diiringi tatapan kagum sebagian besar kaum hawa di sekitarnya.

Sasuke berjalan dengan mantap ke arah Sakura. Merasakan hawa yang serius, Ino dan Tayuya memohon diri dan menghilang dari pandangan mereka. Namun hanya tak terlihat saja, mereka menguping pembicaraan Sakura dan Sasuke dari balik sudut tembok.

"Apa maksudmu tidak bisa ke restoran malam ini?" Tanya Sasuke dengan nada datar, tetapi nada ancaman dapat terasa dari tiap kata yang dia ucapkan.

"Ah.. Sa.. Sasuke-kun… Sudah kubilang kan, kalau aku ada les malam ini… Lagipula, makan di restoran dua kali seminggu itu cukup kan?" Sakura membalas dengan ragu-ragu.

"Jadi kau sudah tidak begitu serius lagi denganku?" Tanya Sasuke. Nada ancaman kini terasa jauh lebih kentara daripada sebelumnya.

"Bu.. bukan begitu, Sasuke-kun… Hanya saja, aku merasa les masak itu penting… "

Belum selesai Sakura menyelesaikan kalimatnya, Sasuke memotongnya, lagi-lagi dengan nada yang penuh ancaman.

"Maksudmu, makanan di restoranku itu kurang enak?"

"Bu.. Bukan begitu…" Sakura mulai merasa agak takut. Sehingga dia terpaksa mengelak dengan alasan seadanya. "A.. Aku berpikir kalau aku bisa menghemat uang dengan cara memasak sendiri, aku bisa lebih sering ke restoran dengan Sasuke-kun…."

Sasuke hana diam saja mendengar jawaban tersebut. Merasa suasana tidak enak, Sakura mencoba mengalihkan pembicaraan.

"A.. Ano… Dengar-dengar ada kejadian dengan Restoran Uchiha ya? Sekitar tiga bulan yang lalu...?" Tanya Sakura.

Dan Sakura menyesal menanyakan pertanyaan tersbut, karena aura di sekeliling Sasuke berubah menjadi sangat tegang seketika. Sasuke pun dengan kasar memukul tembok yang disenderi oleh Sakura, dan menatap Sakura dalam-dalam.

"Dari mana kau mendengar itu?" Tanya Sasuke kasar.

"A.. Aku… Dengar dari orang yang lewat begitu aku keluar dari restoranmu dulu…." Sakura mencoba berbohong.

"Itu Cuma GOSIP!" Sasuke tampak memberi penekanan pada kata 'gosip'. "Pasti ada pihak yang iri dengan kesuksesan restoran kami!"

"Sudahlah…. Kau membuatku malas bicara!" Sasuke berkata kasar dan kemudian pergi meninggalkan Sakura yang terduduk gemetar.

"Apa-apaan sih si pantat ayam itu? Dasar *%#$&" Tayuya keluar dari tempat 'menguping'-nya sambil mengomel dan mengumpat atas kelakuan Sasuke barusan.

"Kalau melihat reaksinya barusan… Sepertinya sesuatu tentang tiga bulan yang lalu itu bukan hanya sekedar gossip saja…" Gumam Ino, tetapi cukup keras untuk didengar kedua temannya.

"Hah! Aku yakin, pasti itu masalah penipuan atau yang buruk-buruk kepada pelanggan!" Celetuk Tayuya.

"Hmm… Aku jadi penasaran… Mungkin nanti akan kutanyakan kepada Dei-kun…" Ujar Sakura.

Sorenya di kediaman Deidara.

"Haah? Kau sama sekali tidak punya alat masak?" Tanyanya dengan nada tak percaya kepada Sakura yang hanya bisa tertunduk malu.

"Haihh… Kalau begitu hari kamis nanti sebaiknya kau sudah membeli peralatan-peralatan masak dasar…" Perintah Deidara.

"Baiklah Sensei…" Jawab Sakura singkat.

"T.. Tak perlu memanggilku dengan terlalu resmi begitu kan?" jawab Deidara sedikit malu-malu mendengar kata 'sensei' tersebut.

"Hehehe… Baiklah Dei-kun… Jadi apa tugas pertamaku?"

"Memasak telur." Jawab Deidara.

"A.. Apa? Me.. Memang aku minta belajar dari basisnya… tetapi kalau Cuma memasak telur sih…." Sakura mencoba memprotes latihan awalnya.

"Tanpa menggunakan bahan lauk-pauk lain.. Cobalah memasak 12 jenis masakan telur yang berbeda…" Deidara melanjutkan instruksinya.

"A… APA?" Sakura terkejut menerima tantangan pertama dari sang 'guru'.

1 jam kemudian.

"Uhhh… Bingung…" Sakura tampak hanya bisa menatap meja makan.

Setelah satu jam, Sakura hanya bisa memikirkan empat buah masakan telur yang berbeda. Yaitu telur rebus, telur mata sapi, telur orak-arik, dan telur goreng biasa.

"Hee… Baru jadi empat ya?" Tanya Deidara dengan nada sedikit mengejek. "Aku tidak punya waktu semalaman loh…" Lanjutnya.

Sakura hanyabisa cemberut kepada 'guru les'-nya itu.

"Sebagai guru les, bukankah tugasmu untuk memberi petunnjuk?" Sindir Sakura.

"Unn… Baiklah…" ujar Deidara. "Inti pertama dari memasak adalah Timing."

"ha? Timing?" Sakura meminta penjelasan lebih lanjut.

"Hmm… Intinya, tergantung urutan dan lama memasak, kau bisa membuat telur goreng yang berbeda-beda…"

Deidara melanjutkan, "Dengan mencocokkan waktu, kau bisa membuat telur yang matang atau setengah matang, dan itu membuat rasa dan tekstur dari telur tersebut berbeda… Lalu dengan mengubah urutannya, misalnya membuat telur goreng dengan mengocoknya sebelun digoreng, atau saat digoreng, itu juga bisa merubahtekstur dan rasa telur itu juga…." Jelasnya panjang lebar.

"Ohh… Begitu… Baiklah, akan kucoba…" Jawab Sakura.

"Ingat… Intinya adalah timing! Seperti dalam kehidupan sehari-hari… Timing adalah segalanya.. Kalau kau membicarakan sesuatu di saat yang tak tepat, maka…" Deidara mulai mengoceh kesana kemari.

"Wow… ternyata dia itu lumayan cerewet juga ya kalau sudah mulai ngomong…" Pikir Sakura.

Tetapi, begitu mendengar kalimat Deidara yang tentang 'topik pembicaraan', Sakura jadi teringat dengan kejadian yang dialaminya bersama Sasuke hari itu.

"A.. Ano Deidara… Apakah tidak ada 'timing' yang tepat untukmu menceritakan tentang kejadian di restoran Uchiha tiga bulan yang lalu?" Tanyanya terus terang.

Deidara memandangi Sakura sesaat, sebelum menjawab. "Kau benar benar ingin tahu ya?" Tanya Deidara.

Sakura mengangguk dan kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya hari itu dengan Sasuke.

Mendengar cerita Sakura tersebut, Deidara terlihat memasang wajah tak nyaman.

"Baiklah kalau begitu… Sakura, jam berapa kau selesai kulah hari Kamis?" Tanyanya.

"Eh? Umm… Aku selesai kuliah siang sih… Sekitar jam 11…" Jawabnya.

"Bagus… Kalau begitu datanglah ke tempat kerja part-time-ku…" Lanjut Deidara sembari menyodorkan kartu promosi kecil kepada Sakura.

"Ngg..? Café Akatsuki?" Sakura membaca kartu promosi tersebut.

"Ya…" Jawab Deidara… "Di situ kau akan 'melihat' jawaban dari pertanyaanmu…"

….

….

Rabu malam, Restoran Uchiha.

Rabu malam itu, Sakura akhirnya kembali memasuki restoran yang 'agak' mahal tersebut. Selama ini dia terlalu fokus kepada Sasuke, sehingga jarang baginya memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Namun hari ini berbeda, Sakura melihat-lihat keadaan di sekelilingnya, dan ia menyadari bahwa di jam makan malam ini, hanya ada sedikit tamu yang datang ke restoran tersebut.

"Kau tidak menikmati makananmu, sayang?" Tanya eorang wanita di meja dekat Sakura kepada pasangannya.

"… Bagaimana ya… Makanannya enak sih… Tapi…" Jawab pasangannya.

"!" Sasuke, yang semeja dengan Sakura ikut mendengar percakapan tersebut, dan memasang wajah tak suka, membuat Sakura merasa tidak enak.

"… Dibandingakan dengan waktu aku ke sini sekitar tiga bulan yang lalu… Rasa masakannya menurun… Dan harganya malah naik…" Lanjut Laki-laki tadi.

Mendengar itu, Sasuke langsung berdiri dan menghampiri laki-laki tersebut, dan adu mulutpun dimulai.

"Sa… Sasuke-kun…" Sakura tampak ketakutan, dan mencoba melerai mereka.

"Jangan ikut campur!" Bentak Sasuke kepada Sakura.

"Sa.. Sasuke… Aku permisi dulu." Dan karena rasa takut tersebut, Sakura berlari keluar dari restoran Uchiha tersebut.

"A.. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Sasuke-kun benci kalau kejadian tiga bulan lalu diungkit-ungkit?" Sakura berpikir sambil berlari. Tetapi di pintu pagar restoran tersebut, ia dihentikan oleh seorang wanita.

"Sakura kan?" Tanya Wanita tersebut. Wanita itu memiliki rambut merah darah, dan memakai kacamata yang berkilauan memantulkan lampu-lampu di jalan.

"Si.. Siapa anda?" Tanya Sakura ragu-ragu.

Wanita itu hanya tersenyum misterius. Dan alih-alih menjawab pertanyaan Sakura, ia malah memberi peringatan, atau ancaman… "Sebaiknya kau jangan terlalu dekat-dekat dengan Uchiha yang satu itu… Atau kau akan menyesal nantinya…."

Dan wanita tersebut pun masuk ke dalam mobilnya dan langsung menghilang ditelan ramainya jalan raya Konoha malam itu.

Sakura juga tak ingin lama-lama berada di situ. Dan ia pun memanggil taksi.

Di perjalanan menuju rumahnya, Sakura tak bisa berhenti berpikir mengenai kejadian-kejadian yang terjadi padanya, terutama yang menyangkut Sasuke dan restoran Uchiha. Dia pun mengeluarkan kartu yang diberikan Deidara dan mengamatinya.

"Cafe Akatsuki ya? Sepertinya aku harus ke sana untuk mencari titik terang dari masalah ini…." Batinnya.

TBC


Wahahah….

Udah ketebak ya rahasia-rahasianya?

Sorry deh kalo mungkin rada-rada klise… :P

Terima kasih untuk yang membaca…

Kritik dan Saran silahkan lewat Review… :D