Holla, Minna-san~
Jumpa lagi..jumpa saya kembali~ ya di sini..cilukbaaa…-acara masa kecil tuh! XD
Seperti janji saya kemarin, chap kali ini Itachi yang bakalan muncul! Saya juga dititipin sama beberapa orang kalo pas Itachi jangan sadis-sadis. Tenang…saya kan orangnya gak tegaan~*bletak* Dan gak nyangka juga di chap kemarin banyak yang sedih kalo si Pein mati! Hyuk..
KHUSUS untuk Itachi, saya gak tega bikin dia terlalu sengsara!
Kru Akatsuki yang lain: "Huu…pilih kasih~"
Heee, lu yang pake pierching! Lu nyolot lu?
Pein: "Ampun, mbah! Saya kan udah dibikin mati di chap kemarin~"
Hoho…bagus kalo gitu!
Seperti biasa, karena ini oneshot, jadi gak ada sangkut pautnya sama cerita yang kemarin ya! Jadi jangan heran kalo chap kemarin si Naruto jadi dokter, sedangkan di sini dia jadi tukang jamu..[misalnya]
Dan untuk Itachi FG [baca: saya] bersiaplah!
Bersedia…siap…mulai…Plakk!
Disclaimer : sedikit demo pada Masashi Kishimoto yang bikin garis di wajahnya Itachi semakin panjang aja! DX
Chara : Aku memang pencinta Itachi~ namun ku bukan buaya..*siapa yang bilang kalo saya buaya?*
Warning : gaje, OOC pol-pollan, sedikit drabble yang ngaco abis. Yang kurang iman, sebaiknya berlatih dulu. Untuk sesaat, lupakan kalau Itachi itu adalah seseorang yang stoic.
.
.
Itachi's POV
Aku Uchiha Itachi, 13 tahun. Seorang daun muda dari desa Konohagakure.
Percayalah, hidup selama 13 tahun di Konoha dan menjabat sebagai kapten Anbu, tidaklah sesenang kedengarannya. Apalagi jika kau merangkap sebagai Kakak dari adik satu-satunya. Seorang adik yang merupakan eksistensi yang seharusnya tidak ada dalam kehidupan ini. Tapi terlepas dari keegoisan sesaat, aku memang menyayangi adikku yang manis tiada tara yang bernama Uchiha Sasuke itu.
xxx
Hari ini seperti biasa aku nongkrong bersama teman-teman satu Anbu di warung Kurenai, janda kembang desa Konoha.
Setelah semalaman suntuk menjaga keamanan desa, akhirnya kami bisa juga minum-minum dan ngaso seperti ini. Tahulah sendiri setelah ada insiden pencurian celana dalam para warga dalam dua pekan terakhir ini, kelompok Anbu dikerahkan untuk menjaga keamanan desa saat malam hari. Aku pikir sekarang Anbu itu tidak lebih dari sekumpulan hansip!
Sejauh ini, penjahat celana dalam itu masih belum tertangkap oleh kami. Yang kami dapatkan sebagai bukti, hanya kulit ular yang selalu kami temukan di TKP. Siapa ya kira-kira penjahat itu? Mungkin juga dia adalah ninja yang hebat. Buktinya dia masih bisa lolos sampai sekarang.
"Itachi, pesan seperti biasa kan?" tanya Kurenai. Aku hanya mengangguk. Dia sudah tahu pesananku seperti biasanya. Kopi panas tanpa gula.
Ada yang bilang kalau seleraku itu seperti kakek-kakek saja. Tapi aku tidak menanggapinya. Untuk apa mempermasalahkan selera orang lain kan?
Kulihat Kurenai sedang mengaduk-aduk kopi pesananku. Adukkan janda emang beda. Setelah selesai mengaduk [semen], dia memberikannya padaku.
"Silakan dimakan~" kata Kurenai, aku mendelik.
"Ditelen!" sewotku. Ngasih kopi kok suruh dimakan sih? Emang aku kuda lumping yang makan gelas apa?
"Hehe..maksudnya diminum kopinya!" ralat Kurenai sambil mencubit pipiku. Huhu aku memang selalu dianggap anak kecil olehnya.
Aku langsung menyeruput kopi panasku dengan khidmat.
"Kakashi, hari ini kau yang bayar ya!" kataku pada seorang anak buahku yang berambut silver yang duduk di sampingku.
Ini nih enaknya jadi kapten Anbu. Walau umurku jauh lebih muda dari anak buahku, tetap saja kedudukkanku lebih tinggi dari mereka.
Mau protes? Tinggal keluarin sharingan aja. Mau kulemparkan ke dimensi mana? Tinggal pilih!
"Hum, baiklah kapten!" jawab si Kakashi. Aku gak tahu reaksi wajahnya kayak gimana, karena dia pake topeng Anbu. Tapi aku berani taruhan kalau dia ngejawabnya dengan ogah-ogahan. Emangnya gue pikirin apa? Ckakakak
"Ya sudah! Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Sampai bertemu nanti malam!" ujarku sambil beranjak pergi dari tempat dudukku.
Ya seperti biasa, inilah pemandangan yang setiap hari aku lihat ketika sampai di rumah sepulang dari ronda malam. Jajaran bocah-bocah perempuan yang sedang mengantri di depan rumahku. Tentu saja aku sudah tahu alasannya. Mereka semua ingin bertemu dengan adikku satu-satunya, Sasuke.
Aku sudah bertahan dengan kondisi ini sejak Sasuke dilahirkan ke muka bumi ini. Adikku, Sasuke, yang masih berusia 7 tahun itu sudah bisa menaklukkan bocah-bocah perempuan se-Konoha? Aku curiga kalau adikku itu pakai susuk.
Ok, untuk bocah perempuan berambut pink, pirang pucat dan merah itu, mereka bertiga sih udah gak heran kalau sering terlihat olehku. Karena mereka adalah langganan setia yang sering datang ke rumah. Tapi masalahnya, bocah berambut duren dengan kulit kemagrib-magriban, terus bocah beralis tebal, bocah berambut panjang dari klan Hyuuga, bocah yang sering bawa-bawa anjing dan bocah yang punya rambut mirip nanas juga dateng ke sini. OMG! Sasuke pake susuk apaan sih sampai bisa naklukin cewek sama cowok kayak gitu?
Sedangkan aku? Aku belum punya pacar satu pun sampai sekarang.
Wajarlah, teman seangkatanku gak ada anak perempuannya. Di Anbu, paling cuma si Yugao Uzuki doang yang cewek. Tapi dia malah pacaran sama si Hayate yang udah jelas-jelas punya penyakit batuk menahun itu.
Apa ini karena garis di wajahku ini ya? Sudah kubilang kalau ini tuh bukan keriput! Tapi bekas cakaran kucing [Tora] saat misi menangkap dia yang kabur. Emang dasar tuh kucing sok asyik banget! Main cakar seenak jidat aja. Padahal Sasuke juga sama-sama dicakar sama kucing itu loh! Bedanya kalau si Sasuke bekas cakarannya itu ada di punggungnya.
Tentu saja aku tahu. Emangnya yang sering mandiin Sasuke siapa gitu? Ya aku lah! Soalnya Ibuku itu tidak mau memandikan Sasuke, dengan alasan malu karena Sasuke itu anak laki-laki. Lha, kalau gitu caranya, terus yang suka mandiin aku waktu kecil siapa dong? Masa Ayah sih? Aku gak yakin.
Lagian apa bagusnya sih adikku itu? gak ngerti deh. Emang sih banyak temen-temennya yang pernah bilang padaku kalau Sasuke itu cool, pendiam, keren dan yang bagus-bagus dikasihin buat Sasuke deh! Gak tahu mereka kalau di depanku Sasuke itu anaknya manjaaaa parah! Punya adik kayak dia aku harus rutin datang ke Rumah Sakit untuk cek kesehatan jantung.
Udah gitu, Sasuke itu punya ingatan yang buruk banget! Masa dia pernah lupa jalan pulang ke rumah sendiri sih? Dan lebih parahnya lagi, dia pernah lupa kalau dia punya Kakak! Kurang asem banget kan?
Heee..baru tahu ya kalau Sasuke kayak gitu? Kasihan deh loe!
Hari ini aku duduk di teras depan bersama dengan Sasuke. Aku baru saja melihat hasil rapornya yang dibagikan tadi siang. Walau aku bosan karena sudah tahu kalau Sasuke pasti mendapat ranking pertama, aku melihat hasilnya juga. Yah, sekedar formalitas lah! Soalnya aku dengar dari Sasuke kalau tadi itu dia memperlihatkan rapornya ke Ayah, tapi Ayah malah pergi meninggalkannya. Hah, aku kan jadi kasihan sama Sasuke.
Setelah pembicaraan tentang saudara yang unik, juga dinding-dinding yang harus dilampaui, aku mendengar suara seseorang yang memanggilku dari depan rumah. Dan aku pun berlari menghampiri orang yang memanggilku itu.
Ternyata Shisui. Mau apa dia kemari?
"Itachi, kau dipanggil oleh Kakek tua- eh maksudku Tuan Hokage ke-3 untuk menghadap beliau sekarang!"
".."
Aku sudah ada di kantor Hokage dengan seragam Anbu lengkap dengan topengku sekarang. Melihat ke arah foto beliau yang ganteng banget dengan rambut kuning cerahnya. 0_0
Hah, tunggu dulu. Aku salah lihat foto, man! Itu mah Hokage keempat. Foto Hokage ketiga itu di sebelah foto Hokage keempat. Orang tua berjanggut putih itu. x_x
Entah kenapa setiap datang ke tempat ini, aku selalu mencium bau tanah! Mungkin karena Hokage ketiga ini memang sudah bau tanah kali ya!
Sebenarnya aku sangat malas kalau disuruh menghadap Hokage ketiga. Aku malas harus melihat tampangnya yang peot itu. Tampang pemimpin juga berpengaruh pada bersemangat atau tidaknya bawahannya dalam bertugas kan? Hokage yang ini sih harusnya udah dimusiumkan. Aku harap di masa yang akan datang, ada juga seorang wanita cantik dan molek yang menjadi Hokage. Tapi kayaknya hanya mimpi deh!
"Itachi, kau tahu untuk apa aku memanggilmu ke sini?"
Meneketehe! Dikasih tahu juga baru tadi.
Tapi tentu saja aku gak bilang kayak gitu. Bisa diobrak-abrik klan Uchiha, kalau aku bilang kayak gitu.
"Tidak, Hokage-sama!" ucapku sambil memperhatikan Hokage ketiga yang terlihat sedang merangkak-rangkak di bawah meja. Sepertinya sedang mencari sesuatu yang hilang. Apa dia sedang mencari keperawanannya yang hilang? Hah, ngaco!
"Ung..sebelum itu..ngemeng-ngemeng Itachi, apa kau melihat gigi palsuku?"
Owh..ternyata dia sedang mencari gigi palsunya toh! Pantesan bicaranya agak-agak gak jelas gitu.
Lagian gigi pake dilepas-lepasin segala. Emangnya ban serep apa! Jangan gigi yang dilepasin, gusi tuh yang dilepasin!
"Ah, ketemu!" seru Hokage ketiga yang menemukan gigi palsunya di langit-langit ruangan yang sudah dikerubungi oleh semut itu.
Proses pemasangan gigi palsu Hokage ketiga berlangsung cukup lama. Serasa berabad-abad yang aku rasakan.
"Baiklah, Itachi. Kita mulai saja pembicaraannya!" kali ini Tuan Hokage sudah duduk di kursinya sambil melipat kedua tangannya. Aku memperhatikannya dengan seksama.
"Aku punya misi untukmu, Itachi!"
Misi? Misi apa? Kalau untuk menangkap pencuri celana dalam warga itu, aku angkat tangan!
Ah, tapi siapa tahu bukan masalah itu.
"Misimu adalah…menghabisi…."
.
.
.
.
.
.
"….semua unggas yang terkena virus flu burung di peternakan Konoha!"
JELEGEEER!
Aku melotot di balik topeng Anbuku. Jantungku berdegup kencang. Apakah aku jatuh cinta pada Hokage ketiga? Bukaaaan! Bukan itu! Aku sangat kaget mendengar misi darinya tadi. Sangat syok! Ini lebih syok daripada mendengar kalau adik kandungmu kehilangan martabatnya sebagai seorang pria.
Menghabisi unggas yang terkena flu burung? Aku yang harus melakukannya? Gila! Kalau kau berpikiran sama dengan yang aku pikirkan, aku pikir ini sangat konyol!
Kalau aku punya amaterasu, pasti sudah aku bakar orang yang ada di hadapanku ini.
Btw, amaterasu itu apaan ya? Aku cuma asal nyebut aja tadi.
"Demi keamanan desa Konoha, hanya kau yang bisa melakukannya Itachi. Karena kau berelemen api, yang dengan mudah bisa membakar unggas-unggas yang terjangkit penyakit itu!"
Sumpah! Ingin sekali ku iris kutil yang ada di hidungnya itu!
Please deh, Goukakyuu no jutsu bukan jurus yang dipakai untuk membakar unggas yang terkena virus flu burung. Tapi untuk perlawanan dalam menghadapi serangan musuh. Martabat ninjutsu dasar klan Uchiha jadi turun begini sih!
Dan untuk Ayah yang sudah dengan susah payah mengajari jurus bola api padaku, maafkan puteramu ini, Ayah~
Tengah malam ini aku harus dengan rela terbangun demi perbincangan dengan Ayahku.
Padahal aku sedang sibuk-sibuknya mimpi basah tadi. Mimpi nolongin orang yang habis kebanjiran maksudnya. Tujuh belas orang yang aku selametin. Sisanya masih banyak. Tapi mimpiku keburu terinterupsi oleh Ayah yang mengguyurku dengan air satu drum penuh.
Aku sudah duduk bersimpu dengan Ayah dan Ibu di hadapanku. Sampai Ibu juga ikut-ikutan segala.
"Kau tahu kan pertemuan besok itu sangatlah penting!"
Pertemuan besok? Oh, itu. Acara ulang tahunnya Kakek Madara yang ke-367 kan? Ternyata Kakek itu masih hidup ya!
Aku menelan ludah. Dengan ragu-ragu, aku bilang, "Besok aku ada misi, Ayah.."
"Misi apa?" tanya Ayah yang seolah menginterogasiku.
"Itu tidak bisa kukatakan. Misi ini sangat [memalukan] rahasia!"
"Kau tahu kan peranmu sebagai apa?"
".."
"Kau mengerti…Itachi.." gawat! Ayah sudah mengeluarkan sharingan! Jadi aku hanya bisa pura-pura menurut saja.
"Ya, Ayah~"
"Ingat itu baik-baik. Dan datanglah ke pertemuan besok!"
Tunggu aja sampai lebaran kuda. Aku gak bakalan dateng! Sudah 13 tahun ini aku datang ke acara ultahnya Kakek Madara. Dan itu sudah cukup bagiku, Ayah!
Gubrak!
Terdengar suara seseorang yang terjatuh dari arah luar. Pasti Sasuke.
"Sasuke, kalau sudah ke toilet, cepat tidur!" aku berucap dengan pede-nya tanpa menoleh ke belakang. Bagaimana kalau itu bukan Sasuke? Aku pasti malu sekali. Tapi untung saja itu beneran Sasuke. Sosoknya muncul dari balik pintu.
"Aku..ti-tidak bisa tidur nyenyak. Di kamar, nyamuknya pada ganas-ganas. Obat nyamuk yang dibeli Ayah tidak mempan sama sekali!" lirihnya.
Untuk pertama kalinya aku ingin bilang kalau adikku itu bodoh sekali. Kalau mau tidur nyenyak itu bukan pakai obat nyamuk, tapi pakai obat tidur! Punya adik seperti dirimu sungguh memalukan.
"Kau ini! Sini biar Ayah temani tidur!" Ayahku mulai berjalan ke arah Sasuke. Tapi Sasuke kayaknya udah kabur dari tadi, sambil teriak, "TIDAK MAUUU!"
Subuh-subuh kayak gini, aku sudah berjalan menuju peternakan Konoha. Yah, aku melakukannya demi kemanaan desa Konoha. Sebagai seorang professional, yang namanya misi seberat apapun harus kita laksanakan kan?
Kalau aku tidak melakukan ini, virus flu burung itu akan cepat menyebar dan bisa membahayakan warga desa. Tapi di lain pihak, aku juga tidak mau melakukannya. Tahu sendiri kan aku ini alergi sama unggas. Cuma lihat aja, aku udah bentol-bentol.
Ya, yang namanya ninja memang selalu dihadapkan dalam pilihan-pilihan yang berat. Huft!
Hah~ menghabisi ya? Kesannya aku ini kayak seorang kriminal saja.
Ok, aku masih bisa terima misi tersebut. Tapi masalahnya, bro! Kenapa aku harus satu rekan kerja dengan Anko?
Aku ini agak trauma dengannya.
Masa gara-gara aku nyium dia di bibir, dia nampar aku berkali-kali lalu aku ditendang sampai mental keluar gerbang desa Konoha? Gaje banget kan si Anko itu?
/Lu yang gaje!
Emang sih aku pernah naksir sama dia. Dia itu seperti larutan yang menyebabkan reaksi kimia di dalam otak dan mempengaruhi system saraf pusat sehingga menimbulkan efek yang tidak terduga yang kemudian menusuk ke dalam vena.
Ya, begitulah kira-kira gambaran Anko menurut buku berjudul 'Kembang perawan' karangan Alpaciko yang aku kemarin siang. Yang setelah diselidiki, itu adalah buku milik Ayahku.
Tapi gara-gara umurku yang masih 13 tahun, sedangkan dia yang sudah 20 tahun. Hubunganku dengannya…wassalam!
Sekarang gosipnya dia sedang deket dengan si Maito Guy, bawahanku itu. Tahu kan orangnya kayak gimana?
Dan itu menjadi satu-satunya alasanku menjauhi Anko. Karena sekarang aku tahu, Anko itu…katarak!
End Itachi's POV
…
…
Akhirnya setelah Itachi menyelesaikan misinya, dia kembali ke rumah. Tapi belum juga istirahat, Itachi sudah ditarik paksa oleh Sasuke untuk menemaninya belajar melempar kunai.
Dengan ogah-ogahan, Itachi menurutinya juga. Tahulah sendiri ngambeknya Sasuke itu kayak gimana. Dia kalau ngambek itu suka nyobek-nyobek uang. Kan sayang banget tuh uang kalau disobek-sobek tanpa sebab.
"Hari ini sampai di sini saja Sasuke. Ayo kita pulang!" ajak Itachi pada Sasuke. Lagipula sekarang sudah mulai gelap.
"Sekali lagi, Kak! Lihat nih!"
Itachi berjalan menghampiri Sasuke. "Hey! Kalau tidak berhati-hati.."
JLEB!
"Hah, kunai-nya kemana? Kok hilang?" kata Sasuke dengan wajah bingung.
Bukannya hilang, kunai-nya Sasuke itu TIDAK SENGAJA menusuk TEPAT di jantung Itachi yang berlari dari arah belakangnya barusan.
"Sas..Sas.."
Sasuke berbalik dan langsung kaget mendapati Kakaknya sudah terkapar dengan kunai yang menusuk di jantungnya.
"Kakak!" sontak Sasuke menjerit histeris sambil menghampiri kakaknya yang sedang pendarahan itu. Jiyaaah, udah kayak yang keguguran aja!
Karena sudah tidak punya tenaga lagi, Itachi hanya bisa bilang, "Kau jadi kuat, Sasuke…"
Bukannya gak nyambung. Tapi Itachi bilang begitu karena emang gitu kenyataannya. Dulu Sasuke pernah nusuk paha Itachi, waktu dia berumur 2 tahun. Sekarang dia udah bisa nusuk jantung. Perkembangannya hebat banget kan?
"Kakak jangan matiii…aku kasih nafas buatan!"
Itachi melotot. "Na-nafas bu-buathmph-"
belum sempat Itachi menyelesaikan kata-katanya, dia keburu disumpel sama selang buat pompa ban sepeda oleh Sasuke. Entah darimana datangnya pompa ban sepeda itu, tidak ada yang tahu.
Sasuke terus memompa pompa sepeda itu dengan cepat, tanpa melihat kondisi Itachi saat ini yang sudah mengeluarkan banyak darah. Tubuh Itachi sudah menggelembung karena 'nafas buatan' dari Sasuke itu.
Bayangkan saja tubuh Deidara yang akan meledakkan dirinya. Hal itu tidak jauh-jauh dari yang dialami oleh Itachi.
"Sas..aku..pe-perutku..bi-bisa meledak.." lirih Itachi. Tapi sepertinya tidak terdengar oleh Sasuke. Dia malah semakin cepat memompanya. Dan…
DUAAAR!
Sasuke menoleh ke belakang. Ternyata sudah ada Naruto, Kiba, Neji, Shikamaru dan Chouji yang melambai ke arahnya. Mereka terlihat memegang balon di tangan masing-masing. Kayaknya yang balonnya tadi meletus itu milik si Neji, dia gak pegang balon soalnya.
"Sas, sekarang ulang tahunnya Pak Kimimaro.." teriak Naruto.
"Mau ikutan ngejailin dia gak?" tambah Kiba.
'Ah, benar juga. Pak Kimimaro kan punya penyakit jantung, lever, kanker, tumor, ayan, kencing manis, dan TBC? Pasti dia langsung mati kalau dikagetkan kayak tadi!' batin Sasuke.
"Iya, aku ikut!" seru Sasuke sambil berlari ke arah Naruto dkk. Untuk melakukan pembunuhan berencana pada guru mereka pastinya. Dan yang terpenting…Sasuke melupakan Itachi yang sedang sekarat dengan nafas yang tersenggal-senggal sekarang ini.
Tahu sendiri kan kalau Sasuke itu punya ingatan yang sangat buruk?
Ya, hidup yang menyedihkan…
-FIN-
Itachiiii…sini, biar aku saja yang kasih nafas buatan buat kamuuu!*ditimpuk tabung oksigen*
Haih…saya lebih rela, ikhlas, ridho lillahita'ala kalo Itachi mati kayak di komik aja. Jangan kayak giniiii…DX
Gak di komik, gak di fanfic, Sasuke tetep aja ngebunuh Itachi~
Tapi bayangin aja Itachi gak mati karena keburu ditolong sama Shizune [yang lagi nyasar] dan dibawa pulang ke distrik Uchiha. Hoho..
Hah~ Semuanya lega kan? Iya kan? Hidup legaaaa…XD
Untuk selanjutnya…kau, kau, kau..*nunjuk kru Akatsuki yang lain* bersiaplah!
Hidan: "Kalo gini caranya, nyeseeeel gue masuk Akatsuki!" T_T
Hoho..bentar lagi puasa nich! Hayooo..udah pada ditambal belum puasa yang bolongnya? XD ban kali ditambal.
Buat Sasuke yang belum lahir [Mikoto kan lahirannya tanggal 23 juli] happy birthday yo~*gak nyangka bilang met ultah sama penghianat desa* XD
Yap! Yap! Yang mau dikasih 'nafas buatan' sama Sasuke, review yah! X3 dan makasih juga yah yang udah baca chap sebelumnya! Arigato, minna-san…
Ciao!
