Handphone baru
Mafuyu tersenyum-senyum senang di pojokan kelas, di sebelahnya Hayasaka menatapnya curiga. Temannya yang satu ini sudah melakukan hal aneh ini sejak memasuki kelas pagi tadi. Dia menyapa semua orang, tak terkecuali Himura yang terkenal sebagai orang terpendiam di kelas.
Beberapa mahkota bunga terlihat menari-nari di sekelilingnya. Burung-burung juga ikut bernyanyi di sekelilingnya. Dia terlihat bersinar dan tidak berhenti bersinar sampai sekarang, walau sudah jam pelajaran ke-4.
"Kau kenapa?" tanya Hayasaka takut-takut. Dia tahu Mafuyu orang aneh—well,walau terkadang terlihat normal.
"Hmm?" gumam Mafuyu sambil menatap Hayasaka dengan tatapan bertanya. Dia melihat ke arah Hayasaka dengan tatapan penuh sinar. Membuat Hayasaka sedikit menutupi matanya karena silau.
"Hmm? Entahlah, aku hanya senang," jawab Mafuyu sedikit mencurigakan. Hayasaka menyipitkan matanya.
"Jujur saja," katanya datar.
"Hmm? Kasih tau nggak ya?" tanya Mafuyu menggoda, tapi Hayasaka hanya menatapnya datar walau sebenarnya dalam hati dia sudah bersia-siap untuk kabur jika sesuatu yang terlalu aneh dari tingkat-aneh-yang-bisa-dia-hadapi terjadi.
"Aku... punya handphone baru!" seru Mafuyu sambil mengeluarkan handphonenya dan memamerkannya di depan wajah Hayasaka.
Hayasaka dalam hati melepaskan napas yang sempat dia tahan. Haaa... ternyata bukan hal besar, pikirnya.
"Jadi... kau sudah punya nomor siapa saja?" tanya Hayasaka sedikit penasaran. Setahunya terakhir kali Mafuyu memiliki handphone dia hanya memiliki 3 kontak dalam handphonenya.
"Um... 5?" kata Mafuyu dengan polos. Dia terlihat senang. Sedangkan Hayasaka di bangkunya hanya bisa memalingkan wajahnya sambil berkata dalam hati, Sumpah, anak ini kasihan banget!
"Um.. bagus. Jadi? Apa kau sudah terbiasa dengan handphne barumu?" tanya Hayasaka.
"Tentu saja! Lihat ini! Aku bisa mengubah wallpapernya menjadi gambar bergerak!" serunya dengan girang.
"Baguslah kalau begitu. Tapi jangan lupa ubah ke mode silent saat di kelas."
"..."
"Kau.. tak tahu apa mode silent itu?" tanya Hayasaka sambil memandangnya tidak percaya.
"A—aku tahu kok!" kata Mafuyu sombong, padahal dalam hati dia tidak tahu apa itu mode silent.
.
.
.
.
.
"—Jadi, jika Pengelolaannya kurang baik dan penanganannya kurang diperhatikan, tanaman yang baik akan berubah menjadi la—,"
Beep beep beep beep! Beep beep beep beep!
Mafuyu menegak di tempat duduknya. Dia menatap tasnya, tempat handphone barunya tersembunyi. Sedangkan Hayasaka melihatnya dengan tatapan horor.
Kurosaki, kau idiot, katanya dalam hati. Merutuki kebodohan temannya itu. Bukankah dia sudah mengatakan kepadanya untuk me-silent handphonenya?
Sedangkan Mafuyu sudah berkeringat dingin di tempatnya. Morinaka-sensei terkenal dengan kedisiplinannya.
"Suara apa itu?" tanya Morinaka-sensei di depan kelas. Dia menarik kacamata tebalnya turun ke perpotongan hidungnya untuk melijat ke sekeliling kelas.
"Kurosaki-san?" tanyanya sambil menyipitkan mata.
"Ah! Um.. Se-sensei. Maaf!" kata Mafuyu yang langsung bangun dari tempat duduknya dan membungkuk dalam. "Aku perlu mengangkat teleponnya!" katanya kemudian, membuat gurunya menatapnya ganas sebelum mengangguk mengizinkannya keluar dari kelas.
"T-terima kasih!" katanya yang langsung berlari ke luar kelas.
"Ya, Halo?!" serunya pada penelpon pertaman handphone barunya. Yah, hal ini perlu dirayakan kan?
"Hey! Kurosaki-san!" kata orang di seberang telepon. "Ada sesuatu yang penting!"
"APAAA?!"
.
.
.
.
.
To be continued
Jadi...
Jadi...
Jadi... entah kenapa Author kehilangan rasa humor dan malah bikin chapter kedua jadi nggak terasa. Padahal sebenernya ini humor. Ugh. Maafkan aku -_-
Dan ya~! Buat semua yang udah nungguin lanjutan fic gaje ini, terima kasih banyak! Juga buat yang udah nyempetin baca, terima kasih!
Author mungkin akan kembali di lain waktu~ bye bye~ ^O^
