Mengedit sesuatu di Chapter 1. Sejujurnya saya sama sekali tidak mengerti tentang hukum dan sidang menyidang. Terutama saya tidak paham (dan terlalu malas untuk mencari tahu) tentang terdakwa, tertuduh, tersangka, atau apapun itu. Mohon koreksinya.

Notes: Inget rebuttal di AAI 1 (atau cross examination kalau di Phoenix Wright) kan? Di chapter ini, dan di chapter-chapter selanjutnya, akan ada beberapa rebuttal. Nah, sebagai pemisah antara statement dan tanggapan pengacaranya saya pakai "/" ya. Kalau bisa sih sebelum lanjut ke tanggapan pengacara/jaksanya, silakan berpikir sendiri dulu. Oh ya, sebagai rebuttal pertama di sini saya simpel aja. Mungkin terkesan membuat pengacara/jaksa/terdakwanya bodoh, tapi sebenernya ini sih saya aja yang kurang ide. Dan yah, kalau main AAI 1 juga banyak kok statement "bodoh" yang emang supaya kita nggak kecapean mikir. Hehe, kebanyakan notes ini mah. Enjoy! ^^

xxx

Baby Love

T. Drama/Suspense. Miles Edgeworth/Kay Faraday

Disclaimer: Seri Ace Attorney adalah milik Capcom. Saya tidak memiliki segala yang saya tuangkan dalam cerita ini kecuali OC dan plot. Saya juga tidak mengambil keuntungan material dari pembuatan cerita ini.

xxx

"Argh,"

Miles Edgeworth mengerjapkan matanya, menahan perih yang meradang di bagian belakang kepalanya. Ia mengedarkan pandangan ke selilingnya. Dimana ini?, lelaki itu memaksakan tubuhnya yang lunglai untuk bangkit sebelum kembali terjembab. Menggerutu kesal, Miles berusaha melepas ikatan yang mengunci kedua lengannya meski tahu usianya sia-sia. Dalam hati Miles berjanji bahwa siapapun orang yang melakukan hal ini padanya akan ia beri ganjaran yang setimpal.

"Butuh bantuan, Sir?"

Miles menoleh ke atas. Merasakan sesuatu yang mendesir di hatinya ketika melihat gadis yang berdiri di atas jendela. Hasrat kanak-kanak Miles terhadap superhero semisal Steel Samurai membuat matanya lekat menatap gadis berkostum aneh itu. Setelah beberapa detik ia tercenung, mengutuki kebodohannya dalam hati, Miles berdeham pelan. "Siapa kau? Anak-anak tidak sebaiknya berada di sini,"

Gadis yang berdiri di atas jendela itu menggembungkan pipinya seraya merajuk. "Aku sudah tujuh belas tahun, Mr. Edgeworth. Lagipula aku kan datang untuk menyelamatkanmu. Setidaknya bilang terima kasih gitu..."

"Kalau begitu kau..." Miles hendak meminta bantuan gadis itu ketika disadarinya ada sesuatu yang janggal dengan pertanyaan gadis itu barusan. Bingung, Miles menatap gadis itu penuh tanda tanya. "Kau kenal aku?"

"Hm... bagaimana, ya?" gadis itu mengulum senyum misterius. "Baiklah, aku akan memperkenalkan diri dahulu! Hm... bagaimana aku melakukannya, ya?" mengabaikan Miles yang tampak terganggu di bawah, gadis itu sibuk membenahi posisinya. Setelah ia cukup nyaman dengan tempatnya berdiri, ia mulai berpose lagaknya superhero. "Namaku Kay Faraday, The Great Thief Yatagarasu," gadis itu mengacungkan telunjuknya seperti pistol. "Tapi kau bisa memanggilku Kay, 'kay?"

Miles melongo. Tidak cukup hari ini dia mengalami runtutan kasus, dia juga harus bertemu dengan orang-orang aneh. "Ehm, baiklah... Kay..." Miles membenahi posisinya. "Kau bisa tolong melepaskan ikatanku?"

"Bagaimana, ya?" Kay terkekeh pelan. "Soalnya aku suka sekali wajahmu kalau kebingungan seperti itu."

xxx

Turnabout Seven Years: Part 2

xxx

Los Angeles, 20 Oktober 2026, 17.00

"Sidang terkait pembunuhan Mr. Henry Faith, pegawai kedutaan besar Jerman akan segera dibuka. Jaksa penuntut hari ini adalah Miss Franziska von Karma, jaksa penuntut umum kota Berlin. Terdakwa Miss Lauren Paups dan pengacaranya, Miss Audy Fomalhaut dipersilakan masuk ke dalam ruangan."

Ruang sidang itu lenggang, tetapi ketika kedua wanita yang disebutkan terakhir itu melangkah masuk ke dalam ruangan, beberapa pria yang menghadiri sidang itu berbisik-bisik kagum. Ya, sidang hari itu memang menjadi berkah tersendiri buat para lelaki yang hadir. Dari jaksa hingga terdakwa, semuanya adalah wanita dengan kecantikan di atas rata-rata. Tapi meski dengan kepolosan dan kerapuhan Lauren menjadi favorit setiap lelaki, atau keanggunan Franziska yang membuat para lelaki tidak berani melawannya, bintang hari itu adalah Audy Fomalhaut sang pengacara.

Walau usianya saat debut sebagai pengacara dua tahun yang lalu bisa dibilang terlambat, wanita itu memiliki keunikan tersendiri sebagai seorang pengacara. Orang-orang menyebutnya "Phoenix Wright versi wanita". Ya, sejak Phoenix dijatuhi sanksi karena memalsukan bukti dalam pengadilan (yang belakangan diketahui hanyalah fitnah dari lawannya), tidak banyak pengacara yang benar-benar berdedikasi sekaligus berkompetensi seperti dirinya. Berdedikasi mungkin banyak, tetapi yang benar-benar berkompeten dan cerdas hanya segelintir.

"Baiklah. Sidang hari ini kita buka. Jaksa penuntut, Miss von Karma, silakan mengajukan tuduhannya."

"Terima kasih, Sir," Franziska von Karma sang jaksa penuntut berdeham pelan seraya membuka arsip kasusnya. Dia menarik napas panjang, seraya membaca cepat bukti-bukti di hadapannya. Ada revolver yang tidak menyisakan sidik jari (karena kemungkinan pembunuhnya mengenakan sarung tangan), kondisi korban yang melalui autopsi diketahui meninggal pada pukul 13.00, sedang Lauren Paups menemukan mayat itu pada pukul 13.02. Waktu dua menit terlalu singkat untuk kabur dan membereskan pelaku. Karena itu... Franziska mendongak, menatap dua wanita di seberangnya dengan yakin.

"Hasil autopsi menunjukkan bahwa korban meninggal pukul 13.00. Korban meniggal akibat tembakan tepat di jantungnya, yang membuat korban seketika meninggal. Pada pukul 13.02, Lauren berteriak dan menyebabkan para pegawai yang lain juga menemukan korban. Tetapi selama dua menit tidak ada seorang pun yang keluar masuk, Nona Lauren sendiri yang memastikan hal itu. Soal suara tembakan, seluruh pegawai tidak mendengar adanya suara yang aneh dan ini kemungkinan karena pistol tersebut diredam. Dari bukti-bukti tersebut, dapat disimpulkan bahwa Lauren Paups lah pembunuhnya," Franziska menyelesaikan tuduhannya, kemudian menatap ke arah juri. "Bukankah ini sudah cukup jelas, Sir?"

Juri mengangguk, ia mengetuk palunya satu kali. "Baiklah, ada yang ingin Anda sampaikan, Miss Fomalhaut?"

"Terima kasih, Sir. Saya akan membela klien saya. Klien saya, Lauren Paups, sama sekali tidak bersalah dalam kasus ini," Audy Fomalhaut melanjutkan dengan penuh percaya diri. "Anda berkata bahwa Lauren Paups adalah pelaku pembunuhan Henry Faith. Tetapi ada satu kelemahan yang nyata dalam cerita Anda."

/

"Oh, ya?" Franziska mengangkat alisnya.

"Ya, saya hanya akan merangkumnya dalam satu kata: mengapa?" Audy menatap hadirin dan juri sejenak sebelum melanjutkan. "Mengapa Miss Paups membunuh Mr. Faith? Mengapa Miss Paups berteriak sesaat setelah membunuhnya? Bukankah itu malah akan mengungkap perbuatannya sendiri?"

Franziska terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia kembali mengajukan keberatan. "Keberatan, Juri!" Franziska menatap Lauren Paups yang bergeming sambil terus menerus menggigit kukunya. "Mengapa menurut saya adalah pertanyaan yang tidak relevan karena seluruh bukti mengarah kepada Miss Paups oleh karena itu, ketiadaan alasan tidak bisa dijadikan keberatan. Tetapi, kalau boleh saya menjawab, mungkin pembunuhan ini terjadi tidak disengaja. Mungkin mereka bertengkar dan Miss Paups panik sehingga menarik pelatuk dan membunuh Henry Faith."

Juri mengetuk palunya beberapa kali ketika hadirin mulai berbisik-bisik ramai. "Dimohon untuk tenang, hadirin," lelaki paruh baya itu kemudian menatap Audy. "Miss Fomalhaut, silakan memberikan bantahan yang relevan."

Audy terdiam. Ia menatap sekilas arsip kasus di hadapannya. Ketika seminggu yang lalu Lauren Paups meminta bantuannya sebagai pengacara, Audy langsung dapat melihat bahwa wanita ini sama sekali tidak bersalah. Beruntung detektif yang menangani kasus ini, Dick Gumshoe, kenal dekat dengannya. Karena itu, Audy tidak mendapat kesulitan mengumpulkan fakta-fakta yang berhubungan dengan kasus ini. Apa yang bukti bisa aku ajukan? Audy berpikir sejenak.

Ketika Audy mewawancara pegawai kedutaan yang lain, ia menemukan beberapa hal tidak biasa yang sepertinya tidak memiliki hubungan langsung dengan kasus. Pertama, listrik di kedutaan besar Jerman itu sempat padam selama beberapa saat sebelum akhirnya hidup kembali. Listrik tersebut padam dari sejak pukul 12.50 sampai 12.57. Office boy di kedutaan besar itu mengeluh bahwa dengan matinya listrik itu dia jadi agak kesulitan karena harus menyalakan lagi pemanas ruangan satu per satu. Ketika ditanya adakah yang janggal ketika menyalakan pemanas ruangan di ruang kerja Henry Faith, petugas itu berkata bahwa dia tidak sempat menyalakan pemanas ruangan di sana karena ruang kerja Henry Faith terletak di ujung ruangan.

Audy berpikir sejenak. Mungkinkah peristiwa ini ada kaitannya dengan pembunuhan Henry Faith? Wanita itu kemudian melirik lagi foto posisi mayat korban. Jangan-jangan ini... Audy tersenyum, ia mengangkat tangannya. "Sir, mungkin ada baiknya kita melihat terlebih dahulu kondisi korban dan situasi pada saat mayat ditemukan."

/

"Apa maksud Anda, Miss Fomalhaut? Bukankah semuanya sudah jelas?" Franziska mengangkat alis, membalas senyum Audy dengan tak kalah percaya diri. "Semua bukti mengarah kepada Miss Paups. Tidak ada keraguan."

"Lihat ini, pada saat ditemukan, mayat korban tergeletak di pojok ruangan – yang berarti di dekat pemanas ruangan. Tidakkah ini sudah sangat jelas?" Audy mengangkat foto korban yang diambil oleh polisi yang bertugas saat itu. "Dengan menggunakan pemanas ruangan, mayat korban akan lebih lama kaku dan dengan begitu waktu pembunuhan pun dapat dimanipulasi."

Wajah Franziska memucat. Ia menelan ludah dan menarik napas untuk menenangkan dirinya. "Tunggu, bukankah kondisi saat mayat ditemukan adalah pemanas tersebut tidak menyala? Kecuali jika Miss Paups sendiri yang mematikan pemanas tersebut, tidak ada kemungkinan lain..."

"Sayang sekali, Miss von Karma, tetapi pegawai di sana berkata bahwa beberapa saat sebelum mayat ditemukan listrik di kantor kedutaan besar itu padam," Audy tersenyum puas. "Dengan memundurkan waktu kejadian, alibi Miss Paups tidak terpatahkan lagi."

Franziska kehabisan kata-kata. Ia menatap juri hakim yang sedang berpikir keras. "Sir..."

"Hasil investigasi yang sudah ada hanya ini, Sir. Belum ada hasil investigasi terbaru yang bisa menjatuhkan Miss Paups," Audy menutup pernyataannya sambil melirik ke arah kliennya. Audy melengos dalam hati. Kalau saja klien ini tidak datang sendiri kepadanya dengan bercucuran air mata dan kalau saja insting Audy tidak mengatakan bahwa wanita ini memang butuh bantuan, Audy tidak akan pernah membantu klien ini. Ya, meskipun Audy yakin bahwa kliennya tidak bersalah, ia jengkel dengan sikap serba rahasia kliennya.

Juri mengangguk. "Baiklah. Karena kurangnya bukti-bukti yang diperlukan, sidang ini kami tunda hingga saat yang ditentukan kemudian."

"Tapi, Sir..." Franziska hendak mengajukan keberatan, tetapi palu sudah diketuk dan sidang sudah ditutup. Jengkel, Franziska mendelik ke arah klien Audy. Mengabaikan pandangan penuh tanya dari hadirin yang masih belum keluar ruangan, Franziska mendesis kasar. "Dasar bodoh. Aku tidak mau tahu lagi!" Franziska mengambil arsip kasusnya dan pergi meninggalkan ruangan sambil mengentakkan kaki.

Audy mengangkat alis. "Kau kenal dengan Miss von Karma, Miss Paups?"

Lauren Paups hanya diam, ia menggigit bibir sebelum dengan lirih berkata. "Maafkan aku, Franziska..."

Audy, yang sejak kemarin sudah bersabat menghadapi kliennya yang enggan menceritakan hal-hal lain yang diketahuinya, kini sudah kehilangan kesabaran dan akhirnya berkata dengan suara tinggi. "Miss Paups, saya sudah membantu Anda dan saya akan membantu Anda, tetapi..." Audy kini menatap Lauren yang masih menunduk dalam-dalam. "Tolong ceritakan segalanya pada saya! Dan bagaimana mungkin saya menjaga titipan Anda kalau Anda tidak mengatakan apa yang sebenarnya Anda titipkan itu!"

Lauren hanya tersenyum tipis, ia menatap nanar sosok Franziska yang menghilang dari balik pintu. "Ah, saya harus pulang dulu. Terima kasih banyak, Miss Fomalhaut. Saya tahu Anda sudah punya janji setelah ini..."

Kemudian, mengabaikan protes Audy, Lauren melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Audy dengan segudang pertanyaan yang belum terjawab.

xxx

Los Angeles, 21 Oktober 2026, 00.30

"Aku benar-benar minta maaf, Miles..."

Miles Edgeworth membenahi posisi duduknya. Ia sebenarnya tadi sudah sempat tertidur selama tiga puluh menit sebelum telepon genggamnya berdering. Kalau saja yang menelepon itu Gumshoe, ia pasti akan langsung mematikannya. Tetapi melihat identitas penelepon itu, Miles pun memaksakan dirinya untuk berpisah dari bantalnya yang sangat menggoda. "Tidak apa-apa, Audy..." Miles melirik jam dinding di kamarnya dengan jemu. "Tapi memangnya kau begitu ingin bicara denganku ya hingga tidak bisa menunggu besok?"

Miles saat itu masih setengah tidur sehingga ia tidak begitu sadar dengan yang dikatakannya, dan tentu saja ia tidak bisa melihat wajah lawan bicaranya dari telepon. Akan tetapi, tanpa sepengatahuan Miles, di seberang sana Audy merasakan pipinya memanas. Perasaanku sajakah atau memang Miles terdengar manja belakangan ini?

"Audy? Halo?"

"Ehm," Audy berdeham pelan, meredam jantungnya yang terus menerus berdegup tak nyaman. "Aku ingin bertanya, klienku itu, Lauren Paups, apakah kau mengenalnya?"

"Memangnya kenapa?" Miles berpikir sejenak. "Aku memang seperti pernah mendengar namanya, tapi aku tidak terlalu ingat,"

"Kau sungguh-sungguh tidak ingat?"

Miles terdiam sesaat. "Kalau kau benar-benar memerlukannya, aku akan buka lagi arsip kasus-kasus lamaku."

"Aku tahu ini akan sangat merepotkanmu, tapi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu, Miles," Audy terdengar lelah sekali. "Aku tahu ini tidak terlalu membantu karena kau punya banyak penggemar wanita, Miles. Yang jelas, wanita ini penggemarmu."

"Penggemar... ku?" Miles tercenung. Tunggu, rasanya orang ini tidak asing lagi... "Audy, kau bisa mendeskripsikan klienmu. Rasanya aku agak ingat dengan orang ini."

"Hmm, tidak ada yang spesial. Kecuali bahwa dia sangat penggugup dan suka menggigit jarinya ketika gugup."

Miles tersentak. "Ah!" Miles teringat dengan gadis itu. Ya, Lauren Paups. Dia adalah mantan kekasih Lance Amano, putra direktur perusahaan Amano yang terlibat dalam kasus penyelundupan harta negara. Dia tidak terlalu memperhatikan gadis itu, tapi jelas gadis itu terlihat selalu gugup dan pemurung. Jangan-jangan semua ini masih berhubungan dengan kasus tujuh tahun yang lalu...

"Ya, Miles?"

"Aku perlu melihat dahulu arsip data kasus lamaku ke kantor. Kau besok ada waktu luang? Aku perlu informasi tentang Lauren Paups yang kau ketahui," sambil menelepon, Miles kini mondar-mandir di kamarnya mencari setelan jas yang ia pakai kemarin. "Audy? Kau bisa?"

"Baik, Miles. Maaf karena aku mengganggu waktu istirahatmu, aku..." Audy terdengar ragu-ragu di seberang sana, tetapi Miles saat itu sedang sibuk mempersiapkan dirinya sehingga tidak terlalu memperhatikan Audy. "Hati-hati di jalan, Miles."

"Terima kasih. Sampai ketemu besok, Audy."

Audy termangu lama ketika Miles memutus telepon dari seberang. Audy menghela napas panjang. Lima tahun aku menunggumu mengatakan sesuatu, Miles. Lima tahun. Wanita itu melirik kalendar di dinding kamarnya yang menunjukkan lebih banyak coretan. Enggan wanita itu menghitung berapa hari yang tersisa sebelum ia resmi menginjak usia tiga puluh lima. Aku sudah tidak lagi muda, Miles. Aku sudah lelah dengan semua ini... Audy mengerjapkan matanya, menyadari bahwa semakin lama lamunannya semakin tidak berhubungan dengan kasus. Mengutuk dirinya yang tidak profesional karena sempat-sempatnya memikirkan hal trivial di tengah kasus, ia beranjak menuju meja kerjanya yang penuh oleh tumpukan kertas.

Aku tidak membutuhkan cincin atau apapun yang kau simpan di saku jasmu, Miles. Aku hanya membutuhkan kejujuranmu...

xxx

Los Angeles, 21 Oktober 2026, 01.00

"Selamat malam, Sir. Ada yang bisa kami bantu?"

Miles yang baru saja turun dari mobilnya itu membalas senyum penjaga malam kantornya. "Ah, selamat malam, Mr. Franz. Saya ada perlu mendadak di kantor."

"Ah, mari Sir, silakan," Franz tersenyum seraya berjalan terlebih dahulu untuk membukakan pintu masuk utama. "Omong-omong Sir, memangnya tadi ada yang tertinggal, Sir?"

Miles mengangkat alis. "Apa maksud Anda, Mr. Franz?"

Franz mengerjapkan matanya kebingungan. Saat itu mereka sedang naik tangga menuju ruangan Miles. "Tapi... bukankah tiga puluh menit yang lalu Anda baru dari sini?"

Wajah Miles mendadak pucat, ia berlari mendahului Franz menuju ruangannya. Tenang, Miles... Miles mengatur napasnya ketika Franz sang penjaga malam panik membukakan pintu ruangannya. Ketika pintu tersebut berhasil dibuka, Miles menerobos masuk dan menyalakan lampunya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tidak ada yang berbeda sejak siang tadi ia meninggalkan kantor. Gusar, ia menoleh ke arah Franz. "Apa yang sebetulnya terjadi, Franz?"

"Tiga puluh menit yang lalu, Anda datang menemui saya untuk mengambil kunci. Setelah lima belas menit, Anda turun kembali dan mengembalikan kunci itu pada saya, Sir," Franz berkata dengan yakin. "Apa mungkin... ada data yang hilang, Sir?"

Miles mendengus kesal. Ia menghampiri lemari arsipnya. Jemarinya yang jenjang menyusuri map-map besar itu kemudian dengan tangkas diambilnya arsip bertuliskan angka "37" dan diperiksanya arsip itu. Aneh... tidak ada yang berkurang... Miles tidak tahu harus lega atau heran melihatnya.

"Sir?"

"Hmm, Anda yakin tadi saya yang datang? Soalnya..." Miles mendadak berhenti melanjutkan. Jika ada yang mengincar data kasus tujuh tahun yang lalu, tentu ia perlu membongkar seluruh arsip Miles. Sejak saat Buddy Faith membobol kantornya, Miles mengatur kembali seluruh arsip kasusnya dan menomori mapnya dengan nomor yang hanya dia seorang yang hafal urutannya. Miles tercenung. Apa maksud semua ini? "Mr. Franz, saya..." Miles terdiam. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Dimana Mr. Franz?

"Berhenti! Pencuri!"

Miles menoleh dengan heran ketika dilihatnya Franz berdiri di depan kantornya, terengah-engah seraya mengacungkan pistolnya. "Mr. Franz?"

Franz membelalakkan matanya tidak percaya. "Mr. Edgeworth... bagaimana?"

"Apa yang sebetulnya terjadi, Mr. Franz?" Miles menatap Franz yang barusan lenyap dan mendadak muncul kembali dengan cara yang aneh. "Kemana Anda tadi pergi?"

"Saya... saya sangat teledor, Sir. Saya sungguh minta maaf," suara pria itu kini terdengar lemah, ia menurunkan pistolnya. "Tadi saya mendadak ditelepon bahwa istri saya yang sedang hamil akan melahirkan. Karena kebetulan rumah sakit tersebut dekat, saya berpikir toh tidak akan ada yang ke kantor malam-malam, karenanya saya pergi sebentar. Hanya sebentar, Sir. Lima menit ketika tiba-tiba istri saya menelepon. Saya langsung sadar bahwa telepon sebelumnya hanya tipuan dan ketika saya hendak kembali ke kantor, saya baru sadar kunci yang saya miliki sudah tidak ada di tangan saya..."

"Kalau begitu, yang tadi itu... argh!" Miles menoleh dengan gusar, menggeram kesal ketika menyadari bahwa map yang sebelumnya di atas meja itu sudah menghilang.

xxx

Los Angeles, 21 Oktober 2026, 07.30

"Be... benarkah itu, Sir?"

Miles saat itu melayangkan pandangnya ke penjuru kota Los Angeles lewat jendela besar di kantornya. Ia tidak melaporkan kejadian semalam dan hanya menceritakannya kepada Gumshoe sekarang. Ya, Miles sama sekali tidak menyalahkan Franz. Sebaliknya, ia merasa bahwa dirinyalah orang yang paling patut dipersalahkan. Bagaimana mungkin ia tidak mengenali Franz? Miles mengutuk dirinya sendiri. Dan aku sendirilah yang menuntun pencuri itu...

"Anda tidak akan melaporkannya pada polisi, Sir?"

Meski saat itu perasaannya sedang kalut, Miles mau tak mau tersenyum dalam hati mendengar pertanyaan Gumshoe. Bukankah dengan mengatakan itu pada Gumshoe, itu sama saja dengan melapor kepada polisi? "Ya, Gumshoe, aku tidak ingin timbul kehebohan," Miles terdiam sejenak. "Menurutmu... siapa pencuri itu Gumshoe?"

Wajah Gumshoe memerah. "A... Anda tidak menuduh saya kan, Sir?"

"Jangan bodoh, Gumshoe..." Miles menghenyakkan tubuhnya di atas sofa. Ia memejamkan matanya. Semalam, lagi-lagi ia memimpikan kembali momen-momennya bersama gadis kecil itu. Dia sudah menjadi wanita dewasa sekarang, Miles... Miles menelan ludah. Tujuh tahun lalu adalah kali terakhir ia bekerja sama dengan Kay. Tetapi, pertemuan singkatnya dengan Kay lima tahun yang lalu lah yang membuat dia terus menerus memimpikan Kay.

"Ma... maksud Anda..." Gumshoe mengerutkan dahinya, yang tampak aneh di mata Miles karena biasanya lelaki itu tidak berpikir sebelum menyatakan pendapatnya. "Yatagarasu, Sir?"

Saat itu Miles terlalu enggan mengangguk. Ia hanya memandang kosong interior kantornya tanpa gairah. Miles selalu membanggakan kantornya itu kepada setiap orang yang mau mendengarnya, meski dengan caranya sendiri yang implisit. Ya, siapapun yang masuk ke dalam kantor Miles Edgeworth akan selalu berdecak kagum. Kebanyakan kantor belakangan ini berkonsep modern, dengan variasi bentuk-bentuk dasar seperti kotak atau lingkaran. Tapi tidak dengan Miles.

Ya, sebagai orang yang dididik oleh keluarga von Karma, Miles Edgeworth memiliki kekaguman sendiri terhadap masa-masa kegemilangan bangsawan Eropa. Tak hanya dari cara berpakaiannya yang tergolong aneh untuk pengacara-pengacara lain, ia pun mengekspresikan kecintaannya itu pada kantornya. Kantor berukuran 4 x 6 meter itu dipenuhi perabot jati dengan ukiran-ukiran khas Eropa di sisi-sisinya. Dindingnya pun berlapis kertas bercorak baroque dengan hiasan berupa lukisan-lukisan klasik. Tapi dari semua itu, yang paling membuat orang-orang terpana adalah jendela besar di belakang meja kerjanya. Ya, jendela besar yang memenuhi seluruh dinding adalah khas desain modern, tapi Miles mengubah jendela itu menjadi bernuansa klasik. Dengan mozaik berupa bunga di bagian bawahnya dan ukiran bercat emas membingkainya.

"Wah! Lebih bagus dibandingkan pada saat ayah di sini!"

Ya, kantor itu. Ruang 1202 yang Miles tempati ini adalah bekas kantor ayah Kay, Bryne Faraday. Saat Kay masuk ke dalam kantornya, Miles dapat melihat bahwa sang gadis berusaha mati-matian menutupi tangisnya, menutupinya dengan keceriaan dan tawanya yang menyenangkan. Miles memejamkan kedua matanya, membiarkan keping-keping memori itu kembali menderanya. Bukankah kau sudah memutuskan untuk bersama Audy, Miles? Miles menggigit bibirnya yang dingin. Merasakan kembali getaran-getaran tak nyaman di tubuhnya. Bukankah lima tahun yang lalu kau sudah memutuskan untuk benar-benar melupakannya, Miles?

"Tapi, Sir. Tidak mungkin Kay..." Gumshoe terdiam. Meskipun ia tidak banyak berkomentar, ia bisa merasakan aura tidak ramah dari Miles setiap kali ia menyebut nama gadis itu. Miles mungkin hanya menganggap Gumshoe sebagai rekan kerja yang menyusahkan, tapi Gumshoe sangat memahami "atasan"-nya itu. Gumshoe awalnya menduga bahwa mungkin sikap Kay yang langsung pergi tanpa mengatakan apapun selama bertahun-tahun itu yang menjadi penyebabnya tapi lambat laun ia merasakan bahwa ada kebencian lebih yang dipendam oleh Miles. Mungkin benci bukan kata yang tepat. Tapi jelas Miles tidak suka jika Gumshoe mulai menyebut-nyebut nama Kay.

"Aku bertemu dengannya lagi, Gumshoe... lima tahun yang lalu," Miles sendiri tidak paham mengapa pada saat itu ia bercerita pada Gumshoe. Mungkin ia sudah terlalu lelah. Mungkin ia sudah terlalu tua. Mungkin aku memang butuh teman bicara...

"Oh... hm... ah!" Gumshoe yang tidak tahu harus memberikan tanggapan apa mendadak tersentak. "Bukankah kasus waktu itu ditutup tujuh tahun yang lalu, Sir?"

"Ya..." Miles menggumam pelan, ia kembali memejamkan matanya. Bagaimana mungkin ia bisa lupa?

xxx

Kedutaan Besar Cohdopia, 18 Agustus 2021, 20.00

Miles Edgeworth keluar dari ruang teater itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Tentu, usianya memang sudah 30 tahun, tapi kalau saat itu ia hanya seorang diri, ia mungkin akan melompat-lompat penuh semangat seperti anak lelaki berusia sepuluh tahun yang berjalan di sampingnya. Mungkin masa kecilnya yang terlalu serius atau mungkin dirinya yang kehilangan sosok idola di dalam diri Manfred von Karma, Miles sangat mengagumi pertunjukan samurai bertubuh besi yang diselenggarakan setiap tahun di kedutaan besar ini. Kali ini bahkan pertunjukan samurai itu digabung dengan pertunjukan ninja yang bermain gitar, Jammin' Ninja. Miles tersenyum melihat orang-orang berpakaian tradisional Cohdopia berjalan beriringan. Ya, setelah beberapa tahun terpecah menjadi dua negara bagian, akhirnya kedua negara itu bersatu kembali, dan hari ini adalah perayaan penyatuan kedua negara itu kembali.

Miles menatap interior kedutaan besar itu. Masih sama simetrisnya dan interiornya masih sama persis dengan terakhir kali ia berada di sini dua tahun yang lalu. Ya, 2019 adalah tahun yang sangat panjang untuk Miles. Ia mengalami rangkaian kasus yang semuanya berhubungan dengan lingkar penyelundupan harta negara yang dipimpin oleh Quercus Alba, mantan duta besar Allebahst. Quercus Alba dan tangan kanannya, yang pada akhirnya mengkhianatinya, Callisto Yew alias Shih-na dijatuhi hukuman mati. Meskipun saat itu Cohdopia sudah akan bersatu, masih ada isu-isu yang harus diselesaikan. Misalnya masalah patung palsu yang dibuat Babahl, beberapa bangsawan Allebahst masih tidak suka dengan kebohongan yang dilakukan oleh pemerintah Babahl. Selain itu, beberapa orang juga mengungkapkan keraguaannya terhadap kinerja Colias Palaeno, mantan duta besar Babahl. Tapi bagaimanapun, kedua negara itu akhirnya rujuk kembali menjadi negara Cohdopia.

"Bagaimana pertunjukkan Steel Samurai kami, Mr. Edgeworth?"

Miles mengangkat wajahnya. Ia membalas senyum sang duta besar, Palaeno, yang saat itu diikuti oleh wartawan-wartawan dari belakang. "Pertunjukan terbaik yang pernah saya lihat, Mr. Palaeno. Akan tetapi, Jammin' Ninja terlihat agak berbeda, ya?"

Palaeno tertawa. "Antara kita saja. Tetapi teman Anda itu kini berperan menjadi Jammin' Ninja karena pemeran aslinya sakit," Palaeno kemudian tersenyum lebar. "Tapi penonton menyukainya, Mr. Edgeworth. Jammin' Ninja memang lebih cocok menjadi tokoh yang komikal dibandingkan tokoh yang melankolis seperti yang dulu-dulu."

Miles memaksakan dirinya untuk ikut tertawa bersama Palaeno. Bagaimanapun, ia masih tidak bisa mengerti mengapa masih ada orang yang mau mempekerjakan orang seperti Larry Buttz.

"Baiklah, Mr. Edgeworth. Saya kembali ke ruangan saya dahulu," Palaeno menunduk untuk berpamitan, kemudian berbisik lirih hingga hanya Miles yang bisa mendengarnya. "Sekadar informasi, saya menggunakan ruangan Manny Coachen dahulu, yang tentunya sudah diperluas."

"Eh?" Miles hanya bisa tercenung menatap punggung Palaeno yang menjauh darinya. Ia baru saja hendak mengejar Palaeno ketika dilihatnya duta besar itu dihampiri oleh seorang wanita. Palaeno dan wanita yang entah kenapa tampak familiar di mata Miles itu bercakap-cakap dengan suara rendah setelah para bodyguard menghalau wartawan untuk mendekat. Ketika keduanya selesai berbicara dan wanita itu menoleh ke arahnya, Miles merasakan jantungnya berhenti berdetak.

Terakhir kali Miles bertemu dengan wanita itu, ia masih seorang gadis bertubuh mungil yang hobi mengenakan baju yang aneh-aneh. Miles nyaris tidak percaya dengan penglihatannya sendiri ketika melihat betapa waktu dua tahun telah mengubah sang gadis itu seratus delapan puluh derajat. Menjelmanya menjadi seorang wanita muda yang cantik dan anggun. Miles menelan ludah gugup ketika wanita itu melangkah ke arahnya. Rambut hitam wanita itu digelung ke atas, membuat Miles menyadari kecantikan wanita itu yang sesungguhnya. Dan mata itu... Miles menahan napasnya.

Seseorang pernah berkata, bahwa dengan melihat mata, kau akan tahu kepribadian orang yang sesungguhnya. Ya, pertama kali Miles melihatnya, ia masih seorang gadis kecil yang mondar-mandir di gedung pengadilan. Gadis kecil yang pemberani, yang tegar meski tahu bahwa ayahnya telah tiada. Saat itu, Miles teringat dirinya sendiri, yang tidak mampu untuk sekadar membalas sapaan orang-orang yang mengkhawatirkan dirinya. Sebaliknya, saat itu sang gadis kecil malah membantu mengungkap pembunuh ayahnya dan menangis hanya ketika rangkaian kasus itu usai.

"Mr. Edgeworth, apa kabar?"

Suara wanita itu masih sama riangnya, hanya saja wanita itu mengucapkannya dengan lebih tenang dan dewasa. Miles merasakan pipinya memanas. Bodoh. Hanya itu yang dia katakan setelah dua tahun lebih menghilang tanpa jejak. Melihat sosok wanita itu dari dekat, Miles hanya dapat menjawab ketus. "Kemana saja kau, Kay? Memangnya kau sama sekali tidak bisa memberi kabar kepadaku atau Gumshoe?" Miles terdiam ketika menyadari bahwa orang-orang kini melihatnya penasaran. Ah, rupanya ia tadi tanpa sadar mengatakkannya dengan suara yang terlalu keras. "Kita... bicara di luar saja..." Miles memberi isyarat kepada Kay untuk mengikutinya keluar menuju taman.

"Nah, Kay..." Miles berhenti ketika akhirnya mereka tinggal berdua di taman. Ia menoleh, menatap wanita di depannya dan mengutuk dirinya sendiri ketika ia menyadari bahwa berduaan di taman bukan pilihan yang tepat. "Sebaiknya kau punya alasan yang kuat mengapa kau tidak memberi kabar kepada kami semua."

Miles kini mengalihkan pandangannya ke arah kolam, karena sadar bahwa jantungnya akan pecah jika mereka terus menerus bertukar tatap seperti itu. "Mr. Edgeworth..." Miles merasa seluruh tubuhnya membeku ketika dirasakannya tangan wanita itu meraih wajahnya perlahan.

"Kay... ap..." Miles tidak mampu menolak karena seluruh tubuhnya mendadak lunglai ketika perlahan bibir wanita itu mendekati wajahnya dan mengunci bibirnya sendiri. Miles merasakan gejolak-gejolak tak nyaman di perutnya kini menjelma menjadi getaran-getaran lembut yang menyelimutinya dengan kehangatan. Miles memejamkan matanya. Tangannya tanpa sadar mulai membelai rambut wanita di hadapannya, membuatnya semakin terkunci. Lambat laun ia merasakan kesadarannya mulai lenyap. Awan putih yang membumbungnya tinggi mendadak hilang, melempar Miles jatuh ke tanah. "Apa yang..." Miles menjauhkan tubuhnya dari sang wanita, yang saat itu menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan.

"Maafkan aku, Mr. Edgeworth..." Kay berbisik. Miles bisa melihat mata sang wanita saat itu berkaca-kaca, dan wanita itu mati-matian menahan tangisnya. Perlahan Miles merasakan sekelilingnya berputar cepat dan semakin kabur.

"Kay..." Miles tidak mampu mengatakan apapun karena detik berikutnya kegelapan mengambil kuasa atas dirinya.

xxx To Be Continue xxx

SPECIAL THANKS to randomness or not. Sejujurnya, waktu membuat fanfic ini, saya menyangka saya ga akan dapat review satu pun lho. Tapi sindrom "baru-tamat-main-game-dan-sebel-karena-ga-ada-pairing-benerean-yang-jadian" ini sangat mengganggu saya dan akhirnya saya pun melampiaskannya lewat fanfic ini. Hehe. Thanks banget banget. Reviewnya membuat saya semangat. Dan karena saya udah lebih dulu menyusun alurnya lengkap sampai akhir, sekarang saya tinggal menarasikannya aja, jadi kemungkinan besar sih selama libur ini bisa saya tamatin. Sekali lagi, makasih banyak, ya! :3